Sabtu, 12 Juni 2010

“SEWA BIOSKOP” DEMI MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

Sabtu, 12 Juni 2010

Kali ini saya belum akan kasih reviu film yang saya tonton pada hari Jum’at (11/6) jam 13.00 WIB ini. Saya akan menceritakan pengalaman saya nonton film tersebut. Sebelum menonton film ini, saya mampir ke beberapa blog film tetangga yang kebetulan sudah menonton Minggu Pagi di Victoria Park. Tanggapan mereka sangat positif dan memberi rating yang cukup tinggi. Pertanda film ini layak untuk diperjuangkan ditonton di bioskop. Tidak hanya di blog tetangga, di Twitter juga banyak sekali pihak yang memuji kualitas film Minggu Pagi di Victoria Park, terutama untuk divisi acting.
Namun selain pujian, juga terdapat keprihatinan akan minimnya kursi yang terisi ketika film ini dtayangkan. Teman-teman Twitter yang tinggal di Surabaya, Medan,Bandung dan Jakarta mengabarkan kalau pada saat mereka menonton Minggu Pagi di Victoria Park jumlah penontonnya tidak mencapai sepuluh orang, bahkan ada yang cerita kalau mereka menonton ditemani hanya 2 penonton lain saja! Menyedihkan. Film yang kualitasnya diakui oleh banyak pihak, kurang mendapatkan atensi yang menggembirakan. Yang saya alami ternyata lebih menyedihkan lagi. Begini ceritanya…
Saya menonton film ini di Studio Theatre (di Singosaren Solo) dan tiba di lokasi jam 12.45 sehabis Jum’atan. Meski dengan tata suara biasa saja dan layar yang tidak begitu besar (HTM Rp. 15.000,-), saya suka datang ke bioskop ini karena jam tayangnya cukup bersahabat dengan saya yang karena situasi dan kondisi, lebih nyaman nonton film di bioskop sehabis Sholat Jum’at. Asyiknya lagi, bioskop ini batas minimal jumlah penontonnya cuma 2 orang. Dan karena sulit menyamakan jdwal dengan teman-teman, seringnya saya nonton sendirian.


Tiba di lokasi, tidak terlihat satu orang pun di depan loket. Bioskop yang satu ini memang tidak seramai Grand 21 yang berada di Solo Grand Mall, namun dari pengalaman saya yang beberapa kali melihat pada hari dan jam yang sama, biasanya paling tidak ada 5 – 10 orang pada saat film diputar, contohnya waktu saya nonton Arisan Brondong, Dendam Pocong Mupeng atau Alangkah Lucunya (Negeri) Ini. Meski terlihat lengang, hal tersebut tidak menyurutkan niat saya untuk nonton Minggu Pagi di Victoria Park. Melangkahlah kaki ini menuju loket.

Saya Cakep (SC) : Minggu Pagi di Victoria Park, Mbak.
Mbak Penjual Tiket (MPT) : Wah…belum ada temennya mas
SC (mulai cemas) : Minimal dua orang kan Mbak?
MPT : Iya Mas.
SC : Ya udah Mbak. Nanti saya balik lagi.

Karena masih ada waktu, saya keluar sebentar untuk sekedar lihat-lihat karena kebetulan bioskop tersebut satu lokasi dengan Matahari Singosaren. 10 menit kemudian saya balik ke depan loket.
SC : Sudah ada temennya belum Mbak?
MPT : Belum Mas. Kayaknya filmnya gak jadi diputar.
SC : Waduh! (membayangkan perjalanan pulang selama 2 jam yang sia-sia)
MPT : Lihat yang ini saja Mas. Baru tayang juga kok (sambil menunjuk Messengers 2)
SC (dalam hati teriak ”kyaaaa....!) : Waduh Mbak, kurang suka sama filmnya. Ya udah. Terima kasih Mbak
Menjauhi loket dengan kecewa namun diiringi senyum MPT.

Saya masih enggan meninggalkan bisokop tersebut. Kedepannya kayaknya bakal tidak ada waktu nonton lagi dan sayang perjalanan yang saya tempuh demi nonton Minggu Pagi di Victoria Park di bioskop. Sekedar informasi, untuk sampai ke bioskop tersebut saya butuh waktu sekitar hampir 2 jam. Saya tidak mau pulang dengan tangan hampa dong dan memutuskan kembali ke loket.
SC (dengan tekad membara) : Mbak, minimal penontonnya 2 orang kan?
MPT : Iya Mas.
SC (dengan penuh pengharapan) : Kalau misalnya saya beli 2 tiket, filmnya bakal diputar tidak?
MPT (bingung dan ragu-ragu) : Mmmm....sebentar saya tanyakan dulu ya Mas.
Mbaknya berlalu sejenak menemui Pak Manajer yang saya tahu orangnya tinggi kurus kering. Tak berapa lama kemudian...
MPT : Ya Mas. Film bisa kita putar.


YESS!!! Meski terbersit rasa miris, timbul rasa lega dan senang luar biasa karena pada akhirnya bisa menyaksikan film Minggu Pagi di Victoria Park. Dengan modal Rp. 30.000,- saya seakan menyewa satu gedung untuk memutar film bagus khusus untuk saya sendiri. Yang paling menggembirakan, pengeluaran tersebut terbayar dengan kepuasan saya menyaksikan filmnya, terutama dengan parade akting memikat dari para pemain perempuan. Tidak hanya Titi Sjuman dan Lola Amaria, para pemain pendukung lainnya (Imelda Soraya , Permatasari Harahap dll) juga tampil memikat. Penampilan mereka mampu mengalihkan saya dari beberapa detail cerita yang kurang tergarap lebih dalam, terutama 2 karakter cowok yang perannya kurang mendapatkan landasan yang kuat. IMO
Saya berharap yang saya alami hanya terjadi pada saya dan berdoa tidak akan terjadi lagi. Mari tonton film Indonesia yang bermutu. Jangan hanya tonton film setan dan komedi seks saja dong. Kalau film Indonesia terlalu dijejali dengan setan dan kemesuman, penonton bisa jenuh dan menjauhi film Indonesia. Takutnya apa yang dibilang Deddy Mizwar pada sebuah tabloid kalau pada tahun 2012 film Indonesia bisa terkapar lagi bakal benar-benar terjadi. Untuk tahun ini saja, sampai akhir Mei, dari puluhan judul yang telah dirilis, katanya hanya film 18+ yang perolehannya menyentuh angka 500ribu penonton, disusul Menculik Miyabi yang sebenarnya tidk mampu memenuhi ekspektasi Produsernya. Mengenaskan. Mungkin penonton benar-benar sudah jenuh.


Saya sebagai penikmat film, sekali lagi hanya bisa mengajak, mari kita tonton film Indonesia yang bermutu. Kalau film-film bagus ditonton banyak penonton, tentu para pekerja film jadi lebih semangat bikin film yang lebih baik. Saya sih maklum kenapa penonton Indonesia lebih suka dengan film-film ringan yang kadang hanya memberikan hiburan sesaat. Dengan kehidupan yang makin keras, mereka masuk ke bioskop itu inginnya sejenak melepaskan kepenatan, bukannya dibawa ke alam serius yang makin menyesakkan rasa. Tapi percayalah, Minggu Pagi di Victoria Park bukanlah tontonan yang depresif lho. Akhir kisah ini memberikan semacam optimisme yang menentramkan. Buruan tonton filmnya sebelum keburu turun!!!

15 komentar:

e2p mengatakan...

Wah gilasinema beruntung.. dengan minimal 2 penonton masih bisa diputar... pengalaman sy baik di jakarta maupun di bandung minimal 4 orang.. dibawah itu engga diputer dan kita suka ditawari film lain...

Haris mengatakan...

Pengalaman yang luar biasa!!!
Duh, semoga industri film kita tidak lagi terpuruk. Tapi mau bagaimana lagi? Dulu diawal kebangkitan sinema indonesia, nyaris setiap film saya tonton. Akan tetapi disaat kuantitas semakin meningkat, eh kok malah berbanding terbalik dengan kualitas. Lama-lama saya malas nonton film Indonesia dan mulai pilih-pilih. Sayang uangnya. Makanya, hayo para produser, jgn hanya kejar materinya, tolong mutunya juga diperbaiki dong! Tidak masalah kalau temanya esek2 atau horor, asal digarap dengan baik. Pasti hasilnya memuasakan. Toh, nanti yg rugi anda-anda juga kalau tidak ada yg menonton lagi.

Rijon mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Rijon mengatakan...

Saya, di Solo Grand Mall (hari Kamis kemarin) cuma nonton bertiga. Saya sendirian. Sama dua orang pasangan di pojokan. Saya mau ajak temen, tapi gak ada yang tertarik.

gt mengatakan...

salut....

Satrio Nindyo Istiko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Satrio Nindyo Istiko mengatakan...

Ayo mas membuka bioskop sendiri di Solo.pilihan film2 mas pasti cuakepp...hahaha.

iin mengatakan...

wow.. parah yaa perbeskopan indonesia.. ya gak bs disalahin jg sih, mungkin mereka jg gak mau rugi ya 15 ribu kan ga cukup buat ganti ongkos bersih2 ama ac, ama listrik satu studio hahahaha..
eh tp Om, tulisan ini ngingetin aku sama pengalaman ntn film Indonesia tersepi : ga total sendirian sih, cuma ber 3!. dan itu film : The Photograph, sama Kala.

Emang cuma orang-orang pinter doang Om yang minum tolak angin, ehh maksudnya yang ngerti film2 bagus.. HAHAHHA.

aku tunggu review Victoria Park nya yaa :D

Ringo mengatakan...

ngebayangin om gila teriak dalam hati 'KYAAAA ( sambil ngeliat The Messenger2 )' bikin gue ngakak hahahhaha

buat gue film tersepi tuh waktu nonton 'Fiksi' cuman ada 6 orang doang dan yang 3 'Walk Out' di tengah film......omg

budi cahyono mengatakan...

Wah pengalaman keren sekaligus memprihatinkan nih, ku juga pernah ngalamin nih..

soal perkiraan dedy mizwar, kita sebagai penikmat film sekaligus blogger jadi susah juga donk kalo sampai film indonesia mati,,,,,

GILASINEMA mengatakan...

@rijon : seru kali ya kalo bisa nonton bareng. Ada Si Tukang Review juga kan di Solo :)

@satrio : hahahaha...butuh berapa duit ya? Lha wong menurut kabar yang saya dengar, jaringan bioskop baru itu paling tidak butuh 15 tahun buat balik modal lho. Susah kalo gak punya jaringan distribusi yang kuat kayak 21 ato XXI. Eh, dua ini sama gak sih?

@iin : sempat kepikiran juga. Itu duit 30 cukup buat bayar listrik dan sewa filmnya. Pantes saja kalo pak manajer badannya kurus kering *sedih

@ringo : kyaaaa....ada master of horror. Takut dimarahin hehehehe...

@budi : Oh ya? bagi cerita donk.

GILASINEMA mengatakan...

@haris : mungkin banyak kali ya yang seperti itu. Menjauhi film produk dalam negeri karena lama-lama mengalami keseragaman tema yang membosankan. TIDAK LUCU!!!

@e2p : eh...tapi katanya Blitz walau cuman 1 penonton tetap tayang ya?

budi cahyono mengatakan...

hehe Iy Mas, pas lagi baru2nya film Terminator Salvation. bukannya rame, eh yang nonton cuma berlima gue am pacar dan tiga penonton lainnya. 3 hari kmudian filmnya turun gara2 g ad yg nonton *prihatin*

yg kedua, pas pngen liat Get Married 2 malah batal karena yg nonton cuma kami berdua, andai waktu it jadi diputer, alamak betapa romantisnya :)

gilasinema mengatakan...

@budi : cieee...yg mau indehoy :)
baru ingat, aku gulu pernah "diusir" gara-gara setelah disuruh masuk, kuota penonton kurang memenuhi. Sudah lamaaa banget sih dan buykan film Indonesia.

eka nugraha mengatakan...

baca ini rasanya jadi campur aduk

tersenyum, kasihan plus miris :)

Poskan Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket