Kamis, 31 Desember 2009

INVICTUS

Kamis, 31 Desember 2009 5

“I thank whatever gods may be / For my unconquerable soul. / I am the master of my fate / I am the captain of my soul.”

Bagi pecinta sport movie, Invictus rasanya sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi, film ini berlandaskan pada upaya seorang sosok besar bernama Nelson Mandela dalam usahanya menghancurkan batas diantara warganya ketika di tahun-tahun awal dia memimpin Afrika Selatan. Sebenarnya, Invictus mempunyai pakem cerita layaknya sport movie kebanyakan, namun dihadirkannya sosok hebat tadi, membuat film ini lebih dari sekedar sport movie biasa.
Setelah dilantik menjadi presiden, Nelson Mandela (Morgan Freeman) mendapati masih adanya jarak antar warga kulit putih dengan warga kulit hitam, meski secara de jure, apartheid telah dihapuskan. Rasa curiga diantara warganya sangat besar. Hal ini membuat Mandela memikirkan langkah jitu untuk menghancurkan batas tadi, karena tanpa adanya persatuan, Afrika Selatan susah untuk bergerak maju.


Gebrakan pertama Mandela dimulai dengan membenahi ”jerohan” kantornya. Mandela memposisikan stafnya layaknya teman tanpa membedakan warna kulit dan membebaskan para kulit putih untuk menentukan pilihan, apakah akan terus mengabdi atau mengundurkan diri. Selanjutnya, Mandela memposisikan kedua sisi (kulit hitam dan kulit putih) dalam satu bidang untuk saling bekerja sama. Hal ini tak pelak memunculkan sedikit ketegangan, karena seperti kata pepatah ”tak kenal, maka tak sayang”.
Mandela melihat peluang mempersatukan rakyatnya lewat olah raga rugby, apalagi Afrika Selatan bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby. Langkah Mandela ini sempat mendapat kritikan, mengingat rugby pada saat itu sangat identik dengan dominasi kaum kulit putih. Namun Mandela tidak gentar dan tetap menjalankan misinya dibantu oleh Francois Pienaar (Matt Damon) yang berperan sebagai kapten dalam tim rugby. Selanjutnya, sejarah membuktikan langkah Mandela tersebut efektif mempersatukan rakyatnya. Rasa persatuan yang dibangkitkan oleh rasa memiliki dan juga kebanggaan akan kemenangan yang diraih oleh tim rugby nasional. Semua rakyat tumpah ke jalan merayakan kemenangan, dan runtuhlah batasan diantara mereka.


Di tangan Clint Eastwood, Invictus menjadi sebuah tontonan yang menghibur namun mempunyai pesan kemanusiaan yang pekat dan kuat layaknya garapannya sebelumnya. Bisa dibilang Invictus merupakan karya Eastwood yang paling ”cerah” dan paling enak dinikmati. Proses penyatuan dua ras yang berbeda digambarkan dengan halus dan elegan. Lihat saja bagaimana para pengawal pribadi Mandela secara perlahan terjalin kerjasama yang apik, meski awalnya diselimuti kecurigaan dan saling merendahkan satu sama lain. Bagusnya, Invictus tidak memihak warna kulit tertentu dan cukup berimbang dalam menggambarkan kedua sisi.
Kekuatan Invictus tidak bisa dipungkiri karena skenarionya yang mantap dan bertaburan dialog-dialog yang menggugah sekaligus inspiratif. Tidak lupa diselipkan beberapa humor yang berhasil memancing senyum. Acting para pemainnya juga bagus, meski menurut Gilasinema tidaklah istimewa. Morgan Freeman memang aktor yang paling pantas memerankan sosok Mandela, apalagi keduanya bersahabat cukup lama. Namun selain perubahan aksennya, rasanya penampilan Morgan Freeman tidaklah jauh berbeda dengan peran dia sebelumnya. Sosok karismatik dan berkarakter kuat rasanya sudah sering dia perankan. Matt Damon juga tidak kalah meyakinkan berbicara dengan aksen Afrika Selatan, namun sayangnya, porsinya tidak cukup besar untuk meninggalkan kesan pada penonton.O iya, balutan musik olahan Kyle Eastwood ok juga lho.


Secara keseluruhan, Invictus adalah sebuah film yang bagus, namun tidaklah istimewa, apalagi buat mereka yang telah terbiasa menonton sport movie. Namun, Invictus sayang untuk dilewatkan dan sangat direkomendasikan untuk para pemimpin atau mereka yang ingin menjadi pemimpin. Belajarlah dari Mandela yang menganggap rakyatnya sebagai sebuah keluarga besar, yang memandang manusia sebagai manusia dan mempunyai hak yang sama. Pemimpin yang kuat dan invincible (invictus). Ah...andai saja pemimpin kita mempunyai pemikiran layaknya Mandela....3,75/5

Rabu, 30 Desember 2009

20 DI TAHUN 2003

Rabu, 30 Desember 2009 5

Di tahun ini banyak sekali film bagus hingga terpaksa harus menyingkirkan film – film seperti Cold Mountain, Pieces of April, Girl With a Pearl Earring, Calendar Girls, Pirates of the Caribbean, Big Fish, Brother Bear, The Italian Job dan Identity. Sedangkan The Last Samurai, Seabiscuit, Master and Commander, The Cooler, The Triplets of Belleville, The Fog of War dan House of Sand and Fog terpaksa tidak dilirik karena belum menontonnya. American Splendor menjadi korban memori yang tergerus.


20. BEND IT LIKE BECKHAM
Ditangan Gurindher Chadna, Bend it Like Beckham berhasil menggambarkan usaha perempuan dalam memperjuangkan posisinya dengan sangat menghibur. Meski dituturkan dengan ringan, rasanya pesan mengenai persamaan hak bisa lebih tersampaikan dengan baik.

19. SOMETHING’S GOTTA GIVE
Siapa bilang film yang dibintangi aktor/aktris gaek tidak bisa menghibur? Berkat kelincahan Nancy Mayers dan juga aksi yang sangat kompak dari Jack Nicholson dan Diane Keaton, Something’s Gotta Give menjelma menjadi sebuah tontonan yang ringan menghibur, namun tidak kacangan.

18. SCHOOL OF ROCK
Film yang segar dan menghibur. Itu saja!

17. 28 DAYS LATER
Salah satu film terseram di dekade pertama 2000-an. Danny Boyle sukses menghadirkan tontonan tegang yang sukses menggedor jantung penonton hampir sepanjang durasi. Tidak bakal heran kalau film ini beberapa tahun kedepan bakal dibuat ulang.

16. MONSTER
Kualitas film ini tidak bisa dilepaskan dari peran Charlize Theron. Dalam Monster, dia benar-benar menjadi sosok yang jauh dari kesan cantik dan glamour. Tanpa penampilannya yang total, rasanya Monster tidak bakal mampu menjadi tontonan yang menggigit. Sesuai judulnya, film ini sukses memberi gambaran bagaimana seorang manusia bisa berubah menjadi kejam layaknya monster.


15. IRREVERSIBLE
Dengan jalinan kisah yang mungkin tidak istimewa serta balutan ketelanjangan dan kekerasan yang frontal, Irreversible menawarkan sebuah gaya bertutur yang tidak lazim. Mengingatkan pada Memento memang, namun tetap saja membuat penonton kagum melihatnya.

14. IN AMERICA
Penonton sukses dibuat terhanyut oleh kisah keluarga imigran gelap asal Irlandia ini, yang katanya merupakan semi atobiografi dari Jim Sheridan. Suka duka sebagai warga pendatang disajikan dengan apik dan ditopang penampilan para actor/aktris yang kuat. Konflik makin kuat berkat latar belakang keluarga tersebut yang menyimpan peristiwa memilukan yang terus menghantui.

13. THE MAGDALENE SISTERS
Salah satu film yang menyoroti dengan tajam penyimpangan yang dilakukan sebuah institusi agama. Tempat dimana harusnya menjadikan penghuninya menjadi manusia yang lebih baik, justru malah menjadi tempat penindasan yang mengingkari harkat martabat manusia. Digambarkan juga aksi korupsi dan kemunafikan yang harusnya haram terjadi, apalagi di sebuah institusi agama. Gilasinema pikir, apa yang digambarkan dalam The Magdalene Sister ini bisa terjadi di semua agama.

12. LOVE ACTUALLY
Salah satu film cinta yang sangat meninggalkan kesan mendalam, apalagi kisah Keira Knightley dan Colin Firth yang...so romantic! Jarang sekali film yang bisa dinikmati berkali-kali tanpa menghadirkan rasa bosan, namun Love Actually merupakan sebuah pengecualian. Film ini makin asyik berkat balutan humor dan juga musik-musik asyik.

11. WHALE RIDER
Tidak mudah lho melestarikan sebuah tradisi (budaya) apalagi dalam sebuah lingkup dimana perempuan diposisikan dibawah laki-laki. Whale Rider mencoba menggugat posisi perempuan dalam proses pelestarian budaya tadi. Film ini sangat menarik dikaji secara Antropologi ataupun Sosiologi. Dan jangan lewatkan penampilan Keisha Castle-Hughes yang bagus banget.


10. KILL BILL VOLUME 1
Salah satu kisah balas dendam paling seru dan disajikan dengan amat gaya oleh Quentin Tarantino. Selain banyaknya aksi pertarungan yang seru, terutama ketika para ibu bertarung, Kill Bill Volume 1 sangat asyik dilihat berkat tampilnya bintang – bintang dengan karakter yang kuat.

9. MYSTIC RIVER
Film buatan Clint Eastwood yang paling suram dan menyesakkan yang didukung oleh jajaran cast yang kuat. Suka dengan penampilan Sean Penn disini.

8. 21 GRAMS
Dihasilkan oleh duo yang sebelumnya sukses menelorkan Amores Perros, menurut Gilasinema, 21 Grams jauh lebih mudah dicerna dan mengesankan meski alurnya diacak sedemikian rupa. Aura menyesakkan tetap dihadirkan dengan kuat, hingga sukses membuat penonton merasa frustasi. Trio Sean Penn-Naomi Watts-Benicio Del Toro bermain prima. Gilasinema iri dengan Sean Penn yang bisa ”menikmati” Naomi Watts hehehe....

7. THIRTEEN
Film yang dengan bagusnya menggambarkan masa puber yang penuh gejolak.

6. LOTR : THE RETURN OF THE KING
Penutup dari trilogy saga terbesar sepanjang masa. Hampir sepanjang durasi kita dipaksa untuk terus menatap layar dan dibuat kagum oleh adegan pertempuran yang dahsyat sekaligus memilukan


5. NOWHERE IN AFRICA (NIRGWENDO IN AFRICA)
Film tentang Jerman (NAZI) yang dituturkan dengan sangat berbeda namun mungkin terasa menohok bagi mereka yang pernah melakukan “pembersihan“ terhadap etnis tertentu. Dengan diposisikan sebagai kaum minoritas, mereka harusnya bisa belajar untuk lebih menghargai manusia yang lain.

4. LOST IN TRANSLATION
Filmnya kalau boleh jujur sangatlah garing dan cenderung membuat ngantuk, namun justru inilah wujud dari keberhasilan Sofia Coppola dalam menggambarkan kesepian, keterasingan dan juga kegagapan dalam menghadapi sebuah tempat dan budaya baru.

3. FINDING NEMO
Film animasi paling menyentuh dan inspiratif dengan kehadiran karakter – karakter yang loveable, serta beberapa adegan yang memorable. Film ini juga tidak membuat bosan meski ditonton berkali – kali.

2. ELEPHANT
Sebuah rekonstruksi tragedi yang yang ciamik. Hand held camera yang selalu setia membuntuti para pemeran, efektif mengikat penonton untuk menjadi saksi mata sebuah peristiwa tragis dan membuat Gilasinema kagum karena pastinya dibutuhkan persiapan sangat matang dalam pembuatannya. Dialog dan ilustrasi musik yang minim efektif menghadirkan aura mencekam dan penonton dibuat was-was akan hadirnya monster yang pada akhirnya melakukan aksi pembantaian membabi buta nan berdarah-darah.

1. THE BARBARIAN INVASIONS (LES INVASION BARBARES)
Entah mengapa Gilasinema sangat menyukai film ini dan telah menontonnya sekitar 3X. Meski awalnya kita diperlihatkan pergesekan antar karakter karena beda pandangan dan juga lahir di era yang saling berbeda, namun pada akhirnya karakter-karakter yang dihadirkan dapat saling menerima hingga terjalin interaksi yang manis. Humor-humor dan perilaku gila namun juga kritis membuat film ini makin enak dinikmati, meski untuk otak Gilasinema yang cekak ini, naskahnya terkesan terlalu cerdas dengan dimasukkannya beberapa referensi seni dan teori yang masih asing

Senin, 28 Desember 2009

BOX OFFICE FILM INDONESIA TAHUN 2009

Senin, 28 Desember 2009 14

Bintang Indonesia kembali merilis 10 Fim Indonesia Terlaris untuk tahun 2009 di edisi 971 yang terbit minggu ketiga Desember 2009. Tulisan disusun oleh Wayan Diananto berdasarkan data dari Yan Wijaya. Bukan karena mengenal dekat Wayan Diananto, Gilasinema berpandangan dia merupakan salah satu wartawan yang secara intens mewartakan perkembangan film Indonesia. Coba dicek, media apa saja yang memuat daftar film terlaris secara konstan?
Untuk Sang Pemimpi dan Air Terjun Pengantin, jumlah penontonnya masih mempunyai peluang untuk bertambah. Jumlah penonton untuk Sang Pemimpi yang tertera di dalam daftar merupakan jumlah penonton untuk 5 hari putar. Bisa jadi, jumlah penontonnya sekarang sudah menembus 1 juta penonton. Apalagi Sang Pemimpi berhasil membuat rekor baru untuk pemutaran hari pertama dengan berhasil menggaet penonton sekitar 130ribu.
Sukses Air Terjun Pengantin dengan perolehan penonton lebih dari 500ribu mungkin bisa membuat Maxima sedikit tersenyum setelah ada kabar putusnya hubungan dengan Dewi Perrsik yang selalu berhasil menggaet penonton yang tidak sedikit. Sayang sekali Mizan “tersandung” dengan tersengal-sengalnya Emak Ingin Naik Haji merangkul kurang dari 300ribu penonton. Mungkin bisa jadi pembelajaran untuk lebih jeli memilih waktu perilisan film. Dengan materi cerita yang jauh lebih menggetarkan, Emak Ingin Naik Haji terpaksa harus “tergencet” oleh dahsyatnya tampilan visual 2012 dan kisah cinta terlarang nan mendayu-dayu di New Moon.


Rabu, 23 Desember 2009

20 DI TAHUN 2002

Rabu, 23 Desember 2009 7

Di tahun ini Gilasinema melewatkan beberapa film yang dianggap bagus beberapa kalangan seperti Spider-Man, 8 Mile, Gangs of New York, About Schmidt dan The Pianist. Sedangkan Catch Me If You Can, The Believer, Secretary, Analyze That dan The Last Kiss terpaksa tidak masuk list karena, sekali lagi, masalah ingatan.


20. SAATHIYA
Film Bolly yang menurut pandangan Gilasinema memberikan gambaran yang cukup realis tentang kehidupan pasangan yang baru menikah. Memang tidak butuh sekedar cinta. Banyak hal berpengaruh demi langgengnya sebuah pernikahan. Adegan Rani Mukherjee tertabrak mobil cukup mengejutkan dan film ini berhasil melejitkan Vivek Oberoi. Kemana dia sekarang ya?

19. PANIC ROOM
Sekali lagi David Fincher menghadirkan sebuah tontonan yang menggigit. David dengan terampilnya menghadirkan tontonan yang memacu adrenalin meski dengan ruang yang terbatas. Ketegangan demi ketegangan sukses membuat penonton menahan nafas berkali-kali. Jodie Foster dan Kristen Stewart mampu menampilkan kerja sama yang baik.

18. THE BOURNE IDENTITY
Salah satu film yang berhasil menghadirkan sosok intelijen terhebat sepanjang masa di dunia sinema. Bahkan, kalau dipertandingkan dengan James Bond, rasanya Bourne yang bakal menjadi pemenang. Penampilan Matt Damon yang impresif mampu menjawab keraguan banyak pihak dan membuat sosok Bourne terlihat jauh lebih manusiawi dibandingkan sosok intelijen lainnya.

17. ICE AGE
Tampilan visualnya mungkin masih kalah dengan animasi produk Pixar ataupun Dreamworks. Namun kehadiran satu tokoh yang kocak, Scrat, mampu memberikan kesegaran tersendiri. Apalagi dibalut dengan pesan cerita yang kuat.

16. NICHOLAS NICKLEBY
Satu lagi karya Charles Dickens yang diangkat ke layar lebar. Sama seperti karya Dickens lainnya, Nicholas Nickleby juga berisi persoalan kekerasan pada anak dan kritikan terhadap sisitem social yang berlaku saat itu yang membagi individu ke dalam kelas-kelas tertentu. Selain itu juga ditampilkan semangat pantang menyerah dan berbuat kebaikan. Penampilan Jim Broadbent dan Christopher Plummer yang jahat sungguh membuat penonton gemas. Jamie Bell sukses mempertontonkan acting yang memancing rasa iba akibat seringnya mendapatkan kekerasan.


15. SPIRIT : STALLION OF CIMARRON
Film animasi yang sayangnya kurang begitu dilirik, meski banyak pesan bagus didalamnya. Film ini juga menghadirkan drama yang mengharukan dan beberapa scene yang mendebarkan. Paling tidak bisa mengacuhkan musik yang dihadirkan. Here I Am menjadi lagu pengiring ketika Gilasinema sedang mengalami kejatuhan, Brother Under the Sun untuk pertemanan sedang Don’t Let Go mampu memberi semangat dalam pencarian cinta hehehehe....

14. MY BIG FAT GREEK WEDDING
Gara-gara film ini kita bisa sedikit tahu tentang budaya orang Yunani. Paling senang dengan film yang bisa nambah pengetahuan. Filmnya sendiri juga lucu dan segar. Duet Nia Vardalos dan John Corbett begitu padu dan enak dilihat.

13. THE LORD OF THE RINGS : THE TWO TOWERS
Konsistensi Peter Jackson dalam menjaga kualitas film yang merupakan bagian kedua dari trilogy LOTR ini patut diacungi jempol.

12. Y TU MAMA TAMBIEN
Salah satu kisah coming-to-age terbaik yang pernah Gilasinema tonton. Dituturkan dengan apa adanya, mungkin akan terkesan vulgar bagi sebagian orang. Padahal, filmnya menghadirkan banyak kritikan terhadap berbagai hal yang terjadi di Meksiko, yang mungkin juga terjadi di banyak Negara. Musik – musik yang dihadirkan juga enak banget. Beruntung sekali Gilasinema menemukan kaset soundtracknya.

11. PUNCH-DRUNK LOVE
Sebuah film yang mengangkat persoalan pencarian jati diri dan cinta dengan cara yang unik. Gilasinema terkesan dengan pengolahan gambar dan penataan cahaya yang ciamik. Film ini juga menebarkan banyak bahasa gambar yang membutuhkan analisa lebih hingga tetap mengasyikkan ketika ditonton lagi. Ilustrasi musiknya juga cukup aneh untuk diterima kuping.


10. ABOUT A BOY
Salah satu film favorit sepanjang masa yang tidak pernah membuat bosan meski ditonton berkali-kali. Adegan ”pembunuhan” bebek selalu saja mengundang senyum. Duet Hugh Grant dan Nicholas Hoult yang saling mengisi menjadi suguhan yang menarik. Penampilan Toni Colette yang prima serta Rachel Weisz yang cantik juga pantas dipuji. Racikan musik Badly Drawn Boy sangat menyatu dengan filmnya. Soundtracknya sendiri sampai sekarang masih merupakan soundtrack terasyik versi kuping Gilasinema, hingga tak bosan-bosan memutarnya, terutama di pagi hari. About A Boy merupakan salah satu film cowok terbaik yang pernah Gilasinema tonton.

9. ROAD TO PERDITION
Selain balutan cerita yang berbeda dengan kebanyakan film tentang dunia mafia/gangster, Road to Perdition menghadirkan suguhan visual yang ciamik. Sesuatu yang lazim dipersembahkan salah satu sutradara kesayangan Gilasinema, Sam Mendes.

8. MONSOON WEDDING
Berbalut kisah pernikahan, Mira Nair berhasil menghadirkan pergesekan dan pergeseran budaya yang tajam, namun tetap asyik dinikmati. Tak lupa diselipi isu social seputar tingkatan social dan kisah cinta yang manis sekaligus sensual. Sebuah parody kebudayaan yang memikat dan kadang mampu memancing senyum (kecut).

7. THE HOURS
Sebuah film yang amat intens dalam bertutur dan berpotensi membuat penontonnya depresi berkat muatan ceritanya yang cenderung kelam. Penampilan tiga aktris utamanya menjadi suguhan yang nikmat lagi bergizi. Jadi, sayang banget untuk dilewatkan. Ed Harris juga berhasil menampilkan performa yang bagus sekali.

6. BOWLING FOR COLUMBINE
Apa yang disajikan mungkin sudah bukan tamparan lagi buat Bush, namun sebuah tendangan yang amat menohok. Michael Moore menelanjangi kebijakan tentang senjata dengan amat sangat berani. Bowling for Columbine menjadi tonggak penting bagi perkembangan film dokumenter.


5. ADAPTATION
Kolaborasi Spike Jonze dan Charlie Kauffman sebelumnya sukses dengan Being John Malkovich yang luar biasa bagus dan orisinil. Sinergi keduanya makin menggila berkat “bantuan” Donald Kauffman dalam film Adaptation. Cerita yang unik, makin asyik dengan dukungan pemain hebat. Penampilan terbaik Nicolas Cage hadir disini.

4. CHICAGO
Pendekatan musical ternyata tidak hanya pantas dilekatkan pada kisah cinta semata. Chicago berhasil menjadi bukti kalau isu social dan persoalan keadilan mampu dibungkus dengan balutan musik dan tari hingga menghasilkan tontonan yang menghibur sekaligus tajam dalam menghadirkan sindiran terhadap bobroknya sebuah system (hukum). Chicago makin mengkilap berkat deretan cast yang kuat, serta pengalaman sebagai sutradara teater dan peñata tari, membuat Rob Marshall lincah mengolah adegan demi adegan hingga materi yang berat dapat dengan mudah disantap penonton.

3. FAR FROM HEAVEN
Film ini mampu tampil memikat tidak hanya karena menampilkan penataan artistik yang dikerjakan amat serius, namun juga berkat muatan cerita yang kuat. Isu rasial dan homoseksual mendapatkan porsi yang dominan yang bisa menjadi studi kasus yang bagus buat mereka yang tertarik mempelajari persoalan kemasyarakatan. Jangan lupakan penampilan Julianne Moore dan Dennis Quaid yang prima.

2. TALK TO HER
Karya Pedro Almodovar yang begitu indah dan ibarat sebuah prosa, Talk to Her terasa yang amat puitis. Mendayu – dayu namun tidak cengeng. Lewat Talk to Her, sekali lagi Pedro Almodovar menunjukkan penghormatannya kepada kaum hawa. Sebuah kisah cinta paling menggetarkan yang pernah Gilasinema tonton

1. SPIRITED AWAY
Rasanya tidak ada yang memungkiri kualitas dari film ini. Gilasinema sangat terkesan dengan bagaimana Sang Kreator menghadirkan begitu buuuaaanyak pesan di tengah gempuran visual yang luar biasa memikat. TOP!TOP!TOP!


FAVOURITE TRACKS : all songs in About A Boy, Chicago, Saathiya and Spirit : Stallion of Cimarron.
HOT!HOT!HOT! : Paz Vega dalam Sex and Lucia,
FRESHING MOVIES : Jackass: The Movie, Das Experiment (remakenya bakal rilis tahun depan yang sayangnya Moritz diganti oleh Adrien Brody. HUH!), Sweet Home Alabama, Unfaithful, The Ring, Orange County, The Transporter dan Yamakazi.

Selasa, 22 Desember 2009

MOM'S FACES

Selasa, 22 Desember 2009 2

Belakangan ini Gilasinema menyaksikan beberapa film yang menampilkan banyak wajah ibu. Beberapa sudah pernah dibahas sebelumnya seperti kepasrahan ibu dalam mengejar mimpi dan harapannya untuk naik haji (Emak Ingin Naik Haji) dan sosok ibu yang rela melakukan apa saja demi kelangsungan hidup bayinya, meski harus memberikan darahnya sekalipun (Grace).
Sungguh luar biasa kekuatan yang dimiliki oleh seorang ibu dan kadang seorang ibu mampu menunjukkan sisi-sisi penuh kejutan demi memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya. Ada banyak sekali sosok ibu yang dihadirkan di dunia sinema. Gilasinema paling terkesan dengan sosok ibu yang dihadirkan dalam The Incredibles. Kenapa dalam film tersebut ibu mempunyai kekuatan elastis? Karena demi menggambarkan betapa hebatnya seorang ibu menjalankan berbagai peran (lentur dan multi fungsi). Kalau sebelumnya Gilasinema pernah menghadirkan para ayah hebat, dalam rangka menyambut Hari Ibu, Gilasinema sengaja menghadirkan berbagai wajah ibu dalam sinema. Karena banyaknya penggambaran sosok ibu dalam film, Gilasinema membatasi pada film yang belum lama ini ditonton.



Isabel (Julia Roberts) - STEPMOM
Yang namanya naluri keibuan, idealnya melekat secara alami pada setiap perempuan. Kalau diberi kesempatan, seorang perempuan rasanya bisa dengan mudah memunculkan naluri keibuan tadi. Berbeda dengan gambaran ibu tiri di banyak sinetron Indonesia, Isabel (Julia Roberts) selalu berusaha menjadi teman yang baik bagi anak-anak dari pria yang dicintainya. Berbagai upaya dia lakukan agar bisa diterima Anna (Jena Malone) and Ben (Liam Aiken), meski mendapat tandingan dari ibu kandung keduanya, Jackie (Susan Sarandon).Namun, pada akhirnya Isabel berhasil membuktikan bahwa tidak selamanya ibu tiri itu kejam. Masalahnya ada pada mau tidaknya kita membuka hati terhadap kehadiran orang baru dalam kehidupan kita. Tidak mudah bagi Anna dan Ben, namun juga berat bagi Isabel yang belum pernah melahirkan anak sendiri.
Catatan : patut ditunggu Stepmom versi Bolly yang mempertemukan dua bintang idola, Kajol dan Kareena Kapoor.


Mary (Mo'Nique) - PRECIOUS
Berbeda dengan Stepmom yang menampilkan sisi positif dari seorang ibu tiri, Precious justru menampilkan yang sebaliknya. Mary (Mo'Nique) rasanya bukanlah sosok ibu kandung yang patut diteladani. Kekerasan demi kekerasan, baik verbal maupun fisik dia alamatkan pada anaknya, Precious (Gabourey Sidibe). Bahkan, dia membiarkan begitu saja pemaksaan seksual suaminya terhadap anaknya. Entah setan apa yang merasuki jiwa Mary. Di salah satu adegan dia mengakui kecumburuan sebagai sumber kekerasan yang dia arahkan pada Precious. Anak yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan dan kebanggaan yang wajib dilindungi, justru disikapi sebagai pesaing. TRAGIS!


Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock) - THE BLIND SIDE
“You threaten my son, you threaten me.”
Luar biasa, kalimat diatas keluar dari mulut Leigh Anne yang nota bene bukanlah ibu kandung dari Michael Oher. Kalimat diatas rasanya sudah cukup membuktikan naluri keibuan seorang perempuan. Setiap perempuan bisa menjadi ibu bagi siapapun. Leigh Anne mewakili sebagai sosok ibu dengan kehidupan mapan namun mempunyai jiwa social yang tinggi. Dengan kecerdasannya, dia mampu mengarahkan anak berdasarkan potensi yang dimiliki oleh anak tersebut demi menjadi yang terbaik. Dan yang terpenting, seorang ibu (harus) bisa menjadi teman terbaik bagi anak-anaknya.


Sara Fitzgerald (Cameron Diaz) – MY SISTER’S KEEPER
Menjadi ibu bukanlah sebuah peran yang mudah untuk dijalankan, apalagi kalau ada anak yang mengidap penyakit parah. Itulah yang dihadapi oleh Sara. Dia harus menyelamatkan anaknya, yang sekarat, namun sebagai konsekuensinya membuat anak yang lainnya menjadi terluka. Usahanya makin berat ketika mendapatkan perlawanan dari anak dan suaminya, padahal dia sudah mengorbankan banyak hal demi mengabdikan pada keluarganya. Ibu ibarat jembatan yang selalu pasrah dan dituntut untuk selalu kuat menjadi penghubung antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lain. Pada keadaan ini, susah memberikan keadilan bagi masing-masing pihak. Bahkan maksud baik sekalipun bisa terlihat sangat salah.


Mother (Hye-ja Kim ) – MOTHER / MADEO
Kebanyakan ibu menganggap anaknya lebih baik dibandingkan anak yang lain. Dengar saja komentar para ibu muda yang mengomentari anak orang lain, kebanyakan mengungkit kekurangan anak dari ibu lain dan mengunggulkan anaknya. Hal ini kadang membuat ibu menutup mata terhadap kekurangan anaknya. Itulah yang coba digambarkan dalam Mother ini. Ketika anaknya dituduh melakukan pembunuhan, Sang Ibu (Hye-ja Kim) berusaha keras membuktikan bahwa anaknya tidak bersalah. Meski pada akhirnya terkuak apa yang sebenarnya terjadi, Sang Ibu menolak kenyataan tersebut dan tetap berupaya membebaskan anaknya. Disini, kita dihadapkan pada dilemma, apakah Sang Ibu merupakan sosok yang baik atau tidak. Namun yang pasti, lewat Mother kita dihadapkan pada sosok ibu yang tangguh dan siap melakukan apa saja demi kehidupan yang layak bagi anaknya.
Catatan : Soal penolakan kenyataan dan anggapan anaknya yang terbaik, digambarkan dengan amat sangat brilian dengan ditampilkannya wajah asli dari anak Sang Ibu.TOP! Setelah menyaksikan film ini, Gilasinema jadi terpikir untuk membuat Mother versi Indonesia. Kisahnya seputar usaha dua ibu yang berusaha mencari keadilan bagi anak masing-masing yang membuat keduanya harus saling berseteru, untuk kemudian saling bahu-membahu bekerja sama membongkar misteri yang menjerat anak keduanya. Dalam bayangan Gilasinema, dua ibu tadi diperankan oleh Christine Hakim dan Jajang C. Noer.

Senin, 21 Desember 2009

THE BLIND SIDE

Senin, 21 Desember 2009 10

The Blind Side sungguh merupakan sebuah kejutan manis buat semua. Siapa yang menduga film berbujet sekitar $35 juta ini (bahkan ada website yang menyebutkan “hanya” $29 juta) mampu menembus perolehan diatas $150 juta. Kabar terakhir, film ini bisa dengan mudah meraup $200 juta untuk peredaran di seluruh dunia. Kejutan ini makin manis berkat reaksi positif dari para kritikus film, terutama sanjungan terhadap pencapaian acting dari Sandra Bullock. Rasanya kejutan-kejutan diatas tak ada artinya dibandingkan kepuasan penonton setelah menyaksikan filmnya.
Michael Oher (Quinton Aaron) di usia 17 tahun harus menjalani hidup dari satu keluarga ke keluarga yang lain. Sejak kecil dia dipisahkan dari keluarganya. Bahkan, jejak hidupnya secara hukum sulit dilacak. Intinya, dia menjadi milik Negara. Meski biasa dipanggil dengan sebutan Big Mike, karena tinggi badannya yang hampir dua meter , Michael yang idealnya tampil menonjol justru berusaha untuk tidak terlihat. Apalagi dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata, makin membuat dirinya rendah diri.


Hidupnya berubah ketika bersinggungan dengan keluarga Tuohy, yang merupakan umat Kristiani yang taat. Keluarga tersebut dengan sangat terbuka menampung Michael dan memperlakukannya dengan layak. Bahkan, Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock) memperlakukan Michael layaknya anak sendiri. Kehadiran Michael ternyata tidak hanya membawa perubahan yang ke arah yang lebih baik pada diri Michael, karena ternyata perubahan postif juga dirasakan oleh keluarga Tuohy. Berkat bantuan keluarga Tuohy dan juga beberapa pihak, terutama guru privat, Miss Sue (Kathy Bates), Michael berhasil menunjukkan potensinya dan bahkan mampu menembus liga football NFL yang bergengsi.


Jalan yang ditempuh Michael dan keluarga Tuohy bukannya tanpa hambatan. Hambatan terbesar muncul ketika keluarga Tuohy dicurigai terlalu mengarahkan Michael kepada keyakinan tertentu. Hal ini sempat membuat Michael goyah hingga melarikan diri dari Leigh Anne. Namun, pada akhirnya Michael menyadari ketulusan dari keluarga Tuohy, dan selanjutnya terciptalah sejarah, yakni Michael Oher sebagai " the most talented player in the offensive line" .


Dirilis bersamaan dengan salah satu film paling diantisipasi tahun ini, New Moon, The Blind Side nyatanya tidak kalah bersinar. Alcon Entertainment layaknya Summit yang memproduseri New Moon pantas tersenyum lebar dengan kesuksesan The Blind Side ini. Studio kecil ini sebelumnya menuai hasil biasa-biasa saja lewat Insomnia dan My Dog Skip, dan mengalami kemalangan dalam merilis Chasing Liberty dan 16 Blocks yang jeblog di pasaran. Bagi Sandra Bullock, meski harus merelakan honornya dipotong demi menghemat biaya produksi, tetap bisa tersenyum puas berkat sharing profit yang pastinya lebih dari lumayan. Sang sutradara, John Lee Hancock, juga bakal makin dipercaya menggarap proyek-proyek penting. Sutradara satu ini sebelumnya menyutradarai The Alamo yang kurang sukses.
The Blind Side tidak bisa dipungkiri bukanlah sebuah film yang hebat, namun film ini berada pada level BAGUS dan INSPIRATIF. Oleh John Lee Hancock, The Blind Side disajikan dengan amat bersahaja. Tidak ada letupan konflik yang terasa meledak-ledak. Proses bagaimana Michael menjadi sosok hebat, meski menemui beberapa hambatan, bisa dieksekusi dengan mudah. Keluarga Tuohy yang minim konflik, makin membuat film ini terasa ”adem”. Andai saja ada sedikit selipan konflik dalam rumah Tuohy, pasti akan sedikit mengangkat tensi film ini. Namun, tampaknya John Lee Hancock ingin tetap setia pada kisah aslinya.


Meski demikian, The Blind Side tidak lantas menjadi tontonan yang membosankan. Selipan humor-humornya mampu membangkitkan senyum dan keharuan. Paling suka ketika layar menyajikan interaksi antara Quinton Aaron dan Jae Head yang berperan sebagai S.J. Tuohy. Interaksi keduanya terlihat meyakinkan dan saling menguatkan. Interaksi antara Sandra Bullock dan Tim McGraw juga enak dilihat. Asyik banget melihat keduanya sebagai suami istri yang sangat supportif satu sama lain. Masalah terbesar The Blind Side ada pada durasinya yang terlalu panjang, mencapi lebih dari 120 menit. Beberapa bagian sebenarnya bisa dipangkas hingga bisa lebih padat.


Penampilan Sandra Bullock sebagai Leigh Anne Tuohy banyak dipuji, namun menurut Gilasinema penampilannya tidaklah hebat-hebat amat. Namun, bagaimana usahanya menampilkan permainan acting yang berbeda sangat pantas diacungi jempol. Untung baginya Julia Roberts menolak peran ini. Kalau pada beberapa bagian dia terlihat menahan diri untuk tidak menampilkan bahasa tubuh dan wajah yang berlebihan, salahkan pada naskahnya yang terlalu bersahaja tadi. Begitupun dengan penampilan Tim McGraw yang datar namun simpatik. Penampilan Quinton Aaron sebagai seorang pendatang baru cukup bagus. Jae Head benar-benar menggemaskan meski wajahnya jauh dari kesan imut. Penampilannya mampu menjadi penyegar tersendiri. Dialah scene stealer dalam film ini.


Bagi yang suka dengan Forrest Gump ataupun Simon Birch, film ini sangat tidak pantas untuk dilewatkan. The Blind Side sekali lagi menegaskan bahwa setiap orang itu mempunyai potensi dan ada tujuannya kita dihadirkan ke dunia ini. Apapun kondisi yang melekat dan yang harus kita hadapi. Tidak mudah memang memahami tujuan hidup kita. Dibutuhkan kehadiran manusia lain untuk mencapai pemahaman tersebut. Dan dalam menjalin hubungan dengan manusia lain, dibutuhkan paling tidak setitik blind side dalam hati kita, agar kita bisa memandang manusia lain sebagai manusia bukan berdasarkan bungkusnya. 3,5/5

Minggu, 20 Desember 2009

20 DI TAHUN 2001

Minggu, 20 Desember 2009 15

Gara-gara daya ingat yang makin melemah, Gilasinema untuk tahun ini terpaksa menyingkirkan In the Bedroom, Ghost World, Donnie Darko, The Royal Tenenbaums, A.I. Artificial Intelligence dan Training Day. Males saja melihat lagi film-film tersebut. Mending waktunya buat nonton film-film baru. Film-film ini mungkin bakal “disentuh” lagi kalau sudah tidak update film-film baru, alias sudah tua hehehe. Tahun 2001 ini menurut Gilasinema banyak sekali menghadirkan film-film yang menghibur. Kecenderungan mengadaptasi buku laris makin meningkat dengan keberhasilan luar biasa yang diraih Harry Potter dan LOTR.


20. OCEAN’S ELEVEN
Tidak banyak remake yang berhasil, Ocean’s Eleven menjadi sebuah pengecualian. Steven Soderbergh berhasil menyajikan sebuah tontonan yang memikat dan didukung dengan barisan cast yang keren yang mampu tampil sesuai porsi masing-masing. Tidak mudah lho mengarahkan banyak bintang tenar dalam sebuah film. Dibutuhkan sebuah kredibilitas tinggi dari sang sutradara. Rasanya hal ini sudah dimiliki oleh Steven Soderbergh. Aksi perampokan sekaligus penipuan keren banget dan membuat penonton menggelengkan kepala karena takjub. Cerdass!!!

19. I AM SAM
Baca ulasannya di JUST A THOUGT : MEREKA YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

18. MONSTER, INC
Gilasinema suka dengan ide ceritanya, yang menyikapi keceriaan anak kecil sebagai sumber tenaga bukannya teriakan ketakutan. Kehadiran sosok-sosok berwujud aneh menjadi hiburan tersendiri. Dalam hal pengkarakteran, film ini sebenarnya agak niru-niru Shrek. Jangan lewatkan lagu If I Didn't Have You yang ok banget dari Randy Newman.

17. LAGAAN
Lagaan menjadi salah satu film India berkualitas yang berhasil menyajikan hiburan tanpa harus tampil norak dan murahan. Ceritanya juga sarat dengan nilai nasionalisme dan patriotisme. Kisah cinta tetap dihadirkan, namun tidak terkesan picisan. Tak heran kalau Academy Awards melirik film ini. Musik olahan AR Rahman sungguh amat memikat. Sampai sekarang, Ghanan Ghanan masih menjadi soundtrack Gilasinema ketika menyambut hujan deras pertama di musim penghujan.

16. AMORES PERROS
Gilasinema menyukai gaya bertuturnya yang ibarat aliran air sungai. Dari satu muara, mengalir ke berbagai arah membentuk sebuah aliran tersendiri, namun kalau ditelusuri kembali, menuju ke arah yang jelas. Dengan materi “keras’ yang termuat di dalamnya, Amores Perros berpotensi memuakkan, namun bisa juga mengasyikkan bagi penonton tertentu. Gaya bertutur yang tidak linear selanjutnya menjadi ciri khas dari Guillermo Arriaga.


15. THE OTHERS
Salah satu film horror favorit Gilasinema dengan twist ending yang sangat mengejutkan. Ketegangan dan kengerian dihadirkan dengan sangat intens oleh Alejandro Amenabar. Nuansa tegang dari film ini makin kental dengan ekspresi tegang yang bagus dari Nicole Kidman. Gilasinema juga terkesan dengan penampilan dari James Bentley dan juga Fionnula Flanagan yang dingin. Gilasinema ingat ketika menyaksikan film ini bareng teman-teman, ada salah satu teman yang menjerit kaget hingga memancing kedatangan orang-orang yang berada di luar rumah!

14. BLACK HAWK DOWN
Salah satu film terbagus dari Ridley Scott, lebih bagus dibandingkan Gladiator. Gilasinema terkesan sekali dengan keseriusan penggarapan di segi teknis, terutama dalam soundnya. Disaksikan dengan tata suara yang bagus, terasa sekali penataan suara yang sangat detail. Desingan peluru, letusan, teriakan dan aneka suara lainnya diolah dengan baik yang dampaknya mampu menggugah emosi penonton. Kisahnya yang mengangkat kegagalan tentara Amerika sedikit memuaskan mereka yang membenci Negara adi daya tersebut. Barisan bintang mudanya yang bermain bagus menjadi nilai plus bagi film ini.

13. MONSTER’S BALL
Bagi sebagian orang mungkin film ini terasa membosankan dan langsung mencari sex scene yang liar antara Halle Baerry dan Billy Bob Thornton. Namun Gilasinema terkesan bagaimana Marc Forster mengarahkan film ini dengan kalem (kecuali sex scene-nya), dengan konflik yang tidak digambarkan meletup-letup. Film ini mencoba mengangkat persoalan penerimaan hidup yang mampu meredam kemarahan, kesakitan sekaligus rasa sepi. Bagaimana dua jiwa yang terluka berusaha saling menyembuhkan dengan berani membuka hati.

12. SHREK
Shrek berhasil menghadirkan gebrakan baru di dunia animasi, terutama dalam penggambaran sosok protagonist. Kalau dalam film animasi sebelumnya, yang kebanyakan buatan Disney, tokoh utama bukanlah sosok buruk rupa dan berkepribadian positif, sejak kemunculan Shrek banyak bermunculan tokoh animasi dengan karakter yang bertolak belakang. Kesuksesan Shrek juga menyadarkan studio di luar Disney akan potensi pasar film Animasi. Gebrakan ini menjadikan Shrek sebagai sebuah tontonan yang segar menghibur. Sayang, sekuelnya menjadi tidak penting lagi

11. KANDAHAR
Misi Nafas untuk menyelamatkan saudaranya mengajak kita ”bertamasya” dan menjadi saksi aneka rupa kejadian, mulai yang lucu, tegang hingga tragis. Kita seakan menyaksikan sebuah tayangan dokumenter yang sangat kuat muatan antropologisnya. Tak lupa sajian gambar padang pasir yang terasa berbahaya sekaligus indah.


10. MULHOLLAND DRIVE
Salah satu film yang berhasil membangkitkan beragam tafsiran pada saat perilisannya hingga terkesan berlebihan (overanalized). Padahal, film ini mempunyai tagline yang sudah cukup jelas menjelaskan isi filmnya, "A love story in the city of dreams". Namun, gaya bertutur David Lynch yang nakal memang membuat banyk penonton bingung dan terkecoh. Yang membuat Gilasinema salut adalah bagaimana Lynch membuat penonton untuk betah bertahan selama sekitar 140 menit. Penampilan Laura Harring dan Naomi Watts sangat ”menyegarkan”.

9. MOULIN ROUGE!
Kisahnya sebenarnya merupakan kisah cinta biasa, namun di tangan Baz Luhrmann, Moulin Rouge! berhasil menjadi sebuah tontonan yang riuh menghibur, kaya warna, enerjik, jenaka sekaligus tragis.

8. BRIDGET JONES’S DIARY
Salah satu film yang sukses mengadaptasi sebuah novel. Selain berkat sentuhan Richard Curtis dalam penulisan naskahnya, kesuksesan film ini sangat terdongkrak oleh totalnya Renée Zellweger sebagai Bridget Jones dan berhasil menjawab keraguan banyak pihak atas pemilihan dirinya. Selain meningkatkan bobot tubuhnya, Renee tak ragu tampil konyol. Siapa sih yang bakal lupa adegan dia melorot di markas pemadam kebakaran. Film ini makin asyik dengan balutan lagu-lagu keren, terutama Out of Reach –nya Gabrielle, atau All by Myself yang di lipsync kan Renee.

7. BATTLE ROYALE
Film yang sangat hiperbolis dalam mengambarkan hubungan antar murid dan juga murid dengan guru. Kekerasan yang digulirkan tanpa ampun terasa representative dan mempunyai pesan yang kuat, meski sukses membuat penonton mengurut dada atau memalingkan muka karena merasa ngeri.

6. A BEAUTIFUL MIND
Adegan ketika Russel Crowe melakukan aksi coret-coret begitu memorable. Diluar akurat tidaknya cerita yang digulirkan, Akiva Goldsman sukses mengadaptasi sebuah kisah hidup seseorang tanpa perlu membebani otak penontonnya dan mempermudah kerja Ron Howard dalam menghadirkan cerita yang mengalir lancar dan menghanyutkan. Dukungan Russel Crowe, Paul Bettany dan tentu saja si cantik Jenifer Connely yang kuat membuat A Beautiful Mind sayng untuk dilewatkan. Dibandingkan Gladiator, sebenarnya Russsel Crowe lebih pantas menang lewat film ini dan tentunya tidak ada yang menggugat kemenangan Jennifer Connely. Gara-gara acting yang memikat dari dua bintang ini, penonton sukses dibuat terharu.


5. MEMENTO
Salah satu film dengan gaya bertutur yang unik meski sedikit membingungkan. Butuh lebih dari satu kali tonton untuk memahami garis cerita yang dihadirkan. Gaya penceritaan yang tidak lazim ini kemudian banyak ditiru oleh beberapa film seperti 50 Fisrt Dates atau Ghajini.

4. NO MAN’S LAND
Film yang dengan cerdasnya mengkritisi betapa bodohnya mereka yang terlibat perang. “Perang kecil” antara dua karakter utama dalam film ini menjadi sebuah miniature konflik antar Negara yang banyak terjadi di belahan dunia. Dengan tema yang berat, bagusnya sutradara Danis Tanovic membalutnya dalam situasi komedik yang nyinyir hingga terasa lebih menohok. Pahiiiiiit.Perang memang sebuah kebodohan dan ketololan.

3. THE LORD OF THE RINGS : THE FELLOWSHIP OF THE RINGS
Awalnya film ini tidak begitu mendapatkan atensi heboh karena orang lebih sibuk membicarakan seri pertama dari Harry Potter. Namun siapa yang menyangka The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring bakal menjadi awal sebuah maha karya, yang tidak hanya menyajikan tampilan visual yang menakjubkan tetapi juga kisah yang penuh makna. Terima kasih kepada Peter Jackson yang dengan ketrampilannya mampu menghasilkan karya inspiratif yang bakal dikenang sepanjang masa.

2. AMELIE
Meski ditolak oleh Cannes, menurut Gilasinema, Amélie merupakan film dengan naskah yang orisinil. Dengan lincahnya, Jean-Pierre Jeunet berhasil menyeret penonton untuk memasuki dunia unik dari Amelie. Sinematografinya sangat memikat, begitupun dengan penataan artistiknya. Pewarnaannya sangat dipikirkan dengan matang hingga sedap dan indah dimata.

1. GOSFORD PARK
Untuk urusan film dengan ensamble cast yang melimpah, Robert Altman merupakan salah satu jagonya. Dengan ruang terbatas dan banyak pemain, Robert Altman berhasil membuat Gosford Park menjadi sebuah drama kemanusiaan yang mengesankan. Intrik berbalut misteri sanggup membuat penonton untuk bertahan menyimak sampai akhir cerita yang digulirkan. Isu stratifikasi social dan kemunafikan manusia dihembuskan dengan begitu tajam sepanjang durasi lewat bahasa gambar dan juga bahasa tubuh para pemerannya. Rasanya film ini bagus ditonton bagi mereka yang tertarik mempelajari soal tingkatan sosial (Sosiologi)


FAVOURITE TRACKS : semua lagu di LAGAAN, BRIDGET JONES’S DIARY, MOULIN ROUGE.
HOT HOT HOT : Liarnya Halle Berry dan Billy Bob Thornton (MONSTER’S BALL), Angelina Jolie yang ditekuk-tekuk Antonio Banderas (ORIGINAL SIN), frontal sex scne di INTIMACY.
STILL SEARCING THIS MOVIES : The Piano Teacher, The Center of the World, In the Mood for Love, Hedwig and the Angry Inch, The Man Who Wasn't There
FUNNY MOVIE : PEARL HARBOR
FRESHING MOVIES : JEEPERS CREEPERS, THE FAST AND THE FURIOUS, SERENDIPITY, HANNIBAL, THIRTEEN GHOSTS, THE DEVIL’S BACKBONE, THE CRIMSON RIVERS, THE PRINCESS DIARIES, LEGALLY BLONDE, CRAZY/BEAUTIFUL

Kamis, 17 Desember 2009

PRECIOUS a.k.a PRIHATIN

Kamis, 17 Desember 2009 9

Precious
Malang benar nasib "Precious" Jones (Gabourey Sidibe), sudah hitam, bertubuh besar dan tidak cantik lagi. Di sekolah dia tidak mempunyai teman. Di rumah? Lebih parah lagi karena dia menjadi obyek pelampiasan ”kasih sayang” dari ayahnya dan sering mendapatkan kekerasan, baik verbal maupun fisik dari ibunya, Mary (Mo'Nique). Dengan berbagai hal tidak mengenakkan ini tidak jarang Precious berperilaku keras, kasar, suka mencuri, berbohong mengalami kesulitan belajar. Bahkan, dia memandang cinta dan kasih sayang seorang ayah dengan sudut pandang yang salah. Celakanya lagi, saat ini dia mengandung anak kedua hasil ”budi daya” ayahnya tercinta. Sebagai pelarian, dia sering membayangkan dirinya menjadi bintang pentas yang menjadi pusat perhatian di tengah panggung. Hal ini merupakan refleksi dari kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang.


Prihatin...
....sebut saja namanya begitu. Nasibnya tidak kalah memprihatinkan dibandingkan Precious. Diusianya yang belum genap 15 tahun, dia sudah harus mencicipi pahitnya dunia. Tercipta akibat hubungan diluar nikah, Prihatin tidak mengenal ayahnya karena tidak ada yang mau mengakui menghamili ibunya. Akibatnya, Prihatin harus hidup bersama ibu yang kurang mengasihinya karena mengingatkan pada lelaki tidak bertanggungjawab. Prihatin pada akhirnya harus hidup bersama kakek-nenek yang cenderung konservatif dan keras. Makian dan kekerasan terhadap tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki menjadi santapan sehari-hari.
Sama seperti Precious, Prihatin juga mengalami kesulitan dalam belajar. Meski sudah memasuki SMP dia belum bisa membaca dengan lancar adan amat sangat parah di pelajaran berhitung. Berbagai kondisi tersebut membuat dia menjadi bahan olok-olok teman – temannya. Hal ini makin diperparah dengan kebiasaanya berbohong yang amat sangat parah, dan juga mengambil barang/uang milik orang lain apabila ada kesempatan. Prihatin sangat menyukai kisah roman dan juga sering berkhayal menjadi bintang pentas (dangdut) dan karena haus akan kasih sayang seorang ayah, Prihatin sering suka dengan pria yang jauh lebih tua serta menikmati apabila digoda kaum adam.


Precious dan Prihatin
Beruntung bagi Precious karena dia bertemu dengan orang-orang hebat yang membantunya terbangun dari keterpurukan. Ada Nona Rain (Paula Patton) yang ibarat hujan ditengah musim kemarau, yang selalu sabar mengajarinya. dan Ms. Weiss (Mariah Carey), pekerja sosial yang siap mendampinginya menghadapi ibunya yang kejam. Selain dua orang ini, Precious juga dikelilingi oleh teman-teman dari kelas ”bermasalah” yang ternyata mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. Tanpa bantuan orang-orang ini, rasanya Precious tidak bakal sanggup berdiri dan melangkah melanjutkan hidup.
Berbeda dengan Precious, Prihatin mempunyai nasib yang jauh berbeda. Entah nista apa yang melekat pada dirinya hingga dia dibenci oleh banyak orang, dan bukannya memberi kesempatan padanya untuk bangkit. Tidak kakek-neneknya, paman-bibinya, bahkan ibunya sekalipun. Bahkan sebuah sekolah berkebutuhan khusus pun tidak bisa menanganinya. Puncaknya, setelah mendapatkan pelecehan seksual dari sekumpulan pemuda brengsek dan di buang di tempat pembuangan sampah, Prihatin memutuskan ke Jakarta dan tidak ada kabarnya sampai sekarang, 3,5 tahun kemudian. Tidak ada yang menanyakan kabarnya. Semua tidak peduli. Bahkan keluarganya sekalipun.


Gilasinema hanya berharap Prihatin akan baik-baik saja dan diberikan jalan terbaik oleh-NYA. Mengapa Gilasinema mendoakan Prihatin (dan kepada semua yang bernasib sama)? Karena selama hampir satu tahun sebelum kepergiannya, Gilasinema bekerja sama dengan beberapa orang, berusaha mendampinginya sebagai kakak asuh. Membantunya mendapatkan pengajaran yang layak, mendengarkan apa yang menjadi tekanan batinnya. Namun, ternyata kami menemui kegagalan yang sungguh menyesakkan.
Menyaksikan lagi kisah hidup Precious yang diarahkan oleh Lee Daniels, membangkitkan kenangan menyesakkan akan Prihatin. Filmnya sendiri tidaklah istimewa dan karenanya membuat Gilasinema heran akan sambutan meriah yang diberikan oleh para kritikus film di Holly sana. Alur cerita berjalan dengan datar tanpa hambatan, dan secara visual tidaklah istimewa namun permainan warna yang dihadirkan patut mendapatkan apresiasi lebih. Mungkin karena berjalan terlalu mengalir, Precious justru menjadi sebuah tontonan yang terasa realis. Dibawakan agak sedikit berlebihan, Precious bisa menjadi sebuah melodrama layaknya sinetron/FTV.


Kekuatan Precious terletak pada kekuatan acting para pemerannya. Sebagai bukti, film ini lebih menonjol di kategori acting di berbagai award yang ramai diadakan belakangan ini. Penampilan Gabourey Sidibe, untuk ukuran pendatang baru cukup kuat meski dengan kondisi fisiknya, kedepannya dia bakal terjebak peran serupa. Gilasinema lebih terkesan dengan para peran pendukung. Ada Mo'Nique yang berhasil membuat penonton ingin melempar TV ke wajahnya, Paula Patton yang cantik dan membuat Gilasinema terbayang selalu akan wajahnya dan ada Mariah Carey yang amat sangat sukses melepas citra glamour.
Precious berhasil memberikan pelajaran berharga bagi penonton yakni untuk lebih peka terhadap orang-orang disekitar kita, tanpa memandang ”bungkusnya” dan tidak perlulah terlalu asyik dengan dunia sendiri. Precious juga mengajarkan pada kita untuk tetap berjuang pantang menyerah, karena hidup pantas untuk diperjuangkan. Life is hard. Life is short. Life is painful, but…. Life is rich. Life is....PRECIOUS. 3,75/5

MALAM ANUGRAH FFI 2009


Film Terbaik | Identitas
Pemeran Utama Wanita Terbaik | Titi Sjuman - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik | Henidar Amroe - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Pemeran Utama Pria Terbaik | Tio Pakusadewo - Identitas
Pemeran Pendukung Pria Terbaik | Reza Rahardian - Perempuan Berkalung Sorban
Penyutradaraan Terbaik | Aria Kusumadewa - Identitas
Penata Musik Terbaik | Aksan dan Titi Sjuman - King
Penata Suara Terbaik | Shaft Daultsyah dan Khikmawan Santosa - Ruma Maida
Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik | Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak - Cin(T)a
Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik | Djenar Maesa Ayu dan Indra Herlambang - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penata Sinematografi Terbaik | Ipung Rahmat - Pintu Terlarang
Penata Artistik Terbaik | Kekev Marlov - Identitas
Penyuntingan Terbaik | Wawan I. Wibowo - Pintu Terlarang
Film Dokumenter Panjang Terbaik | Ayam Mati di Lumbung Padi
Film Dokumenter Pendek Terbaik | The Last Journey
Lifetime Achievement | Sophan Sophiaan
Penghargaan Khusus Film Anak Terbaik | Garuda di Dadaku
Penghargaan Khusus Sutradara Baru Terbaik | Djenar Maesa Ayu - Mereka Bilang, Saya Monyet!


Tuh kan, menebak pemenang FFI memang jauuuh lebih sulit ketimbang menebak pemenang Oscar, bahkan menebak siapa yang bakal masuk nominasi Oscar pun tetap lebih mudah. Tebakan Gilasinema meleset semua. Memang belum melihat Identitas dan Ruma Maida, namun berdasar diskusi dengan rekan Gilasinema yang seorang wartawan film Indonesia, Ruma Maida terlihat lebih unggul. Rekan Gilasinema tersebut mencak-mencak ketika Identitas menggondol Piala Citra untuk Penata Artistik Terbaik, mengingat (katanya) filmnya diramaikan dengan spanduk produk pereda sakit maag. Adakah hubungan antara obat sakit maag dengan Identitas? Kebetulan, eksekutif produser film ini merupakan bintang iklan obat maag tersebut, selain juga sebagai kepala Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N).


Gilasinema sendiri heran dengan kemenangan Aksan dan Titi untuk penataan musik di King karena sentuhan mereka lebih terasa di film Garuda di Dadaku. Mungkinkah hal ini untuk membagi rata piala? Kesan kondangan sedikit terasa ketika Garuda di Dadaku diberi Penghargaan Khusus untuk Film Anak Terbaik. Sial bagi Jamila dan Sang Presiden dan Emak Ingin naik haji tidak kebagian tumpeng. Diberikannya penghargaan Sutradara Pendatang Baru Terbaik kepada Djenar Maesa Ayu juga terasa dipaksakan. Kalau ada Sutradara Pendatang Baru, Kenapa tidak ada Aktor dan Aktris Pendatang Baru?
Penyelenggaraan FFI 2009 kali meski banyak kekurangan serupa pelaksanaan tahun kemarin (baca : MALAM ANUGERAH FFI 2008) namun bisa dibilang jauh lebih semarak dibandingkan pelaksanaan tahun kemaren yang konyol banget. Sayang sekali, suasana movie award-nya kurang terasa karena penampilan pemusik yang terlalu dominan dan tak ada kaitannya dengan film-film yang bersaing. Tak heran Djenar Maesa Ayu langsung mengeluarkan gugatan dari atas panggung!
Penonton di kelas festival attitude-nya juga patut dikritisi. Dari laporan pandangan mata rekan Gilasinema yang wartawan tadi, banyak penonton yang sibuk sendiri pada saat dinyanyikan lagu Indonesia Raya, begitupun pada saat segmen Lifetime Achievement Award. Dari para tamu undangan juga masih terdapat beberapa yang hadir memakai pakaian yang kurang formil. Kehadiran Pak Budiono bisa disikapi positif sebagai dukungan terhadap dunia perfilman, meski juga membuat acara terkesan menjadi ajang perbaikan citra pihak – pihak tertentu. Kalau tidak salah, beberapa hari sebelumnya, Pak Budi menghadiri KPI Award lho.
Malam Anugrah FFI 2009 bisa dibilang malamnya film Indie, terutama film-film yang berformat digital. Pengakuan ini memang sudah sepantasnya atau hanya sekedar aksi cari muka untuk membuktikan FFI telah berubah dan menuju jalur yang benar? Entahlah. Namun yang pasti masih banyak hal yang harus dibenahi, dan tentu saja butuh dukungan dan masukan dari banyak pihak, terutama dari mereka yang seringnya protes melulu. Semoga FFI kedepannya bisa makin jauh lebih baik lagi. VIVA FILM INDONESIA!

Rabu, 16 Desember 2009

SHRINK

Rabu, 16 Desember 2009 0

Happiness is a word for a feeling. Feelings are rarely understood; in a moment they are quickly forgotten and misremembered.

Lama juga ya tidak melihat aksi Kevin Spacey yang merupakan salah satu aktor favorit Gilasinema. Terakhir melihat aksinya di film 21. Itupun dengan kemunculan yang terbatas. Kini dia kembali tampil lewat Shrink yang diarahkan Jonas Pate yang sebelumnya kerap mengarahkan seri TV semacam Chuck, Friday Night Lights dan Battlestar Galactica.
Dalam Shrink, Kevin Spacey berperan sebagai Henry Carter, seorang psikiater yang melayani para pekerja Holly. Klien Henry terdiri dari berbagai macam orang. Ada Kate Amberson (Saffron Burrows) aktris yang tidak muda lagi yang dihadapkan pada konflik rumah tangga, Patrick (Dallas Roberts) pemimpin agen layaknya Ari Gold yang senantiasa gelisah dan paranoia, Shamus (Jack Huston) aktor asal Irlandia yang suka nyandu dan mabuk dan aktor yang merasa dirinya mengalami kecanduan seksual (diperankan Robin Williams) Ada juga Jeremy (Mark Webber) yang merasa karirnya sebagai penulis sedang buntu.


Di luar para pekerja film tadi, Henry harus menghadapi gadis remaja yang sedang bermasalah, Jemmma (Keke Palmer). Gadis ini cenderung menarik diri sejak ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sebagai seorang psikiatris, Henry sebenarnya bukanlah seorang psikiatris yang baik. Dirinya juga sedang merasa labil dengan banyak menghisap marijuana akibat keputusan istrinya untuk bunuh diri. Jemma dan Henry mengalami nasib yang sama dan dihinggapi pertanyaan yang sama akan motif orang yang mereka sayangi melakukan bunuh diri.
Arah cerita kemudian sudah bisa ditebak. Pada akhirnya sebagian besar karakter diatas tadi dipertemukan untuk saling menyembuhkan. Masalah yang muncul pada dasarnya disebabkan oleh perasaan hampa dan kebingungan memaknai hidup. Apalagi mereka hidup di tengah dunia gemerlap yang banyak menebarkan kepalsuan. Tipisnya rasa saling percaya menyebabkan keterasingan sosial yang kalau tidak kuat menanggungnya bisa membuat kita melarikan diri. Bunuh diri merupakan salah satu bentuk pelarian dari rasa keterasingan sosial tadi, apalagi di tengah masyarakat dengan kontrol sosial yang lemah.


Namun bunuh diri juga bisa terjadi di masyarakat dengan kontrol sosial yang terlalu kuat, karena sangat mengagungkan peran dan status. Kegagalan seseorang dalam menjalani peran dan status yang dilekatkan padanya, bisa membangkitkan tekanan pada seseorang tersebut yang mungkin bisa membuatnya melampiaskan pada jalan yang kurang tepat. Lewat Shrink, beberapa tokohnya bisa melalui tekanan yang ada karena mereka mau membuka diri. Hal ini tidak akan berjalan baik kalau pihak lain tidak memberikan respon yang semestinya. Tidak mudah bagi mereka untuk membuka diri demi menuju kebahagiaan tanpa dukungan pihak lain, karena ”The first step toward happiness is always the hardest.” Mungkin bisa dimulai dengan saling berbicara dan mendengarkan. Dan tentu saja mereka membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka.


Dengan pesan yang lumayan bagus, naskah buatan Thomas Moffett sedikit mengingatkan pada Good Will Hunting, terutama hubungan antara Jemma dan Henry yang bisa dibilang mirip dengan hubungan Matt Damon dengan Robin Williams. Sayangnya, konflik yang dihadirkan dalam Shrink ini kurang meyakinkan dan endingnya terasa dipaksakan. Dari segi acting, Shrink juga tidak menawarkan sesuatu yang spesial, meski juga tidak buruk. Kevin Spacey kembali membuat pengulangan dengan Karakter sinis layaknya peran dia dalam American Beauty. Paling pantes dia kalau untuk peran seperti ini. Saffron Burrows seperti biasa terlihat cantik, namun sayangnya karakternya tidak diberi konflik yang lebih tajam. Keke Palmer yang melejit lewat Akeelah and the Bee ternyata sudah gedhe dan Dallas Roberts hampir bisa meniru Jeremy Piven.
Cerita nanggung dengan penampilan para pemain yang standar? Hmmm....kayaknya lebih pantes dibuat seri TV saja. Shrink menurut Gilasinema lebih menarik kalau disikapi sebagai sebuah pilot seri TV, karena membuka banyak cabang cerita menarik dan tidak perlu tergesa-gesa mengakhiri cerita. Motif bunuh diri bisa dijadikan misteri yang bakal mengikat penonton layaknya usaha Simon Baker memburu Red John di The Mentalist. 2,5/5

THE LIMITS OF CONTROL


Seorang pria kulit hitam, Lone Man (Isaach De Bankolé) diberi sebuah tugas. Tidak jelas apa tugas yang diberikan, hanya dijelaskan tugas tersebut dimaksudkan agar target “will see what life really is”. Selanjutnya kita diajak untuk melihat aktivitas Lone Man yang mandiri dan independent digambarkan doyan yoga, kopi espresso tapi tidak doyan seks selama tugas meski disuguhi tubuh telanjang nan molek dan juga tidak tertarik untuk menggunakan mobile phone.
Untuk mencapai lokasi sasaran, Lone Man bertemu beberapa karakter unik yang akan saling bertukar kotak korek api yang berisi kertas bertuliskan kode yang setelah dibaca oleh Lone Man, akan segera dia telan, kecuali kotak korek yang berisi berlian. Orang – orang unik tersebut terdiri dari pria dengan violin (Luis Tosar ), perempuan berambut putih yang membicarakan film (Tilda Swinton), perempuan oriental yang sibuk membahas molekul, pria bergitar (John Hurt) yang mengkritisi peralihan sikap hidup bohemian menjadi sekedar gaya dan pria Mexico yang tertarik dengan refleksi (Gael Garcia Bernal). Pertemuan Lone Man dengan orang-orang unik tadi selalu diawali dengan, “You don’t speak Spanish, right?”


Meski bertemu dengan orang-orang dengan karakter yang berbeda, kita beberapa kali disuguhi adegan yang mirip. Repetisi ini sukses membuat penonton bosan dan bingung apa yang sebenarnya ingin dikisahkan oleh Jim Jarmusch. Dihadirkannya perempuan yang terlalu miskin untuk beli pakaian hingga nyaris telanjang disepanjang kemunculannya, kecuali saat dia mengenakan “jas hujan”, makin membuat penonton bertanya-tanya. Ini maksudnya apa sih. Kejujuran?


Sampai dengan Lone Man berhasil mengeksekusi sasaran (Bill Murray), penonton dipaksa untuk menerka maskud dari Jim Jarmusch. Untuk melegakan pikiran, Gilasinema berusaha menarik kesimpulan dengan teori sok tahu (seperti biasanya) yakni bahwa Jim Jarmusch berusaha mengkritisi mereka yang memproduksi realitas yang berlebihan (hyper realitas). Entah maksudnya Hollywood atau mereka para pemilik modal yang memproduksi hal-hal yang sekedar menonjolkan “gaya” dibandingkan “makna”.


Satu hal yang pasti, Gilasinema merasa iba dengan Bill Murray yang tahun ini dibunuh dua kali setelah hanya muncul sekilas. Namun berbeda dengan penampilannya dalam Zombieland yang lucu, kehadirannya dalam The Limits of Control terasa kurang pas. Begini nih kalau pemilihan hanya berdasar hubungan pertemanan. Sebelumnya, Bill Murray tampil dalam Broken Flowers yang juga diarahkan oleh Jim Jarsmuch. Penampilan sekilas bintang-bintang beken semacam Tilda Swinton dan Gael Garcia Bernal terasa aneh dan gagal mengangkat mood penonton yang sudah drop melihat aksi diam Isaach De Bankolé. Justru penampilan Paz de la Huerta sebagai gadis telanjang sedikit mampu menghadirkan kesegaran tersendiri meski penonton tetap saja heran dengan kehadiran tokoh yang satu ini.


Untungnya, film ini sedikit terbantu dengan olahan gambar yang cantik. Komposisi gambar yang dihadirkan oleh Christopher Doyle menghasilkan visual layaknya lukisan. Sangat artistik. Mata penonton juga dimanjakan dengan kepintaran kamera menangkap sudut bangunan hingga mampu menjadi background yang memikat. Terlihat sekali Doyle sangat memahami komposisi gambar. Selanjutnya terserah penonton, berkenan tidak menjadi saksi keindahan visual yang membalut kisah membingungkan dan cenderung membosankan. Kesabaran penonton rasanya ada batasnya. 2,75/5
 
GILA SINEMA. Design by Pocket