Selasa, 03 Maret 2009

YANG TERLARANG DI PINTU TERLARANG (SPOILER ALERT!)

Selasa, 03 Maret 2009


Sangat telat mungkin membahas film ini, gara – gara bioskop sebelah rumah baru (sempat) memutarnya. Namun setelah melihatnya, timbul rasa gatal yang amat sangat untuk menuturkan pengalaman melihat film yang satu ini. Berbeda dengan banyaknya reviu yang memuji habis-habisan film Pintu Terlarang, Gilasinema (terpaksa) menuliskan hasil yang sangat berbeda karena ternyata mengalami kekecewaan yang cukup menyakitkan (aduh…dramatis banget) berkaitan isi film. Kekecewaan muncul mungkin karena ekspektasi yang berlebihan akan film karya Joko Anwar, yang menjadi favorit Gilasinema setelah menelorkan Kala yang apik. Terlalu banyak hal terlarang dalam Pintu Terlarang ini.

KEKERASAN YANG TERLARANG
Satu hal yang paling menonjol dalam Pintu Terlarang adalah ditampilkannya gambar-gambar dengan tingkat kesadisan yang membuat miris. Rasanya baru kali ini film Indonesia sukses membuat mual penonton. Kekerasan yang dihadirkan terasa sangat vulgar dan memuakkan. Seperti yang diutarakan Joko Anwar pada sebuah majalah, Pintu Terlarang bertujuan menyajikan sebuah cinematic experience. Sebuah tujuan yang amat sangat sukses tercapai. Apa yang disajikan sangat sulit dilupakan. Menghantui. Terus terang Gilasinema tidak kuat menyaksikan kekerasan yang disajikan dilayar, dan terpaksa menutupi muka dengan kaos untuk meminimalisir kesadisan yang ada. Sebuah self cencorship. Nurani terasa terluka hingga membuat Gilasinema menangis dan muncul pertanyaan, “Apakah perlu disajikan sevulgar itu?”. Terasa ada yang salah dalam adegan pembantaian ini. Apa yang dihadirkan jauh lebih mengerikan dari apa yang terlihat di Hostel maupun Saw. Dalam kedua film gory tersebut, mereka yang dibantai masih diposisikan sebagai manusia. Dalam Pintu Terlarang? Korban Gambir diperlakukan bak binatang (kurban). Inilah yang mungkin membuat nurani terasa teriris. Mirip dengan aksi Sweeney Todd, hanya saja aksi Gambir disajikan terlalu frontal.
Muncul sebuah rasa ingin terbebas dari terror yang nampak di layar, namun rasa penasaran akan kelanjutan cerita membuat Gilasinema mencoba bertahan. Sebuah ketidakberdayaan yang menyesakkan. Entah harus misuh atau salut untuk Joko Anwar. Kekerasan dan kesadisan yang dihadirkan terasa berlebihan. Bandingkan dengan kekerasan dan kesadisan yang ditampilkan dalam Battle Royale yang terasa relevan dan mempunyai makna, hingga lebih bisa diterima nurani, meski tetap saja berbalut rasa miris.

PENGULANGAN YANG TERLARANG
Pemakaian pemain serta peñata musik yang tidak berbeda jauh dengan film-film yang “disentuh” Joko Anwar sebelumnya mungkin masih bisa diterima. Namun pemakaian setting yang sama? Meski divisi artistic mencoba bekerja serius dengan menambahkan ornament-ornamen tertentu, mata penonton tidak bisa dibohongi dengan pemilihan lokasi yang mirip dengan yang ditampilkan dalam film Kala. Pengulangan makin terasa nyata dengan gaya bertutur yang dipilih, pencahayaan, pergerakan kamera, twist ending, karakterisasi yang diperankan oleh Fachri Albar serta kegemaran Joko Anwar menyoroti sisi gelap manusia. Pengulangan ini sedikit diminimalisir dengan penempatan warna-warna kontras demi menghadirkan sebuah ironi. Hmmm…ironi? Rasanya hal ini sudah terlalu sering hadir di film yang “disentuh” Joko Anwar. Jadinya, diluar adegan kekerasan, apa yang dihadirkan di layar terasa kurang menancapkan kesan mendalam layaknya Kala. Pintu Terlarang bisa disamakan dengan dengan Quantum of Solace yang terasa garing, dan tidak meninggalkan kesan layaknya Casino Royale. Namun, bukanlah hal yang terlarang dengan melibatkan Atiqah di film Joko selanjutnya.

LOGIKA YANG TERLARANG
Pintu Terlarang memang sebuah kisah yang imajinatif. Namun sebuah imajinasi sekalipun harus berbekal logika cerita yang menyakinkan. Setelah cerita berakhir, timbul banyak pertanyaan yang sangat menganggu. Ada beberapa hal yang dihadirkan yang rasanya kok tidak berkaitan dengan kepribadian dan dunia nyata dari Gambir. Hubungan sebab akibat terasa sangat lemah. Semoga saja ada yang membantu Gilasinema menemukan jawabannya, atau mungkin Joko Anwar bersedia memberikannya?
1.Salah satu hal yang menganggu adalah dihadirkannya televisi di dunia lain dari Gambir. Tidak ada satu adeganpun yang menggambarkan keterkaitan Gambir kecil dan Gambir di rumah sakit jiwa (?) dengan barang yang namanya TELEVISI. Bandingkan dengan imajinasi yang dihadirkan dalam The Fall atau Pan’s Labyrinth. Apa yang dihadirkan dalam imajinasi si tokoh utama, sangat berkaitan dengan dunia nyatanya. Detail cerita sangat terjaga hingga penonton mampu “membaca” apa yang disajikan. Kehadiran televisi di Pintu Terlarang terasa banal dan instant (sebuah jalan buntu).
2.Bacaan yang berserakan di sekitar Gambir juga menimbulkan kesan yang sama. Logika, Gambir masuk ke RSJ (?) tersebut sejak usia belia, mungkinkah dia tertarik dengan bacaan yang berserakan tadi? Kapan minat itu muncul dan mengapa?
3.Talida dalam dunia imajinasi Gambir melarang Gambir membuka Pintu Terlarang. Kenyataannya, Talida disibukkan dengan usahanya mengorek informasi dari Gambir. Kontradiktif bukan? Yang satu berusaha menegakkan tembok, di pihak lain mencoba meruntuhkannya.
4.Kenapa Gambir digambarkan sebagai pematung? Tidak ada penjelasan yang memuaskan.
5.Penggunaan hal-hal berbau Kristiani juga terasa lemah, kecuali alasannya agar bisa diterima pasar internasional. Sekali lagi, tidak ada satu adeganpun yang mengkaitkan hal tersebut dengan masa kecil Gambir. Mungkin ada kaitannya dengan tempat dimana Gambir dewasa dikurung? Entahlah
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang tidak terjawab dengan tuntas, baik lewat bahasa gambar ataupun lewat dialog verbal.

KEBODOHAN YANG TERLARANG
Entah mereka yang memberikan puja puji kepada Pintu Terlarang melihat kebodohan ini atau tidak. Perhatikan pintu yang dilarang dibuka. Perhatikan GEMBOKnya. Ingatkah apa yang dilakukan Gambir untuk membuka pintu tersebut. Ya, Gambir menggunakan kapak untuk membuat lubang untuk kemudian membuka pintu tersebut dengan menarik slot di sisi pintu yang lain. Dimana GEMBOKnya? Bukan sulap bukan sihir. Tidak ada indikasi di pintu tersebut ada GEMBOK sebelumnya! What the &*#@*%!!!!
Kalau tidak ingin terlihat bodoh, hancurkan dulu GEMBOKnya, lubangi pintu dan baru bisa meraih slot di balik pintu.
Kalau pada akhir tahun nanti ada yang memasukkan Pintu Terlarang sebagai salah satu film terbaik sepanjang tahun, akan menjadi sebuah pilihan yang lucu dan akan membuat geli Gilasinema.

KELIARAN YANG TERLARANG
Salahkan semuanya pada Joko Anwar yang terlalu liar berimajinasi. Bak penunggang kuda liar, Joko Anwar seringkali lupa menarik tali kekang hingga kuda lari dengan liar tak karuan. Tidak ada salahnya menunggang kuda liar, asal bisa menggunakan tali kekang dengan bijak. Penunggang kuda yang hebat, harusnya tidak dikalahkan oleh keliaran tunggangannya. Jadinya ironi dong. Tarsem dan Guillermo DelTorro sedikit dari beberapa orang yang berhasil menaklukkkan keliaran imajinasi mereka.

HIBURAN YANG TERLARANG
Masih ingat dengan pernyataan Joko Anwar setelah merilis Kala, bahwa dirinya akan menghadirkan film (Pintu Terlarang) yang lebih menghibur. Berhasilkah? Maaf sekali belum berhasil. Pintu Terlarang justru sukses menyemburkan aura destruktif dan pesimisme yang sangat pekat, hingga dampaknya sangat menekan rasa. Bandingkan dengan film-film garapan David Fincher, Sam Mendes, Guillermo DelTorro, Tarsem hingga Quentin Tarantino yang meski bernuansa kelam, selalu ada setitik harapan didalamnya. Bahkan dalam Hostel dan Saw pun ada sedikit optimisme yang dipancarkan.

PUJIAN YANG TIDAK TERLARANG
Disamping beberapa hal terlarang diatas, ada beberapa bagian yang patut diapresiasi lebih. Iringan musik ketika Gambir mengejar Gambir kecil terasa pas dan orisinil. Salute! Adegan dinner yang terinspirasi The Last Supper, menghadirkan kelas tersendiri. Dan bahasa tubuh Fahri Albar di adegan ini lumayan kuat dan mengesankan. Pujian juga wajib dialamatkan pada divisi artistic, colourist hingga peñata kostum bagi Marsha Timothy.

Pada akhirnya, Pintu Terlarang mungkin terasa sangat istimewa bagi penikmat film Indonesia dan akan berbicara banyak di festival internasional yang sangat menghargai karya eksperimental yang menyajikan keliaran imajinasi. Pintu Terlarang secara keseluruhan masih terbelenggu pada gaya, yang bisa lebih mengasyikkan andai saja bermodal cerita yang lebih menyakinkan. Pintu Terlarang dalam penilaian Gilasinema selevel dengan The Other Side dan 99 Pieces. Pernah mendengar kedua judul film ini?
Namun begaimanapun, Joko Anwar tetap mempunyai tempat tersendiri dalam hati Gilasinema (aduh….!). Sangat menantikan film musical yang bakal digarapnya. Sedikit pertanyaan (saran), Apakah ada kemungkinan Anda (Joko Anwar) membuat film yang lebih berpijak pada bumi?

14 komentar:

semuareview mengatakan...

jangan berharap joko anwar bisa membumi. itu udah dari sononya. dia kebetulan satu kelas dengan saya di jurusan teknik penerbangan. jadi wajar kan gak pernah membumi.. ha...ha...

gilasinema mengatakan...

Hehehe...gak capek "terbang" terus.

ajirenji mengatakan...

kalau merasa ceritanya aneh..salahkan Sekar Ayu Asmara sang pembuat novel, dia khan emang aneh, inget "Belahan Jiwa"? ^_^
Kalau masih kurang alasannya, ingat dialog terakhir: "apa yang ada di pikiran seorang yg membunuh orang tuanya waktu berumur 8 tahun?"...who knows...^o^

yang jelas bagusan ini daripada film2 (norak)nya Nayato Fionuala.

cheers

gilasinema mengatakan...

Secara kemasan memang not bad lah. Bosan kasih pemakluman terus. Mungkin, sekali lagi, karena nih film hasil olahan Joko Anwar, standar apresiasi yang kita berikan juga kita naikkan.

Katanya karya film hasil adaptasi harus dipisahkan dari materi aslinya. Harusnya Joko Anwar tidak perlu mengikuti "keanehan" si Sekar.

Nayato punya nama baru lho. Ian Jocobs kalo gak salah. Yang bikin film-film KUNTIL produk Mitra Pictures itu lho

AB.SatriaTataka mengatakan...

alow, 'lam kenal,banyak blog resensi film..kyknya cm blog sy aja yg sajikan posting "adegan2 terbaik/best scenes" films, alasan sy,biar ada identitas pembeda dgn blog film sejenis alias biar jd trade-mark blog sy jg.lagipula biar ngga plagiat,krn minimal utk tau best scenesnya hrs nonton dolo filmnya (bukan hy thrillernya lho), dan baru deh bs tentukan mana best scenes-nya tho?dan kadang ngga cm film aja siy yg ku review, krn best paragraphs dr buku2 jg sdh ku draft utk best paragraphs, maklum kebanyakn baca buku jg, ngga ada salahnya bagi2 ilmu kan?. Kedua, klo nulis resensi kyknya sy ngga sanggup deh,byk bener..hehe.(maklum sibuk tulis thesis jg niy). aku dah nonton se7en pounds ini, check deh di blog.tp PUSH dan watchmen belum. PUSH mgkn inspired dr HEROES ya?hehe mdh2n aku bs segera nonton PUSH dan Watchmen deh jd bs cpt pilih best scenesnya. see u.peace.

Sugeng mengatakan...

Saya agak kurang setuju tentang imajinasi Joko Anwar yang kelewat batas, hingga terkesan kuda-nya lepas dengan liarnya, saya kira sah sah saja ketika orang punya imajinasi seliar itu, toh namanya juga imajinasi, tak pernah ada yang bisa mengontrol liarnya. Agak bingung jika membandingkannya dengan Guillirmo del toro yang katanya bisa mengatur keliarannya, dari segi mana bisa melihat kalau del toro itu lebih ‘sopan’ dengan keliarannya dibandingkan Joko Anwar? Dan darimana pula mas bisa bilang Joko Anwar kelewat liar? Apa dari vulgaritas kekerasan yang begitu frontal? Ah, saya kira Del Toro jauh lebih mengerikan.

Anyway mas, apa bener tuh Joko Anwar mau buat film musical? Wah sebagai salah satu penikmat film musical, can’t wait! Kira2 jatuhnya seperti Chicago gak ya.

Overall, great review Mas, meski jujur saya memberi nilai positif untuk film ini, tapi tetap tak bisa menandingi Kala yang bagi saya film terbaik Indonesia yang pernah saya tonton sejauh ini.

gilasinema mengatakan...

Joko Anwar saya nilai kurang sanggup mengontrol keliarannya ya karena kurangnya alasan yang kuat dalam memasukkan ornamen-ornamen tertentu ke dalam filmnya, sehingga agak membingungkan penonton. Tulisan ini sebagai wujud mencari jawaban akan beberapa kebingungan yang menganggu tadi. Sapa tau ada yang bisa membantu?

fab4 mengatakan...

yang saya bingung adalah saat scene terakhir di mana rianti berdiri di depan gedung herosase, dan di tembok bawahnya ada tulisan 'tolong saya' persis seperti yg ada dlm imajinasi si gila gambir.,
bisa tolong dijelaskan interpretasi menurut gilasinema?

gilasinema mengatakan...

Menurut teori sok tahuku hehehe...itu untuk menggambarkan masih banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan bantuan. Bisa jiwa anak kecil yang teraniaya ataupun jiwa manusia dewasa.
Ato mungkin jeritan Joko Anwar yang sedang butuh bantuan hehehehe....

Anonim mengatakan...

film gini dibilang sadis, blum liat a serbian film yah

Anonim mengatakan...

Saya merasa telat banget baru menuliskan review ini...maklum baru nonton...
Saya setuju dengan gilasinema, everywhere I look semua review memuji2 san memberikan film ini rating yang sempurna, membuat saya berekspektasi tinggi terhadap film ini. Saya merasa hanya karena film ini berbau psikologi sedikit, orang2 kalang kabut with how 'smart' dan 'complex' film ini.

1. Janin dan Patung
Gambir dipaksa istrinya untuk memasukkan bayi gugur mereka kedalam patung ibu hamil buatannya. Saya paham disisi bagaimana sang istri terganggu mentalnya dan tidak ingin kehilangan "anaknya", tapi tidak ada penjelasan mengapa Gambir harus terus menyembunyikan janin di setiap patungnya. Sepanjang film ini, tidak ada tuntutan tersebut dari siapapun. Bahkan agentnya mengaku jijik ketika megetahui keberadaan janin tersebut (yang menurut saya agak dipertanyakan juga, seorang pemahat dan seniman yang terkenal kok bisa2nya bikin patung gampang roboh). Film ini sama sekali tidak menjelaskan kenapa dia harus menaruh janin di patung2 itu, yang membuat saya berpendapat bahwa inti dari bagian ini hanya ingin menekankan Gambir merasa dipaksa melakukan hal2 yang dia tidak mau serta memberikan faktor gore lebih.

2. Ancaman si Agent
Entah memang maksudnya Gambir itu memang bodoh atau pengarang cerita/direktor tidak mau pikir panjang, Gambir diancam agentnya akan memberitahukan istrinya tentang janin yang berada di patung buatannya. Loh? jika Gambir memang muak dan insaf membuat patung2 seperti itu, dia hanya perlu bilang bahwa istrinyalah yang memaksanya begitu. The agent would have no leverage, Gambir wouldn't have to keep making those anymore. Mau ancam bocorkan ke publik, hancurkan nama Gambir? Kalau begitu sang agent tidak akan punya seniman lagi, dia tidak akan punya penghasilan lagi. If only the writer/director prioritize giving the main character a brain rather than having weak plot points in the story...

Anonim mengatakan...

Saya kadang bingung dengan orang yang bilang 'film ini bagus untuk ukuran film Indonesia'. Jadi? memangnya dari Indonesia itu handicap? hanya karena ini 'film Indonesia' jadi harus maklum? Dari segi cinematography jelas Pintu terlarang bisa dibilang bagus (ya jangan bandingkan dengan Wes Anderson atau Stanley Kubrick.. mereka jelas sudah di kelas yang lain lagi, bahkan di Hollywood), jadi kalau dilihat dari sisi teknologi seharusnya ga masalah. Menurut saya film ya film. Mau dibuat dari negara mana juga kalau intinya bagus ya bagus. Saya ga tau standar film Indonesia ada dimana dan sesering apa the average Indonesian nonton film, sampai2 Pintu Terlarang dipuja2 sebegitunya... Seperti komentar diatas saya bilang, Serbian Film, Human Centipede, Antichrist, Requiem for a Dream jauh lebih disturbing dan sadis. Di Pintu Terlarang, adegan rape, child abuse, violence (kecuali yang di meja makan dan 'jahit tangan') tidak ada yang secara frontal ditunjukkan.

Sekali lagi, saya ga merasa film ini jelek, hanya saja over-rated, apalagi didampingi dengan nama Joko Anwar. Seperti kebanyakan penonton, saya suka adegan meja makan yang juga sedikit mereferensikan lukisan terkenal 'The Last Supper', bagus sekali temanya diadu dengan malam Natal. Saya juga suka komentar temannya dan fortune cookies yang membahas event2 'kebetulan', lalu juga dengan kalimat 'setiap orang punya pintu terlarang' (walaupun itu juga sudah cliche). Acting pemeran utama juga bagus. Too bad Pintu Terlarang uses cliche storyline and weak conclusive storyline...

Ahmad Fauzi mengatakan...

film film yang anda jadikan pembanding saya rasa kurang pas, karena film ini menurut saya mirip mullholand drive, coba bandingkan, bahkan ada beberapa scene yang blue velvet banget. kalau biasa dengan film david lynch, pasti mudah memahami metafor yang disajikan di film pintu terlarang.

tina wiarsih mengatakan...

Sebenernya kalau diliat dari segi kekerasannya, jaman skrng udh banyak film indo yg lebih keras yah, sebut aja contohnya rumah dar*. Itu kekerasannya merinding bgt, saya kira sih sama, setipe sama pintu terlarang dari segi kekerasan, apalagi kalau rumah dar* kan full kekerasan, gorok2an ah ngeri. Kalau dari segi imajinasi, ya saya kira sah2 aja joko anwar punya imajinasi seliar itu. Toh setiap orng punya titik nyaman tersendiri untuk sebuah imajinasi. Dalam berkesenian itu ada 2 macam, berkesenian untuk kebutuhan finansial (eh bener nggak kalau keuntungan tuh finansial? Hehe) sama berkesenian untuk pribadi. Ketika kita befkesenian untuk finansial, pasti kita harus mikir bagaimana kelogisannya, ini nya, itu nya dll. Tapi ketika kita berkesenian untuk difi sendiri/penikmat sesama seni hal itu sah2 aja. Jadi dan si seniman merasa puas atas karyanya. Nah mungkin joko anwar juga seperti itu, dia berkarya untuk sesama penikmat seni/dirinya sendiri, sehingga apa yg dia buat kurang diterima kelogisannya oleh masyarakat umum. Terbukti kan film ini sukses di ranah internasional tapi kurang sukses dalam pemasaran. Hehehe begitu sepertinya, bung.

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket