Selasa, 09 Maret 2010

GILA SINEMA INDONESIA

Selasa, 09 Maret 2010

Setelah larut dalam kemeriahan Oscar 2010, kini saatnya kita “pulang” untuk merayakan 10 tahun kebangkitan sinema Indonesia. Sejak suksesnya Petualangan Sherina di tahun 2000, sinema Indonesia yang sebelumnya sempat mati suri, secara perlahan mulai bangkit. Sebenarnya, kebangkitan sinema Indonesia dimulai ketika Kuldesak dirilis dan juga bergabungnya beberapa sineas muda dalam I – Sinema dimana mereka yang bergabung berkomitmen untuk membangun (lagi) sinema Indonesia. Beberapa nama yang tergabung didalamnya seperti Riri Reza, Mira Lesmana dan Rizal Mantovani tidak bisa dipungkiri mempunyai andil besar dalam membangkitkan sinema Indonesia. Jangan lupa, Nayato juga termasuk didalamnya.
Seperti telah disinggung diatas, sejak tahun 2000, sinema Indonesia mengalami kebangkitan, terutama dari segi kuantitas. Pada tahun 2000, baru 3 judul film Indonesia yang nampang di Cineplex. Jumlah ini meningkat menjadi 4 judul di tahun 2001. Tahun 2002 – 2004, ada lebih dari 10 judul film Indonesia yang dirilis, dan pada tahun 2005 berhasil menembus angka 20 judul. Tahun 2008 menjadi tahun paling produktif, dengan dirilisnya lebih dari 80 judul! Di tahun 2009 kemarin, meski sedikit menurun namun tetap berada diatas 80 judul.


Dalam kurun waktu 2000 – 2009, total film Indonesia yang telah dirilis mencapai 320 judul lebih (menurut data yang ada di Wikipedia). Dari ratusan judul ini, sudah berapa banyak yang sudah kamu tonton? Gilasinema sendiri ternyata baru melihat sekitar 150-an judul saja, dimana hanya sekitar 50 judul saja yang dibela-belain nonton dibioskop.
Peningkatan jumlah produksi sinema Indonesia disatu sisi memang patut kita banggakan, namun ketika bicara kualitas, kita belum bisa benar-benar bangga terhadap sinema Indonesia. Banyak sekali judul film Indonesia yang rasanya tidak layak ditonton di bioskop. Banyak judul yang digarap asal-asalan dan serba cepat. Bagaimana bisa membuat karya yang bagus kalau proses produksinya hanya memakan waktu 1 minggu? Kadang, menikmati film Indonesia itu seperti makan junk food yang kalau kebanyakan bisa menyebabkan kanker.
Dipandang dari segi konsumen dan itung-itungan ekonomi, film Indonesia itu sebuah tontonan yang mahal. Dengan harga tiket rata-rata Rp. 15.000,00 kadang kita mendapatkan tayangan menyebalkan yang penuh dialog dan adegan murahan yang tidak lucu dengan durasi kurang dari 90 menit. Rugi! Bandingkan dengan ketika kita menonton Avatar misalnya. Dengan pengeluaran yang sama, kita disuguhi sebuah karya hebat nan canggih berdurasi lebih dari 150 menit dengan biaya produksi mencapai ratusan juta dolar. Dalam hal ini penonton merasa untung. Untuk 1 menitnya kita cukup membayar Rp. 100,-. Murah kan?


Namun sebagai penggila sinema, mencicipi sinema Indonesia tetaplah sebuah kegiatan penting meski tidak melihatnya langsung di bioskop. Kenapa penting? Karena dengan menontonnya, kita (merasa) menjadi bagian dari perkembangan film Indonesia. Kalau bukan kita yang menghargai film produksi dalam negeri, siapa lagi? Perkembangan sinema Indonesia menyimpan sebuah potensi ekonomi yang luar biasa, karena akan menggerakkan banyak roda ekonomi, mulai dari pegawai peminjaman film, penyediaan tenaga tukang sobek tiket, operator film hingga para pekerja sinema itu sendiri. Sayang, pemerintah tampaknya belum menyadari potensi ini. Belum terlihat upaya dari pemerintah untuk menjadikan sinema Indonesia sebagai salah satu penggerak perekonomian. Katanya mau menggerakkan industri kreatif, tapi pajak hiburan kok masih tinggi dan belum ada timbal balik yang pantas. Ah, sudahlah mending kita ngomongin yang asyik-asyik saja.
Merayakan 10 tahun kebangkitan sinema Indonesia, di bulan Maret ini Gilasinema akan menyajikan beberapa tulisan, bolehlah disebut rangkuman, berkaitan film-film yang dirilis sepanjang tahun 2000 s/d 2009. Selain 10 Film Indonesia dan 10 I Horror pilihan Gilasinema, juga akan disajikan persembahan terbaik dari 3 sutradara yang cukup produktif sepanjang 10 tahun terakhir. Itu kalau tidak dihadang rasa malas lho hehehe. Mari merayakan 10 tahun kebangkitan sinema Indonesia. MARI MENGGILAI SINEMA INDONESIA!




O, iya beruntung sekali buat mereka yang tinggal di Jakarta karena bisa merayakan Bulan Film Nasional bersama KINE FORUM

9 komentar:

Fariz Razi mengatakan...

setelah baca post ini saya jadi malu sendiri karena selama ini gak terlalu banyak mengapresiasi film lokal. alasannya klasik: selalu dikecewakan sih. saya suka sekali sama film2 indonesia ketika jamannya masih dikit2 rilis nya. entah kenapa kelihatannya lebih bagus kualitasnya. saya ingat banget bela2in minjem vcd pasir berbisik waktu itu padahal masih SD terus juga andai ia tahu buatan transinema dan ada beberapa judul yang sebenarnya cerita dan filmnya sendiri biasa saja, tapi kalau dibandingkan dengan produksi sekarang entah kenapa kualitasnya lebih bagus.

semoga tahun ini film2 Indonesia jadi lebih baik lagi. meminjam kata2nya om gila, semoga nonton film indonesia nanti ga perlu pake maklum2 lagi hahaha

Kania mengatakan...

saya dukung! mari kita majukan perfilman indonesia.. hehehe

Firas mengatakan...

woh atas saya si kania hehe :D
yang gw bingung kenapa film2 indonesia yang bagus itu malah kurang terkenal ya di kalangan warga indonesia sendiri . contohnya kaya pintu terlarang,kala,fiksi, dll , kayanya jadwal tayang di bioskopnya cepet banget . beda kaya film setan2 porno :( tu film lama banget nangkring di 21 ato XXI :(

awyangobrol mengatakan...

Asik! mau tahu ini pilihan Om gila. Kalo versi saya Om udah tahu kan siapa yg nomer satu. hihi.

yuwanto mengatakan...

320 judul? hmm kyknya saya juga baru 100 judul yg ditonton ... jangan ga nyampe pun haha.

dulu sempet kepikiran ide semua film indo mau gw tontonin tuh di bioskop yang murah, trs di review satu2 haha. tp apa daya waktu dan kesehatan mental untuk itu ga cukup haha.

hantu binal aja bikin trauma bukan filmnya ajah, tp buat balik ke bioskopnya ajah trauma! haha!


btw dvd mammamianya uda sampe :D thanks yah :D jauh juga dikirim dari wonogiri :D

ekajazzlover mengatakan...

film indonesia terakhir yg saya tonton di bioskop merah putih, hasilnya kecewa banget. tahu gitu saya nonton merantau, tapi setidaknya untuk mengisi kejenuhan di antara komedi dewasa dan horor,, merah putih bolehlah. cuma saya harap rilisnya jangan dipasin agustus mulu, gak perlu nunggu momen agustusan buat ningkatin nasionalisme. nagabonar 2 aja rilisnya dulu maret

aku mengatakan...

KALAU MAU DOWNLOAD FILM DALAM FORMAT 3GP DAN BISA KALIAN LIHAT DI HP KALIAN MASUK AJA DI

WWW.FILMTIGABELAS.BLOGSPOT.COM

DARI FILM INDONESIA ASIA HOLLYWOOD SAMPAI BOLLYWOD ADA

bang thoif mengatakan...

Antara tahun 2004-2017..saya nonton yg langsung ke bioskop ..film Indonesia skitar 60-70judul film...85%nya film genre Horor...heheheh

bang thoif mengatakan...

Saya sudah data..diangka 67 judul..sisanya..msh saya ingat2 ..ting hhehe

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket