Kamis, 31 Desember 2009

INVICTUS

Kamis, 31 Desember 2009

“I thank whatever gods may be / For my unconquerable soul. / I am the master of my fate / I am the captain of my soul.”

Bagi pecinta sport movie, Invictus rasanya sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi, film ini berlandaskan pada upaya seorang sosok besar bernama Nelson Mandela dalam usahanya menghancurkan batas diantara warganya ketika di tahun-tahun awal dia memimpin Afrika Selatan. Sebenarnya, Invictus mempunyai pakem cerita layaknya sport movie kebanyakan, namun dihadirkannya sosok hebat tadi, membuat film ini lebih dari sekedar sport movie biasa.
Setelah dilantik menjadi presiden, Nelson Mandela (Morgan Freeman) mendapati masih adanya jarak antar warga kulit putih dengan warga kulit hitam, meski secara de jure, apartheid telah dihapuskan. Rasa curiga diantara warganya sangat besar. Hal ini membuat Mandela memikirkan langkah jitu untuk menghancurkan batas tadi, karena tanpa adanya persatuan, Afrika Selatan susah untuk bergerak maju.


Gebrakan pertama Mandela dimulai dengan membenahi ”jerohan” kantornya. Mandela memposisikan stafnya layaknya teman tanpa membedakan warna kulit dan membebaskan para kulit putih untuk menentukan pilihan, apakah akan terus mengabdi atau mengundurkan diri. Selanjutnya, Mandela memposisikan kedua sisi (kulit hitam dan kulit putih) dalam satu bidang untuk saling bekerja sama. Hal ini tak pelak memunculkan sedikit ketegangan, karena seperti kata pepatah ”tak kenal, maka tak sayang”.
Mandela melihat peluang mempersatukan rakyatnya lewat olah raga rugby, apalagi Afrika Selatan bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby. Langkah Mandela ini sempat mendapat kritikan, mengingat rugby pada saat itu sangat identik dengan dominasi kaum kulit putih. Namun Mandela tidak gentar dan tetap menjalankan misinya dibantu oleh Francois Pienaar (Matt Damon) yang berperan sebagai kapten dalam tim rugby. Selanjutnya, sejarah membuktikan langkah Mandela tersebut efektif mempersatukan rakyatnya. Rasa persatuan yang dibangkitkan oleh rasa memiliki dan juga kebanggaan akan kemenangan yang diraih oleh tim rugby nasional. Semua rakyat tumpah ke jalan merayakan kemenangan, dan runtuhlah batasan diantara mereka.


Di tangan Clint Eastwood, Invictus menjadi sebuah tontonan yang menghibur namun mempunyai pesan kemanusiaan yang pekat dan kuat layaknya garapannya sebelumnya. Bisa dibilang Invictus merupakan karya Eastwood yang paling ”cerah” dan paling enak dinikmati. Proses penyatuan dua ras yang berbeda digambarkan dengan halus dan elegan. Lihat saja bagaimana para pengawal pribadi Mandela secara perlahan terjalin kerjasama yang apik, meski awalnya diselimuti kecurigaan dan saling merendahkan satu sama lain. Bagusnya, Invictus tidak memihak warna kulit tertentu dan cukup berimbang dalam menggambarkan kedua sisi.
Kekuatan Invictus tidak bisa dipungkiri karena skenarionya yang mantap dan bertaburan dialog-dialog yang menggugah sekaligus inspiratif. Tidak lupa diselipkan beberapa humor yang berhasil memancing senyum. Acting para pemainnya juga bagus, meski menurut Gilasinema tidaklah istimewa. Morgan Freeman memang aktor yang paling pantas memerankan sosok Mandela, apalagi keduanya bersahabat cukup lama. Namun selain perubahan aksennya, rasanya penampilan Morgan Freeman tidaklah jauh berbeda dengan peran dia sebelumnya. Sosok karismatik dan berkarakter kuat rasanya sudah sering dia perankan. Matt Damon juga tidak kalah meyakinkan berbicara dengan aksen Afrika Selatan, namun sayangnya, porsinya tidak cukup besar untuk meninggalkan kesan pada penonton.O iya, balutan musik olahan Kyle Eastwood ok juga lho.


Secara keseluruhan, Invictus adalah sebuah film yang bagus, namun tidaklah istimewa, apalagi buat mereka yang telah terbiasa menonton sport movie. Namun, Invictus sayang untuk dilewatkan dan sangat direkomendasikan untuk para pemimpin atau mereka yang ingin menjadi pemimpin. Belajarlah dari Mandela yang menganggap rakyatnya sebagai sebuah keluarga besar, yang memandang manusia sebagai manusia dan mempunyai hak yang sama. Pemimpin yang kuat dan invincible (invictus). Ah...andai saja pemimpin kita mempunyai pemikiran layaknya Mandela....3,75/5

5 komentar:

Dhyn Hanarun mengatakan...

kapan nih masuk ke indonesia?

gilasinema mengatakan...

Belum tau juga kapan rilis disini. Paling kalo masuk, cuman Blitz yang putar :(

Fariz Razi mengatakan...

saya suka banget sama kata2 nya Nelson Mandela yg om kutip di awal... keren banget

adithiarangga mengatakan...

udah ada dvdnya, cuma belom sempet beli, masih menunggu apakah bakal masuk sini apa enggak..

tapi kayanya klo menang Oscar, baru dimasukin nih hahahaha :D

gilasinema mengatakan...

Beruntung yang tinggal di kota besar selalu disinggah film-film festival. Kita di daerah cuman bisa ngiler. Jadi jangan hujat dan sindir-sindir kita kalo liatnya bajakan :P

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket