Sabtu, 19 Juni 2010

SHORT REVIEW : HUMANISME DALAM 3 FILM PERANCIS

Sabtu, 19 Juni 2010
L’HUMANITE (1999)


Kisahnya sebenarnya sangatlah simple. Seorang polisi, Pharaon De Winter (Emmanuel Schotte), menemukan mayat seorang gadis yang diperkosa dan dengan caranya sendiri, mencoba untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan karakternya yang cenderung lurus dan tampaknya mempunyai tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata, metode yang dia gunakan terlihat mentah. Wajahnya menyiratkan kekosongan, kebingungan, kemarahan, kesedihan maupun harapan. Film ini tampaknya merupakan semacam study of character dari Pharaon. Bagaimana karakternya dihadapkan pada karakter-karakter lain yang cenderung lebih “kasar” di tengah jaman dimana humanisme makin tergerus. Melalui proses yang sangat pelan (film ini berdurasi lebih dari 140 menit), kita bisa merasakan perubahan emosi dari Pharaon paska ditemukannya mayat gadis cilik tadi.


Sutradara dan penulis cerita Bruno Dumont tidak menjejali film dengan banyak dialog, namun lebih menyajikan ide-idenya dengan bahasa gambar. Dampaknya, penonton dituntut untuk lebih berpikir lebih keras tentang maksud dari creator. Beberapa adegan bisa kita pahami sebagai wujud berubahnya perilaku manusia, misalnya mobil box merah yang sangat besar yang tiba-tiba melintas di tengah pemukiman, perilaku Domino (Severine Caneele) dan Joseph (Philippe Tullier) yang cenderung mengumbar erotisme atau bagaimana atasan Pharaon menginterogasi dua anak kecil dan masih buaaanyak lagi. Sebuah film yang sangat kontemplatif dan tidak cukup menyaksikannya hanya sekali. Yang tidak saya mengerti adalah ketika di layar tiba-tiba tersaji gambar kelamin perempuan secara frontal dalam durasi yang cukup lama. Apakah ini wujud ketidaksenonohan? Entahlah. Film yang berhasil menggondol Grand Jury Prize, Best Actor dan Best Actress pada Cannes 1999 ini, auranya mengingatkan saya pada Cache-nya Michael Haneke. 4/5


THE DREAMLIFE OF ANGELS / LA VIE REVEE DES ANGES (1998)


Dibandingkan dua film diatas, film ini lebih bisa dinikmati dengan santai. Apalagi durasinya yang Cuma 113 menit. Dua cewek pekerja Isa (Élodie Bouchez ) dan Marie (Natacha Régnier) dipertemukan secara tidak sengaja. Keduanya tinggal di sebuah apartemen dimana pemiliknya, Sandrine (Louise Motte) sedang koma di rumah sakit. Awalnya kita melihat Isa dan Marie memiliki kesamaan hingga keduanya terlihat klop. Namun seiring berjalannya waktu, kita melihat betapa keduanya sangatlah berbeda. Ira sangatlah ekspresif, optimis dan realistis terhadap hidupnya. Sedangkan Maria cenderung tertutup, sinis dan mudah meledak serta cenderung apatis terhadap hidupnya. Dalam salah satu adegan, kita diberikan sedikit informasi tentang sejarah keluarga dari Isa dan Marie yang mempengaruhi kepribadian mereka.


Perbedaan karakter tersebut lantas membuat keduanya berselisih, terutama ketika Marie bersinggungan dengan Chris (Grégoire Colin) yang cenderung membuat Marie terlena dengan cinta semu. Ketika Marie terbuai dengan mimpi-mimpi, Isa menjalani hidupnya dengan lebih bersahaja. Dia menjalani pekerjaan apapun dengan ceria dan meluangkan waktu untuk menjenguk Sandrine dan menuliskan kisah bagi Sandrine. Dari kunjungan-kunjungan inilah Isa lebih bersyukur kan hidupnya dan juga membuatnya mempunyai harapan untuk bertahan hidup. Harapan yang sayangnya harus berhadapan dengan realita yang kejam dan mengejutkan, Seperti halnya adegan menjelang akhir yang membuat Isa sedih.Namun, hidup harus terus berjalan.


Sutradara sekaligus penulis cerita Erick Zonca mengemas The Dreamlife of Angels dengan sangat sederhana namun hasilnya adalah sebuah tontonan yang kuat, terasa nyata dan inspiratif. Temanya sangat dekat dengan keseharian kita. Penampilan dua bintang utamanya sangatlah natural dan meyakinkan. Keduanya mendapat predikat Aktris terbaik pada Cannes 1998. Filmnya sendiri berjaya di Cesar Award 1999. The Dreamlife of Angels sangat sayang untuk dilewatkan, terutama buat para cewek. 4,25/5

LA GRAINE ET LE MULET / THE SECRET OF THE GRAIN (2007)


Film arahan Abdellatif Kechiche ini mengisahkan bagaimana usaha Slimane Beiji (Habib Boufares), pria paruh baya berdarah Arab, yang mencoba menegakkan wibawanya ditengah situasi yang menghimpitnya. Mulai dari persoalan pekerjaan hingga persoalan keluarga, dimana Slimane seakan terbuang dan tidak dipandang oleh anak dan mantan istrinya. Meski sudah mempunyai istri lagi yang begitu pengertian serta anak perempuan yang tak henti menyemangatinya, wajah Slimane senantiasa menyiratkan kelelahan dan kepedihan. Kesempatan memperoleh wibawanya kembali datang ketika Slimane berniat mendirikan restoran keluarga di atas kapal. Pada saat pembukaan demi meyakinkan investor, awalnya semuanya berjalan lancar dan menyiratkan optimisme, namun situasi berubah total saat salah satu anak dari Slimane melakukan kesalahan yang tidak ia sadari.


Dengan durasi sekitar 150 menit, The Secret of the Grain terasa bertele-tele di 90 menit pertama. Pada bagian ini kita disuguhi adegan yang terkesan biasa saja. Namun tenyata, rentetan adegan-adegan yang terkesan biasa tadi sangat efektif mengikat emosi saya sebagai modal menikmati 60 menit terkahir yang sangat mengesankan. Kita dibuat harap-harap cemas paska kelalaian yang dilakukan oleh salah satu anak dari Slimane. Sesak nafas saya dibuatnya. Hancur lebur hati ini melihat usaha Slimane yang berlari sekuat tenaga, begitupun saat melihat pengorbanan yang dilakukan oleh anak dari istri kedua Slimane. Buat para pecinta film drama keluarga, film ini sangat saya rekomendasikan. Terasa nyata dan amat menguras emosi. Brillian. 4,5/5

2 komentar:

Satrio Nindyo Istiko mengatakan...

Film Perancis banyak banget ya yang bagus mas...hehehehehe

gilasinema mengatakan...

Iya, dan salutnya, para pemainnya itu bener-bener lebih menekankan acting daripada pesona fisik.

Poskan Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket