Selasa, 22 April 2008

IN THE NAME OF THE KING : A DUNGEON SIEGE TALE

Selasa, 22 April 2008 4

Sutradara asal Jerman, Uwe Boll disebut banyak pihak sebagai sutradara terburuk yang ada sekarang ini. Banyak sekali yang mengecam film karya sutradara yang banyak mengangkat cerita dari video game. Meskipun banyak mendapat kecaman, Uwe Boll termasuk sutradara yang produktif. Hampir tiap tahun dia merilis film, walaupun dari segi bisnis, film – film yang dihasilkannya tidak mendatangkan keuntungan yang memuaskan, bahkan cenderung hancur di pasaran. Entah jurus apa yang dia pakai, hingga ada saja pihak yang mengucurkan dana.

Dari sekian banyak film yang dia hasilkan, baru film In The Name of The King ini yang sempat saya saksikan. Terus terang saya penasaran dengan karya Uwe Boll. Apakah film yang dia hasilkan memang benar – benar buruk. Apalagi lewat film ini, dia didukung dana yang tidak sedikit. Sekitar 60 juta dolar AS! Belum lagi jajaran cast-nya yang lumayan dikenal, mulai Jason Statham, Claire Forlani, Leelee Soebeski, Kristanna Loken, Matthew Lillard, Burt Reynolds hingga Ray Liotta.

Kisahnya seputar usaha Raja Konreid (Burt Reynolds) dalam mempertahankan kerajaannya dari serbuan pasukan Krugs (mirip Orc di LOTR) pimpinan Gallian (Ray Liotta). Disamping ancaman dari luar tersebut, dia juga harus mewaspadai Duke Fallow (Matthew Lillard), sepupunya sendiri yang mengincar mahkota raja. Di sisi lain kita juga diperkenalkan dengan Farmer (Jason Statham) yang hidup bahagia dengan anak dan istrinya, Solana (Claire Forlani).

Sudah bisa ditebak, keluarga Farmer porak – poranda akibat serbuan pasukan Krugs. Bahkan anaknya meninggal dalam penyerbuan tersebut dan istrinya diculik untuk dijadikan budak. Peristiwa yang menumbuhkan dendam di hati Farmer. Dibantu oleh teman dan kakak Solana, Farmer bertekad untuk merebut kembali istrinya. Dan (lagi – lagi) bisa ditebak, untuk selanjutnya Farmer dipertemukan dengan Raja Konreid, dan dipersatukan oleh persamaan tujuan yakni menghancurkan Gallian. Dan pada akhirnya kita berhenti menebak, karena kita tahu,siapa sebenarnya Farmer.

Dengan durasi yang lebih dari 2 jam, Uwe Boll sukses memberi siksaan pada akal dan pikiran serta rasa penyesalan yang mendalam dengan penggarapan yang serba tanggung dan terkesan apa adanya. Mulai dari naskah yang cethek, acting para pemainnya yang ala kadarnya, make – up dan kostum yang digarap biasa saja serta konflik cerita yang kurang menarik. Belum lagi iringan musik yang seringkali tidak pas dengan adegan yang ditampilkan.

Dengan bujet yang sekitar 60 juta dolar AS, apa yang terlihat dilayar adalah film dengan dana tak lebih dari 20 juta dolar AS. Bandingkan dengan film Elizabeth : The Golden Age yang dibuat dengan budget sekitar 30 juta dolar AS. In The Name of The King terlihat seperti serial TV macam Xena atau Hercules. Film seperti ini idealnya dibuat dengan budget minim dan biasanya langsung dirilis dalam format video saja. Jangan – jangan Uwe Boll melakukan korupsi dari dana yang tersedia, hingga dia bisa membuat film lainnya.

Secara teknis, sebenarnya Uwe Boll tidak jelek – jelek amat, seperti pemunculan para dewi hutan yang lumayan menyegarkan mata atau pertarungan pedang yang dikendalikan pikiran. Namun nilai positif ini tidak mampu menutupi kelemahan – kelemahan yang bertaburan sepanjang film. Materi cerita seperti ini dan banyaknya karakter yang terlibat didalamnya, harusnya mendapatkan perlakuan seperti trilogy LOTR. Tidak hanya dituangkan dalam durasi sekitar dua jam. Dengan catatan naskahnya harus lebih diperkuat lagi dengan konflik yang lebih tajam serta karakterisasi yang kuat. Dan jangan lupa dikerjakan dengan gairah yang tinggi. Hasil akhir film ini terlihat seperti orang yang kurang makan. Uwe Boll seakan bekerja dengan pola pikir asal jadi. Semoga kedepannya Uwe Boll lebih serius dan lebih bergairah dalam menggarap sebuah film, hingga tidak membuat penonton merasa menyesal telah mengeluarkan duit untuk mengkonsumsi filmnya. Namun film ini menjadi berguna buat para sineas baru yang tertarik membuat film dengan tema sejenis film ini. Mereka bisa belajar dari kelemahan - kelemahan dalam film ini untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. HIP HIP HUZZAH! 1,75/5

Senin, 14 April 2008

JUNO

Senin, 14 April 2008 2


Kehamilan di luar nikah jamak terjadi di banyak tempat. Pelakunya yang kebanyakan remaja menjadi momok yang menakutkan sekaligus memalukan bagi orang tua yang bersangkutan. Di jaman yang semakin menjunjung tinggi eksistensi pribadi dan makin permisif ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian besar orang tua dalam membesarkan anak mereka. Anak semakin berani mengambil sikap dan mengemukakan pendapat, serta kadang bersikap sok dewasa meskipun pada kenyataannya mereka benar – benar masih mentah.

Kembali ke persolan hamil di luar nikah tadi. Kehamilan tersebut seringkali terjadi pada remaja yang memang mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Ingin mencoba semua, termasuk berrmain – main dengan sex, walau belum saatnya mereka mengenyam pengalaman tersebut. Kehamilan di luar nikah disikapi tidak sama, tergantung budaya dan pola pikir suatu wilayah.

Lewat film Juno, yang naskahnya ditulis oleh Diablo Cody, seorang mantan stripper, kita diajak untuk melihat salah satu alternative dalam menyikapi kehamilan di luar nikah. Juno (Ellen Page) seorang gadis berusia 16 tahun mendapati dirinya hamil setelah berhubungan sex dengan teman cowoknya Bleeker (Michael Cera). Merasa belum siap memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu, dengan didukung kedua orang tuanya dan juga temannya berniat mencarikan orang tua angkat.

Tema yang diangkat tergolong biasa dan seperti ditulis diatas tadi, banyak terjadi di sekitar kita. Namun film ini menjadi lain berkat naskah yang tidak lazim. Ibarat seorang sopir, penulis cerita menjalankan kendaraannya seenak hatinya dan menabrak banyak tatanan. Mulai dari karakterisasi, alur cerita maupun eksekusi cerita yang dipilih. Kehamilan di luar nikah disikapi secara santai dan bukanlah sebuah kejadian yang memusingkan. Meminjam istilah anak remaja sekarang: asyik – asyik saja! Dari gaya penulisan yang terkesan “ugal-ugalan” ini muncul kelucuan – demi kelucuan yang tidak biasa.

Kekuatan dari film ini memang ada pada naskahnya. Diablo Cody terlihat paham akan kehidupan dan pola pikir anak remaja masa sekarang. Remaja yang akrab dengan budaya instant dan internet. Remaja yang easy going dan hidup dalam gempuran informasi yang mengalir deras. Naskah film ini makin asyik berkat pemilihan kata – kata yang aneh namun menggelitik dan menghadirkan bunyi yang asyik. Menikmati film ini memang lebih asyik dengan teks Inggris. Mungkin agak sedikit sulit untuk memahaminya, namun lumayan bisa menambah perbendaharaan kata. Intinya naskah film ini sangat mencerminkan jiwa remaja. Naif, centil, sembarangan dan apa adanya, serta kadang terkesan norak dan kasar.

Naskah yang kuat mampu memancing kemampuan acting para pemerannya. Ellen Page bermain santai dan menggemaskan, meskipun penampilannya di Hard Candy lebih menyengat. Jennifer Garner mampu membuktikan bahwa dirinya bisa acting, begitupun dengan Jason Bateman. Pasangan Allison Janney dan J.K. Simmons mampu menghadirkan kesegaran tersendiri. Sutradara Jason Reitman, mampu mengemas film ini dengan baik. Sutradara yang sebelumnya menghasilkan film bagus, Thank You For Smooking, tampaknya akan menjadi sutradara hebat kedepannya. Jangan acuhkan lagu yang hadir di film ini. Liriknya nakal dan menggelitik, serta mampu merangkum jiwa sebuah adegan.

Mungkin akan banyak penonton (konservatif) yang sulit menerima cerita yang dihadirkan, seperti halnya ketika kita mencak –mencak bila ada pengemudi yang asal mengemudikan mobilnya. Namun, tidak bisa dipungkiri ada banyak cara dalam menyikapi suatu persoalan. Di luar konteks benar atau salah atas sebuah pilihan, sepanjang tidak merugikan dan dilakukan secara sadar serta bertanggung jawab, ada baiknya kita menghormati pilihan yang diambil. Mungkin inilah maksud dari penulis cerita. Perlu diingatkan, dampingi anak anda ketika mereka menyaksikan film ini karena bisa jadi mereka mengambil kesimpulan yang salah akan apa yang dihadirkan. 3,5/5

BEFORE THE DEVIL KNOWS YOU’RE DEAD


Hank (Ethan Hawke) adalah seorang duda yang dipusingkan dengan masalah keuangan karena masalah perceraiannya. Setiap bulan dia harus memberikan tunjangan financial kepada anaknya. Sudah tiga bulan dia tidak bisa menunaikan kewajibannya ini, sehingga dipandang sebelah mata oleh mantan istri dan anaknya. Di sisi lain ada kakak Hank, Andy (Phillip Seymor Hoffman) yang digambarkan punya pekerjaan mapan, rumah bagus dan istri yang sexy Gina (Marisa Tomei).

Namun dbalik gambaran kesempurnaan tadi, ternyata Andy mempunyai permasalahan yang sama dengan Hank, bahkan lebih gawat. Kondisi keuangannya morat – marit demi membahagiakan istrinya dan juga karena jaratan narkoba. Kondisi ini diperparah dengan korupsi yang dia lakukan. Menghadapi kondisi serba terjepit ini, Hank mengusulkan sebuah ide gila, yakni merampok.

Lebih gila lagi ketika Hank tahu siapa yang menjadi sasaran perampokan: toko perhiasan milik ayah mereka, Charles (Albert Finney). Tentu saja pada awalnya hank menolak ide gila tersebut. Namun dengan kondisi yang makin tidak menentu, akhirnya dia setuju untuk ikut dalam aksi kakaknya tersebut. Apa mau dikata, aksi yang harusnya berhasil itu, pada akhirnya kacau dan membuat 2 orang menjadi korban, salah satunya ibu mereka. Selanjutnya kita diajak untuk melihat apa yang menimpa pada tokoh – tokoh yang ada pada film ini.

Sudah lama sekali Sydney Lumet tidak merilis hasil karyanya. Filmnya yang satu ini tidak berbeda jauh dengan karya – karyanya sebelumnya semacam Serpico dan Dog Day Afternoon yang menelanjangi sisi gelap manusia. Karya Sydney Lumet selalu sangat berharga untuk disaksikan, karena dia selalu berbekal naskah yang matang, rapat dan menohok serta masih enak untuk dinikmati. Jadi tidak perlu ditanyakan kualitas dari karya beliau.

Begitupun dengan film yang satu ini. Berbekal naskah tulisan Kelly Masterson, Sydney Lumet mampu menghadirkan tontonan yang berkualitas dan stylish. Film dituturkan secara non linear, bolak – balik antara sebelum, saat dan setelah perampokan dari beberapa perspektif para tokoh yang ada. Bukan gaya bercerita yang baru, namun tetap memikat. Pada bagian awal, kita sekan – akan diajak untuk menikmati sajian komedik, namun makin ke belakang, apa yang tersaji di layar makin lama makin brutal dan gila. Entah setan apa yang merasuk pada diri para tokoh dalam film ini. Puncaknya adalah pembunuhan di sebuah rumah sakit di penghujung film. TRAGIS!!!

Film yang judulnya diangkat dari kata – kata orang Irlandia ketika melakukan toast ini mencoba mengajak kita untuk melihat apa yang akan terjadi ketika cobaan datang menghimpit manusia yang lemah. Betapa bebrapa manusia mampu melakukan hal – hal gila dan kejam yang mungkin bagi sebagian orang akan sangat sulit untuk diterima. Pada kondisi ini, seringkali setanlah yang memenangkan pertarungan.

Dengan cerita yang lumayan berat ini, untungnya dapat enak dinikmati berkat penampilan para pemainnya yang prima. Sulit untuk mencari yang terbaik, bahkan para pendukungnya sekalipun. Phillip Seymour Hoffman mampu menampilkan sosok anak lelaki pertama yang mempunyai kuasa atas anaknya dan selalu berusaha tampil sempurna. Sosoknya terkesan kuat, namun dibalik itu tersimpan kelemahan yang berbahaya. Ethan Hawke tampil sebagai adik dengan kepribadian yang tidak meyakinkan. Kedua actor tersebut, meskipun wajahnya tidak mirip mampu meyakinkan penonton bahwa mereka bersaudara berkat interaksi yang kuat. Perhatikan adegan ketika mereka berdua di kantor Hank. Terlihat siapa yang kuat, dan siapa yang lemah.

Albert Finney juga tampil meyakinkan sebagai sosok keras yang sebenarnya mencintai keluarganya tapi seringkali menggunakan cara yang salah. Akting menawan dia tunjukkan di akhir film, ketika dia akhirnya memusnahkan iblis dari dunia ini. Kehadiran Marisa Tomei yang hamper telanjang dada di setiap kemunculannya menjadi penting terhadap karakter yang diperankan oleh Phillip Seymor Hoffman. Dari berbagai karakter ini terlihat betapa penulis cerita paham benar akan seluk belum kejiwaan manusia.

Pada dasarnya, film Before the Devils Knows You’re Dead ini adalah sebuah film keluarga dengan segala permasalahannya. Namun film menjadi istimewa berkat ditampilkan secara brutal, sehingga menghadirkan tontonan yang menghentak. 4/5

HARD WALK : THE DEWEY COX STORY


Tahun 2007 lumayan banyak dirilis film – film musical yang bagus, mulai dari perjalanan karir Edith Piaf di La Vie En Rose, kisah sederhana lewat Once, aksi segar John Travolta di Hairspray, Accros the Universe yang artistic hingga Sweeney Todd : The Demon Barber of Fleet Street yang kelam dan berdarah – darah. Dan jangan lewatkan Hard Walk : The Dewey Cox Story yang naskahnya dikerjakan Judd Apatow dan Jake Kasdan, sutradara film ini.

Berbeda dengan film musical biasa, film ini memilih untuk berada di jalur parody. Film musical berbalut parody? Ya, film yang kesannya main – main ini kalau kita cermati mencoba mengolok – olok film musical kondang dan dinilai bermutu semacam Walk the Line dan Ray yang membuat para bintangnya membawa pulang piala Oscar. Lewat film ini kita diajak untuk melihat betapa standarnya plot cerita yang ditawarkan oleh film musical yang mengangkat kisah orang kondang, terutama di bidang musik.

Para orang kondang tersebut umumnya lahir di lingkungan yang miskin, bermasalah dengan keluarga namun mempunyai bakat istimewa di bidang musik. Sebelum sukses mereka digambarkan melalui jalan yang berat. Selanjutnya setelah sukses, mereka mengalami kehancuran karena peristiwa traumatis di masa lampau serta terjerat wanita (tidur dengan 411 wanita) dan narkoba hingga membuat rumah tangga mereka berantakan. Digambarkan pula betapa kesepiannya mereka di dunia yang serba gemerlap. Dan seperti biasa akan ada sosok perempuan sebagai guardian angel yang akan mengangkat jiwa mereka dari lumpur dengan berdamai dengan dirinya sendiri dan masa lalu. Standard dan klise bukan?

Hard Walk : The Dewey Cox Story hadir untuk mentertawakan pakem tadi. Dimulai dari pemilihan judul yang memelesetkan film Walk the Line, pemilihan bintang yang jauh dari mempesona, sampai pemilihan nama : Dewey Cox ( baca: COCKS ). Jangan heran kalau sepanjang film kita diajak untuk tertawa melihat para tokoh yang ada di layar. Dan namnya juga parody, apa yang disajikan di layar terasa berlebihan. Namun membuat kita sadar betapa kadang konyolnya perilaku orang kondang itu. Dan seperti umumnya film musical tentang musisi kondang, setelah separuh perjalanan film menjadi membosankan.

Seperti umumnya film yang naskahnya dikerjakan Judd Apataw sepanjang film bertaburan dialog – dialog norak, kasar dan seksis. Gambar – gambar yang dihadirkanpun kadang terkesan vulgar, seperti dada bertebaran dimana – mana atau pemunculan alat kelamin pria sebagai background John C Reilly! Dan jangan lewatkan lagu – lagunya dengan lyric yang sangat corny, namun enak di kuping.

Dibandingkan karya Judd Apatow yang kondang semacam Knocked Up dan Superbad, film ini ini jauh lebih lucu dan menghibur. Namun yang mengherankan, sambutan terhadap film ini tidak seheboh kedua film tadi. Padahal John C. Reilly mampu berperan meyakinkan sebagai Dewey Cox. Belum lagi kehadiran beberapa cameo yang mampu menghadirkan suasana segar, seperti Jack Black yang berperan sebagai salah satu anggota The Beatles.Mungkin kalau yang bermain Will Ferrel, hasilnya akan lain.

Selain mengolok – olok film musical yang pernah dibuat, film ini juga berisi sindiran terhadap artis – artis muda sekarang yang banyak terjerat skandal semacam Britney Spears dan Lindsay Lohan (dalam film dikisahkan Dewey Cox memulai karir di usia 14 tahun dan menikah muda). Meskipun tidak semua orang bisa menerima humor yang ditampilkan, namun film Hard Walk : The Dewey Cox Story menempatkan kembali film parody pada jalur yang semestinya. Tidak seperti film yang hanya sebatas rip – off ataupun spoof film – film kondang seperti yang hadir di film Scari Movie, Date Movie dan film lain yang sejenis. 2,75/5

SE, JIE (LUST CAUTION)


Film ini bisa dibilang sebagai salah satu film yang paling banyak diperbincangkan sepanjang tahun 2007. Bukan karena kualitas filmnya, namun lebih ke kontroversi yang mengiringi perilisannya. Mulai dari adegan seks yang dinilai terlalu vulgar antara Tony Leung dengan Tang Wei, sampai dicoretnya film ini dari seleksi Academy Award. Kemenangan film ini di ajang Festival Film Venice seakan tertutupi oleh berbagai kontroversi tadi. Di Cina (termasuk Taiwan dan Hongkong), film ini merupakan film terlaris tahun 2007.

Berbagai kontroversi tadi, terutama adegan seks-nya, tak urung membuat penasaran para calon penonton. Tak heran banyak penonton yang melihat film ini dengan alasan hanya sekedar untuk melihat adegan seksnya. Secara cerita, sebenarnya film ini tidaklah istimewa. Kisah seputar perempuan cantik yang dijadikan umpan para pemberontak untuk menjerat pimpinan pihak yang berkuasa sudah banyak diangkat sebelumnya. Kisah hampir mirip, sebelumnya dapat disaksikan lewat Black Book – nya Paul Verhoeven. Dan tentu saja wajah cantik dan tubuh mulus menjadi sebuah senjata yang ampuh. Untuk memperumit situasi, si perempuan harus jatuh cinta dengan lelaki yang menjadi sasaran pembunuhan.

Cerita yang sebenarnya biasa tersebut, oleh Ang Lee dikemas sedikit membosankan di bagian – bagian awal (seperti film – filmnya sebelumnya) namun tetap menarik untuk disaksikan berkat penggarapan yang penuh detail. Penanganan setting, kostum dan cahaya yang serius menjadikan film ini tampak lebih elegan dibandingkan dengan film bertema sejenis.

Untungnya kelemahan tadi dapat tertutupi oleh penampilan total dari Tony Leung dan Tang Wei. Sosok yang dingin, kejam sekaligus memendam cinta dan gairah ditengah konflik mampu dimainkan dengan bagus oleh Tony Leung. Sedang Tang Wei tampil mengejutkan dengan keberaniannya melepas pakaian. Tang Wei disini bagusnya tidak hanya mengandalkan wajah cantik dan tubuh mulus semata. Berperan sebagai perempuan yang terhimpit diantara dua pihak yang berseberangan bukanlah tugas yang mudah. Namun Tang Wei mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sosok perempuan yang lemah sekaligus kuat dan memendam gairah mampu dia transformasikan dalam bahasa tubuh yang kuat. Bagaimana dia berubah dari gadis yang lugu menjadi wanita yang kuat sekaligus sensual. Paling berkesan adegan dimana dia “dikursus’ sebelum diumpankan kepada Tony Leung.

Adegan seks menjadi penting dan wajib ada dalam film ini. Dan Ang Lee mampu mengemasnya dengan sangat menggairahkan serta kreatif menghadirkan berbagai posisi panas. Dalam adegan percintaan antara Tony Leung dan Tang Wei bisa dilihat betapa membaranya perasaan di antara mereka. Betapa terlarangnya hubungan mereka serta bagaimana situasi yang menyelubungi hubungan mereka. Perkembangan hubungan mereka juga terlihat dari perilaku mereka di ranjang. Sekali lagi Tang Wei patut mendapatkan apresiasi atas keberaniannya. Film ini akan diingat penonton berkat rangkaian adegan percintaan tadi dan juga bulu ketiak dari Tang Wei. 3,25/5

ROMULUS, MY FATHER


Raimond Gaita lahir pada tahun 1946 di Dortmund, Jerman dengan ayah berdarah Rumania dan ibu berkewarganegaraan Jerman. Keluarganya pindah ke Australia pada tahun 1950. Setelah dewasa kuliah di Universitas Melbourne jurusan Ilmu Filsafat, meraih gelar PhD di Universitas Leed dan menjadi sekarang filsuf kondang (?).

Informasi ini sengaja diungkapkan untuk membantu menikmati film Romulus, My Father. Jujur, sulit untuk terhubung dengan film ini karena terus terang sebelumnya tidak tahu siapa itu Raimond Gaita. Akibatnya serasa ada yang kurang dengan naskah dari film ini, yang untungnya kenikmatan menonton tertolong dengan kehadiran gambar – gambar indah dan acting para pemainnya yang bagus, terutama Kodi Smit-McPhee yang berperan sebagai Raimond kecil. Eric Bana juga mampu bermain secara efektif dan pas sebagai Romulus. sedang Franka Potente lumayan meyakinkan sebagai ibu yang labil.

Kembali ke kisah Raimond. Dengan latar belakang budaya orang tuanya yang berbeda negara dan pada akhirnya menetap di Negara dan benua yang berbeda, secara tidak langsung memperkaya karakter dari Raimond. Belum lagi permasalahan berat yang mendera orang – orang yang disayanginya, membentuk Raimond dari anak kecil yang ceria menjadi pribadi yang serius dan kritis, serta religius. Hal inilah yang mungkin membentuk Raimond menjadi pribadi yang bijaksana, yang memahami kehidupan.

Romulus, My Father hadir dari buku dengan judul yang sama. Buku ini ditulis Raimond Gaita sebagai semacam memoir terhadap ayahnya, romulus, yang berperan sangat penting dalam kehidupannya. Seperti umumnya film hasil adaptasi buku, hasil akhir dari film ini terlihat banyak menghilangkan beberapa bagian yang mungkin kalau ditampilkan di layar akan bisa membuat film ini lebih mudah diterima oleh penonton yang tidak mengenal sosok Raimond Gaita. Ada kesan, sutradara menganggap sosok yang dia angkat cukpu dikenal banyak orang. Dan lagi, sebagai sebuah memoir, apa yang dihadirkan terasa bias karena hadirnya beberapa tokoh lain yang ternyata juga cukup penting, seperti sosok Hora (Marton Csokas). Sebagai seorang ayah, Romulus (Eric Bana) kadang juga terasa menyebalkan.

Mungkin karena sosok Raimond Gaita yang disegani dan sangat kondang di Australia sana, sehingga di ajang Australian Film Institute Award 2007 film ini keluar sebagai yang terbaik, selain membawa pulang untuk Aktor Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik. Kemenangan yang mengherankan mengingat film lain, The Home Song Stories, berhasil membawa pulang tak kurang 8 piala, diantaranya untuk Sutradara, Aktris dan Naskah Terbaik. 3/5

DAITEIDEN NO YORU NI ( UNTIL THE LIGHTS COME BACK )


Apa yang akan terjadi ketika Tokyo yang gemerlap dan dinamis mengalami pemadaman listrik secara total? Apakah kegelapan akan menghadirkan makhluk – makhluk seram seperti halnya yang ditampilkan dalam film Indonesia? Atau akankah sebuah kejahatan akan terjadi saat kegelapan menyapa? Sutradara Takashi Minamoto lewat Until the Lights Come Back mengajak kita untuk melihat lebih dekat betapa kegelapan yang hadir bisa membawa pencerahan. Membuka kesadaran akan kebenaran.

Lewat 12 tokoh (sebenarnya ada 1 tokoh lagi namun agak dimarjinalkan) yang tidak berkaitan ataupun saling berkaitan, kita diajak untuk lebih memahami makna dari cinta sebenarnya. Dengan setting cahaya minim, kita diajak untuk menyingkap rahasia dari para tokoh yang terlibat dalam film ini. Mulai dari seorang suami yang selingkuh yang mengetahui satu rahasia besar dalam hidupnya, seorang model yang terkena kanker payudara, pemusik yang sakit hati, seorang ibu yang membuka rahasia besar kepada suaminya dan beberapa tokoh lainnya.

Konflik berjalan dengan amat pelan dan datar. Percikan yang terjadi antar tokohnya tidak ditampilkan secara meledak – ledak. Perndekatan yang sentimentil semacam ini punya potensi membosankan bagi sebagian penonton yang terbiasa melihat film yang penuh dengan tampilan visual yang penuh warna dan hangar bingar. Padahal dari film seperti ini banyak ditemui nilai – nilai berharga yang bisa memperkaya diri.

Meskipun minim cahaya, bukan berarti gambar yang ditampilkan di layar menghadirkan suasana muram dan suram. Sutradara mampu menghasilkan gambar dimana cahaya tampil secara realistis dan indah. Cahaya hadir lewat sinar lilin ataupun sorotan lampu mobil dan bahkan pembatas jalan.

Intinya film ini mengajak kita untuk melihat cinta dari berbagai wajah. Cinta sepasang kekasih, cinta antara suami istri, ayah dan anak, ibu dan anak serta cintar antar umat manusia. Bukan sesuatu yang baru, namun dengan setting yang berbeda mampu mengahdirkan sesuatu yang berbeda.

Kegelapan bukanlan sebuah hal yang harus ditakuti. Bila kita melihatnya lebih dekat, akan ada hikmah yang bisa kita petik. Lewat salah satu tyokoh dalam film ini, kita bisa belajar betapa membahagiakannya ketika kita bisa menjadi penerang bagi orang lain. Jangan takut ketika kegelapan menghampiri, karena masih akan ada cahaya pada akhirnya. Jadi, apa yang akan kamu lakukan ketika lampu padam? Paling enak ya tidur! 2,75/5

Senin, 07 April 2008

THE WATER HORSE : LEGEND OF THE DEEP

Senin, 07 April 2008 0

Terus terang saya sangat merindukan film di luar jenis film kartun yang mampu dinikmati oleh seluruh anggota keluarga, termasuk anak – anak di bawah usia 10 tahun. Film yang kaya nilai dan seminim mungkin menampilkan kekerasan namun tetap menghadirkan tontonan yang menghibur. Anak – anak yang sebenarnya merupakan pasar yang sangat potensial (karena tentu saja akan mengajak pendamping), seakan kurang mendapatkan perhatian yang selayaknya dari para produsen film. Bridge to Terabithia mempunyai potensi sebagai tontonan yang bisa dikonsumsi anak-anak, namun entah mengapa nuansanya terlalu gelap dan suram.

Trilogi Lord of the Rings, rangkaian seri Harry Potter dan petualangan di Narnia rasa – rasanya terlalu banyak mengumbar kekerasan untuk ukuran tontonan anak anak. Namun untunglah ada The Water Horse : Legend of the Deep. Mengambil kehebohan pemunculan monster di danau Lochness di tahun 1940-an sebagai penggiring cerita, film ini mampu menghadirkan tontonan yang memikat secara visual dan aman bagi anak –anak kita.

Angus (Alex Etel) adalah seorang anak yang pemurung sejak ditinggal ayahnya ke medan perang. Hari – harinya dia habiskan di ruangan dimana ayahnya dulunya sering bekerja. Sampai suati hari dia menemukan sebutir telur (besar) hidup Angus berubah menjadi lebih berwarna dan penuh ketegangan. Dari telur tersebut muncul makhluk lucu yang dia beri nama Crusoe. Karena dilarang ibunya memelihara hewan, Angus merawat makhluk tersebut secara sembunyi – sembunyi hingga terjalin hubungan yang istimewa diantara keduanya.

Makhluk yang doyan makan tersebut ternyata tumbuh dengan pesatnya hanya dalam hitungan hari. Dengan terpaksa, Angus melepaskan Crusoe ke danau terdekat di bantu Lewis (Ben Chaplin) seorang pendatang yang melamar pekerjaan di rumahnya. Situasi makin sulit ketika datang segerombolan tentara yang mendirikan perkemahan di lingkungan rumah Angus dan membahayakan nyawa Crosue.

Film ini selain menarik berkat polesan visual apik yang dilakukan oleh WETA (yang juga memperindah trilogy Lord of The Ring) juga berkat hubungan yang unik antara Angus dengan Crosue. Dari Crosue yang menganggap Angus orang tuanya, Angus yang sebelumnya takut dengan air menjadi lebih berani menghadapi apa yang ditakutinya tersebut. Asyik sekali adegan ketika Angus menaiki Crosue dan bermain – main di danau. Anak kecil pasti senang sekali di bagian ini. Dari Crosue pula akhirnya Angus bisa belajar menerima kenyataan kehilangan ayahnya yang sangat dia cintai. Penampilan Alex Etel yang sebelumnya tampil menggemaskan di film Millions sayang untuk dilewatkan. Bila ingin bergembira bersama seluruh anggota keluarga, film ini sangat direkomendasikan. 3,25/5


English


THE WATER HORSE : LEGEND OF THE DEEP


Truly, I missed the film outside cartoon genre that able to enjoy a whole family, include the children under 10 years. Film that rich of value and less of violence, but able to present the entertaining film. Children is a potential market actually (of course they will take the guardian also) is out of attention from the film producer. Bridge to Terabithia has a potential as film that can be consumed by the children, but somehow it’s too dark and vague.


The trilogy Lord of The Ring, the series of Harry Potter and the adventure in Narnia it seem to many expose the violence to the children. But luckily there is The Water Horse: Legend of the Deep. Taking the sensational of the come up of the Lochness lake’s monster in 1940’s. The film is able to present nice view that attract as visual and safe to our children.


Angus (Alex Etel) is a melancholic children since had left by his father to the war. His days he spent in the room where his father used to work. Until one day he found an egg (big one) that change Angus’s live become colorfull and full of tense. From that egg come up a little funny creature that he called Crusoe. Because forbidden by her mother to have a pet, Angus is carrying the creature quietly until there is a special relationship between both of them.


The creature is grown so fast just in few days. And Angus has to let Crosue go to the lake near by with the help from Lewis (Ben Chaplin) an urban that applied a job in his house. The situation is getting dangerous to Crouse’s live when a bunch of soldier is come and built tents near Angus’s house.


The film is attractive because of the visual that worked by WETA (trilogy Lord of The Ring) also because of the unique relation between Angus with Crosue. Crosue is consider that Angus is his mother, and Angus isn’t scared to the water anymore. It is so passionate to see Angus go up on Crosue and play on the lake. Kid must be have fun in this part. Angus is also can accept the truth that he has lost his father that he loves most. The performance of Alex Etel that so cute in Millions to pity to miss. If you want to have fun with all of the family, it’s very recommended film. 3.25/5

ONCE UPON A TIME



Pada suatu masa di Korea, tepatnya di tahun 1944 ditemukan permata super besar yang diberi nama “The Light of East” atau Cahaya Timur. Permata tersebut merupakan peninggalan yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa Korea. Namun karena pada saat itu Korea dikuasai oleh Jepang, maka permata berharga tersebut dikuasai oleh pihak Jepang.

Setahun berlalu setelah ditemukannya permata tersebut, ada kabar kalau permata tersebut akan dipertontonkan untuk khalayak umum. Tak urung kabar tersebut menarik perhatian banyak pihak. Mulai dari Bong-gu (Park Yong-woo), seorang broker barang antik yang flamboyan, Chun-ja (Lee Bo-young) penyanyi jazz yang menjadi pencuri hebat bernama HaeDangHwa sampai pemilik bar beserta pelayannya, serta beberapa pihak lainnya.

Sudah bisa ditebak, permata hilang sesaat sebelum dipertontonkan. Pihak Jepang bagai kebakaran jenggot dan berusaha menangkap pencurinya. Disinilah konflik mulai berjalan. Jangan membayangkan petualangan seru ala National Treasure. Sutradara Jeong Yong-Ki mengemas film ini dengan balutan komedi yang di beberapa bagian mungkin terasa berlebihan, apalagi dengan beberapa guyonan local yang mungkin sulit membuat penonton luar untuk tertawa. Namun tak urung terdapat beberapa adegan yang lumayan memancing tawa. Berapa adegan action juga digarap lumayanlah. Untuk sebuah film beraroma petualangan, atmsfer ketegangan tidak begitu muncul.

Yang membuat film ini berbeda dengan film lain dengan tema sejenis adalah gesekan antara para tokoh yang terlibat dalam film ini. Situasi yang ada menyebabkan kecurigaan antar para tokohnya. Akibat pendudukan Jepang, banyak orang Korea yang berusaha menjadi Jepang agar bisa bertahan hidup. Mereka merubah nama mereka, berbicara dengan bahasa Jepang dan juga mengabdi pada orang Jepang. Mereka hidup dengan identitas ganda. Hal inilah yang menyebabkan rasa curiga di antara mereka semakin tajam. Pada pertengahan cerita, terkuak siapa mereka sebenarnya. Pada akhirnya rasa nasionalisme lah yang menjadi pemenang. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Dalam beberapa bagian, penonton akan merasakan beberapa kejanggalan yang mungkin akan menganggu kenikmatan menonton film ini. Kalau perasaan ini muncul, hal ini menjadi bukti betapa pintarnya penulis naskah film ini. Di akhir cerita kita disuguhi fakta mengejutkan seputar keberadaan permata yang menjadi sentral cerita yang akan menjawab kejanggalan yang ada. Rasa janggal tidak akan muncul kalau kita membaca dengan sungguh – sungguh judul dari film ini, ONCE UPON A TIME…… 2,75/5.

THIS FILM IS NOT YET RATED


Masalah rating dan sensor film ternyata tidak hanya mengemuka di negara Indonesia saja. Di Amerika yang katanya negara bebas ternyata juga ditemui berbagai masalah berkaitan dengan rating dan sensor film. Lewat This Film is not Yet Rated arahan Kirby Dick ini kita diajak untuk melihat seluk beluk seputar departemen rating di MPAA dengan perspektif dari pekerja film dan para pemberi rating.

Rating dan sensor film sebenarnya menjadi satu kesatuan yang saling terkait di Amerika (Hollywood) karena ujung – ujungnya berhubungan dengan duit. Produser film akan senang kalau film mereka diberi rating G, PG atau PG – 13 karena berarti pasar akan semakin luas. Berbeda dengan film yang berrating R dan NC – 17. Kadang demi kompromi dengan pasar, para pekerja film dengan terpaksa harus “memperhalus” karya mereka, yang mau tidak mau akan merusak karya mereka.

Hal tersebut mungkin bisa diterima oleh pekerja film kalau saja badan pemberi rating mempunyai standar yang jelas dan konsisten serta transparan. Masalahnya adalah seringkali badan pemberi rating menerapkan standar ganda serta memberi alasan yang tidak kuat (menjaga moral masyarakat?). Mengapa adegan seks sesama jenis mendapatkan rating NC – 17, sedangkan film yang didalamnya terdapat adegan seks lain jenis mendapatkan rating R. Dan mengapa adegan kekerasan penuh darah lebih bisa diterima dibandingkan adegan telanjang (seks). Pertanyaan – pertanyaan ini disajikan Kirby Dick dengan membandingkan film – film yang dimaksud.

Dibantu oleh private investigator, Kirby Dick mencoba mencari tahu orang – orang yang terlibat dalam pemberian rating sebuah film. Tidak mudah untuk mengorek informasi seputar rating, karena untuk memasuki gedungnya saja tidak mudah karena penjagaannya yang super ketat. Belum lagi identitas para pemberi rating yang disembunyikan demi menghindari suap. Dengan pengamatan dan penyelidikan yang intensif, mereka mendapati beberapa fakta mengejutkan seputar departemen rating. Fakta terbesar adalah betapa sebenarnya departemen ini sudah dikuasai dan disetir oleh studio – studio besar di Hollywood. Selain itu juga ditemui beberapa hal yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Film documenter ini disajikan dengan menarik. Penyelidikan ala film detektif membuat film ini menarik selain pemunculan beberapa pekerja film yang mengemukakan opini mereka seperti Maria Bello, Kimberly Pierce (sutradara Boys Don’t Cry), Kevin Smith, John Waters, Darren Aronofsky dalan masih banyak lagi. Selain itu kilasan adegan seks dan adegan kekerasan lumayan memberi warna. Film ini penting bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam apa yang yang terjadi di balik dunia gemerlap Holywood. Banyak informasi penting dalam film ini. 3,5/5


English

THIS FILM IS NOT YET RATED


The rating and the censor as matter a fact is not only come up in Indonesia. In America that known as free country is dealing with the problem that connect with rating and censor. Trough the Film is Not Yet Rated direct by Kirby Dick we are taking to see the rating department in MPAA with the perspective from the film maker and rating’s giver.


Film’s rating and censor actually is unite and connected because in America (Hollywood) it’s all about the money in the end. Film’s producer will be delighted when his film is given G, PG or PG-13 because it’s mean larger market. Different when the film is rating with R or NC – 17. Sometimes to compromise with the market, the film maker have to soften their work which mean the have to screw it.


This kind of thing perhaps can be accepted by the film maker if the rating giver department has the clear standard and consistent also transparent. The problem is that sometimes the rating giver department give double standard and give weak reason –to control the society’s moral-. Why sex’s scene of same gender get rating NC – 17, and the film that have the sex’s scene of the different gender get rating R. And why the violence that full of blood can be accepted rather the naked (sex). The questions is given by Kirby Dick by comparing the films above.


Helped by the private investigator, Kirby Dick is trying to looking for people who give rating to a film. It’s not easy to get the information about the rating, because to enter its building is not easy job because of the extra guard. And the identity of the rating giver that hidden to avoid the cheater. With the observe and incentive investigation they get some fact that surprising around the rating’s department. The biggest fact is that the rating department is helmed by the big studios in Hollywood. Beside that some of things is known not appropriate with the rule.


The documentary film is shown impressively. The investigation like a detective film make this film interesting beside there some of the film makers that come up with their opinion like Mario Bello, Kimberly Pierce (Boy’s Don’t Cry director), Kevin Smith, John Waters, Darren Aronofsky and many more. Beside that the flash of the sex’s scene and violence’s scene give more color. This film is important to whom that want to know more what happened behind the glamour of Hollywood. A lot of important information in this film. 3.5/5

MOT MALLINEUN GYEOLHON (UNSTOPPABLE MARRIAGE )


Eun-Ho adalah seorang gadis tomboy yang diasuh dengan nilai – nilai tradisional oleh ayahnya. Disisi yang lain ada lelaki bernama Ki – Baek yang terbiasa dengan gaya hidup mewah, dimanja oleh ibunya dan sering gonta – ganti pacar. Bisa ditebak kedua tokoh berbeda karakter tersebut dipertemukan dan memunculkan gesekan – gesekan yang lumayan bisa mengundang senyum. Dan juga bisa ditebak bila pada akhirnya keduanya jatuh cinta.

Masalahnya adalah ayah Eun-Ho dan ibu Ki – Baek tidak akur. hal ini dikarenakan ayah Eun – Ho tidak mau menjual tanahnya untuk dijadikan lapangan golf oleh ibu Ki – Baek. Namun demi anak mereka yang mereka sayangi dan mereka banggakan mereka berusaha menerima pilihan anak mereka. Yang tidak diketahui adalah di belakang mereka menggunakan berbagai cara untuk memisahkan Eun – Ho dan Ki – Baek.

Cerita yang ditawarkan sebenarnya sangat sederhana. Namun oleh sutradara Kim Seok-Wook mampu mengemasnya dengan balutan komedi yang segar. Perbedaan kedua keluarga tersebut mampu dieksploitasi dengan baik dengan menghadirkan adegan – adegan lucu sekaligus berisi sindiran terhadap pola pikir kedua kelurga tersebut.

Menarik melihat hubungan yang terjalin antara ayah Eun – Ho dengan ibu Ki – Baek. Meskipun bermusuhan, mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka bekerja sama. Dengan dibalut ego dan gengsi yang tinggi, tercipta perpaduan yang asyik, walau keduanya enggan mengakuinya. Kedua pemeran tokoh tersebut juga mampu memerankan dengan segar, terutama aktris Kim Soo-Mi yang tampilmenggemaskan dengan penampilan dan bahasa tubuhnya. Rasa – rasanya chemistry keduanya lebih meyakinkan dibandingkan hubungan antara Eun – Ho dengan Ki – Baek. 3/5

EL ORFANATO (THE ORPHANAGE)



Ketika Hollywood sibuk me-remake film – film horror Asia dengan gaya mereka dengan hasil yang mengecewakan banyak pihak, di tahun 2007 kemarin hadir film horror produksi Spanyol yang mendapatkan pujian dari berbagai pihak, The Orphanage. Di Spanyol sendiri, film ini berhasil mendgeruk banyak keuntungan dan mendapatkan berbagai penghargaan. Setelah Kerinduan akan film horror cerdas semacam The Sixth Sense dan The Others bisa terobati lewat film ini.

Diproduseri oleh sineas yang jago menghadirkan suasana creepy, Guillermo del Torro, film ini mengisahkan tentang pasangan Carlos (Fernando Cayo) dan Laura (Belén Rueda) serta anak mereka Simon (diperankan dengan bagus sekali oleh actor cilik Roger Príncep). Mereka bertiga pindah ke sebuah rumah bekas panti asuhan yang rencananya akan mereka jadikan sebagai tempat penampungan anak – anak berkebutuhan khusus.

Di awal kita diajak melihat mereka sebagai sebuah keluarga yang bahagia, meskipun si kecil Simon sering bersikap aneh dengan bercakap – cakap dengan makhluk yang tidak terlihat. Carlos dan Laura menganggap hal tersebut sebagai hal biasa. Hanya anak kecil dengan imajinasinya. Namun keanehan demi keanehan dirasakan dan ditemui oleh Laura setelah Simon mengaku “bertemu” dengan Tomas ketika mereka bermain di pantai.

Sejak pertemuan tersebut dan juga pemunculan wanita tua, Benigna (Montserrat Carulla), kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Puncaknya adalah ketika Simon menghilang. Sebelumnya kita dihadapkan pada sebuah kebenaran bahwa sebenarnya Simon adalah anak angkat dengan usia yang tidak akan lama dikarenakan dia terjangkiti HIV.

Untuk sebuah film horror, sebenarnya apa yang disajikan dilayar tidaklah mengerikan seperti halnya kebanyakan film horror. Film ini menarik berkat kemampuan penulis cerita dalam menghasilkan sebuah kisah yang penuh misteri. Kita seakan – akan diajak dalam sebuah bermain untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Menarik melihat adegan dimana Simon mengajak Laura untuk bermain bersama teman – temannya. Dan juga ketika Laura memutuskan untuk bermain dengan makhluk – makhluk tak terlihat demi menemukan Simon. Kalau kita jeli, sebenarnya ada banyak petunjuk yang diselipkan, namun karena kepiawaian penulis naskahnya, petunjuk tersebut menjadi sedikit kabur, dan pada akhirnya membuat kita menggelengkan kepala ketika semuanya terkuak di akhir film. Sebuah twist ending yang bagus, meskipun menyesakkan.

Selain materi cerita yang bagus, film ini menarik berkat acting Belén Rueda yang mampu menjiwai perannya dengan sangat baik. Seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya dan usahanya menemukan kembali anaknya mampu dia perankan dengan mulus, padahal di saat yang sama dia juga harus meyakinkan suaminya akan apa yang sebenarnya terjadi berkaitan dengan berbagai keanehan yang muncul. Belum lagi dengan rasa bersalahnya, karena menampar Simon sesaat sebelum menghilangnya Simon. Perhatikan adegan ketika Laura meratap setelah dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah adegan yang sangat emosional.

Film yang layak di beri gelar Film Horor Terbaik 2007 ini bukannya tanpa kekurangan. Kalau kita tonton dengan cermat, sebenarnya ada beberapa lubang yang sedikit lumayan mengganggu (maaf tidak bisa diungkapkan). Namun dengan ending cerita yang dihadirkan, film ini sangat sayang sekali untuk dilewatkan. Film ini juga mempunyai pesan yang bagus. Sayangi anak - anak kita, apapun keadaannya dan beri perhatian ekstra pada mereka. Jangan sampai mereka lepas dari pengawasan kita walau sedetikpun. 3,5/5

WOOAHAN SEGYE ( THE SHOW MUST GO ON )


In-gu (Song Kang-ho) adalah seorang anggota gangster yang menggunakan segala cara, termasuk kekerasan, dalam mencapai apa yang diinginkannya. Pada awal film kita diberi gambarkan betapa dinginnya tokoh In-gu ini. Bisa dibilang dia adalah sosok yang disegani di dunia gangster. Namun tidak demikian dengan yang dihadapinya ketika memasuki rumahnya. Istri dan anaknya menganggap dirinya sebagai orang yang tidak penting, dan cenderung menyebalkan. Pada suatu adegan, In-gu memberi guru putrinya free pass masuk ke sebuah club penari telanjang!

Pada suatu ketika dia ingin mengundurkan diri dari dunia gangster. Tanpa sepengetahuan istri dan anaknya dia mencari rumah yang akan dia tempati bersama keluarga nantinya setelah dia pensiun. Untuk mencapai impian tersebut dia berusaha sekuat tenaga mensukseskan “proyek” terakhirnya. Namun ternyata usahanya tersebut menemui banyak rintangan. Mulai dari pertentangan antar anggota gangster sampai dengan konflik dengan istri dan anaknya yang makin meruncing. Puncaknya adalah ketika istri dan anaknya meninggalkan dirinya di saat dia gagal dengan “proyek” terakhirnya.

Apakah In-gu akan menyerah begitu saja? Dan apakah dia akhirnya akan benar – benar berhenti dari dunia gangster dan berperan sebagai suami dan ayah pada umunya? Jawaban dari pertanyaan – pertanyaan ini sangat layak ditunggu. Selain karena acting dari Song Kang-ho yang prima (sebelumnya banyak mendapat penghargaan lewat film The Host), sutradara Jae-rim Han juga mampu mentajikan adegan – adegan yang mengalir lancar. Bisa dibilang film The Show Must Go On ini merupakan film yang lumayan komplet. Film yang meraih piala film dan actor terbaik di ajang Blue Dragon Film Award ini menyelipkan humor – humor penuh ironi dibalik adegan drama yang lumayan menyentuh dan adegan action yang digarap serealistis mungkin.

Menarik dengan penggambaran tokoh In-gu. Berbeda dengan gangster lain yang biasanya digambarkan berkelas dan cerdas serta punya wibawa, In-gu disini digambarkan lebih suka main otot dibandingkan dengan otak. Belum lagi dengan pembawaannya yang sering seenaknya sendiri. Masalah keuangan yang menimpanya juga menjadikan sosok In-gu lebih realistis dan membuat penonton merasa dekat serta bersimpati kepadanya. Akhir cerita yang dipilih bisa jadi bukan yang diinginkan oleh penonton, namun dengan ending seperti itu, film ini mempunyai nilai lebih dibandingkan film – film lain yang mengambil tema gangster. 3,25/5


English


WOOAHAN SEGYE (THE SHOW MUST GO ON)


In-gu (Song Kang-ho) is a gangster that use anything to reach what he want, include violence. At the beginning of the film we will show how cold In-gu is. He is the prominent figure that scared in the gangster world. But not when he is in the house. His son and wife consider him as unimportant person and annoying. In a scene, In-gu give her daughter’s teacher a free pass to enter the striptease club.


One day he back up from the gangster’s world. Without noticed by his son and wife, he is looking for a house that he and his family will stay after he is retired. To make the dream comes true he tried to succeed his last project. But his effort face so many barrier. From the conflict between the member of the gangster, and the family conflict. The climax is when his son and wife abandon him at the same time when he failed his last project.


Is In-gu will give up? Is he really gonna stop from the gangster and become a common husband and father? The answers of the questions is so worth to see. Beside the acting from Song Kang-ho (had the appreciation through film The Host), the director Jae-rim is able to show the scenes that flow smoothly. The film is complete, I can said that. In the Blue Dragon Film Award this film is win as the best film and the best actor. The film is inserted the humor that full of irony beneath the drama. And the action scene is very realistic.


The In-gu character is interesting. Different with the other gangster that shown have a class and smart, In-gu is describe as a man who used muscle oftenly that used his brain. The financial problem that he had make his realistic character that close to the audience. The ending that choosen is not what the audience want, but with the such ending, this film is have more value than the other films that take the gangster as its theme. 3.25/5

 
GILA SINEMA. Design by Pocket