Rabu, 14 Oktober 2009

THE GIRLFRIEND EXPERIENCE

Rabu, 14 Oktober 2009

Meski belum lama terjun sebagai porn star, perjalanan karir Sasha Grey bisa jadi membuat iri para pornstar yang telah lebih dulu terjun di dunia hiburan esek-esek. Sasha Grey mengawali debutnya sekitar tahun 2006 saat dia berumur 18 tahun (lebih muda dibandingkan ketika Miyabi memulai karirnya), namun prestasinya tidaklah main-main hingga di prediksi banyak pihak, dia bakal menjadi The Next Jenna Jameson.
Salah satu prestasi terbesarnya adalah saat datang tawaran dari sutradara hebat pemenang Oscar, Steven Soderbergh untuk berperan dalam film yang dia garap, The Girlfriend Experience. Tidak main-main, di film yang minim pemeran perempuan tersebut, Sasha Grey langsung mendapatkan peran utama. Pornstar yang terjun ke jalur mainstream movie memang sudah banyak, namun tidak semua semua bisa seberuntung Sasha Grey.


Dalam The Girlfriend Experience, Sasha Grey mendapatkan peran tidak jauh dari profesinya, yakni menjadi wanita penghibur (call girl) kelas atas bernama Chelsea. Berbeda dengan call girl kebanyakan yang dikelola oleh semacam agen (germo), Chelsea mempunyai kuasa penuh akan dirinya. Resikonya, dia menanggung sendiri segala biaya persiapan (baca:perawatan) demi kepuasan konsumen. Lihat saja aktivitasnya kalau tidak sedang melayani konsumen, pergi ke butik mahal, merawat tubuh hingga menyambangi galeri dan tinggal di apartemen berkelas.
Beruntungnya, Chelsea mempunyai kekasih yang sangat pengertian, Chris (Chris Santos). Untuk ukuran seorang kekasih, Chris ini sangat liberal dengan menganggap profesi Chelsea layaknya profesi biasa. Kalau dipikir ada benarnya juga. Chelsea tidak jauh beda dengan Chris yang menerapkan tariff per jam sebagai seorang personal trainee. Dan rasa-rasanya, profesi yang Chelsea jalankan tidak beda jauh dengan profesi terapis yang membuat konsumen merasa rileks.


Naskah buatan David Levien dan Brian Koppelman menggambarkan sosok call girl sebagai sosok pendengar yang baik. Pelanggan Chelsea kebanyakan pria yang sedang dibuat resah dengan kondisi perekonomian mereka. Hal ini terasa kontekstual dengan kondisi sekarang dimana ekonomi dunia sedang mengalami keguncangan akibat krisis financial di Amerika. Akibatnya, film ini banyak menyajikan dialog-dialog panjang yang berpotensi membuat bosan.
Curhat para konsumen tadi masih dirasa belum cukup oleh creator, karena hamper sepanjang film sosok Chelsea juga banyak berceloteh. Seperti umumnya manusia, meski mempunyai profesi yang dianggap kotor oleh sebagian besar orang, Chelsea juga mempunyai impian, yaitu menerbitkan cerita. Karenanya, di sela-sela aktivitas menjalankan bisnisnya, Chelsea menyediakan sesi wawancara dengan seorang penulis.
Dengan banyaknya celoteh hampir sepanjang durasi, film ini menemui kesulitan untuk mengikat emosi penonton.


Belum lagi sosok Chelsea yang dimainkan oleh Sasha Grey dengan emosi dan bahasa tubuh yang minim. Hal ini mungkin saja disengaja, mengingat profesinya, Chelsea seringkali berusaha untuk tidak terlalu terlibat secara emosional dengan konsumen. Sebagai katalis, diselipkan satu adegan dimana Chelsea menunjukkan sedikit emosi, yakni ketika salah satu konsumen membatalkan janji karena ingin berkumpul bersama keluarga.
Film ini memang sangat eksperimental, dan gaya bertuturnya mendekati gaya bertutur film documenter. Kabarnya, dalam proses produksi, Steven Soderbergh tidak terlalu berpegang teguh pada naskah yang ada, dan melakukan banyak pengembangan di lapangan. The Girlfriend Experience sebenarnya mempunyai ide cerita yang menarik yakni bagaimana tubuh manusia menjadi komoditas dan dikepung dengan materialisme, yang membuat jiwa-jiwa semakin teralienasi.


Gilasinema mencoba bertahan menikmati film ini karena gambar-gambarnya yang memikat dan diolah dengan pintar, hingga muncul kesan berkelas. Pemilihan setting, busana hingga pencahayaan yang matang menghasilkan gambar-gambar cantik. Belum lagi sudut pengambilan gambar yang diatur sedemikian rupa dan ditunjang editing yang baik, hingga berhasil memunculkan kesan intim. Dan untungnya film ini mempunyai durasi yang singkat, tidak mencapai 80 menit.
The Girlfriend Experience bukanlah tontonan yang bisa dinikmati oleh semua orang dan bukan karya terbaik dari Steven Soderbergh, meski banyak yang menilai lewat film ini Steven Soderbergh telah kembali ke akarnya (Sex, Lies and Videotape) setelah sebelumnya sibuk dengan proyek-proyek besar dengan menggaet bintang tenar. Namun, rasanya kok sayang sekali kalau melewatkan film ini, terutama dari segi penyajian gambar tadi.


Bagaimana dengan Sasha Grey? Agak susah juga menilai kemampuan aktingnya. Penampilannya yang terkesan mentah bisa jadi karena dia memang belum pintar acting, namun bisa jadi karakternya menuntut demikian. Namun yang pasti, kamera sangat mencintai Sasha Grey. Disyut dari sudut manapun, pornstar yang kadang mirip Miyabi ini terlihat memikat. Tidak salah kalau dia pernah meraih penghargaan Female Performer of the Year dari AVN (Oscarnya porn movie). Bahkan dia menjadi pemenang termuda sepanjang sejarah pergelaran AVN Award . Patut ditunggu penampilan aktris yang juga merintis karir musik dan pernah bekerja sama oleh The Smashing Pumpkins dalam film horror produksi Kanada, Smash Cut.


O iya, meski dibintangi oleh aktris yang rela melakukan adegan seks gaya apapun, jangan harapkan adegan-adegan vulgar merangsang. Hanya ada satu scene yang menyoroti tubuh telanjang dari Sasha Grey yang belum terkena sentuhan silicon layaknya pornstar kebanyakan. Hal ini terus terang mebuat Gilasinema sedikit kecewa, namun pada akhirnya hanya bisa meratap, “SEX SCENE NYA MANNNAAAA?!” 3,25/5

5 komentar:

ieraiera mengatakan...

mba sasha grey ini cantik yaa....dia juga bisa bikin lagu dan nyanyi....hebathebat
btw ceritanya mirip tv series di inggris, Secret Diary of a Call Girl

gilasinema mengatakan...

Cantik dan tlented memang, tapi kok mainnya jorok ya hehehehe....

awyangobrol mengatakan...

Wah, setelah baca reviewnya kok jd gak tertarik liat filmnya ya. Kayaknya lihat bokepnya aja lebih yahud. kalo di bokep dia mainnya ganas pisan lho. oops! *membuka aib*

gilasinema mengatakan...

Hahahaha......ketahuan! Aku malah gk begitu suka aksinya saking ganasnya :P

Gabby Hakim mengatakan...

ihh pada ngomongin apa sih si om gila sm awya? aku koq ga ngerti yaa.. huahuahua..

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket