Jumat, 06 Februari 2009

GRAN TORINO

Jumat, 06 Februari 2009

Walt Kowalski (Clint Eatwood) seorang veteran perang Korea, mengisi masa tuanya dengan kesendirian setelah ditinggal istrinya yang meninggal dunia. Memang ada anak tunggalnya yang siap hadir bersama menantu dan cucunya. Hanya saja Walt tahu bahwa mereka tak sabar melihat dirinya meninggal dunia atau mengirimnya ke panti jompo demi menguasai hartanya, terutama mobil tua Gran Torino yang amat dia banggakan.
Di masa tuanya, yang diinginkan Walt hanyalah ketenangan hidup. Sesuatu yang mustahil, mengingat dia hidup di pemukiman dengan dunia yang terus berubah dan makin plural. Dia dikelilingi oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang budaya yang dia anggap sebagi warga kelas dua. Tetangganya yang bersuku Hmong, pendeta muda yang selalu memberi wejangan dengan logat Irish nya, hingga gank dengan berbagai warna kulit.
Hidupnya perlahan-lahan mulai berwarna, meski awalnya tidak dia kehendaki. Semuanya berawal ketika dia berusaha mengusir kawanan pemuda berandal dari halamannya. Walt mulai terseret dalam pusaran kehidupan tetangganya yang bersuku Hmong tadi. Perlahan-lahan dia mulai menjalin hubungan yang intens dengan Thao (Bee Vang) pemuda tanggung yang sering mendapatkan tekanan serta kakak perempuannya, Sue (Ahney Her).
Walt yang pada awalnya membangun tembok pembatas dengan para pendatang, lama-lama mulai membuka diri. Hubungannya dengan Thao ibarat murid dengan mentornya. Hingga sebuah tragedy menimpa Sue yang membuat Walt tidak bisa tinggal diam melihat kekerasan demi kekerasan yang menimpa orang-orang yang tidak layak menerimanya.
Namun apakah kekerasan harus dilawan dengan kekerasan? Apakah dengan diam dan pasrah akan menjauhkan kita dari kekerasan? Penulis cerita Nick Schenk menjawabnya dengan akhir cerita yang mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Pada intinya, dibutuhkan keberanian dan otak serta kebijakan untuk melawan kekerasan.
Dirty Harry is back! Namun kali ini sebisa mungkin dia menjauhkan diri dari yang namanya kekerasan. Dimasa tuanya dia seakan menyesali berbagai kekerasan yang dulu dia sajikan. Ya, bisa dibilang Gran Torino ini merupakan anti tesis dan juga penyesalan yang dulunya dia tampilkan lewat aksi-aksi yang diartikan sebagai aksi heroic, seperti layaknya peran Walt di Perang Korea. Di usia tuanya, Clint Eastwood ingin meninggalkan warisan yang inspiratif yang dia tunjukkannya lewat langkah yang dia pilih untuk mengakhiri siklus kekerasan dan juga dia tunjukkan dengan diwariskannya Gran Torino kepada Thao. Gran Torino seakan menjadi symbol akan nilai-nilai luhur nan klasik, yang sayangnya makin mahal untuk didapat.
Sama seperti Walt Kowalski, Clint Eastwood seakan mengalami kegelisahan ketika melihat dunianya menjadi semakin permisif dengan kekerasan. Nilai – nilai luhur makin ditinggalkan. Padahal dengan makin mengaburnya batas antara manusia yang satu dengan manusia yang lain idealnya terjadi pertukaran nilai-nilai kebajikan, bukan malah saling memaksakan apa yang mereka yakini. Perbedaan harusnya menjadi suatu hal indah bukannya menghadirkan kekacauan. Sikap antipati yang diungkapkan lewat dialog memorable “get off my lawn” cukup kuat menggambarkan kondisi saat ini.
Menyaksikan Gran Torino seakan-akan mengalami déjà vu. Temanya hampir mirip dengan No Country for Old Man yang sangat anti kekerasan meski didalamnya bertaburan aksi kekerasan. Tommy Lee Jones dan Clint Eatwood seakan-akan mewakili generasi tua yang mengalami kebingungan di dunia yang makin berubah. Bedanya, Gran Torino terasa lebih optimis dengan eksekusi yang dipilihnya.
Gran Torino tidak dipungkiri merupakan karya terbaik Clint Eastwood, meski Academy tidak meliriknya sama sekali. Temanya begitu actual. Gran Torino juga seakan menjadi pencapaian terbaik dari Clint Eastwood dari segi acting. Dengan suara berat (get off my lawn!), dengusan melecehkan hingga mata sinis yang kadang terlihat kejam, peran Walt Kowalski seakan-akan memang diciptakan untuk Clint Eatwood sebagai wujud pamitnya dia dari dunia acting. Sayang sekali. Gran Torino pada beberapa bagian juga menyelipkan humor yang mengundang tawa, terutama ketika menyorot permusuhan Walt dengan nenek Thao. Chemistry Clint dengan pemeran lain yang nota bene asing dimata maupun di telinga cukup meyakinkan. Gaya bertuturnya juga enak dan sempat membayangkan bagaimana kalau cerita diambil dari sudut pandang Thao?
Dari sekian banyak suku di dunia, terbersit pertanyaan mengapa suku Hmong yang dipilih? Terus terang baru kali ini mendengar suku yang satu ini. Banyak yang terkecoh kalau suku ini berasal dari Korea, padahal pada kenyataannya, suku ini banyak tinggal di kawasan Asia Tenggara, dan secara historis mungkin ada keterkaitan dengan Cina. Dan diluar Asia, ternyata suku Hmong ini ternyata memang paling banyak terdapat di Amerika Serikat, yakni sekitar 200.000 jiwa lebih. 4,25/5

3 komentar:

yusahrizal mengatakan...

Bingung, mau komentar apa yah?
Habis, apa2 yg mau dibilang semuanya udah ditulis diatas.

Bang Mupi mengatakan...

film terbaik Clint Eastwood yang dia sutradarai dan yang dia perani? wah menarik nih. Masalahnya film terbaik yang dia sutradarai dan pernah saya tonton adalah A Perfect World. Flag of our fathers, letters from iwojima, million dollar baby, saya belum nonton tuh. Unforgiven sih, menurut saya biasa aja malahan.

gilasinema mengatakan...

@yusahrizal :
Lha itu dah kasih komen bang :)

@Bang Mupi :
Gak begitu suka film perang, jadinya Flag ama Iwo Jima aku skip :)
Unforgiven kalo dikita sih memang terasa biasa ya. Beda ma orang Amrik sana ketika dihadapkan ma koboi tua yang kurang kehilangan rasa percaya diri

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket