Sabtu, 03 April 2010

LOVE EXPOSURE ( AI NO MUKIDASHI )

Sabtu, 03 April 2010

"And now faith, hope, and love abide, these three; and the greatest of these is love." (I Corinthians 13 : 13 )

Seandainya aku lahir di Bali, apakah aku akan memilih Hindu sebagai agamaku? Seandainya aku terlahir sebagai orang Iran, akankah Islam menjadi agama yang aku yakini? Seandainya orang tuaku bukan penganut agama Islam, apakah suatu dosa ketika aku menganut agama lain? Kalau aku terlahir di Negara yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani dan aku dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan dan mengamalkan Budha, apakah itu suatu kesalahan dan dosa? Pemeluk agama yang fanatic senantiasa memandang para penganut agama/kepercayaan yang berbeda sebagai pendosa. Tetapi, bukankah dosa itu urusannya Tuhan? Dan katanya setiap manusia terlahir suci dan tidak bisa memilih dia lahir di mana.l
Pertanyaan yang lama terpendam ini kembali menggelitik setelah Gilasinema menyaksikan Love Exposure ini. Dalam pandangan Gilasinema, ada tiga hal besar yang menaungi kisah sepanjang hampir 4 jam garapan Sion Sono ini. 4 jam?! Ya, film ini berdurasi 237 menit. Bahkan, menurut informasi, durasi awal film ini mencapai 6 jam! Keluarga, Cinta dan Agama adalah 3 hal besar yang coba ingin disampaikan oleh sutradara penghasil Exte: Hair Extensions (sebuah film yang menjijikkan dan membuat merinding) dan Suicide Club ini. Ketiganya saling terkait dan membuat ketiga karakter utamanya menjalani hidup yang lebih rumit daripada seharusnya.


Yu Tsunoda (Takahiro Nishijima) sejak kecil dididik dengan ajaran Kristen. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ibu Yu berpengharapan semoga kedepannya Yu akan menemukan sosok Perawan Maria sebagai asosiasi sebagai cinta. Ayahnya memutuskan menjadi pendeta setelah ibu Yu meninggal dunia. Ayah Yu mengharapkan Yu melakukan pengakuan dosa setiap harinya. Sekecil apapun dosa kesalahan yang Yu perbuat. Gara-gara harapan dan permintaan kedua orangtuanya ini, Yu mulai bereksperimen dengan dosa. Puncaknya adalah ketika dia berperan sebagai 'panty shot' photographer. Di segmen ini kita bisa dibuat tertawa namun ada kemungkinan muak dengan berbagai “trik cantik” dari Yu dalam menghasilkan sebuah “karya” masterpiece.
Pencarian Yu berhenti ketika dia bertemu dengan Yoko (Hikari Mitsushima). Dalam Yoko, Yu melihat Perawan Maria. Buktinya? Dari sekian banyak panty shot, hanya Yoko yang bisa membuat Yu ereksi! Masalahnya, Yoko bertemu dengan Yu dan jatuh cinta padanya saat Yu berperan sebagai Miss Scorpion. Biar masalah makin rumit (sekaligus membuat durasinya mengalami hiper ereksi), dihadirkan Aya Koike yang sangat manipulatif sekaligus kejam. Nyatanya, Aya inilah yang membuat Yu dan Yoko bertemu tanpa disadari keduanya. Tindakan Aya ini didasari motif untuk menggaet keluarga Yu agar masuk ke dalam gereja aliran agama yang Aya anut. Dengan masuknya ayah Yu, diharapkan akan diikuti oleh para jemaah gereja yang dikelola oleh Ayah Yu.


Cinta dan agama itu mempunyai banyak kesamaan. Keduanya membutuhkan apa yang namanya KEYAKINAN yang mendasari orang dalam memilih orang yang akan dicintainya atau agama yang akan dianut. Keyakinan juga yang membuat cinta dan agama bisa tegak berdiri tidak mudah goyah ketika badai datang menghadang (dooooh…). Dalam Love Exposure, keluarga digambarkan mempunyai peran penting dalam membentuk keyakinan seseorang karena keluargalah tempat pertama seseorang belajar akan nilai yang akan membentuk karakter. Dengan meminggirkan peran ibu, Love Exposure sedikit timpang dengan penggambaran sosok ayah yang brengsek. Karakter ketiga tokoh utama dalam Love Exposure tidak bisa dilepaskan dari latar belakang mereka. Yu hidup dalam keluarga yang sangat dogmatis, kekerasan selalu menghampiri Yoko dan Aya senantiasa dibayangi pelecehan. Selain keluarga, keyakinan didapatkan lewat sebuah proses yang bisa singkat, namun bisa juga sepanjang hayat. Butuh waktu panjang bagi Yoko untuk yakin kalau Yu benar-benar mencintainya.


Dengan durasi yang panjang, sutradara Sion Sono menghadirkan banyak sekali emosi yang sukses mengaduk-aduk perasaan penonton (yang sanggup bertahan). Dalam Love Exposure ada manis, pahit, tawa, tangis, dendam, maaf, kemarahan, kesabaran. Humor-humornya terasa lucu, seru, kadang memuakkan namun berhasil menyentil sisi terdalam manusia. Belum lagi pendekatan komikal yang mengingatkan pada gaya bertutur pada anime atau manga. Masuknya hal-hal berbau seksual, bisa saja terlihat menghibur, namun tak pelak mampu membuat malu penonton. Cabul! Untuk menuju akhir kisah yang dramatis kita diajak terlebih dahulu menikmati sajian dramatis nan tragis. Belum cukup, sang sutradara menghadirkan beberapa scene sadis seperti penghancuran kelamin dan pertarungan yang berdarah-darah. Fuih…ibarat masakan, semua bumbu masuk yang kalau disantap saat kondisi tidak prima bisa menyebabkan mencret.
Kalau misalnya bingung dengan apa yang ingin disampaikan oleh film ini, adegan paling penting dalam film ini hadir ketika Yu dan Yoko berkonfrontasi di pinggir pantai. Bagi mereka penganut Kristen, bisa dengan mudah menangkap esensi cerita mengingat film ini berlandaskan pada I Corinthians 13 yang ada pada Kitab Injil, terutama pada ayat yang tertulis diatas (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan). Namun karena agama dan cinta itu sesuatu yang sangat universal, rasanya bisa dengan mudah dipahami oleh semua penganut agama, meski senantiasa menemui kesulitan dalam aplikasinya :)


Cinta dan agama idealnya membawa kedamaian bukannya kekacauan dan perpecahan. Cinta dan agama akan menjadi sesuatu yang memuakkan kalau terlalu banyak motif di dalamnya. Hadirnya Aya dengan segala motifnya membuat kacau hidup Yu dan Yoko, bahkan sampai membuat banyak korban berjatuhan. Cinta dan agama itu tidak bisa dipaksakan karena hakiki sifatnya. Cinta dan agama itu tidak memandang rupa. Namun, seringkali atas nama cinta dan agama kita melegalkan perbuatan yang seharusnya terlarang. Ketika kita menyerang orang lain atas nama agama, itu berarti kita juga menyakiti Tuhan karena mereka juga ciptaan-Nya. Akhirnya, ketika hadir pertanyaan-pertanyaan seperti di paragraf pertama tulisan ini, yang bisa dilakukan hanyalah YAKIN. Yakin kalau agama itu baik adanya. Yakin kalau agama itu membawa kedamaian, bukannya kehancuran. Yakin kalau agama itu cinta. Begitupun sebaliknya. 4,25/5


Love is long suffering, tolerant, patient. Love is kind, free of jealousy, envy and pride. Love is does not display unseemly behavior, unselfish, not touchy, fretful or resentful and takes no account of the evil done to it. Love is hates evil and associated with honesty. Love is protects, trusts, hopes and perseveres. Love is triumphs. Love is greater than either faith or hope.

4 komentar:

sholach guanteng mengatakan...

MUANTAP BOSS AKU YANG GAK SUKA FILM AJA LANGSUNG TERKESAN MELIHAT ISI CERITANYA....
BENER YANG DIKATKAN JURAGAN SEMUA ADA DISINI
ADA HOTNYA ADA SEDIHNYA ADA TRAGISNYA ADA HUMORNYA POKOKNYA LENGKAP.
AQ TUNGGU KELANJUTANNYA.....

Anonim mengatakan...

gw udah liat filmnya, dan nilai dari gw 85
keren bgt gan

tapi agak ga suka aja pas yu jadi gila di akhirnya dan endingnya kurang berkesan walaupun yoko berhasil bikin yu waras lagi..
over all it's ok

Anonim mengatakan...

clu w ***1/2 aja ne film, mungkin karena agama na scra umum aja clu mau secara universal harus banyak ilmiah na seperti sarjana teologi kristen yg benar (yg tdk terpengaruh dogma2) banyak salah kitab kristen.

Djeff Zangar mengatakan...

4 jam nunggu ending Lumayan lah skor 8 boleh lah cuma ending kurang greget aja .. kesan Romanticnya kurang :D

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket