Selasa, 30 Maret 2010

PERSEMBAHAN TERBAIK SINEAS INDONESIA

Selasa, 30 Maret 2010 12

Tidak terasa sudah 10 tahun lebih film Indonesia mengalami kebangkitan setelah sebelumnya “semaput” beberapa tahun. Secara kuantitas, film Indonesia memang mengalami pelonjakan jumlah yang mengagumkan. Kalau melihat di Wikipedia, pada tahun 1997 baru terdapat 2 judul, di tahun 2008 ada lebih dari 80 judul film produk anak negeri yang wara-wiri di bioskop tanah air. Sebuah perkembangan yang patut mendapatkan apresiasi positif, meski ditinjau secara kualitas banyak pihak yang mengecamnya.
Namun tidak bisa dipungkiri, dari tahun ke tahun jumlah film Indonesia yang layak tonton juga makin banyak jumlahnya. Tinggal penonton saja yang wajib meningkatkan apresiasi mereka. Keadaan yang ada sekarang, tidak dipisahkan dari penonton film Indonesia itu sendiri. Semoga kedepannya, penikmat film Indonesia makin cerdas dalam memilih film Indonesia. Sayang kan duitnya dipake untuk melihat film yang begitu-begitu saja.
Dalam rangka Hari Film Nasional, Gilasinema memilih 10 judul film Indonesia rilisan tahun 2000 – 2009 yang Gilasinema anggap sebagai yang terbaik. Sangat personal tentu saja. Sayang, banyak sekali film Indonesia rilisan tahun 2000 – 2009 yang belum sempat Gilasinema saksikan yang tampaknya cukup pantas masuk 10 besar seperti Cin(T)a, Under the Tree, Opera Jawa, Rindu Kami PadaMu, Eliana Eliana, May dan masih banyak lagi.



10.RADIT DAN JANI (2008)
Ketika sineas lain sibuk bermain dengan gaya dan juga cerita yang mengada-ada, hadir Upi dengan segala kejujuran dan keliarannya. Film-filmnya seakan merupakan wujud pemberontakan akan beberapa system yang membelenggu. Begitupun dengan Radit dan Jani, meski endingnya sangat kompromis, namun apa yang dihadirkan pada adegan-adegan sebelumnya mampu menghentak penonton dengan kelugasannya. Belum lagi chemistry yang kuat antara Vino dengan Fahrani.


9.3 DOA 3 CINTA (2008)
Film ini berhasil membuka mata kita, betapa setiap sudut yang ada di Indonesia mempunyai potensi cerita yang amat menarik untuk diangkat ke layar lebar. Ceritanya sangat Indonesia dan juga terasa unik bagi penonton internasional. Kalau ingin berbicara di ajang festival film internasional, sineas Indonesia harusnya rajin-rajin menghasilkan karya semacam ini. Unik dan dikemas dengan baik. Keunggulan film ini juga terletak pada dinamika cerita yang cukup lincah dengan selipan sindiran yang kadang terasa lucu namun menohok.


8.ADA APA DENGAN CINTA (2002)
Masih merupakan film remaja terbaik sejak kebangkitan film Indonesia. Ditonton beberapa kalipun rasanya tidak membosankan. Inilah keunggulan film ini dibandingkan film Indonesia kebanyakan. Ceritanya mungkin tidaklah istimewa, namun semua lini dari film ini digarap dengan apik. Film ini juga sukses mencetak bintang dengan bakat besar seperti Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Soundtracknya pasti bakal melekat di kuping sepanjang masa.


7.FIKSI. (2008)
Jarang sekali film nasional yang mengulik sisi terdalam dari jiwa manusia. Ketika sineas lain asyik dengan dunia hura hura, mereka yang terlibat di balik film ini sibuk menyelami dunia sunyi anak manusia. Hasilnya? Filmnya tampil lebih gelap dan menakutkan ketimbang film horror yang setannya begitu banci kamera.


6.BERBAGI SUAMI (2006)
Film yang mengukuhkan Nia Dinata sebagai sineas yang paling konsisten mengangkat isu seputar perempuan. Selain itu juga mempertegas kesukaan Nia untuk memproduseri sebuah kumpulan cerita menjadi sebuah tontonan yang memikat meski mengangkat isu yang sensitive dan cenderung berat. Berbagi Suami adalah sebuah film yang lucu sekaligus pahit dan didukung jajaran cast yang melimpah dan hebatnya mampu tampil bagus.


5.LASKAR PELANGI (2008)
Jujur bukan merupakan film favorit Gilasinema. Namun keseriusan mereka yang berada di balik layar patut mendapatkan apresiasi tertinggi. Film ini seakan menegaskan posisi dari Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai insan film yang mempunyai visi yang jelas. Entah apa jadinya dunia film Indonesia tanpa andil mereka berdua. Mereka selalu membuat film yang tidak hanya sebagai tontonan, namun juga tuntunan.


4.KALA (2007)
Sebuah film yang menyadarkan kita bahwa ada sebutir mutiara di tengah padang pasir (aduuuh…!) yang bakal mengkilat kalau terus diasah. Mutiara tersebut tidak lain adalah Joko Anwar. Banyak yang ingin didobrak oleh sineas satu ini yang memanfaatkan kecintaannya akan sinema sebagai kekuatan dalam berkarya. Kala seakan menjadi sebuah pengantar dari kejutan demi kejutan yang bakal dihadirkan oleh Joko Anwar yang membuat dunia perfilman Indonesia makin kaya warna.


3.NAGA BONAR (JADI) 2 (2007)
Deddy Mizwar berhasil menghasilkan sebuah tontonan yang kaya nilai (nasionalisme) namun tanpa menghilangkan unsure komersialnya. Deddy Mizwar tahu benar bagaimana meramu cerita menjadi sebuah tuntunan tanpa menggurui dan meninggalkan kesan mendalam di benak penontonnya.


2.JERMAL (2009)
Sebenarnya bukan sepenuhnya karya anak negeri, namun inilah film berbahasa Indonesia yang sangat bermuatan local, namun rasanya bakal bisa diterima penonton global kalau saja dipromosikan dengan baik berkat keunikan setting cerita. Meski terkesan sederhana, Jermal mempunyai tuturan cerita yang menarik dan kuat. Menyaksikan film ini mengingatkan pada film-film Jepang yang sunyi, minimalis namun mempunyai kedalaman cerita.


1.PASIR BERBISIK (2001)
Film yang sangat berkesan bagi Gilasinema berkat visualisasinya yang sarat makna. Gambar-gambar yang dihadirkan sangat kuat dan “berbicara”. Film ini sangat menarik dibahas dari berbagai segi, mulai dari teknis, cerita hingga isu yang dihadirkan. Filmnya sendiri sangat indah dan artistic meski menghadirkan sebuah tragedy didalamnya. Adegan paling nempel dan paling menyedihkan adalah ketika Dian Sastro mendapatkan pelecehan dari Didi Petet.

Dari daftar diatas bisa dilihat bahwa tahun 2008 menjadi tahun terbaik dengan dirilisnya beberapa judul yang unggul secara kualitas. Tahun 2008 juga berkilau secara kuantitas, mengingat di tahun ini ada lebih dari 80 film Indonesia yang dirilis. Dian Sastrowardoyo bisa dibilang sebagai Aktris Terbaik sepanjang 10 tahun terakhir dengan menempatkan 3 film sekaligus (Pasir Berbisik, Ada Apa Dengan Cinta?, 3 Doa 3 Cinta). Aktris ini tidak hanya cantik namun juga cerdas memilih film. Aktor? Performa Didi Petet, Deddy Mizwar dan Tio Pakusadewo rasanya belum bisa ditandingi. Mungkin Lukman Sardi yang akan menggantikan dominasi mereka.
Selain 10 film diatas, Gilasinema juga memilih 3 film yang Gilasinema anggap memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema Indonesia. Semacam Honorable Mention gitu.



CLAUDIA/JASMINE (2008)
Menyaksikan film ini terasa seperti menikmati sebuah film komedi romantis produk Holly. Emosi penonton berhasil dibuat naik turun berkat jalinan cerita yang lincah dan tidak menyakiti akal pikiran, serta dibalut alunan musik yang asyik dan pas. Kekuatan film ini tidak bisa dipungkiri ada pada ketrampilan penulis skenarionya. Sesuatu yang menjadi kelemahan di banyak film nasional.


MEREKA BILANG, SAYA MONYET! (2007)
Menghadirkan twist ending yang memikat. Bolehlah disebut sebagai salah satu ending terbaik sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Sebuah film yang penuh dengan olok-olok dan kemarahan, dan menjanjikan karya selanjutnya yang bakal lebih berkualitas. Berandai-andai, hasil akhir dari film ini kalau saja didukung dana yang cukup.


PEREMPUAN PUNYA CERITA (2008)
Nia Dinata makin sibuk membuat (memproduseri) film yang berisi kumpulan cerita. Kadang terkesan curang, namun dimaafkan karena hasil akhirnya yang sangat layak tonton. Cerita Jogja meninggalkan kesan dengan cara bertutur yang lugas apa adanya khas Upi. Rachel Maryam mencuri perhatian dengan olah aktingnya sebagai sosok berkebutuhan khusus.

Minggu, 28 Maret 2010

I–HORROR PILIHAN GILASINEMA

Minggu, 28 Maret 2010 11

Film horor rasanya menjadi bagian yang tak terpisahkan pada dunia sinema Indonesia. Sudah tak terhitung banyaknya film horor yang telah diproduksi. Herannya, meski formulanya senantiasa seragam, film horor seringnya (masih) bisa membuat para produser tersenyum berkat raihan penonton yang tidak terlalu mengecewakan. Pocong dan Kuntilanak menjadi bintang utama dalam dunia film horor Indonesia. Entah sudah berapa kali dua hantu berwajah jelek tersebut menghiasi layar. Dua hantu ini sungguh banci kamera. Dibandingkan kuntilanak, pocong rasanya lebih banyak ditakuti. Teman Gilasinema, hanya mendengar namanya saja sudah bergidik ngeri dan langsung ngamuk kalau ada yang mengucapkan ”pocong”.


Kalau dirunut sejak tahun 2000, film horor Indonesia mengalami pergeseran dalam ceritanya. Awalnya, film horor banyak menggambarkan para anak muda yang memasuki wilayah keramat, selanjutnya ketika penonton sudah mulai jenuh, film horor Indonesia beralih menjadi kisah cinta segitiga dan berlanjut dengan pameran dada dan paha ketika setan makin tidak terlihat mengerikan. Film horor Indonesia terkini, selain menonjolkan sensualitas yang terlihat murahan juga ditandai dengan masuknya unsur komedi yang sayangnya sangat tidak lucu. Pergeseran cerita tadi ternyata berpengaruh pada kualitas cerita. Hal ini membuat film horor sebelum Tali Pocong Perawan jadi terlihat berkualitas dibandingkan film horor terkini. Padahal, pada saat perilisannya, film-film horor sebelum Tali Pocong Perawan banyak dikritik tidak memiliki cerita yang meyakinkan. Akhir-akhir ini film horor Indonesia tampaknya sedang bergerak kearah slasher.
Gilasinema sendiri memilih 10 judul di bawah ini yang rilis 2000 – 2009 sebagai film horor Indonesia yang cukup menghadirkan keseraman dan ketakutan serta jalinan cerita yang tidak malu-maluin serta menghadirkan beberapa adegan yang cukup pantas dikenang. Sayang sekali Gilasinema belum menyaksikan Karma dan Takut. Rumah Dara tidak dimasukkan karena dirilis resmi tahun 2010. Dan kalaupun rilis sebelum tahun 2010, Gilasinema tidak akan memasukkan Rumah Dara karena bagi Gilasinema film ini tidak menakutkan dan banyak ganjalan disana-sini yang cukup mengganggu kenikmatan. Mungkin karena ekspektasi yang berlebihan kali ya hingga kecewa melihat hasil akhirnya?
Inilah 10 I Horror Pilihan Gilasinema.



10.LEWAT TENGAH MALAM
Inilah film horor terbaik dari Nayato kalau memang benar Koya Pagayo itu adalah nama aliasnya. Ceritanya cukup enak dinikmati dan penampakan hantunya cukup mengejutkan. Lewat Tengah Malam layak dilirik berkat endingnya yang meski tidak mengejutkan, bolehlah.


9.HANTU
Hantu mungkin tidaklah terlalu istimewa namun dengan setting hutan nan hijau, film ini menawarkan warna lain dibandingkan film horor Indonesia lainnya. Meski sempat kedodoran setelah memasuki pertengahan, film ini dibuka dengan cukup enak. Apalagi dengan iringan Kucing Garong versi tarling. O iya, adegan Dhea Ananda yang kesurupan cukyp meyakinkan lho.


8.LANTAI 13
Film ini sangat tertolong dengan penampilan Widi Mulia yang bagus. Berbeda dengan banyak aktris lain yang sejak awal sudah menampilkan wajah tegang ketika bermain di film horor, Widi menampilkan ekspresi dan bahasa tubuh yang cukup santai. Lantai 13 dipilih karena menghadirkan momen-momen yang pantas dikenang, diantaranya adalah ghost story di dalam lift yang membuat ngakak atau kisah Dhawiya yang mampu mencairkan suasana. Sayang, film yang berpotensi menjadi bagus untuk ukuran film horor Indonesia ini dirusak oleh paruh akhir yang berantakan. Aktor sekaliber Tio Pakusadewo pun dibuat kebingungan.


7.40 HARI BANGKITNYA POCONG
Meski tidak semenyeramkan Pocong 2, 40 Hari Bangkitnya Pocong tetaplah sebuah film yang menakutkan. Lihat saja adegan yang melibatkan guci. Dan lagi, film ini menampilkan sebuah kejutan menarik di penghujung kisah.


6.TALI POCONG PERAWAN
Inilah pelopor film horor erotis yang sekaligus melejitkan Dewi Perssik sebagai pemikat banyak penonton. Meski belum menyaingi karisma Suzanna, dialah Ratu Horor dunia film nasional terkini. Adegan Dewi Perssik membeli minuman dengan dialog ”Baaang...minumnya dua” sambil sedikit menggoyang, maaf, dadanya mengingatkan pada dialog ikonik Suzanna, ”Minta satenya bang”. Diluar segala sensasi yang menyelimuti perilisan filmnya, Tali Pocong Perawan menawarkan garis cerita yang masih bisa dinikmati dan belum banyak memasukkan humor-humor tidak lucu. Penampakan pocong dalam film ini yang cukup menggedor jantung hadir ketika adegan Ibnu Jamil di dalam toilet. Dan jangan lupakan, adegan pocong jatuh di penghujung film yang sangat mengagetkan.


5.JELANGKUNG
Banyak yang menyebut Jelangkung sebagai mbahnya film horor di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Tidak bisa dibantah, mengingat setelah dirilisnya Jelangkung, lebih dari seratus film horor diproduksi. Namun, bukan karena sebagai pionir Jelangkung masuk ke dalam daftar ini. Jelangkung berhasil menebarkan kengerian selain ”sosok” Jelangkung itu sendiri, juga dengan menghadirkan hantu-hantu ”kondang” seperti Suster Ngesot yang kemudian banyak nampang di judul lain.


4.KERAMAT
Dengan pendekatan yang mengharuskan banyak improvisasi di lapangan, Keramat justru menjadi karya paling rapi dari seorang Monty Tiwa. Bandingkan dengan Maaf, Saya Menghamili Istri Anda dan XL yang secara teknis banyak kelemahan disana-sini, Keramat justru mengalir mulus. Pemilihan Yogyakarta merupakan sebuah pilihan tepat mengingat kesan magisnya terasa kuat. Dan film model POV begini memang paling pas memasang bintang-bintang baru. Paling suka dengan adegan ketika di dalam mobil. Bukan pendekatan yang orisinil, namun bagi perkembangan film horor nasional, Keramat adalah sebuah inovasi.


3.MIRROR
Keunggulan Mirror dibandingkan film horor Indonesia kebanyakan adalah keberanian film ini dalam menghadirkan gambar-gambar bernuansa putih. Rasanya, Mirror merupakan film horor Indonesia yang paling cerah. Meski banyak yang menuding ceritanya mirip The Sixth Sense, Mirror berhasil menjadi sebuah tontonan yang memikat berkat runtutan cerita yang cukup rapat dan rapi. Para setannya tidak banci tampil dan penampilan Nirina Zubir cukup bagus.


2.KUNTILANAK
Rizal Mantovani membuat Mbak Kunti tidak kalah bersaing dengan Pocong untuk urusan tampil dalam dunia sinema horor Indonesia karena sukses hingga mencapai tiga seri. Kuntilanak versi asli ini digarap dengan tampilan visual khas Rizal serta memasukkan unsur budaya yang cukup kuat sehingga terkesan jauh lebih artistik dibandingkan film horor Indonesia lainnya. Lupakan soal tempat kost yang jauh dari kesan nyaman, Kuntilanak berhasil menghadirkan kengerian berkat interpretasi Rizal akan wujud Mbak Kunti yang agak berbeda dengan gambaran Mbak Kunti di film horor Indonesia kebanyakan. Belum lagu lantunan tembang durmo yang terdengar sangat mistis hingga berhasil membangkitkan bulu roma. Kuntilanak 2 gagal menghadirkan hal yang sama namun berhasil membuat ngeri dengan adegan-adegan gore-nya. Kuntilanak 3? Tersesat di hutan rimba!


1.POCONG 2
Gilasinema tidaklah mudah ditakuti dengan cerita hantu. Bahkan, waktu kuliah dulu pernah tidur sendirian di kampus yang katanya banyak hantu berseliweran supaya mendapatkan ”penampakan”. Pocong 2 menjadi film horor Indonesia paling menakutkan bagi Gilasinema karena setelah menyaksikan film ini Gilasinema takut untuk bergerak. Untuk ke kamar mandi saja Gilasinema sampai meminta bantuan untuk ditemani. Rudi Soedjarwo dan Monty Tiwa berhasil menghadirkan kisah hantu Indonesia dengan amat meyakinkan tanpa perlu mengumbar penampakan hantu itu sendiri. Hand held cam yang menjadi ciri khas Rudi terbukti efektif membuat penonton ikut masuk ke dalam suasana horor yang dialami Revalina dan Risty Tagor. Penampakan pocong di tangga sukses membuat Gilasinema terkaget-kaget. Guling yang menjadi pocong menjadi adegan paling memorable karena sangat mengagetkan.


Pilihan Gilasinema diatas ternyata tidak beda jauh dengan hasil polling yang pernah Gilasinema selenggarakan. Untuk polling, Rumah Dara sengaja dimasukkan karena saat polling digelar, film ini sedang menjadi pembicaraan hangat. Berikut hasil polling I-Horror :
1.JELANGKUNG
2.RUMAH DARA
3.POCONG 2
4.KUNTILANAK
5.HANTU
6.KERAMAT
7.LANTAI 13
8.TALI POCONG PERAWAN
9.TUSUK JELANGKUNG
10.MIRROR

Kamis, 25 Maret 2010

CLOSER TO HEAVEN (NAE SA-RANG NAE GYEOL-AE)

Kamis, 25 Maret 2010 7

“You might have the luxury to love freely, but everyday is hell for me”

Tanpa berpikir panjang, Lee Ji Su (Ha Ji-won ) yang bekerja di rumah pengurusan jenazah menerima lamaran teman lamanya, Baek Jong woo. Keduanya dipertemukan setelah sekian lama tidak bertemu saat ibu Baek Jong woo meninggal dunia. Lee Ji Su yang pernah dua kali gagal membina rumah tangga sungguh mengambil keputusan yang sangat berani, kalau tidak mau dibilang gegabah, mengingat Baek Jong woo mengidap penyakit yang menyerang tulang hingga perlahan lumpuh dan membuat penderitanya tidak bisa bertahan lama. Penyakit tersebut dikenal sebagai Lou Gehrig's disease. Lou Gehrig diambil dari nama seorang atlet baseball yang amat kondang di tahun 1920 hingga 1930-an yang pensiun setela menderita penyakit aneh yang melumpuhkan tubuhnya.. Kisah Lou Gehrig ini pernah difilmkan pada tahun 1942 dengan judul The Pride of the Yankees dengan Gary Cooper sebagai Lou Gehrig. The Pride of the Yankees berhasil menyabet 11 nominasi Oscar dan malangnya hanya membawa satu piala untuk kategori Editing Terbaik.


Kembali pada kisah Lee Ji Su dan Baek Jong woo. Tanpa dihadiri keluarga dan pemuka agama, keduanya menikahkan diri mereka sendiri di gereja dalam prosesi yang cukup unik dan mungkin terasa romantis bagi sebagian peonton. Lee Ji Su yang sebelumnya pernah gagal seakan menemukan obyek pelimpahan rasa cintanya yang melimpah. Lee Ji Su merasa hidup setelah sebelumnya banyak mencurahkan waktunya bersama mayat. Semangat Lee Ji su mampu menghadirkan kebahagiaan pada diri Baek Jong woo yang merasa tidak sendirian menjalani masa-masa sulit.


Seperti kebanyakan melodrama khas Korea, Closer to Heaven menghadirkan momen-momen romantis nan menghanyutkan yang sukses membangkitkan senyum serta tak lupa menghadirkan adegan-adegan menyentuh yang rasanya bakal dengan mudah membuat penontonnya menitikkan air mata. Apalagi film yang mengangkat kisah orang berpenyakitan seperti Baek Jong woo ini. Kisah cinta sejati berbalut penyakit senantiasa mengharukan. Ingat dong dengan Love Story. Masalahnya, tidak semua orang suka dengan tontonan yang terlalu sendu. Untuk penonton jenis ini, Closer to Heaven bisa menjadi sangat memuakkan dan menjemukan. Dan lagi, endingnya dapat dengan mudah ditebak.


Closer to Heaven sangat terbantu dengan penampilan dua bintangnya yang berhasil tampil bagus dan menghadirkan chemistry yang kuat. Tak heran keduanya menuai banyak pujian dan berhasil berjaya di salah satu movie award bergengsi di Korea, Blue Dragon Film Awards. Tahun 2009 tampaknya tahun yang bagus buat Ha Ji-won. Setelah sukses komersial lewat Haeundae, aktingnya mendapat pengakuan lewat Closer to Heaven ini. Bolehlah kalau disebut aktris yang sebelumnya sukses lewat Miracle on 1st Street, Sex is Zero dan seri TV Memories of Bali ini disamakan nasibnya dengan Sandra Bullock. Namun yang pantas mendapatkan applaus meriah adalah Kim Myung-min yang total dalam memerankan Baek Jong woo hingga rela menurunkan berat badan hingga 20 Kg. Aktor yang satu ini filmografinya belumlah banyak. Kalau tidak salah dia mulai dikenal lewat seri TV Beethoven Virus.


Seperti telah dikemukakan diatas, diajang Blue Dragon Film Awards 2009, film yang diarahkan dan naskahnya ditulis oleh Jin-pyo Park (sebelumnya menghentak lewat Voice of A Murderer) ini berhasil berjaya dikategori acting melibas Mother dan Thirst. Dan memang di sisi aktinglah keunggulan film ini. Cerita? Tidak terlalu istimewa, namun Closer To Heaven tetap sayang untuk dilewatkan terutama buat mereka penikmat kisah cinta romantis nan tragis (bingung?!). Paling tidak film ini mampu memberi inspirasi, selain soal keteguhan dan keikhlasan cinta juga membuat kita menerima diri kita dengan lebih positif. Bagi para mantan suaminya, Lee Ji Su adalah pembawa sial karena sering bersentuhan dengan mayat, namun bagi Baek Jong woo, sentuhan dan kasih sayang Lee Ji Su adalah SURGA. Ooooohhh….3,25/5

Selasa, 23 Maret 2010

HASIL POLLING FILM INDONESIA TERBAIK 2000 - 2009

Selasa, 23 Maret 2010 13

Awal Maret kemarin, Gilasinema mengadakan polling tentang Film Indonesia Terbaik 2000 – 2009. Meski mungkin hasilnya tidaklah representative, namun hasilnya cukup menarik. Rasanya film-film yang masuk 10 besar memiliki kualitas yang cukup pantas untuk dipilih. Masuknya Under the Tree cukup mengejutkan mengingat film ini tidak dilihat oleh banyak orang. Film independent Cin(T)a hampir masuk 10 besar dengan duduk manis di posisi 11. Kalau saja film ini dilihat banyak penonton, mungkin akan dengan mudah masuk 10 besar. Riri Reza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Joko Anwar dan Rudi Soedjarwo terbukti memiliki banyak penggemar. Bahkan, Joko Anwar menempatkan banyak film yang melibatkan dirinya. Berikut hasil polling :


10.PASIR BERBISIK (2001)

9.UNDER THE TREE (2008)
AWYA :
Seni dalam sinema adalah orgasme duniawi yang terlampau manusiawi, dan ketika tradisi dan falsafah disatukan, diobrak-abrik, dan ditubrukkan dengan runyam, maka, film ini telah menemukan sisi itu di diri saya.

8.ARISAN! (2003)
WAYAN :
Film dengan karakter gay yang digarap serius, satire dan santai. Meski tema utama bukan gay tapi munafiknya ibu-ibu sosialita tapi gay bukan lantas jadi ornamen yang sekedar tempelan, tapi bisa bersenyawa dengan tema besar. Seingat gw, dalam sejarah film Indonesia memang banyak film tentang gay dibuat, namun hanya sendau gurau belaka, sekedar banci atau waria, tak digarap serius kecuali Istana Kecantikan yang mengantar Mathias Muchus dapat Citra. Arisan, salah satu film cerdas dan ceria tentang orang-orang SUNTUK!

7.9 NAGA (2006)
RUMBLE ZOLIC :
Ini film bikin gw terenyuh...pembawaan seorang RUDI SOEDJARWO yang unik, bikin film ini heartwarming buat gw...dari segi original score, song dan sound editng yang pas dan enak sekali dengan suguhan cinematography dari film ini yang GOOD.

6.NAGA BONAR (JADI) 2 (2007)
EKAJAZZLOVER :
Sarat dengan pesan moral tanpa menggurui, Deddy Mizwar “berkhotbah” tentang hal yang lebih luas kali ini, nasionalisme. Sindiran-sindirannya pas disini (contoh di adegan dengan polantas).


5.JANJI JONI (2005)
FIRAS :
Sebuah film tentang lika-liku kehidupan seorang pengantar film. Kenapa gw pilih film ini? karena menurut gw, tema yang diambil film ini laen daripada yang laen. Unik, kreatif, dan sama sekali ga kepikiran ama gw. Lagi-lagi Nicolas Saputra yang jadi aktor utamanya ,dan dia ngebawain perannya dengan baik

4.KALA (2007)
LADY ARIANNE BERNADI :
Tentunya pertama kali menonton Kala, Saya kaget bukan maen. Karena sangat amat tidak menyangka ada film Indonesia seperti ini. WOW! Joko Anwar sungguh jenius! Sepertinya Ia dilahirkan memang sebagai sutradara. Dari segi cerita juga sangat beda dengan film Indonesia pada umumnya. Belum lagi hampir mendekati akhir cerita, kita diberi kejutan. Sampai Saya kaget sendiri. Dan menurut Saya tim artistik film ini sangatlah gila! Hahahaha. Congrats! Very amazing! Akting dari Fachry Albar pun juga memuaskan!

3.FIKSI. (2008)
AJIRENJI :
Independen tapi tidak murahan. Sebuah film "aneh" yang anehnya saya suka. Apa yang ditampilkan di gambar tidak ada yang mubazir.

2.ADA APA DENGAN CINTA? (2002)
DELUPHER :
Film ini menjadi awal saya menyukai sutradara Rudi Soedjarwo, di dalam benak saya ketika itu menganggap Rudi sebagai sutradara besar yang berhasil membangkitkan gairah perfilman Indonesia yang pernah mati suri. Film ini booming di kalangan remaja. Nilai pintar dalam film ini adalah kisah cinta ciklit anak SMA yang dibungkus dengan karya sastra kata-kata puitis pujangga!!! Film ini bagi saya mengandung edukasi dalam hal mata pelajaran Bahasa Indonesia. Liat saja efeknya gara-gara film ini, semua cowok jadi sok romantis megang buku kahlil Gibran atau Chairil Anwar. Jujur saja gara-gara film ini bikin saya suka dunia sastra hingga sekarang, AADC ngenalin saya tentang karya AKU nya Chairil Gibran dan tiap nonton ni film bawaannya pengen bikin puisi,

1.LASKAR PELANGI (2008)
INAYAH AGUSTIN :
Pertama , jelas ini film box-office terbesar di Indonesia? Film ini pantas jadi salah satu dari 5 yang terbaik karena originalitasnya. Sangat Indonesia. Setting Pulau Belitung yang indah, dan cast-nya yang menggunakan anak-anak Belitung asli. Film ini menginspirasi setiap orang, tua-muda, melintasi strata sosial ekonomi manapun, tentang meraih impian dan cita-cita. Seinget saya tampil di beberapa Festival Film luar negeri, sesuatu yang membanggakan (karena khas Indonesia-nya itu tadi).

PEMENANG POLLING FILM INDONESIA TERBAIK 2000 – 2009


Terima kasih pada semua teman-teman yang telah berpartisipasi dalam polling yang Gilasinema adakan. Bagi yang beruntung mendapatkan bingkisan yang Gilasinema janjikan, Gilasinema ucapkan selamat dan mohon untuk segera mengirimkan nama, alamat serta nomer telepon ke gilasinema@yahoo.com. Bingkisan akan Gilasinema kirim di awal April nanti. Sekali lagi terima kasih banyak buat semua dan tunggu quiz/polling berikutnya. Berikut nama-nama yang beruntung :

Minggu, 21 Maret 2010

PERSEMBAHAN TERBAIK HANUNG BRAMANTYO

Minggu, 21 Maret 2010 16

Kalau Nayato menyebut Ekskul sebagai film yang tidak penting, maka Hanung menyebut Brownies sebagai film yang buruk. Padahal, film tersebut berhasil membuat Hanung meraih Piala Citra. Dan hebatnya, Brownies merupakan karya layar lebar pertama dia. Hanung memang sosok yang cukup kontroversial terutama karena gaya bicaranya yang cenderung apa adanya. Sesuatu yang belum bisa diterima dengan baik di negeri ini.


Keunggulan Hanung dibandingkan sutradara lain menurut Gilasinema adalah dia tahu bagaimana membuat film yang bisa diterima pasar tanpa harus menurunkan kualitas. Kompromi pasti adalah. Hanung selalu berusaha memenuhi kepercayaan dari para produser dengan baik. Coba kumpulkan jumlah penonton dari semua film Hanung. Rasanya jumlah 8 juta penonton bisa terkumpul dengan mudah. Hanung merupakan sedikit sutradara yang bisa menggarap film komedi dan drama dengan baik. Namun, kayaknya dia jangan membuat film horor deh. Terlalu banyak muatan (politis) yang membuat film horornya menjadi tidak horor. Lentera Merah masih lumayan menghadirkan adegan kejutan, namun berbeda dengan Legenda Sundel Bolong yang melempem. Padahal nama setannya sudah horor banget tuh.
Seperti halnya dengan Rudi Soedjarwo yang mendirikan Reload Film Center, sutradara yang kerap mengajak Agus Ringgo ini mendirikan Dapur Film Community yang bertujuan mencetak SDM baru bagi dunia sinema Indonesia. Langkah ini menunjukkan kepedulian Hanung terhadap kelangsungan hidup sinema Indonesia. Dari Dapur Film Community ini telah lahir Iqbal Rais (The Tarix Jabrix 1,2 dan Si Jago Merah) dan Fajar BGT (Best Friend?).


Film – film yang dihasilkan oleh Hanung Bramantyo sepanjang tahun 2000 – 2009 :
1.Brownies (2004)
2.Catatan Akhir Sekolah (2005)
3.Jomblo (2006)
4.Lentera Merah (2006)
5.Kamulah Satu-Satunya (2007)
6.Legenda Sundel Bolong (2007)
7.Get Married (2007)
8.Ayat-Ayat Cinta (2008)
9.Doa Yang Mengancam (2008)
10.Perempuan Berkalung Sorban (2009)
11.Get Married 2 (2009)



Sayang sekali Gilasinema belum melihat Brownies dan Catatan Akhir Sekolah dan Gilasinema yakin, kalau Ayat-Ayat Cinta ditopang dengan budget yang cukup, hasilnya bakal jauh lebih bagus lagi. Melihat daftar diatas, Gilasinema baru sadar kalau film-filmnya Hanung ternyata paling sering Gilasinema tonton di bioskop. Penasaran dengan Ahmad Dahlan yang baru memulai proses syuting. Berikut 3 film yang Gilasinema anggap merupakan persembahan terbaik dari Hanung Bramantyo.


GET MARRIED
Hanung Bramantyo mampu menghadirkan film komedi tanpa harus masuk ke wilayah yang mengumbar pesona ragawi ataupun mentertawakan kekurangan fisik seseorang. Dimasukkannya isu sosial dalam Get Married semakin membuat film ini lebih tajam dan cerdas dibandingkan kebanyakan film komedi Indonesia. Adegan perkelahiannya menurut Gilasinema menjadi salah satu adegan aksi terseru sepanjang sejarah perfilman nasional.


PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Lewat film ini, Hanung menunjukkan keberaniaannya dalam mengangkat tema yang cukup sensitif. Isinya sendiri menurut Gilasinema memang cukup provokatif dan bisa memancing emosi mereka yang terpaku pada nilai-niilai tertentu. Selain didukung jajaran cast yang cukup meyakinkan, terutama Widyawati, Perempuan Berkalung Sorban terlihat unggul berkat sisi teknis yang digarap serius dan sangat filmis


KAMULAH SATU – SATUNYA
Inilah karya Hanung yang menjadi favorit Gilasinema. Sayang, karena promosi yang kurang film ini kurang disambut dengan baik. Filmnya lucu dan dituturkan dengan amat mulus. Konsepnya kuat dan bulat. Penggunaan kamera yang berbeda untuk setting desa dan kota terbukti efektif membangun emosi. Dan jangan lupakan endingnya yang lucu dan melegakan

Kamis, 18 Maret 2010

20 DI TAHUN 2006

Kamis, 18 Maret 2010 10

Pusing!Pusing!Pusing! Itulah yang dirasakan Gilasinema ketika membuat film-film pilihan di tahun 2006 ini. Banyak sekali film-film yang pantas masuk kedalamnya. Dengan sangat menyesal, Gilasinema harus menyingkirkan banyak judul seperti Dreamgirls, The Queen, Happy Feet, Borat, Catch a Fire, Hard Candy, The Prestige, Perfume : The Story of a Murderer, Apocalypto, The Descent, How to Recognize your Angel, Notes on a Scandal dan This Film Is Not Yet Rated.
Di tahun 2006 ini lumayan banyak film-film ringan yang menjadi favorit Gilasinema ketika membutuhkan hiburan, yakni Step Up, Eight Below, The Devil Wears Prada, The Holiday, Hostel, John Tucker Must Die, She's the Man, American Dreamz, Running Scared, Goal! The Dream Begins, District B13 dan….. Snakes on a Plane!



20. DELIVER US FROM EVIL
Seperti kebanyakan film dokumenter terkini, satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini : PROVOKATIF!

19. BLOOD DIAMOND
Film ini menegangkan, menghibur sekaligus menyampaikan pesannya dengan bagus. Tidak banyak film seperti ini. Apalagi penampilan duo Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou yang tampil kuat. Sinematografi dan musiknya juga mantap. Tearjacker? Bukan masalah.

18. THE LAST KING OF SCOTLAND
Yang membuat film ini menarik adalah dua tokoh utamanya yang tidak bisa dikatakan simpatik. Keduanya mempunyai agenda yang cenderung demi kepentingan diri sendiri. Meski fiksi, menarik juga bagaimana hubungan yang terjalin antara Idi Amin (Forest Whitaker) dengan Dr. Nicholas Garrigan (James McAvoy) dan bagaimana hubungan keduanya berakhir. Penampilan berbeda dihadirkan oleh Gillian Anderson. Menit-menit terakhir film ini digarap dengan sangat dinamis oleh Kevin Macdonald yang menjadikan film ini terasa ringan menghibur.

17. 13 TZAMETTI
Ketegangan ternyata bisa hadir dalam sebuah film sederhana dengan tampilan hitam putih. Ketegangan dalam film ini juga dihadirkan lewat sorotan kamera atas ekspresi wajah yang memperlihatkan rasa takut dan frustasi. Oleh sutradara Géla Babluani, kita diajak untuk melihat sebuah permainan gila para orang kaya dimana nyawa menjadi taruhannya. Kita dibuat bertanya-tanya siapa selanjutnya yang bakal menjadi korban. Untungnya, dengan pewarnaan hitam putih, film ini tidak dengan vulgar mengumbar visualisasi darah. Untuk urusan hidup dan mati, tentu saja ada campur tangan takdir dan sedikit keberuntungan. Penasaran dengan versi Holly yang bakal dibuat berwarna dan menghadirkan Mickey Rourke, Ray Winstone, Jason Statham, Sam Riley, 50 Cent, dan Ray Liotta.

16. CASINO ROYALE
Durasinya memang terlalu panjang, namun Casino Royale menghadirkan sebuah tontonan aksi yang lebih humanis layaknya Bourne trilogy. Hal ini makin kuat berkat totalits dari Daniel Craig. Meski agak terganggu dengan beberapa adegan yang cukup mellow, Casino Royale akan selalu dikenang sebagai salah satu film Bond paling bagus dan paling asyik.


15. THE CHILD (L’ENFANT)
Seperti halnya Lorna’s Silence, Jean-Pierre Dardenne berkisah tentang kaum marjinal yang tertekan secara ekonomi. Judul The Child tidak hanya mengacu pada bayi yang memicu permasalahan, namun juga pada dua anak muda yang sebenarnya belum siap menopang tangung jawab yang besar. Sebuah film yang sangat intens dalam bertutur dan juga menghadirkan ketegangan.

14. UNITED 93
Sebuah film yang sangat efektif menggambarkan teror di udara dan juga memberi gambaran yang bagus kinerja para pengatur lalu lintas udara (Amerika) yang sangat padat. Meski hanya sebuah interpretasi, namun yang tersaji di layar terasa nyata. Paul Greengrass berhasil memberi pengalaman penuh ketegangan yang oleh Gilasinema pribadi hanya dikalahkan oleh Snakes on A Plane hehehehe..Untung belum pernah naik pesawat *udik*

13. LETTERS FROM IWO JIMA
Rasanya film ini pantas dimasukkan ke dalam salah satu kisah terbaik tentang bagaimana manusia mencoba mempertahankan diri dan berjuang untuk tetap hidup. Semangat patriotisme rasanya hanyalah sekedar bungkus yang bisa usang. Clint Eastwood cukup adil dengan tidak menempatkan dua pihak yang bertikai sebagai sisi yang benar atau salah. Apalagi pada saat yang sama dia merilis Flags of Our Fathers. Namun, yang pasti perang itu sebuah kesalahan. Dengan premis kisah yang ditawarkan, kita tidak peduli apakah kisahnya sejalan dengan sejarah atau tidak.

12. LITTLE CHILDREN
Quote "You couldn't change the past. But the future could be a different story. And it had to start somewhere." rasanya sudah cukup mewakili isi film yang sangat depresif ini. Todd Field sungguh berhasil menghadirkan sebuah kisah yang gelap pekat, namun memberikan ending yang positif. Sekali lagi, Kate Winslet menunjukkan totalitasnya. Jackie Earle Haley menghadirkan satu adegan yang mengejutkan dan Patrick Wilson sekali lagi diabaikan meski aktingnya juga bagus.

11. THE DEPARTED
Kisah para tikus yang sibuk menyusup memainkan sebuah lakon dan sibuk bertelepon yang digarap dengan apik oleh Martin Scorsese. Dukungan cast keren membuat The Departed sukses membuat penonton enggan berpaling. Jack Nicholson benar-benar iblis.


10. THANK YOU FOR SMOKING
Sebuah komedi satir yang lucu, cerdas, tajam dan sinis. Gaya khas Jason Reitman sudah mulai terlihat disini, terutama dalam menghadirkan kelincahan bertutur. Adegan favorit tentu saja ketika para juru bicara produk “pembunuh” bertemu.

9. PAN’S LABYRINTH
Imajinasi yang harusnya merupakan tempat bermain yang menyenangkan, oleh Guillermo del Toro menjadi sebuah tempat yang tak kalah berbahaya dibandingkan dunia nyata. Dunia imajinsi ternyata juga mempunyai aturan yang bila dilanggar bisa membawa akibat yang mengerikan sekaligus menyedihkan. Imajinasi bagi seorang del Toro adalah sebuah keindahan.

8. BABEL
Sekali lagi duo Alejandro González Iñárritu dan Guillermo Arriaga menghadirkan sajian yang amat depresif dan beberapa adegan yang mengejutkan dalam Babel ini layaknya Amores Perros dan 21 Grams. Bagi Gilasinema, film ini terasa actual dengan kondisi dunia dimana manusia makin gagap dalam berkomunikasi satu sama lain meski telah masuk era globalisasi. Tidak hanya antar benua dan antar Negara, bahkan antar anggota keluargapun kadang komunikasi tidak berjalan dengan mulus.

7. LITTLE MISS SUNSHINE
Kisah seputar keluarga yang mengalami disfungsional dan bagaimana usahanya dalam mencari keseimbangan antar anggota keluarga selalu asyik buat diikuti. Apalagi dalam Little Miss Sunshine kisah tersebut disajikan dengan jenaka dan keluarga yang dihadirkan amatlah tidak lazim. Percaya deh, setelah menyaksikan film ini, kita akan lebih menghargai hidup dan keluarga kita.

6. RED ROAD
Oleh Andrea Arnold, Red Road menjadi sajian yang gelap, puitis dan sensual meski ada adegan yang vulgar. Ada kepedihan dan kemarahan yang dipancarkan sepanjang durasi. Namun hal tersebut terbalut dalam komposisi gambar yang cantik serta pencahayaan yang indah. Meski terkesan lamban dan kelam, di penghujung kisah, Andrea meberikan setitik harapan dan kestabilan. Sebuah debut yang amat menjanjikan.


5. VOLVER
Rasanya tak ada sutradara yang memahami perempuan layaknya Pedro Almodóvar. Film ini begitu dipenuhi aura feminine. Volver menyoroti hubungan ibu dengan anak perempuannya, yang membuat kita merekonstruksi ulang pandangan kita akan sosok ibu (kita). Dan seperti biasa, Pedro banyak bermain warna merah didalamnya. Tidak hanya untuk mempercantik tampilan, namun juga untuk menyiratkan rahasia berdarah. Belum cukup, Volver menghadirkan sensasi mistis dan sedikit sentuhan ala Hitchcock. Penelope Cruz? Melihatnya disini, kamu akan mengakui kalau dia memang seorang aktris yang tidak hanya mengandalkan pesona fisik yang oleh Almodovar dieksploitasi sedemikian rupa. Adegan ketika Cruz menyanyi sungguh susah untuk dilupakan.

4. TEN CANOES
Selain sinematografinya yang tidak kalah indah dibandingkan The New World, Ten Canoes unggul dalam gaya bertuturnya. Cerita dalam cerita namun diakhiri dalam satu titik yang sama. Selain itu, meski mempunyai jalinan kisah, Ten Canoes bisa juga dimasukkan dalam genre documenter mengingat muatan antropologinya yang cukup kental. Apalagi dengan pemakaian para suku asli sebagai pemerannya. Film yang tidak menampilkan keindahan fisik pemainnya ini untungnya tidak mempunyai durasi yang panjang dan diselipi humor yang sukses memancing senyum.

3. THE WIND THAT SHAKES THE BARLEY
Ini salah satu film yang membuat Gilasinema melontarkan kata WOW! Ken Loach dengan pendekatannya yang sederhana (seperti biasa) berhasil dengan baik menggambarkan bagaimana perang merubah karakter seseorang yang awalnya berencana menyelamatkan kehidupan menjadi sosok yang terlalu idealis dan dingin dalam memperjuangkan apa yang diyakininya benar. Cillian Murphy mampu mempresentasikan karakter ini dengan bagus sekali. Adegan hukuman tembak di penghujung kisah sungguh periiiiih.

2. CHILDREN OF MEN
Bagi Gilasinema, film ini merupakan sebuah kisah jahilliyah di era modern. Era dimana manusia tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dan di tengah kekacauan selalu menghadirkan nabi baru. Ditangan Alfonso Cuarón, kekacauan tersebut disajikan dengan indah dan tensi yang tinggi. Sebuah film yang kaya referensi hingga bisa menjadi bahan diskusi yang amat menarik. Menonton Children of Men adalah sebuah pengalaman sinematik yang memuaskan.

1. THE LIVES OF OTHERS
Film yang secara baik sekali menerjemahkan kalimat bijak “Tak kenal maka tak sayang”. Andai manusia mau memfungsikan telinganya sebanyak memfungsikan mulut, tentu kekacauan bisa diminimalisir. Gilasinema sukaaaaaaaaa sekali dengan endingnya. Subhanallah….itulah wujud kebahagiaan.

Selasa, 16 Maret 2010

THE INFORMANT!

Selasa, 16 Maret 2010 7

FBI : Mark, I gotta ask you.Why are you doing this? We know you lied about the phone line, and you're afraid of that. But now you're telling us all this other stuff......out of the blue. Got to ask you why.
Mark Whitacre : Well, because things are going on I don't approve of. Now, I'm a biochemist. I'm a technical guy. And they pull me into the business side......and suddenly I find out all these things......are going on that are illegal.If I want to grow with ADM, I gotta learn the business side. And so suddenly, I'm lying. They're making me lie to people. I lie to you.


Kebohongan kadang bisa menyelamatkanmu, namun bisa juga menghancurkanmu. Bermula dari sebuah niat baik, Mark Whitacre merajut kebohongan demi kebohongan yang pada akhirnya membuat dia harus mendekam dalam penjara selama 8 tahun lebih, selain menumbuhkan kebencian dari orang-orang yang selama ini mempercayainya. Demi menyelamatkan karir dan juga bawahannya, Mark Whitacre menciptakan sebuah kenyataan palsu yang sialnya disikapi dengan serius oleh atasannya dengan mendatangkan FBI. Agar kenyataan palsu yang dia ciptakan tidak terbongkar, Mark Whitacre “menjual” kenyataan lain kepada FBI yang menyeretnya semakin jauh ke dalam jurang kebohongan karena FBI meminta bantuannya untuk menjadi semacam mata-mata untuk membongkar persoalan pengaturan harga yang dilakukan oleh perusahaanya. Kini, Mark Whitacre harus menjadi musuh perusahaan tempat dia mendapatkan segala kemakmuran.


While I was there at ADM, I lived so many lives, I didn't really know who I was.

Kebohongan ternyata bisa membuat seseorang mengalami kebingungan identitas. Itulah yang dialami oleh Mark Whitacre. Perannya sebagai sang informan membuat dirinya mempunyai dua sisi yang berlawanan. Hal ini tentu saja membutuhkan sebuah sandiwara yang meyakinkan dan konsisten. Bukan sesuatu yang mudah, mengingat Mark Whitacre harus menjalani peran ganda tersebut selama lebih dari dua tahun. Mark Whitacre ibarat seorang waria yang tersiksa karena merasa jiwa perempuannya terjebak dalam tubuh laki-laki. Tapi, tidak bisa dipungkiri terkadang Mark Whitacre terlihat menikmati perannya tersebut. ” Mark Whitacre, secret agent 0014. Because I'm twice as smart as 007.”


Kebohongan itu memuakkan, namun tidak bisa dipungkiri kadang terasa menyenangkan. Hampir semua orang suka dengan kebohongan. Tidak percaya? Coba saja pergi bioskop, disana kamu akan mendapatkan antrian panjang manusia yang bersiap menikmati rekayasa cerita selama sekitar 2 jam. Pergilah ke toko buku dan kamu akan mendapati kalau rak yang memajang karya fiksi akan lebih ramai dibandingkan rak yang memajang literature ekonomi. The Informant! bagi Gilasinema adalah sebuah kebohongan yang lucu dan cerdas. Hebatnya, film ini diangkat dari kisah nyata. Kalau boleh memberi saran, tonton film ini tanpa bermodalkan pengetahuan siapa itu Mark Whitacre. Jangan terlebih dahulu mencari kisahnya di mbak Wiki. Kalau kamu menuruti saran ini, di akhir kisah kamu akan dibuat tertawa karena ada satu kejutan yang disiapkan oleh Mark Whitacre. Sungguh sebuah ejekan yang lucu yang tercermin dengan bagus lewat posternya (poster favorit versi Gilasinema Award 2009). Tidak hanya ADM dan FBI, Mark Whitacre berhasil mengelabui penonton. Kalau kamu suka dengan Duplicity, maka The Informant! akan sangat sayang dilewatkan.


Sesuai judulnya, The Informant! banyak menyemburkan informasi yang membuat film ini dipenuhi dialog-dialog yang berpotensi membosankan bagi sebagian penonton. Apalagi Mark Whitacre (Matt Damon) rajin bermonolog dalam film ini. Sebuah monolog yang terkesan cerdas namun belum tentu kebenarannya. Untungnya, di tangan Steven Soderbergh, The Informant! menjadi sebuah tontonan yang memikat dan dihadirkan dalam irama yang dinamis. Cerita mengalir dengan lumayan lancar dan divisi artistic secara meyakinkan menghadirkan suasana awal 1990-an. Kedinamisan cerita dan gambar yang cantik makin asyik dengan dibalut musik lincah olahan Marvin Hamlish. Applaus meriah patut diberikan pada Matt Damon yang mampu bertransformasi dengan sangat meyakinkan sebagai Mark Whitacre. Ditangan Matt Damon, Mark Whitacre seakan perpaduan kebingungan identitas yang dialami dan Bourne dengan kecerdasan ala Ripley (Talented Mr. Ripley). Hanya saja kali ini disajikan dalam rasa komedik dan dibungkus dalam tubuh tambun serta dandanan norak. Dasi-dasinya itu lho.


Sekali lagi, bagi Gilasinema, The Informant! adalah sebuah film yang lucu. Gilasinema dibuat tertawa oleh adegan-adegan seperti rapat dalam ruang sempit, para petinggi FBI yang terperangah serta orang tua Mark Whitacre yang kebingungan dengan sebuah informasi. Kebohongan dalam The Informant! terasa menghibur, namun dalam kehidupan nyata, banyak korban berjatuhan akibat kebohongan yang disemburkan Mark Whitacre. Salutnya, Mark Whitacre secara jantan mengakui kesalahannya dan berani bertanggung jawab tanpa menyeret nama lain. Sebuah sikap yang pantas ditiru. 4/5


It's all 'Blame it on Whitacre.'
I just really want to apologize to a lot of people in this room......and a lot of people who aren't in this room, um......for my actions.
I realize I hurt a lot of people, and so I want to say: I'm so, so, so sorry.
I greatly apologize and accept responsibility for my actions.
That's it. Thank you.


 
GILA SINEMA. Design by Pocket