Rabu, 26 Agustus 2009

THE HANGOVER

Rabu, 26 Agustus 2009 3

The Hangover bisa jadi merupakan film paling sukses tahun ini kalau dilihat dari segi pendapatan kotornya. Untuk sementara dolar yang diraih oleh sekumpulan pria teler tersebut sudah mencapai 10 kali lipat lebih dari biaya produksi yang kabarnya kurang dari $40 juta.
Apa sih yang menarik dari kisah yang dihadirkan dalam The Hangover ini hingga mampu menarik minat banyak pasang mata? Kuncinya tidak lain adalah jalan cerita yang tidak terduga, penuh misteri yang hebatnya jawabannya dijaga sangat ketat oleh penulis cerita, hingga membuat penonton tetap bertahan hingga film berakhir. Meski berbau misteri, film ini menghadirkan banyak momen lucu berkaitan dengan situasi yang dihadapi para pria teler.


Keempat pria itu adalah Doug (Justin Bartha), Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms), dan Alan (Zach Galifianakis). Mereka datang ke Vegas dengan maksud mengadakan pesta bujangan sebelum Doug mengikatkan diri dengan Tracy (Sasha Barrese). Keempatnya, diikat dengan janji “apa yang terjadi di Vegas, biarkan tetap di Vegas”. Di bagian awal ini, dengan efektif, penonton diajak untuk memamhami masing-masing karakter empat pria tadi.
Pagi setelah, mengikuti pesta bujangan, rentetan kejutan mulai menghampiri mereka. Dimulai dengan adanya ayam di kamar mereka, harimau di toilet dan bayi di lemari! Ketiganya benar-benar tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi selama pesta bujangan. Doug yang tidak bersama mereka juga menjadi tanda tanya besar mengenai keberadaannya. Petunjuk pertama datang dari rumah sakit dimana Phil sempat memeriksakan diri, sesuatu hal yang dia sendiri tidak mampu mengingatnya.
Kejutan menghampiri lagi ketika mobil Merci yang kemarin mereka kendarai sudah berubah menjadi mobil polisi! Di rumah sakit, Stu mendapati kalau dia malam sebelumnya melakukan pernikahan dengan seorang penari telanjang, Jade (Heather Graham), padahal dia bermaksud untuk melamar Melissa (Rachael Harris), ceweknya yang bossy.


Kejutan demi kejutan tidak henti-hentinya dihadirkan oleh Todd Phillips, berdasarkan naskah yang ditulisnya bersama Jon Lucas, Scott Moore dan Jeremy Garelick (uncredited). Berbagai kejutan tadi menciptakan situasi kacau sekaligus lucu dan mencapai puncaknya ketika hadirnya sosok mafia menyebalkan, tapi juga kurang meyakinkan, Mr. Chow (Ken Jeong). Tonton saja deh film ini. Tentang misteri keberadaan Doug? Petunjuknya bisa disimpulkan dengan kalimat “berakhir di permulaan”.
Selain naskahnya yang penuh kejutan dan misteri, film ini sangat terangkat dengan penampilan para pemerannya terutama Zach Galifianakis. Dengan modal brewok dan tubuh tambun, dia sukses mencerminkan sosok pria yang tak kunjung dewasa dan cenderung menjalani segala sesuatu sesuka hati. Zach Galifianakis juga pasrah mendapatkan perlakuan apapun, mulai dari di KO Tyson, diterkam harimau, disetrum hingga dipukul mafia. Tokoh ini seringkali berucap “it’s classic!”, sebuah quote yang mengingatkan pada tokoh Barney Stinson dengan “awesome” –nya di How I Met Your Mother.


Ed Helms sebagai Stu juga menjadi “korban” jailnya naskah dengan merelakan giginya dicabut satu, meski setelah baca-baca, ternyata dia tidak mempunyai gigi asli, tapi gigi implant. Meski karakternya digambarkan selalu berusaha menjalani sesuatunya dengan benar, tapi dia satu-satunya tokoh yang sering mengucapkan F word.Sedangkan dua pemeran lainnya yang lebih melek secara fisik, Justin Bartha dan Bradley Cooper, ternyata bisa dengan mudah masuk dalam sebuah situasi yang komedik.
Secara keseluruhan, The Hangover merupakan tontonan yang menghibur dan lucu, meski tidak sampai membuat tertawa terbahak-bahak (entah kalau untuk penonton di Amerika sana). Bolehlah dibilang sebagai versi bagus dari film Dude,Where is My Car? Dan dengan cerdiknya, Todd Phillips menyimpan rapat gilanya pesta bujang untuk ditampilkan selama closing title bergulir. Pesta bujangnya memang gila-gilaan!


Melihat kesuksesan tak terduga dari film ini (meski Gilasinema pernah memprediksikan kesuksesan film ini), kabarnya sudah dipersiapkan sekuelnya untuk dirilis tahun 2011 nanti. Seru juga ya kalau misalnya telernya di Eropa, biar hasilnya lebih gila dibandingkan Euro Trip. Dan kayaknya seru juga kalau dibuat The Hangover versi cewek. Penasaran bagaimana perilaku cewek kalau pada teler. Asal yang main jangan Cameron Diaz. Tidak asyik melihatnya bergila-gila ria di Very Bad Things atau The Sweetest Thing. Sandra Bullock tuh bakalan oke kalu disuruh mabuk.


Sebenarnya apa sih yang membuat karakter utama yang ada dalam film ini mengalami kehilangan memori berkaitan peristiwa malam sebelumnya? Hal itu ternyata disebabkan oleh zat yang terkandung dalam Rohypnol (Roofies) yang dimasukkan diam-diam oleh salah satu dari mereka. Rohypnol ini semacam effervescent tablet yang cepat larut didalam air.Jadi tinggal memasukan Rohypnol kedalam minuman, maka peminumnya tidak akan pernah ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.


Obat ini biasanya dikonsumsi mereka yang mengalami kesulitan tidur. Bahkan oleh orang-orang yang tidak bertangung jawab, obat ini seringkali dignakan untuk melumpuhkan sasaran. Makanya obat ini seringkali dilabeli dengan istilah “date rape drug” karena banyak cewek yang menjadi korban obat ini. Jadi bagi yang biasa clubbing, hati-hati dengan minman yang kamu pesan.
Dengan pengetahuan ini sedikit mengusik logika cerita di The Hangover. Rohypnol (Roofies) membuat pengkomsusinya menjadi lemah (mengantuk), namun dalam The Hangover tidak demikian karena mereka masih sempat melakukan pesta gila-gilaan dan wara-wiri. Tapi kadang logika menjadi tidak penting lagi, ketika kita mendapatkan suguhan yang menghibur. 3,25/5

Selasa, 25 Agustus 2009

THE PROPOSAL

Selasa, 25 Agustus 2009 7

Sebuah perkawinan idealnya diwujudkan demi sebuah tujuan mulia atas nama cinta. Namun ternyata banyak sekali motif yang melatarbelakangi seseorang ketika meminta seseorang untuk mendampingi hidupnya. Dalam The Proposal, Margaret (Sandra Bullock) meminta Andrew Paxton (Ryan Reynolds) menikah dengannya untuk mempertahankan karirnya. Berbeda dengan kebiasaan banyak orang, dalam film ini pihak perempuan yang melamar sang pria.


Untuk saling mengenal agar lolos dari investigasi pihak imigrasi, Margaret terpaksa menerima paksaan untuk mengunjungi keluarga Andrew di sebuah wilayah kecil di Alaska. Di tempat nan eksotis ini keduanya perlahan mulai saling mengenal, meski dihadapkan pada situasi penuh kebohongan.
Setiap kebohongan yang dibuat selalu diikuti dengan kebohongan-kebohongan lain hingga akhirnya menumpuk dan siap meledak kapan saja. Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pada akhirnya akan tercium juga, begitu pepatah orang bijak. Sesaat sebelum melangsungkan pernikahan, kedok mereka terbuka yang pada akhirnya melukai semua yang terseret dalam kebohongan yang mereka hembuskan.


The Proposal lewat sentuhan Anne Fletcher hadir dengan porsi serba pas dan tidak berlebihan. Chemistry dua bintangnya, sub plot serta eksekusi cerita yang dipilih terasa tepat. Dengan jalinan cerita yang sederhana dan tidak istimewa yang banyak diangkat di kisah Harlequin, film ini ternyata berhasil menghadirkan tontonan yang menghibur dan menyegarkan.


Naskah Pete Chiarelli bisa diterjemahkan dengan bagus oleh Anne Fletcher, hingga berhasil menghadirkan beberapa adegan yang lumayan memorable, seperti adegan ketika Margaret berlutut melamar Andrew di tengah keramaian, atau adegan ketika keduanya telanjang di dalam kamar, meski adegan ini mengingatkan pada Something’s Gotta Give.
Keunggulan The Proposal ada pada padunya penampilan Sandra Bullock dan Ryan Reynolds. Dialog keduanya terasa mulus mengalir, dan saling melengkapi. Karakter Margaret yang bossy sangat pas dipasangkan dengan karakter Andrew yang melayani dan simpatik. Bossy dan slebor memang paling pas diperankan oleh Sandra Bullock yang ternyata belum kehilangan pesonanya meski sudah tidak muda lagi.


Dan setelah surutnya Hugh Grant, rasanya Ryan Reynolds patut digelari raja rom com yang baru setelah sebelumnya juga sukses berperan di Definitely, Maybe. Dan jangan lewatkan penampilan natural dari bintang gaek, Betty White. Kehadirannya seringkali mencairkan suasana. Sedangkan Malin Akerman hadir hanya sebagai pemanis belaka.
The Proposal menjadi prestasi tersendiri bagi Anne Fletcher. Dengan budget sekitar $40 juta, film ini telah mendulang pendapatan kotor hingga 6X lipat untuk peredaran diseluruh dunia! Dua karya sebelumnya, Step Up dan 27 Dresses juga menuai sukses. Ternyata perempuan berusia 43 tahun ini juga terlibat di banyak film sukses seperti Boogie Nights, She's All That, Bring It On, The Wedding Planner, Bringing Down the House, The Pacifier, The 40-Year-Old Virgin dan Hairspray!


Karya berikutnya tampaknya juga bakal dengan mudah mengumpulkan dolar mengingat temanya yang belum banyak diangkat, yakni cheerleader cowok. Film yang untuk sementara diberi title The Matadors ini kabarnya akan menghadirkan beberapa adegan di pertandingan NBA yang bergengsi itu. 3,25/5

ORPHAN (spoiler alert!)


Tidak semua film dimaksudkan untuk menghadirkan hiburan kepada penontonnya. Ada film yang mencoba menghadirkan sensasi sinematik dan ada juga yang dimaksudkan untuk membangkitkan perenungan setelah menontonnya. Selain beberapa tujuan tadi, ada beberapa judul yang sengaja dibuat untuk menghadirkan suasana terror kepada penonton. Membuat ketidaknyamanan ketika menontonnya.
Orphan arahan Jaume Collet-Serra tampaknya dimaksudkan untuk merusak kenyamanan penonton. Sejak film dibuka, kita sudah digempur dengan gambar-gambar yang mengguncang rasa. Pekik kesakitan dari Kate Coleman (Fera Varmiga) dan ceceran darah sukses membuat penonton tidak nyaman.
Sebenarnya, Orphan mempunyai garis cerita yang sederhana. Untuk menyembuhkan luka akibat kematian bayi dalam janinya serta persitiwa silam yang terus memnghantuinya, Kate memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan. Bersama suaminya, John Coleman (Peter Sarsgaard), Kate pergi ke sebuah panti asuhan dan terpikat dengan Esther (Isabelle Fuhrman).


Tak dinyana, bocah yang awalnya terlihat sempurna tersebut, menyimpan iblis dalam dirinya yang siap memangsa siapa saja yang menyakiti hatinya dan juga menghalangi apa yang dia inginkan. Bak laba-laba, Esther dengan tenangnya menjerat dan menghabisi sasarannya, tak terkecuali dua anak Kate dan John, yakni Daniel (Jimmy Bennett) dan Max (Aryana Engineer) yang tuna rungu.
Berbagai aksi dari Esther inilah yang digunakan oleh sutradara untuk menggedor jantung penonton dan membangkitkan rasa tidak nyaman sekaligus geram terhadap si setan kecil tersebut. Masalahnya, sutradara menghadirkannya terlalu berlebihan, yang parahnya ditingkahi musik olahan John Ottman yang juga berlebihan.


Contohnya saja adegan Kate membuka pintu kulkas. Dalam film yang pernah kita lihat sebelumnya, ketika pintu kulkas ditutup, tiba-tiba dihadirkan sosok yang mebuat penonton kaget. Dalam Orphan, sosok yang diharapkan tidak ada, namun dengan pedenya musik tetap dihadirkan. Selain untuk menambah durasi, Gilasinema tidak paham mengapa adegan ini dihadirkan. Begitupun adegan ketika Kate menggosok gigi.
Film ini makin tidak membuat nyaman dengan pondasi cerita yang kurang meyakinkan dan cenderung membodohi. Diangkatnya motif kelainan DNA memang menjadikan film ini berbeda dengan film sejenis lainnya, namun bagi penonton yang kritis hal tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang sayangnya tidak terjawab memuaskan.


Penonton dipaksa untuk menelan mentah-mentah kelainan DNA bernama hypopituitarism (akrab dengan istilah ini?) menyebabkan penderitanya mengalami masalah dalam hal pertumbuhan fisiknya. Gilasinema tertarik menelusuri hal baru ini, dengan pemahaman dengan adanya ketidaknormalan DNA harusnya ada masalah kesehatan pada penderitanya. Benar saja, ternyata hypopituitarism ada kaitannya dengan kerusakan otak dan tumor. Jadi, aneh saja ketika ada penderinya yang bisa beraksi dengan trengginas dan beringas.
Yang lebih menyebalkan lagi, banyak karakter yang dibuat bodoh, salah satunya psikiater yang dengan entengnya membuat kesimpulan dari satu kali pertemuan. Sedangkan disisi lain, sosok Esther digambarkan mempunyai kecerdasan luar biasa yang sayangnya digunakan untuk menyakiti orang-orang yang menghalangi jalannya.


Orphan juga terjebak pada ke-klise-an. Anak yang menyimpan iblis didalamnya kenapa sih sering digambarkan berambut hitam dan berperilaku santun nan kaku? Kenapa juga sosok ibu yang harus digambarkan susah payah mencoba meyakinkan semua pihak akan keganjilan yang ada, sedangkan si ayah menganggapnya sebagai angin lalu.
Aksi Esther juga berjalan terlalu mulus karena ditempatkan pada sebuah keluarga yang bermasalah. Coba saja si Esther ini dihadirkan pada sebuah keluarga normal, pasti ceritanya bakal lain. Gilasinema malah lebih menyukai salah satu episode Desperate Housewives, yakni ketika Lynette harus “bertarung” dengan anak tirinya yang tidak kalah psycho dengan Esther. tanpa bermaksud untuk mencoba terlihat cerdas dengan membawa isu kelainan genetic, kisah dalam Desperate Housewives tersebut justru terkesan lebih riil.


Diluar beberapa kelemahan tadi, Orphan sangat terselamatkan dengan olahan akting dari Isabelle Fuhrman. Perhatikan bahasa tubuh dan wajahnya yang benar-benar iblis. Benar-benar menyebalkan dan membuat penonton ingin menendang bokongnya. Mengherankan sekaligus takjub melihat aksinya dipuji banyak pihak. Gilasinema membandingkan dengan kontroversi yang muncul ketika Dakota Fanning diperkosa di film Hounddog. Ternyata Holly lebih permisif terhadap anak kecil sinting nan sadis.
Penampilan Fera Varmiga juga tidak kalah menyakinkan. Terlihat sekali dia serius mendalami perannya dengan mempelajari bahasa tuna rungu dan juga sedikit “menarikan” jarinya di tuts piano. Aktris satu ini tampaknya senang dengan karakter seorang ibu setelah sebelumnya melakoninya di Joshua dan The Boy in the Stripped Pajamas. Yang menyedihkan justru Peter Sarsgaard, yang karakternya seakan hanya diributkan persoalan seksual, hingga tidak mengalami perkembangan karakter yang berarti.


Sebagai sebuah tontonan yang dimaksudkan untuk menghadirkan suasana terror, sebenarnya sutradara Jaume Collet-Serra cukup berhasil. Beberapa kejutan lumayan sukses membuat penonton terhenyak. Sayang sekali hal ini tidak diimbangi dengan kekuatan naskah. Endingnya juga terlalu dipaksakan, khususnya dalam pemilihan lokasi eksekusi. Namun, bagi penggemar film – film tegang, Orphan sangat sayang untuk dilewatkan. 2,75/5


KELUH…..
…..KESAH ini ditujukan untuk pengelola bioskop yang ada di Plaza Ambarukmo yang dengan tidak bijaksana mengijinkan 4 orang anak dibawah umur (benar-banar masih belia!) menyaksikan film ini. Jelas-jelas, film ini di monitor belakang loket ditujukan untuk penonton Dewasa, kenapa mempersilahkan gerombolan penonton belia tadi untuk masuk. Bagi yang sudah melihat film ini, pasti tidak akan merekomendasikan film ini untuk penonton belia, mengingat konten kekerasan, seksual serta dialog-dialog yang provokatif di dalamnya.. Untung anak-anak tadi tidak melihat adegan persalinan di awal yang mungkin saja bisa menghantui mereka.

Senin, 24 Agustus 2009

ENTOURAGE

Senin, 24 Agustus 2009 5

Ada yang suka dan mengikuti seri TV Entourage tidak sih? Bagi penggila sinema, rasanya Entourage menjadi tontonan wajib yang sayang banget untuk dilewatkan. Kesannya memang penuh gaya hidup hedonis, namun sejak secara intens mengikuti serial yang diproduseri oleh Mark Wahlberg, Gilasinema menjadi sedikit paham mengenai seluk beluk kehidupan di Holly sana. Bagaimana sebuah film direncanakan, diproduksi dan dipasarkan.
Seri TV yang katanya mencomot beberapa kisah perjalanan dari Mark Wahlberg ini juga mengangkat bagaimana seorang bintang “dilahirkan”, dan berkaitan erat dengan studio, agen, publicist, pekerja film seperti sutradara, penulis scenario serta sesama bintang, dan juga orang-orang disekitarnya yang selau memberikan dukungan. Di Amrik sana, seri ini sudah memasuki musim ke – 6. Gilasinema baru mengikuti sampai musim ke – 5. Emmy dan Golden Globe, bahkan Bafta, memberi pengakuan akan kualitas dari seri TV ini dengan selalu memasukkannya dalam seri unggulan.



SEASON 1
Vincent Chase (Adrian Grenier) memulai debut dengan merilis “Head On”. Pada musim awal ini kita dikenalkan dengan orang-orang disekitar Vince, seperti kakaknya yang mulai tidak laku, Jhonny Drama (Kevin Dillon), sobat dekatnya, Eric (Kevin Connoly) dan Turtle (Jerry Ferrara), serta Ari Gold (Jeremy Piven) seorang artist agent yang bermulut besar, kasar, rasis dan berbagai sifat buruk lainnya. Asshole deh pokoknya. Namun uniknya dia merupakan sosok yang loyal, terutama kepada Vince dan istrinya.
Pada musim awal ini, Vince dan kawan-kawan digambarkan hampir setiap hari menjalani kehidupan penuh hura-hura. Pesta sana, pesta sini dan bertemu banyak cewek cantik nan sexy. Kalu Vince selalu beruntung dalam soal cewek, berbeda dengan Jhonny dan Turtle yang kesulitan memikat lawan jenis, sedangkan Eric digambarkan sosok yang setia pada pasangan. Suatu hal yang sering dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya. Di akhir musim, Eric naik pangkat menjadi manajer Vince.



SEASON 2
Di akhir musim 1, Vince diceritakan menuju lokasi syuting film berikutnya, Queens of Boulevard yang merupakan film indie. Kita diajak untuk ikut menikmati kemeriahan Sundance Film Festival. Meski mendapatkan gelar “calon bintang”, Vince ternyata tidak bergelimang harta. Karena sikapnya yang sok idealis, dia menolak untuk berperan di film calon blocbuster, Aquaman. Namun ketika kondisi keuangan makin tidak terkendali, dia terpaksa menerima peran tersebut dan akan diarahkan oleh James Cameron!
Demi promosi, Vince wajib hadir di Comic Con dan di ajang ini dia bertemu dengan pemeran Aquagirl yakni Mandy Moore yang ternyata punya sejarah percintaan dengan dirinya dan celakanya bisa mengancam keberadaannya di produksi filM Aquaman. Jhonny Drama karirnya masih mandeg dan sering berkonfrontasi dengan Turtle yang sedang mencoba mengangkat karir rapper Saigon , sedang Eric menjalin hubungan dengan Sloan (Emmanuelle Chriqui), yang merupakan anak dari bos-nya Ari. Bonus di episode ini adalah ketika Drama mendapatkan hadiah ultah berupa konser U2!



SEASON 3
Aquaman menjadi hit dan memcahkan rekor “best opening all of time”. Ya, iyalah…secara yang menggarap James Cameron. Namun Vince menolak meneruskan aksinya di Aquaman 2 dan digantikan oleh Jake Gyllenhal. Sebuah keputusan yang berakibat kurang bagus, dan akan muncul di musim 5. Vince lebih tertarik dengan proyek impiannya, menjadi Pablo Escobar di film Medellin.
Ari yang sedang merintis kantor artist agen baru, setelah dipecat dari kantor lama, mencoba menghalangi niat Vince karena akan berdampak kurang bagus bagi karirnya. Hal ini menyebabkan Vince memecat Ari, dan ditangani oleh Amanda (Carla Gugino). Dasar Vince, Amanda berhasil dia seret ke ranjang. Hubungan tersebut tidak berlangsung lama, karena Vince memutuskan kembali pada Ari yang bahkan membantu mencari pihak yang bersedia menyokong biaya produksi Medellin.
Eric dipusingkan hubungannya dengan Sloan, apalagi setelah aksi threesome yang melibatkan teman Sloan, Tori (Malin Akerman). Belum lagi kehadiran si tengil Seth Green yang memanaskan suasana. Drama mendapatkan titik cerah dengan terlibat di sebuah seri TV.



SEASON 4
Musim ini lebih banyak berfokus pada Medellin. Bagaimana Stephen Gaghan didatangkan untruk mematangkan naskah, sampai ribetnya mencari distributor yang bersedia memasarkan Medellin. Sutradara Medellin, Billy Walsh, memperkeruh suasana dengan sikap pelitnya mempertontonkan hasil kasar kepada mereka yang berminat.
Billy Walsh bertekad memutar pertama kali film yang dia arahkan di Festival Film Cannes, dan hebatnya (salut kepada para pelobi), Cannes bisa ditembus. Hasilnya ternyata diluar dugaan, meski mendapatkan pihak yang mau membeli Medellin, film tersebut mendapatkan kritikan pedas dari para kritikus.



SEASON 5
Pasca kegagalan Medellin, karir Vince terancam hancur, karena dia masuk daftar artis “yang wajib dihindari”, bahkan untuk peran pembantu sekalipun. Ditengah keterpurukan, Vince dihadapkan pada pilihan yang dilematis dengan hadirnya tawaran bermain di film dimana pemeran utamanya adalah seekor anjing, sedangkan dia mengincar bisa main dalam film tentang pemadam kebakaran “Smoke Jumpers”. Titik cerah menghampiri karena berkat sebuah peristiwa tak terduga, menempatkan Ari sebagai pimpinan studio.
Masalah bukannya pergi, justru masih menghalangi karir Vince ketika sutradara Smoke Jumpers, Verner (Stellan Skarsgård), cenderung mensabotase usaha Vince menyelamatkan karirnya. Meledaklah konflik antara Vince dan Verner yang berdampak penghentian proses produksi. Hal ini menyebabkan Vince kembali terpuruk yang diperparah dengan penolakan dari Gus Van Sant. Namun tampaknya dewi fortuna masih menaungi Vince, ketika dating tawaran dari … Martin Scorsese! Dan akhirnya Turtel berhasil menggaet seoarng cewek, orang kondang lagi, yaitu Jamie-Lynn Sigler yang main di The Sopranos.


Selain jalinan cerita yang runut dan amat sangat dinamis, salah satu hal yang sayang untuk dilewatkan di Entorage adalah kehadiran para bintang tamu yang memerankan diri mereka sendiri. Mark Wahlberg tentu saja hadir buat mengangkat serial ini, dan kehadiran bintang-bintang seperti Ali Larter, Jessica Alba, Luke Wilson, Scarlett Johansson, Brooke Shields, Dennis Hopper, Eric Roberts dan lain-lain sayang untuk dilewatkan.
Tidak hanya para bintang, Entourage juga menghadirkan sutradara kondang (James Cameron, Gus Van Sant, Martin Scorsese, Peter Berg, Frank Darabont, Sydney Pollack, Peter Jackson, M. Night Shyamalan, Brett Ratner dan Paul Haggis), pemusik (Tony Bennett, T.I., Snoop Dogg, Mary J. Blige, U2, Kanye West), olahragawan (Vitali Klitschko, Lennox Lewis , Phil Mickelson dan Michael Pelps) serta beberapa nama berpengaruh lainnya (Jimmy Kimmel, Hugh Hefner, Joel Silver, Stephen Gaghan, Brian Grazer dan Whoopi Goldberg). Tidak mau ketinggalan para bintang bokep juga ikutan nimbrung, seperti Jesse Jane, Devon dan Teagan Presley di ajang Comic Con. Untuk musim ke 6, hadir Jay Leno, Curtis (50 Cent) Jackson, David Schwimmer, Tom Brady, Lil' Wayne, LeBron James, Matt Damon dan….Zac Efron!


Entourage mungkin akan lebih dinikmati oleh para penonton cowok.Tak terhitung berapa banyak episode yang mengeksploitasi tubuh para cewek, yang mungkin akan membuat jengah penonton cewek. Selain itu, umpatan dan makian menjadi hal yang lumrah meluncur dari mulut para karakter yang dihadirkan, terutama Ari Gold. Yang paling Gilasinema tunggu seri TV ini adalah ketika Vince berhasil menembus Oscar, dan rasanya arah kesana sudah ada dalam otak para penulisnya. Dan rasanya seru juga kalu ada Entourage versi cewek.

Sabtu, 22 Agustus 2009

PARIS 36 ( FAUBOURG 36 )

Sabtu, 22 Agustus 2009 6

Malang nian nasib Pigoil (Gérard Jugnot), menjelang berakhirnya tahun 1935 dia mendapati istrinya berselingkuh dengan seorang bintang panggung, dan tepat memasuki tahun 1936, pimpinan kelompok pertunjukan tempat dia mencari nafkah, Chansonia, memutuskan mencabut nyawanya sendiri karena terbelit hutang. Galapiat (Bernard-Pierre Donnadieu) sebagi pemilik gedung pertunjukan, memutuskan untuk menutup tempat tersebut.
Maka terpecahlah para anggota kelompok penghibur tadi. Pigoil tenggelam dalam minuman keras, sementara tanpa dia ketahui, anaknya Jojo (Maxence Perrin) mencari uang dengan mengamen. Milou (Clovis Cornillac) asyik dengan aksi mengumpulkan massa demi menyerang para kaum mapan, dan masih ada Jacky (Kad Merad) yang terpaksa menganggur.


Seberkas cahaya menerangi kehidupan Pigoil yang harus merelakan Jojo ikut ibunya, yakni ketika Pigoil, Milou dan Jacky bersatu menghidupkan kembali Chansonia. Setelah membereskan tempat, tiba saatnya mengadakan audisi. Pada bagian ini, muncullah gadis muda yang cantik dan bersuara emas yang baru saja kehilangan ibunya, Douce (Nora Arnezeder). Atas rekomendasi Galapiat, dengan niat tertentu tentu saja, Douce bisa diterima dengan mudah, justru menjadi juru selamat.
Masalah kembali datang ketika Douce mendapatkan tawaran untuk meningkatkan karirnya. Tanpa sang bintang, Chansonia kembali terpuruk. Penampilan Jacky terkesan menjemukan, Milou yang merana karena menyimpan rasa terhadap Douce serta Pigoil yang frustasi akibat kerinduan terhadap anaknya. Atas bantuan seorang pria tua yang 20 tahun tidak pernah keluar rumah, Monsieur TSF (Pierre Richard), Douce tergerak untuk kembali ke Chansonia. Dan ternyata Monsieur TSF ini adalah pria yang sangat mencintau ibu Douce.
Chansonia kembali bangkit dan menjadi terkenal. Setiap pertunjukkan selalu dijubeli penonton. Namun ternyata masalah belum mau beranjak pergi dari Chansonia, karena masih ada Galapiat yang seorang tiran. Hal ini diperburuk dengan percintaan antara Milou dengan Douce yang membuat Galapiat berniat menyingkirkan Milou. Sebuah peristiwa membuat Pigoil harus masuk penjara selama 10 tahun dan memupuskan harapannya melihat laut.


Gilasinema tertarik melihat Paris 36 gara-gara di posternya tercantum tulisan “from the creators of The Chorus (Les choristes). Film ini sempat masuk unggulan Film Asing Terbaik dan Lagu Terbaik di Oscar 2004 dan merupakan salah satu film favorit Gilasinema karena ditonton beberapa kalipun belum menimbulkan rasa bosan. Karena digarap oleh orang yang sama, Christophe Barratier, tidak salah dong kalau Gilasinema berekspektasi mendapatkan kesan yang sama.
Secara keseluruhan, Paris 36 masih mampu memberikan hiburan, apalagi ketika Chansonia mengalami kebangkitan yang kedua. Pertunjukkan nyanyi yang ditampilkan mampu menggugah keceriaan penonton. Namun entah mengapa, secara emosi sulit untuk terikat sepenuhnya kepada cerita yang dihadirkan layaknya ketika melihat The Chorus. Hadirnya hal-hal berbau politis kok sedikt mengganggu kenikmatan ya. Mungkin bagi mereka yang memahami sejarah perpolitikan Perancis, bisa sedikit hanyut dalam sub plot ini.


Paris 36 juga terasa mengalami kebingungan dalam menghadirkan hiburan segar. Hadirnya beberapa kemuraman, bahkan adegan kekerasan yang lumayan sadis, mampu merusak keceriaan yang dihadirkan. Belum lagi, meski sedikit, adegan perempuan telanjang, membuat Paris 36 tidak jelas mau menyasar penonton mana. Sebagai tontonan keluarga kok rasanya kurang begitu aman. Apalagi, sebagai satu-satunya pemeran belia, tokoh Jojo kurang mendapatkan porsi yang cukup. Kisah cinta Milou dan Douce juga kurang tersaji meyakinkan.
Untungnya dalam film ini ada Nora Arnezeder. Kecantikannya yang segar dan natural sayang sekali untuk dilewatkan. Sama seperti perannya bagi kelangsungan Chansonia, kehadirannya sangat membantu menghidupkan Paris 36. Dan dalam film ini, dia menyanyikan sendiri lagu-lagunya lho. Jangan lewatkan performance show dengan lagu yang mengisahkan tentang pergi ke laut. Kereeeen….!


Gilasinema penasaran dengan judul film ini, yang dari Faubourg 36 berubah menjadi Paris 36 untuk kepentingan rilis internasonal (baca: bahasa Inggris). Gilasinema bertanya-tanya, apakah Foubourg itu merupakan nama lain dari Paris. Ternyata setelah di cari di Wikipedia (seperti biasa), disebutkan bahwa “Faubourg is an ancient French term approximating "suburb" (now generally termed banlieue)”. Jadi rasanya kurang tepat penggunaan judul Paris 36 itu. 3,25/5

Kamis, 20 Agustus 2009

BOX OFFICE INDONESIA SEMESTER I 2009

Kamis, 20 Agustus 2009 14

Sebagai penggila sinema, umumnya mempunyai minat mengikuti pergerakan pendapatan sebuah film. Gilasinema sendiri, setiap Senin pagi, bangun tidur langsung membuka daftar perolehan di US Box Office. Rasanya asyik saja melihat pergerakan angka serta beberapa analisis dari para ahli dagang. Gilasinema paling senang membandingkannya dengan ongkos produksi sebuah film. Sebagai contoh, Terminator Salvations dan Angels and Demon, sebenarnya sangat tidak menguntungkan untuk pasar domestic, serta kisah kejantanan Wolverine ternyata kalah menguntungkan bila dibandingkan dengan sekumpulan pria teler di The Hangover.
Bagaimana dengan Indonesia? Susah sekali mengamati pergerakan rupiah berkaitan industri film domestic. Hampir tidak ada rilis resmi berkaitan dengan pendapatan sebuah film tiap minggunya. Kalaupun ada kaitannya, hanya berupa berupa kabar sebuah PH mengadakan syukuran atas kesuksesan film yang mereka rilis menjaring sekian penonton. Itupun kadang banyak yang meragukan keakuratannya.


Salah satu teman Gilasinema yang menjadi wartawan film Indonesia di tabloid Bintang Indonesia pernah mengeluhkan hal ini dalam sebuah tulisannya yang diamini oleh praktisi film Nasional, Yan Wijaya. Daftar box office film Indonesia hanya bisa di update setiap semester atau 6 bulan sekali! Teman Gilasinema tersebut menjadi salah satu tukang warta yang paling konsisten melaporkan perolehan jumlah penonton, selain membuat beberapa laporan menarik seperti sensasi sebelum perilisan film dengan mengangkat pendapat dari Christine Hakim dan Joko Anwar.
Berikut daftar estimasi 10 Film Indonesia Terlaris 2009 hingga akhir Juni 2009 seperti yang dimuat dalam Bintang Indonesia, edisi 951 akhir Juli kemarin :


Untuk data terbaru, Ketika Cinta Bertasbih 1 kabarnya telah menembus 4 juta penonton dan The tarix Jabrix 2 masih berpeluang menambah jumlah penonton karena masih tayang di beberapa kota. Dengan dirilisnya jilid 2 sebelum Lebaran nanti, 5 juta penonton tampaknya akan mudah diraih oleh film ini. Dewi Perssik tampaknya masih disukai penonton, meski filmnya secara kualitas….yah begitulah. Paku Kuntilanak akan masih menjadi pembuktian Dewi Perssik sebagai lumbung emas Maxima. Julia Perez bisa mengancam eksistensi DP dengan menempatkan dua filmnya dengan raihan total 1 juta penonton.
Dari daftar tersebut, sedikit angin cerah menyegarkan dunia perfilman nasional. Horor dan komedi seks tidak lagi mendominasi, yang bisa jadi disebabkan penonton menjadi lebih cerdas dalam memilih tontonan. Atau mungkin sudah jera ditipu oleh sensasi murahan serta poster dan judul film yang bombastis? Untuk King, menurut Gilasinema bisa meraih lebih banyak penonton kalau saja tidak dirilis hampir bersamaan dengan Garuda di Dadaku.


Semester 2 tahun 2009 banyak menyajikan film-film yang berpotensi menggaet lebih banyak penonton. Selain Ketika Cinta Bertasbih 2, akan ada Get Married 2 dan kalau penonton belum kapok akan dirilis Suami Suami Takut Istri 2. Merantau dan Merah Putih menjadi ajang pembuktian sumber daya asing di dunia film nasional. Penasaran dengan dua film yang dipuji-puji kualitasnya, Cin(T)a dan Macabre. Begitupun dengan animasi Meraih Mimpi.
Ada juga Bebek Belur yang mempertemukan bintang-bintang senior seperti Deddy Mizwar, Didi Petet, Rima Melati dan Ida Kusumah (sudah tahu kan sponsornya apa). Sedang Sang Pemimpi rasanya bakal mudah menggaet penonton. Just wait and see.

FAST TIME AT RIDGEMONT HIGH


“Learn it. Know it. Live it.”

Gara-gara melihat tampang tengil dari Sean Penn di posternya, film ini sempat Gilasinema acuhkan untuk beberapa waktu dan berhasil “ditemukan” kembali ketika kebingungan mencari tontonan yang tidak membebani pikiran. Dan ternyata, Fast Time at Ridgemont berhasil menyajikan sebuah tontonan yang segar menghibur.
Ada beberapa tokoh yang disorot dalam film perdana sutradara Amy Hackerling ini. Jack Spicoli (Sean Penn) seorang pemuda yang selalu tampil dalam keadaan tidak sadar yang sering bermasalah dengan guru Sejarah, namun jago surfing, Stacy Hamilton (Jennifer Jason Leigh) yang dipusingkan dengan pencarian cinta hingga banyak bereksperimen dengan seks, dibantu oleh temannya, Linda Barrett (Phoebe Cates) yang menjalani hubungan jarak jauh dengan pria lebih tua.
Selain itu, ada Mark Ratner (Brian Backer), pemuda lugu yang naksir Stacy dan banyak mendapatkan petuah cinta dari Mike Damone (Robert Romanus). Hadir pula kakak Stacy, Brad (Judge Reinhold) yang dipusingkan dengan kerja part timenya demi membeli mobil.
Seperti umumnya film remaja, tokoh-tokoh diatas dihadapkan pada permasalahan yang sering muncul di usia mereka seperti masalah dengan guru, percintaan, pertemanan dan juga impian. Cameron Crowe yang menulis naskah berdasarkan buku yang juga dia tulis, mengalirkan cerita dengan amat sangat lancar. Saking lancarnya, beberapa masalah yang seharusnya menjadi ledakan, justru disikapi dengan santai, seperti masalah aborsi (dengan biaya $150!).


Dirilis tahun 1982, tampaknya Fast Time at Ridgemont High masih terkena imbas spirit kebebasan yang marak bergejolak di era 1970-an. Masa di mana AIDS belum menjadi momok yang mengerikan. Lihat saja betapa santainya Stacy melakukan hubungan badan (melepas keperawanan) tanpa pengaman. Minimnya atau belum berkembangnya akses informasi, menjadi landasan polosnya karakter dari Stacy, yang tanpa merasa risih berlatih oral seks menggunakan wortel di kantin sekolah! Adegan yang lucu dan memorable, dan sepertinya menginspirasi orgasme palsu Meg Ryan di When Harry Met Sally.
Menyaksikan Fast Time at Ridgemont High tak ayal membuat Gilasinema membandingkan dengan komedi remaja di abad 21. Kalau dalam film Fast Time at Ridgemont High, para remaja seringkali berkonfrontasi atau bahkan tanpa dukungan dari mereka yang berumur (orang tua dan guru), film remaja sekarang ini justru menggambarkan guru dan orang tua sebagai sosok yang supportif.


Persamaan dengan film komedi remaja sekarang ini, Fast Time at Ridgemont High juga menampilkan beberapa nude dan sex scene yang lumayan vulgar. Jennifer Jason Leigh yang bertampang polos nampak tidak risih memperlihatkan bagian atas tubuhnya pada beberapa adegan. Dan jangan lewatkan adegan Phoebe Cates yang cantik dan fisik yang segar di pinggir kolam. WOW!!! Sayang dia lebih suka mengurus Kevin Kline selama 20 tahun terakhir.
Ada satu hal positif yang bisa di petik dari Fast Time at Ridgemont High, yakni bagaimana para remaja yang tumbuh di era di mana budaya nge-mall mulai menjamur, terlihat serius dengan kerja part time-nya. Suatu hal yang jarang dijumpai di film remaja mutakhir, kecuali lewat beberapa TV series.
Fast Time at Ridgemont High sangat direkomendasikan bagi mereka yang mencari hiburan segar. Sebagai bukti, AFI memasukkan film ini ke dalam daftar AFI's 100 Years... 100 Laughs, tepatnya di urutan 87. Bahkan di tahun 2000, Entertainment Weekly, menempatkan film ini dalam list "50 Best High School Movies". Posisinya juga tidak main-main, karena film ini berada di posisi no. 2!


Selain itu, film ini sayang dilewatkan karena keterlibatan beberapa nama yang menjadi actor besar di masa sekarang. Siapa yang mengira kalau tiga bintang yang hadir di film ini akan memperoleh Oscar di kemudian hari, yakni Sean Penn, Forest Whitaker dan Nicholas Cage (dalam credit title tertulis Nicholas Coppola). Bahkan Sean Penn bisa mengkoleksi 2 piala Oscar, dan menjadi salah satu actor yang dihormati dan disegani.
Penulis naskahnya juga tidak main-main, karena ada Cameron Crowe yang juga berhasil membawa Oscar untuk penulisan naskah film Almost Famous yang diakui kualitasnya oleh banyak pihak. Amy Hackerling sendiri, meski tidak terlalu produktif, merupakan salah satu sutradara wanita yang berhasil merilis beberapa karya yang menjadi hit dan berkualitas, seperti Look Who's Talking dan Clueless. Judul terakhir selain melejitkan Alicia Silverstone juga diakui sebagai salah satu film remaja terbaik.


O iya, film ini tidak akan asyik dinikmati tanpa hadirnya lagu-lagu keren yang dipilih oleh composer jempolan, Danny Elfman. Lagunya enak-enak dan menyatu dengan cerita, seperti "Somebody's Baby" (Jackson Browne), "Moving in Stereo" (The Cars), "Speeding" (The Go-Go's), "Never Surrender" (Don Felder), "Everybody's Girl" (Rick Springfield) dan "So Much in Love" (Timothy B. Schmit). Dan simak juga closing song yang unik, "Goodbye, Goodbye" (Oingo Boingo). 3.5/5

Sabtu, 15 Agustus 2009

GREY GARDENS

Sabtu, 15 Agustus 2009 5

“True glamour never fades”

Pada tahun 1975, dirilis sebuah film documenter berjudul Grey Gardens. Film ini sempat diputar di ajang Festival Film Cannes. Meski tidak menuai prestasi dan mendapatkan penilaian beragam dari para kritikus film, Grey Gardens, entah mengapa, menjadi sebuah karya cult yang banyak dicari orang.
Kisahnya dimulai ketika David Maysles dan Albert Maysles bermaksud menelisik kehidupan First Lady saat itu, Jacqueline Kennedy Onassis. Niat ini mempertemukan mereka dengan bibi dan sepupu dari Jacqueline Kennedy Onassis yang tinggal di sebuah kota kecil yang sepi di pinggir pantai, Edith Ewing Bouvier Beale (Big Edie) dan Edith Bouvier Beale (Little Edie).
Pertemuan yang justru membuat mereka membelokkan niat, karena ternyata kehidupan ibu dan anak eksentrik yang neurotic tersebut dianggap lebih menarik untuk diangkat ke layar. Apalagi dengan skandal menghebohkan yang melibatkan keduanya dan tempat yang mereka tinggali, Grey Gardens.
Grey Gardens versi HBO ini mencoba menarasikan film Grey Gardens tadi. Big Edie (Jessica Lange) adalah seorang mantan penyanyi amatir yang memutuskan hidup tenang di Grey Gardens. Di awal film digambarkan betapa Big Edie sangat dekat dengan anak perempuannya, Little Edie (Drew Barrymore), bahkan terkesan sangat berpengaruh dalam kehidupan Little Edie, hingga terjalin hubungan yang saling membutuhkan antara keduanya.
Awalnya Little Edie enggan tinggal dengan ibunya di Grey Gardens karena dirinya berkeinginan merintis karir di dunia hiburan, namun ketika Little Edie mengalami patah hati setelah menjalin hubungan dengan pria beristri , Julius Krug (Daniel Baldwin), langsung dimanfaatkan Big Edie untuk “menggaet” anak perempuannya yang rambutnya mudah rontok ketika stress ini untuk tinggal bersama. Selain rasa sakit tadi, demi melihat kondisi fisik ibunya yang rapuh, Little Edie terpaksa mengubur impiannya menjadi aktris.


Sejak saat itu, dimulailah gaya hidup tidak lazim (bahkan cenderung jorok) dari dua perempuan kesepian tersebut. Keduanya sibuk dengan dunia mereka hingga alpa mengurus rumah besar yang mereka tempati, bahkan diri mereka sendiri. Rumah yang awalnya indah menjadi rapuh dan kotor. Sampah dimana-mana, dengan bau menyengat yang tidak mereka sadari mengingat sudah biasa. Hewan-hewan pengerat dengan bebas merdeka hilir mudik di sekitar mereka. Kegemaran Big Edie akan kucing, makin membuat hunian mereka sangat tidak higienis.
Masalah datang ketika pihak Dinas Tata Ruang dan Tata Kota (atau semacam itulah) memberi ultimatum kepada kedua penghuni untuk membersihkan rumah mereka. Peristiwa ini sempat membuat heboh pada waktu itu dan menarik banyak media. Ultimatum tadi tentu saja ini diacuhkan oleh Big Edie dan Little Edie yang hanya mendapatkan tunjangan $300 setiap bulannya dari mantan suami Big Edie, Phelan Beale (Ken Howard). Untung kemudian datang Jacqueline Kennedy Onassis (Jeanne Tripplehorn) yang membantu “meremajakan” Grey Gardens.
Terus terang, Gilasinema agak kesulitan menikmati film Grey Gardens ini. Selain karena karakter dari Big Edie dan Little Edie yang bisa dibilang kurang simpatik, kisah keduanya juga sebenarnya kurang begitu menarik, terlebih bagi mereka yang tidak mengenal keduanya. Apalagi keduanya semata dikenal sebagai kerabat dari Jacqueline Kennedy Onassis. Menyaksikan Grey Gardens sedikit mengingatkan pada tontonan karya sineas ganjil, David Lynch.


Yang membuat Gilasinema bertahan adalah penampilan para pemainnya yang bagus sekali, terutama Drew Barrymore dan Jessica Lange. Lewat film ini, Drew Barrymore berhasil memamerkan pencapaian aktingnya yang prima. Bisa dibilang inilah penampilan terbaik dari aktris yang kerap bermain di jalur komedi romantis tersebut. Penampilan Drew Barrymore makin kuat berkat balutan kostum dan make up yang oke banget. Lihat saja penampilannya dengan berbagai model kerudung (mirip jilbab) dan juga gelambir lemak serta bintik pada kulitnya. Tapi untungnya sutradara Michael Sucsy masih memberi kesempatan Drew Barrymore untuk tampil (sangat) cantik di adegan-adegan awal.
Drew Barrymore memang patut diacungi jempol akan usahanya, namun menurut Gilasinema, applaus panjang patut diberikan kepada Jessica Lange. Berkat terasah pengalaman (dan juga Oscar), acting Jessica Lange sangat memukau. Apalagi ketika dia memerankan Big Edie tua, dalam polesan make up yang ciamik, penampilan Jessica Lange berhasil membuat penonton lupa akan wajah aslinya. Jessica Lange seakan melebur dalam karakter Big Edie. Di film ini dia juga memamerkan kemampuannya bernyanyi yang lebih baik dibandingkan Meryl Streep. Sayang, karir Jessica Lange kalah moncer dibandingkan Meryl Streep.
Penampilan Ken Howard dan Jeanne Tripplehorn meski cuma sesaat juga bagus dan efektif. Sebagai Jacqueline Kennedy, tampilan fisik Jeanne Tripplehorn lumayan mendekati sosok aslinya. Transformasi Grey Gardens dari rumah yang sangat indah menjadi kumuh tak terawat yang ditunjukkan oleh sutradara Michael Sucsy sukses membuat penonton takjub dan seakan menyimbolkan kemunduran dan kerusakan dari penghuninya.


Namun seperti tagline diatas, keglamouran tetap hinggap pada keduanya, meski saat di usia senja sekalipun, bahkan setelah mereka tiada karena designer Marc Jacobs koleksi bertema "Little Edie" untuk musim gugur 2007. 3,25/5

DOWNLOADING NANCY


Internet selain bisa mendekatkan ternyata juga bisa menjauhkan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Internet kalau digunakan dengan bijak, banyak manfaat yang bisa didapatkan, namun yang namanya manusia, ada saja yang polahnya hingga apa yang seharusnya membawa kebaikan justru mendatangkan keburukan.
Nancy (Maria Bello) dilanda depresi. Mempunyai masa lalu kelam waktu masih belia, kini dia dihadapkan pada pernikahan dingin tanpa gairah. Suaminya, Albert (Rufus Sewell), asyik dengan dunianya sendiri tanpa peduli apa yang dimaui oleh Nancy. Ditengah kesepiannya, Nancy mencurahkan isi hatinya pada terapis, Carol (Amy Brenneman).
Merasa tidak ada yang sanggup menutup lubang dalam hatinya, Nancy yang “sibuk” menyakiti diri dengan menyayat –nyayat tubuhnya (Mano?!), menemukan Louis (Jason Patric) di dunia maya. Dari curhat intens, Nancy merasa Louis bisa membebaskan dirinya dengan membantu mencabut nyawa Nancy.


Dengan tekad bulat, Nancy meninggalkan suaminya untuk menemui Louis. Tak dinyana keduanya justru terlibat hubungan ganjil penuh hasrat (cinta?). Albert yang kalut dengan menghilangnya istrinya, mencoba mengkilas balik hubungannya dengan Nancy. Hingga suatu hari, tiba-tiba saja Louis muncul dihadapannya. Apakah Nancy sudah tewas di tangan Louis?
Downloading Nancy bukanlah sejenis tontonan yang membuat penonton feeling good, justru sebaliknya, film arahan Johan Renck sangat depresif karena penuh muatan yang menekan rasa. Penataan gambar yang pelit bermain warna serta aura sepi membuat penonton merasa tidak nyaman. Belum lagi muatan kekerasan, bahkan dalam adegan yang (harusnya) erotis sekalipun, yang disajikan secara frontal dan vulgar, bisa saja membuat beberapa penonton enggan menuntaskan film ini hingga cerita berakhir.
Bagi penggemar film Eropa dengan tema-tema yang agak ekstrim layaknya Anatomy of Hell, Romance X atau Salo, mungkin akan terpuaskan dengan materi cerita dan gambar yang disajikan. Dan nampaknya, public di Amerika belum bisa menerima tontonan semacam ini. Ketika di putar di Sundance 2008, banyak penonton yang beranjak dari kursi.


Maria Bello yang menurut Gilasinema mempunyai kemampuan acting setara Kate Winslet, tapi dengan peruntungan yang jauh berbeda, berusaha bermain total dengan merelakan tubuhnya diobral habis-habisan dan juga diperlakukan semena-mena baik dengan tangannya sendiri ataupun tangan tokoh lain. Untuk urusan telanjang, bintang yang satu ini tidak kalah royal dengan Kate Winslet. Lihat saja aksinya di The Cooler atau History of Violence. Keberanian Maria Bello ini bisa saja menjadi boomerang bagi karirnya, mengingat dia tidak “hidup” di perfilman Eropa.
Meski berkisah persoalan rumah tangga, ada satu hal menarik yang ingin diangkat oleh Johan Renck berdasarkan naskah olahan Pamela Cuming dan Lee Ross ini, yakni betapa manusia terkepung oleh realitas palsu yang membuat jarak antar manusia satu dengan manusia yang lain makin menganga. Kesibukan manusia akan hal-hal berbau virtual membuat makin menipis empati dan simpati.
Manusia terperangkap dengan dunianya sendiri, dan membentuk perilaku pemuasan hasrat dirinya sendiri (maaf…masturbasi) yang secara tidak sadar membuat manusia teralienasi. Perasaan sendiri dan terasing inilah yang mendorong manusia melakukan bunuh diri. 2,75

Kamis, 06 Agustus 2009

FUNNY PEOPLE : GEORGE SIMMONS

Kamis, 06 Agustus 2009 8


Sungguh terlalu kalau tidak mengenal nama yang satu ini. George Simmons bisa dibilang sebagai comedian Hollywood papan atas selama ini. Aksi-aksinya yang menghibur selalu ditunggu jutaan penonton di belahan dunia. Tidak peduli kebencian para kritikus film, karena kualitas filmnya yang sangat tidak berisi, perolehan dolar yang fantastis dari setiap film yang dia bintangi membuktikan kalau George Simmons dicintai penikmat film. Tidak salah rasanya bila Time menobatkannya sebagai The Funniest People All of Time.


Meski sudah kondang, tidak lantas membuat George Simmons bermalas-malasan. Tidak kurang 8 (delapan) judul film siap dia lempar untuk kurun waktu hingga 2 tahun ke depan. Karena spesialisasinya membuat orang tertawa, tidak mengherankan film-film yang bakal dia rilis masih berbalut guyonan-guyonan yang diprediksi mampu mendorong banyak orang untuk antri di depan loket bioskop. Berikut film-film yang bakal dia rilis. Jangan sampai dilewatkan!


THE CHAMPION
Dirilis musim panas tahun depan, film ini sudah pasti bakal mudah mengeruk dolar. Temanya termasuk unik dan segar. Dalam film ini, George Simmons akan bertarung melawan Jack Black dalam usaha memecahkan rekor dunia makan hot dog terbanyak dan tercepat. Persaingan keduanya makin sengit ketika keduanya memperebutkan cewek yang sama yang diperankan oleh Cameron Diaz. Kesuksesan film ini sudah di depan mata ketika tersiar kabar sebuah wara laba fast food memberi dukungan kepada film ini dengan meluncurkan variasi hot dog terbaru yang diberi nama serupa dengan judul film ini, The Champion. Yang mengejutkan banyak pihak, Andrew Stanton (Finding Nemo dan Monster, Inc) berhasil dirayu untuk duduk sebagai sutradara! Desas-desus yang beredar, Andrew Stanton mendapatkan bayaran yang besar untuk menggarap film non animasinya yang pertama. Hmm….makin membuat penasaran.


MY BEST FRIEND IS A ROBOT
George Simmons memerankan seorang professor muda yang cerdas. Meski dibekali kejeniusan, namun George Simmons tidak mempunyai teman satu orang pun mengingat sikap sombong dan arogan yang dia miliki. Namanya orang cerdas, tentu tidak kehilangan akal. Dia mulai “menciptakan” teman untuk dirinya sendiri dengan merakit sebuah robot (diperankan Owen Wilson). Dengan tagline “Real friendship can’t be programmed”, penonton pastinya sudah tahu kemana arah cerita akan digulirkan. Film ini akan menjadi pembuktian bagi Chris Columbus, yang juga menulis naskahnya, setelah mengalami kegagalan lewat I Love You, Beth Cooper. Sebagai pemanis, ikut nimbrung Reene Zellweger sebagai love interest dari karakter yang diperankan George Simmons.


DOG’S BEST FRIEND
Anjing selalu disebut-sebut sebagai sahabat manusia paling setia. Bagaimana dengan anjing? Film ini mencoba membalik premis tadi. Dog’s Best Friend mengisahkan seekor anjing pintar yang harus “mengasuh” agen baru yang belum berpengalaman, bodoh dan cenderung mengacaukan sebuah operasi penumpasan aksi kejahatan. Bisa dibayangkan kelucuan yang bakal hadir dalam film besutan Paul Greengrass ini, yang kembali berkolaborasi dengan Tony Gilroy dalam penulisan naskahnya, setelah sebelumnya keduanya sukses menghadirkan petualangan seru lewat dua seri Bourne. Tidak hanya itu. karena keduanya, Matt Damon akhirnya mau ikut serta dalam film ini dan akan berperan sebagai musuh bebuyutan dua tokoh utama tadi. Kabarnya Julia Roberts akan muncul sekilas dalam sebuah adegan. Dan jangan lewatkan aksi Gisele Bundchen sebagai atasan yang cantik seksi.


MERMAN
“A love story that’s a little fishy”
Mengisahkan cerita cinta ganjil antara Elizabeth Banks dengan ikan duyung yang diperankan oleh Goerge Simmons. Keduanya dipertemukan ketika tokoh yang diperankan Elizabeth Banks mencoba bunuh diri setelah merasa jenuh menemui kegagalan demi kegagalan dalam kehidupan cintanya. Sejak pertemuan tersebut, hidup Elizabeth Banks jauh lebih riang dan mengalami petualangan bahari yang indah sekaligus dan menegangkan. Biar semakin menarik, “buntut” ikan duyung bisa hilang ketika malam menjelang. Tidak asyik rasanya tanpa kehadiran tokoh antagonis. Kehadiran Jhonny Depp sebagai nelayan (bajak laut?) yang terobsesi menangkap ikan duyung untuk diambil jantungnya yang bisa membuatnya abadi, membuat kisah cinta ganjil tersebut makin tidak mudah. Film ini disutradarai oleh Harold Ramis.


ASTRO – NOT
“In space, no ane can hear you clean”
Akhirnya George Lucas berani keluar dari bayang-bayang kesuksesan Indiana Jones dan Star Wars dengan menggarap Astro-Not. Berdasarkan naskah tulisan sahabat baiknya, Steven Spielberg, Astro-Not akan mengisahkan seorang tukang bersih-bersih khusus sampah di luar angkasa yang diperankan oleh George Simmons. Terbayang Wall-E? Steven Spielberg sendiri mengakui ide cerita muncul setelah dia menyaksikan berita makin menumpuknya sampah di luar angkasa sana yang akan mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi apabila tidak segera ditangani. Kebetulan juga dia baru saja menemani cucunya menonton Wall-E. Selain kehadiran Megan Fox sebagai alien seks, Darth Vader, C3PO dan R2D2 sudah menyatakan kesediaan untuk tampil sebagai cameo.


RE – DO
“His second chance is his only hope”
Mengisahkan seorang lelaki Bengal yang durhaka (George Simmons) yang dipusingkan dengan kenakalan anaknya. Hukum karma seolah menghinggapinya, ketika sesaat sebelum peristiwa yang membuatnya sekarat, dia melakukan sebuah perbuatan yang membuat orang tuanya (Jack Nicholson dan Meryl Streep) mengutuknya menjadi bayi untuk mengetahui bagaimana ayah-ibu tadi mengasuh dan mengasihinya. Bayangkan seorang pria dewasa yang ugal-ugalan terjebak dalam raga bayi. Re – Do diarahkan oleh David Fincher.


SAYONARA DAVEY!
Film yang disutradarai oleh Dennis Dugan (You Don’t Mess With The Zohan) ini mengisahkan sebuah keluarga di Jepang yang harus menerima kehadiran pria Amerika dalam program pertukaran mahasiswa, bernama Davey (George Simmons). Bukan karena prestasi si Davey ini bisa sukses ikut pertukaran mahasiswa karena yang terjadi sebenarnya adalah dia sengaja “disingkirkan” oleh pihak universitas asal yang bosan dengan aksi sang trouble maker yang tidak mau lulus ini. Pak Rektor (Robert De Niro) tidak bisa men-DO Davey karena adalah anaknya. Kelucuan bakal hadir karena pergesekan budaya serta perilaku keluarga Jepang yang santun dengan banyak anak, sedang Davey sendiri digambarkan sangat pecicilan. Namun di Jepang inilah, Davey akhirnya mengalami proses pendewasaan. Untuk menceriahkan layar, Rinko Kinkuchi akan dihadirkan sebagai cewek yang diincar oleh Davey.


CODE GREEN
“One has to survive an unfamiliar environment. The other has to survive his partner”
Dwayne Jhonson akan memerankan seorang bintang brengsek yang diberi hukuman memberi pelayanan masyarakat karena tertangkap sering membuang sampah di sembarang tempat. Pelayanan tersebut berupa menjaga sebuah hutan lindung selama 30 hari. George Simmons bertugas sebagai pemandu selama Dwayne Jhonson menjalani hukuman tersebut. Dengan karakter yang lugu dan pecinta alam, George Simmons menghadapi situasi yang melelahkan karena harus terus mengawasi pergerakan sang bintang yang ugal-ugalan. Hingga keduanya dihadapkan pada situasi yang mengharuskan keduanya bahu membahu menyalamatkan hutan dari kebakaran yang ditimbulkan oleh Lindsay Lohan yang mengadakan pesta gila-gilaan bersama Paris Hilton dan kawan-kawan di tengah hutan. Shawn Levy (Night at the Museum) mengarahkan film ini.


LITTLE BY LITTLE
“Life is a big deal”
Berbeda dengan barisan judul film diatas, film yang satu ini bisa jadi merupakan ambisi dari George Simmons untuk bersaing di ajang Oscar. Dari tagline nya saja sudah tercium keseriusan cerita yang akan dihadirkan, apalagi ditambah fakta kalau Clint Eastwood bertindak sebagai sutradara film ini. Yang membuat penasaran, mereka yang terlibat menyimpan rapat kisah dalam film ini. Namun dari posternya (apel dan seberkas cahaya), tampaknya film ini akan mengisahkan perjalanan tokoh utamanya yang penuh masalah dalam usaha menuju jalan yang benar. Di rilis bertepatan dengan Natal, rasanya selain menjanjikan kualitas, film ini akan tetap bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga. Jangan lewatkan penampilan Kate Winslet sebagai istri George Simmons.
 
GILA SINEMA. Design by Pocket