Jumat, 16 November 2007

DAS LEBEN der ANDEREN ( THE LIVES OF OTHERS )

Jumat, 16 November 2007 2


Kita sering bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita ini termasuk orang baik atau orang jahat? Apakah kita bisa menjadi orang yang baik? Film ini mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan tersebut. Bahwa kita bisa menjadi orang baik kalau kita mau. Mau untuk berbuat baik, dan mau membuka diri untuk menerima kehadiran orang lain. Karena dengan kehadiran orang lain, kita bisa melihat dari banyak sudut.
Film ini berhasil mengalahkan Pan’s Labyrinth dalam perebutan Film Asing Terbaik di ajang Oscar 2007 kemarin. Selain itu, film ini juga mencetak sejarah di German Film Award dengan meraih 11 nominasi, serta memenangkan kategori penting seperti sutradara, cerita dan aktor.
Film yang indah dengan setting sebelum runtuhnya tembok Berlin ini mengisahkan Hauptmann Gerd Wiesler (Ulrich Mühe), seorang anggota Stasi (State Secret Police), yang ditugasi untuk mengamati pasangan Georg Dreyman (Sebastian Koch) dan Christa-Maria (Martina Gedeck)yang dicurigai aktivis pro Jerman Barat. Dalam perkembangannya, setelah tahu motif sebenarnya di balik tugas tersebut, Hauptmann semakin terlibat dalam kehidupan orang yang diamatinya. Dia seakan disadarkan akan kenyataan siapa dirinya yang sebenarnya dan akan makna serta tujuan hidupnya.
Menarik mengamati perkembangan dari karakter Hauptmann ini yang dimainkan secara gemilang oleh Ulrich Mühe. Dia berhasil mengubah ekspresi dinginnya di awal film menjadi lebih hidup di akhir film karena kebaikan yang telah dia buat. Karakter dingin dan terasing karakter ini juga dikuatkan dengan tempat dimana dia tinggal dan bagaimana dia menyalurkan hasrat seksualnya.
Sebuah adegan memikat ditunjukkan ketika Hauptmann harus menginterogasi secara langsung Christa-Maria di depan atasannya. Sebuah adegan yang sangat emosial menurutku, dan menegangkan.
Film ini semakin indah dan kuat dengan iringan musik gubahan Gabriel Yared yang berjudul Sonata for A Good Man. Judul ini pada awalnya akan dipakai sebagai judul film ini, tapi entah mengapa pada perkembangannya judul The Lives of Others yang dipakai. Padahal judul Sonata for A Good Man lebih tepat untuk menggambarkan isi dari film ini. Apalagi judul ini juga dipakai oleh Georg Dreyman sebagai judul buku yang dia tulis, yang dia dedikasikan untuk orang yang menyelamatkan hidupnya. Sebuah akhir cerita yang manis, semanis senyum Hauptmann di akhir film.
Film ini menjadi salah satu film terbagus yang aku lihat sepanjang tahun 2007 ini. 4,5/5

HAIRSPRAY


Film musikal banyak mengangkat cerita seputar dunia hiburan, begitu juga yang ditampilkan dalam Hairspray. Masalah rasial yang diangkat dalam film ini mengingatkan kita pada film Dreamgirls ataupun Save the Last Dance. Berbeda dengan Dreamgirls yang „gelap“, film Hairspray ini terlihat lebih cerah, ringan dan menghibur. Mengikuti film ini tanpe terasa badan ikut bergoyang. Film ini seakan-akan dibuat untuk membawa suasana segar bagi yang melihatnya.
Meskipun demikian, film ini lumayan berhasil dalam menyampaikan pesan (terutama terhadap kaum muda) yakni tentang bagaimana meraih impian dan breakin’ the rule untuk menciptakan perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Coba Bukan Bintang Biasa kemaren menggunakan tema cerita seperti ini, mungkin hasilnya akan jauh dari biasa (banget)
Film ini makin segar dengan kolaborasi bintang-bintang dewasa dengan bintang muda yang dengan kesegarannya mampu mengimbangi kematangan akting para senior mereka. Di jajaran senior ada John Travolta dengan peran yang tidak lazim, Michelle Pfieffer, Chritopher Walken dan Quenn Latifah. Sedangkan para bintang muda yang tampil meliputi James Marsden, Amanda Bynes, Zac Effron, Brittany Snow, dan kalau Dreamgirls berhasil melejitkan Jennifer Hudson, disini ada Nicky Blonsky yang bertubuh tidak kalah subur. Dari barisan bermain tersebut, yang lumayan mengejutkan adalah James Marsden yang ternyata piawai menari dan suaranya juga enak di kuping.
Hairspray mengisahkan perjuangan seorang gadis dengan tubuh subur dalam mengejar impiannya untuk tampil dalam acara TV dengan rating tinngi yang disponsori oleh perusahaan Hairspray, The Corny Collins Show. Ketika pada akhirnya dia berhasil masuk pada acara tersebut, dia terlibat dalam peristiwa berbau rasial. Sebuah isu yang sensitif di Amerika pada tahun 1960-an. Selanjutnya kisah bergeser pada perjuangan gadis tersebut dengan teman-temannya untuk mendobrak pemisahan berdasarkan warna kulit.
Meski bertema rasial, sutradara Adam Shankman yang juga seorang koreografer berhasil menghadirkan tontonan yang renyah. Sebuah pilihan yang bisa berdampak negatif, karena bisa mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Meskipun bukan sebuah karya istimewa, film ini bagus buat ditonton para remaja, terutama sebagai motivasi untuk mewujudkan mimpi mereka.
Yang menarik adalah penggambaran sosok orang tua dalam film ini. Selain gambaran orang tua yang konservatif dan orang tua yang melakukan apapun demi anaknya meski dengan cara yang kotor sekalipun, film ini memberikan harapan dengan menggambarkan sosok orang tua idaman. Orang tua yang menerima anaknya apa adanya. Orang tua yang mengajarkan esensi dari apa yang dinamakan kejujuran, perbuatan baik dan buruk. Bahwa yang banyak belum tentu baik dan benar. 3/5


English


HAIRSPRAY

There are so many show bizz theme that lift on the musical film, so is Hairspray. Racial issue on this film remain us to Dreamgirls and Save the Last Dance. But Dreamgirls is darker than Hairspray that is so bright, cheerful, light, and entertain. This film is made for bring the joy to whom that saw it.
The film got to its point, specially to the teen, which is how to reach the goal and breakin' the rule to make changes for better tomorrow. If, just if, Bukan Bintang Biasa used the same theme like on this film, perhaps the result would not be so usual.
Hairspray become fresher with the mature stars and rookie stars colaboration. There're John Travolta, who play unusual role, Michelle Pfieiffer, Christoper Walken and Quenn Latifah as the mature stars. On the rookie, there're James Marsden, Amanda Bynes, Zac Effron, Brittany Snow, dan if Dreamgirls have Jennifer Hudson as the rising star, Hairspray have Nicky Blonsky who have the healthy shape either. And apparently that James Marsden had the quality to dance and to sing on this film.
Hairspray is telling us about a girl who had a healthy shape(fat) that struggle to chase her dream to appear on the TV show that sponsored by the Hairspray Company, The Corny Collins Show. In the end, when she could make it come true, she involved in a racis circumtances. A very sensitif issue on America at 1960's. The story goes to the fight of a girl with her friends to smashed the discrimination based on color. Adam Shankman, the director, is succes to represent the fresh show based on the racial theme. A choice that can be a risk, because it could be blurred the massage. Even not a masterpiece, this film is good to see for the teen as a motivation to make the dream come true.
There is the picture of parents here that interesting. The conservatif parents and the parents that will do anything to their son, even the dirties way, this film is giving a hope that picturize the ideal parents. Parents that take the son who he/she is, that teach the essence of good and bad, truth, that major is not always good. 3/5.

MILYANG ( SECRET SUNSHINE )




Film ini memikatku karena keberhasilan aktris utamanya, Do-yeon Jeon, meraih gelar Aktris Terbaik di Festival Film Cannes 2007. Selain itu, film ini juga didaftarkan sebagai wakil dari Korea Selatan untuk bersaing di Oscar 2008 nanti.
Judul Secret Sunshine merujuk pada tempat yang dituju oleh Shin-ae (Do-yeon Jeon), yakni Miryang. Kepergiannya ke tempat tersebut karena suaminya dulu selalu memimpikan untuk pulang ke tempat dimana dia dilahirkan. Dan karena suaminya telah meninggal dunia, dia berharap dengan kedatangannya ke kota tersebut bisa mengikis kepedihannya. Dia tinggal di Miryang bersama anaknya, dan membuka kelas piano untuk bertahan hidup.
Dalam sebuah adegan di tunjukkan bahwa sebenarnya Shin-ae ini anak orang kaya. Tapi kehidupannya tidak bahagia, karena orang tuanya tidak suka dengan keputusan yang dia tempuh. Berbagai hal di masa lalunya ini, membuat Shin-ae menjadi pribadi yang kesepian, tidak mudah percaya dan sinis, bahkan terhadap kepercayaannya terhadap Tuhan.
Sampai datang sebuah tragedy hebat yang menimpa dirinya. Yang membuat dirinya berusaha mencari tempat untuk bernaung. tempat dimana dirinya bisa berpegang untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalani hidup. Ketika akhirnya dia mendapatkan kekuatan yang dia harapkan, dia kembali diuji dengan sebuah peristiwa yang menguji kepercayaannya.
Seperti kebanyakan film Korea, film ini mengalir dengan amat sangat pelan. Mendayu-dayu, dan kadang terlalu mengeksploitasi kesedihan dari pelaku utama. Untungnya penulis cerita berhasil merangkai cerita yang diangkat dari kisah novel ini menjadi tontonan yang tidak membosankan. Cerita berhasil mengikat penonton untuk terus mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya pada tokoh utama dalam film ini.
Selain cerita, kekuatan film ini memang terletak pada primanya penampilan dari Do-yeon Jeon. Dia berhasil memerankan sosok yang kesepian, frustasi dan marah, tetapi terlihat bersinar ketika merasa mendapatkan pencerahan. Adegan ketika dia meraung-raung di dalam sebuah komunitas sungguh mengiris perasaan. Emosi yang kuat dia tampilkan ketika adega Shin-ae mengunjungi musuhnya di penjara dan mendapati suatu hal yang di luar kemauannya. Film ini ditutup dengan adegan Shin-ae memotong sendiri rambutnya, kemudian adegan beralih ke tanah dekat Shin-ae berada. Entah apa maksudnya. Yang jelas film ini berharga untuk disaksikan, selain karena acting dari Do-yeon Jeon, juga untuk mengingatkan kita akan keimanan kita terhadap apa yang kita yakini. Yang tetap menjadi sebuah rahasia. 3,5/5

English

MILYANG(SECRET SUNSHINE)

This film is attract me because of the succed of its main role of actress, Do-yeon Jeon, that achieved Best Actress on the Cannes Film Festival 2007. Besides that, this film also on list to represent South Korea on Oscar 2008. Secret Sunshine’s tittle direct to the place that Shin-ae’s (Do-yeon Jeon) to go, which is Miryang. She goes to Miryang because her husband used to dream that someday he will come to the place that he was born. When she goes to that place she hoped that she will vanish her sad of losing her husband. She stayed in Miryang with her son and opened a piano class for living.
There’s a scene that shows Shin-ae is from the rich family. But she has unhappy live, because her parents do not agreed with the decision that she made. Many things happened in her past, and it makes Shin-ae become lonely person, cynical, unbeliever, even with the existence of God.
Then a tragedy is come to her. That make her try to found a shelter. A place that can give something to hold to have the strenght to trough live. When she finally found the strenght, once again she trough a difficult time that test her faith.
Like others Korean Film, the plot is flowing so slow. Rumbling, and too ecxploiting the wipe of the main role. Luckly the scenario writer succeed to combine the unbored story which come up from a novel. The plot is succeed to tie up the viewers to stay put and watch what happen next to the main role.
Beside story, the strength of the film is in the first rate of the role of Do-Yeon Jeon. She did well playing the lonely, frustated, mad person but keep look shines when she has an enlightment. A scene when she roar in a community is very touching. She shows strong emotion when Sn-ae visited her enemy in jail and she found something beyond her will. The film is closing by a scene that Shin-ae cut her hair by her-self, then the shot is moving on to the ground where Shin-ae at. Never know what really meant of it. It’s obvious that Secret Sunshine is worth to see, beside the play from Do-yeon Jeon, it’s also remind us to our faith what we are believing. What still become a secret. 3.5/5.

KNOCKED UP


Lucu itu relatif. Sebuah film bisa saya bilang lucu, tetapi orang lain bisa berkata sebaliknya. Hal ini tepat untuk menggambarkan film Knocked Up. Di Amerika sana film ini dipuji-puji sebagai film terlucu tahun ini, yang menyebabkan saya tertarik melihat film ini. Setelah melihat film ini, saya jadi heran mengapa film ini dikatakan lucu. Memang pada beberapa bagian, film ini lumayan bisa memancing tawa. Tetapi bila dibandingkan dengan karya Judd Apatow sebelumnya, 40 Year Old Virgin yang bertaburan dialog-dialog lucu yang cerdas, film ini lebih menonjolkan humor kasar dan vulgar, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat lucu.
Temanya sederhana dan banyak diangkat di sinetron kita, tentang hamil di luar nikah. Sebuah peristiwa yang membuat pusing orang yang terlibat, apalagi dengan kenyataan pria yang menghamili adalah orang yang baru kita kenal, dengan kehidupan finansial yang belum mantap dan kurang dewasa dalam pola pikir.
Film ini berangkat dari pemikiran pria yang tidak pernah tumbuh dewasa, perempuan yang digambarkan matang dalam berpikir dan ketakutan manusia modern dengan yang namanya komitmen (pernikahan). Kita kemudian diajak untuk mengikuti perkembangan karakter kedua tokoh utama di film ini. Penulis cerita selanjutnya mengarahkan film ini menuju kisah romantis yang sayangnya tidak membuatku terpikat, karena agak dipaksakan.
Untuk sebuah film komedi, film ini terlalu banyak hal yang dipanjang-panjangkan yang tidak diimbangi dengan konflik yang menarik. Untuk memancing tawa, sutradara menyuguhkan adegan-adegan vulgar yang sebenarnya tidak lucu, seperti adegan setelah gempa bumi atau adegan ketika bayi akan keluar.
Beberapa bagian film ini memang menawarkan kelucuan seperti memilih “posisi” yang tepat dan nyaman. Kesegaran film muncul berkat penampilan Katherine Heigl yang sedap ( segar ) dipandang dan pemunculan beberapa bintang beken.
Setelah melihat film ini, aku memikirkan tema seperti ini digarap di Indonesia. tentu hasilnya akan lain. Dalam bayanganku, filmnya akan seperti American Beauty, komedinya lebih gelap dengan berbagai sindiran di dalamnya. Dan berharap semoga hasilnya tidak sperti dalam sinetron Kawin Muda atau Akibat Hamil Muda-nya Sally Marcellina. 2,5/5


English

KNOCKED UP

Funny is relative. A film that can make me laugh, but for someone else is not. This is picturize Knocked Up. In America, where the film come from, this film is praise as the funniest film of the year, this is why I am interesting to see the film. When I saw it, I've wonder why this film said funny. In some scene, the film can make joke. When its compare with previous Judd Apatow's creation, 40 Year Old Virgin, that containing many smart dialogue, Knocked Up is stick out raw and vulgar humor, which is funny for some people.
Simple theme, and very popular to raise on Indonesian Sinetron, about pregnant before married. A moment that make confused for people that involved, plus the man that responsible for the pregnant is not the man we know well, with less of financial and pattern of mind.
This film is raised from a man that never grow up, a girl that mature on thinking and the frighten of commitment (married things). In the film we will see the character development from the main figure. The story teller direct the film become a romantic story, but it's little bit forced and do not impress me much.
For a comedy film, the film is too long for many things and there's is no conflict in it. The director try to show the vulgar scene to push the laugh button, but he did not make it, such as the earth quake scene, or the scene when the baby is about to come out.
Some part of the film is offering joke, such as choose the precise and comfort position. The fresh is come out because Katherine Heigl performance that nice to see and the appearance of some superstar.
After see the film, I'm thinking about the same theme that can produce in Indonesia, but of course the result would be different. For the imagination, the film would be like American Beauty, with darker comedy and a lot of satire. And hoping that the result would not be like Sally Marcellina's Kawin Muda and Akibat Hamil Muda. 2.5/5

PARADISE MURDERED


Seperti halnya novel misteri, film misteri pembunuhan selalu menarik untuk diikuti. Menarik, karena menantang kecerdasan kita untuk menebak pelaku utamanya adan motif yang melatarbelakangi perbuatannya tersebut. Di tengah semakin jarangnya film misteri yang bagus, yang bisa diterima logika, hadirlah film buatan Korea Selatan ini.
Bagi yang mengharapkan kisah dengan pemain yang memikat secar fisik, dianjurkan tidak melihat film ini. Pemeran di film ini sangat jauh dari menarik karena hampir semua pemain di film ini didandani kumuh lagi kumal, kecuali dua bintang mudanya. Pun demikian, kedua bintang ini secara fisik juga hanya bisa dimasukkan di kategori lumayan.
Meskipun film ini berkisah mengenai misteri pembunuhan di sebuah pulau, sutradara beruasa membungkusnya dengan balutan komedi. Kalau terbiasa menyaksikan atau membaca kisah misteri, tentu sudah bisa menebak pelaku utama di film ini ketika film berjalan tidak sampai setengahnya. Yang membuat penasaran kemudian adalah motif yang ada di balik perbuatan itu.
Terus terang, motif yang dipakai disini cukup membuat penonton menggelengkan kepala, karena tidak dipikirkan sebelumnya. Hal ini disebabkan, pelitnya sutradara dalam memberikan informasi tentang latar belakang dari karakter-karakter yang ada dalam film ini. Film yang laris manis di negeri asalnya ini lumayanlah sebagai pengisi waktu. 2,5/5


English

Paradise Murdered

It’s like any other mysteri novel, massacre mysteri film is always attractive to follow. Attractive, because it’s challenge our intelligent to guess the criminal and his motive. A South Korean film is present the quality of mysteri film that make sense in recently is very rare.
To whom that expect a story with physically attractive from the role, this film is not a recommendation. The actor is not physically attractive, because all the actor is make up to dirty and rumpled, except for two young star. Thus, they just not bad for the criteria.
Even the film just only telling the murder mysteri on an island, the director is trying to wrap it with comedy. If we used to watch or read the mysteri story, we can predict the murderer when the film just a half play. What make the audience curious is the motive behind it.
The motive that used by the murderer here is enough to make the audience shake the head, because it’s not in though at all. This is because, the director is so cheap for giving the information about the background of the characters in the film. The box office film in its country,not bad to spend the free time. 2.5/5

Sabtu, 10 November 2007

SHENG XIA GUANG NIAN ( ETERNAL SUMMER )

Sabtu, 10 November 2007 1



Film tentang rusaknya persahabatan akibat munculnya rasa cinta rasanya sudah banyak sekali dibuat. Tetapi bagaimana kalau rasa cinta itu tumbuh dari teman dengan jenis kelamin yang sama? Rasa-rasanya film dengan premis cerita seperti ini juga telah banyak dibuat. Mulai dai Y Tu Mama Tambien sampai dengan Tentang Dia yang produk nasional. Lalu apa keistimewaan dari Eternal Summer ini?
Film ini enak dinikmati mungkin karena film ini berusaha untuk jujur. Jujur, karena tema mencintai teman sendiri, banyak dari kita yang mengalaminya (entah jenis kelaminnya apa). Kejujuran film ini ditunjukkan dengan pemilihan pemain (Bryant Chang, Hsiao-chuan Chang dan Kate Yeung ) yang meskipun kadang terlihat asyik dan keren, kalu kita perhatikan, wajah mereka seperti mengingatkan akan teman-teman yang ada di sekitar kita, biasa saja. Film ini juga berusaha untuk tidak memberikan sebuah penilaian sepihak. Penonton dibiarkan untuk menentukan sikap sendiri terhadap cerita yang ditawarkan. Sampai film berakhir, tidak diputuskan apakah hubungan ketiga tokoh utama di film ini merupakan hubungan pertemanan atau hubungan percintaan.
Menjelang akhir cerita ditunjukkan adegan seks antara kedua aktor di film ini yang lumayan membuatku takjub, karena ternyata film Asia bisa membuat adegan seperti itu.
Intinya film ini mencoba menggambarkan betapa rumitnya hubungan pertemanan, ketika rasa cinta mulai muncul. Apalagi sampai melibatkan sex. Banyak film yang menggambarkan betapa sex bisa merubah segalanya. Sex change everything.
Di ajang Taiwan Golden Horse Award 2006, film ini berhasil membawa pulang satu piala untuk Bryant Chang sebagai Pendatang Baru Terbaik. 3/5

Rabu, 07 November 2007

NE LE DIS A PERSONNE ( TELL NO ONE )

Rabu, 07 November 2007 0


Film ini di ajang Cesar Award 2007 ( FFI-nya Perancis ) berhasil meraih 4 penghargaan untuk kategori Sutradara, Aktor, Musik dan Editing. Dan 4 unsur inilah kekuatan dari film ini. Sutradara berhasil menghasilkan sebuah film yang enak dinikmati dengan twist ending yang memikat, François Cluzet yang berperan sebagai dr. Alexander Beck, berhasil berakting dengan prima. Sosok suami yang kebingungan, marah dan terjebak dalam situasi yang mengancam hidupnya bisa dia wujudkan dengan mulus, selain dalam salah satu scene berani tampil polos ( suatu hal yang biasa di film Eropa ). Meskipun film ini termasuk ke dalam thriller tidak menghalangi penata musik untuk memasukkan lagu-lagu yang enak di kuping, selain tentu saja pas dengan cerita. Alur cerita makin enak dinikmati berkat editing yang rapi.

Delapan tahun yang lalu, dr. Alexander Beck kehilangan istrinya yang cantik, Margot Beck (Marie-Josée Croze ) karena dibunuh. Di masa kini, ketika dia berusaha melupakan bayang-bayang istrinya, muncul e-mail yang menunjukkan bahwa istrinya masih hidup. Sebuah kenyataan yang menghentak dan membingungkan, mengingat pada saat identifikasi, ayah Margot, Jacques (André Dussollier ) yakin bahwa yang meninggal adalah putri kandungnya.

Sejak kejadian e-mail tersebut, Alex berusaha menguak kebenaran. Di saat yang sama, ada pihak tertentu yang menempatkan dirinya sebagai kriminal, yang membuat dirinya dikeja-kejar oleh pihak yang berwenang. Makin parah, ketika dia dituduh membunuh istrinya.

Sampai disini misteri keberadaan Margot berhasil memikat penonton untuk terus mengikuti sampai akhir cerita. Sutradara benar-benar piawai membangun ketegangan cerita. Adegan paling asyik ketika pengejaran di jalan raya yang sangat padat kendaraan. Adegan sulit yang harus diperhitungkan dengan matang.

Berbagai pertanyaan di film ini di jawab menjelang film berakhir. Ketika rahasia sudah diurai satu persatu dengan jelas, sutradara masih menyimpan satu kejutan lain yang mendasari tindakan pelaku kejahatan dalam film ini.

Film yang diangkat dari novel karya Harlan Coben ( Amerika Serikat ) ini sedikit banyak mengingatkanku akan Crimson Rivers. Bagi yang gandrung dengan film tegang berbalut misteri, film yang diproduseri oleh Luc Besson ini tidak boleh dilewatkan. 3,5/5


English


TELL NO ONE


In the Cesar Award 2007, this film is made 4 awards for the category of Director, Actor, Music, and Editing. And the strength of the film is in this 4 substance. The director is did well to make an enjoyable film with the impressive twist ending. Francois Cluzet staring very well as dr. Alexander Beck. A confusing, upset husband that trapped on the jeopardy of his life and he can make it fantastic, and he show his body unwrapped (something usual in European Film). Even this is a thriller film, it’s not blocking the music director to insert song that nice to hear, beside it's suitable to its story. The plot become so enjoyable, thanks to the editor.

Eight years ago, dr. Alexander Beck Lost his beautiful wife, Margot Beck (Marie-Josee Croze) because been murdered. In present, when he tries to forget the shadow of his wife, suddenly came an e-mail that show his wife still alive. A shocking and confusing truth, when the recognizing the body, Margot's father, Jacques (Andre Dussollier) was sure that the dead body is his daughter.

Since he get the e-mail, Alex try to find the truth. At the same time, there's a side that put him self as a criminal, which make him chase by the law officer. It's become worse, when he accused as the murderer of Margot.

From here, Margot's existence become mysterious and make the audience keep follow the story till the end. The Director is sophisticated to build the tension on story. The most excited scene is the pursuit scene on the very crowded highway. Tough scene which have to carefully calculated.

Many questions answered at the end of the film. When secret is clearly released piece to piece, the director still have another surprise which is become the motive of the crime.
Tell No One is raised from Harlan Coben's Novel (United States of America), remain me to Crimson River. To whom that love the mysterious thriller film, Luc Besson's Tell No One can't be missed. 3.5/5

EFTER BRYLLUPPET ( AFTER THE WEDDING )


Apa yang terjadi setelah pernikahan? Sebuah kebenaran, yang mau tidak mau harus diterima dan dihadapi. Sebuah kebenaran yang menuntut adanya pengorbanan dan konsekuensi dari suatu hal yang dipilih. Mungkin ini yang ingin disampaikan oleh sutradara asal Denmark, Susanne Bier, lewat filmnya yang berjudul Efter Brylluppet ( After the Wedding ).

Dibintangi oleh Mads Mikkelsen yang tampil menyebalkan di Casino Royale, film ini mengalir pelan, tapi terasa puitis sehingga tidak membuat mata mengantuk.

Kisahnya bermula ketika Jacob ( Mads Mikkelsen ) yang mendedikasikan hidupnya menangani anak terlantar di India menerima penawaran bantuan dari pengusaha Denmark. Suatu hal yang datang tepat pada waktunya, mengingat yayasan yang dia kelola terancam tidak bisa diteruskan karena kurangnya dana.

Di awal film ini digambarkan dengan jelas betapa Jacob ini sosok yang penyayang terhadap anak-anak yang terbuang.

Menanggapi penawaran tersebut, Jacob pun terbang ke Denmark dengan membawa proposal. Di Denmark, pengusaha tersebut, Jorgen (Rolf Lassgård ), mengundang Jacob untuk datang ke pesta pernikahan putrinya, Anna (Stine Fischer Christensen ). Tak dinyana, di pesta tersebut dia bertemu dengan wanita dari masa lalunya, Helena (Sidse Babett Knudsen ). Cerita kemudian bergulir dengan mengungkapkan berbagai rahasia di masa lalu, yang membuat orang-orang yang terlibat menjadi terluka. Kebenaran yang muncul belum sempat diterima sepenuhnya, sudah muncul kebenaran-kebenaran yang lain yang membuat pelik batin para tokoh di film ini.

After the Wedding mengajak kita untuk memahami bahwa di balik sebuah peristiwa ada sesuatu setelahnya. Entah itu kebahagiaan, kepedihan dan pilihan-pilihan yang membuat hidup kita penuh warna, walau kadang rasanya terlalu pelik untuk dihadapi.

Film ini di Oscar kemarin, berhasil masuk nominasi di kategori Best Foreign Film. 3,5/5

English


EFTER BRYLLUPPET (AFTER THE WEDDING)


What would happen after the married? A truth which is we have to deal wheter we like it or not, a truth that demand the sacrifice and the consequences for something that we have been choose. Probably this is what Susanne Bier want to say trough her film Efter Bryllupet (After The Wedding).
Stared by Mads Mikkelsen that perform resentful in Casino Royale, the film is flowing slowly but it's feel like a poetry that isn't boring.
It start when Jacob (Mads Mikkelsen) who dedicated his life to take care the neglected children in India accept the offer from the business man from Denmark. A thing that just in time, consider that the foundation he build is lacking of found.
At the beginning of the film it's describe that Jacob is so generous and loving person to neglected children.
Considering the offer, Jacob flew to Denmark and brought his proposal. In Denmark, Jorge (Rolf Lassgard) the business man is inviting Jacob to come to his daughter's wedding party, Anna (Stine Fischer Christensen). In the party Jacob meet his girl friend from his past, Helena (Sidse Babett Knudsen), unexpectedly. Then the story revealed the secret from the past which is hurt to the people who involved with. The truth that not completely accepted but there already shown the other truth that make more complicated.
After the Wedding take us to understand that behind all of the moment there must be something after it. Which can be happiness, sorrow, and the choices that make our live so colorfull even sometimes it's so complicated.
This film is nomeniss for the Best Foreign Film Category for last Oscar. 3,5/5

WILD HOGS


Film yang judulnya kalo di Indonesiakan menjadi ”Celeng Liar’ ini sangat pas ditonton pas pikiran lagi puyeng. Filmnya sangat ringan dan secara garis besar tema film ini memang mengajak kita untuk sejnak keluar dari rutinitas membosankan dengan melakukan apa yang kita sukai bersama temen-teman. Karena menawarkan cerita yang sangat ringan, gak perlu digagas logika cerita yang ditawarkan. Film ini asyik banget dinikmati para cowok. Akan lebih asyik lagi kalo nontonnya bareng – bareng. Setelah liat film ini, timbul keinginan untuk ngumpul-ngumpul lagi ma temen-temen yang udah pada mencar-mencar.

Mungkin film ini kurang menarik bagi penonton cewek, disamping ceritanya yang cowok banget, pemerannya juga bisa dibilang tidak manis secara fisik. John Travolta, Martin Lawrence, Tim Allen dan William H Macy berperan sebagai bapak-bapak paro baya dengan perut buncit. Dan mereka juga digambarkan pecundang banget.

Tapi Hollywood memang hebat. Mereka tahu benar bagaimana mengemas sebuah tontonan yang menghibur. Sepanjang film berjalan kita diajak untuk melihat kegilaan dan kebodohan keempat tokoh tersebut. John Travolta yang sok, Martin Lawrence yang gaduh, Tim Allen yang mengalami post power syndrome dan William H Macy yang lost in space.

Dari keempat tokoh tersebut, yang paling lucu adalah William H Macy. Karakter orang yang naïf begitu pas dibawakannya, yang tentu saja juga ditunjang dengan face dia yang terlihat paling polos. Asyik banget melihat karakter dia yang dalam melakukan sesuatu dibawa asyik tanpa tendensi apapun, kecuali dalam soal cewek. Pemeran yang berusaha tampil lepas tapi jadinya malah over, terutama John Travolta. Mungkin karena merasa paling ganteng.

Secara garis besar film ini cukup menghibur. Bahkan setelah film nya selesai pun kita masih diberi bonus ”Bedah Rumah’ versi Amerika. Lumayan lucu dan sedikit mengolok-olok para bikers.

Adegan favoritku di film ini adalah ketika keempat tokohnya saling membanting HP mereka. Mantap!!!

English


WILD HOGS


Wild Hogs is fit to watch when you have a headache. Very light film. The theme is taking us to get out from our boring routine schedule and doing some fun with our buddy. We do not have to think about the logic here, because the film is offering the light story. It's fit for the guys, and it's cooler when we see it together with our friends. After see it, reunion with separated friends will come out.


Perhaps the girls aren't the aim for the film, because its manly story, the stars aren't good looking. Jhon Travolta, Martin Lawrence, Tim Allen, and William H Macy playing role as bloated old man. And they describes as the losers.


But this is Hollywood. They know how to wrap an entertaining film. A long film will see the stupidity and madness of the four stars. Jhon Travolta that conceited, Martin Lawrence that noisy, Tim Allen that have post power syndrome, and William H Macy that lost in space.


From the four characters, William H Macy is the funniest. A naive character is so fit for him, which is support with his face that without guile. It's fun to see his character to do thing without purpose, except the matter about girl. The role that try to play without pressure but overact is Jhon Travolta. Perhaps he feel that he is the coolest among others.


Globally the film is entertaining. In fact after the ending of the film, the audience still get the bonus, which is the American "Bedah Rumah" instead funny and make fun to bikers.
My favorite scene is when the characters throw their cellphone away, unweavering.

Selasa, 06 November 2007

D'BIJIS

Selasa, 06 November 2007 0

Dalam tulisan di koran harian nasional, seorang pengamat film menulis kalau dalam film sineas kita masih tanggung bahkan dalam urusan film yang sekedar fun.

Hal ini pas banget buat menggambarkan D'Bijis. sudah bermodal ide cerita yang lumayan menarik, barisan pemain yang cukup dan musik yang asyik tapi hasil akhirnya tetap tanggung. Maunya lucu tapi tidak maksimal. Menurutku ada beberapa (banyak malah) adegan yang masih bisa diolah menjadi adegan-adegan yang "gila".

Satu hal yang menonjol dari film ini adalah penampilan Gary Iskak sebagai Bule/Yanti.

Tapi di tengah film horor yang membanjiri bioskop kita, film ini cukup memberikan alternatif yang menyegarkan.Dan cukup mengundang tawa.

Agak disesalkan juga banyaknya adegan merokok dalam film ini, mengingat di Amerika saja ada kode etik tersendiri yang mengatur hal tersebut (meskipun dilanggar juga). Mungkin karena sponsor utamanya sebuah rokok kali ya?2,5/5

English


D' BIJIS


In the article of a national newspaper, a film observer is written that Indonesian film maker is still halfway even in a fun film.
This comment is so fit to describe D'bijis. Have the story idea that pretty interesting, the stars and good music but the result is still halfway. Funny but isn't not laugh maker. In my opinion there are many scenes that can be manage to crazy scenes.
One thing that come up surface is the performance of Gary Iskak as Bule/Yanti.
But in the middle of horror film that flooding Indonesian theater this film is enough to give fresh alternative.
Too bad there are so many smoking scenes in this film, because in America there is an etic code to arrange this even it's broken either. Perhaps because the sponsor is product of a cigarette. 2,5/5

BLOOD DIAMOND


Setiap orang pasti punya keinginan dan kepentingan. Tapi sadarkah kita bahwa keinginan dan kepentingan kita secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan hidup orang lain. Mungkin ini sedikit yang ingin disampaikan oleh Edward Zwick lewat The Blood Diamond. Sedikit karena film ini memuat banyak nilai-nilai yang membuat kita sedikit merenungi apakah kida sudah di jalan yang benar dan tepat, terutama dalam usaha kita mencapai keinginan dan kepentingan tadi.

Film ini mengajak kita untuk melihat ledih dekat mengenai apa yang terjadi di balik sesuatu, dalam hal ini berlian. Yang ternyata dibalik keindahannya (bagi yang suka), ada kisah pilu mengenai tragedi kemanusiaan. Betapa kadang hukum dagang (supply=demand) mempunyai dampak yang mengerikan. Betapa ambisi untuk meraih kekuasaan kadang dilakukan dengan mengorbankan darah dan nyawa orang-orang yang tidak berdosa.Dan bagaimana manusia berusaha berjuang sekuat tenaga untuk mencapai apa yang dia inginkan. Apa yang menurut dia berharga. Entah itu keluarga, berlian kekuasaan ataupun sekedar berita.

Entah apa sikap Tuhan melihat segala tingkah polah manusia di dunia ini. Apakah Tuhan memaafkan? Mungkin seperti kata Maddy Bowen (Jennifer Connely), " Mungkin Tuhan sudah tidak ada lagi disini"

Film ini memang sarat pesan dan hebatnya tidak menjadikan film ini membosankan ataupun terasa menggurui. Cerita mengalir dengan runut, gambar-gambar yang efektif (kadang mengerikan) dan indah (ciri khas Edward), musik yang pas dan pemain yang berperan secara bagus sesuai porsinya masing-masing. Sayang ending film ini terkesan menjadikan sosok Solomon (Djimon Honsou) sebagai seorang pahlawan. Tanpa adegan itupun dia sudah menjadi pahlawan bagi keluarganya dan film sudah bisa diakhiri pada adegan dimana Danny Archer (Leonardo di Caprio) duduk menanti ajal di ketinggian menikmati sinar matahari Afrika.

Film ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat salah satu sisi kehidupan di Benua afrika yang tidak henti dirundung berbagai bencana. Sedikit menambah pengetahuan kita tentang pola kehidupan disana, mulai dari cara berpakaian, arsitektur bangunan yang kalau kita lihat ada pengaruh budaya Arab.

Film makin menarik dengan akting yang diperagakan oleh para aktornya terutama Leonardo di Caprio yang tampil beda dengan film-film sebelumnya. Aksennya asyik banget, dan dia berhasil menampilkan sosok Danny Archer yang jahat, manis, kejam, culas dan rela berkorban. Sebuah karakter yang tidak hitam putih. Djimon Honsou juga bagus banget, terutama adegan ketika Leonardo menembak orang yang berkulit sama dengannya di dekat jembatan. Ekspresi antara rela dan tidak rela secara bagus dia tampilkan.

Sosok yang diperankan Jennifer Connely cukup bisa menyegarkan mata ditengah sosok - sosok berdebu, kusam dan hitam.

Kalau kamu teliti melihat film ini ada beberapa blopers loh. Wajib tonton. 4/5

ZWARTBOEK ( BLACK BOOK )


Sutradara dari Belanda, Paul Verhoeven, sepertinya suka dengan ketelanjangan. Hal ini tampak pada dua filmnya, Basic Instinct dan Showgirls. Kini dia pulang kampung untuk menggarap film berlatar belakang Nazi, Black Book (Zwartboek). dan tentu saja ada ketelanjangan dalam film ini.

Meskipun cerita film ini terjadi ketika Nazi merajalela di Eropa, jangan berpikiran film ini akan banyak menghadirkan adegan perang. Film ini lebih menonjolkan kisah perjuangan dari Rachel Stein (diperankan dengan memikat oleh Carice van Houten) untuk menyelamatkan diri dari pembantaian, karena dirinya seorang Yahudi. Perjuangan tersebut makin seru karena dia masuk ke dalam intrik, dimana didalamnya tidak seorangpun bisa dia percaya. Perlu ditekankan sekali lagi, jangan mudah percaya! Ini petunjuk untuk film ini.

Saya sengaja tidak menjabarkan intrik yang dimaksud, karena akan mengurangi kenikmatan menontonnya. Lebih baik lihat sendiri. Film ini lebih condong ke thriller (erotis) dibandingkan ke dalam film perang. Film ini mencoba mengajak kita melihat “peperangan lain” di balik sebuah perang. Motif lain dibalik pembantaian kaum Yahudi.

Dengan rambut pirang dan bibir merah menyala, penampilan Carice van Houten menjadi pusat perhatian. Apalagi dalam film ini memang minim perempuan. Sejak film bergulir sudah digambarkan karakter yang dia perankan adalah seorang perempuan yang berani (nekat).

Cerita yang ditawarkan sebenarnya sudah banyak diangkat difilm lain. Yang membuat film ini istimewa adalah setting cerita. Ketika cerita yang sudah familiar diletakkan pada setting yang berbeda tentu jalannya cerita juga akan berbeda. Kasusnya hampir sama dengan Basic Instinc, yang kalau kita cermati sebenarnya ceritanya biasa, tetapi menjadi tidak biasa ketika disitu ada Sharon Stone.

Dan karena ini adalah film karya Paul Verhoeven, film ini makin layak untuk dilihat. Apalagi ini produksi Belanda yang terkenal terbuka dengan hal berbau seks. Bagi yang ingin bernostalgia dengan adegan (maaf) selangkangan ala Sharon Stone di Basic Instinc, bisa mendapatkannya di film ini. Secara fisik, Carice van Houten lebih segar daripada Sharon Stone. Sayang sekali adegan awal dari film ini mengurangi ketegangan cerita. Coba adegan tersebut tidak ditampilkan, mungkin usaha Rachel Stein dalam membebaskan diri akan lebih menegangkan sehingga lebih enak dinikmati.

Kalau kamu perhatikan, gedung yang dipakai buat markas Nazi sama dengan yang ada di film The Sound of Music.3,5/5


English

Black Book (Zwartboek)

The Dutch Director, Paul Verhouven, look likes contented with the nudity. That appears on previous two films, Basic Instinct and Showgirls. Now, he is going back to his country to direct a Nazi backgound film, Black Book (Zwartboek), and of course there's nudity on the film.
Though the story of it happened when Nazi conquer Europe, don't even think that the film will show the war action. It's about the struggle from Rachel Stein (astonishing role from Carice Van Houten) to rescuing her self from the genocide, because she is a jewish. She trapped into an intrict that makes her doesn' t believe to anybody. Do not believe what you see! this is can help you to see this film.
The film is more erotic thriller to war action. They try to drive us to "the other war" beneath a war. The other motive of Jewish Genocide.
Blonde hair and red shine lipstic, Carice van Houten became an attention we can't miss. With not much women appear on the film. Since the film began, she was play as a determined woman.
Previously we've seen a lot of common story that offered by Black Book. However the setting makes this film different. When the common story put on the different setting, the story goes differently too. Like Basic Instict, which has an ordinary stories, but there's Sharon Stone that make it unordinary.
This film is worth to see because it's Paul Verhoeven's. With well known seksual Dutch appereance. Fisically, Cerice van Houten is fresher than Sharon Stone, eventually the first scene of the film is drop the tension of it. It would be more thrill when the frist scene are kept. Perhaps, the Rachel Stein's aim to release her self would be enjoyable to see.
When you pay more attention, the building that used to be the NAZI's base is the same one that used on The Sound of Music. 3.5/5

1408




Film tentang sebuah ruangan berhantu dimana kita dilarang memasukinya rasa-rasanya sudah banyak dibuat. Film hantu yang maunya mengaburkannya dengan masalah psikologis juga sudah banyak kita lihat? Lalu apa istimewanya film 1408 yang diangkat dari cerita karya Stephen King ini? Film yang dipuji kritisi film di Amerika sebagai film horror terbaik di tahun 2007.

Secara cerita dan visual tidak ada yang istimewa dengan film ini. Film ini menjadi wajib tonton karena John Cusack. Kalau kita amati, John Cusack ini tidak pernah tampil mengecewakan, bahkan dalam film ringan sekalipun macam Serendipity atau Must Love Dogs. Dan dia juga termasuk actor yang tidak terlalu sering muncul, sehingga setiap kali muncul filmnya selalu bisa diterima dengan baik meskipun tidak meledak.

Dalam 1408, meskipun ada Samuel L Jackson, penampilan John Cusack tetap mendominasi layar. Hal yang wajar karena ternyata Samual L Jackson tampil tidak sampai 15 menit, dari durasi yang hamper 2 jam.

1408 adalah sebuah kamar di Hotel Dolphin yang tidak boleh dimasuki karena mempunyai sejarah menakutkan. Sebuah kamar keramat (1+4+0+8=13). Kamar itu telah memakan korban sebanyak 56 nyawa. Sebagai orang yang yang tidak percaya hantu, John Cusack memaksa untuk masuk kedalam kamar tersebut. Setelah memasuki kamar tersebut dan jam digital menghitung mundur 1 jam, berbagai terror datang bertubi-tubi yang menguji kepercayaan John Cusack. Berbagai terror tersebut dalam film benar-benar diberi porsi sekitar 1 jam.

Jangan harap penampakan tiba-tiba hantu menjijikkan dalam film ini. Sebagai film horror film ini cukup datar. Film ini hanya mengandalkan ketegangan dari usaha John Cusack untuk keluar dari kamar terkutuk tersebut. Mungkin ini yang menarik dari film ini. Sutradara dituntut kreativitasnya untuk menghasilkan ketegangan yang terjaga dalam ruang yang terbatas. Dalam sebuah kamar. Dan menurut saya tugas tersebut dapat dikerjakan dengan mulus oleh Mikael Hafstrom.

Dibandingkan dengan Vacancy, film ini lebih enak dinikmati. 3/5

English

1480

Film that told about a ghostly room where we forbidden to enter is made a lot. Ghost film that mixed with the psychology problem seem to be some thing that we are often to see, aren’t we? Then what is the specialty of 1480 that come up from Stephen King’s work? A film that got a lot of compliment from the American film critics as the best horror film in 2007.

Visually there’s nothing special with this film as well as the story. The film is become a must to see because of Jhon Cusack. If we notice, Jhon Cusack never perform disappoint even in the light film such as Serendipity or Must Love Dogs. Apparently he is not an actor that always well accepted in every role, even the film isn’t booming.

In 1480, even there is Samuel L Jackson the performance of John Cusack still dominate the scene. It is pretty proper because the appearance of Samuel isn’t longer than 15 minutes from almost 2 hours of duration.

1480 is a room in Dolphin Hotel which can not be enter because its scary history. A sacred room (1+4+0+8=13). Room that cost 56 lives. As a man that doesn’t believe in superstitious and ghost John Cusack is forced to enter in the room. After he entered the room the digital clock is starting to counting down for an hour. And many terrors are come and testing John Cusack’s believe. And the terrors are giving a hour duration, precisely.

Do not expecting the appearance of disgusting ghost suddenly here. A horror film that pretty flat. The film that only counting from the tension of John Cusack’s aim to get out from the damned room. And the interesting one is the creativity from the director to produce the tension in such limited space. And Mikael Hafstrom did well.

Compare to Vacancy this film is much enjoyable. 3/5

Selasa, 30 Oktober 2007

LANTAI 13

Selasa, 30 Oktober 2007 0

Lantai 13 tampaknya diarahkan ke pasar yang lebih dewasa dibandingkan dengan kebanyakan film horor Indonesia (I-Horror) yang ditujukan untuk remaja. Hal ini terlihat dari pemilihan pemain yang tidak muda lagi. Setting yang dipilihpun suasana perkantoran. Lantai 13 ini lumayan memberikan kesegaran, terutama di 2/3 dari film ini. Dan sekali lagi terlihat kelemahan penulis Indonesia adalah bagaimana mengeksekusi cerita. Banyak film Indonesia yang gagap dalam menghakhiri sebuah cerita, seperti yang tampak pada Lantai 13. Setelah menampilkan sesuatu yang menjanjikan seperti ketegangan yang terjaga (terjadi koor teriak) dengan tidak mengumbar pemunculan hantu dan scene-scene segar yang mampu menjadi katalis (kecuali scene satpam yang artificial), cerita diakhiri dengan amat sangat datar dan terkesan dibuat-buat. Buka-buka BH. Tetek deh….. Kasihan Tio Pakusadewo yang terlihat canggung dan bingung harus bagaimana.

Adegan paling asyik ketika perbincangan ketiga tokoh perempuan dari sore sampai malam. Perhatikan suasana diluar lewat jendela kaca. Pada adegan ini sutradara berhasil menghasilkan atmosfer perbincangan biasa yang tidak membosankan. Padahal adegan ini lumayan lama. Bahkan pada adegan ini selain dibuat tegang, penonton juga dibuat tertawa. Jarang banget film Indonesia yang menghadirkan adegan seperti ini.

Adegan hantu yang menjelma jadi Widi Mulia, lumayan memberikan kejutan.

Widi Mulia sudah berusaha tampil biasa, tetapi matanya yang sering melotot lumayan mengganggu.

Diluar ending film ini yang sangat buruk, film ini lumayanlah buat hiburan. 2,5/5

DEATH NOTE


Dari dulu aku penasaran banget dengan film ini. Di media film ini disebutkan menjadi box office di Jepang sana. Pertama membaca judulnya yang terbersit dibenakku adalah jenis film horror Jepang layaknya The Ring ataupun Ju-on. Ternyata perkiraanku salah banget. Film ini memang ada setannya. Tetapi berbeda dengan film “setan” yang lain, setan di film ini diwujudkan dalam sosok manusia. Bahwa setan yang paling berbahaya itu adalah setan yang bersemayam di tubuh manusia. Apalagi pada manusia yang diberi kekuasaan untuk mencabut nyawa manusia yang lain.

Sosok sentral di film ini digambarkan seorang pemuda mahasiswa fakultas hukum yang ironisnya skeptis terhadap hukum itu sendiri. Ironi ini dipertajam lagi dengan kenyataan ayahnya yang seorang polisi. Belum cukup ironi yang ditawarkan, dipertengahan film keduanya dikondisikan pada posisi penakluk dan yang ditaklukan.

Intrik makin memikat dengan hadirnya tokoh L yang eksentrik. Film yang diangkat dari komik ini selanjutnya menggambarkan adu pintar antara Light (tokoh utama) dengan L. Pertarungan menarik yang didukung dengan skrip yang orisinal. Dijamin tidak akan bosan menunggu akhir pertarungan dua tokoh cerdas ini.

Pertarungan dua tokoh ini berlanjut di seri kedua (film ini rencananya akan ada seri 3). Tetapi layaknya sekuel, konflik yang ada tidak setajam seri pertama (membosankan malah), meskipun cerita makin kompleks dengan hadirnya tokoh lain yang mempunya “sesuatu” yang sama dengan Light.

Buat yang suka film Jepang, film ini patut dikoleksi. 3,5/5

MENGEJAR MAS MAS


Mengejar Mas Mas adalah Film yang ringan dan menghibur dengan didukung acting para pemain yang memukau. Terutama sekali Dinna Olivia yang tampil meyakinkan sebagai Ningsih, seorang pelacur dengan bayaran Rp. 50.000,00 ( mau banget jadi pelanggannya ).

Adegan bergosip dengan tetangga berjalan natural. Paling seneng adegan ketika dia mencuci pakaian sambil nangis-nangis dan adegan saat “dirajam” para tetangganya.

Poppy juga bermain bagus sebagai remaja kota yang angkuh dan manja. Adegan dia yang berkesan waktu nangis-nangis pas ayahnya meninggal ( sepertinya artis Indonesia paling jago untuk adegan nangis, Agnes Monika saja dipuji Jerry Yan ).

Film ini semakin enak dinikmati dengan sentuhan musik ringan yang ditata oleh Monty Tiwa. Lagunya Genk Kobra asyik banget.

Bagi yang sudah bosan dengan film-film Indonesia yang Jakarta banget, film ini patut dilihat.

Sebagai hiburan, film ini sangat sayang dilewatkan.

Aku sedikit kurang paham dengan judul Mengejar Mas Mas, karena setelah melihat filmya, tidak bisa disimpulkan sebagai cerita 2 orang perempuan mengejar seorang mas.

Tambah bingung lagi dengan tagline-nya “Karena matahari tidak perlu dikejar”

Ada yang bisa membantu Ke-dodol-anku? Soalnya Monty Tiwa sendiri waktu ditanyain soal ini juga tidak menjawab secara jelas.

Kalau ada yang sudah liat promonya, kesannya ini film percintaan, padahal apa yang disajikan di layar lebih dari itu. Aku kurang paham dengan strategi dagang pembuat film ini. Sepertinya mereka kurang yakin jualan sesuatu yang tidak berbau cinta.

2,5/4

DISTURBIA


Aku awalnya penasaran dengan film ini, karena ketika dirilis film ini nomer satu selama dua atau tiga minggu. Dan pengen liat aksi Shia Labeouf yang dipuji-puji oleh Steven Spielberg dan dicap sebagai Next Tom Hanks. Disturbia ini (maunya) versi remaja dari salah satu karya terbaik Alfred Hitchcock, Rear Window.

Hasilnya? kalah jauh. Kurang tegang, kurang misterius. Penjahat yang digambarkan lebih sadis dengan ikut-ikutan trend potong memotong ala SAW atau HOSTEL, tidak bisa membantu mengangkat tensi film ini, karena dimunculkan terlalu awal meskipun David Morse sendiri bermain lumayan meyakinkan. Film ini juga kebingungan mau lari kemana. Terlihat sekali, penulis cerita punya banyak hal yang ingin disampaikan. Sebuah obsesi yang wajar sebenarnya. tapi akan membuat bias kalau tidak dirangkum dalam satu tema besar.

Selain David Morse, Carrie Ann Moss juga tampil bagus sebagai seorang ibu. Beda banget dengan peran dia di Matrix. Sayang porsinya terlalu sedikit. Ternyata di bagian Deleted Scene, adegan dia memang yang paling banyak dipotong. Shia LeBeouf berperan asyik seperti yang ditampilkannya di Transformer ataupun di I,Robot. Sarah Roemer yang digembar-gemborkan media sebagai salah satu poin positif dari film ini karena keseksiannya, bermain datar.

Cerita kurang mengekspolitasi suasana suburban, padahal lingkungan suburban kan bisa jadi setting cerita yang menarik seperti dalam Desperate Housewives. Intinya film ini nanggung banget. 1,5/5

THANK YOU FOR SMOKING



Thank U For Smoking menurutku salah satu film terlucu di tahun 2006 seperti halnya Little Miss Sunshine. Film yang banyak bertaburan dialog cerdas ini patut direkomendasikan bagi mereka yang bergerak di bidang kehumasan. Dari judulnya, film ini seakan-akan diarahkan untuk memberi gambaran tentang dunia rokok di Amerika. Sebuah gambaran yang tidak sepenuhnya keliru, karena sepanjang film kita disuguhi adegan-adegan yang menyindir industri rokok disana.Tetapi setelah dilihat film ini ternyata sebenarnya berfokus pada perkembangan karakter tokoh utamanya yang digambarkan seorang spoke person sebuah perusahaan rokok terkemuka.

Kita diajak melihat tingkah polah tokoh utama dalam menghadapi persoalan yang dalam hal pengambilan sikapnya harus bisa menyenangkan semua pihak. Sesuatu hal yang sulit mengingat dia bekerja untuk perusahaan rokok yang dituding penyebab berbagai macam penyakit. Meskipun pada kenyataannya pembunuh nomer satu di Amrik adalah kolesterol.

Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi ketika dia mempunyai anak yang masih belia yang begitu mengidolakannya. Disini bagi tokoh utama dituntut untuk mengambil sikap yang tidak merugikan perusahaan tempat dia bekerja, sekaligus memberikan dampak positif bagi anaknya.

Film ini kalau diumpamakan sebuah lagu adalah sebuah lagu jazz yang smooth banget. Alur cerita sangat enak dinikmati dengan humor-humor cerdas, plus penampilan para bintangnya yang meyakinkan, terutama Aaron Eckhart. Kalau dia lebih pintar lagi memilih film, rasa-rasanya kesuksesan akan mudah dia raih. Katie Holmes yang lama tidak aku lihat juga makin enak dipandang.

Yang menyebalkan adalah Tom Cruise.Lho? Iya, gara-gara Tom Cruise kita tidak bisa menikmati Tits-nya Katie Holmes, padahal kemunculan “NYA” sangatlah kontekstual. Dia minta adegan itu dipotong ketika film dirilis di bioskop maupun home video.

Yang membuatku heran, film sebagus ini yang satu level dengan Little Miss Sunshine, tidak ada gaungnya sama sekali. Film ini memang menjadi salah satu favorit para kritikus film di tahun 2006, tetapi tidak bagi penonton. Mungkin karena gara-gara Tom Cruise tadi, atau karena tidak dipromokan dengan tepat. Mungkin kalau menggunakan jasa tokoh utama di film ini, film ini akan lebih laris.

Film ini sangat saya rekmendasikan. 4/5

Best quote di film ini ketika si Aaron Echkart bilang BULLSHIT!

Temennya menjawab “IT’S AMERICA!”

Senin, 29 Oktober 2007

BRAVE ONE

Senin, 29 Oktober 2007 0

Ada banyak cara untuk mati, tapi yang lebih penting beranikah kita menghadapi hidup? Demikian kira – kira yang ingin disampaikan film The Brave One. Film ini mencoba meneropong kehidupan seseorang setelah mengalami musibah. Sebuah peristiwa tragis yang menuntut kita untuk memilih langkah tertentu untuk bias bertahan hidup, meski dengan kepribadian yang baru. Dalam hal ini kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan situasi baru sangatlah diuji. Dibandingkan dengan makhluk lain, manusia bisa dikatakan mempunyai daya adaptasi yang paling kuat karena dibekali dengan akal pikiran.

Dalam menyikapi suatu hal kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kadang sulit untuk dipilih. Padahal yang penting bukan benar atau salah pilihan yang kita ambil, tetapi lebih penting lagi bagaimana kita menyikapi pilihan kita tersebut, termasuk segala akibat yang ditimbulkannya.

Film ini menyoroti usaha tokoh yang diperankan oleh Jodie Foster untuk keluar dari ketakutannya. Ketika rasa aman sudah tidak bisa didapatkan lagi, apa yang harus dikerjakan? Rasa aman di kota yang ironisnya di klaim sebagai kota teraman di dunia, New York.

Film ini menurutku sebuah gambaran kecil tragedy 9/11. tanggal kejadian tragedi di film inipun dibuat mirip yakni, 6/11. Film ini mencoba mengusik benak kita dengan pertanyaan “Apakah tragedy harus dihadapi dengan tindakan yang menciptakan tragedy (kemanusiaan) ? Apakah penggempuran Irak oleh AS bisa dibenarkan secara hukum dan moral demi mendapatkan sebuah kesembuhan dari luka tragedy 9/11?

Dalam hal ini pembuat film lebih condong untuk menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan, bahkan dengan mengakali hukum sekalipun. Film ini lumayan enak dinikmati berkat tampilan Jodir Foster yang laksana Robert DeNiro di Taxi Driver. Perhatikan adegan dia menatap dirinya di cermin setelah melakukan pembunuhan pertama. Top banget.Emosi takut, aneh dan kuat terpancar dari ekspresi dia. Terence Howard yang tampil meyakinkan di Hustle & Flow seakan tenggelam oleh kekuatan acting Jodie Foster. Penataan kamera secara efektif memberi gambaran ketidakstabilan emosi Jodie Foster. Salut juga dengan yang mendandani Jodie Foster. Penampilan dia terkesan orang biasa-biasa saja, selain terlihat lebih muda. Kadang terlihat seperti turis yang sedang jalan-jalan.

Sayang sekali eksekusi cerita yang diambil kurang cerdas dan sangat tidak meyakinkan. Mungkin bagi yang belum terbiasa membaca buku atau menonton film misteri, penyelesaian yang dipilih tidak mengganggu. Berbeda dengan Death Note yang produk Jepang. Dengan premis yang hampir sama, film ini memberikan penyelesaian yang jauh lebih cerdas dan meyakinkan.

Dan ada hal yang mengganggu lainnya, yakni ketika tangan Jodie Foster terluka oleh linggis. Rasanya dengan luka seperti itu, pergerakan tangan akan sangat terganggu. 2,5/5


English

The Brave One

There’re so many way to die, but the most of all is do we have the brave to live? This is would like to be the message of the Brave One. The film is trying to look a calamity person’s live. A tragedy that lead us to choose a particular step to survive, even with the new personality as the consequences. In this case, the ability of adaptation from mankind in the new circumtances is barely tested. Compere to the other living things, mankind have the strongest capable of adaptation because its have intelligence.


To demeanor something, we dealed with the choices which is difficult to choose. When the important thing is not about right or wrong for what step we’ve taken, but beyond that is how we can demeanor for what we choose, include all the consequences.


The film is focused on a character that starred by Jodie Foster, which is she want to out of her fear. When the feelling of safe had taken away, so what can we do about it? The feelling of safe in a city that claimed as the safest city in the world, New York.


The film is about the little picture of 9/11 tragedy. A day of tragedy in the film is likely made, 6/11. The film is trying to tease our mind with the question, whether the tragedy have to faced with the action that create tragedy? Whether the assault of Iraq by United States of America can be justifier by law and moral for the heal of 9/11 tragedy’s wound?


In this case, the film maker is leaning to end the violence with the violence, even with tricking the justice. The film is enjoyable because of the performance from the star, Jodie Foster, that is like Robert De Niro in Taxi Driver. Watch closely on the scene when she stares her self in to the mirror after she did her first murder. Very impressive. Scared emotion, odd and strong is come out from her expression. Terence Howard who on convincing performance in Hustle and Flow like to be drawn by the performance of Jodie. The Cinematography is efectively give the unstable of the emotion from Jodie Foster. Great job from the make up. She is looking ussual, younger but sometimes like a tourist that take a walk.


It’s pretty shame that from story execution is little unsmart and not convinced. Perhaps to the audience that not used to read mistery story in the book or see it on the film, the conclusion isn’t annoying. Differently from the Japan’s Death Note. With the same premise, the film gives the smarter and more convinced conclusion.


And there’s something that annoying, when Jodies Foster’s hand is wound by the crowbar. It’s feel with that such wound, the hand would be so annoying. 2.5/5.

BADAI PASTI BERLALU

Setiap melihat film adaptasi sebuah novel, seringkali kekecewaan yang aku temui (Kecuali Silence of The Lambs). Hal ini terjadi lagi setelah melihat Badai Pasti Berlalu. Entah apakah penulis skenario dan sutradara sudah membaca novelnya atau belum.Ato mungkin sekedar melihat filmnya yang versi Teguh Karya? Entahlah.

Kebetulan beberapa hari kemudian aku membaca novel karya Marga T tersebut. Badai Pasti berlalu versi novel menurutku mempunyai dramaturgi yang kuat, sesuatu yang tidak begitu tampak pada filmnya. Jarang sekali novel Indonesia yang enak buat dibaca (menurutku). Tapi dalam kasus Badai pasti Berlau, ceritanya enak banget diikuti. Berbeda dengan filmnya yang sangat membosankan (sampai rasanya ingin keluar).

Padahal Badai Pasti Berlalu berbekal materi yang cukup. Cerita yang kuat, barisan pemain muda yang secara mengejutkan tampil bagus (terutama Raihanuun), pemain senior yang tampil konsisten, pemilihan warna yang menarik dan gambar-gambar yang indah (meski kadang puyeng dengan gambar-gambar yang terlau "goyang").

Badai Pasti Berlalu (harusnya) bercerita tentang penderitaan seorang wanita bernama Siska (Raihanuun, dengan penampilan yang cantik, secantik fisiknya) yang tiada henti dan bagiamana dia menyikapi hal tersebut. Siska dikhianati teman dan tunangannya, dijadikan bahan taruhan (yang dalam novelnya diceritakan diprakarsai oleh Ayah dan Kakaknya), terjebak dalam pernikahan dengan psiko, ayah yang selingkuh, ibu yang sakit-sakitan, punya diabet dan anaknya yang meninggal.(Kejamnya dunia!)

Segala hal tadi membuat dia menjadi pribadi yang apatis dan sinis. Belum lagi setelah menikah dia hidup dalam gelimang dosa dan makin jauh dari Tuhan. Dalam Novelnya diceritakan keluarga Siska ini merupakan keluarga yang taat berdoa dan ke Gereja.

Hal ini makin diperparah ketika dia menyimpulkan orang yang dia cintai punya diabet juga, yang berarti dia tidak bisa menikah dengan orang tersebut.

Semua hal diatas kurang begitu nampak di layar.Apalagi soal kesimpulan yang keliru tadi. Dalam novel terlihat ada dilema ketika dia mengambil keputusan untuk putus dengan Leo (Vino G. Sebastian). Antara cinta dan diabet.

Terus sosok Helmi (Winki Wiryawan) dalam novel dikisahkan seorang gigolo bangsat yang memikat para Tante kaya untuk mengumpulkan uang. Mengenai hal ini, kalo filmnya ikut novelnya akan dipenuhi dengan adegan seks yang panas.

Pada intinya Badai pasti Berlalu lemah dalam mengadaptasi apa yang tertulis dalam novelnya. Masalah klasik dalam pengadaptasian.

Untungnya film ini banyak wajah-wajah indah, sehingga lumayan bisa mengobati kebosanan. Raihanuun (sekali lagi) bermain lepas dan tidak canggung dan bibirnya kemlamut banget, Davina yang mulus (dalam novel karakter dia suangat sangat JALANG), Dewi Irawan yang tetap mempesona.

Vino G. Sebastian kurang pantas memerankan Leo. Kurang brandal. Kadang malah kayak orang stres, terlau banyak umbar senyum. Di novel Leo digambarkan sosok yang menyebalkan sekaligus didambakan oleh para cewek. Hal ini tidak nampak pada Vino. Apalagi suara dia kurang "keras" untuk sosok Don Juan.

Aku malah membayangkan novelnya dijadikan sinetron seri (cukup 13 episode saja). Dari pada adaptasi serial Korea. Taiwan ataupun Jepang. Semoga Leo Sutanto bisa melihat peluang ini.

Kalau dijadikan sinetron aku usul Laudya Cinthya Bella (Siska), Vicky Notonegoro (Leo) dan Baim Wong (Helmy).

Pasti ntar dapet rating tinggi. Hehehe.....2,5/5


BLACK DAHLIA


Apa yang terpikir di benak kalian ketika membaca sebuah judul? Entah itu judul buku, judul film ataupun judul yang lain. Ketika membaca sebuah judul, yang pertama terlintas dipikiran kita adalah bahwa isinya pasti berkaitan dengan judul yang tertera. Judul harusnya mampu merangkum tema utama yang ingin disampaikan oleh kreatornya. Tapi hal ini tampaknya tidak berlaku untuk The Black Dahlia, film arahan Brian de Palma. Terlihat sekali bahwa judul yang dicantumkan semata – mata untuk menarik orang untuk menonton film ini. Judul ini mengacu pada nama korban pembunuhan yang sampai saat ini belum terungkap siapa pelakunya, meskipun kasusnya timbul pada tahun 1947. Memang film ini mencoba mengangkat sisi lain dari peristiwa yang menewaskan Elizabeth “Betty” Short.


Membaca judul film ini, yang terbersit di benak penonton adalah film ini akan banyak mengulas profil si korban melalui penyelidikan – penyelidikan yang dilakukan oleh polisi pada waktu itu. Tapi ternyata film ini lebih focus kepada karakter dua polisi yang mengusut kasus tersebut. Black Dahlia akhirnya hanya menjadi sub plot dalam film ini.

Secara visual film ini sangat memanjakan mata. Brian de Palma menyajikan gambar – gambar dengan pencahayaan dan setting khas film noir. Terlihat jelas bahwa penata artistik di film ini bekerja dengan amat serius untuk membangun suasana tahun 1940 – an. Tak heran film ini mendapat nominasi Oscar untuk Penataan Artistik. Mulai dari kostum, make up dan properti yang dihadirkan benar – benar menguatkan film ini. Belum lagi para pemainnya yang berakting semi teatrikal yang memang banyak dijalani pada waktu itu. Film ini makin asyik di mata dengan kehadiran para pemainnya yang memang pas didandani ala 40 –an. Tapi penampilan paling asyik adalah si Mia Kishner yang tampil meyakinkan sebagai si korban. Pada salah satu adegan kita tidak bisa menebak apakah dia sedang di audisi atau sedang direkam apa adanya. Yang mengecewakan adalah Josh Harnett, yang entah kenapa di layar terlihat paling malas mengekspor karakternya.

Ada satu lagi hal menarik dari film ini, yakni pergerakan kamera yang asyik banget pada adegan – adegan tertentu, seperti adegan seorang wanita teriak minta tolong ataupun adegan pada saat jatuhnya Aaron Ekhart. Brian de Palma juga cukup piawai menjaga ketegangan film ini, meskipun setengah jam pertama berjalan kacau.

Yang menjadi kelemahan film ini adalah memang pada skripnya. Penonton di awal dibuat bingung dengan arah yang akan dituju. Baru setelah sekitar setengah jam kemudian arah film mulai terlihat jelas. Sebagai penonton, agak kecewa juga dengan fokus yang dipilih oleh penulis cerita. Hal ini diperparah lagi dengan ending film yang menurutku tidak cukup berharga untuk dijadikan penyelesaian, meskipun cukup mengejutkan juga. Tetapi sungguh mengesalkan mengetahui motif dari si pelaku, yang membuat film ini menjadi sedikit konyol menurutku.

Film ini diangkat dari novel tulisan James Ellroy dengan judul yang sama yang memilih untuk setia pada kenyataan bahwa kasus ini tidak pernah terungkap. Penulis skenario memilih untuk ”mengungkap” kasus ini. Mungkin akan lebih menarik kalau dia memilih setia pada novelnya. Bagi pecinta film semacam Wild Things, film ini lumayan mengobati kerinduan akan jenis film yang penuh dengan tipu menipu, seks dan darah. Bonus: dikemas dengan indah.

Rating : 3/5

 
GILA SINEMA. Design by Pocket