Jumat, 03 Juli 2009

CORALINE

Jumat, 03 Juli 2009

Bosan dengan Kartun produksi Disney/Pixar atau DreamWorks? (gak mungkin banget ya hehehe…) Maka saatnya mata beralih kepada Coraline yang dirilis oleh Focus Feature bekerja sama dengan Laika Studio. Dari judulnya yang tidak lazim (Gilasinema baru sadar beberapa hari kemudian kalau judulnya bukan Caroline), kita diajak untuk memasuki sebuah dunia visual yang indah sekaligus seram.
Coraline (Dakota fanning) seperti umumnya anak kecil lainnya yang dipaksa untuk mengikuti kemanapun orang tua pergi, awalnya kurang bisa menikmati tempat tinggal barunya. Apalagi kedua orang tuanya (Teri Hatcher dan John Hodgman) terpaku pada kesibukan masing-masing dan membiarkan Coraline pergi mengeksploitasi lingkungan barunya.
Hasilnya, Coraline bertemu dengan orang-orang yang dianggapnya aneh dan tidak menyenangkan. Ada lelaki sebayanya dengan gaya berjalan yang tidak lazim (Wybourne/Wybie), dua bersaudara yang mengaku mantan bintang (Misses Spink dan Forcible) dan Mr. Bobinsky yang sibuk melatih tikus dengan gaya akrobatiknya, serta yang paling menjengkelkannya, si kucing hitam yang angkuh. Semuanya membuatnya jemu, hingga dia menemukan sebuah pintu yang terkunci.
Ketika berhasil membuka dan memasukinya, Coraline ternyata memasuki sebuah dunia yang tidak jauh beda dengan yang dia tempati selama ini. Hanya saja, semuanya terasa tepat seperti yang dia inginkan. Kedua orangtuanya sangat perhatian dan tetangganya terasa jauh lebih bersahabat. Hanya saja, ada satu hal yang aneh yakni semuanya bermatakan kancing. Justru si kucing angkuh yang selalu menemaninya tidak bermata kancing dan ajaibnya bisa berbicara.


Meski dunia lain tersebut terasa menyenangkan, namun ternyata tidak membuat Coraline merasa nyaman. Dan ketika ibu yang lainnya tadi berusaha menahannya, Coraline langsung menolaknya. Apalagi dengan syarat mata Coraline digantikan dengan kancing. Usaha Coraline untuk lepas dari dunia lain tersebut, mendapatkan tantangan keras dari ibu yang lain dan mulai menggunakan cara-cara kotor untuk menjerat jiwa Coraline.
Disutradarai oleh Henry Selick berdasarkan novel karangan Neil Gaiman, Coraline secara jitu menggambarkan bagaimana orang tua (ibu) memperlakukan anaknya. Anak seringkali disikapi sebagai boneka yang dengan mudah dibentuk oleh orang tua dengan alasan mereka yang membesarkan anaknya tersebut. Melalui penggambaran jiwa-jiwa yang terpenjara, film ini seakan ingin mengkritisi bagaimana pola asuh orang tua seringnya justru malah “mematikan” anaknya, meski dengan alasan kasih sayang sekalipun. Hadirnya nama Wybourne (baca : why born) makin mempertajam kritikan ini. Smart!
Anak tidak lagi dihargai sebagai manusia dengan jiwa yang bebas, namun tak beda jauh dengan hak milik. Anak bukannya dimanusiakan justru dibendakan. Orang tua idealnya bertindak sebagai pemandu. Anak disisi lain juga dituntut untuk menghormati orang lain dengan tidak menilai seseorang berdasar penampilan saja. Inilah yang berhasil dipelajari oleh Coraline, karena ternyata orang-orang di sekitarnya mempunyai kepribadian yang menarik ketika dia mau membuka mata dan hatinya. Hal lain lagi yang ingin disampaikan adalah hati-hati dengan mimpimu, karena seringkali mimpi tidaklah seindah kenyataan.
Bagi yang sudah membaca novelnya, pasti akan menemui beberapa perbedaan. Henry Selick yang juga merangkap sebagai penulis skenarionya, melakukan beberapa modifikasi. Kreasi terbesar dari Henry Selick, tentu saja dengan dihadirkannya Wybourne. Karakter yang satu ini tidak ada sama sekali dalam novelnya. Perubahan ini ternyata berdampak positif, karena kehadiran Wybourne justru membuat cerita makin padat berisi.


Untungnya Henry Selick membuang beberapa elemen yang lumayan provokatif dalam novelnya. Kalau tanpa pendampingan, novel Coraline menurut Gilasinema, bisa mendorong anak untuk melakukan semacam “pemberontakan”. Bukan suatu yang buruk sebenarnya, namun bisa saja menjadi tidak terkendali hingga menimbulkan chaos. Yang paling provokatif, tentu saja ketika ada bagian dalam novelnya yang mengacuhkan persoalan jenis kelamin. Yang menarik, Neil Gaiman tampaknya terobsesi dengan salah satu ungkapan Shakespeare “apalah arti sebuah nama”, untuk mengangkat persoalan eksistensi (anak).
Terus terang, dibandingkan dengan novelnya, Coraline versi Henry Selick jauuuh lebih bagus dan menghibur. Sebuah prestasi yang jarang bisa diraih oleh sebuah karya adaptasi. Henry Selick sangat berhasil menghadirkan sebuah tontonan yang imajinatif dan kaya warna, serta lihai memadukan keindahan dengan kengerian. Mungkin Coraline akan terasa menyeramkan bagi anak-anak kecil, namun dijamin penonton dewasa dijamin bakal bisa menikmati sensasi visual yang dihadirkan.
Penonton bakal dibuat takjub dengan beberapa adegan seperti atraksi Misses Spink dan Forcible yang…WOW. Perhatikan ketika tubuh keduanya membelah dengan indahnya, seakan inigin menegaskan jangan menghakimi seseorang dari kulit luarnya. Belum lagi adegan di taman yang sangat imajinatif dan tidak muncul dalam novelnya. Tikus-tikus bermain sirkus, dipastikan bakal membuat senang para penonton belia.4/5

9 komentar:

awya mengatakan...

wah 4/5 pasti bagus...

baru ja kemaren beli dvdnya... gak sabar pengen notnon weekend ini. jd gak baca reviewnya dulu.. hehehe... comeentnya nyusul mas...

timothy mengatakan...

woooooooooowh ini most anticipated movie gue buat tahun ini nih! gue tunggu2in di bioskop kok ga nongol2...kayaknya emank musti nonton di dvd yah...
Henry Selick itu kalo ga salah astrada nya Tim Burton pas lagi Nightmare Before Christmas...makanya di Coraline, tekniknya stop-motion juga...
rating di imdb 8 loh!
;p

hakimicture mengatakan...

Film ini jadi bikin saya tambah menginginkan adanya dunia dibalik lemari atau pintu atau apalah. Sejak nonton animasi Narnia waktu SD, saya jadi berkhayal kalau ada dunia lain dibelakang barisan pakain dalam lemari. Little Monster juga bikin saya memeriksa kolong ranjang kalau-kalau ada lubang menuju dunia lain .... belum selesai nih nonton filmnya...

gilasinema mengatakan...

@timothy : kayaknya memang gak bakal nongol di bioskop deh. Padahal bagus lho teknik stop motionnya. Bioskop Indonesia gimana sih

@hakimicture : pengennya masuk ke dunia yang kayak apa bang hehehe...
Asyik kali ya kalo kita bisa ke dunia kutub utara lewat kulkas :)

penunggusubuh mengatakan...

baca bukunya uda lama banget.. keren.. baru aja dapet dvdnya td waktu ke rental film (stlh berbulan2 ga ke sana).. dan tnyt filmnya juga keren.. satu napas sama nightmare before christmas n corpse bride (dua2nya juga suka)..

hm.. mau tanya donk, itu tulisan (ato gambar) buku yg ada inisial namanya dapet dari mana ya?? mau..

thx..

gilasinema mengatakan...

Aku dapat linknya di blognya Vampibots. Coba deh lewat situ

Fildah a mengatakan...

ni film baru pa bukan?

gilasinema mengatakan...

Rilis Awal tahun 2009 ini kok, jadi ya lumayan baru

Blog GABUS mengatakan...

ookh...

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket