Selasa, 25 Agustus 2009

ORPHAN (spoiler alert!)

Selasa, 25 Agustus 2009

Tidak semua film dimaksudkan untuk menghadirkan hiburan kepada penontonnya. Ada film yang mencoba menghadirkan sensasi sinematik dan ada juga yang dimaksudkan untuk membangkitkan perenungan setelah menontonnya. Selain beberapa tujuan tadi, ada beberapa judul yang sengaja dibuat untuk menghadirkan suasana terror kepada penonton. Membuat ketidaknyamanan ketika menontonnya.
Orphan arahan Jaume Collet-Serra tampaknya dimaksudkan untuk merusak kenyamanan penonton. Sejak film dibuka, kita sudah digempur dengan gambar-gambar yang mengguncang rasa. Pekik kesakitan dari Kate Coleman (Fera Varmiga) dan ceceran darah sukses membuat penonton tidak nyaman.
Sebenarnya, Orphan mempunyai garis cerita yang sederhana. Untuk menyembuhkan luka akibat kematian bayi dalam janinya serta persitiwa silam yang terus memnghantuinya, Kate memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan. Bersama suaminya, John Coleman (Peter Sarsgaard), Kate pergi ke sebuah panti asuhan dan terpikat dengan Esther (Isabelle Fuhrman).


Tak dinyana, bocah yang awalnya terlihat sempurna tersebut, menyimpan iblis dalam dirinya yang siap memangsa siapa saja yang menyakiti hatinya dan juga menghalangi apa yang dia inginkan. Bak laba-laba, Esther dengan tenangnya menjerat dan menghabisi sasarannya, tak terkecuali dua anak Kate dan John, yakni Daniel (Jimmy Bennett) dan Max (Aryana Engineer) yang tuna rungu.
Berbagai aksi dari Esther inilah yang digunakan oleh sutradara untuk menggedor jantung penonton dan membangkitkan rasa tidak nyaman sekaligus geram terhadap si setan kecil tersebut. Masalahnya, sutradara menghadirkannya terlalu berlebihan, yang parahnya ditingkahi musik olahan John Ottman yang juga berlebihan.


Contohnya saja adegan Kate membuka pintu kulkas. Dalam film yang pernah kita lihat sebelumnya, ketika pintu kulkas ditutup, tiba-tiba dihadirkan sosok yang mebuat penonton kaget. Dalam Orphan, sosok yang diharapkan tidak ada, namun dengan pedenya musik tetap dihadirkan. Selain untuk menambah durasi, Gilasinema tidak paham mengapa adegan ini dihadirkan. Begitupun adegan ketika Kate menggosok gigi.
Film ini makin tidak membuat nyaman dengan pondasi cerita yang kurang meyakinkan dan cenderung membodohi. Diangkatnya motif kelainan DNA memang menjadikan film ini berbeda dengan film sejenis lainnya, namun bagi penonton yang kritis hal tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang sayangnya tidak terjawab memuaskan.


Penonton dipaksa untuk menelan mentah-mentah kelainan DNA bernama hypopituitarism (akrab dengan istilah ini?) menyebabkan penderitanya mengalami masalah dalam hal pertumbuhan fisiknya. Gilasinema tertarik menelusuri hal baru ini, dengan pemahaman dengan adanya ketidaknormalan DNA harusnya ada masalah kesehatan pada penderitanya. Benar saja, ternyata hypopituitarism ada kaitannya dengan kerusakan otak dan tumor. Jadi, aneh saja ketika ada penderinya yang bisa beraksi dengan trengginas dan beringas.
Yang lebih menyebalkan lagi, banyak karakter yang dibuat bodoh, salah satunya psikiater yang dengan entengnya membuat kesimpulan dari satu kali pertemuan. Sedangkan disisi lain, sosok Esther digambarkan mempunyai kecerdasan luar biasa yang sayangnya digunakan untuk menyakiti orang-orang yang menghalangi jalannya.


Orphan juga terjebak pada ke-klise-an. Anak yang menyimpan iblis didalamnya kenapa sih sering digambarkan berambut hitam dan berperilaku santun nan kaku? Kenapa juga sosok ibu yang harus digambarkan susah payah mencoba meyakinkan semua pihak akan keganjilan yang ada, sedangkan si ayah menganggapnya sebagai angin lalu.
Aksi Esther juga berjalan terlalu mulus karena ditempatkan pada sebuah keluarga yang bermasalah. Coba saja si Esther ini dihadirkan pada sebuah keluarga normal, pasti ceritanya bakal lain. Gilasinema malah lebih menyukai salah satu episode Desperate Housewives, yakni ketika Lynette harus “bertarung” dengan anak tirinya yang tidak kalah psycho dengan Esther. tanpa bermaksud untuk mencoba terlihat cerdas dengan membawa isu kelainan genetic, kisah dalam Desperate Housewives tersebut justru terkesan lebih riil.


Diluar beberapa kelemahan tadi, Orphan sangat terselamatkan dengan olahan akting dari Isabelle Fuhrman. Perhatikan bahasa tubuh dan wajahnya yang benar-benar iblis. Benar-benar menyebalkan dan membuat penonton ingin menendang bokongnya. Mengherankan sekaligus takjub melihat aksinya dipuji banyak pihak. Gilasinema membandingkan dengan kontroversi yang muncul ketika Dakota Fanning diperkosa di film Hounddog. Ternyata Holly lebih permisif terhadap anak kecil sinting nan sadis.
Penampilan Fera Varmiga juga tidak kalah menyakinkan. Terlihat sekali dia serius mendalami perannya dengan mempelajari bahasa tuna rungu dan juga sedikit “menarikan” jarinya di tuts piano. Aktris satu ini tampaknya senang dengan karakter seorang ibu setelah sebelumnya melakoninya di Joshua dan The Boy in the Stripped Pajamas. Yang menyedihkan justru Peter Sarsgaard, yang karakternya seakan hanya diributkan persoalan seksual, hingga tidak mengalami perkembangan karakter yang berarti.


Sebagai sebuah tontonan yang dimaksudkan untuk menghadirkan suasana terror, sebenarnya sutradara Jaume Collet-Serra cukup berhasil. Beberapa kejutan lumayan sukses membuat penonton terhenyak. Sayang sekali hal ini tidak diimbangi dengan kekuatan naskah. Endingnya juga terlalu dipaksakan, khususnya dalam pemilihan lokasi eksekusi. Namun, bagi penggemar film – film tegang, Orphan sangat sayang untuk dilewatkan. 2,75/5


KELUH…..
…..KESAH ini ditujukan untuk pengelola bioskop yang ada di Plaza Ambarukmo yang dengan tidak bijaksana mengijinkan 4 orang anak dibawah umur (benar-banar masih belia!) menyaksikan film ini. Jelas-jelas, film ini di monitor belakang loket ditujukan untuk penonton Dewasa, kenapa mempersilahkan gerombolan penonton belia tadi untuk masuk. Bagi yang sudah melihat film ini, pasti tidak akan merekomendasikan film ini untuk penonton belia, mengingat konten kekerasan, seksual serta dialog-dialog yang provokatif di dalamnya.. Untung anak-anak tadi tidak melihat adegan persalinan di awal yang mungkin saja bisa menghantui mereka.

9 komentar:

Fariz Razi mengatakan...

sayang sekali saya udah dapet spoiler dari temen waktu dia udah nntn, padahal saya udah penasaran sama filmnya.. gara2 dapet spoiler jadi males nntn deh hahahaha bagusan ini atau Joshua mas? tapi Joshua jg ga terlalu bagus sih sama2 si Farmiga lagi yg main hahaha

hakimicture mengatakan...

Bisa-bisanya Vera Farmiga mau melanjutkan peran ibu menderita seperti ini. Apa enggak kapok diteror anak kandung sendiri dalam Joshua. Dalam Joshua saja sudah stress ngeliat dia terus-terusan teriak dan histeris enggak karuan. Enggak tau kalo nanti nonton Orphan, apa saya juga bakalan stress ngeliat dia diteror sama anak orphan ini ...
Setelah baca sinopsis mas, kayaknya labih bagus kalau si Esther adalah alien, mungkin bakalan lebih seru 'kan ceritanya. Kalau boleh, kita padukan cerita Species dengan Poison Ivy. Enggak tau ceritanya bagaimana ....asal ya? he,he,he

gilasinema mengatakan...

@Fariz : aku lebih suka Joshua karena bangunan ceritanya lebih kuat dengan mengangkat isu baby blues syndrome dan sibling rivalry, tapi kalo soal ketegangan, Orphan jauuuuh lebih unggul.

@Hakimicture: hahahaha.....Bang Hakim memang paling jail kalo disuruh berimajinasi. Paling suka aku :)
Orphan pada akhirnya menjurus ke arah Fatal Atrraction atau Obsessedlho. Makanya disini Vera Farmiga sampai babak belur. Jadi siap-siap saja makin stress liat Vera bertarung ma anak kecil tak tau adat.

thebelogers mengatakan...

kayaknya seru...seorang anak yang inisiatif balas dendamnya di batas kewajaran manusia....nonton ah!! blm sempet nonton!!

badutmabok mengatakan...

hmm udah nonton . filmnya cukup bikin jantung deg"an .
salut buat film ini :)

Anonim mengatakan...

cerita nya bagus kok apalagi ada isabelle fuhrman nya

thealoner mengatakan...

Isabelle Fuhrman memerankan Esther sangat baik,cool and cruel...Coba bayangin klo yg jadi Esthernya Dakota Fanning, waduh ngga cocok banget!

GILASINEMA mengatakan...

@theloner : terlalu imut ya? Tapi dengan bantuan make-up kayaknya bisa juga *membayangkan*

Anonim mengatakan...

Hm..klo mnurut sya pilm x briliant skali..mlah smwa pnntnn di bioskop tepuk tangan smua pas pilemx selesai

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket