Sabtu, 10 Januari 2009

BURN AFTER READING

Sabtu, 10 Januari 2009


Osbourne Cox ( John Malkovich ) adalah seorang analis CIA yang memutuskan untuk keluar dari dunia inteligen. Dia berencana menyusun sebuah memoir seputar kehidupannya sebagai seorang analis CIA. Pada saat yang bersamaan, istri Cox, Katie ( Tilda Swinton ) yang sudah tidak mencintai suaminya, berencana untuk meninggalkan suaminya tersebut demi seorang lelaki pecundang, Harry Pfarrer. Atas saran pengacaranya, Katie mengkopi semua data yang ada di computer suaminya termasuk data-data penting berkaitan kerja Osbourne Cox sebelumnya di CIA.
Sial, data tersebut entah bagaimana tertinggal di gym milik Ted (Richard Jenkins). Di tempat kebugaran ini, Ted memiliki beberapa pegawai, diantaranya ada Linda (Frances McDormand), perempuan paruh baya yang disibukkan dengan operasi plastic dan mencari kencan lewat internet. Padahal, tanpa Linda sadari, Ted menaruh hati kepadanya. Ada satu lagi pegawai bernama Chad (Brad Pitt) yang sok gaya namun naïf. Dan Ted inilah yang menemukan disc berisi data dari computer Osbourne Cox tadi.
Selanjutnya, Coen Brothers menyajikan kekacauan demi kekacauan karena adanya berbagai tabrakan kepentingan diantara tokoh-tokoh diatas tadi. Tokoh-tokoh tadi pada akhirnya saling terkait satu sama lain dalam jalinan hubungan yang ruwet dan kacau. Sampai korban pun mulai berjatuhan. Film makin kacau karena tokoh-tokoh tadi digambarkan mempunyai karakter yang kacau pula. Kalau rajin menikmati film karya Coen Brothers tentu sudah bisa memaklumi gaya bercerita seperti ini. Burn After Reading ini tak pelak mengingatkan kita pada Big Lebowsky, dimana kekacauan timbul hanya karena masalah sepele, nama yang mirip!
Jangan harapkan adegan penuh aksi dan ketegangan layaknya trilogy Bourne ataupun film berbau spionase lainnya. Film ini mengalir dengan membawa banyak olok-olok didalamnya. Dengan banyaknya karakter yang hadir, olok – olok tadi terasa meriah dan ramai. Olok – olok terutama (mungkin) ditujukan untuk CIA. Masih ingat donk dengan kasus kesalahan analis CIA berkaitan dengan program nuklir Iran dan juga hasil mata-mata di Irak? Dalam film ini. CIA digambarkan sebagai penonton yang mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Kesimpulan yang mereka ambil? CIA juga tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Hanya bisa menggelengkan kepala dan membiarkan semuanya berlalu, serta “membersihkan” apa yang seharusnya dibersihkan.
Burn After Reading seakan mengajak kita untuk melihat, apa yang akan terjadi kalau sebuah rahasia jatuh ke tangan orang yang tidak tepat? Tepatnya jatuh pada orang bodoh. Bagaimana sebuah rahasia mampu membuat semua pihak yang terlibat, hidup dengan rasa saling curiga dan berusaha menjatuhkan satu sama lain dan nyawa menjadi tidak ada harganya. Apalagi kalau motif materi ikut-ikutan “nimbrung” yang membuat manusia makin gelap mata. Gugatan seputar materialisme inilah yang kerap disemburkan Coen Brothers lewat film-film yang mereka hasilkan. Coba tengaok lagi film-film seperti Ladykiller, O Brother Where Art Thou, Fargo hingga No Country for Old Man.
Banyak kritisi menilai Burn After Reading yang menilai film ini kalah kelas dibandingkan karya Coen Brothers sebelumnya. Tidak mengherankan mengingat sebelumnya mereka dinilai sangat sukses dengan No Country for Old Man. Namun perilisan film ini sangat mendongkrak dari segi bisnis, karena terangkat dengan keberhasilan No Country for Old Man di ajang Oscar 2008 kemarin. Melihat jajaran cast-nya, rasanya sayang sekali melewatkan film ini. Apalagi penampilan Brad Pitt yang begitu menyegarkan setelah sebelumnya banyak bermuram durja lewat Babel dan The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford. 3,5/5

3 komentar:

Indra Kurniadi mengatakan...

Hm,belum sempat nonton film ini..Hm tapi cuma dikasih rating 3,5/5? he..he

galuhmanulis mengatakan...

Belum nonton juga, tapi pengen...ada brad pitt seh.

Anonim mengatakan...

film yg menurutq jelek bgt.......
aktor aktrisny si dah keren...tapi.....

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket