Senin, 26 April 2010

BANGKOK TRAFFIC (LOVE) STORY (ROT FAI FAA … MAHA NA TER)

Senin, 26 April 2010

Bagi sebagian penonton, Bangkok Traffic (Love) Story / BT(L)S mungkin hanya kisah cinta biasa dengan formula yang lazim digunakan dalam film – film jenis rom com. Bagaimana seorang perempuan biasa menemukan pangerannya dan bagaimana pertemuan keduanya dimulai dengan kebetulan. Dimalam setelah menghadiri pernikahan sahabatnya, Li (Sirin Horwang) yang dalam keadaan mabuk bertemu Lung (Theeradej Wongpuapan). Keduanya bagai siang dan malam. Kalau Li digambarkan mempunyai karakter yang ekspresif dan cenderung ceroboh serta bekerja di siang hari, Lung orangnya santun dan bekerja di malam hari.


Dengan latar belakang yang bertolak belakang, penulis cerita, Benjamaporn Srabua dengan cerdiknya menciptakan situasi yang menyebabkan keduanya bisa berinteraksi secara intens. Kecerobohan dan kejenakaan Li, nyatanya tidak mengganggu Lung sama sekali. Meski tidak terucap kata cinta, kesabaran Lung menghadapi Li yang menyebabkan barang-barangnya rusak sudah cukup membuktikan hal tersebut. Kisah cinta tidak akan menarik kalau tidak hadirnya gangguan, dalam hal ini kehadiran teman Li, Plern (Unsumalin Sirasakpatharamaetha) cukup membuat gemas dan sedikit membuat penonton paham mengapa di usianya yang kepala 3, Li tak kunjung mendapatkan cowok seperti teman-temannya yang lain. Ketika hubungan Li dan Lung makin dekat, datang suatu hal yang mengancam kebersamaan keduanya.


Seperti dikemukakan diatas, BT(L)S menggunakan formula yang tidak istimewa, namun entah mengapa BT(L)S sangat mengena di hati Gilasinema. Mungkin karena dimasukkannya humor-humor norak (yang mungkin berarti Gilasinema juga norak hehehehe...), terutama dengan perilaku Li. Film baru berjalan 5 menit saja, Gilasinema tidak bisa berhenti tertawa. Sayangnya, kejenakaan film ini sangat mengendur di paruh akhir dan lebih kental nuansa dramanya. Kekuatan film ini juga terletak pada eksekusi cerita yang berbeda dengan dengan rom com kebanyakan. Ada semacam edukasi disini, terutama buat kaum muda. Mau mengejar mimpi terlebih dahulu atau mempertahankan cinta. Meraih mimpi dan merengkuh cinta, seperti yang dialami banyak orang, adalah dua hal sangat tidak mudah untuk diraih.


Latar belakang sosial ekonomi para tokohnya membuat penonton terasa dekat dengan kisah yang dihadirkan, karena mereka berasal dari keluarga kelas menengah secara ekonomi. Yang juga membuat BT(L)S menarik adalah setelah menyaksikan film ini, Gilasinema baru tahu kalau pada beberapa hal, budaya yang ada di Thailand tidak jauh beda dengan budaya Indonesia. Kondisi jalan dan perilaku pengguna jalan di Bangkok katanya tidak berbeda jauh dengan Jakarta ya? Budaya menonton sinetron yang penuh amarah dan umpatan tampaknya juga melanda Thailand yang dalam BT(L)S digambarkan dengan agak berlebihan namun sangat lucu.


Tokoh Li yang sudah berkepala 3, yang senantiasa dirongrong keluarganya untuk segera menikah, bahkan sampai dicomblangin, rasanya juga banyak dialami para perempuan di negeri kita ini. Tokoh Li sendiri bisa jadi merupakan refleksi perempuan masa kini yang lebih memprioritaskan eksistensi diri ketimbang cinta (menikah). Tapi, ada juga sih tak kunjung menikah gara-gara selalu (suka) jatuh cinta pada orang yang tidak tepat dan terlalu terpenjara oleh sosok ideal dalam pikiran mereka.


Kesamaan di atas tak pelak memancing Gilasinema untuk membayangkan BT(L)S versi Jakarta. Lalu Lintasnya gak kalah “seru” kan dengan Bangkok. Bisa diberi judul Busway Traffic (Love) Story atau Jakarta Traffic (Love) Story. Banyak romantika angkutan umum yang belum disajikan mendalam di Bangkok Tokyo (Love) Story seperti pencopetan, pembiusan, pelecehan atau etika dalam memanfaatkan sarana transportasi missal. Meski tidak tinggal di ibukota, selama lebih dari 20 tahun Gilasinema memanfaatkan sarana angkutan massal dan Gilasinema melihat ada banyak hal kejadian menarik yang menghadirkan romantika tersendiri. Ada emosi lucu, marah, tegang, sensual dan emosi-emosi lainnya. Kalau ada yang tertarik mengangkat versi Jakarta, Awi yang sebelumnya sukses dengan Claudia/Jasmine bisa dipilih untuk mengarahkan filmnya atau Hanung Bramantyo yang suka menghadirkan visual hiruk pikuk ibu kota. Untuk aktris, kayaknya seru juga kalau Shanty, Ladya Cheryl, Fanny Fabriana atau Shareefa dijadikan kandidat. Kalau mau filmnya terasa lebih segar, sekalian saja pakai bintang-bintang baru. Eh…tapi kalau bener-bener dibikin, kira-kira syutingnya bakal bikin jalan makin macet gak ya :P 3,75/5



KISAH LI DAN LUNG BISA JUGA DIBACA DI :
JAGOAN MOVIES
LABIRIN FILM

7 komentar:

galih mengatakan...

tyata d thai jg byk cokin jg alias tionghoa. tapi plern bner2 cute

CHRISTINE GS mengatakan...

hmm jarang nntn film thailand tapi boleh juga buat ditonton. makasih infonya

btw visit me
http://hey-popsicle.blogspot.com/

thanks =)

ajirenji mengatakan...

bedanay mungkin di atas kereta di Bangkok gak ada yg jualan atau bawa kambing ^_^;

btw, coba ucapkan Unsumalin Sirasakpatharamaetha 5 kali...yak mulai!

Movietard mengatakan...

Aku belum nonton....padahal liat trailernya aja udah ketawa ngakak,ahahaha
bener banget Om, yang bikin film ini 'ngena' sekali adalah proximitynya sama culture Indonesia ya

Anonim mengatakan...

LUCU ABISSS, GW NAKSIR SAMA SIRIN HORWANG...

Anonim mengatakan...

Kalau saya suka karena film ini setengah mempromosikan BTS sebagai angkutan umum yang modern dan ramah lingkungan. Salah satu cara halus untuk menggiring penonton meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum. Suatu keharusan yang tak terhindarkan dalam kota metropolitan seperti Bangkok juga Jakarta.

wiwik widyastuti mengatakan...

hem,,, film nya bagus banget... ceritanya dapet banget,,, tokohnya pas banget ganteng + cantik... :D
sampe nonton berkali2 .. hehe

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket