Selasa, 18 Maret 2008

LE SCAPHANDRE ET LE PAPILLON ( THE DIVING BELL AND THE BUTTERFLY )

Selasa, 18 Maret 2008 0

Jean-Dominique Bauby (Mathieu Amalric) adalah seorang jurnalis yang berperan sebagai editor di majalah Elle Perancis. Pada awalnya hidupnya dia lalui dengan normal – normal saja. Meskipun rumah tangganya bermasalah, Bauby adalah seorang ayah yang baik serta anak yang berbakti. Sampai sebuah kejadian membuatnya stroke dan merubah jalan hidupnya.

Stroke tersebut menyebabkan banyak bagian tubuhnya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dia hanya bisa menggunakan kedipan mata untuk berkomunikasi dengan orang lain. Satu kedipan berarti “ya”, sedangkan “tidak” dengan dua kedipan.

Cerita yang ditawarkan kesannya biasa dan sudah sering dihadirkan. Tentang orang sekarat, dan bagaimana dia memaknai hari – hari terakhirnya. Namun sutradara Julian Schnabel, dibantu dengan sinematografer handal Janusz Kaminski mampu menghadirkan tontonan yang orisinil dan penuh makna. Belum lagi penampilan para pemainnya yang prima, terutama Mathieu Amalric. Barangkali Jhonny Depp menyesal telah meninggalkan proyek ini karena bentrok dengan jadwal syuting Pirates of the Caribbean.

Kamera diposisikan sebagai mata dari Bauby. Dalam film ini kamera berperan sebagai actor yang berinteraksi dengan tokoh – tokoh yang ada dengan Bauby. Sebuah pendekatan yang menakjubkan. Untungnya Julian Schnabel tidak menyajikan pendekatan tersebut sepanjang durasi film. Sutradara tahu benar kapan menempatkan kamera sebagai actor dan kapan kamera berperan sebagai kamera, sehingga film tidak terasa melelahkan dan membosankan.

Lewat pendekatan ini kita diajak untuk menyelami apa yang dilihat, dirasakan dan imajinasi dari Bauby. Terkadang kita diajak untuk merasakan kepedihan dari Bauby sebagai seorang pesakitan, namun dalam banyak adegan tak urung kita tersenyum dengan apa yang sebenarnya ada dalam benak Bauby. Dalam beberapa adegan kita disuguhi pikiran – pikiran nakalnya. Atau adegan ketika mencoba memperingatkan perawat agar tidak mematikan siaran TV yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola. Lucu sekaligus membuat miris.

Seperti umumnya film yang bercerita tentang orang sekarat, film yang diangkat dari kisah nyata ini mengajak kita untuk lebih mensyukuri hidup ini dengan mengisinya dengan hal – hal yang berguna, terutama untuk orang lain. Rasanya tidak ada penonton yang tidak tersentuh melihat usaha Bauby menyelesaikan tulisannya dengan kondisi tubuh yang amat sangat terbatas.

Malu rasanya melihat semangat yang dimilik oleh Bauby, meskipun untuk menuju ke tahap itu butuh perjuangan yang kadang membuat putus asa dan ingin mati saja. Beruntung Bauby dikelilingi oleh orang – orang yang menyayanginya. Meski pada akhirnya Bauby meninggal dunia, namun dia meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan orang lain. 4,25/5

English


LE SCAPHENDRE ET LE PAPILLON (THE DIVING BELL AND THE BUTTERFLY)


Jean-Dominique Bauby (Mathieu Amalric) is a journalist that become an editor in Elle magazine in France. At the earlier, his live is so normal. Though his marriage is in trouble. Bauby is a good father and a good son. Until something happened and make him stroke, and it change his life.
Stroke that make most of his body is not well function. He only able to use the blink of his eyes to communicate with people. One blink is a yes, and two blinks is a no.
The story that offered here seems look a like with the other. And present too often. About dying person, and how he give a meaning to his last time of his live. But the director Julian Schnabel, helped by great cinematographer Janusz Kaminski that able to present the genuine show that full of meaning. And the cast that play so optimal, especially Mathieu Amalric. Perhaps Jhonny Depp feel sorry that abandoned this project because clash with the production of Pirates of Caribbean’s schedule.
The camera is positioned as Bauby’s eyes. In this film the camera is played as an actor that interact with the character around Bauby. A remarkable closure. Luckily that Julian Shnabel did not use this closure a long the duration. The director is knowing well when to put camera as an actor and when put it as a camera, so the film is not tiring and boring.
Trough this closure we are about to take and dive what is Bauby see, feel and imagine. Sometimes it make us feel the sorrow of Bauby. But in many scene we can smile for what are really in Bauby’s mind. In some scene we are served with his naughty minds. Or the scenes when he tries to warn the nurse not to turn off the TV that broadcast foot ball game. Funny and touchy.
Like a common film that tells about the dying person, the film that bring from the real story is inviting us to grateful for our live and fill it with something useful, especially to others. It’s feel that there are no audience that not touched to see Bauby’s aim to finish his writing on such condition.
It shame to see Bauby’s spirit, even sometimes to go to that stage need a struggle that make us desperate and make us want to die. Luckily that Bauby is surrounding by the people that loving him. Even though he finally died, but he left something valuable to someone’s life. 4.25/5

ATONEMENT



Hati – hati dengan kemampuan berimajinasi yang kamu miliki. Jangan sampai imajinasi yang disalahgunakan memunculkan dosa yang membuat hidup orang lain menjadi sengsara sampai mati. Mungkin ini yang ingin disampaikan oleh penulis Ian McEwan lewat novel Atonement yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Joe Wright dengan judul yang sama.

Briony Tallis (Saoirse Ronan) gadis 13 tahun bisa dibilang sosok yang invisible dalam keluarganya. Di usia yang rentan dimana butuh perhatian lebih, dia hidup dalam lingkungan dimana masing – masing orang disibukkan dengan persoalannya sendiri. Jadilah dia hidup dalam dunianya sendiri, dan menuangkan petualangan pikirannya dalam tulisan. Hal ini memupuk kemampuan imajinasi gadis tersebut, yang dilayar ditampilkan dengan cerdas memikat (dan sedikit membuat bingung).

Di sisi lain ada Robbie (James McAvoy) yang diam – diam Briony memendam rasa terhadapnya. Namun sayangnya, Robbie telah terpikat dengan kakaknya, Cecillia (Keira Knigthley). Untuk melampiaskan rasa marah dan cemburunya, Briony memanfaatkan sebuah peristiwa untuk menjauhkan keduanya. Walaupun tahu Robbie tidak bersalah, dengan imajinasinya, Briony menempatkan Robbie pada situasi yang sulit, tanpa menyadari penderitaan yang siap menghampiri ketiga tokoh tersebut.

Secara garis besar, sutradara mampu menghadirkan tontonan yang berkualitas, mulai dari acting para pemain, musik yang dahsyat dari Dario Marianelli dengan mesin ketiknya, pemilihan setting dan kostum sampai pertunjukkan yang hebat dari sebuah pengambilan adegan panjang tanpa cut (hampir 5 menit!). Namun entah dengan alasan pasar atau apa, rasa – rasanya porsi Keira Knightley dan James McAvoy terasa agak kebanyakan. Mencermati garis cerita yang ada, harusnya film lebih menekankan pada usaha penebusan dosa dari Briony.

Tanpa mengesampingkan penderitaan yang dialami oleh Robbie maupun Cecillia, bagaimana usaha Briony ataupun perkembangan karakternya rasa – rasanya akan lebih menarik diikuti apabila disajikan dalam porsi yang lebih besar, daripada menyaksikan kisah cinta dari Robbie dan Cecillia yang terus terang saja agak kurang kuat digambarkan di layar. Kalau diperhatikan, cover novelnyapun sangat menonjolkan Briony. Kalau saja Keira Knightley menerima tawaran Joe Wright untuk berperan sebagai Briony ketika sudah besar, cerita akan sangat focus pada kehidupan Briony.

Dengan porsi yang lebih besar, Saoirse Ronan tentu akan lebih bisa menampilkan bakat aktingnya yang besar. Dia begitu tepat dikasting sebagai Briony kecil. Dengan wajah penuh bintik dan mata biru, dia mampu menampilkan wajah anak kecil yang berlagak dewasa (seperti umumnya perempuan yang ingin dewasa sebelum waktunya) yang menyimpan gairah dan imajinasi yang besar, sekaligus wajah dingin penuh dendam ketika hatinya merasa kecewa. James McAvoy juga bermain bagus sebagai Robbie. Terlihat sekali dia menghayati penderitaan yang dialami oleh Robbie, yang membuat penonton bersimpati padanya. Sedangkan penampilan Keira Knightley tidak bisa dibilang jelek, namun juga tidak istimewa.

Seperti telah dituliskan diawal, gunakan imajinasimu sebijaksana mungkin. Di akhir cerita, Briony memutuskan menggunakan imajinasinya sebagai sarana penebusan dosa. Dan pada akhirnya, tidak hanya ketiga tokoh utama dalam film ini yang merasa bahagia, penonton pun ikut senang dengan akhir cerita yang dipilih. Dari film ini kita juga bisa belajar, perpustakan bukan tempat yang bagus buat bercinta! 3,75/5

English


ATONEMENT


Be careful with the imagination capabilities you have. Do not make the wrong imagination bring a sin that make other’s live in misery. Perhaps this is what Ian McEwan want to write in his novel Atonement that bring to the wide screen by the director, Joe Wright with the same title.


On the other side there’s Robbie (James McAvoy) that silently in love with Briony. But Robbie has bound his heart to her sister, Cecillia (Keira Knightley). To channeled her anger and jealous, Briony is use an incident to make them both separated. Even she knows that Robbie is not guilty. With her imagination, Briony put Roobbie to a difficult without realize the suffering on their way.
In a big line, the director is able to present the quality show, from the role, music from Dario Marianelli with the typewriter, the choose of the setting and costume until the long take that uncut (almost 5 minutes duration). But I do not know for some market reason or something else, it feels that Kiera Knightley and James McAvoy portion seem too much. If we noticed the story, the film should be give more portion on Briony, and her aim to expiate her sin.


Briony’s aim to expiate her sin or her character development it seem will be more interesting if it given more portion than we have to see love story between Robbie and Cecillia that not strong enough on the screen. In the novel’s cover is very protrude Briony. And if only Kiera Knightley taken the offer from Joe Wright to role as Briony when she is mature, the story will be more focus on Briony’s live.


With the bigger portion Saoirse Ronan absolutely will give more her talent. He is so fit with the casting as little Briony. With her face that full of stain and blue eyes, she is able to perform little girl’s face that mature before its time, that keep such a big passion and imagination, also cold face full of vengeance when she is disappointed. James McAvoy also play well as Robbie. He is comprehend the suffering of Robbie, that have the sympathy from the audience. And the performance of Kiera Knghtley could not say special, but could not say bad neither.


As I said previously, use your imagination as wise as you can. In the end of the film, Briony decided to use her imagination as a media to expiate her sin. And the end, not only the character in the film feel happy, the audience will be happy too with the ending. From the film we can learn that library isn’t a good spot to make love! 3.75/5

DAN IN REAL LIFE



Orang yang sering dan mampu menolong orang lain, belum tentu bisa menolong dirinya sendiri. Hal ini seperti yang dialami oleh Dan (Steve Carrel) duda dengan tiga anak perempuan. Dan yang seorang kolumnis yang memberikan nasehat kepada orang – orang yang mengalami masalah mungkin terlihat sebagai sosok yang sempurna dan bijaksana bagi orang – orang yang membaca tulisannya. Namun tidak dimata orang –orang terdekatnya, terutama ketiga anak gadisnya. Dan memang sosok yang bisa diandalkan, termasuk dalam hal mencuci pakaian dan menyiapkan makanan bagi anak – anaknya, namun mereka menganggap Dan hidup dengan pola yang membosankan dan old fashion.

Hal ini mulai berubah ketika Dan secara tidak sengaja bertemu dengan Marie (Juliette Binoche) yang manis, cerdas dan mempunyai selera humar yang bagus. Meski baru pertama bertemu, entah mengapa keduanya langsung klik. Dan seakan – akan mendapatkan pencerahan setelah pertemuan tersebut. Pencerahan yang langsung meredup ketika dia dihadapkan pada kenyataan bahwa Marie adalah kekasih dari adiknya, Mitch (Dane Cook).

Dengan seluruh keluarga besar berkumpul dalam rangka liburan rutin setiap tahun, mereka diharuskan menahan rasa yang ada diantara keduanya. Marie yang bisa menjalaninya dengan santai membuat geram Dan, yang kurang begitu bisa mengontrol perasaannya, bahkan cenderung kekanakan. Situasi ini menempatkan keduanya pada situasi yang rumit dan menghadirkan kelucuan – kelucuan yang segar bagi penonton. Di satu sisi mereka berusaha menekan rasa mereka demi menjaga keharmonisan yang ada, namun disisi lain ada gairah besar diantara mereka.

Sutradara Peter Hedges, yang menulis cerita film ini bersama Pierce Gardner, mampu menampilkan tontonan yang lucu dan menghibur lewat situasi yang bisa menimpa siapa saja. Kelucuan yang ada bukan muncul dari humor kasar yang seksis ataupun rasis yang banyak hadir di film komedi kebanyakan belakangan ini. Kelucuan benar – benar hadir lewat para tokohnya yang dihadapkan pada situasi yang rumit. Film ini mengalir dengan lancar dan enak dinimati. Suatu hal yang mungkin sudah bisa ditebak bagi mereka yang pernah menikmati karya Peter Hedges sebelumnya seperti Pieces of Apri atau About A Boy dimana dia menulis naskahnya.

Satu lagi keunggulan dari film ini adalah ditampilkannya ikatan kekeluargaan yang kuat. Suatu hal yang makin langka ditemui di film produk Hollywood. Kalau kita perhatikan, memasuki era 2000-an kita banyak sekali disuguhi dengan film – film Hollywood dengan tema disfungsional family yang ditampilkan dengan kelam yang kadang terasa berlebihan dan menyesakkan. Kehadiran film semacam Dan In Real Life ini seakan memberi angin segar dan sangat inspiratif. Yang mengherankan adalah betapa film jenis seperti ini tidak mendapatkan atensi sebesar film komedi yang dangkal, yang hanya bersandarkan pada guyonan dan gambar cabul dan kasar seperti Knocked Up atau Superbad.

Pun demikian, film ini bukannya tanpa kelamahan. Meski didukung dengan para pemain yang bermain bagus, namun dalam film ini kurang memberi perkembangan pada beberapa karakter di luar kedua tokoh utama. Beberapa karakter bahkan terkesan sekedar numpang lewat. Dan patut disayangkan juga bagaimana penulis cerita mengeksekusi cerita. Dengan cerita yang sebenarnya menjanjikan, akhir cerita yang dipilih terasa datar dan biasa.

Bagaimanapun film ini sayang sekali untuk dilewatkan bagi mereka yang ingin merasa terhibur. Apalagi dengan musik kreasi Sondre Lerche yang enak dikuping (mengingatkan pada Badly Drawn Boy di film About A Boy).3/5

English


DAN IN REAL LIFE


People is often able to help other people, but somehow he could not helped him self. This is what have been through by Dan (Steve Carrel) widower with three daughters. Dan who is a columnist that give advise to the troubled people perhaps looks like a perfect and wise person to the people that read what he writes. But not to people that close to him, especially his three little daughter. Dan is a person you can count on, especially on laundry and prepare the meal to his daughter, but they consider that Dan’s live is bored and old fashion.
The thing is getting change when Dan is accidently met with Marie (Juliette Binoche) that is cute, smart and has a good sense of humor. Even they just met, some how the both feel so fit each other. Dan is like get an enlightenment after that meeting. But the enlightenment is about to fade after he faced on reality that Marie is his brother’s lover, Mitch (Dane Cook).
With all the big family is gathering on routine yearly occasion, they have to hold the feeling between them. Marie, who can easy going with it is make Dan upset, that have not a capabilities to control his feeling and little bit childish. This situation is placed both on the complicated situation that give fresh fun to the audience. In one side they try to press their feeling to keep the harmony around them, but in the other side there is a huge passion between them.
The director, Peter Hedges who writes the story with Pierce Garner, is able to perform the show that funny and entertain through the situation that could happened to anyone. The fun that perform is not come up from the rough humor and sexist or even racist that usually we can get in common comedy film lately. The fun is really come out through the character that faced complicated situation. The film is flowing and so enjoyable. One thing that can be guess to they who ever see Peter Hedges’s work like Piece of Apri or About A Boy where he wrote the script.
One of the excellent of the film is that the strong family bound that shown. One thing that become a rare to see in Hollywood’s film. If we noticed, go into 2000’s there are a lot Hollywood’s film that perform family disfunction darkly and sometimes it feel too much and constrict. The present of Dan In Real Life is like to give a fresh air and so inspire. What makes me wonder is that how a film like this never get the big attention than the shallow comedy film, which is based on sarcastic and adult picture like Knocked Up or Superbad.
Even though the film is not without the weakness. Supporting by the star who play well, but in the film is giving less development to a few character out side the two main character. Some character seems just pass through. And it’s shame that how the writer execute the story. With such story that actually promising the ending of the story is feel so flat and usual.
The film is so pity to miss to whom that want to feel the entertainment. And with the music creation from Sondre Lerche that so easy listening (remind me to Badly Drawn on About A Boy). 3/5

KATYN



Secara sinematik, mungkin film Katyn bukanlah film yang istimewa, namun tidak bisa dipungkiri kalau film ini penting dan berguna untuk disaksikan. Terlepas dari kebenaran cerita yang dihadirkan, melihat film ini kita jadi tahu kalau dulu, di era Perang Dunia II, Polandia pernah mengalami peristiwa yang menyedihkan lagi tragis. Nominasi untuk Best Foreign di ajang Oscar 2008, membuat film ini sayang untuk dilewatkan.

Katyn adalah nama sebuah hutan yang ada di Polandia yang menjadi saksi dari kebrutalan tentara Russia yang membantai sekitar 20.000 prajurit terbaik dari Polandia di tahun 1940. Cara mereka sungguh licik, hampir sama dengan taktik yang digunakan Jepang yang mengklaim diri mereka sebagai Saudara Tua ketika masuk ke Indonesia

Russia masuk ke Polandia dengan kedok membebaskan Polandia dari cengkeraman fasis NAZI yang waktu itu merajalela di Eropa. Mereka mengumpulkan para prajurit terbaik dengan propaganda akan dikembalikan kepada keluarga mereka. Namun yang terjadi adalah mereka dibantai secara keji di hutan Katyn. Lebih kejam lagi, mereka menunjuk Nazi sebagai dalang kejahatan perang tersebut. Dengan segala cara, Russia berusaha agar kebenaran yang sebenarnya tidak muncul. Sungguh kasihan bangsa Polandia. Keluar dari mulut buaya, masuk ke kandang singa.

Namun yang namanya kebusukan, lama – kelamaan akan tercium juga. Lewat usaha dari Anna (Maja Ostaszewska ) dalam usahanya mencari suaminya, Andrzej (Artur Zmijewski ) kita diajak untuk melihat kebenaran yang sebenarnya. Dalam perjalanan menuju kebenaran tadi, kita diajak melihat aksi dari beberapa tokoh yang juga berkeinginan mencari orang – orang yang mereka cintai. Betapa Russia yang kejam mampu memporak porandakan hidup rakyat Polandia. Memisahkan mereka dari orang – orang yang mereka cintai.

Banyak adegan menyesakkan yang disajikan oleh sutradara Andrzej Wajda untuk menggambarkan apa yang terjadi dan apa yang dirasakan oleh rakyat Polandia. Salah satunya adalah ketika salah satu tokoh dalam film ini mencoba memasang nisan untuk saudaranya yang menjadi korban. Nisan yang hancur cukup mewakili dari emosi yang dialami oleh rakyat Polandia.

Menyaksikan film ini tak ubahnya menyaksikan film documenter, Hanya saja dengan balutan drama yang kental. Sutradara Andrzej Wajda berusaha membuat film ini seaktual mungkin dengan riset yang mendalam, yang merupakan kunci utama dalam membuat film berlatar belakang sejarah. Sutradara juga berhasil menampilkan gambar – gambar yang efektif menggambarkan situasi sebelum, saat dan sesudah pembantaian. Lewat gambar – gambar suram, dengan warna kelam kita diajak meyelami terror kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Katyn bukanlah film yang nyaman buat disaksikan. Namun sekali lagi, film seperti ini penting sekali buat disaksikan. Karena sejarah harusnya disampaikan dengan jujur dan proporsional. Jangan sampai sejarah hanya dimiliki oleh mereka yang berkuasa. Yang dapat mereka gunakan sebagai kendaraan dalam usahanya meraih kekuasaan dan kejayaan. 3,75/5

English


KATYN


As cinematic view, Katyn is not a special film, but this film is important and very useful to see. Apart from the truth of the story, seeing this film is make us know about something, that in the world war II, Poland has been through some tragedy. Best Foreign Film nomine in Oscar 2008 is unfortunate to miss.
Katyn is the name of the jungle in Poland that become a witness of the brutality of Russian soldiers that genocide around 20.000 best Polish soldiers in 1940. The way they do it is so tricky. It’s look alike with the strategy that used by the Japanese that claimed them self as old brother to Indonesia.
Russia enter to Poland use the mask willing to give Poland freedom from the NAZI’s fascism that conquer Europe on that time. They gathered the best soldiers with the propaganda they will returned to their family. But what really happened is they genocide them in Katyn Jungle. And they point NAZI as the genocide mastermind. Russia is trying everything so the truth is not reveal. Poor the Poland. Out from the alligator mouth enter to the Lion’s gate.
But the rotten can not be hidden, it can smell anyway. There’s Anna (Maja Ostaszewska) that try to find her husband, Andrzej (Artur Zmijewski) weare about to see the truth. On the way there, we will take to see the action from several character that trying to find people they loved. How the Russian break the Polish people’s live is so mean. Separated them from the people they loved.
A lot of scene that shown by the director Andrzej Wajda to describe what really happened and the feeling of Polish people really are. The example is when the one of character in the film is trying to setup the gravestone to his brother that become a victim. The broken gravestone is represent the emotion that been through by the Polish people.
To see this film is just like to see the documentary film. It’s just that it dramatically wrapped. The director, Andrzej Wajda is trying to make the film as actual as it can with the deep research, that become the main key to make the film on historical basic. The director is make the pictures effectively before and after the genocide. Trough the vague pictures with dark color, it take us to dive the humanity terror that going on.
Katyn is not a comfortable film to see. But the film is something important to see. Because the history has to tell with truth and proportionally. The history is not own by the authority side only. So they can use it as a tools to reach the glory and the power. 3.75/5

THE DETECTIVE (C+ JING TAAM )


Sudah lama kita tidak disuguhi film tentang detektif yang mengusut sebuah kasus pembunuhan. Film dengan tema seperti ini sekarang lebih banyak hadir di layar kaca. Hal ini menjadikan kehadiran The Detective seakan mengobati kerinduan akan tontonan yang berbau penyelidikan.

Tam (Aaron Kwok) pada suatu hari didatangi seorang pria tua yang meminta bantuannya untuk menemukan seorang gadis yang tiba – tiba menghilang. Pada awalnya Tam “menggarap” kasus ini sekan – akan bukan sebuah kasus penting. Sampai beberapa kejadian dimana selalu ada yang terbunuh di tempat yang dia datangi, dia sadar akan kualitas kasus yang sedang dihadapinya. Dengan bantuan dan halangan dari temannya yang polisi, Chak (Liu Kai Chi) dia berusaha mengorek apa yang sebenarnya terjadi, dengan nyawanya sebagai taruhan. Selain berusaha membongkar kasus tersebut, Tam juga masih berusaha menemukan kedua orangtuanya yang meninggalkan dirinya sejak usia belia.

Premis cerita terkesan tidak istimewa, tapi kalau melihat bagaimana karakter dari Tam, menjadikan film sedikit berbeda dari film detective kebanyakan. Tam digambarkan dengan karakter yang kurang begitu meyakinkan. Sejak cerita diawali sampai , kita disuguhi beberapa kebodohan yang dia lakukan. Namun hal inilah yang menyebabkan film ini menjadi lebih menarik. Tam terlihat lebih manusiawi dan nyata, serta terjangkau. Hal ini membuat penonton merasa akrab dengan tokoh tersebut dan terhanyut dalam petualangan Tam dalam mengurai kasus yang ujung – ujungnya bermotif uang.

Ditangani sutradara Thailand, Oxide Pang Chun yang menulis naskah film ini bersama saudaranya Thomas Pang, film ini mengajak kita menyusuri sisi – sisi gelap, kumuh dan bau dari pemukiman padat yang ada di Thailand. Tidak berbeda jauh dengan yang ada di Jakarta. Penggambaran tersebut memperkuat unsur misteri dari film ini. Dan juga efektif sebagi analogi betapa busuknya apa yang terjadi di balik permainan saham, yang pada kenyataannya banyak dilakukan oleh ibu – ibu di Thailand. Disini Pang bersaudara secara cerdas mampu mengangkat fenomena yang ada di masyarakat (Thailand) menjadi sebuah cerita menarik yang dibalut dengan unsur misteri dan sedikit adegan aksi yang lumayan menegangkan.

Kekuatan utama dari film ini sebenarnya ada pada Aaron Kwok yang mampu memerankan karakter Tam dengan amat baik. Bagaimana dia mampu memerankan sosok Tam menjadi begitu membumi, namun tetap ditampilkan kecerdasan yang dia miliki. Menarik ketika dia beberapa kali dihadapkan pada situasi yang mencekam, busuk dan kotor. Efek mencekam memang masih terasa (bahkan ada satu scene yang cukup memberi efek kejut), beberapa adegan bahkan menempatkan dirinya pada situasi yang sangat tidak mengenakkan namun entah mengapa melihat sosok Tam, adegan menjadi lebih cair dan kadang terasa lucu. Aaron Kwok mampu menghadirkan bahasa tubuh yang pas. Film makin asyik dengan editing yang ditampilkan, terutama dalam adegan aksinya, atau ketika Tam dipojokkan oleh seorang wanita dengan suara latar jam yang berdetik. 3,25/5

English


THE DETECTIVE (C+ JING TAAM)


It's been a while that we are not given the detective film that reveal a homicide case. Film with theme like it is often shown in television show. This is make The Detective is a cure for the miss of the film about investigation.
Tam (Aaron Kwok) is visited by the old man that asked for his help to find a girl that suddenly missing. At the beginning Tam take the case as unimportant case. Until some event that there are always someone murdered on a place he is going to, finally he realize on what he is dealing with. With help and obstacle from his cop friend, Chak (Liu Kai Chi) he is trying to reveal what is really happening, with his own live as a stake. Beside want to reveal his case, Tam is also still try to find his both parent that abandoned him since he was little.
The story premises isn't so special, but if we look how is Tam's character, it makes a little different from the most detective film. Tam is describing as unconvincing person. Since it began, and we are shown how silly he is. However, it is make more interesting, Tam is more live and real. This can make the audience feel so close with Tam and flew away on the Tam's adventure to reveal the case that in the end it's all about money.
Handled by Thailand Director, Oxide Pang Chun that write the script with his brother Thomas Pang, this film is taking us to follow the dark, dirty, smell sides of the compact residence in Thailand. Not so different with Jakarta. The description is so strengthen the mystic element of the film. And it's an analogy that effectively describe how sting is, what behind the stock exchange that played by the Thailand motherhood. Pang's brother is quite smart to raise the phenomena in Thailand society into the attractive story that surrounding by mystery and tight action.
The main strength from the film is in Aaron Kwok that able to live Tam's Character so well. How he can play the character that down to earth but still has the intelligent. When several time Tam has to face some situation that tenacious, rotten and dirty, it's quite interesting. The tenacious effect is shocking in some scenes. When Tam put him self on uncomfort situation somehow it can be melt and funny. Aaron Kwok is able to present proper body language. It's getting cool with the editing, when in the scene that Tam was cornered by a lady with the sound of clock as a back sound. 3.25/5

THE DRUMMMER ( JIN. GWU )



Film diawali dengan seorang triad, Kwan (Tony Leung Ka Fai) yang berusaha menyelamatkan nyawa anaknya, Sid (Jaycee Chan) dari incaran pimpinan triad lain, Ma (Kenneth Tsang) karena berhubungan dengan perempuan miliknya. Sid disini digambarkan pemuda manja yang bersikap seenak sendirinya. suatu hal yang dimaklumi, dimana dirinya tinggal dilingkungan yang tanpa bimbingan seorang ibu.

Demi keselamatan Sid, Kwan mengirim anak tersebut ke sebuah daerah terpencil di Taiwan. Di tempat yang jauh dari keramaian tersebut, Sid ditemani oleh orang kepercayaan Kwan. Sid yang bosan dengan situasi yang ada karena terbiasa hidup di dunia yang gemerlap, berusaha melarikan diri namun usaha tersebut berhasil digagalkan. Sampai pada suatu hari, dia mendengar dentuman drum (gendang?) yang menarik perhatiannya.

Merasa berbakat bermain drum, dia memutuskan untuk masuk ke kumpulan para pemain drum tersebut. Bukan usaha yang mudah karena perilakunya yang kurang bersahabat. Bahkan dia sempat dikeluarkan dari perkumpulan tersebut. sejak peristiwa tersebut, Sid mengalami transformasi kepribadian yang merubah jalan hidupnya kedepannya. Di sisi lain, kita juga diajak untuk mengikuti sepak terjang Kwan dengan segala masalah yang biasa menyelubungi kehidupan para triad.

Menarik mengikuti perkembangan dari Sid. Bagaimana dia mencoba mengalahkan ego sampai dengan kesadaran bahwa memainkan drum itu bukan sekedar memukul dan dipukul. Ada nilai – nilai tertentu yang harus dia pahami untuk menjadi seorang penabuh drum yang baik. Bagaimana dia harus mengenai siapa dirinya sebenarnya terlebih dahulu, sebelum bisa menjadi seorang penabuh. Perubahan Sid ini digambarkan dengan baik oleh actor muda Jaycee Chan. Bagaimana wajah bengalnya menjadi lebih teduh ketika mulai memahami siapa dirinya sebenarnya. Apalagi ketika dia merubah tatanan rambutnya.

Sutradara Kenneth Bi mencoba menyampaikan pesan dengan penggambaran yang amat sangat kontras antara kehidupan sang ayah di kota besar yang penuh kekerasan dan pengkhianatan dengan kehidupan si anak di daerah yang jauh dari suasana hiruk pikuk dan penuh kedamaian. Dan juga bagaimana nasib mereka di akhir cerita.

Kehidupan Sid yang damai tersebut, terusik ketika kelompoknya melakukan pementasan besar (Indonesia masuk jadwal mereka juga lho) dan mendapati ayahnya mati karena adanya pengkhianatan. Disini keputusan yang akan Sid pilih menjadi sebuah ujian yang berat baginya menuju manusia yang sebenarnya.

Cerita yang ditawarkan tidaklah terlalu istimewa, bahkan di bagian awal, film kurang begitu enak dinikmati. Namun setelah Sid “disingkirkan” ke daerah terpencil, sutradara berhasil mengemas cerita menjadi tontonan yang menghibur. Mendekati akhir cerita, kita disuguhi atraksi tabuh drum yang keren, yang mampu merangkum emosi berbagai karakter yang ada di film ini. 2,75/5

Kamis, 06 Maret 2008

MY BLUEBERRY NIGHTS

Kamis, 06 Maret 2008 1

I don’t know how to begin ..... ‘Cuz the story has been told before

Elizabeth ( Norah Jones ) adalah pribadi yang terluka karena ditinggalkan oleh pacarnya. Suatu malam dia memasuki sebuah kafe milik Jeremy ( Jude Law ). Di tempat itu awalnya dia mencari mantan kekasihnya untuk menyerahkan kunci apartemen. Seiring berjalannya waktu dan kebingungannya, dia menumpahkan segala keluh kesahnya kepada Jeremy sambil menikmati pie berry yang selalu tersisa setiap malamnya. Terjalin hubungan dan komunikasi yang intens antara keduanya.

Dalam usahanya menyembuhkan luka dia pergi ke kota lain dan bertemu dengan Arnie (David Strathairn) yang terluka karena cintanya begitu mendalam kepada Sue Lynne (Rachel Weisz). Elizabethj tetap menjalin komunikasi dengan Jeremy lewat surat yang berisikan pengalaman dan perasaannya. Sampai kematian Arnie, Elizabeth sadar bahwa dirinya bukan satu – satunya yang menderita akibat cinta. Selanjutnya dia menuju Las Vegas dan bertemu dengan Leslie (Natalie Portman) yang gemar bermain judi dan banyak menggunakan kata “mungkin” dalam perkataannya. Di balik segala kecuekannya, ternyata Leslie ini adalah pribadi yang manipulatif, yang sering menipu dirinya sendiri sehingga jarang merasakan kebahagiaan.

Dari berbagai peristiwa peristiwa dan pertemuannya dengan beberapa karakter tadi, membentuk pribadi Elizabeth yang lebih bahagia dan lebih memahami siapa dirinya sendiri. Dan akhirnya dia disadarkan bahwa ada seseorang yang menunggunya di suatu tempat. Seseorang yang mampu membuatnya merasa nyaman.

Film arahan Wong Kar Wai ini adalah sebuah film yang lezat dan manis layaknya blueberry pie. Mulai dari kisah yang mengalir mulus, tanpa kesinisan sampai penampilan ketiga bintang ceweknya yang memang “manis”. Ditambah lagi dengan alunan musik jazz dengan vocal Norah Jones yang mengalun lembut.

Untuk sebuah penampilan debut, aksi Norah Jones bisa dibilang lumayan. Kemampuan aktingnya masih sangat bisa ditingkatkan. Rachel Weisz dan Natalie Portman bermain efektif dengan porsi yang singkat. David Strathairn membuktikan dirinya seorang actor dengan mampu memerankan karakter yang beragam termasuk karakter yang marah sekaligus rapuh. Sedangkan Jude Law dengan karakter manisnya lumayan memberikan kesegaran tersendiri.

Seperti cuplikan lagu Norah Jones diatas, kisah film ini pernah ditampilkan sebelumnya. Namun Wong Kar Wai mampu menyajikan tontonan yang berbeda dengan membungkus kisah yang ada dengan warna – warna malam. Wong Kar Wai berhasil menangkap keindahan “warna” malam, terutama malam sebuah kota.Warna – warna lampu neon seperti hijau, biru, kuning , merah dan ungu menghadirkan sensasi visual yang cantik.

Pada intinya film ini berkisah tentang pencarian. Dengan berusaha mencari, akan banyak hal yang terbuka, yang membuat kita menjadi pribadi yang kaya. Dan kalau kita tidak menemukan apa yang kita cari, tidak ada salahnya kita berhenti sejenak. Karena pada saatnya nanti akan ada yang menemukan kita. Tidak perlu meratapi sebuah akhir, karena bisa jadi hal itu merupakan awal baru yang lebih menjanjikan. Yang terpenting adalah: buka mata, buka telinga dan buka hati.3/5

English


MY BLUEBERRY NIGHTS

Elizabeth (Norah Jones) is personality because abandoned by her boyfriend. One night she enters a cafe that belong to Jeremy (Jude Law). At the earlier time she was looking for her ex boyfriend to give the key of the apartment back. As the time goes by, she begin to confuse about herself and she fill it over to Jeremy as she ate the Berry Pie every night. Then intent connection between both of them is setup.
On her attempt to heal her wound, she left to the other town and meet with Arnie (David Strathairn) that wounded because of his deep love to Sue Lynne (Rachel Weisz). Elizabeth keep in touch with Jeremy trough the letter, she tells a lot about her experience and feeling. Until the day that Arnie died, Elizabeth is realize that she is not the only one who suffered because of love. Then she goes to Las Vegas and meet with Leslie (Natalie Portman) who love gambling very much. Beneath the surface, Leaslie is a manipulative personality that always deceit herself and make her lack of happiness.
From many things that she had been through, it makes Elizabeth's personality much happier and realize of her existence. Finally she realize that someone is waiting for her someplace else. Someone who can make her comfort.
Film from the director Wong Kar Wai is a film that so tasty and sweet like blueberry pie. From the story that flow smoothly without the cynical appearance from the three main actrees. Plus with the Jazzy score from Norah Jones.
For a debut, Norah Jones performance is not bad at all. Her acting skill still can be developed. Rachel Weisz and Natalie Portman are playing effectively with short portion. David Strathairn is able to proof him self as multi talented actor that able to play such character. And Jude Law with his sweet character is able to give its own refreshing on the screen.
Like a clip from Norah Jones's song, this kind of story have been perform before, however Wong Kar Wai is able to perform the show differently and wrap it with the colorful night. Wong Kar Wai is succeed catch the beauty of the color of the night. The neon light, green, blue, yellow, red, purple are perform beautiful visual sensation.
The point from the film is about searching. Much searching so anything will be opened and make us become rich as personality. And if we find something we are looking for, there's nothing wrong if we are stop for a while. Because, at the exact time there's someone who will find us. No need to regret an end, because it could be a new promising start. So, open your eyes, your ears and your heart. 3/5

VITUS


Anak adalah harta yang tak ternilai. Orang tua yang normal akan selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya. Setiap anak adalah special. Lalu apa yang akan kita lakukan apabila anak kita mempunyai kemampuan yang luar biasa dibandingkan dengan anak pada umumnya? Apa yang terbaik bagi anak tersebut?

Vitus ( diperankan Fabrizio Borsani saat 6 tahun dan Teo Gheorghiu di usia 12 tahun ) adalah anak yang diberkahi bakat melimpah. Vitus dengan IQ diatas rata –rata ( sampai tidak bisa dihitung ), begitu cepat menyerap setiap hal yang dipelajarinya. Sangat suka membaca buku – buku tebal, termasuk kamus dan mahir memainkan piano. Kedua orang tuanya Leo (Urs Jucker ) dan Helen (Julika Jenkins )berusaha memberikan apa yang menurut mereka terbaik bagi Vitus, sehingga tidak memperhatikan apa sebenarnya yang diinginkan oleh Vitus. Hanya kakek Leo (Bruno Ganz ) yang memperlakukan Vitus seperti umumnya anak kecil.

Seperti umumnya anak dengan kemampuan luar biasa, Vitus tumbuh menjadi pribadi yang kesepian. Belum lagi tekanan yang semakin kuat dari kedua orangtuanya yang ingin Vitus menjadi seorang pianis. Sebuah peristiwa yang terjadi kemudian membuat keadaan berbeda 180 derajat. Kejadian yang membuat orang tua Vitus senewen, tetapi membuat Vitus lebih bisa menikmati hidup. Sampai sebuah keadaan yang mengharuskan Vitus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Dan terkuaklah apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini sangat direkomendasikan bagi para orang tua. Tidak hanya bagi mereka yang mepunyai anak berkemampuan super, tetapi semua orang tua. Film ini mengajak para orang tua untuk berpikir kembali mengenai usaha mereka dalam memberikan yang terbaik bagi anak mereka. Usaha mereka tidak salah, tetapi apakah mereka sudah medengarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak mereka.

Anak adalah permata yang berharga, namun apakah kita memperlakukan mereka sebagai sebuah harta yang diperindah sekedar untuk dipamerkan atau untuk dilestarikan? Anak kecil tetaplah anak kecil yang dalam melakukan sesuatu biasanya hanya berdasarkan kesukaan. Akan ada masanya mereka dalam memutuskan apa yang mereka lakukan. Tugas orang tua hanyalah membimbing tanpa terlalu memaksakan, dan juga melingkupinya dengan kasih sayang, apa dan bagaimana anak kita.

Selain hal tersebut diatas, banyak hal yang bisa kita dapat lewat film ini, seperti ternyata begitu banyak hal yang belum kita ketahui tentang kelelawar. Bagi sebagian orang, usaha Vitus menyelamatkan keluarganya mungkin terasa berlebihan, namun banyak hal inspiratif dalam film ini. 3/5

English


VITUS


Children is a valuable treasure. A normal parents will always give the best to their children. Every child is special. Then what will parents do if they have uncommon children, a child that has a tremendous gift to the other children?What is the best to him?
Vitus (Fabrizio Borsani, at 6's, and Teo Gheorghiu, at 12's) is the children that gifted a lot of talent. Vitus with above average IQ, able to learn quickly on everything he learn. Love to read the thick books, such as a dictionary, and he is quite well with the piano. His parents Leo (Urs Jucker) and Helen (Julika Jenkins) is trying to give the best what they are think the best fo Vitus. So they miss the thing that Vitus really wanted. Only Leo's grandpa (Bruno Ganz) who treat Vitus like the other children.
As the other gifted children, Vitus grew up lonely. And the pressure from the parents who want him to become a pianist. A moment that make the circumstances turn 180 degres. Something that make Vitus's parents nervous, but made Vitus enjoy his live. And there a time that Vitus had to made something to save his family from disaster. So everything get reveal.
It's so recommended to the parents. Not only to whom that have super ability children, but all parents. This film is take the parents to reconsidered what have been they give to their children, even it's for good sake. They didn't do wrong. It's just that are the parents are really listening what their children really wanted.
Children is like jewel, are we threat them just like the other valuable things that only to show off? Children is only a children that doing something based on what they like. There will be time for them to decided by it's own. Parent's duty is just to guide them without over pressure, and surrounding them with love and caring passion.
Beside that, there so many things we can afford from this film, just like how much we know about bats. And for half people, Vitus aim to save his family seem too much, anyway this is an inspirational film. 3/5

THE GRAND CHEF


Film ini dibuka dengan adegan yang cukup “sadis”, meskipun korbannya bukan manusia. selanjutnya kita juga langsung disuguhi perseteruan dua koki, Sung-chan (Kim Kang-woo) dan Bong-joo (Lim Won-hie) yang mencoba menjadi yang terbaik. Sebuah peristiwa fatal membuat Sung-chan mundur dari dunia permasakan.

Sampai datang sebuah sayembara yang bertujuan mencari ahli waris koki kerajaan yang telah meninggal. Pada awalnya Sung-chan enggan mengikuti sayembara tersebut, sampai pada akhirnya dia bertemu kembali dengan Bong-joo yang telah sukses menjadi koki terkenal. Sudah bisa ditebak, keduanya kembali bertarung untuk membuktikan siapa yang terbaik di antara mereka.

Kalau Sung-chan mengerahkan segala kemampuan terbaiknya, Bong-joo yang sebenarnya tidak kalah hebat menggunakan cara – cara kotor. Pada perkembangannya, selama kompetisi berlangsung, kita diajak untuk melihat kembali sejarah koki kerajaan. Sampai akhir kompetisi, terkuak apa yang sebenarnya terjadi.

Membaca sedikit ulasan cerita diatas, muncul pemikiran kalau cerita yang dihadirkan tidaklah istimewa. Apalagi dengan penggambaran tokoh – tokohnya yang sangat hitam putih. Yang membuat film ini menarik adalah tampilan makanan yang begitu mengundang selera. Adegan makanan ini disajikan seperti halnya kita membuka sebuah komik. Tak mengherankan karena film ini diangkat dari komik sukses dengan judul yang sama. Dan seperti halnya film tentang masak – memasak, cerita disuguhi dengan filosofi yang melingkupi sebuah makanan. Termasuk apa yang terjadi di balik terciptanya arang terbaik yang pernah ada!

Yang membedakan film ini dengan film tentang dunia memasak lainnya adalah dimasukkannya isu nasionalisme dalam film ini. Langkah kreatif yang mungkin sangat bisa diterima oleh penonton domestic (baca: Korea Selatan), tetapi tidak oleh penonton luar, terutama dari Jepang. Sebenarnya kisah film bisa berakhir ketika kompetisi selesai dilangsungkan, tapi karena ingin memasukkan isu nasionalisme tadi, film berjalan lebih lama daripada seharusnya. Belum lagi hadirnya beberapa tokoh yang tidak begitu penting. Secara keseluruhan, film ini lumayan sedap untuk disaksikan, 2,75/5

English


THE GRAND CHEF


It open with the sadistic scene, even the victims is not human. And then we will shown the fight of two chef, Sung-chan (Kim Kang-woo) and Bong-Joo (Liam Won-hie), the fight to find who is the best. A fatal mistake made Sung -Chang retreat from the cooking world.
Then come a prize contest that looking for previous the royal chef heir. At the earlier Sung-chan is not willing to follow the competition, until he finally met again with Bong-joo that succeed become a famous chef. It's easy to predict that them both back on fighting to proof who is the best.
If Sung-chan give all he got on the fight, Bong-joo that isn't bad use the dirty way. In the end, during the competition we bring to the royal chef's history. Until it reveal what really happen at the end of competition.
It slight that the story isn't so special. Especially with the white and black description from the characters. What make this film interesting is the food show, that is so tasty. The food scene is opened like we read a comic book. Not so surprise because the film is come from the succeed comic book for the same tittle. And like the other film about cooking, food philosophy is include. And what happen behind the creation of the best charcoal that ever exist.
What make different is that there is a nationalism issue in this film. A creative leap that can be so acceptable for domestic audience (South Korean citizen), but not for outer audience, especially Japanese. Actually it can end when the competition is over. But just because want to slipped the nationalism issue the film goes a little longer. Not mentioned some characters that don't really important. All round, it's not bad to enjoyed. 2.75/5

SAAWARIYA


Entah mengapa banyak orang yang anti dengan film India. Banyak yang bilang film India norak, baik secara cerita ataupun tampilannya yang menabrakkan banyak warna. Padahal itulah menariknya, karena India memang kaya dengan ragam budaya yang tercermin dari banyaknya bahasa yang digunakan disana.

Sebenarnya kalau kita benar –benar bisa memilih, ada banyak sekali film bagus yang dihasilkan oleh sutradara berbakat macam Sanjay Leela Bhansali. Film – film besutan sutradara ini termasuk yang sangat sayang untuk dilewatkan. Hum Dil De Chuke Sanam, Devdas ataupun Black adalah film – film Sanjay yang cukup mendapatkan pengakuan dari kritikus film internasional.

Salah satu ciri yang amat menonjol dari film karya Sanjay Leela Bhansali adalah dia sangat terampil memadukan banyak warna hingga menghadirkan gambar – gambar yang sedap dipandang mata, dan yang terpenting sekali tidak terlihat norak. Selain itu, film garapannya hamper semua berkisah tentang kasih tak sampai.

Saawariya tidak berbeda jauh dengan film – film Sanjay sebelumnya, didalamnya tampak kelihaian Sanjay dalam mengolah warna. Hal ini didukung dengan setting yang bak negeri dongeng. Pendekatan ini tepat untuk menegaskan bahwa kisah yang ditampilkan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

Raj (Ranbir Kapoor) adalah seorang pemuda yang senang menghibur orang, mengingat dia seorang pemusik. Pada suatu malam dia bertemu dengan Sakina (Sonam Kapoor) gadis cantik yang pemurung, yang setiap malam berdiri di jembatan menunggu sang kekasih hati yang telah pergi dan berjanji untuk kembali, Imaan (Salman Khan).

Seiring berjalannya waktu, keduanya semakin dekat. Timbul benih – benih cinta di hati Raj. Sayang sekali hati Sakina telah tertancap pada Imaan. Pada bagian ini kita disuguhi intensnya hubungan kedua insan ini. Di satu sisi, Raj berusaha membuktikan rasa cintanya, di pihak lain Sakina asyik dengan perasaannya terhadap Imaan. Belum lagi ada Gulab, (Rani Mukherjee) seorang pelacur yang menaruh hati pada Raj. Sampai dengan detik terakhir waktu yang dijanjikan Imaan, Sakina baru membuka hatinya pada Raj. Tapi kemudian terjadi suatu peristiwa yang mengharuskan Sakina mengambil langkah tegas.

Kisah yang ditawarkan sebenarnya biasa dan banyak terjadi pada orang – orang disekitar kita. Betapa kita seringkali mempunyai mimpi, hingga melupakan bahwa mimpi tersebut sebenarnya bisa terwujud dengan orang yang selama ini dekat dengan kita. Kisah yang biasa ini untungnya dibalut dengan penggarapan yang indah. Oleh Sanjay, kita seakan – akan diajak ke negeri dongeng. Menarik melihat penggambaran menonton film diatas air.

Meskipun bukan sesuatu yang baru karena Moulin Rouge pernah menampilkannya, namun tetap saja apa yang ditampilkan di layar mampu menggugah rasa. Film ini makin segar berkat penampilan kedua bintang utamanya, terutama Ranbir Kapoor. Penampilannya yang muda dan segar serta dengan body yang tidak over seperti umumnya bintang pria Hollywood lumayan mengobati kebosanan dengan bintang yang itu – itu saja. Penampilan Rani Mukherjee yang selalu tampil memikat, walau dengan porsi yang terbatas sekalipun. 2,75/5

English

SAAWARIYA

I do not know why many people hate India's film. A lot of them said that India's film has no good story or the shot has too many color contrast. But that was make it interesting, because India has so various cultures that shown by many different languages they used.
If we can be selective there are so many good films that produce by talented director such as Sanjay Leela Bansali. Films from this director is unfortunate to miss. Hum Dil De Chuke Sanam, Devdas or Black are the example of his masterpiece that get the legitimation from the world film critics.
One of the typical characteristic of Sanjay Leela Bhansali's films is he so talented to mix so many color that not hurting audience's eyes, and it's look cool. Beside that, almost of his film is telling about broken hearted love.
Saawariya isn't so different with his previous film, so obvious that he still get the skill to mix the color. And it is supported with fairy tale setting. This closure is fit to explicit that the story can be happen anytime anywhere.
Raj (Ranbir Kapoor) is a young man that always glad to make people happy, considering that he is a musician. On one night he meet with Sakina (Sonam Kapoor) a pretty young girl that depressed, which every night she always standing on the bridge waiting for her lover, Imaan (Salman Khan) who made a promise that he will be back again someday.
As the time goes by, both of them is getting closer. Love seed is sprout out in Raj's heart. Too bad that Sakina's heart still embed on Imaan. On this part we are shown the intent of the relationship from both. Raj is trying to proof his love to Sakina, otherwise Sakina is drawn herself in feeling to Imaan. It's getting complicated with Gulab (Rani Mukerjee), a hooker that in love with Raj. Until the last second of Imaan's promise, Sakina is opening her heart to Raj. But then there's something happen that Sakina has to make the decision.
The story that commonly happen to people among us. How we spend a lot of our dreams then forgetting the people who close with us that can make our dream come true. Ordinary story that luckily wrapped beautifully. By Sanjay, we take to see the fairy tale. It's amazing to see the film above the water.
Even though there's nothing new and because Moulin Rouge has been filmed, but still what is come out from the screen is still able to sting, It's getting fresher because of the performance from both stars, especially Ranbir Kapoor. And the performance of Ranee Mukerjee that even short but she's impressive. 2.75/5

MICHAEL CLAYTON



Michael Clayton ( George Clooney ) adalah seorang pengacara yang cerdas. Namun entah mengapa oleh firma tempat dia bekerja, dia diposisikan sebagai seorang “fixer” yang banyak bergerak di belakang layar. Michael diperlihatkan sedang mengalami kehidupan yang sulit, mulai dari kehidupan rumah tangga yang gagal sampai keadaan financial yang bisa dibilang bangkrut.

Dalam kondisi serba terjepit tersebut, Michael diutus kantornya untuk “membereskan” kasus yang menimpa perusahaan U/North. Sebuah kasus besar yang yang mengharuskan Michael berhubungan dengan Arthur Edens ( Tom Wilkinson ), seorang tokoh kunci dari kasus tersebut. Di sisi lain ada Karen (Tilda Swinton) seorang wanita ambisius yang mampu melakukan apa saja demi tujuan yang diinginkan. Menyelamatkan U/North dari kehancuran.

Pada awalnya Michael berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin, disamping membereskan persoalan pribadi yang menekan. Sampai sebuah peristiwa menyadarkan dirinya akan adanya sesuatu yang tidak benar. Mulai disini nurani Michael mulai terusik. Dia dihadapkan pilihan yang sulit. Apalagi dengan adanya berbagai macam godaan yang berkaitan dengan solusi masalah yang menghimpitnya.

Sutradara Tony Gilroy mampu menghadirkan sebuah tontonan yang memikat dengan jalinan cerita yang rapat dan lumayan intens. Kualitas film ini sudah terlihat dari pemilihan opening yang cerdas. Apa yang ditampilkan di awal film mampu memancing rasa penasaran yang tinggi. Sutradara juga tahu benar bagaimana mengatur irama hingga manghasilkan film yang enak dinikmati. Ketegangannya begitu terjaga, meskipun mungkin bagi sebagian penonton akan merasa bosan dengan film ini. Pengalaman menulis dua naskah trilogy Bourne rupanya menjadi bekal yang berharga bagi Tony Gilroy.

Selain itu, film ini bak pameran acting actor dan aktris yang terlibat didalamnya. George Clooney mampu bermain cukup efektif sebagai tokoh yang terhimpit, meskipun penampilan terlihat terlalu bersih dan mempesona. Kalau saja Michael digambarkan lebih lusuh, mungkin akan terasa lebih kuat kesan terdesak yang dialaminya. Tom Wilkinson juga mampu mencuri perhatian dengan karakternya yang unik, serta dialog – dialog panjangnya. Kehadiran actor cilik yang yeng berperan sebagai anak Michael Clayton mampu menguatkan situasi terhimpit yang dialami Michael Clayton.

Dari semua penampilan para bintangnya, jawaranya jatuh pada Tilda Swinton. Tilda mampu merefleksikan dengan sempurna karakter seorang wanita yang cerdas, perfeksionis, ambisius, dingin sekaligus menyimpan kekejaman yang tidak pandang bulu. Perhatikan adegan kegelisahan dirinya di toilet atau ketika dirinya mempersiapkan presentasi. Puncaknya ketika kejatuhan menghampiri dirinya. Tilda mampu menjalankan perannya dengan sangat mulus. Sebuah pemilihan karakter yang tepat untuk “melawan” karakter Michael Clayton.

Cerita yang ditawarkan dalam film Michael Clayton ini bisa terjadi pada siapa saja. Menyaksikan film ini mampu menggugah pertanyaan tentang siapa sebenarnya diri kita. Seperti yang ditanyakan oleh Tom Wilkinson kepada George Clooney dipertengahan film “Who are you?” Ketika mengalami suatu peristiwa, kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Pilihan yang kita ambil tersebut mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. 3,5/5

English


MICHAEL CLAYTON


Michael Clayton (George Clooney) is a smart lawyer. However, on his firm he worked, he always putted as a fixer that work behind the screen. Michael is dealing with rough live, from the broken married, until his financial bankrupt.
In such stuck position, Michael is sending to fixed the case that hit a company call U/ North. A big case that make Michael has to deal with Arthur Edens (Tom Wilkinson), a key of the case. And there is Karen (Tilda Swinton) an ambitious woman that wanted to do anything to get her aim. Save U/ North from disaster.
At first time Michael tries to do his job as good as possible, beside he has to fix his own personal live. Until something is realizing him that there is something wrong. From here his conscious begin to tease. He faced difficult choice. Yet there are so many temptation that to do with the solution of his personal problems.
The director, Tony Gilroy is able to perform the attractive show with close and intents plot. The quality of the film is shown from the smart opening. Whatever is shown at the opening able to touch our anxious. The director is also clever to play the rhythm so the film is enjoyable. The tension is so preserve, even for some people the film would feel so boring. Written two of trilogy Bourne's script is become valuable experience for Tony Gilroy.
Beside that, the film is like an exhibition for the actors and the actress. George Clooney is able to play quite effectively to become a man who stuck in his own problem, even though he looks clean and charm. If Michael is dressed more worn out, perhaps the pressure is come out on surface. Tom Wilkinson is able to steal the attention with his unique character with his long dialogues. The present of little child as Michael is able to strengthen the Michael’s situation that already squeeze him.
From all the stars performance, the best performance goes to Tilda Sinton. Tilda is able to reflected with perfectly a smart, ambitious, perfectionist, cool and cruel woman. Watch the scene that she is nervous when prepare the presentation. The top is when she is falling. Tilda is able to play her role smoothly. A good choice of character to face Michael Clayton’s character.
The story that offered in Michael Clayton could happen to anyone. To see this film is able to tease the question who really are we. Like what have been asked Tom Wilkinson to George Clooney in the middle of the film, "who are you?" When through something, we will face the choice that we have gonna make. The choice what we take is reflecting who we are. 3.5/5

Hwaryeohan hyuga ( MAY 18 )


Entah ada apa dengan bulan Mei. Masih teringat dalam benak kita peristiwa kerusuhan Mei di tahun 1998 yang menelan begitu banyak korban dari etnis Tionghoa. Menyaksikan film May 18 ini mau tidak mau mengingatkan kembali peristiwa tersebut.

Sama dengan yang terjadi di Indonesia, bulan Mei menjadi bulan yang berdarah bagi negara Korea Selatan, khususnya bagi warga di kota Gwangju. Banyak korban melayang pada peristiwa bentrokan antara militer dengan penduduk sipil yang dituduh membangkang (pengkhianat). Peristiwanya sendiri berjalan selama 10 hari yang mencekam.

Mengambil sudut pandang dari beberapa tokoh, film ini mengajak kita untuk menyaksikan betapa hidup mereka berubah sejak 18 Mei, yakni ketika militer bertindak kelewat batas terhadap para pelajar yang melakukan demonstrasi. Apa yang disajikan di layar begitu brutal dan menghentak rasa kemanusiaan. Pada akhirnya pertanyaan klasik muncul dalam benak kita “Apakah kekerasan akan sanggup mengatasi suatu masalah?”

Pada awalnya kehidupan warga kota Gwangju digambarkan tentram dan damai. Kita diajak untuk melihat kasih sayang seorang kakak, Min-wu (Kim Sang-kyung) terhadap adiknya Jin-wu (Lee Jun-ki). Juga ada gadis cantik yang ditaksir Min-wu, Sin-ae (Lee Yo-won). Ketentraman hidup mereka terganggu ketika militer memasuki kota tersebut untuk menghalau para pelajar yang memprotes kudeta politik yang dilakukan oleh pimpinan militer. Para pelajar tersebut malah dituduh sebagai simpatisan komunis. sebuah tuduhan yang mengada – ada.

Selanjutnya kita disuguhi adegan – adegan yang brutal sekaligus mencekam. Kekejaman militer digambarkan lumayan frontal oleh sutradara Ji-hun Kim. Miris rasanya melihat apa yang ditampilkan di layar. Menyaksikan kekerasan dan kekejaman yang dihadirkan, rasanya tidak dipercaya peristiwa tersebut “hanya” menelan korban sekitar 200-an jiwa, disamping lebih dari 900-an orang yang dinyatakan hilang.

Seperti umumnya film Korea Selatan lainnya, film ini pada beberapa bagian terasa membosankan. Belum lagi kehadiran dua karakter komikal yang lumayan menganggu irama film dengan aksi – aksi mereka yang tidak begitu penting. Naskah film ini bisa dibilang kurang maksimal. Kalau saja sutradara menitikberatkan pada beberapa karakter penting, tentu film ini akan terasa lebih dramatis dan lebih enak dinikmati. Sayang sekali, padahal sutradara terlihat sangat serius mempersiapkan setting untuk membawa penonton merasa terlibat dalam peristiwa yang terjadi. Mulai dari property senjata, sampai dengan banyaknya figuran yang terlibat.

Diluar fakta yang sebenarnya terjadi, film dengan genre seperti ini sangat layak untuk dibuat, terutama di Indonesia. Dibutuhkan keberanian dan riset yang mendalam untuk menghasilkan tontonan yang otentik sekaligus bisa dinikmati dengan enak. Selain itu, untuk mengingatkan kita agar peristiwa serupa tidak perlu terjadi kedepannya.

Film yang menghabiskan budget yang sangat besar untuk ukuran Korea Selatan ini menjadi salah satu film terlaris di tahun 2007. Bahkan mampu mengalahkan pemasukan “Live Free or Die Hard” dan “Ratatouille”. Bukti bahwa sebenarnya film – film bertema seperti ini juga mempunyai peminat, paling tidak untuk pasar domestic. 3/5


English


Hwaryeohan Hyga (May 18)


I do not know what happen in Mei. I’m still remember what had happened on 18th May that recall us on what had happened that day.
It’s the same on what happened in Indonesia, Mei is a bloody month to South Korean either, especially the people in Gwang Ju city. A lot of people died on the clash between the military with the civilization that accused as a threator. It’s happened for 10 days.
Taking from the different point of view of the characters, this film is taking us to witness how after May 18 their live have change. That the military side is acting over to the student that do the strike. And the end is that the classic questions that come up from our conscious, " Is the violence take care the problem?"
At previous time the live of the citizen of Gwangju is describing as a wealth and comfort city. We are taking to see the passion of carrying sister, Min Wu (Kim Sang Kyung) to her little brother (Lee Jun-Ki). And there is a beautiful girl that Min-wu has crush on, Sin-ae (Lee Yon Won). Their comfort is interrupted when the military side enter to the city to expel the student that do a protest to the political coup d’etat that done by the military side leader. The student is accused as the communist sympathizer, as a nonsense accused.
After that we are paced before the brutal scenes and grasp. The military side brutality is drawn frontally by the director, Ji-hun Kim. It’s pitty to see what was come up from the screen. Witness the violence and the cruel of the military side. And it’s unbelievable that what happened just taking about 200 people, and more than 900 people are missing.
Just like the other South Korean film, this film on several part seem so boring. Not the present of two comical characters that so unimportant. And the script is not optimally written. Just if the director take the point to some important character, of course the film is more enjoyable. It’s to shame, because the director is taking the setting of the film seriously, so the audience will able to interact with what really happened that day. From the weapon property, until there are so many figurant that involved.
Out side the fact what really happened, the film with this kind of genre is so proper to make, especially in Indonesia. Need courage and deep research to produce the authentic film and enjoyable to see as well. Besides that, to memorize that the tragedy should not be happen again in the future.
Film that spend so many budget for South Korean made this film as the top of box office in 2007. Even can pass the income of "Live Free or Die Hard" and " Ratatouille". It’s proof that this kind of film have the devotee, for the domestic market. 3/5

WE OWN THE NIGHT



Film ini bisa dibilang sebuah proyek reuni dari sutradara James Gray dengan actor Joaquin Phoenix dan Mark Wahlberg. Sebelumnya, ketiganya dipertemukan dalam The Yards di tahun 2000 silam. Bukan sebuah film yang mampu mencuri perhatian. Proyek kali ini pada akhirnya tampak sebagai sebuah usaha untuk memperbaiki hasil sebelumnya. Berhasilkah?

Mengambil setting di tahun 1980-an, diceritakan Bobby (Joaquin Phoenix) dan Joseph (Mark Wahlberg) adalah sepasang saudara. Keduanya merupakan anak dari polisi legendaries, Burt (Robert Duvall). Kalau Joseph mengikuti dengan sukses jejak ayahnya, Bobby memilih untuk mengelola klub milik orang Rusia. Digambarkan kedua saudara kandung tersebut mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang.

Sampai pada akhirnya sebuah peristiwa mengharuskan mereka bertiga untuk bersatu. Memasuki babak ini, konflik yang dihadapi Bobby terasa lebih berat karena dia harus berhadapan dengan orang – orang Rusia yang selama ini telah menganggap dirinya sebagai keluarga. Dilema antara kepentingan keluarga dan kepentingan orang – orang yang mampu menerima dirinya, mampu ditampilkan dengan baik oleh Joaquin Phoenix.

Dan memang, penampilan Joaquin Phoenix dalam film ini memang yang paling menonjol dengan karakter yang lebih kompleks dibandingkan peran yang dibawakan oleh Mark Wahlberg. Robert Duvall dengan porsi yang sedikit juga mampu menampilkan kematangannya dalam acting. Sedangkan Eva Mendez, dengan peran yang tidak begitu penting, lumayan menghangatkan layar dengan aksi yang dia tunjukkan di awal film, kalau tidak mau dibilang sedikit mengejutkan.

Naskah yang disusun James Gray tidaklah istimewa. Terlalu banyak lubang yang lumayan menganggu seperti identitas asli dari Bobby yang tidak diketahui oleh para mafia Rusia, mengingat pada umumnya mafia mempunyai jaringan informasi yang kuat. Akhir cerita juga mudah ditebak sejak awal film berjalan. Hasil akhir film ini seperti sebuah proyek yang lahir karena hubungan pertemanan dari kedua actor utama yang juga merangkap sebagai produser. Pun demikian, film ini sayang untuk dilewatkan karena cukup tertolong oleh acting bagus yang dipertontonkan Joaquin Phoenix. Dan ternyata hubungan darah lebih kuat dibandingkan hubungan yang lain. 2,75/5

English


WE OWN THE NIGHT


It can said that this film is a reunion project from the director James Gray with the actors Joaquin Phoenix and Mark Wahlberg. They met again in the same project after The Yard in year of 2000. A Film that did not steal the attention. This project seems like to be a make over of the result before. Did it work?
Taking the setting in 1980’s. Bobby (Joaquin Phoenix) and Joseph (Mark Wahlberg) is couple of brother. They are the son of legendary cop, Burt (Robert Duvall). If Joseph follow the success of his father as a cop so Bobby choose to take over the club that own by Russian. In here both of them have much different characteristic.
Until there is a moment that have to make three of them united. On this stage the conflict that Bobby have to deal is much more complicated, because the Russian whom he had to deal is already take him as a family. The dilemma between the family interest and the interest of people who can take him as personal. And Joaquin Phoenix is deal with it very well.
And it is obvious that Joaquin Phoenix’s performance in this film is quite stick out with much complicated character than Mark Wahlberg. Robert Duvall with small role is able to perform his acting capability. And Eva Mendez, with not quite important role is pretty warmth the screen with her action in the earlier of film.
The script that written by James Gray isn’t so special. Too many hole that interrupted like Bobby’s real identity that not known by the Russian mafia, considering that the mafia is particularly have strong connection of information. The ending is so easy to predicted. The result is just because it is a project that born because of the friendship of the actor that double as producer. Well performance from Joaquin Phoenix is too regretted to miss. And blood relation is more powerful than the other relation. 2.75/5

INTO THE WILD


Kalau bosan disuguhi film petualangan penuh fantasi semacam trilogy Pirates of the Caribbean ataupun National Treasure, mungkin film Into the Wild bisa dijadikan pilihan. Film ini bisa disebut sebagai film yang murni bermuatan petualangan. Kita diajak untuk mengikuti perjalanan dari Christopher McCandless (Emile Hirsch) dalam usahanya mencari makna kebahagiaan, dengan tujuan utamanya menuju Alaska yang dingin.

Berbeda dengan umumnya pemuda, Christopher memilih untuk menghapus semua yang dia miliki setelah kelulusannya. Berbekal bekal yang minim dan pengetahuan yang dia miliki, dia mencoba hidup dengan tanpa status ataupun sebuah peranan. Hanya satu tujuannya, menuju Alaska. Lewat beberapa adegan kita diberitahu motif yang mendasari pilihannya tersebut.

Seperti umunya film beraliran road movie, kita disuguhi adegan dimana tokoh utama bertemu dengan berbagai karakter yang “memperkaya” kepribadian dari si tokoh utama. Di film Into the Wild ini, sepanjang perjalanan Christopher bertemu dengan pasangan hippies, seorang petani dan seorang lelaki tua pemahat. Untuk mempermanis layar, kita disuguhi pertemuan Christopher dengan gadis cantik, seorang penyanyi gipsy.

Karena film ini berkisah tentang perjalanan Christopher, mau tidak mau sepanjang film kita selalu disuguhi penampilan dominant dari Emile Hirsch yang sebelumnya bermain dalam film ringan, The Girl Next Door. Untungnya Emile Hirsch berhasil berperan dengan amat sangat total, sehingga cerita yang sebenarnya cenderung membosankan karena durasinya yang panjang ini (145 menit!) bisa lebih enak dinikmati. Para peran pendukung dengan jatah yang terbatas juga mencoba menampilkan yang terbaik. Vince Vaughn berhasil keluar dari peran – peran slengekan meskipun tetap digambarkan eksentrik, Catherine Keener tetap bermain mantap dengan peran – peran suram dan permainan yang kuat dari Hal Holbrook mampu menjadi katalis tersendiri bagi karakter yang diperankan Emile Hirsch.

Secara cerita, film ini tidak begitu istimewa. Apalagi Sean Penn selaku sutradara seakan – akan mencoba menampilkan secara utuh apa yang tertulis di novelnya. Langkah yang patut dipuji meski efeknya film menjadi membosankan dan menuntut konsentrasi yang lebih untuk memahami pemikiran yang coba disampaikan. Yang menari adalah gambaran dari tokoh Christopher. Tidak semua orang akan bersimpati terhadap dengan pilihan yang dia ambil. Mungkin sebagian orang akan menganggap dia sebagai pribadi yang egois dan pengecut, karena apa yang dia lakukan merupakan wujud pelarian dari persoalan yang menimpa dia.

Justru dari apa yang dialami oleh Christopher dalam kisah ini, banyak hal yang bisa kita pelajari. Kita diajak untuk berfikir ulang tentang pilihan yang kita ambil. Mungkin langkah yang diambil Christopher terlihat keren, tapi apakah hal tersebut sebuah hal yang benar untuk dilakukan? Cermati adegan antara Emile Hirsch dan Hal Holbrook dalam film ini, yang bisa jadi merupakan tema besar dari film ini. Menarik sekali penggambaran ketika keduanya mencoba menaiki sebuah bukit. Sebuah adegan yang sangat kuat.

Lewat film ini kita juga diajak untuk lebih bersahabat dengan alam. Kalau tidak, siap – siap apa yang akan ditimpakan terhadap diri kita. Seperti apa yang dialami oleh Christopher di akhir film ini. Apa yang dia alami seakan – akan sebuah karma dari perbuatan yang dia lakukan sebelumnya, yakni……………………3/5

English


IN TO THE WILD


If you bored with adventure film that full of fantasy like Pirates of Carribean Trilogy or National Treasure, perhaps Into the Wild could be a good choice. This film could say as film that pure of adventure. We will take to the journey of Christopher McCandless (Emile Hirsch) on his aim to find the meaning of true happiness, with his aim to go to the cold Alaska.
Different with common teenager. Christoper is choose forget all he has after graduation. With his minim supplies and knowledge he had, he tries to live without status or even a role. Just one aim on his mind, go to Alaska. Trough a few scenes we are tell the motive that make his decision to do such thing.
Like common road movie alternative, we are show the scenes that the main character is met with the various character that make his personality richer. A long the journey, Christoper meet with the hippies couple, a farmer and an old sculptor. To sweeten the screen, there is the met between Chistoper with beautiful girl, a gipsy singer.
Because the film is telling the journey of Chistoper, a long the film Emile Hirsch’s performance is dominant. His previous film is The Girl Next Door. Luckily that Emile Hirsch is succeed to play very total. So the story that actually bored because of the long duration (145 minutes) can be so enjoyable. The supporting role with limited duration also give the best performance. Vince Vaugh is succeed come out from not serious role even still describe eccentric. Catherine Keenar keep play with the dark role and strong role from Hal Holbrook that able to become catalyst to the character that played by Emile Hirsch.
As a story, this film is not too special. And Sean Penn as director is trying to perform completely what have been written in the novel. The step that deserve the compliment even the film feel so bored and demand extra concentration to understand the thought that tried to present. The interesting is the describe from the Christoper character. Most of people will not sympathize with Chistopher’s choice. Perhaps for some people will consider him as a selfish and coward personality. Because what he has done is a form of his run away from his trouble.
There are a lot of thing that we can learn from Chistopher’s journey. We have to reconsider our choice. Perhaps the step that Chistopher take looks cool, but is it a thing that right to do? Notice on the scene between Emile Hirsch and Hal Holbrook in this film, that could be a huge theme of this film. The describing is so interesting when both of them is trying to climb the hill. A strong scene.
Through this film we are taking to get along with the nature. If we are not, just be prepare for what could be happened to us. Like what have been through by Christoper in the end of the film. What happen to us is like a karma for thing that we have done before, which is…………………..3/5

ELIZABETH : THE GOLDEN AGE


Sepertinya aktris Cate Blanchett terlahir untuk memerankan sosok Elizabeth. Setelah sebelumnya dianggap sukses memerankan tokoh tersebut dengan judul yang sama di tahun 1998, kini dia kembali didapuk untuk memerankan peran yang sama lewat film Elizabeth: The Golden Age. Film yang dianggap sekuel dari film pertamanya ini diarahkan oleh sutradara yang sama pula, Shekar Kapur.

Berbeda dengan film Elizabeth, yang banyak berkisah seputar awal kehidupan Elizabeth sebagai seorang ratu. Di film Elizabeth : The Golden Age ini menitikberatkan di era keemasan Ratu Elizabeth serta konflik yang melingkupinya, mulai dari aksi balas dendam, serangan musuh dari luar sampai ke persoalan pribadi ( urusan asmara ).

Tidak berbeda jauh dengan film The Quenn yang mencoba memberi gambaran bahwa seorang ratu juga manusia, begitupun dalam film ini. Penulis cerita mencoba menggambarkan betapa tidak mudahnya menjadi seorang ratu. Apalagi ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit. Bahwa seorang ratu sekalipun, suatu saat akan membuat suatu kesalahan ataupun lepas kendali. Hal ini makin dipertajam ketika yang mengalaminya adalah seorang perempuan dengan tanggung jawab yang umumnya dijalankan oleh kaum lelaki. Namun demikian, penulis cerita tetap memberikan gambaran bahwa menjadi seorang ratu adalah sebuah tugas suci (anugrah), yang hanya bisa dijalankan oleh orang – orang yang benar – benar terpilih.

Segala macam benturan emosi ini berhasil ditampilkan dengan baik oleh Cate Blanchett. Bagaimana ekspresi seorang ratu yang mencoba mengekang rasa cintanya yang membuatnya frustasi, betapa rapuhnya ketika dia mulai dijauhi oleh orang – orang terdekat yang dia percaya dan sayangi sampai ketika dia dituntut untuk tegas ketika memimpin sebuah perang. Cate Blanchett berhasil menampilkan wajah yang kadang lembut, kadang keras namun sekaligus rapuh. Betapa status dan peran yang melekat didirinya mengharuskan pengorbanan yang besar., yakni kebahagiannya sebagai sebuah pribadi.

Akting yang prima dari Cate Blanchett yang prima memang menjadi sorotan utama dari film ini, tanpa bermaksud meminggirkan bakat dari bintang muda Abbie Cornish, atapun acting matangnya Geoffrey Rush. Clive Owen cukup memberikan kesegaran tersendiri dengan pesona yang dia miliki, meskipun keberadaannya sedikit kurang penting.

Sisi lain yang menarik adalah bagaimana sutradara berhasil mengoptimalkan budget yang konon “hanya” berkisar $20 juta. Kalau melihat hasil akhirnya, apa yang disajikan di layar seakan film ini keluar dari anggaran yang diatas $30 juta. Pada bagian efek visual memang terlihat agak kasar, namun sutradara berhasil menyajikan kemegahan setting dan mewahnya kostum. Kostum dalam film ini terlihat digarap amat sangat serius untuk memperkuat karakter dari sang Ratu. Tidak heran di ajang Academy Award ke 80, film ini berhasil menggondol pulang Oscar untuk kategori Best Costume.2,75/5

English


ELIZABETH: THE GOLDEN AGE


It looks like that Cate Blanchett born to play Elizabeth’s role. Before she consider succeed to play the role with the same title in 1998. The film that consider as the sequel from the first film that direct with the same director, Shekar Kapur.
Quite different from film Elizabeth, that tells a lot about earlier live of Elizabeth as a queen. In the Elizabeth: The Golden Age is pointed on the golden era of Queen Elizabeth and the conflict around her, from the revenge act, the enemy attack until her personal problem (love matter).
Not much different with film The Queen that try to give the description that the queen is a common human being either. The writer try to describe how difficult to be a queen. Especially when faced the difficult option. That even a queen, someday she will make a mistake or out of control. It sharpen when it’s happen to a woman with such of responsibilities that usually run by a man. Even though, the writer still give a description that a queen is a holy task that can do by the person who had chosen only.
Any kind of emotion crash is showing perfectly by Cate Blanchet. How a queen that tries to bound her love that make her devostated, how fragile she is when the trusted people around her that she care and love getting far from her and the time that she has to be straight when she leads a war. Cate Blanchett did well to perform the mimic that sometimes soft, sometimes hard but fragile. How the status and role on her shoulder has to make her does big sacrifice, which is a happiness as a personal.
Well perform by Cate Blanchett is make her on the main spot from this film, without ignorance the talent of young star Abbie Cornish, or the mature acting by Geoffrey Rush. Clive Owen is quite give freshener with his charm, even his existence not so important.
In the other side that interesting is how the director did well on optimize the budget that only around $20 million. If we see the result, what is placed before on the screen is out of budget that up to $30 million. On the visual FX is little bit rough, but the director is did well to perform the setting and the costume luxury. Costume on the film is prepared seriously to strengthen the queen’s character. No wonder that in the 80th Academy Award, this film is succeed bring home the Oscar on Best Costume. 2.75/5

 
GILA SINEMA. Design by Pocket