Sabtu, 12 Desember 2009

FAR FROM HEAVEN

Sabtu, 12 Desember 2009

Sungguh pantas bersyukur apabila disisi kita ada sosok layaknya Cathy Whitaker (Julianne Moore). Berpenampilan menarik, cerdas, cinta seni serta merupakan istri dan ibu yang baik. Bahkan, setelah mengetahui kecenderungan seksual suaminya, Frank (Dennis Quaid), Cathy tetap berbesar hati menerima hal tersebut dan selalu siap membantu perilaku suaminya yang pada waktu itu dimasukkan sebagai jenis penyakit. Cathy bak malaikat dengan menjalin hubungan baik dengan kaum kulit hitam yang pada saat itu dianggap warga kelas dua.


Ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin menjalani hidup bermasyarakat, kalau sistem yang ada tidak mendukungnya ya sama juga bohong. Begitupun dengan Cathy yang dengan pemikiran liberalnya perlahan mulai mengalami gesekan dengan orang-orang sekitar yang cenderung konservatif. Cathy harus menjaga rapat rahasia suaminya meski suaminya seringkali tidak menghargai usahanya tersebut bahkan melakukan kekerasan terhadapnya. Hubungannya dengan Raymond Deagon (Dennis Haysbert) disoroti oleh banyak pihak dan menyebabkan gossip keduanya terlibat hubungan tidak pantas (untuk masa itu), yang membuat Cathy mundur meski merasa nyaman disamping Raymond. Malang nian nasib Cathy. Dia itu orang baik yang hidup di era yang salah hingga kesempurnaan hidup (surga) terasa amatlah jauh dari jangkauan.


Setelah bersabar selama 7 tahun, akhirnya Gilasinema menemukan juga film ini. Kesabaran Gilasinema nyatanya berhasil terbayar dengan sebuah kenikmatan dan kepuasan dalam menikmati film ini. Sutradara Todd Haynes berhasil memanjakan mata kita dengan keseriusan dalam penataan artistik yang mengingatkan pada film-film era 1950-an. Mulai dari kostum, pewarnaan, pencahayaan, properti hingga aksen pada dialognya benar-benar ditata dengan apik demi menghadirkan aura era tersebut. Pemilihan warna-warna permen menghadirkan visual yang artifisial nan indah dan it’s so gay!


Setting tempat dan waktu yang berpengaruh pada pemilihan kata serta gesture pemainnya yang kental nuansa tetrikal, bukannya sekedar untuk gaya-gayaan. Di sebuah masyarakat yang mempunyai kontrol sosial yang ketat dan diwujudkan pada peran dan status yang diatur dengan tegas, kemunafikan cenderung tumbuh subur. Pada masyarakat model begini, kesempurnaan tampilan amatlah penting. Tak mengherankan kalau hal ini mendorong individu-individu didalamnya berlagak sesuai apa yang dituntut oleh norma yang ada. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan ini mendorong mereka untuk berperilaku tidak dari hati, dengan kata lain bersandiwara. Far from Heaven rasanya akan menjadi sebuah kajian yang menarik bagi mereka yang tertarik mendalami Sosiologi.


Dengan materi cerita yang menarik serta penggarapan memikat, film yang diproduseri oleh George Clooney dan Steven Soderbergh ini makin mantap berkat penampilan para cast nya yang mumpuni. Far from Heaven memperlihatkan kualitas akting Julianne Moore yang harusnya dihargai oleh juri Academy Award. Lihat saja campuran ekspresi tak berdaya dan hancur yang dialaminya. Dan bagaimana kemudian dia menampilkan wajah pasrah, sekaligus kekuatan untuk meneruskan hidup. Yang mengejutkan tentu saja penampilan Dennis Quaid. Ternyata dia bisa acting juga.


Far from Heaven sangat sayang untuk dilewatkan apalagi buat yang suka film ala American Beauty. Dan meski produksi tahun 2002, kualitasnya tidak kalah dengan film produksi mutakhir. Todd Haynes sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam menyajikan sebuah tontonan yang utuh. Bagaimana cerita menguatkan visual dan sebaliknya, visual menopang cerita. Selain Far from Heaven ini, bisa dicek lagi kehandalan Haynes dalam Velvet Goldmine dan I’m Not There. Temanya juga rasanya masih cukup relevan, dan bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat di Indonesia yang kontrol sosialnya masih sangat kuat terutama di daerah pinggiran (baca: pedesaan). 4,5/5

5 komentar:

Powerrangga mengatakan...

wah jadi pengen banget nih nonton ini!
tapi kayaknya susah nyari si tempat penyewaan :(

gilasinema mengatakan...

Iya, memang susah banget. Aku dapetnya di Jogya, padahal sempat ngubek-ubek ke Jakarta :D

Awya mengatakan...

Setelah percakapan kt di fb, bsoknya saya lsg kliling Kuta nyari dvdnya. Ketemu! And... What a film! Klasik bgt suasananya. Warna2 pastel yg elegan. Julian Moore emg pantes dpt oscar meski nicole kidman jg pantes jg. Heran film ini gk msuk best picture.

Adegan wkt cathy naik mobil itu klasik bgt. Jd inget pas ntn film2 jaman dulu.

Anonim mengatakan...

Gak dapet2 nyari dvd nih film sampe manapun, sekalinya pas dapet download kualitas bluray eh subtitles indonesianya gak ada. Pein Akatsuki atau volunter substitle lainnya blm ada yg nerjemahin film ini... Sayang jd blm ane tonton, padahal penasaran sm filmnya :(

Unknown mengatakan...

Lagi nntn filmnya sekarang di harri cinema bagussss dan apik bgt filmnya...

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket