Kamis, 17 Desember 2009

MALAM ANUGRAH FFI 2009

Kamis, 17 Desember 2009

Film Terbaik | Identitas
Pemeran Utama Wanita Terbaik | Titi Sjuman - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik | Henidar Amroe - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Pemeran Utama Pria Terbaik | Tio Pakusadewo - Identitas
Pemeran Pendukung Pria Terbaik | Reza Rahardian - Perempuan Berkalung Sorban
Penyutradaraan Terbaik | Aria Kusumadewa - Identitas
Penata Musik Terbaik | Aksan dan Titi Sjuman - King
Penata Suara Terbaik | Shaft Daultsyah dan Khikmawan Santosa - Ruma Maida
Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik | Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak - Cin(T)a
Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik | Djenar Maesa Ayu dan Indra Herlambang - Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penata Sinematografi Terbaik | Ipung Rahmat - Pintu Terlarang
Penata Artistik Terbaik | Kekev Marlov - Identitas
Penyuntingan Terbaik | Wawan I. Wibowo - Pintu Terlarang
Film Dokumenter Panjang Terbaik | Ayam Mati di Lumbung Padi
Film Dokumenter Pendek Terbaik | The Last Journey
Lifetime Achievement | Sophan Sophiaan
Penghargaan Khusus Film Anak Terbaik | Garuda di Dadaku
Penghargaan Khusus Sutradara Baru Terbaik | Djenar Maesa Ayu - Mereka Bilang, Saya Monyet!


Tuh kan, menebak pemenang FFI memang jauuuh lebih sulit ketimbang menebak pemenang Oscar, bahkan menebak siapa yang bakal masuk nominasi Oscar pun tetap lebih mudah. Tebakan Gilasinema meleset semua. Memang belum melihat Identitas dan Ruma Maida, namun berdasar diskusi dengan rekan Gilasinema yang seorang wartawan film Indonesia, Ruma Maida terlihat lebih unggul. Rekan Gilasinema tersebut mencak-mencak ketika Identitas menggondol Piala Citra untuk Penata Artistik Terbaik, mengingat (katanya) filmnya diramaikan dengan spanduk produk pereda sakit maag. Adakah hubungan antara obat sakit maag dengan Identitas? Kebetulan, eksekutif produser film ini merupakan bintang iklan obat maag tersebut, selain juga sebagai kepala Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N).


Gilasinema sendiri heran dengan kemenangan Aksan dan Titi untuk penataan musik di King karena sentuhan mereka lebih terasa di film Garuda di Dadaku. Mungkinkah hal ini untuk membagi rata piala? Kesan kondangan sedikit terasa ketika Garuda di Dadaku diberi Penghargaan Khusus untuk Film Anak Terbaik. Sial bagi Jamila dan Sang Presiden dan Emak Ingin naik haji tidak kebagian tumpeng. Diberikannya penghargaan Sutradara Pendatang Baru Terbaik kepada Djenar Maesa Ayu juga terasa dipaksakan. Kalau ada Sutradara Pendatang Baru, Kenapa tidak ada Aktor dan Aktris Pendatang Baru?
Penyelenggaraan FFI 2009 kali meski banyak kekurangan serupa pelaksanaan tahun kemarin (baca : MALAM ANUGERAH FFI 2008) namun bisa dibilang jauh lebih semarak dibandingkan pelaksanaan tahun kemaren yang konyol banget. Sayang sekali, suasana movie award-nya kurang terasa karena penampilan pemusik yang terlalu dominan dan tak ada kaitannya dengan film-film yang bersaing. Tak heran Djenar Maesa Ayu langsung mengeluarkan gugatan dari atas panggung!
Penonton di kelas festival attitude-nya juga patut dikritisi. Dari laporan pandangan mata rekan Gilasinema yang wartawan tadi, banyak penonton yang sibuk sendiri pada saat dinyanyikan lagu Indonesia Raya, begitupun pada saat segmen Lifetime Achievement Award. Dari para tamu undangan juga masih terdapat beberapa yang hadir memakai pakaian yang kurang formil. Kehadiran Pak Budiono bisa disikapi positif sebagai dukungan terhadap dunia perfilman, meski juga membuat acara terkesan menjadi ajang perbaikan citra pihak – pihak tertentu. Kalau tidak salah, beberapa hari sebelumnya, Pak Budi menghadiri KPI Award lho.
Malam Anugrah FFI 2009 bisa dibilang malamnya film Indie, terutama film-film yang berformat digital. Pengakuan ini memang sudah sepantasnya atau hanya sekedar aksi cari muka untuk membuktikan FFI telah berubah dan menuju jalur yang benar? Entahlah. Namun yang pasti masih banyak hal yang harus dibenahi, dan tentu saja butuh dukungan dan masukan dari banyak pihak, terutama dari mereka yang seringnya protes melulu. Semoga FFI kedepannya bisa makin jauh lebih baik lagi. VIVA FILM INDONESIA!

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Sayang ya artis2 ternamanya gak kompak, banyak yg gak dtg, kesannya kurang meriah, padahal di Jakarta.

GILASINEMA mengatakan...

Yup...kedatangan mereka kan bisa dimanfatkan buat bacain pemenang

ajirenji mengatakan...

Saya sudah nonton film yg bang Gilasinema jagokan tapi belum ditonton hehe. Saya nggak suka Identitas, terlalu drama panggung dan sindirannya nggak lucu. Ruma Maida masih lebih mendingan, walau memang belum bagus sekali.

Pintu Terlarang menang di teknis. Lucu juga ya, film yg melibatkan Joko Anwar selalu menang sesuatu di FFI, padahal si empunyanya udah ignorant sama FFI...hihi

Btw, bener kan jargon "itu" keluar lagi, capek deh...

gilasinema mengatakan...

Hahaha...iya muncullagi dan bakalan terus muncul :D

Itu yang ignorant kalo ditanya kenapa ikut,jawabnya enak banget "itukan kewenangan produser"

delupher mengatakan...

btw saya masih kurang mengerti kenapa identitas menang best picture?????mank saingannya sapa aja.....identitas sih mank unik critanya,,,tapi dalaM hal2 teknis sungguh mengecewakan menurut saya.....menang ide crita aja tugh...

GILASINEMA mengatakan...

Mungkin pertimbangan para juri memang karena film ini unggul dari segi cerita. Saya sendiri belum sempat melihat film ini. Jadi belum bisa berkomentar banyak.

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket