Sabtu, 07 Februari 2009

FROST/NIXON

Sabtu, 07 Februari 2009


David Frost.
Mungkin banyak yang belum mengenal nama yang satu ini. Bagi yang tertarik dengan dunia pertelivisian, nama yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi. Namanya dikenal lewat program That Was The Week That Was (bingung?) yang ditayangkan di BBC London, dan menjadi salah satu acara favorit dimasanya dan mendorong lahirnya banyak program sejenis di era 1960-an.
Frost menjadi satu-satunya orang yang pernah mewawancarai 6 Perdana Menteri Inggris (Harold Wilson, Edward Heath, James Callaghan, Margaret Thatcher, John Major and Tony Blair), selain berhasil mewawancarai 7 Presiden Amerika Serikat ((Richard Nixon, Gerald Ford, Jimmy Carter, Ronald Reagan, George H.W. Bush, Bill Clinton and George W. Bush). Sebuah prestasi yang pasti membuat pekerja TV lain merasa iri. David Frost ini memang dikenal sebagai jurnalis politik, dengan segala sindirannya.
Richard Nixon
Nama yang satu ini mungkin lebih dikenal dibandingkan dengan David Frost. Salah satu presiden Amerika Serikat yang penuh dengan kontroversi, mulai dari politik luar negerinya berkaitan dengan Cina dan Uni Soviet, selain kebijakannya mengenai perang Vietnam dan mengijinkan pengeboman salah satu wilayah di Kamboja, hingga skandal Watergate yang membuatnya menjadi satu-satunya Presiden AS yang mengundurkan diri. Belum lagi dengan beberapa kebijakan ekonominya di tengah perekonomian yang mengalami inflasi cukup tinggi.
Jurnalis bertemu tokoh berpengaruh yang controversial? Tentu akan menjadi sebuah sajian yang seru dan berbobot. Dan itulah jadinya film Frost/Nixon garapan Ron Howard berdasar naskah panggung dari Peter Morgan. Ron Howard berhasil membuat sebuah tontonan yang menghibur. Meski beraroma politik dengan hadirnya sosok bernama Richard Nixon, film mengalir lancar dan enak dinikmati. Sebagai perbandingan, film Milk jauh lebih politis ketimbang film Frost/Nixon ini.
David Frost mungkin kondang di Inggris, namun tetap dianggap sebagi seorang anak bawang di Amerika. Entah atas dasar apa, hanya berbekal naluri, David Frost berusaha membuat sebuah talk show dengan Richard Nixon yang pada saat itu sedang menjadi sorotan karena skandal Watergate yang memaksanya untuk mundur. Dia juga banyak dikecam karena tidak pernah mengucapkan kata maaf atas segala kekacauan yang dia timbulkan, bahkan sekedar rasa penyesalanpun enggan dia tunjukkan.
Berbekal dana terbatas dan keyakinan, dengan didampingi produsernya yang setia, John Birt (Matthew Macfadyen), David Frost terbang ke Amerika Serikat untuk merayu Nixon agar bersedia diwawancarai. Dia juga merayu stasiun TV besar untuk menjual wawancara tersebut, selain mengunjungi beberapa perusahaan untuk mencari dana. Nixon yang enggan berbicara ke media, berkat pendekatan yang intensif (termsuk insentif yang cukup besar pada saat itu) akhirnya bersedia menerima tantangan Nixon dengan berbagai syarat, salah satunya porsi yang sedikit untuk skandal Watergate.
Selanjutnya kita diajak untuk melihat persiapan masing-masing pihak. Film perlahan-lahan menuju puncak emosi, hingga kemudian tiba saatnya perekaman wawancara dilakukan. Bak pertandingan tinju, wawancara tersebut dibagi ke dalam beberapa ronde (dalam film ini 4 ronde). Hingga ronde ketiga, kubu Nixon yang lebih siap materi terlihat memegang kendali yang membuat kubu Frost menjadi kalang kabut, hingga menimbulkan tekanan yang mengancam keutuhan tim. Tiga ronde awal ini kita disuguhi kehebatan Nixon sebagai negarawan yang ulung. Salute!
Frost yang masih muda berusaha untuk tetap optimis dan semangat. Hingga sebuah peristiwa, memberikan sebuah petunjuk penting yang akan berguna untuknya dalam usaha “mengalahkan” kelincahan lidah Nixon. Benar kata pepatah orang bijak “kenali musuhmu dan kenali dirimu sebelum bertarung”. Pada ronde keempat, Frost berhasil “memukul” titik sensitive dari Nixon, hingga mampu “meng – KO” orang tua ini untuk kemudian mengungkapkan rasa penyesalannya akan kekacauan yang telah dia buat, yang ditampilkan lewat bahasa wajah yang mengundang iba. Maka hebohlah Amerika, yang membuat wawancara Frost atas Nixon akan diingat sebagai sebuah talk show klasik layaknya pertandingan tinju antara Ali dan Frazier.
Film ini terus terang sangat menarik dan menghibur. Emosi penonton dibuat naik turun oleh manuver-manuver yang dilakukan oleh kubu Frost maupun kubu Nixon. Makin renyah dengan selipan humor satire yang menggelikan, seperti penggambaran betapa materialistisnya dan betapa narsisnya si Richard Nixon. Sikap paranoianya disisi lain memunculkan rasa kasihan, mengingat usianya yang uzur.
Selain kekuatan naskah dan editingnya yang ciamik, Frost/Nixon makin mengkilap dengan penampilan Frank Langella dan Martin Sheen yang begitu pas. Nixon dan Frank Langella bagaikan Helen Mirren dan The Queen Yang juga ditulis oleh Peter Morgan. Segala intonasi suara serta bahasa tubuhnya membuat penonton tidak melihatnya sebagai Frank Langella tapi lebih kepada melihat Nixon. Paling top adalah ketika dia mengungkapkan penyesalannya tadi. Michael Sheen berhasil menterjemahkan karakter David Frost sebagai sosok muda penuh semangat, dengan mata lebar yang mengesankan kepolosan yang menipu. Meski agak kurang meyakinkan sebagai seorang womanizer.
Kehadiran Rebecca Hall lumayan menyegarkan ditengah kaum pria yang sibuk berargumen. Sosoknya seakan menegaskan belum ada tempat bagi perempuan didunia politik pada saat itu. Dominannya Frank Langgella dan Michael Sheen tak urung sedikit meredupkan pamor bintang – bintang lainnya, kecuali Matthew Macfadyen, seperti Oliver Platt, Kevin Bacon maupun Sam Rockwell (aku selalu suka membaca nama ini hehehe). 4,25/5

7 komentar:

Bang Mupi mengatakan...

Katanya wawancara ini tidak pernah terjadi, hanya sandiwara panggung saja, bukan kejadian nyata. Apa betul?

gilasinema mengatakan...

Wah...malah belum tau bang. Tapi mungkin saja semua hanya sandiwara. Apalagi kalo ada faktor uang.
Apa sih yang tidak mungkin di Amrik sono :)

Eko A Nugroho mengatakan...

kalo dilihat review-nya, kayaknya film ini agak membosankan. apa benar? terus saya pernah dengar kenapa, Frost memberikan sepatu dari italia untuk nnixon ya?

awya mengatakan...

eh keren ga sih film ini? gara2 masuk oscar jadi tertarik, tp temanya politik sih, jadi males nonton nih... give me some reasons why i should watch this flick?

gilasinema mengatakan...

@Eko :
di film digambarkan pemberian sepatu itu kok. Lha Wong Nixon terlihat ngiler ma sepatu Frost :D

@Awya :
Kenapa harus liat Frost/Nixon : seruuuu!!!
Tapi tergantung interest jga dhing :)
Suka film beraroma duel? Kayaknya nih film sayang dilewatin deh. Pemainnya memang tuwir-tuwir. Lagian filmnya, porsi politiknya menurutku lumayan minim.

Bang Mupi mengatakan...

ga ding, ternyata ini sebagian memang asli lalu dibikin untuk panggung sandiwara baru dibesut Ron Howard untuk jadi film. Walaupun memang ada beberapa adegan yang ditambah agar jadi lebih sip.

gilasinema mengatakan...

Cuman sebagian ya :)
Naskah aslinya memang naskah drama, jadi gak heran kalau banyak celoteh.
Eh...sekarang banyak banget ya naskah film yang diangkat dari naskah drama.
dari yang ceria seperti Hairspray dan Mamma Mia sampai yang kelam seperti Doubt.
Taon depan ada Nine, yang sudah diramal jadi kontender kuat di Oscar 2010.

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket