Sabtu, 20 Desember 2008

3 DOA 3 CINTA

Sabtu, 20 Desember 2008


Yang paling dirindukan oleh Huda (Nicholas Saputra) adalah ibunya yang sudah enam tahun tidak dia pernah dia lihat. Sedang bagi Syahid (Yoga Bagus), satu hal yang paling dia cintai di dunia ini selain Allah adalah ayahnya yang terbaring sakit di rumah sakit akibat gagal ginjal. Rian (Yoga Pratama) lain lagi, dia sangat terobsesi dengan yang namanya film. Ketiganya dipersatukan dalam lingkup pondok pesantren Al Ikhlas pimpinan Kiai yang resah karena tidak kunjung diberi anak laki-laki sebagai penerus kelangsungan pondok pesantren tersebut.
Ketiga pemuda tadi mempunyai mimpi, dan selau berdoa agar mimpi mereka dapat terwujud. Huda ingin mencari ibunya, Syahid ingin ayahnya segera sembuh dan Rian berkeinginan membuat film. Ketiganya mempunyai pojok favorit, dimana mereka menuliskan mimpi dan harapan mereka di tembok kusam.
Dalam usaha mewujudkan doa dari mimpi mereka tersebut, mereka dihadapkan dengan pribadi lain yang mempunyai jalan hidup dan mimpi yang jauh berbeda serta nilai – nilai yang kadang berseberangan dengan apa yang mereka dapatkan di pondok. Huda bertemu dengan penyanyi dangdut kelas teri, Dona Satelit (Dian Sastrowardojo yang bersedia membantu dengan sejumlah uang. Rian mendapatkan pengalaman dari pemutar layar tancep (Butet Kertaradjasa), sedangkan Syahid mulai terlibat dalam sebuah gerakan Islam garis keras yang berusaha merekrut pasukan jihad yang siap mati syahid demi Islam.
Yang namanya mimpi dan harapan kadang tidak sejalan dengan realita. Seperti kata orang bijak “manusia hanya bisa berencana, namun keputusan akhir tetap di tangan Tuhan’. Begitulah yang harus dihadapi oleh ketiga pemuda tadi. Huda harus mendapati kenyataan bahwa ibunya telah meningggal dunia dengan masa lalu yang kelam, Rian yang kecewa ketika ibunya memutuskan menikah lagi sedang ayahnya belum genap satu tahun meninggal dunia, sedang Syahid dilanda dilemma ketika mendapati bahwa orang yang selama ini dia pikir sebagai pihak yang patut dimusnahkan, justru berbaik hati memberikan bantuan.
Dengan mengambil setting utama di sebuah pondok pesantren, cerita tiga doa tadi mengantar kita untuk “melongok” sejenak mengikuti berbagai kisah di sebuah pondok pesanten (tradisional). Tentu tidak semua pondok pesantren terlihat seperti apa yang dihadirkan oleh sutradara Nurman Hakim di layar yang mendasarkan pada scenario garapan Agni Ariatama. Justru lewat film inilah, kita disadarkan betapa banyak dimensi yang bisa kita lihat didalamnya. Sutradara dan penulis cerita terlihat sekali ingin memperlihatkan banyak hal, mulai dari isu poligami, terorisme hingga isu homoseksualitas serta banyak isu lainnya dan tetntu saja Islam yang ramah dan damai.
Dan untungnya, meski terkesan “serakah” karena ingin memperlihatkan banyak hal, cerita yang dihadirkan lumayan focus dan menarik. Sineas yang berada di balik pembuatan film ini terlihat sekali ingin “mengobrak-abrik” hal-hal yang berbau stereotype dan klise. Mereka seakan-akan berusaha “mencuci” stigma yang seringkali tidak mepunyai alasan yang kuat. Manusia disini dilihat sebagai sosok abu-abu, manusia yang mempunyai banyak sisi, karena manusia adalah makhluk yang paling dinamis.
Maunya sih setelah melihat film ini, akita kan berpikiran lebih terbuka, terutama terhadap perbedaan yang ada. Tidak mudah menghakimi, karena yang berhak untuk itu hanyalah Allah yang Maha Adil dan Pemaaf. Salut untuk mereka yang berhasil menghadirkan film ini. Harapannya setelah kemunculan film ini, akan lebih banyak lagi film yang mengambil setting cerita di pondok pesantren. Beberapa sub plot dalam film ini bisa dijadikan kisah tersendiri secara lebih mendalam dan detail. Kalau mau yang sensional dan bakal menimbulkan kontroversi, coba deh angkat isu homoseksualitas yang tidak bisa dipungkiri, memang benar – benar ada.
Film ini makin enak dinikmati berkat diselipkannya beberapa adegan – adegan lucu yang sukses mengundang tawa. Mereka yang tahun ini sibuk mengeluarkan komedi seks yang dangkal harusnya malu melihat betapa kreatifnya sineas dari film ini dalam membangun suasana yang komedik. Kelucuan tidak harus muncul dari wilayah sekitar selangkangan. Bahklan dari sebuah ritual pun mampu memunculkan senyum. Penyuntingan yang rapi dan dinamis dari sastha Sunu serta musik olahan Djaduk makin memperkuat emosi dari film ini. Tata cahaya yang kuat di beberapa adegan juga menjadi nilai plus tersendiri, meski ada beberapa adegan dimana bayangan kru ikut main.
Tidak bisa dipungkiri, selain cerita, kekuatan utama dari film ini adalah betapa tepatnya pemilihan pemain, dan semua pemain mampu menampilkan kekuatan masing – masing. Kalau di Indonesia ada semacam Screen Actors Guild Award seperti halnya di Holly, film ini sangat layak membawa pulang Best Assamble. Pemilihan casting orang tua dan anak terlihat sekali dilakukan dengan serius, hingga hubungan yang terjadi di layar terasa realistis dan tiddak aneh. Nicholas Saputra meski sedikit ketuaan untuk anak 17 tahun, berusaha menampilkan sisi polos layaknya remaja dan lumayan berhasil. Belum lagi dengan logat jawanya yang mengejutkan.
Yoga Pratama mampu tampil lepas dan segar, sedangkan Yoga Bagus bermain bagus. Kalau boleh jujur, peran yang dia mainkan, bisa jadi merupakan karakter tersulit dalam film ini. Peran Syahid menuntut pemerannya untuk terampil mengolah bahasa tubuh dan juga bahasa mata yang kuat. Dan untuk pendatang baru, penampilan Yoga Bagus bisa dikatakan memuaskan. Bukti bahwa untuk menjadi actor yang bagus tidak perlu ditunjang fisik yang rupawan. Dian Sastro dengan segala kegenitan dan kenorakannya namun menyimpan duka, mampu menjadi sceen stealer. Kehadirannya selalu menghadirkan warna dan sensasi tersendiri. Terlihat sekali dia berusaha total. Apalagi dia menyanyikan sendiri lagu yang dihadirkan, lengkap dengan goyang sensual nan seronok. Ditambah bodynya yang montok, Titi Kamal mah Lewaaaaaaat…..!
Tema cerita yang menarik, scenario yang rapat. didukung dengan pengerjaan yang serius serta cast yang tepat nan kuat, apa lagi yang kurang? Mungkin bagi sebagian penonton akan terasa membosankan karena kurang tajamnya konflik yang dihadirkan. Justru disinilah kekuatan dari film ini dengan memilih cara bertutur yang bersahaja. Makanya buruan segera ke bioskop menyaksikan film ini, karena film semacam ini malah “terancam” segera turun layar hanya setelah 2 – 3 hari tayang. Padahal tema yang diangkat. terlihat unik dan menarik bagi penonton luar, terutama oleh festival film internasional. Jadi jangan sampai menyesal. 3,5/5

1 komentar:

pepito mengatakan...

saya udah nonton.
saya suka, walau akhirnya kurang gigit :)
trus di beberapa adegan, banyak hal yang bikin ketawa satir. salah satunya pas pembatalan niat untuk mati syahid itu.. lucu

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket