Sabtu, 17 April 2010

MENEBUS IMPIAN

Sabtu, 17 April 2010

Impian. Orang hidup itu harus dan pasti punya impian, apapun wujud impian tersebut. Masing-masing orang tidaklah sama. Impianlah yang membuat hidup manusia terasa lebih hidup, karena impian membuat manusia merancang, membuat dan mewujudkan aksi demi mewujudkan impian tersebut. Tidak semua orang bisa mewujudkan mimpinya. Karena selain keberuntungan, dibutuhkan kerja keras serta kesabaran dalam mewujudkan impian. Ketika impian terasa mustahil untuk diwujudkan, rasa putus asa datang menghampiri. Kalau sudah begini, kehancuran bisa mengancam, kecuali kalau dia bisa bangkit dan berusaha lebih keras atau mengganti impiannya.


Bagi Nur (Acha Septriasa) kebahagiaan ibunya (Ayu Diah Pasha) adalah impian terbesarnya. Namun, hidup seakan tidak adil bagi Nur. Sejak kecil, ayahnya pergi entah kemana dan Nur harus menjadi saksi kerja keras ibunya demi memberikan kehidupan yang layak bagi Nur. Pada saat Nur dipusingkan dengan biaya kuliah yang naik, mesin cuci yang merupakan penopang keuangan mengalami kerusakan. Belum cukup, ibunya Nur didiagnosa ada ayag salah dengan otaknya dan membutuhkan biaya besar untuk operasi. Pada saat situasi makin tidak menentu dan ditambah sulitnya mencari pekerjaan, Nur dipetemukan dengan Dian (Fedi Nuril). Pemuda ini mengenalkan Nur dengan bisnis MLM.
Awalnya Nur sempat memandang remeh bisnis tersebut dan memilih bekerja sebagai pramusaji di sebuah bar. Namun berkat dorongan Dian, Nur mencoba lebih keras dalam usaha MLM tersebut dan secara perlahan, seberkas sinar mulai menerangi kehidupannya. Ketika cahaya hidup Nur mulai sedikit agak terang, datang cobaan yang membuatnya meredup kembali. Lagi-lagi Dian datang sebagai dewa penolong yang membuat Nur kembali bersinar. Kali ini dengan binar yang lebih terang, karena pada akhirnya Nur bisa mewujudkan mimpinya, membahagiakan ibunya.


Sudah tak terhitung lagi film-film yang berkisah tentang usaha meraih mimpi. Kebanyakan mempunyai pola cerita yang sama yakni bagaimana seseorang yang awalnya nobody, setelah bekerja keras, sukses menjadi somebody. From zero to hero. Menebus Impian tidak berbeda jauh dengan film soal mimpi lainnya, bahkan terkesan sangat klise. Tokoh Nur yang bak sudah jatuh tertimpa tangga misalnya, lazim ada pada film/sinetron Indonesia. Sudah miskin, sakit-sakitan lagi. Kesan klise pada Menebus Impian makin kentara dengan hadirnya kebetulan yang menghampiri hidup Nur. Kebetulan dia bertemu dengan Dian diwarung Jaja Miharja. Kebetulan Dian dekat dengan petinggi MLM yang diperankan Deddy Soetomo. Kebetulan yang menyelamatkan Nur dari sergapan lelaki hidung belang dan kebetulan Dian menemukan buku catatan Nur yang dibuang di tengah jalan sebelumnya.


Kebetulan demi kebetulan serta kisah klise tadi tak pelak sedikit mengganggu kenikmatan Gilasinema dalam menonton Menebus Impian ini. Gilasinema makin jengah ketika Gilasinema merasa ada motif propaganda bisnis MLM dalam film ini. Mungkin hanya perasaan Gilasinema saja. Tapi ketika ada adegan yang menegaskan MLM jauh lebih baik ketimbang money games menguatkan kecurigaan Gilasinema. Bisnis MLM terlalu diposisikan sebagai dewa penolong dalam film ini. Butuh dana untuk biaya pengobatan? MLM lah solusinya. Ingin keluar dari kemiskinan? MLM bisa kamu jadikan sarana mengentaskan kemiskinan. Pencapaian mobil dan rumah mewah makin menguatkan kesan propaganda ini. Ah...mungkin kesan ini muncul karena mobil dan rumah mewah bukanlah impian Gilasinema.


Tapi kalau mau berpikir positif, Menebus Impian menawarkan spirit yang bagus layaknya film tentang impian lainnya, yakni semangat untuk bekerja keras. Kalau ingin berhasil ya harus berusaha keras dan tak mudah putus asa. Menebus Impian itu ibarat visualisasi dari buku-buku motivasi yang banyak dijumpai di toko buku. Bagi mereka yang bermimpi mempunyai mobil dan rumah mewah, Menebus Impian mungkin bisa memberikan modal semangat. Menebus Impian juga memberikan gambaran yang bagus kalau manusia itu tidak bakalan bisa sukses tanpa adanya manusia lain. Dan kalau kamu dibuat jengah dengan propaganda bisnis MLM dalam film ini, ucapkan terima kasih pada Tya Satrio yang berkat olahan musiknya, untungnya mampu mengangkat mood hingga kisahnya lebih mengikat emosi selain penampilan Acha Septriasa yang cukup ok. Adegan dipinggir rel menjadi adegan favorit Gilasinema. Selain menghadirkan emosi yang cukup tinggi, adegan ini menurut Gilasinema merupakan adegan yang sulit karena berlatarkan kereta yang berseliweran. Sebagai penutup, jangan takut bermimpi. 3,25/5

13 komentar:

iqbal rois mengatakan...

Malah jadi seperti film motivasi pegiat MLM kan?! ^^

ceritapilem.blogspot.com

Satrio Nindyo Istiko mengatakan...

Gak mood saya nonton mau nonton film ini..hihi

Anonim mengatakan...

filmnya biasa saja deh. heran kok banyak yg muji hanung bagus. padahal saya lagi kayak nonton film dokumenter tentang mlm.

iin mengatakan...

jadi ga sebagus yang dibicarakan orang di twitter ya Om?
bila dibandingkan dgn karya Hanung yg lain, gimana?
aku pgn ntn, tapii baca review ini jd skeptis.. (anti MLM soalnya) hahaaha

GILASINEMA mengatakan...

Bagus buat memotivasi untuk lebih bekerja keras(ikut MLM)

kunderemp mengatakan...

komentar singkatku:
Nadir buat Hanung. Zenith buat Acha.

delupher mengatakan...

gag ngerti saya produk MLM nya yang mana ya???dari posternya aja saya udah gak tertarik buat nonton apalagi liat judulnya so ordinary....bagus banget ya mas????entar deh kalo uda ada vcd nya aja wkwkwkkwkwkkwkwkkwkwk

Anonim mengatakan...

masih lebih bagusan film hanung yg judulnya JK hehe

Anonim mengatakan...

maybe hanung dibayar tiens

sss mengatakan...

Menebus impian bgus..
saya sampe nangis..
bsa memotivasi agar tdk menyerah dlm menggapai impian...

GILASINEMA mengatakan...

Adegan paling kuat dan menyentuh hadir ketika anak mengucap maaf, dan ibu menghaturkan terima kasih. Adegan ini akan memorable sekali kalau menjadi ending.

MasterOnlineOriflame mengatakan...

kalau kita anti dg MLM jangan melihat suatu pekerjaan dari sisi negatifnya. Tapi ada beberapa orang yang menjalankan bisnis MLM kesannya memaksa. sehingga kita jengah dengan MLM. tp banyak bukti kok yang sukses di bisnis MLM

Anonim mengatakan...

maksa...
filmnya terkesan dipksakan buat motorik mlm...
jdnya gk natural..
ya sorry
tp itrulah yang terjadi bila dibalik smuanya "ada - apanya"

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket