Senin, 23 Maret 2009

RUNNING SCARED

Senin, 23 Maret 2009


PISTOL
Pistol itu digunakan oleh Tommy (Johnny Messner) untuk menyerang polisi, dan sudah tugas Joey Gazelle (Paul Walker) sebagai anak buah untuk menyingkirkan barang bukti tersebut. Pistol tersebut disimpan dirumah Joey dan diambil oleh Oleg Yugorsky (Cameron Bright) yang menggunakannya untuk menembak ayah tiri nan kejam, Anzor Yugorsky (Karel Roden) yang masih kerabat dari mafia Rusia. Pistol tersebut menjadi saksi perseteruan antar gank, dan diarahkan oleh Oleg kepada seorang germo yang memukuli anak asuhnya. Pistol itu ditinggalkan pada toilet sebuah kedai dan diambil oleh petugas kebersihan yang mempertaruhkannya di meja judi. Pistol itu berpindah tangan kepada orang yang memenangkan perjudian untuk kemudian menjualnya kepada germo yang menjelang akhir menodongkannya kea rah Oleg yang mencoba dilindungi oleh Joey.
JOEY
Joey mendapatkan tugas untuk menyingkirkan barang bukti berupa pistol yang digunakan oleh bosnya, Tommy, untuk menyerang polisi. Joey tidak mengira pistol tersebut diambil Oleg untuk menembak ayah tirinya. Joey harus segera bertindak kalau tidak ingin pistol tersebut diketemukan oleh pihak berwajib yang akibatnya bisa membuat bosnya ditahan. Joey bersama anaknya, Nicky (Alex Neuberger) melacak keberadaan Oleg yang lari membawa pistol tersebut. Joey berpacu dengan waktu karena pada perkembangannya banyak pihak yang menginginkan pistol tersebut, mulai dari bosnya, polisi korup, Rydell (Chazz Palminteri) serta mafia Rusia. Jeoy, pada puncaknya berusaha melindungi Oleg dari pistol yang ditodongkan oleh germo kea rah Oleg.
OLEG
Oleg yang pemurung mengambil pistol yang disembunyikan Joey dan menggunakannya untuk merobohkan ayah tirinya. Oleg lari dari rumah dengan mebawa pistol yang ternyata diincar oleh banyak pihak. Oleg terjebak dalam sebuah perseteruan gank, dan berhasil meloloskan diri untuk kemudian mendapati kekerasan yang dilakukan oleh seorang germo terhadap “anak asuhnya.” Oleg selanjutnya terlibat dalam sebuah petualangan nan mendebarkan. Joey terjebak oleh pasangan gila pecinta bocah. Oleg berhasil diselamatkan oleh istri Joey, Teresa (Vera Farmiga) yang selanjutnya menyerahkannya kepada Joey. Oleg belum sepenuhnya aman, karena dia terjebak pada sebuah aksi tembak nan brutal antar gank di sebuah lapangan hockey. Oleg menjelang cerita berakhir masih harus berhadapan dengan germo yang dendam dengan aksinya sebelumnya.
Menyaksikan Running Scared tak ubahnya memasuki sebuah labirin kekerasan yang menegangkan dan tidak menyisakan ruang bagi penonton untuk bernapas. Layar tampil riuh dengan kekerasan yang disajikan secara Spartan, karakter yang berseliweran dan berbingkai dialog kasar serta sekelumit gelinjang tubuh telanjang. Tanpa toleransi sama sekali sutradara menyajikan gambar-gambar sadis, mulai dari daging sobek terkena sayatan benda tajam, tubuh terbakar, darah muncrat dari tubuh tertembus peluru, hingga adegan gigitan telinga yang berdarah-darah. Hadirnya dua bintang cilik didalamnya, tidak membuat sutradara Wayne Kramer sedikit memberikan toleransi rasa. Layaknya sebuah permainan, setiap naik level ketegangan dan kekerasan yang dihadirkan makin meningkat tensinya. Sub plot penyelamatan yang dilakukan oleh Teresa meski bisa dihilangkan lumayan menambah tensi, dan membuat peran Vera Farmiga bukan sekedar tempelan semata.
Lalu apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Wayne Kramer lewat serangkaian adegan kekerasan nan sadis tersebut? Bahwa dunia tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Kekerasan yang mengintai anak datang mulai dari dalam rumah, jalanan hingga dari sebuah rumah yang indah. Anak-anak pada awalnya memang menjadi korban kekerasan, namun pada perkembangannya mereka bisa beralih peran sebagai pelaku kekerasan itu sendiri. Anak-anak harus dilindungi dari berbagai macam kekerasan, dan oleh sutradara bentuk perlindungan tersebut ditampilkan dengan pembantaian kepada mereka yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.
Kalau ditelusuri semuanya berawal dari gagalnya sebuah keluarga menjalankan fungsinya yang membuat para karakter di dalam film ini menjadi pribadi labil karena “akarnya” yang lemah. Karenanya karakter-karakter yang ada ditampilkan berasal dari berbagai bangsa. Sebagai pendatang, mereka gagal beradaptasi dengan tempat baru. Ibarat pohon yang dicabut secara paksa dan ditanam di lahan baru yang belum tentu sesuai dengan karakter pohon tersebut. Dan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam memutus mata rantai kekerasan, kalau individu yang berada didalamnya mampu menjalankan peran dan statusnya dengan baik. Afeksi, edukasi, proteksi dan sebagainya. Pentingnya keluarga sangat dipahami oleh Joey, dengan dialog yang dia ucapkan sesaat sebelum penyerangan yang dilakukan oleh germo. “Let’s go home”.
Paul Walker mampu menjawab keraguan banyak pihak yang mempertanyakan kemampuannya tampil beringas. Malah mengherankan karirnya yang seakan tidak beranjak maju, mengingat dia mempunyai modal yang cukup, mulai dari tampilan fisik yang oke hingga acting yang makin terasah. Yang mencuri perhatian justru Cameron Bright yang lihai memainkan karakter-karakter murung dan bermasalah. Terlihat sekali dia sangat selektif memilih film, bahkan pilihannya cenderung melawan arus. Mungkinkah dia bakal menjadi next Ryan Gosling?
Lewat Running Scared, sutradara Wayne Kramer sekali lagi berurusan dengan lembaga sensor di Amerika (MPAA) karena unsure kekerasan yang terlalu pekat tadi. Trailernya ditolak untuk diputar. Menyaksikan hasil akhir filmnya, memang sulit membuat trailernya tanpa menyajikan adegan kekerasan. Lha wong menu utamanya memang kekerasan itu sendiri. Sebelumnya, Wayne Kramer bersitegang dengan MPAA, berkaitan adegan seks di film The Coller yang digarapnya padahal para kritisi menyambutnya dengan tanggapan positif.
Untuk pecinta film action. Running Scared sayang banget dilewatkan. Mereka bakal terpuaskan. Lupakan kelemahan cerita dan kurangnya penggalian karakter para tokohnya. Dengan rangkaian adegan kekerasan yang ditampilkan secara simultan, mana sempat memikirkan hal tersebut. Belum lagi beberapa kejutan yang membuat gemas penonton. Filmnya begitu menghibur dan adegan aksi di lapangan hockey ….so cool! Bukan film baru memang karena film ini rilis tahun 2006. Gilasinema sendiri membutuhkan waktu 3 tahun untuk mendapatkan film ini dalam kondisi layak tonton setelah ngubek-ubek dengan sabar berbagai kios bajakan hingga ke propinsi sebelah, dan ternyata kesabaran tersebut terbayar dengan memuaskan. 3,25/5

3 komentar:

hakimicture mengatakan...

Film dengan visual absurd, cepat nan mengasyikkan (apalagi pada end credit-nya) dan membuat saya menahan nafas sepanjang film. Apakah film ini bisa disebut road movie campur thrilling action, soalnya mirip Bubble Boy dimana si anak bertemu berbagai macam karakter unik sepanjang perjalanan. Masa' sih baru dapat yang bagus, padahal bajakannya yang layak tonton (sudah copy-an aslinya) beredar pada tahun yang sama lo. Yang asli dari distributor Indonesia juga sudah ada waktu itu (paket hemat 15-ribuan).Kalau dapat dvd bajakannya tidak apa-apa.Soalnya yang originalnya saja (region 1) tidak punya special feature apa-apa.

gilasinema mengatakan...

Iya closingnya asyik banget. Kayak Lemony Snicketnya Jim Carrey.
Gak tau nih, di rempatku sulit banget nyari film ini. Ada sih yang ori, cuman gak percaya aja adegannya bakalan utuh.

Anonim mengatakan...

udah lama banget nyari2 nih film, ingat alur nya tapi gak ingat judulnya, akhirnya ketemu juga setelah googling dengan keyword "sinopsis film pistol anak bukti bunuh thriller" wkwkwkwkwk

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket