Sabtu, 10 Januari 2009

SLUMDOG MILLIONAIRE

Sabtu, 10 Januari 2009


Kata “slum” merujuk pada pemukiman padat penduduk yang kumuh, kotor dengan sanitasi buruk. Tempat dimana berbagai macam penyakit tumbuh dengan subur, termasuk apa yang dinamakan penyakit masyarakat. Mereka yang tinggal di pemukiman dianggap sebagai kaum tidak penting, bahkan dianggap sebagai beban. Makanya sebuah kebijakan seringkali tidak bersikap adil kepada mereka yang tinggal di wilayah “slum” ini. Ditambah kata “dog” menjadi “slumdog”, posisi mereka yang sudah rendah menjadi lebih rendah lagi, dan layak disebut sebagai sampah masyarakat.
Namun siapa yang menduga dari pemukiman kumuh ini kita bisa banyak belajar mengenai banyak hal. Pemukiman kumuh ini ternyata bisa menjadi seperti sebuah laboratorium social yang amat sangat menarik untuk dipelajari. Betapa pemukiman ini menyimpan kekayaan tak terhingga akan nilai-nilai hidup. Dan ternyata tidak masalah dimana kita tinggal, karena yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menyerap apa yang menghampiri kita sebagai bekal menjalani hidup.
Lewat perjuangan Jamal, Salim dan Latika, kita diajak bagaimana tiga pribadi bertolak belakang “membaca” jalan hidup yang mereka lalui, dan apa yang mereka dapatkan pada akhirnya. Lewat kilas balik penuturan Jamal disela-sela kuis Who Wants To Be A Millionaire (Kaun Banega Crorepati), kita diajak mengikuti usaha Jamal dan Salim dalam bertahan hidup ditengah kota Mumbai yang padat dan riuh. Bagaimana mereka menghadapi kerusuhan agama yang merenggut ibu mereka, praktek “penjemputan” anak untuk dijadikan pekerja anak (pengemis), sampai bertahan di dunia yang dikuasai oleh mafia kejam.
Lewat kisah Jamal tadi, tak pelak kita disuguhi sisi gelap dari kota Mumbai. Banyak gambar-gambar yang mengejutkan yang dihadirkan oleh Danny Boyle. Adegan ketika Jamal terjun ke penampungan tai hanya demi bertemu dengan idolanya Amitabh Bachan, meski terkesan menjijikkan, namun berhasilkan menghadirkan efek kejut yang menghentak.
Mumbai memang tepat untuk dijadikan setting cerita. Mumbai adalah termasuk salah satu wilayah terpadat di dunia dan menjadi salah satu wilayah tersibuk di India. Dengan jumlah penduduk lebih dari 13 juta jiwa, Mumbai dihuni oleh penduduk dengan berbagai agama serta suku, dengan sekitar 60% diantaranya tinggal di pemukiman kumuh, khususnya di Dharavi! Tak heran angka kejahatan di kota ini lumayan tinggi dan Mafia begitu berkuasa di Mumbai ini. Dan di Mumbai inilah Bollywood berada.
Kembali ke kisah Jamal, Salim dan Latika tadi. Berbagai peristiwa yang terjadi pada mereka ternyata membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang berbeda-beda. Salim yang muak, memilih berkompromi dengan dunia criminal, Latika pasrah menerima segala yang terjadi pada dirinya. Sedang Jamal, digambarkan mempunyai tekad kuat untuk merubah jalan hidupnya. Berbagai peristiwa yang menghampiri Jamal ternyata mampu “memperkaya” dirinya. hal ini disimbolkan dengan keberhasilannya menebus babak akhir dari kuis Who wants to be a Millionaire.
Hidup tak ubahnya sebuah pertunjukan kuis. Siapa yang bisa belajar dan “membaca” dengan tepat dialah yang mampu keluar sebagai pemenang. Meski ada beberapa pihak yang tidak rela apabila anjing kumuh bisa memenangkan permainan, tidaklah menjadi masalah karena kemenangan itu sudah tertulis, sudah menjadi sebuah guratan takdir. Dan takdir inilah yang bisa mempersatukan Jamal dengan perempuan yang dia cintai, Latika.
Danny Boyle sekali lagi menunjukkan dirinya bahwa dirinya adalah sineas yang selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang baru dan tidak terjebak pada genre tertentu. Coba ingat lagi filmografi dari Danny Boyle. Mulai dari Transpotting yang mengangkat dunia pecandu, petualang di The Beach, 28 Days Later yang menampilkan zombie ganas, menyindir materialisme lewat kaca mata anak-anak di Millions, hingga yang filosofis di film futuristic, Sunshine. Kesamaan dari karyanya adalah, selalu menampilkan jiwa muda dan dikemas dengan bahasa gambar yang atraktif, meski kadang muatannya bisa dibilang cukup berat.
Selain penggarapan yang lincah, film ini makin oke berkat balutan musik dari AR Rahman. Bagi pecinta film India nama yang satu ini merupakan jaminan mutu dan sudah mempunyai reputasi yang mendunia. Di tahun 2008 kemaren, AR Rahman menghasilkan lagu-lagu keren dan enak di kuping yang laris manis seperti Guzarish (OST. Ghajini), Jaane Tu Ya Jaane Na hungga Yuvvraaj. Sebelumnya, dia juga membuat film Lagaan makin mengkilap.
Slumdog Millionaire menjadi sebuah film yang wajib tonton. Diangkat dari novel karangan Vikas Swarup berjudul Q and A, kisah yang dihadirkan bisa terjadi dimana saja. Film ini kaya akan emosi. Mulai dari tangis, tawa, bahagia, derita hingga cinta. Slumdog Millionaire membangkitkan kekuatan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk merubah nasibnya. Membuat kita berani untuk mempunyai mimpi.
Pada beberapa bagian memang terasa berlebihan, terutama penggambaran host kuis yang diperankan oleh Anil Kapoor. Apa iya ada host yang perilakunya seperti itu. Namun mengingat gaya dan rasa film India yang seringkali berlebihan, hal tersebut segera bisa dimaklumi. Hal yang paling mengganggu dari film ini adalah pada paruh ¼ akhir durasi, yakni ketika Jamal berjuang mendapatkan orang yang dia cintai.
Ketika ¾ durasi film, cerita yang dihadirkan berusaha memberikan sesuatu yang realistis. Menjelang akhir, penonton seakan-akan dibawa sedikit melayang dengan bersatunya Jamal dan Latika. Bukannya tidak suka, ketika anjing kumuh berhasil memenangkan semuanya, hanya saja konsep “takdir’ terkesan tidak konsisten dengan jalinan cerita awal. Film jatuhnya lebih ngepop. Konsep “takdir” atau “sudah tertulis” kok kesannya menisbikan perjuangan Jamal, hingga membuat penonton yang sinis mencibir ending yang dipilih.
Dengan ending seperti itu, kesannya perjuangan hidup Jamal sudah mencapai garis finish. It’s too good to be true. Fairy tale banget. Bandingkan dengan akhir cerita yang dihadirkan dalam film Children of Heaven, yang menurut Gilasinema mempunyai spirit yang hampir sama. Jatuhnya lebih nendang, realistis dan lebih dramatis. Mungkin hal ini memang disengaja oleh penulis cerita untuk membangkitkan mimpi mereka yang menonton, bahwa anjing kumuh pun bisa naik kelas. Selain Children of Heaven, tidak salahnya melihat lagi Daun Di Atas Bantal dan Central Station sebagai tambahan referensi. 4/5

7 komentar:

nbalike mengatakan...

your blog is very good.and i think your blog is better than mine.
I look forward very much to you visting my blog. my blog is about loves art. for example Nike Dunk and some kinds of Cheap Air Jordan.could you give me some

suggestion? i shold thank you very much.

nbalike mengatakan...

Nike Dunk 1 Piece High & Low
Nike Men & Women Air Zoom Dunkesto
Nike Men Dunk High
Nike Men Dunk Low
Nike Men Dunk Mid
Nike Men unk SB & Special Ed
loves art
Nike Trainer Dunk
Nike Women Dunk Low Mid & High
air jordan

pepito mengatakan...

wah wah, film jagoan gue menang golden globe euy. yippie yippie haha

Anonim mengatakan...

bos ijin kopas, thanks

ieraiera mengatakan...

gw suka bangetttt.....tapi gw setuju sama om GS(Gila Sinema..haha), si anil kapoor gw rasa agak leboy sebagai host. gw juga ngerasa perempat bagian akhir film ini agak melemah, padahal dari awal hingga ke tengah udah mantab kali...tapi overall bagus deh...(masih ngebayangin jamal kecil berkubang ee...hihihi)

t@ntra mengatakan...

duh mas, aku pengen nonton film ini nih, belum dapet aja filmnya..

GILASINEMA mengatakan...

Di tempat bajakan dah banyak lho, apalagi situ kan kotanya rame juga kan :)

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket