Kamis, 22 Oktober 2009

HAEUNDAE

Kamis, 22 Oktober 2009

Haeundae merupakan film terlaris Korea Selatan di tahun 2009 ini. Film yang menelan biaya hingga lebih dari $10 juta ini sampai dengan akhir September 2009 telah berhasil menyedot lebih dari 11 juta pasang mata, atau lebih dari 20 % jumlah penduduk di Korea Selatan. Luar biasa! Bandingkan dengan kondisi perfilman Indonesia yang untuk meraih 1 juta penonton saja susahnya minta ampun. Padahal secara prosentase belum mencapai 0,5% jumlah penduduk keseluruhan (dihitung 250juta jiwa).
Secara cerita, sebenarnya Haeundae tidaklah istimewa sangat. Bahkan, kalau dicermati film ini mengadaptasi gaya penceritaan disaster movie ala Holly, terutama film-film karya Rolland Emmerich atau Michael Bay dengan Armagaddon-nya. Haeundae mampu tampil beda dengan dimasukkannya guyon dan gaya hidup local, seperti kebiasaan memukul kepala. Dihadirkannya sosok lucu, Dong-choon (Kim In-kwon), efektif mencairkan suasana bahkan di scene dengan ketegangan yang cukup tinggi sekalipun.


Satu jam durasi, kita diajak untuk berkenalan dengan beberapa karakter utama dalam film ini. Ada Man-sik (Sol Kyung-gu), lelaki yang trauma pergi ke laut karena tragedy tsunami yang menimpa di tahun 2004 dan menyimpan rasa bersalah yang mendalam atas meninggalnya ayah dari perempuan yang dia taksir, Yeon-hee (Ha Ji-won). Hidup Yeon-hee tidaklah mudah sejak ditinggal ayahnya, namun berusaha tegar dengan membuka restoran sea food.
Hyeong-sik (Lee Min-ki) yang merupakan adik dari Man-sik memilih bekerja sebagai anggota penyelamat. Pekerjaannya ini mempertemukannya dengan cewek ganas yang banyak menuntut, Hee-mi (Kang Ye-won). Selain itu masih ada ahli geologi, Kim Hwi (Park Joong-hoon) yang melihat ada potensi bencana besar dan dihadapkan pada dilema ketika menemui kenyataan anaknya tidak mengetahui dirinya adalah ayah kandungnya. Kim Hwi ini sudah bercerai lama dengan istrinya.


Pengenalan karakter yang menyita durasi cukup besar sebenarnya sangat efektif untuk mengikat emosi penonton. Diharapkan pada diri penonton tumbuh simpati terhadap karakter-karakter yang dihadirkan. Namun pendekatan ini bisa menjadi bumerang, karena bisa saja membuat bosan penontonnya. Berbagai humor kasar mungkin terasa lucu bagi sebagian penonton, namun dampak lainnya, filmnya menjadi sangat gaduh dan berisik.
Untungnya, penantian dihadirkannya tsunami terbayar dengan tampilan tsunami itu sendiri yang mencengangkan sekaligus membuat ngeri. Efek visual yang dihadirkan tidak kalah dengan yang selama ini ditampilkan pada film Holly. Tampilan efek visual yang keren tersebut ternyata di kerjakan di Amerika. Beberapa kru yang pernah terlibat dalam Star Wars dan The Day After Tomorrow ikut direkrut untuk membuat tsunami terlihat meyakinkan dan film ini menggunakan water-dump tank yang sebelumnya digunakan untuk syuting film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull.


Tsunami dalam Haeundae ibarat monster yang melahap apa saja yang dilaluinya, apalagi dalam film ini dikisahkan mereka yang berada di sekitar pantai hanya mempunyai waktu 10 menit untuk menyelamatkan diri. Jujur, keganasan tsunami dan ekpresi panic orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri sukses membuat Gilasinema menitikkan air mata. Menyaksikan film ini sebenarnya lebih asyik di bioskop dengan tata suara menggelegar. Gilasinema menyaksikan film ini dengan volume speaker yang cukup keras dan sukses mendapat teguran dari sang ibu hehehehe….


Ditengah tragedy tersebut, oleh sutradara Yoon Je-kyoon dihadirkan beberapa ketegangan yang lumayan membuat penonton gemas, terutama adegan ketika Dong-choon berusaha menyelamatkan diri dari hujan container. Adegan ini patut mendapatkan dua jempol sekaligus karena selain tegang juga lucu. Belum lagi kebodohan yang dibuat Dong-choon selanjutnya.
Namun Gilasinema merasa dampak kerusakan dari tsunami yang super besar dalam film ini kuranglah maksimal. Ketika tsunami mampu menyentuh lantai atas sebuah hotel dan juga “melompati” jembatan besar, mereka yang berada di posisi lebih rendah kondisinya terlihat terlalu aman. Bukannya tidak senang beberapa tokoh favorit mampu survive, namun tetap saja terasa janggal dan kesannya pilih-pilih korban gitu. Terus, adegan yang mirip aksi heroic ala Bruce Willis di Armagaddon jatuhnya malah berlebihan dan kurang membuat penonton bersimpati.


Haeundae memang sebuah pop corn movie, namun sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi film ini masuk 5 film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan sana. Haeundae menjadi bukti pencapaian sinema Korea yang semoga saja bisa dicontoh oleh dunia sinema Indonesia. Sebagai Negara yang kaya akan bencana, idealnya banyak cerita yang bisa digarap berdasarkan hal tersebut. Mungkin tidak perlu seheboh tampilan dalam film Haeundae dan lebih menguatkan pada sisi dramanya. Mampukah? 3/5

15 komentar:

Raisya Elias mengatakan...

Wah akhirnya ada jg ya disaster movie yg settingnya ga di new york atau daerah2 amerika. kasian kan amerika 'ancur' mulu! hahaha

korean addicted mengatakan...

stuju ma raisya..kasian amerika ancur mulu..kekekeke..

gilasinema mengatakan...

Tapi suka kan liat Amerika diancurin di film hehehehe....

WewW mengatakan...

Kecewa liat ni film.. Nunggu disasternya kelamaan.. Karakternya juga kebanyakan, jadi cerita cepet loncat2.. Arrghh.. Tapi ada yg bikin terharu pas si scientist nyelametin anaknya.. "i'm your dad!'

Setuju juga soal dampak kerusakan kurang maksimal.. Masa restoran tempat Yeon-Hee masih ada piring2nya (emang sih udah pada pecah).. Ah, tapi ambil sisi positipnya aja deh, emang jarang2 liat film disaster di luar amerika.. wakaka..

gilasinema mengatakan...

Dampak kurang baik dari pengenalan karakter yang terlalu meski tujuannya baek, agar penonton lebih terikat dengan tokoh-tokohnya.
Eh...Bolly mo rilis film model ginian lho. Belum lama liat thrillernya tapi lupa judulnya :P
Masih seputar air juga

WewW mengatakan...

Thailand juga udah bikin kan? Judulnya 2022.. :D

semuareview mengatakan...

kita bikin juga yuk. judulnya 2024, tahun kita mimpi jadi tuan rumah World Cup.

gilasinema mengatakan...

Wah...belum berani. Bahkan untuk sekedar memimpikannya.Kan 2012 mo kiamat hahahaha...

adithiarangga mengatakan...

wah mesti nonton tampaknya...hehehe

apakah versi lain dari "The Host"?
cuma bukan lagi monster tapi tsunami...

ok setelah baca ini, gw jadi pengen cari filmnya :)

gilasinema mengatakan...

Iya...iya...baru nyadar kalo pengenalan karakternya mirip The Host :P

Anonim mengatakan...

Hm,kurang begitu suka nih, rada2 aneh ceritanya kaya yg mas bilang, suka BO Korea no.2 & 3 tahun 2009, Gukga Daepyo & Jeon Woo-chi [rlis desember, tapi langsung melesat naik] keren2,

Download woochi semalaman, ceritanya lucu & seru namun masih terasa kurang buat film kaya gini...

Btw. Indonesia ga semaju Korea, ga semua kota punya bisokop lho mas !!

Niat nonton di bioskop tuh ada, tapi masalahnya adalah gedung bioskpnya sendiri !!

Razeed mengatakan...

Tokohnya terlalu dipaksain buat selamet, apalgi yang hujan kontainer tuh
:)

REALYSEOBWIFE mengatakan...

Ini filmnya keren Gan! Lucu pas hujan kontainer XD semua emosi kena!
Pokoknya D to the K = DAEBAKK!!!!

Santi Susanti mengatakan...

film ini keren bangeeetan bener banget tuh yang bilang sedihnya pas bagian "aku ayahmu" aaaakkkk itu sedih seriussss merinding nontonnya

ide peluang usaha rumahan mengatakan...

ide peluang usaha rumahan modal kecil untung besar Ide Peluang Bisnis Rumahan, Waralaba Modal Kecil,Usaha Tanpa Modal, Peluang Bisnis,Bisnis Usaha Sampingan Modal Kecil,Peluang Usaha Modal Kecil

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket