Selasa, 30 Juni 2009

ONE WEEK

Selasa, 30 Juni 2009


What would you do if you knew you only had one day or one week to live?

Ben Tyler (Joshua Jackson) mendapati dirinya menderita kanker stadium akut. Hanya memberitahukan kepada tunangannya, Samantha (Liane Balaban), dia memutuskan untuk melakukan perjalanan sendirian menyusuri Kanada. Tentu saja Samantha awalnya menentang ide tersebut, yang dengan rasionalnya menganjurkan Ben untuk melakukan pengobatan. Samantha juga mengajukan protes ketika Ben berkeputusan untuk tidak memberi tahu kondisinya pada kedua orangtuanya.
Dengan mengendarai motor yang menjadi impiannya, yang terpaksa dia redam karena Samantha tidak menyukainya, Ben mulai melakukan perjalanan. Seperti kebanyakan road movie, sepanjang perjalanan Ben mulai memikir ulang kehidupan yang dia jalani sebelumnya, tentang mimpi-mimpinya hingga berpikir ulang mengenai hubungannya dengan Samantha. Ben juga bertemu dengan orang-orang baru yang mampu membuka matanya akan dirinya dan hidupnya. Dan tentu saja, kita disuguhi banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan. Pada akhirnya, seperti kebanyakan road movie, di akhir kisah Ben bisa berdamai dengan dirinya sendiri
Menyaksikan One Week olahan Michael McGowan, mau tidak mau teringat kepada The Bucket List. Keduanya sama-sama mengisahkan apa yang dilakukan seseorang ketika dihadapkan kenyataan hidupnya tidak lama lagi. Bedanya, Jack Nicholson dan Morgan Freeman melakukan hal-hal gila dan didukung dana yang lebih dari cukup, tokoh Ben yang diperankan Joshua Jackson lebih bertujuan mencari makna hidupnya, mengingat kehidupannya yang biasa-biasa saja.
Hasil akhirnya, meski terkesan main-main The Bucket List menjadi tontonan yang menghibur dan meninggalkan kesan berkat naskahnya yang lincah. Berbeda dengan One Week, yang terasa lebih realistis, namun membuat penonton terbawa suasana mellow sepanjang durasi. Meski terkesan realistis, sayangnya ada beberapa bagian yang sangat tidak masuk akal, seperti bagaimana bisa Ben mendapatkan kanker stadium empat tanpa pernah mengalami keluhan sebelumnya. Dan sepanjang perjalanan, jarang sekali scene yang menggambarkan kerentanan tubuh Ben akibat digerogoti kanker.


Sosok Ben terasa kurang meyakinkan dan terkesan egois hingga kurang bisa menyatu dengan karakter – karakter yang lain. Belum lagi permainan Joshua Jackson yang kurang bergairah dan datar (seperti biasa) makin membuat kita sebagai penonton sulit untuk bersimpati. Liane Balaban yang sebenarnya punya potensi bagus, karena porsinya yang terbatas kurang bisa tampil maksimal. Akibatnya chemistry-nya dengan Joshua Jackson terlihat kering.
Untungnya masih ada yang bisa dinikmati dari film yang lumayan sukses di Kanada ini, yakni berkat pemilihan musiknya yang asyik dan mendayu-dayu. Enak dikuping. Dan mata penonton akan dimanjakan dengan keindahan alam Kanada yang mungkin selama ini jarang kita lihat di layar. Ada satu adegan yang menurut Gilasinema cukup kuat menggambarkan apa yang sedang menimpa pada diri Ben yakni ketika sepedanya mengalami kerusakan. Seperti kerusakan yang menimpa tubuhnya, Ben dihadapkan pada pilihan terus melangkah maju atau “memperbaiki” kerusakan tersebut.
So, What would you do if you knew you only had one day or one week to live? Lewat narasi yang disuarakan oleh Campbell Scott, film ini menjawab “ TO STRIVE, TO SEEK, TO FIND AND NOT TO YIELD” 2,75/5

4 komentar:

yusahrizal mengatakan...

C. Scott? Koq jd inget Dying Young yah? yang satunya leukimia, yang ini kanker.

Yusahrizal mengatakan...

o iya, sori lupa. aku barusan dapet film dustin hoffman Last Chance Harvey tp blm nonton. bagus nggak? udah nonton?

gilasinema mengatakan...

Dying Young belum liat. Last Chance Harvey juga belum. Tapi Last Chance Harvey kemaren masuk Golden Globe kan jadi kayaknya oke juga tuh

ieraiera mengatakan...

ga nemu2 di lapak bajakan...:(

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket