Kamis, 17 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : PERSAUDARAAN DI NEGERI SEBERANG

Kamis, 17 Juni 2010

Victoria Park di setiap hari Minggu dipenuhi dengan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mencari dolar di Hongkong. Disinilah para BMI tadi bisa secara bebas mengekspresikan diri mereka. Sesuatu hal yang mungkin tidak bakal mereka lakukan ketika berada di Tanah Air. Di Victoria Park, kita akan menjumpai berbagai aktifitas, mulai dari sekedar kongkow-kongkow, memadu kasih, pengajian, dakwah agama hingga ekpresi seni. Bahkan, mereka juga pernah melakukan demonstrasi di Victoria Park, mengkritisi kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat, seperti kenaikan harga BBM. Berkumpulnya BMI di Victoria Park bagi Lola Amaria, adalah simbol rekonsiliasi bagi dua tokoh utama dalam filmnya, yakni Mayang (Lola Amaria) dan Sekar (Titi Sjuman).


Motor penggerak cerita dalam Minggu Pagi di Victoria Park dalam pandangan saya adalah sibling rivalry dari Sekar dan Mayang. Hubungan keduanya mengingatkan saya pada hubungan Cameron Diaz dan Tony Colette di In Her Shoes. Lewat usaha Mayang yang terpaksa menjadi BMI karena paksaan ayahnya demi menemukan Sekar yang senantiasa membangkitkan rasa iri dihatinya, kita diajak untuk melihat seluk beluk kehidupan BMI di Hongkong. Dengan riset yang cukup, Titien Wattimena menyuguhkan kisah cukup menarik, mulai dari hubungan antar BMI, hubungan BMI dengan majikan sampai mengulik fenomena hubungan sesama jenis antar BMI.


Gempuran penggambaran para BMI dalam Minggu Pagi di Victoria Park membuat kita paham betapa sulitnya posisi mereka, mengingat tekanan dari berbagai pihak yang membuat mereka tak ubahnya sapi perahan. Dan tidak hanya terjadi di Terminal 4 lho. Tekanan pertama sebenarnya datang dari rumah. Banyak pandangan di desa kalau bekerja sebagai MBI itu menghasilkan pemasukan yang besar. Kesuksesan seorang MBI dinilai dari perubahan fisik rumah beserta isinya. Pada akhirnya semua bermuara pada prestise orang tua, dimana anak dituntut untuk memenuhi gengsi tersebut tanpa memahami betapa tidak mudahnya mencari uang di negeri orang. Tuntutan inilah yang menyebabkan Sekar serta banyak BMI lainnya terlilit utang.


Pola pergaulan yang salah juga bisa mendatangkan kesulitan. Para BMI di Hongkong dikabarkan sering menjalin hubungan dengan pria Nepal ataupun Pakistan yang notabene malah meloroti penghasilan mereka. Bahkan sampai ada yang hamil lho yang sayangnya tidak ditampilkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Tekanan pekerjaan datang makin menggebu ketika mereka dituntut untuk bekerja dengan sigap dan cepat beradaptasi di lingkungan yang benar-benar baru. Kalau tidak kuat, hal ini bisa membuat diri terlilit keterasingan, yang fatalnya bisa mendorong mereka nekat melakukan aksi bunuh diri.


Hidup di negeri orang itu, sekali lagi tidaklah mudah, karenanya dibutuhkan solidaritas antar kaum pendatang. Dengan kebanyakan berjenis kelamin perempuan, tidak mengherankan kalau banyak BMI yang terlibat cinta sejenis hingga ada yang berani melakukan ”pernikahan”. Dari yang saya baca, hubungan sesama jenis ini ternyata banyak yang berawal saat mereka tinggal di tempat pelatihan di Indonesia lho. Kasusnya mungkin sama dengan para pekerja pabrik di dalam negeri yang juga banyak terlibat cinta sesama jenis karena tinggal dalam satu asrama. Penyebab mengapa banyak BMI yang menjalin hubungan sesama jenis, sayangnya kurang tergambarkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park.


Minggu Pagi di Victoria Park berniat menyampaikan banyak hal seputar MBI di Hongkong, jadi sulit memang untuk menghadirkan kisah yang benar-benar utuh dan mendalam. Meski demikian, film ini tetap enak dinikmati dan yang terpenting tidak melukai logika dengan fatal. Film ini makin menarik berkat topangan akting yang kuat, terutama para pemeran wanitanya. Dalam hal ini bukan hanya Titi Sjuman dan Lola Amaria saja lho, mengingat para pemeran pendukung perempuan yang lain juga tampil tak kalah meyakinkan. Saya awalnya agak terganggu dengan gaya bicara Lola Amaria yang terkesan nanggung, namun pada akhirnya paham kenapa pendekatan ini dia pilih. Mayang itu seorang gadis desa yang terpaksa ke luar negeri dan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Coba deh perhatikan gaya omong orang desa yang jarang berbahasa Indonesia dan belum lama tinggal di kota. Setelah pemahaman ini saya kagum dengan bagaimana Lola Amaria mencoba konsisten dengan gaya bicara yang ”nanggung”.


Banyak yang merasa terganggu dengan penampilan Donny Damara, namun bagi saya justru kehadiran karakter yang diperankan oleh Donny Alamsyah sangatlah kurang kuat. Saya tidak paham mengapa dia begitu tertarik terlibat dalam usaha menemukan Sekar. Hal ini menyebabkan kehadirannya hanya sebatas pemanis saja. Andai saja dia diberi karakterisasi yang lebih ”kasar” pasti kehadirannya akan lebih meyakinkan. Misalnya saja, Sekar mempunyai hutang yang cukup besar darinya, hingga Vincent (Donny Alamsyah) ikut dalam usaha pencarian dan pada akhirnya ada rasa terhadap Mayang. Kehadiran Gandhi (Donny Damara) yang merepresentasikan pemerintah (atau LSM?) terasa lebih masuk akal, hingga saya bisa agak menerima penampilannya yang cenderung formal dan dramatis.


Minggu Pagi di Victoria Park secara keseluruhan merupakan tontonan yang bagus, tapi masih bisa lebih bagus lagi. IMO MOI lho. Saya membayangkan andai saja film ini menggunakan hand held camera selama adegan-adegan di Hongkong, kecuali adegan konser diakhir, pasti akan lebih mengikat rasa layaknya 4 Months, 3 Weeks and 2 Days. Eh...ada Novia Kolopaking sebagai Produser Eksekutif lho. 3.75/5

4 komentar:

yusahrizal mengatakan...

di itung2, mas gila mengetikkhan kata lho sampai 6 kali dalam postingan ini
*iseng*
*pengen nonton, tp sabar nunggu gratisan di internet*

Budi Cahyono mengatakan...

Mood nonton juga berpengaruh saat nonton film, hehe..

Akhirnya direview juga filmnya setelah kemaren abis nyewa satu bioskop buat nonton film ini, review yang sangat baik sekaligus berhasil mendorong ane untuk nonton..

untuk handheld camera, ane sangat setuju karena akan terasa sangat real..

adithiarangga mengatakan...

walau kurang menyorot lebih banyak soal realitas para pekerja di Hongkong, tapi cukuplah buat gw yg akhirnya tahu sedikit ttg kehidupan mereka...

apalagi pas tahu pada suka rindu band (bener nga yah)terus banyak sesama jenis gitu...hehe

top filmnya, sayang turun cepet bgt (-_-)

GILASINEMA mengatakan...

@yusahrizal : malu aku ;)

@budi : terima kasih pujiannya

@adithiarangga : iya, film ini layaknya sebuah paparan BMI di Hongkong yang disajikan dengan menarik, yang sayangnya tidak mampu menarik banyak penonton :(

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket