Kamis, 23 Juli 2009

MEREKA YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

Kamis, 23 Juli 2009

Sekitar 3 bulan yang lalu Gilasinema berkesempatan membantu sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mengadakan acara liburan ke sebuah obyek wisata. Kebetulan, meski hanya sekitar 6 bulan, Gilasinema pernah “main-main” di SLB tersebut antara tahun 2005 - 2006. Yang membuat Gilasinema takjub, meski sudah sekitar 3 tahun sudah tidak bertemu, para murid masih mengingat Gilasinema dan “mencoba” berperilaku baik di depan Gilasinema.
Setibanya di obyek wisata, Gilasinema mengamati banyak yang menatap heran, bahkan dengan pandangan jijik kepada mereka yang mungkin berperilaku “ganjil”. Keberadaan mereka yang berkebutuhan khusus memang masih dipandang sebagai sebuah penyakit. Gilasinema mendapati seorang ibu muda yang melarang anaknya mendekati mereka, karena takut tertular. Pandangan ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap mereka yang berkebutuhan khusus.


Di dunia sinema pun, masih sangat sedikit yang mengangkat kisah mereka. Padahal, film bisa menjadi sarana yang kuat untuk mengedukasi dan juga membuka pemahaman masyarakat. Gilasinema mencoba “menginventarisir” beberapa film yang mengangkat karakter berkebutuhan khusus, dalam hal ini lebih kepada mereka yang secara “mental” bermasalah, tapi bukan yang sakit jiwa.
Ternyata, film-film yang mengangkat kisah mereka yang berkebutuhan khusus kebanyakan mempunyai kualitas yang tidak main-main. Rain Man, Forrest Gump, I am Sam, Sling Blade dan What's Eating Gilbert Grape merupakan beberapa judul yang diakui kualitasnya, bahkan oleh juri Oscar. Para actor/aktris juga terlihat antusias dengan karakter berkebutuhan khusus, karena dianggap mampu mengeksploitasi kemampuan acting mereka.


RAIN MAN

Karakter Raymond Babbit (Dustin Hoffman) digambarkan sebagai penderita autistic savant. Pada tahun 1887 Dr J. Langdon Down dalam seminarnya memperkenalkan apa yang disebut “Idiot Savant” adalah para penderita autisme yang memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan dari para jenius, bahkan mungkin melebihi mereka. Sosok Raymond sebenarnya diambil dari kasus yang menimpa Kim Peek, seorang autistic savant yang bisa menghafalkan lebih dari 12.000 buku!
Meski dianugerahi kemampuan luar biasa, mereka sangat kesulitan dengan hal-hal yang berbau kata sifat yang abstrak, seperti keindahan, marah, sedih dan sebagainya. Mereka umumnya juga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Lihat saja reaksi Raymond ketika diajak menginap di sebuah motel oleh Charlie Babbit (Tom Cruise).
Melalui sosok Raymond, Barry Levinson mengajak kita untuk lebih peduli dengan mereka yang berkebutuhan khusus, dan juga menyadari bahwa setiap manusia selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kekurangan. Menghargai kelebihan dan kekurangan orang lain bisa menciptakan sebuah hubungan yang harmonis antar manusia. Film ini juga seakan menyindir para manusia (Charlie) yang dibutakan oleh materi hingga melunturkan rasa kemanusiaan yang dia miliki.

FORREST GUMP

Dengan IQ dibawah rata-rata, karakter seperti Forrest Gump bisa disebut dengan berbagai istilah, mulai dari idiot, imbecile, moron, retarded hingga yang terkesan lebih sopan “borderline intellectual disability”. Kalau dalam bahasa Indonesia bolehlah disebut dengan anak dengan kesulitan belajar.
Namun lihatlah perjalanan hidup Forrest Gump yang luar biasa mengagumkan, meski dengan IQ cekak. Seperti halnya dalam Rain Man, film Forrest Gump mengajak kita untuk tidak memandang rendah mereka yang dipandang mempunyai kemampuan terbatas, karena kalau ditangani dengan tepat, mereka masih bisa berprestasi dengan baik.
Dalam Forrest Gump, ditunjukkan betapa kasih sayang seorang ibu yang menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anaknya mempunyai pengaruh luar biasa dan menjadi modal dalam menjalani kehidupan. Sosok seperti Forrest Gump sebenarnya lebih mudah “dibentuk” ketimbang mereka yang mempunyai pola pikir lebih canggih. Perhatikan betapa seringnya Forrest Gump mendahului kalimatnya dengan “Mama bilang….”
Bukan sesuatu yang mudah dan dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi tentu saja. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan dan tuntunan yang diberikan akan bisa menjadi tolok ukur tingkat kemanusiaan keluarga dan lingkungan tersebut, selain tingkat pengetahuan akan mereka yang berkebutuhan khusus.

I AM SAM

Mereka yang berkebutuhan khusus seringkali dianggap sebagai kelas dua yang tidak mempunyai hak dan kewajiban layaknya mereka yang dianggap “normal”. Sam (Sean Penn) menunjukkan bahwa pandangan ini bisa saja salah.
Meski dilabeli dengan istilah mentally challenged/mentally-handicapped/mentally disabled/ mentally impaired atau “keterbelakangan mental”, Sam menunjukkan bahwa dia layaknya manusia lain yang juga mempunyai cinta yang ingin dia salurkan dan dia bagi, dalam hal ini kepada anaknya, Lucy (Dakota Fanning).
Berbeda dengan penderita autis, mereka yang dianggap terbelakang secara mental masih bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan. Mereka bisa menjalani kehidupan layaknya manusia “normal” dengan bimbingan dan pantauan secara intensif. Namanya juga berkebutuhan khusus.
Intinya lewat I am Sam, mereka ingin diberikan kesempatan dan diperlakukan sama layaknya manusia normal. Mengapa? Karena mereka juga mempunyai apa yang dinamakan CINTA.

SLING BLADE

Apa yang menimpa Karl Childers (Billy Bob Thornton) setali tiga kutang dengan yang Sam idap di I am Sam, hanya saja nasib Karl jauh lebih kelam dan suram. Peristiwa di masa silam membuat banyak orang mencap Karl sebagai penyakit masyarakat. Namun, jangan dulu menghakimi Karl, karena dia melakukan aksinya tersebut bukannya alasan.
Karl yang dianggap sampah masyarakat ternyata bisa menjadi sosok ayah bagi seorang bocah, Frank (Lucas Black). Kontras dengan karakter Doyle (Dwight Yoakam) yang nyata-nyata lebih pantas disebut sebagai sampah masyarakat karena aksi kekerasan yang dia lakukan, mengingat secara mental dia tidaklah terbelakang.
Sling Blade yang ditulis ulang naskahnya dan diarahkan dengan bagus oleh Billy Bob Thornton (aktingnya juga lebih bagus ketimbang Sean Penn sebagai Sam) menunjukkan kepada penonton betapa masyarakat mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan pribadi warganya. Pelabelan seringkali menempatkan seseorang pada situasi yang menguntungkan sekaligus merugikan.
Masyarakat tidak hanya menjadi tempat terjadinya kejahatan, tetapi juga berperan menciptakan sebuah kejahatan, begitu yang Gilasinema pernah baca (lupa sumbernya hehehe…). Mungkin hal ini bisa dihindarkan kalau setiap warganya mempunyai toleransi dan tenggang rasa demi terciptanya lingkungan social yang harmonis, terutama bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

WHAT’S EATING GILBERT GRAPE

Tidak mudah memang ketika kita dihadapkan pada kenyataan ada salah satu anggota keluarga kita yang berkebutuhan khusus. Itulah yang dialami oleh Keluarga Grape. Arnie (Leonardo DiCaprio dengan penampilan terbaiknya sampai sekarang) yang meski terbelakang secara mental, mempunyai posisi penting dalam keluarganya.
Keterbelakangan mental yang dia alami disatu sisi bisa mempersatukan keluarga Grape, namun disisi lain bisa menghancurkan keluarga tersebut. Karenanya dibutuhkan partisipasi semua anggota keluarga dalam merawat Arnie. Tidak mudah ketika kita dihadapkan akan godaan-godaan di luar rumah yang seakan lebih menjanjikan.
What's Eating Gilbert Grape garapan Lasse Hallström menginspirasi kita untuk lebih menghargai setiap hal yang dilimpahkan kepada keluarga kita. Ketika merasa hidup kita berada di titik terendah, bisa jadi justru sebaliknya, karena ketika kita berhasil melaluinya, akan terlihat kualitas kita sebenarnya. Sekali lagi CINTA memgang peran penting dalam menjalani kehidupan. (duh….)

BEN X

Segala reaksi yang muncul terhadap mereka yang berkebutuhan khusus, bisa jadi disebabkan minimnya pengetahuan tentang keberadaan mereka, sehingga sulit untuk menumbuhkan empati dan simpati. Ben X secara jeli menyoroti hal ini.
Dibandingkan kasus lain, autis memang lebih sulit dikenali dan dipahami, wajar kiranya reaksi yang muncul akibat perilaku yang tidak lazim mereka seringkali tidak pada semestinya. Dalam hal ini ,media memegang peran vital dalam penyebaran pengetahuan, meski toleransi tehadap sesuatu yang dianggap tidak lazim juga memegang peran penting. Hindari prasangka buruk dan sikap menghakimi.

Sebenarnya masih ada beberapa judul yang mengangkat kisah mereka yang berkebutuhan khusus, seperti Chocolate yang mengisahkan gadis autis yang mahir bela diri, Koi Mil Gaya yang cenderung lebih ringan serta filmnya Josh Harnett , Mozart and the Whale.
Ada yang bisa bantu merekomendasikan judul yang lain?



Kembali kepada kegiatan liburan bersama anak-anak SLB yang Gilasinema ikuti. Ada satu anak yang membuat Gilasinema terkesan, sekaligus prihatin. Joshua namanya. Salah satu anak yang menderita autis ringan. Anaknya begitu loveable dan tidak kenal lelah, hingga mampu mencerahkan suasana namun terselip rasa sedih karena anak tersebut sepertinya susah merasakan marah dan sakit. Untungnya dia mempunyai ibu yang sangat perhatian.
Pada kegiatan yang sama, Gilasinema mendapati sebuah kejadian yang inspiratif. Saat itu Gilasinema mendampingi Dani yang menderita celebral palsy (semacam kelainan fisik) mencari teh hangat. Pemilik warung melayani dengan baik, bahkan berniat memberikan diskon. Namun ternyata niat baik tersebut ditolak mentah-mantah oleh Dani, yang tidak mau dikasihani. Gilasinema kagum dan salut akan semangat Dani tersebut, dan juga merasa malu, karena seringkali bertingkah manja ketika di rumah.


Simon Birch berpendapat bahwa setiap manusia pasti mempunyai peran di dunia ini. Begitupun dengan mereka yang berkebutuhan khusus. Kehadiran mereka menurut Gilasinema dimaksudkan untuk mengerem “kebuasan” manusia hingga menjadi pribadi yang lebih baik, bukan untuk merasa lebih baik lho. Bergaul dengan mereka seperti me re-charge (meski sejenak) rasa kemanusiaan kita.
Dalam pemahaman Gilasinema, pribadi unggul terlihat ketika berinteraksi dengan orang yang dianggap “kurang’, bukannya dengan orang yang dianggap “lebih”. Mereka yang berkebutuhan khusus, bisa memancing sisi baik kita untuk lebih “keluar” , karena dibutuhkan kesabaran, toleransi dan cinta serta kasih sayang dalam menghadapi mereka. Kita rangkul mereka, jangan diacuhkan atau bahkan disingkirkan. Pokoknya tebarkan CINTA deh hehehe….

NB : bukanya menakut-nakuti, beberapa penelitian membuktikan kalau anak yang lahir di lingkungan dengan tingkat polusi yang tinggi (selain pola makan yang tidak sehat) kemungkinannya lebih besar menjadi anak autis atau IQ yang kurang. Jadi ada baiknya memulai gerakan yang meminimalisir polusi udara. Terapkan pola hidup sehat (yang ini susah nih hehehe…)

9 komentar:

Flick Magazine mengatakan...

Blog film yg inspiratif :)
Lanjutkan! :D

yusahrizal mengatakan...

bukannya situ jg punya kebutuhan khusus. apalagi kalau nggak disuplai film sehari satu. hehehehe...

inget salah satu adegan I am Sam. pas Sean Penn bilang All you need is love.
All I need is the beatles.......

GILASINEMA mengatakan...

Lagi buth cinta :P

pepito mengatakan...

ah nice post kang :) aku belum liat i am sam, jadi pingin liat..

swindleroz mengatakan...

waa semuanya film yang inspiratif.
nice post :D keren banget konsep postingannya two thumbs up

hakimicture mengatakan...

Eh, anak tetangga, sepupu, teman saya termasuk yang berkebutuhan khusus. Mungkin saya termasuk yang biasa ngadepin yang beginian. Kadang saya takut kalo terjadi apa-apa sama mereka. Terkadang sering menghilang dari pengawasan. Yang lebih parah sering dijahili. Mending kalo cuma buat diketawain. Kalo dikerjain yang aneh-aneh, itu yang bikin khawatir. Oh iya akting Billy Bob yang paling saya suka ya di Sling Blade ini. Tahan betul ya masukin/menahan bibir kedalam selama itu.

awya mengatakan...

mas saya tumben denger istilah berkebutuhan khusus? apa saya yg agak katrok tumben denger istilah itu! hahahaa..

forrest gump emang keren bgt. i am sam juga nyentuh meski sean penn selalu tidak pernah saya sukai. mas ada lagi film judulnya the red baloon, film dari aussie sempet dapet penghargaan di festival berlin grto. mayan bagus.

gilasinema mengatakan...

@hakim : para orang tua seringkali "lupa" mendidik anaknya untuk menghargai sebuah perilaku yang berbeda, hingga toleransinya kadang kurang. Bikin miris memang hal tersebut masih saja terjadi di era yang makin terbuka, secara informasi ini.
Billy Bob bagus banget di Sling Blade, padahal dia kerjanya double lho.Mencoba melipat mulut seperti itu susah banget.

@awya: sekarang istilah yang biasa dipake memang seperti itu, kesannya kan lebih santun ketimbang "terbelakang mental". Kebetulan adikku jadi guru SLB Negeri di Semarang (salah satu yang terbaik di Indonesia), jadi untuk masalah seperti ini lumayan up date.
Makasih infonya. Sebenarnya masih ada lagi Taare Zameen Par yang menyentuh dan sudah dijiplak mentah - mentah dengan Ikhsan...Mama, I Love You

guntur mengatakan...

Beatiful mind (skizofrenia)

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket