Minggu, 11 April 2010

RANN

Minggu, 11 April 2010

“A filmmaker is like a journalist. The point is that a filmmaker is like a journalist in projecting reality in the true sense of the word. Only thing is he dramatically packages it to make more effect." (Ram Gopal Varma)

Dua televisi berita saling bersaing. India 24/7 yang dipimpin Vijay Malik (Amitabh Bachchan) dan H24 pimpinan Amrish Kakkar (Mohnish Behl) yang dulunya bekerja di India 24/7. Kalau Vijay Malik menjalankan televisinya dengan idealisme tinggi, Amrish Kakkar menghalalkan segala cara untuk menjadi nomor satu. Menariknya, Amrish Kakkar ditopang dana dari menantu Vijay Malik yang seorang pengusaha, Naveen Shankalya (Rajat Kapoor). Di tengah persaingan yang ketat, rating dari India 24/7 cenderung turun mengingat H24 yang lebih agresif serta mempunyai mata-mata di India 24/7 hingga senantiasa berhasil mensabotase setiap program baru yang akan diluncurkan India 24/7.


Berbeda dengan ayahnya yang terlihat lebih tenang menghadapi ancaman kehancuran India 24/7, Jai (Sudeep) cenderung menyikapinya dengan amat emosional. Berbekal ilmu yang diperoleh dari sekolah di USA, Jai menjadi pribadi yang angkuh dan mempunyai ambisi besar untuk menjadi nomer satu. Ketika berada di puncak frustasi akibat program yang dia rancang didahului TV tetangga, datang tawaran menarik dari Mohan Pandey (Paresh Rawal), seorang politikus busuk yang berusaha menggoyang Perdana Menteri yang tengah menjabat. Ternyata Mohan Pandey ini berkolusi dengan Naveen Shankalya.


Setelah bergelut dalam dilema, akhirnya Jai tunduk dalam rencana busuk dari Mohan Pandey. Disusunlah rencana yang bakal membuat Mohan Pandey menjadi Perdana Menteri, Naveen Shankalya sebagai pengusaha nomer satu, dan tentu saja India 24/7 berjaya memuncaki rating. Di tengah persaingan dua stasiun televisi tersebut, hadir Purab (Ritesh Deshmukh), jurnalis muda yang idealis dan memuja Vijay Malik. Sebagai orang baru, dia merasa ada yang tidak beres dan berusaha membongkar hal tersebut yang pada akhirnya menjatuhkan semua pihak yang terlibat, termasuk orang yang dipujanya yang terseret kebohongan anaknya.


Akhir-akhir ini dunia pertelevisian kita digemparkan dengan berita dugaan manipulasi narasumber yang dilakukan oleh salah satu TV Berita Nasional. Meski kebenarannya masih perlu pembuktian, tak pelak hal tersebut memunculkan pertanyaan seputar independensi sebuah media berita. Apalagi kalau owner-nya adalah seorang politikus yang juga pengusaha kelas wahid. Tidak bisa dipungkiri, media seringkali dijadikan sarana untuk memperkuat atau meraih kekuasaan. Orang yang berkuasa adalah orang yang bisa menguasai media karena hal tersebut berkaitan dengan kekuatan dalam mengendalikan pengetahuan dan persepsi orang banyak. Persatuan pemilik media dengan politikus dan pengusaha menghasilkan sebuah kekuatan dahsyat yang kalau berlandaskan meraih kepentingan individu atau golongan tertentu bisa sangat berbahaya. Media berita yang harusnya mengabarkan, justru membuat kabar. Kebenaran dipermainkan. Memporak-porandakan batas antara fiksi dan realita. Mengerikan!


Rann sangat pantas disaksikan karena terasa amat aktual dengan kondisi pertelevisian nasional terkini di negara kita. Karena ini produk Bolly, maka jangan heran kalau digarap dengan gaya bertutur yang mungkin terasa berlebihan, layaknya musik dalam film ini yang terdengar agak terlalu keras di kuping. Banyak narasi khotbah didalamnnya, terutama pada endingnya ketika Vijay Malik membongkar konspirasi yang melibatkan stasiun TV miliknya. Meski demikian, Rann terasa asyik dinikmati berkat kecepatan bercerita dari Ram Gopal Varma (RGV). Apalagi durasinya cuma sekitar 2 jam saja. Tanpa basa-basi, RGV langsung ke inti persoalan. Beberapa adegan mempunyai ketegangan yang cukup memikat. Rann juga ditopang desain produksi yang mantap. Warna-warna hitam, putih dan abu-abu tampil sangat dominan hingga menghasilkan konsep visual yang kuat dan nyaman dimata. Sayangnya, kecepatan bercerita ini mempengaruhi kualitas cerita yang terkesan dipaksakan. Bagaimana mungkin pemilihan Perdana Menteri bisa diselenggarakan secepat itu? Langkah Vijay Malik yang menayangkan video aspal terasa terlalu gegabah dilakukan oleh seorang yang idealis dan berpengalamam puluhan tahun di dunia pertelevisian. Selipan isu seputar agama terasa nanggung.


Sekali lagi Amitabh Bachchan menunjukkan kelasnya sebagai actor hebat yang rasanya belum bisa dikalahkan actor Bolly lainnya. Setelah ”merampas” semua gelar aktor terbaik di berbagai ajang movie award lewat PAA, Amitabh Bachchan kembali menuai pujian lewat perannya sebagai Vijay Malik yang karismatik. Rasanya tidak ada aktor lain yang bisa lebih baik memerankan tokoh tersebut. Paresh Rawal sekali lagi membuktikan keahliannya berperan antagonis yang banyak dia lakoni sejak era 1980-an. Aktor satu ini telah membintagi 200 judul lebih lho. Dia pernah tampil dalam Paa (2009), De Dana Dan (2009), Jaane Tu... Ya Jaane Na (2008), Bhool Bhulaiyaa (2007), Cheeni Kum (2007), Garam Masala (2005), Dil Ka Rishta (2003), Awara Paagal Deewana (2002), Nayak: The Real Hero (2001) yang merupakan film Bolly favorit Gilasinema, Har Dil Jo Pyar Karega (2000), Phir Bhi Dil Hai Hindustani (2000) dan masih banyak lagi. Sudeep yang filmografinya belum begitu banyak tampaknya punya potensi bagus untuk meneruskan kiprah Paresh Rawal. Ritesh Deshmukh yang banyak dipuji lewat Masti (2004) sayangnya tampil terlalu datar. Rann terkesan meminggirkan peran perempuan di dunia media hingga penampilan para aktrisnya kurang tergarap. Satu karakter perempuan mempunyai peran cukup penting, itupun dengan karakterisasi yang tidak simpatik. Meski tidak sedahsyat Wag the Dog, Rann sangat Gilasinema rekomendasikan. 3,25/5



SEDIKIT TENTANG RAM GOPAL VARMA
Selain karena temanya yang aktual, Rann sayang untuk dilewatkan karena film ini merupakan karya dari Ram Gopal Varma. Pria berusia 48 tahun pada tanggal 7 April kemarin ini termasuk sineas yang sangat disegani di Bolly sana. Sekolah di jurusan mesin, dia berhasil di bidang penyutradaraan dengan hanya belajar dari banyak film yang dia tonton di waktu mudanya. Potensinya dikenali lewat Rangeela (1995) yang dibintangi Aamir Khan, Jackie Shroff dan Urmila Matondkar sukses besar di pasaran. Kiprah RGV makin tak terbendung ketika sukses dengan trilogy Satya (1998), Company (2002) dan D (2005) yang mengangkat tema gangster. Danny Boyle mengaku terinspirasi Satya dan Company ketika menggarap Slumdog Millionaire. Sarkar (2005) dan Sarkar Raj (2008) merupakan dwilogy, dimana untuk Sarkar merupakan adaptasi dari novel The Godfather. Sukses RGV berlanjut dengan Bhoot, sebuah thriller psikologis yang sukses besar dan diakui RGV sebagai karya terbaiknya. RGV selalu menghadirkan film dengan pace cepat dan memacu adrenalin. Setelah Rann yang jeblok di pasaran, RGV sedang siap-siap merilis Phoonk 2 yang merupakan sekuel dari Phoonk (2008). Dalam Phoonk 2, RGV kembali mengajak Sudeep.

"Making love is an emotional experience which makes you feel a high about your love and yourself. Fucking is an intense experience which borders on a feeling of wanting to conquer or achieve. And having sex is a necessity like to sneeze or to cough." (Ram Gopal Varma)

5 komentar:

dr. B mengatakan...

hmm stelah My Name is Khan, makin tertarik ntn film india. kayanya era joget2 di padang rumput sudah berakhir ya?

gilasinema mengatakan...

Tunggu saja posting film-film Bolly yang layak tunggu di tahun 2010 ini :)

ekajazzlover mengatakan...

wah film tentang jurnalistik ya? mesti nonton nih hehe :D kadang gak menyangaka film india seperti my name is khan dan 3 idiots bisa sebagus itu, masalahnya mungkin cuma di durasi kali ya. selalu panjang :)

GILASINEMA mengatakan...

Film India terkini jarang lho yang berdurasi panjang. Rata-rata sekitar 2 jam, bahkan ada yang cuman 90 menit. Budaya nontonnya beda sih. Kalau di India, dengan durasi 3 jam ada jeda di tengah-tengah cerita. Jadi penonton ada kesempatan untuk istirahat. Gak tau kalo sekarang.

andre mengatakan...

baru aja kelar nonton

gile...

film ini HARUS diputer di indo!

biar pada kebakaran jenggot itu para gurita media dan politisi busuk

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket