Kamis, 12 Maret 2009

THE FOX AND THE CHILD (LE RENARD ET L’ENFANT)

Kamis, 12 Maret 2009

Entah apa yang membuat gadis kecil itu (newcomer Bertille Noël-Bruneau) bisa amat tertarik dengan binatang rubah. Sebuah keltertarikan yang kurang lazim, namun bisa diterima karena usianya yang belia yang mudah tertarik akan segala sesuatu yang baru. Sejak melihat rubah itu, si gadis kecil berusaha menjadikan rubah tersebut sebagai temannya dengan melakukan pengamatan. Hingga sebuah tragedy kecil menyebabkan si gadis kecil harus beristirahat cukup lama di dalam rumah yang membuat kesempatannya bertemu dengan rubah kesayangannya makin kecil.
Di saat si gadis berjuang dalam usaha pemulihan dengan diliputi perasaan kangen dan juga was-was akan nasib si rubah, di luar sana, di tengah belantara hutan, kita disuguhi usaha rubah untuk berjuang hidup ditengah ancaman binatang lain yang lebih kuat, cuaca yang kurang bersahabat hingga ancaman dari buruan manusia. Hingga akhirnya si gadis kecil bisa keluar rumah, dia makin intensif mendekati si rubah.
Semakin lama terjalin hubungan diantara kedua makhluk ciptaan Tuhan tersebut. Si rubah yang makin nyaman dengan keberadaan si gadis kecil perlahan – lahan mulai mengharapkan kehadiran si gadis kecil. Bahkan memperkenalkan si gadis kecil dengan para juniornya. Selanjutnya keduanya terlibat sebuah petualangan mengasyikkan nan indah sekaligus berbahaya. Dengan di pandu si rubah, si gadis kecil menjelajah belantara hutan dan dibuat takjub oleh keindahan serta kekayaan yang terkandung di dalamnya. Namun akankah persahabatan tersebut akan bisa terjalin seterusnya? Apalagi setelah terjadi sebuah peristiwa yang mengancam nyawa si rubah.
The Fox and The Child layaknya sebuah dongeng yang menjadi nyata. Dengan balutan cerita yang menyejukkan dan juga mempunyai muatan tuntunan yang tinggi, film garapan Luc Jacquet ini juga menghadirkan rangkaian gambar indah yang menakjubkan dan penuh detail, tak beda dengan film documenter tentang alam yang telah banyak kita lihat sebelumnya. Hal ini tidak mengherankan karena, Luc Jacquet memang sutradara spesialis documenter. Karyanya sebelumnya, The March of the Penguins mendapatkan sambutan yang sangat positif, baik dari para kritikus maupun dari penonton. Bahkan memenangkan Oscar.
Kesan dongeng tersebut makin kuat dengan penampilan si gadis kecil dengan tatanan rambut, kostum serta bintik-bintik kecil di wajahnya. Si gadis kecil mengingatkan kita kepada tokoh Anne di cerita Anne of Green Gables karangan Lucy M. Montgomery. Suara Kate Winslet sebagai narrator (untuk pasar internasional) makin memperkuat aura dongeng. Pemilihan rubah sebagai pusat cerita bukannya tanpa alasan. Banyak sekali dongeng-dongeng (Eropa) yang melibatkan rubah didalamnya.
Salut untuk gaya penceritaan yang dipilih Luc Jacquet demi menyampaikan pesan cinta lingkungan kepada audiens, terutama penonton belia. Dongeng yang dihadirkan dituturkan dengan pendekatan layaknya sebuah film documenter. Hebatnya, tidak ada kesan menggurui nan membosankan. Penonton akan merasa apa yang dihadirkan bukanlah sebuah film documenter namun lebih kepada film fiksi yang imajinatif. Akibatnya, apa yang ingin disampaikan oleh sineasnya mampu mencapai tepat sasaran. Penulis cerita berusaha untuk menghadirkan emosi yang komplet dalam film ini. Mulai dari kebahagiaan, kepedihan, kelucuan hingga ketegangan yang membuat penonton terpaku sekaligus terpukau akan apa yang dihadirkan di layar. Film ini ketika dirilis disambut dengan meriah di Perancis sana. Bukti bahwa film documenter pun sangat bisa dijual, dengan syarat dikemas dengan apik.
Di masa sekarang, sulit sekali mendapatkan film yang aman dikonsumsi oleh semua anggota keluarga, terutama mereka yang berusia belia. Bahkan film produk Disney sekalipun, pada beberapa bagian mengandung konten yang cukup membahayakan kalau dalam menontonnya tidak dilakukan pendampingan. The Fox and The Child sangat direkomendasikan bagi mereka yang mencari tontonan yang menghibur sekaligus tuntunan bagi para muda belia. Namun tetap saja harus ada pendampingan. Takutnya setelah melihat film ini, mereka berinisiatif untuk menjelajahi hutan tanpa pengawasan.
Bagi yang mencari keindahan visual, film ini sangat sayang untuk dilewatkan. Komposisi warna yang dihadirkan begitu memikat mata. Perhatikan baju yang dipakai oleh si gadis kecil, yang menghadirkan sesuatu yang kontras namun sedap dipandang. Film ini juga terasa actual dengan kondisi dunia yang makin gencar menggerakkan nilai-nilai untuk lebih bersahabat dengan alam sekitar. Bagaimana sih seharusnya kita menyikapi alam sekitar? Oleh Luc Jacquet, jawaban dari pertanyaan tersebut dihadirkan lewat sebuah ending yang baik dan melegakan. 3,75/5

10 komentar:

Anonim mengatakan...

bisa ditonton di mana ya?

gilasinema mengatakan...

BAJAKAN!!!!!

nothing mengatakan...

pasti ndak ada adegan ML nya??

gilainema mengatakan...

Bisaaaaa aja :)

ojodumeh mengatakan...

thx..ntar aku cari di mangga dua :)

pepito mengatakan...

waduh, minat banget deh liat film ini..
di jogja udah ada belum ya? hehehe

gilasinema mengatakan...

Aku dapet fiml ini di Jogya lho :)

ojo dumeh mengatakan...

Jogja supply-nya dari mangga dua bukan ya? ada yg tahu?

ojo dumeh mengatakan...

itu di voting sutradara, tarantino kok gak ada?

gilasinema mengatakan...

Quentin sebenarnya salah satu sineas favorit, hanya saja kurang produktif.
Dari tahun 2000 saja dia hanya menghasilkan Kill Bill (yang dipecah menjadi 2 demi perhitungan bisnis ), membantu Frank Miller di Sin City, Death Proof serta Inglourious Basterds.
Dia lebih sibuk jadi produser atau sekedar menjadi bintang tamu.

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket