Senin, 19 Januari 2009

REVOLUTIONARY ROAD

Senin, 19 Januari 2009


Ada dua alasan Revolutionary Road menjadi sebuah film yang wajib tonton. Pertama, film ini disutradarai oleh Sam Mendes. Sejak menelorkan American Beauty, terus terang Sam Mendes menjadi favorit berkat kekonsistensinya dalam menghasilkan karya yang dijamin mutunya, terutama dalam pengolahan gambar yang mantap, meski selalu membawa Susana penuh satire nan muram. Alasan kedua tentu saja karena dipertemukannya kembali pasangan Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet setelah 10 tahun “berpisah”. Dalam kurun satu decade, keduanya menjelma menjadi actor dan aktris mumpuni yang tidak hanya mengandalkan modal fisik.
Revolutionary Road sebenarnya mempunyai premis cerita yang cukup singkat. Frank (Leonardo DiCaprio) dan April (Kate Winslet) dipertremukan dalam sebuah pesta. Keduanya terlibat perbincangan intens mengenai apa yang mereka impikan, menemui kecocokan dan akhirnya menikah dengan dengan dianugerahi dua anak manis beda kelamin. Keluarga mereka tinggal di Revolutionary Hill Estates, sebuah tempat yang ideal untuk membangun sebuah keluarga sakinah.
Dari luar keluarga tersebut seperti sebuah keluarga impian. Namun ternyata tidak mudah membina sebuah rumah tangga. Masalah mulai datang dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Keduanya mencoba memperbaiki masalah tersebut dan mencoba bertahan. Memang akhirnya mereka berhasil bertahan, namun yang namanya masalah selalu membayangi kehidupan manusia. Puncaknya, di tengah musim panas yang menyengat setelah sebelumnya mereka melalui musim semi yang indah hingga mampu meredam gejolak yang ada, April mengambil tindakan ekstrim yang pasti akan membuat semuanya merasa menyesal. Pernikahan yang harusnya sarana meraih impian justru malah menjerumuskan manusia ke dalam jurang tragedy.
Bagi sebagian orang, pernikahan sebuah langkah besar dalam hidup mereka. Kesuksesan seseorang kadang diukur dengan keberhasilan orang itu dalam mewujudkan keluarga yang sakinah. Pada perkembangannya, pernikahan bukanlah sebuah hal yang mudah. Bagaimana menyatukan dua kepribadian, keinginan dan impian yang berbeda sungguh sebuah hal yang menantang. Dibutuhkan kesabaran, improvisasi dan kompromi agar segalanya bisa berjalan dengan baik.
Frank dan April mungkin terlihat mempunyai satu impian yang sama, namun pada perkembangannya ada pihak yang bisa berkompromi dengan tidak tercapainya impian tersebut dan ada pihak yang berusaha tetap merealisasikan impian mereka, hingga muncullah benturan demi benturan. Tanggung jawab akibat pernikahan yang mereka lakukan memaksa masing-masing pihak untuk menekan ego mereka. Eksistensi mereka sebagai pribadi mulai terkikis, dan memunculkan kegelisahan dan pertanyaan “apakah memang harus berjalan demikian?”. Inilah yang ingin disoroti dalam Revolutionary Road, persoalan eksistensi (diri). Guncangan akan muncul kalau masing-masing pihak tidak bisa memahami dan berimprovisasi berkaitan peran dan status baru mereka.
Seperti karya awal Sam Mendes, Amerikan Beauty, Dalam Revolutionary Road, Sam lagi-lagi menyoroti persoalan rumah tangga di lingkungan perumahan yang cantik. Menampilkan karakter-karakter yang berpura-pura bahagia dan menghadirkan karakter yang mempertanyakan kemunafikan tersebut, yang kalau dalam American Beauty dimakili oleh Wes Bentley, dalam Revolutionari dihadirkan lewat sosok yang diperankan oleh Michael Shannon.
Dan sekali lagi, Sam Mendes menghadirkan gambar-gambar yang memikat sekaligus kuat. Mempunyai latar belakang yang kuat, Sam Mendes terlihat terampil mengatur semua aspek teknis dalam film ini, mulai dari pencahayaan, artistic, kostum hingga blocking pemain. Pada beberapa adegan, gambar yang dihadirkan terkesan sangat teatrikal. Ditata sekali. Efeknya mampu menghadirkan suasana yang lebih dramatis. Dan menyaksikan Revolutinary Road tak ubahnya menonton lakon di sebuah panggung sandiwara.
Cerita yang dihadirkan makin kuat karena setting cerita yang mengambil era 1950-an. Di era ini, pemikiran mengenai eksistensi diri mulai berkembang di Amerika dan dikenal dengan istilah American Dream. The American Dream is the freedom that allows all citizens and most residents of the United States to pursue their goals in life through hard work and free choice. The phrase's meaning has evolved over the course of American history. The Founding Fathers used the phrase, "life, liberty, and the pursuit of happiness." (mohon diartikan sendiri hehehehe).
Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet sekali lagi menampilkan ikatan yang kuat dan meyakinkan. “Perpisahan” selama 10 tahun ternyata tidak mampu mengikis jalinan diantara keduanya, bahkan terlihat makin kuat. Hubungan keduanya di layar terlihat sangat intens. Adegan yang menampilkan dua orang ini berdialog mengalir dengan lancar dan penuh emosi. Meski sekali lagi, kate winslet terlihat lebih matang dibbandingkan Leonardo DiCaprio. Pemunculan Michael Shannon yang meski hanya muncul dalam durasi singkat terasa sangat kuat dan menghantui. Brilllian!
Revolutionary Road terkesan anti pernikahan, karenanya penonton yang sinis terhadap keberadaan lembaga bernama “keluarga” akan bertepuk tangan melihatnya sambil berkata dengan lantang “apa aku bilang!”. Bagi mereka yang menganggap pernikahan sebagai sebuah proses dan mungkin ibadah, Revolutionary Road bisa menjadi cermin dan mengambil hikmahnya agar tidak terjerumus ke dalam permasalahan yang sama. Karena disamping eksistensi diri, ada eksistensi pihak lain yang perlu diperhatikan, yakni eksistensi anak.
Untuk sebuah tontonan semuram Revolutionary Road, dianjurkan untuk mempersiapkan stamina yang cukup, karena bagi mereka yang terbiasa melihat film penuh efek visual, film ini akan sangat terasa membosankan dan menekan perasaan. Sebagai pembanding, bisa meyaksikan lagi American Beauty atau The Child (L’Enfant), film produksi Belgia yang menyoroti pasangan muda. Ingin mengulik lebih dalam dan panjang persoalan keluarga? Serial Brothers and Sisters yang kemarin mendapat 2 nominasi Golden Globe bisa menjadi pilihan. 4/5

8 komentar:

Anonim mengatakan...

wow.. review nya ada 'lines' dari pidato pelantikan Obama kemarin yah.

ini mah review kelas kakap yah.
review di blog gw, kelas kecebong :)
-hawe69-

gilasinema mengatakan...

Terus terang gak tau Obama ngomong apaan, soalnya gak ngikutin :)
Itulah asyiknya ngliat film-film bagus. Mampu merangsang kita untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan isi film. Dapet bonus : MEMPERBANYAK PENGETAHUAN :)

Dr. B mengatakan...

menarik sekali!!! hehe

nufransa mengatakan...

Sepertinya film ini di awalnya menarik, tapi lama-lama kok jadi membosankan dan alur ceritanya lambat sekali yah. Bener gak?

Frans

gilasinema mengatakan...

Ada banyak hal yang mengaruhin penerimaan dan penilaian kita dalam nonton sebuah film. Salah satunya mood dan juga kondisi fisik, selain soal selera juga.
Karenanya, penilaian orang bisa beda-beda. Gak ada yang bener dan gak ada yang salah.
Tapi kalo nulis review, harus diusahakan seobyektif mungkin :)

Anonim mengatakan...

film ni bikin sesek dada.....ky da yg mo dikeluarin tp dah keburu lenyap sebelum bener2 meledak....
pa si yg km rasain ketika nonton film ni????

gilasinema mengatakan...

Nyesek juga, sama kayak liat American Beauty dan membuat waspada akan lembaga bernama perkawinan hahahaha....

iftirar mengatakan...

wahh..thanks ya reviewnya, sumpah gue nggak ngerti pas nonton ini, yang ada pas filmnya selesai cuma cengo2 gag jelas dan puter ulang, sekarang udah ngerti, i got the aha! :D

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket