Jumat, 27 Maret 2009

INSPIRING MOVIE : SIMON BIRCH

Jumat, 27 Maret 2009 12


(Inspiring Movie merupakan ulasan film – film yang sangat meninggalkan kesan mendalam bagi Gilasinema, hingga kadang mempengaruhi Gilasinema sebagai pertimbangan dalam mengambil langkah menyikapi suatu hal.)

Setiap manusia pasti bertanya-tanya, apa sih tujuan kita hidup di dunia ini? Lewat tokoh yang juga menjadi judul film, Simon Birch, kita diajak untuk memahami bahwa apa, siapa dan bagaimanapun kita. Dengan memahami dirinya sendiri, manusia akan lebih menghargai hidupnya yang juga merupakan wujud syukur atas kehidupan. Tuhan telah memberikan sebuah peran kepada setiap manusia dalam hidupnya di dunia. Setiap kelebihan dan kelemahan yang melekat pada individu pasti ada alasannya.
Keyakinan inilah yang berulang kali diungkapkan oleh Simon Birch meski dia hidup dengan segala keterbatasan. Dia yakin bahwa dirinya adalah sebuah mukjizat. Keyakinan yang dianggap orang-orang disekitarnya sebagai sebuah omong kosong. Sahabat dekatnya, Joe Wenteworth, menyetujui pandangan Simon Birch hanya demi melegakan Simon Birch.
Simon: I'm a miracle you know.
Joe: Yeah, yeah, yeah.


Bahkan seorang pendeta sekalipun sempat menyikapi keyakinan Simon dengan keraguan.
Simon Birch: Does God have a plan for us?
Rev. Russell: I like to think He does.
Simon Birch: -Me too. I think God made me the way I am for a reason.
Rev. Russell: Well, I'm glad that, um, that your faith, uh, helps you deal with your, um...you know, your, your condition.
Simon Birch: That's not what I mean. I think I'm God's instrument - that He's gonna use me to carry out His plan.


Meski terkesan yakin, kadang tak jarang Simon diliputi keraguan, dan berusaha mencari dukungan demi keyakinannya tersebut.
Simon Birch: I want to know that there's a reason for things. I used to be certain, but now I'm not so sure. I want you to tell me that God has a plan for me, a plan for all of us. Please.
[Finding it difficult to respond with a good answer]
Rev. Russell: Simon...I can't.


Pada akhirnya, keyakinan Simon Birch terbukti dan hal ini membantu Joe menemukan keyakinan akan Tuhan dan hidupnya, yang semula dia pandang dengan sinis dan sempat membuat Simon bereaksi :
Simon Birch: Your problem is that you have no faith.
Joe Wenteworth: I got faith. I just need proof to back it up.


Sepakat dengan Joe, keyakinan itu butuh proses. Keyakinan tidak bisa dipaksakan, karena seharusnya keyakinan itu muncul lewat sebuah proses pertanyaan-pertanyaan dimana setiap manusia berusaha untuk mencari jawabannya. Bahkan ketika sebuah jawaban itu muncul, belum boleh disikapi sebagai sebuah kebenaran. Seperti dalam novel Bilangan Fu-nya Ayu Utami, “tunda kebenaran, lakukan kebaikan”. Kebenaran harus selalu dipanggul dan jangan sampai jatuh ke tanah, karena ketika menyentuh tanah, kebenaran akan menjadi alat untuk melegalkan pemaksaan kebenaran kepada pihak lain.

Selain, berbicara soal keyakinan, film Simon Birch yang disutradarai oleh Mark Steven Jhonson (Daredevil, Ghost Rider) berdasar novel berjudul A Prayer for Owen Meany karangan John Irving ini juga sedikit menyinggung soal waktu dan rasa kehilangan.
Adult Joe Wenteworth: Time is a monster that cannot be reasoned with. It responds like a snail to our impatience, then it races like a gazelle when you can't catch a breath.
Adult Joe Wenteworth: When someone you love dies, you don't lose them all at once. You lose them in pieces over time, like how the mail stops coming. What I remember most to this day was my mother's scent and how I hated it when it began to disappear. First from her closets, then from her dresses she had sewn herself and then finally from her bedsheets and pillow cases. Simon and I never talked much about that day on the baseball field. It was too painful for both of us. For as much as I loved my mother, I knew that Simon loved her just as much. She was the only real mother he ever had.


Dan dari mulut Simon Birch, terlontar dialog-dialog mengggelitik yang tak jarang mengundang senyum.
Simon: What I want to do and what I do are two separate things. If we all went around doing what we wanted all the time, there'd be chaos.

Rev. Russell: What are you doing sitting in a corner Simon?
Simon: Thinking about God.
Rev. Russell: In a corner?
Simon: Faith is not in a floor plan.

Simon Birch: Sex makes people crazy.

Joe Wenteworth: Oh! Oh, man. That's cold.
Simon Birch: It's freezing!
Joe Wenteworth: My balls just turned into marbles.
Simon Birch: My balls just turned into bb's!

Simon Birch: Your mother has the best breasts of all the mothers.
Joe Wenteworth: [trying to ignore] Yeah.
Simon Birch: And she smells the best too.
Joe Wenteworh: I know.
Simon Birch: She's so sexy that sometimes I forget she's someone's mother.
Joe Wenteworth: Okay. Okay.
Simon Birch: I was just being honest.
Joe Wenteworth: Well, what if I said the same thing about your mother?
Simon Birch: I'd have you committed.


Seperti halnya Forrest Gump, melalui Simon Birch, penonton diajak untuk lebih mempunyai keyakinan dalam dan akan hdupnya melalui sosok yang penuh keterbatasan. Pendekatan ini umumnya sangat berhasil hingga mampu meresap dalam diri penonton, bahkan membuat penonton terharu meneteskan air mata meski sudah melihatnya berulang-ulang. Penampilan Ashley Judd dalam film amat sayang untuk dilewatkan. Penampilannya begitu segar dan cuaaantiiiik luar dalam. Secara sinematis, Simon Birch bukanlah film yang istimewa, namun isinya sangat inspiratif.
Film Simon Birch ini sangat membantu Gilasinema ketika mengalami sebuah peristiwa yang ujung-ujungnya menghujat diri sendiri. Untuk membangun keyakinan bahwa mungkin, peristiwa tadi mempunyai sebuah maksud. Bahwa Tuhan mempunyai sebuah rencana, yang pastinya tidak akan menjerumuskan umatnya.

Selasa, 24 Maret 2009

ORZBOYZ! (JIONG NAN HAI)

Selasa, 24 Maret 2009 2

Dua bocah nakal itu dipanggil dengan nama Pembohong No. 1 dan Pembohong No. 2. Reputasi keduanya sudah sangat diketahui oleh banyak orang, terutama di sekolah mereka. Pada adegan – adegan awal, penonton disuguhi beberapa aksi nakal mereka terhadap teman-teman mereka yang lumayan mengundang senyum. Meski beberapa kali mendapatkan hukuman, tidak membuat keduanya jera. Padahal, mereka berdua sudah mendapatkan “hukuman” dari seorang murid cewek senior. Sebuah hukuman yang teramat kejam dan lucu.
Meski nakal, keduanya sebenarnya mempunyai kehidupan yang cukup menyedihkan. Pembohong No. 1 tinggal bersama ayahnya yang mengalami sakit jiwa, sedangkan Pembohong No.2 dititipkan kepada neneknya yang bawel. Seperti umumnya anak yang dinilai nakal, keduanya sebenarnya mempunyai kreatifitas dan imajinasi yang cukup tinggi. Bahkan dalam sebuah adegan, kreasi dari Pembohong No. 1 yang cukup membahayakan mendapatkan applaus meriah dari para tokoh kartun!
Segala aksi dari keduanya sebenarnya merupakan sebuah pelarian atas segala permasalahan di sekitar tempat mereka tinggal. Lingkungan dimana para manusia dewasa digambarkan sebagai pribadi yang penuh kebohongan dan pengingkaran atas janji yang dibuat. Dibawah panduan imajinasi Pembohong No. 1, keduanya menciptakan sebuah dunia imaji “Hyper Space”, tempat dimana tidak ada pekerjaan rumah, tempat dimana mereka bisa tumbuh dewasa dengan cepat.
Untuk memasuki dunia imaji tersebut mereka harus memasukinya lewat sebuah portal yang terdapat disebuah water park. Masalahnya, untuk masuk ke wahana tersebut, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka ditengah segala aksi usil mereka, keduanya bahu membahu mengumpulkan uang demi merealisasikan impian mereka. Namun yang namanya rencana, ada saja kendalanya. Apalagi kalau ada tabrakan kepentingan. Diperparah dengan “limbah” bernama materialisme yang mencemari persahabatan keduanya.
Orzboyz! karya sutradara Ya-che Yang, merangkap penulis cerita sekali lagi menghadirkan sebuah tontonan yang (maunya) mengolok-olok dunia orang dewasa lewat karakter belia. Kisah seperti ini sebelumnya dapat kita jumpai lewat The Fall. Resikonya, film ini menjadi sebuah film yang mengalami kebingungan, terutama dalam menentukan segmen penontonnya. Kalau ditujukan untuk penonton belia kok rasanya terlalu berat, apalagi dengan dimasukkannya animasi yang membuat film jatuh kea rah surealis. Untuk penonton dewasa, rasanya juga kurang pas mengingat hampir sepanjang durasi kita disuguhi aksi kreatif dua bocah tadi. Dimasukkanya animasi, juga membuat penonton (dewasa) bertanya-tanya motif yang mendasarinya. Terus terang Gilasinema agak kesulitan mencari kaitannya dengan cerita secara keseluruhan. Mungkin ada yang membantu?
Meski demikian, di Taiwan sana, film ini memperoleh sambutan yang cukup positif. Bahkan di ajang Golden Horse kemaren berhasil meraih 4 nominasi, termasuk kategori bergengsi, Best Feature Film dan Best Original Screenplay, dan berhasil membawa pulang satu piala, Best Supporting Actress untuk pemeran nenek Pembohong No. 2 (Fang Mei). Ceritanya sendiri memang unik dan lumayan lucu, terutama dengan penampilam Pembohong No. 2. Lalu, apa sih maksud dari kata Orzboyz itu? Di internet sangat minim sekali info tentang film ini. Di cover DVD tertulis “If you don’t know what Orz means, you’re probably not a chat-happy school-boy. Deriving from online slang, these three letters depict a child bowing to the floor, and express a similar feeling of failure (artinya apa seh, hehehhe…)” . 3,25/5

Senin, 23 Maret 2009

RUNNING SCARED

Senin, 23 Maret 2009 3


PISTOL
Pistol itu digunakan oleh Tommy (Johnny Messner) untuk menyerang polisi, dan sudah tugas Joey Gazelle (Paul Walker) sebagai anak buah untuk menyingkirkan barang bukti tersebut. Pistol tersebut disimpan dirumah Joey dan diambil oleh Oleg Yugorsky (Cameron Bright) yang menggunakannya untuk menembak ayah tiri nan kejam, Anzor Yugorsky (Karel Roden) yang masih kerabat dari mafia Rusia. Pistol tersebut menjadi saksi perseteruan antar gank, dan diarahkan oleh Oleg kepada seorang germo yang memukuli anak asuhnya. Pistol itu ditinggalkan pada toilet sebuah kedai dan diambil oleh petugas kebersihan yang mempertaruhkannya di meja judi. Pistol itu berpindah tangan kepada orang yang memenangkan perjudian untuk kemudian menjualnya kepada germo yang menjelang akhir menodongkannya kea rah Oleg yang mencoba dilindungi oleh Joey.
JOEY
Joey mendapatkan tugas untuk menyingkirkan barang bukti berupa pistol yang digunakan oleh bosnya, Tommy, untuk menyerang polisi. Joey tidak mengira pistol tersebut diambil Oleg untuk menembak ayah tirinya. Joey harus segera bertindak kalau tidak ingin pistol tersebut diketemukan oleh pihak berwajib yang akibatnya bisa membuat bosnya ditahan. Joey bersama anaknya, Nicky (Alex Neuberger) melacak keberadaan Oleg yang lari membawa pistol tersebut. Joey berpacu dengan waktu karena pada perkembangannya banyak pihak yang menginginkan pistol tersebut, mulai dari bosnya, polisi korup, Rydell (Chazz Palminteri) serta mafia Rusia. Jeoy, pada puncaknya berusaha melindungi Oleg dari pistol yang ditodongkan oleh germo kea rah Oleg.
OLEG
Oleg yang pemurung mengambil pistol yang disembunyikan Joey dan menggunakannya untuk merobohkan ayah tirinya. Oleg lari dari rumah dengan mebawa pistol yang ternyata diincar oleh banyak pihak. Oleg terjebak dalam sebuah perseteruan gank, dan berhasil meloloskan diri untuk kemudian mendapati kekerasan yang dilakukan oleh seorang germo terhadap “anak asuhnya.” Oleg selanjutnya terlibat dalam sebuah petualangan nan mendebarkan. Joey terjebak oleh pasangan gila pecinta bocah. Oleg berhasil diselamatkan oleh istri Joey, Teresa (Vera Farmiga) yang selanjutnya menyerahkannya kepada Joey. Oleg belum sepenuhnya aman, karena dia terjebak pada sebuah aksi tembak nan brutal antar gank di sebuah lapangan hockey. Oleg menjelang cerita berakhir masih harus berhadapan dengan germo yang dendam dengan aksinya sebelumnya.
Menyaksikan Running Scared tak ubahnya memasuki sebuah labirin kekerasan yang menegangkan dan tidak menyisakan ruang bagi penonton untuk bernapas. Layar tampil riuh dengan kekerasan yang disajikan secara Spartan, karakter yang berseliweran dan berbingkai dialog kasar serta sekelumit gelinjang tubuh telanjang. Tanpa toleransi sama sekali sutradara menyajikan gambar-gambar sadis, mulai dari daging sobek terkena sayatan benda tajam, tubuh terbakar, darah muncrat dari tubuh tertembus peluru, hingga adegan gigitan telinga yang berdarah-darah. Hadirnya dua bintang cilik didalamnya, tidak membuat sutradara Wayne Kramer sedikit memberikan toleransi rasa. Layaknya sebuah permainan, setiap naik level ketegangan dan kekerasan yang dihadirkan makin meningkat tensinya. Sub plot penyelamatan yang dilakukan oleh Teresa meski bisa dihilangkan lumayan menambah tensi, dan membuat peran Vera Farmiga bukan sekedar tempelan semata.
Lalu apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Wayne Kramer lewat serangkaian adegan kekerasan nan sadis tersebut? Bahwa dunia tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Kekerasan yang mengintai anak datang mulai dari dalam rumah, jalanan hingga dari sebuah rumah yang indah. Anak-anak pada awalnya memang menjadi korban kekerasan, namun pada perkembangannya mereka bisa beralih peran sebagai pelaku kekerasan itu sendiri. Anak-anak harus dilindungi dari berbagai macam kekerasan, dan oleh sutradara bentuk perlindungan tersebut ditampilkan dengan pembantaian kepada mereka yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.
Kalau ditelusuri semuanya berawal dari gagalnya sebuah keluarga menjalankan fungsinya yang membuat para karakter di dalam film ini menjadi pribadi labil karena “akarnya” yang lemah. Karenanya karakter-karakter yang ada ditampilkan berasal dari berbagai bangsa. Sebagai pendatang, mereka gagal beradaptasi dengan tempat baru. Ibarat pohon yang dicabut secara paksa dan ditanam di lahan baru yang belum tentu sesuai dengan karakter pohon tersebut. Dan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam memutus mata rantai kekerasan, kalau individu yang berada didalamnya mampu menjalankan peran dan statusnya dengan baik. Afeksi, edukasi, proteksi dan sebagainya. Pentingnya keluarga sangat dipahami oleh Joey, dengan dialog yang dia ucapkan sesaat sebelum penyerangan yang dilakukan oleh germo. “Let’s go home”.
Paul Walker mampu menjawab keraguan banyak pihak yang mempertanyakan kemampuannya tampil beringas. Malah mengherankan karirnya yang seakan tidak beranjak maju, mengingat dia mempunyai modal yang cukup, mulai dari tampilan fisik yang oke hingga acting yang makin terasah. Yang mencuri perhatian justru Cameron Bright yang lihai memainkan karakter-karakter murung dan bermasalah. Terlihat sekali dia sangat selektif memilih film, bahkan pilihannya cenderung melawan arus. Mungkinkah dia bakal menjadi next Ryan Gosling?
Lewat Running Scared, sutradara Wayne Kramer sekali lagi berurusan dengan lembaga sensor di Amerika (MPAA) karena unsure kekerasan yang terlalu pekat tadi. Trailernya ditolak untuk diputar. Menyaksikan hasil akhir filmnya, memang sulit membuat trailernya tanpa menyajikan adegan kekerasan. Lha wong menu utamanya memang kekerasan itu sendiri. Sebelumnya, Wayne Kramer bersitegang dengan MPAA, berkaitan adegan seks di film The Coller yang digarapnya padahal para kritisi menyambutnya dengan tanggapan positif.
Untuk pecinta film action. Running Scared sayang banget dilewatkan. Mereka bakal terpuaskan. Lupakan kelemahan cerita dan kurangnya penggalian karakter para tokohnya. Dengan rangkaian adegan kekerasan yang ditampilkan secara simultan, mana sempat memikirkan hal tersebut. Belum lagi beberapa kejutan yang membuat gemas penonton. Filmnya begitu menghibur dan adegan aksi di lapangan hockey ….so cool! Bukan film baru memang karena film ini rilis tahun 2006. Gilasinema sendiri membutuhkan waktu 3 tahun untuk mendapatkan film ini dalam kondisi layak tonton setelah ngubek-ubek dengan sabar berbagai kios bajakan hingga ke propinsi sebelah, dan ternyata kesabaran tersebut terbayar dengan memuaskan. 3,25/5

Selasa, 17 Maret 2009

THE ELITE SQUAD (TROPA DE ELITE )

Selasa, 17 Maret 2009 5


Kapten Nascimento (Wagner Moura) berniat mengurangi perannya (mundur?) di BOPE (Batalhão de Operações Policiais Especiais, atau Special Police Operations Battalion). Semacam pasukan khusus (narkoba) nan handal untuk tugas khusus yang anggotanya mendapatkan pelatihan khusus. Mungkin semacam DEA di US. Keputusan Nascimento tersebut dengan pertimbangan ingin lebih menghabiskan waktu bersama keluarganya, yakni istrinya yang sedang hamil tua. Karena resiko pekerjaan yang amat besar dengan nyawanya serta keselematan keluarganya sebagai taruhan.
Bukan sebuah keputusan yang mudah, mengingat peran dia masih sangat dibutuhkan oleh BOPE sedangkan permasalahan yang dihadapi makin berat saja. Ditengah dilema, dia memutuskan untuk mencari sesorang yang bakal menggantikannya. Kemudian, kita diperkenalkan pada dua polisi muda dengan karakter yang jauh berbeda. Neto (Caio Junqueira) yang impulsive dan Andre (André Ramiro) yang cenderung lebih tenang, mantan mahasiswa Sosiologi yang tertarik terjun di bidang hukum.
Dengan dituturkan secara kilas balik, awalnya kita disuguhi bagaimana kedua polisi pemula tersebut dihadapkan pada system yang benar-benar bobrok dan busuk. Korupsi hampir terjadi di semua lini, dan polisi yang harusnya menumpas kejahatan, pada kenyataannya malah menjadikan pelaku criminal sebagai lahan memperkaya diri, terutama dari para bandar narkoba. Bahkan tanpa malu –malu, terjadi rebutan lahan antar distrik, dan tak jarang ketika enggan menangani sebuah kasus, “membuangnya” di luar wilayah tugas. Neto dan Andre bagai terjebak dalam sebuah lingkaran setan yang sulit untuk didobrak karena tiadanya pihak yang benar-benar bisa dipercaya. Dan dengan naifnya, keduanya berusaha bertahan dengan idealisme mereka.
Hingga dalam sebuah insiden berdarah di sebuah pemukiman, keduanya dipertemukan dengan Kapten Nascimento. Dengan beberapa orang lainnya, keduanya mulai mengikuti pelatihan demi menjadi anggota BOPE. Dengan tempaan yang cenderung kejam, keras dan tidak manusiawi, jumlah anggota yang lolos seleksi makin lama makin mengecil. Hingga akhir seleksi, Neto dan Andre mampu bertahan, dan Neto lah akhirnya yang menjadi pilihan Nascimento. Namun sebuah peristiwa tragis, membuat Nascimento, mengalihkan pilihannya dan juga mempengaruhi keputusannya akan meninggalkan BOPE atau tidak.
Waktu perilisannya, Tropa de Elite garapan José Padilha mampu memecah public menjadi dua kubu. Ada yang mengecam penggambaran polisi yang dihadirkan sudah begitu busuknya dan juga betapa BOPE digambarkan sebagai pihak yang dilegalkan melakukan kekerasan atas nama penumpasan kriminalitas (narkoba). Namun dipihak lain memujinya dengan keberanian sutradara menghadirkan fenomena yang memang benar-benar terjadi di Brazil, yakni persoalan polisi yang korup dan maraknya perdagangan narkoba.
Kontroversi Tropa de Elite sebenarnya muncul jauh sebelum filmnya dirilis, karena materi yang dihadirkan di film mencomot dari buku berjudul Elite da Tropa yang disusun oleh Luiz Eduardo Soares (seorang Sosiolog) bersama dua personel BOPE, André Batista dan Rodrigo Pimentel. Jadi, apa yang dihadirkan di dalam buku tersebut ada kemungkinan benar-benar otentik. Tak heran perilisannya membuat beberapa pihak menjadi berang. Sempat diberitakan, pihak militer melakukan sensor terhadap beberapa bagian.
BOPE sendiri memang benar-benar ada di Brazil. Keberadaannya sempat mendapatkan kecaman, bahkan mendapatkan sorotan dari Amnesty International. Sorotan diberikan terhadap cara-cara yang ditempuh oleh BOPE yang cenderung melegalkan segala cara demi menumpas gang pengedar narkoba. Bahkan dalam beberapa insiden, membuat sejumlah warga sipil di sekitar lokasi kejadian, tumbang menjadi korban keganasan aksi BOPE.
Segala bentuk kekerasan, bahkan yang paling keji sekalipun, lumrah dan boleh dilakukan demi mendapatkan secuil informasi. Gambaran ini banyak dihadirkan di filmnya. BOPE layaknya menjadi sebuah mesin pembunuh yang tidak pandang bulu. Tidak mengherankan kalau melihat proses pelatihannya yang sangat keras, yang (mungkin) membuat mereka yang tergabung di dalamnya menjadi manusia “dingin.” Sikap dingin ini dalam film dapat kita lihat, betapa seorang anak orang kaya pemakai narkoba, diperlakukan sama dengan pengedar narkoba. Dan juga adegan dimana Nascimento tidak menampakkan ekspresi kesedihan ketika mendapati rumahnya kosong.
Tropa de Elte seakan ingin menekankan bahwa kekerasan patut dilakukan demi menghadapi kriminalitas yang makin merajalela yang mengincar para generasi muda penerus bangsa sebagai korbannya. Bahkan dengan aksi layaknya seorang psikopat sekalipun. Benarkah? Muncul pertanyaan lainnya, apakah institusi sekeras BOPE sekalipun juga mampu lepas dari segala hal berbau kongkalingkong? Keberadaan institusi semacam BOPE patut diwaspadai, karena pada perkembangannya bisa menjadi alat dari pihak-pihak tertentu demi kepentingan sekelumit golongan. Masih ingat dengan petrus? Pembantaian para “dukun santet?”
Secara keseluruhan, Tropa de Elite menjadi sebuah tontonan yang riuh dengan penceritaan yang cepat dibalut dengan gambar-gambar yang super aktif dan suguhan kekerasan yang cukup dominant terutama menjelang akhir. Terus terang agak kurang larut terhadap jalannya cerita, mengingat pengenalan karakter yang disajikan terlalu cepat dan tumpang tindih, serta tertutupi oleh rangkaian gambar yang terkesan mengarahkan penonton untuk menerima kekerasan yang dihadirkan. 3,25/5

Senin, 16 Maret 2009

LET THE RIGHT ONE IN (LÅT DEN RÄTTE KOMMA IN)

Senin, 16 Maret 2009 9


Sungguh mengibakan nasib Oscar (Kåre Hedebrant). Di usianya yang masih 12 tahun, hidupnya sungguh sunyi. Kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah, dan Oscar tinggal bersama ibunya yang sibuk bekerja. Di sekolah dia sering mendapatkan tekanan dan kekerasan dari anak yang lain. Sebagai bentuk pelarian akan kesepian dan kemarahan dia mengumpulkan berita seputar serangkaian pembunuhan sadis.
Pada suatu malam yang dingin dan sunyi dia berkenalan dengan Eli (Lina Leandersson), yang baru pindah ke apartemen dekat tempat tinggal Oscar dan ibunya. Eli ini menunjukkan kepribadian yang amat jauh berbeda dengan anak kebanyakan. Keanehan ini bukannya membuat Oscar menjauhi Eli, karena kemudian keduanya terlibat hubungan yang cukup erat dan makin lama makin intim. Eli bahkan memberikan solusi berkaitan tekanan dan kekerasan yang diterima oleh Oscar di sekolah. Kehadiran Eli yang mempunyai banyak pantangan, membuat Oscar lebih berani dalam bertindak.
Hingga terkuaklah siapa Eli sebenarnya, yang ternyata berhubungan dengan kasus yang menarik perhatian Oscar. Apakah Oscar lantas menjauhi Eli setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya? Ternyata Oscar mampu menerima Eli dan bahkan menemaninya saat pria yang memelihara Eli meninggal dunia. Namun ketika Oscar melihat hasil “karya” Eli, nuraninya mulai terusik, dan memutuskan untuk mundur. Cerita belum berakhir, karena masih akan dihadirkan puncak kengerian yang terjadi di kolam renang yang membuat penonton bergidik.
Sudah banyak kisah vampire yang diangkat ke layar perak, namun entah mengapa kehadirannya tetap menghadirkan sensasi tersendiri. Let The Right One In garapan sutradara Tomas Alfredson berdasarkan naskah yang ditulis John Ajvide Lindqvist (yang juga menulis novelnya) ini berhasil menghadirkan kengerian yang tak terperi karena tokohnya yang digambarkan masih begitu belia. Keganasan yang dihadirkan membuat merinding dan betul-betul menghadirkan perasaan horror. Anak kecil gitu lho.
Kesan horror makin pekat dengan setting cerita yang dibalut hamparan salju yang menguatkan kesan dingin yang menyimpan kengerian. Kisah vampire kurang afdol tanpa dibumbui kisah cinta terlarang antara dua tokoh utamanya. Kalau rajin mengikuti film berbalut kisah vampire pasti menemukan kisah cinta terlarang ini. Mungkin masih banyak yang menganggap kisah cinta terlarang semagai sesuatu yang romantis, selain untuk memancing suasanan tragis.
Dan atas nama cinta, para tokoh di dalam film ini melakukan aksinya. Pria yang memelihara Eli rela menyembelih manusia lain demi mendapatkan darah untuk “dinikmati” oleh Eli yang sangat dia cintai meski dengan nyawa sebagai taruhannya. Pria yang berusaha menuntut balas atas kematian perempuan yang dia cintai yang disebabkan oleh Eli, serta aksi terakhir yang brutal dari Eli merupakan wujud rasa cintanya kepada Oscar.
All fair in love and war begitu pepatah orang (tidak) bijak. Namun apakah mencabut nyawa orang lain menjadi sebuah pemakluman hanya karena dilakukan atas nama cinta? Gugatan inilah yang tampaknya ingin dihadirkan lewat film ini. Oscar dan Eli seakan mewakili jawaban akan gugatan tersebut. Mereka seakan dua kepribadian yang hidup di dalam satu individu. Oscar merupakan pribadi yang menerima kekerasan, dan tidak mampu (takut) mengeluarkan sisi keras dalam dirinya, meski terlihat jelas dia memilikinya lewat kegemarannya mengumpulkan berita kekerasan (pembunuhan). Sedang Eli sungguh pribadi yang berbeda. Dia merupakan pelaku kekerasan demi mencapai apa yang diinginkannya. Meski tidak bisa dipungkiri ada sisi lemah sekaligus lembut dalam dirinya.
Kenapa kedua orang tersebut ditampilkan dalam dua jenis kelamin yang berbeda? Karena setiap individu memang memiliki dua sisi, maskulin dan feminim. Dan kekerasan ternyata kekerasan tidak memandang jenis kelamin. Baik untuk pelaku maupun bagi korbannya. Di akhir cerita, ternyata jalan Eli lah yang dipilih. Hal ini mungkin karena kekerasan yang terjadi sudah tidak bisa ditolerir lagi.
Let The Right One In sangat sayang untuk dilewatkan, karena menjadi sebuah film bertema vampire yang tidak lazim. Bagi pecinta film horror, dijamin mendapatkan kepuasan dengan menyaksikan film ini. Sebelum versi Holly-nya keluar, ada baiknya melihat versi aslinya. Dan Let The Right One In akan lebih bermakna kalau disikapi lebih dari sekedar film horror berkaitan gugatan moral yang dihadirkan didalamnya. Kalau dicermati, plot cerita mempunyai kemiripan dengan film Carrie, dimana mereka yang melakukan kekerasan akan mendapatkan balasan yang brutal di akhir cerita. Elephant-nya Gus Van Sant juga bisa digunakan sebagai tambahan referensi. 3,75/5

Kamis, 12 Maret 2009

THE FOX AND THE CHILD (LE RENARD ET L’ENFANT)

Kamis, 12 Maret 2009 10

Entah apa yang membuat gadis kecil itu (newcomer Bertille Noël-Bruneau) bisa amat tertarik dengan binatang rubah. Sebuah keltertarikan yang kurang lazim, namun bisa diterima karena usianya yang belia yang mudah tertarik akan segala sesuatu yang baru. Sejak melihat rubah itu, si gadis kecil berusaha menjadikan rubah tersebut sebagai temannya dengan melakukan pengamatan. Hingga sebuah tragedy kecil menyebabkan si gadis kecil harus beristirahat cukup lama di dalam rumah yang membuat kesempatannya bertemu dengan rubah kesayangannya makin kecil.
Di saat si gadis berjuang dalam usaha pemulihan dengan diliputi perasaan kangen dan juga was-was akan nasib si rubah, di luar sana, di tengah belantara hutan, kita disuguhi usaha rubah untuk berjuang hidup ditengah ancaman binatang lain yang lebih kuat, cuaca yang kurang bersahabat hingga ancaman dari buruan manusia. Hingga akhirnya si gadis kecil bisa keluar rumah, dia makin intensif mendekati si rubah.
Semakin lama terjalin hubungan diantara kedua makhluk ciptaan Tuhan tersebut. Si rubah yang makin nyaman dengan keberadaan si gadis kecil perlahan – lahan mulai mengharapkan kehadiran si gadis kecil. Bahkan memperkenalkan si gadis kecil dengan para juniornya. Selanjutnya keduanya terlibat sebuah petualangan mengasyikkan nan indah sekaligus berbahaya. Dengan di pandu si rubah, si gadis kecil menjelajah belantara hutan dan dibuat takjub oleh keindahan serta kekayaan yang terkandung di dalamnya. Namun akankah persahabatan tersebut akan bisa terjalin seterusnya? Apalagi setelah terjadi sebuah peristiwa yang mengancam nyawa si rubah.
The Fox and The Child layaknya sebuah dongeng yang menjadi nyata. Dengan balutan cerita yang menyejukkan dan juga mempunyai muatan tuntunan yang tinggi, film garapan Luc Jacquet ini juga menghadirkan rangkaian gambar indah yang menakjubkan dan penuh detail, tak beda dengan film documenter tentang alam yang telah banyak kita lihat sebelumnya. Hal ini tidak mengherankan karena, Luc Jacquet memang sutradara spesialis documenter. Karyanya sebelumnya, The March of the Penguins mendapatkan sambutan yang sangat positif, baik dari para kritikus maupun dari penonton. Bahkan memenangkan Oscar.
Kesan dongeng tersebut makin kuat dengan penampilan si gadis kecil dengan tatanan rambut, kostum serta bintik-bintik kecil di wajahnya. Si gadis kecil mengingatkan kita kepada tokoh Anne di cerita Anne of Green Gables karangan Lucy M. Montgomery. Suara Kate Winslet sebagai narrator (untuk pasar internasional) makin memperkuat aura dongeng. Pemilihan rubah sebagai pusat cerita bukannya tanpa alasan. Banyak sekali dongeng-dongeng (Eropa) yang melibatkan rubah didalamnya.
Salut untuk gaya penceritaan yang dipilih Luc Jacquet demi menyampaikan pesan cinta lingkungan kepada audiens, terutama penonton belia. Dongeng yang dihadirkan dituturkan dengan pendekatan layaknya sebuah film documenter. Hebatnya, tidak ada kesan menggurui nan membosankan. Penonton akan merasa apa yang dihadirkan bukanlah sebuah film documenter namun lebih kepada film fiksi yang imajinatif. Akibatnya, apa yang ingin disampaikan oleh sineasnya mampu mencapai tepat sasaran. Penulis cerita berusaha untuk menghadirkan emosi yang komplet dalam film ini. Mulai dari kebahagiaan, kepedihan, kelucuan hingga ketegangan yang membuat penonton terpaku sekaligus terpukau akan apa yang dihadirkan di layar. Film ini ketika dirilis disambut dengan meriah di Perancis sana. Bukti bahwa film documenter pun sangat bisa dijual, dengan syarat dikemas dengan apik.
Di masa sekarang, sulit sekali mendapatkan film yang aman dikonsumsi oleh semua anggota keluarga, terutama mereka yang berusia belia. Bahkan film produk Disney sekalipun, pada beberapa bagian mengandung konten yang cukup membahayakan kalau dalam menontonnya tidak dilakukan pendampingan. The Fox and The Child sangat direkomendasikan bagi mereka yang mencari tontonan yang menghibur sekaligus tuntunan bagi para muda belia. Namun tetap saja harus ada pendampingan. Takutnya setelah melihat film ini, mereka berinisiatif untuk menjelajahi hutan tanpa pengawasan.
Bagi yang mencari keindahan visual, film ini sangat sayang untuk dilewatkan. Komposisi warna yang dihadirkan begitu memikat mata. Perhatikan baju yang dipakai oleh si gadis kecil, yang menghadirkan sesuatu yang kontras namun sedap dipandang. Film ini juga terasa actual dengan kondisi dunia yang makin gencar menggerakkan nilai-nilai untuk lebih bersahabat dengan alam sekitar. Bagaimana sih seharusnya kita menyikapi alam sekitar? Oleh Luc Jacquet, jawaban dari pertanyaan tersebut dihadirkan lewat sebuah ending yang baik dan melegakan. 3,75/5

Senin, 09 Maret 2009

THE LAST MISTRESS (UNE VIEILLE MAITRESSE)

Senin, 09 Maret 2009 2


The Last Mistress ceritanya sangat simple. Seorang pria, Ryno (Fu”ad Aid Aattou) berniat menikahi seorang wanita dengan reputasi baik, Hermangarde (Roxanne Mesquida). Banyak pihak yang meragukan niat baik Ryno, bahkan ada yang secara terus terang meragukan kesetiaan dari Ryno, mengingat hingga mendekati hari pernikahan, Ryno masih menjalin dengan hubungan dengan Velline (Asia Argento).
Keduanya terlibat hubungan panas dan putus sambung dalam kurun waktu sepuluh tahun. Wajar banyak pihak meragukan Ryno akan mudah lepas dari “cengkeraman” Vellini. Hingga suatu malam, nenek Hermangarde menggali kisah percintaan Ryno dengan Vellini untuk merasa yakin. Vellini sebenarnya sudah mempunyai suami. Pertemuannya dengan Ryno dengan segala kenekatannya mampu membuatnya meninggalkan segala kemapanan yang diberikan oleh suaminya.
Namun kenyataannya, hubungan keduanya tidak bisa dikatakan mulus, mengingat kepribadian keduanya yang cenderung suka tantangan dan permainan. Timbul kesan keduanya terlibat dalam sebuah permainan saling menaklukan yang tak jarang menyakiti perasaan keduanya. Namun hal tersebutlah yang membuat keduanya saling tergantung. Nafsu akan tantangan dan permainan.
Akhirnya, tibalah hari pernikahan antara Ryno dan Hermangarde. Selang beberapa waktu keduanya hidup damai. Namun semuanya berubah ketika Vellini kembali memunculkan dirinya dalam hidup Ryno. Meski awalnya berusaha menolak kehadiran Vellini, Ryno pada akhirnya kembali takluk di kaki wanita simpanannya meski dengan sembunyi – sembunyi. Hingga pada akhirnya, aksi rahasia mereka diketahui oleh Hermangarde.
Sudah banyak kisah mengenai wanita simpanan ditampilkan di layar, terutama di era korset ketat. Selain ada The Duchess di sisi The Duke, selalau digambarkan kehadiran seorang Mistress di sisi yang lain. The Last Mistress lebih menyoroti kehidupan dari wanita di sisi yang “lain” tersebut. Meski digambarkan berwatak “setan” Vellini tetaplah sosok manusia yang juga mempunyai rasa sakit akibat kehilangan. Kita dibuat maklum dengan aksinya, mengingat hubungannya dengan Ryno yang sudah terjalin sangat lama. Bedanya dengan wanita tersakiti lainnya, bukannya tenggelam dalam kedukaan, Vellini merealisasikannya dengan sebuah aksi “sabotase”, meski tidak seekstrem yang dilakukan oleh Alex Forrest di Fatal Attraction.
Karena menitikberatkan pada karakter Vellini, tentu saja Asia Argento mengemban tugas yang tidak ringan. Dan untungnya dia mampu mewujudkan dengan baik karakter seorang wanita simpanan yang liar menggoda, tersakiti dan agak “gila”. Dalam sebuah adegan, “kegilaan” tersebut digambarkan dengan adegan Vellini menjilati darah yang keluar dari tubuh Ryno. Entah “kegilaan” ini wujud dari rasa cinta atau nafsu belaka, mengingat keduanya banyak diganbarkan saling membelit di ranjang. Yang menarik, oleh sutradara Catherine Breillat, untuk mengimbangi keliaran Asia Argento dihadirkan Fu”ad Aid Aattou yang berwajah “cantik” dan baby face serta Roxanne Mesquida yang segar dan mulus, hingga akhirnya penampilan ketiganya menghadirkan komposisi yang aneh, namun terasa pas.
Film tentang pria atau wanita idaman lain rasanya tidak afdol tanpa visualisasi gelinjang di ranjang. Dalam film yang diadaptasi dari novel karangan Jules Amédée Barbey d'Aurevilly (what a name!) ini ada beberapa adegan yang mengumbar ketelanjangan. Sebuah hal yang mudah saja bagi Asia Argento yang hampir selalu memamerkan bagian atas tubuhnya di setiap filmnya. Selain Asia Argento, yang menarik dalam film ini adalah (seperti biasa) kostum dan hair do yang dihadirkan. Bolehlah ditandingkan dengan apa yang ditampilkan dalam The Duchess. Dan lewat film ini, seakan menegaskan sebuah kebiasaan yang tertancap kuat di era korset ketat, terutama pergaulan tingkat atas, yakni kebiasaan bergosip.
Pada akhirnya, seperti halnya cerita cinta segitiga lainnya, tidak ada yang benar-benar menang dan bahagia. Ada harga yang harus dibayar. Namun yang memprihatinkan adalah selalu ada korban, yang dalam kisah ini Hermangarde lah yang menjadi korbannya. Madu memang manis, tapi tidak dengan dimadu. 3,25

Sabtu, 07 Maret 2009

AMERICAN TEEN

Sabtu, 07 Maret 2009 5


Lewat sebuah sekolah di Kota Warsaw, Indiana, kita diajak untuk melihat 5 (lima) pemuda yang menjalani tahun terakhir mereka di SMA. Mereka adalah, Colin, si bintang olah raga yang sangat ingin mendapatkan beasiswa dari prestasinya di bidang olah raga demi melanjutkan ke perguruan tinggi atau dia harus dikirim ke kamp militer oleh ayahnya. Megan si popular dan drama quenn yang mendapatkan tekanan dari ayahnya untuk masuk ke perguruan tinggi pilihan ayahnya, Hannah si artistic nan pemberontak yang ingin melanjutkan ke sekolah film di tengah kondisi keluarganya yang bermasalah, Jake yang canggung yang diributkan masalah kepercayaan diri, serta si Mitch yang charming dan lovely dengan karakter yang simpatik dan easy going.
Di masa akhir SMA, kelima pemuda tadi digambarkan menjalani (salah satu) masa-masa terberat dalam hidup mereka. Ditengah usaha meraih cita-cita, mereka dihadapkan pada permasalahan yang akibat terburuknya bisa menggagalkan impian yang bakal mereka wujudkan. Mulai dari masalah pertemanan, percintaan hingga masalah keluarga. Siapa yang mengira, di balik kepopulerannya, Megan menyimpan sebuah kepedihan berkaitan dengan salah satu anggota keluarganya, dan siapa yang mengira hidup Colin menjadi lebih mudah meski menjadi bintang olah raga. Colin dihadapkan pada kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan. Sungguh mernyakitkan apa yang dialami oleh Hannah yang multi bakat. Oleh ibunya sendiri dikatakan “you’re not special”.
Selain Mitch, keempat remaja lainnya ditengah-tengah tahun terakhir mengalami kejatuhan yang terasa menyakitkan bagi mereka. Bagusnya, mereka berusaha untuk mencoba kembali bangkit demi impian mereka. Dan ternyata mereka berhasil dengan caranya masing-masing. Maka tahun terakhir SMA yang awalnya terasa berat, pada akhirnya memberikan sesuatu yang indah. Masa akhir SMA seakan menjadi sebuah masa transisi menuju kedewasaan
Berbeda dengan film remaja umumnya, American Teen oleh sutradara Nanette Burstein seakan mencoba untuk memberikan gambaran yang jujur tentang sebagian kecil wajah remaja Amerika. Dengan mengambil setting di kota yang tidak begitu meriah, Nanette seakan ingin menampilkan wajah positif dari remaja Amerika yang dalam kebanyakan film digambarkan terlalu sibuk dengan urusan seks, drugs, perkelahian dan percintaan. Namun kalau kita cermati, dalam American Teen ini terasa klise sekali. Terutama dalam karakterisasi. Dalam setiap film remaja produk Holly umumnya terdapat karakter the jock (Colin), the hunk (Mitch), the geek (Jake), the drama bee (Megan) dan the rebel (Hannah). Adegan terakhir dimana manampilkan aksi terakhir Colin di lapangan basket, makin memperkuat kesan klise ini.
American Teen terasa (berusaha) jujur berkat pendekatan yang dipilih oleh Nanette. Selama 10 bulan antara tahun 2005 – 2006, dia bersama kru membuntuti 10 murid. Tak kurang 1000 jam footage dihasilkan, dan pada akhirnya menjadi sebuah tontonan padat dengan durasi kurang dari 100 menit dan tidak menampilkan 5 murid lainnya karena sudah merasa cukup dengan mereka yang akhirnya terpilih untuk dihadirkan di layar. Mereka yang dihadirkan benar-benar karakter asli, bukan actor/aktris. Hasil akhirnya tak ubahnya tontonan layaknya The Hills ataupun Laguna Beach. Bedanya apa yang dihadirkan di layar terasa lebih realis karena tidak adanya konflik yang kadang malah terkesan didramatisir. Pendekatan ini mirip dengan apa yang dihadirkan dalam Borat ataupun Super Size Me.
Namun tetap saja timbul pertanyaan. Apakah benar film ini benar-benar jujur? Pada salah satu adegan (beredarnya foto bugil salah satu murid) timbul kesan kalau adegan tersebut sudah di plot. Bagaimana mungkin para kameramen bisa menangkap momen tersebut? Penonton juga mungkin akan meragukan kejujuran perasaan yang diungkapkan oleh para remaja yang terpilih. Ingat, ada kamera yang menyorot yang mungkin bisa mempengaruhi motif seseorang dalam bersikap. Hal ini sempat ditanggapi oleh Hannah dalam sebuah wawancara, yang mengatakan kalau dirinya makin lama (10 bulan!) makin menganggap kamera tidak ada disekelilingnya. Benarkah demikian?
Namun demikian, dengan pendekatan yang dipilih, American Teen menjadi sebuah tontonan alternative di luar film remaja umumnya yang terlalu hedonis. Diluar beberapa konten dewasa (f word dan umpatan lainnya, ciuman dua cewek dan lain-lain) film ini rasanya sangat pantas menjadi sebuah tuntunan bagi para remaja. Dengan pendampingan tentu saja. Ada banyak hal yang bisa dipelajari lewat film ini. Siapa tahu setelah menyaksikan film ini, para remaja lebih termotivasi untuk mengejar apa yang menjadi impian mereka.
Sekali lagi, American Teen hanylah sekelumit gambaran remaja Amerika, karena yang namanya remaja mempunyai banyak dimensi yang menarik untuk dilihat dan dibahas. Gambaran ekstrem remaja di Amerika mungkin bias kita dapatkan di film-film garapan Gus Van Sant. Mau yang kontroversial? Film yang dihasilkan oleh Larry Clark sangat pantas dilihat, meski harus hati-hati denganbanyaknya harsh content yang secara konstan dihadirkan. Kalau ingin yang ceria, ya mending liat American Pie atau Mean Girls saja. 3,5/5

NB : Si Hannah akhirnya secara bertahap bisa mewujudkan impiannya. Dia terlibat di produksi film terbaru dari Judd Apatow. Selain itu pada suatu kesempatan, dia didekati Bryce Dallas Howard yang ingin Hannah mengajaknya kalau dia membuat film. Lucunya, Hannah merasa tidak mengenal aktris yang satu ini!

Selasa, 03 Maret 2009

YANG TERLARANG DI PINTU TERLARANG (SPOILER ALERT!)

Selasa, 03 Maret 2009 15


Sangat telat mungkin membahas film ini, gara – gara bioskop sebelah rumah baru (sempat) memutarnya. Namun setelah melihatnya, timbul rasa gatal yang amat sangat untuk menuturkan pengalaman melihat film yang satu ini. Berbeda dengan banyaknya reviu yang memuji habis-habisan film Pintu Terlarang, Gilasinema (terpaksa) menuliskan hasil yang sangat berbeda karena ternyata mengalami kekecewaan yang cukup menyakitkan (aduh…dramatis banget) berkaitan isi film. Kekecewaan muncul mungkin karena ekspektasi yang berlebihan akan film karya Joko Anwar, yang menjadi favorit Gilasinema setelah menelorkan Kala yang apik. Terlalu banyak hal terlarang dalam Pintu Terlarang ini.

KEKERASAN YANG TERLARANG
Satu hal yang paling menonjol dalam Pintu Terlarang adalah ditampilkannya gambar-gambar dengan tingkat kesadisan yang membuat miris. Rasanya baru kali ini film Indonesia sukses membuat mual penonton. Kekerasan yang dihadirkan terasa sangat vulgar dan memuakkan. Seperti yang diutarakan Joko Anwar pada sebuah majalah, Pintu Terlarang bertujuan menyajikan sebuah cinematic experience. Sebuah tujuan yang amat sangat sukses tercapai. Apa yang disajikan sangat sulit dilupakan. Menghantui. Terus terang Gilasinema tidak kuat menyaksikan kekerasan yang disajikan dilayar, dan terpaksa menutupi muka dengan kaos untuk meminimalisir kesadisan yang ada. Sebuah self cencorship. Nurani terasa terluka hingga membuat Gilasinema menangis dan muncul pertanyaan, “Apakah perlu disajikan sevulgar itu?”. Terasa ada yang salah dalam adegan pembantaian ini. Apa yang dihadirkan jauh lebih mengerikan dari apa yang terlihat di Hostel maupun Saw. Dalam kedua film gory tersebut, mereka yang dibantai masih diposisikan sebagai manusia. Dalam Pintu Terlarang? Korban Gambir diperlakukan bak binatang (kurban). Inilah yang mungkin membuat nurani terasa teriris. Mirip dengan aksi Sweeney Todd, hanya saja aksi Gambir disajikan terlalu frontal.
Muncul sebuah rasa ingin terbebas dari terror yang nampak di layar, namun rasa penasaran akan kelanjutan cerita membuat Gilasinema mencoba bertahan. Sebuah ketidakberdayaan yang menyesakkan. Entah harus misuh atau salut untuk Joko Anwar. Kekerasan dan kesadisan yang dihadirkan terasa berlebihan. Bandingkan dengan kekerasan dan kesadisan yang ditampilkan dalam Battle Royale yang terasa relevan dan mempunyai makna, hingga lebih bisa diterima nurani, meski tetap saja berbalut rasa miris.

PENGULANGAN YANG TERLARANG
Pemakaian pemain serta peñata musik yang tidak berbeda jauh dengan film-film yang “disentuh” Joko Anwar sebelumnya mungkin masih bisa diterima. Namun pemakaian setting yang sama? Meski divisi artistic mencoba bekerja serius dengan menambahkan ornament-ornamen tertentu, mata penonton tidak bisa dibohongi dengan pemilihan lokasi yang mirip dengan yang ditampilkan dalam film Kala. Pengulangan makin terasa nyata dengan gaya bertutur yang dipilih, pencahayaan, pergerakan kamera, twist ending, karakterisasi yang diperankan oleh Fachri Albar serta kegemaran Joko Anwar menyoroti sisi gelap manusia. Pengulangan ini sedikit diminimalisir dengan penempatan warna-warna kontras demi menghadirkan sebuah ironi. Hmmm…ironi? Rasanya hal ini sudah terlalu sering hadir di film yang “disentuh” Joko Anwar. Jadinya, diluar adegan kekerasan, apa yang dihadirkan di layar terasa kurang menancapkan kesan mendalam layaknya Kala. Pintu Terlarang bisa disamakan dengan dengan Quantum of Solace yang terasa garing, dan tidak meninggalkan kesan layaknya Casino Royale. Namun, bukanlah hal yang terlarang dengan melibatkan Atiqah di film Joko selanjutnya.

LOGIKA YANG TERLARANG
Pintu Terlarang memang sebuah kisah yang imajinatif. Namun sebuah imajinasi sekalipun harus berbekal logika cerita yang menyakinkan. Setelah cerita berakhir, timbul banyak pertanyaan yang sangat menganggu. Ada beberapa hal yang dihadirkan yang rasanya kok tidak berkaitan dengan kepribadian dan dunia nyata dari Gambir. Hubungan sebab akibat terasa sangat lemah. Semoga saja ada yang membantu Gilasinema menemukan jawabannya, atau mungkin Joko Anwar bersedia memberikannya?
1.Salah satu hal yang menganggu adalah dihadirkannya televisi di dunia lain dari Gambir. Tidak ada satu adeganpun yang menggambarkan keterkaitan Gambir kecil dan Gambir di rumah sakit jiwa (?) dengan barang yang namanya TELEVISI. Bandingkan dengan imajinasi yang dihadirkan dalam The Fall atau Pan’s Labyrinth. Apa yang dihadirkan dalam imajinasi si tokoh utama, sangat berkaitan dengan dunia nyatanya. Detail cerita sangat terjaga hingga penonton mampu “membaca” apa yang disajikan. Kehadiran televisi di Pintu Terlarang terasa banal dan instant (sebuah jalan buntu).
2.Bacaan yang berserakan di sekitar Gambir juga menimbulkan kesan yang sama. Logika, Gambir masuk ke RSJ (?) tersebut sejak usia belia, mungkinkah dia tertarik dengan bacaan yang berserakan tadi? Kapan minat itu muncul dan mengapa?
3.Talida dalam dunia imajinasi Gambir melarang Gambir membuka Pintu Terlarang. Kenyataannya, Talida disibukkan dengan usahanya mengorek informasi dari Gambir. Kontradiktif bukan? Yang satu berusaha menegakkan tembok, di pihak lain mencoba meruntuhkannya.
4.Kenapa Gambir digambarkan sebagai pematung? Tidak ada penjelasan yang memuaskan.
5.Penggunaan hal-hal berbau Kristiani juga terasa lemah, kecuali alasannya agar bisa diterima pasar internasional. Sekali lagi, tidak ada satu adeganpun yang mengkaitkan hal tersebut dengan masa kecil Gambir. Mungkin ada kaitannya dengan tempat dimana Gambir dewasa dikurung? Entahlah
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang tidak terjawab dengan tuntas, baik lewat bahasa gambar ataupun lewat dialog verbal.

KEBODOHAN YANG TERLARANG
Entah mereka yang memberikan puja puji kepada Pintu Terlarang melihat kebodohan ini atau tidak. Perhatikan pintu yang dilarang dibuka. Perhatikan GEMBOKnya. Ingatkah apa yang dilakukan Gambir untuk membuka pintu tersebut. Ya, Gambir menggunakan kapak untuk membuat lubang untuk kemudian membuka pintu tersebut dengan menarik slot di sisi pintu yang lain. Dimana GEMBOKnya? Bukan sulap bukan sihir. Tidak ada indikasi di pintu tersebut ada GEMBOK sebelumnya! What the &*#@*%!!!!
Kalau tidak ingin terlihat bodoh, hancurkan dulu GEMBOKnya, lubangi pintu dan baru bisa meraih slot di balik pintu.
Kalau pada akhir tahun nanti ada yang memasukkan Pintu Terlarang sebagai salah satu film terbaik sepanjang tahun, akan menjadi sebuah pilihan yang lucu dan akan membuat geli Gilasinema.

KELIARAN YANG TERLARANG
Salahkan semuanya pada Joko Anwar yang terlalu liar berimajinasi. Bak penunggang kuda liar, Joko Anwar seringkali lupa menarik tali kekang hingga kuda lari dengan liar tak karuan. Tidak ada salahnya menunggang kuda liar, asal bisa menggunakan tali kekang dengan bijak. Penunggang kuda yang hebat, harusnya tidak dikalahkan oleh keliaran tunggangannya. Jadinya ironi dong. Tarsem dan Guillermo DelTorro sedikit dari beberapa orang yang berhasil menaklukkkan keliaran imajinasi mereka.

HIBURAN YANG TERLARANG
Masih ingat dengan pernyataan Joko Anwar setelah merilis Kala, bahwa dirinya akan menghadirkan film (Pintu Terlarang) yang lebih menghibur. Berhasilkah? Maaf sekali belum berhasil. Pintu Terlarang justru sukses menyemburkan aura destruktif dan pesimisme yang sangat pekat, hingga dampaknya sangat menekan rasa. Bandingkan dengan film-film garapan David Fincher, Sam Mendes, Guillermo DelTorro, Tarsem hingga Quentin Tarantino yang meski bernuansa kelam, selalu ada setitik harapan didalamnya. Bahkan dalam Hostel dan Saw pun ada sedikit optimisme yang dipancarkan.

PUJIAN YANG TIDAK TERLARANG
Disamping beberapa hal terlarang diatas, ada beberapa bagian yang patut diapresiasi lebih. Iringan musik ketika Gambir mengejar Gambir kecil terasa pas dan orisinil. Salute! Adegan dinner yang terinspirasi The Last Supper, menghadirkan kelas tersendiri. Dan bahasa tubuh Fahri Albar di adegan ini lumayan kuat dan mengesankan. Pujian juga wajib dialamatkan pada divisi artistic, colourist hingga peñata kostum bagi Marsha Timothy.

Pada akhirnya, Pintu Terlarang mungkin terasa sangat istimewa bagi penikmat film Indonesia dan akan berbicara banyak di festival internasional yang sangat menghargai karya eksperimental yang menyajikan keliaran imajinasi. Pintu Terlarang secara keseluruhan masih terbelenggu pada gaya, yang bisa lebih mengasyikkan andai saja bermodal cerita yang lebih menyakinkan. Pintu Terlarang dalam penilaian Gilasinema selevel dengan The Other Side dan 99 Pieces. Pernah mendengar kedua judul film ini?
Namun begaimanapun, Joko Anwar tetap mempunyai tempat tersendiri dalam hati Gilasinema (aduh….!). Sangat menantikan film musical yang bakal digarapnya. Sedikit pertanyaan (saran), Apakah ada kemungkinan Anda (Joko Anwar) membuat film yang lebih berpijak pada bumi?
 
GILA SINEMA. Design by Pocket