Senin, 05 Oktober 2009

ALIENS IN THE ATTIC

Senin, 05 Oktober 2009

Banyak film dibuat dengan tujuan memberikan hiburan, namun tidak semua film yang dirilis berhasil mencapai tujuan tersebut. Tak jarang sebuah film yang dimaksudkan menghibur, malah bikin penonton memble meski dibalut efek visual yang menguras kantong produser, barisan bintang top serta promo gila-gilaan.


Sebagai contoh, Gilasinema lebih menyukai VIP ketimbang Baywatch yang sama-sama dibintangi Pamela Anderson, karena VIP menurut Gilasinema lebih jujur dalam menghadirkan hiburan. Berbeda dengan Baywatch yang cerita dibuat sok bermoral, padahal jualan utamanya ya tubuh molek para bintangnya. Contohnya nyambung gak sih hehehe…


Aliens in the Attic dipersembahkan oleh sutradara John Schultz murni sebagai sebuah tayangan hiburan. Sutradara yang pernah menghasilkan Drive Me Cracy ini sukses menghadirkan tontonan yang bakal memikat para penonton, terutama mereka yang masih belia. Tidak seperti film-film heboh yang digembar-gemborkan sebagai film hiburan namun malah menghadirkan perasaan eneg (Transformer 2 misalnya), Aliens in the Attic dengan segala kelemahannya bisa menjadi sebuah oase ketika dilanda kepenatan dan kelelahan. Lupakan jalan cerita yang tidak masuk akal.


Tom (Carter Jenkins) terpaksa mengikuti liburan keluarga meski sebenarnya enggan. Keterpaksaan tersebut menjadi keharusan ketika sebelumnya dia tertangkap basah sedang mengakali kedua orang tuanya berkaitan nilai Matematikanya. Liburan yang dia kira bakal berlangsung damai ternyata “dimeriahkan” oleh banyak orang yang hampir semuanya memandang rendah terhadap Tom.
Selain ada Bethany (Ashley Tisdale) dan adiknya, Hannah (Ashley Boettcher), ditempat peristirahatan, Tom dikejutkan dengan hadirnya sang nenek (Doris Roberts) dan juga pamannya yang membawa tiga anaknya yang super aktif, Jake (Austin Butler) dan saudara kembarnya Art dan Lee (Henri Young dan Regan Young). Belum cukup, kehadiran pacar Bethany, Ricky (Robert Hoffman) makin membuat hidup Tom merana.


Hingga pada akhirnya, para anak-anak mendapati empat alien di loteng, situasi berubah karena para anak-anak harus bersatu menghadapi para alien tadi yang berniat menguasai dunia. Mereka berusaha mencegah usaha para alien mendekati orang dewasa, mengingat senjata mereka hanya manjur ketika mengenai orang dewasa. Dipimpin Tom yang ternyata sangat kreatif, para anak-anak tadi berusaha sekuat tenaga menaklukan alien jahat. Beruntung, ada satu alien yang “berkhianat” dan membantu misi mereka.
Cerita yang dihadirkan dalam Aliens in the Attic memang tidaklah istimewa. Kisah anak-anak yang melawan makhluk jelek sebelumnya sudah pernah kita lihat di Spiderwick Chronicles. Hanya saja aura dalam Aliens in the Attic jauh lebih ceria dan fun. Aksi para pemain bocahnya yang lumayan lucu dan kompak. Kehadiran nenek Doris Roberts beserta ilmu kungfunya cukup menyegarkan.


Namun dari semua cast, Robert Hoffman lah yang secara mengejutkan mampu menjadi scene stealer. Setiap kehadirannya, layar terasa lebih lucu. Kaget saja, dengan tampilan fisiknya yang tergolong menarik, dia bisa tampil dengan sangat komikal layaknya Jim Carrey. Bisa jadi, Robert Hoffman menjadi sosok yang paling menderita sepanjang film. Ashley Tisdale? Gak penting banget. O, i ya, jangan lewatkan kumpulan adegan salah di ujung credit title. 2,5/5
 
GILA SINEMA. Design by Pocket