Sabtu, 27 Juni 2009

3 DEKADE, 3 FILM

Sabtu, 27 Juni 2009

25 Juni 2009 kemarin, Gilasinema genap berusia 30 tahun menurut penanggalan Masehi. Di angka yang belum terlalu besar, tapi tidak juga kecil ini (tetep aja dah tuwir hehehe…) Gilasinema mengagendakan kegiatan demi memanjakan diri sendiri. Yang namanya penggila sinema, kemanjaan tadi tidak jauh dari sinema. Memang sukanya cuma itu sih. Maka, pada hari istimewa tersebut, Gilasinema memantapkan diri untuk melihat 3 film sekaligus di bioskop alias marathon nonton. Kegiatan dimulai jam 15.15 WIB hingga berakhir pukul 22.30 WIB dengan waktu istirahat selama 1 jam (19.15 – 20.15). Semoga Tuhan menjauhkan Gilasinema dari azab karena ibadah dilalaikan oleh film.

GARUDA DI DADAKU

Secara mengejutkan, diluar ekspektasi, Garuda di Dadaku menjadi sebuah sajian yang menghibur, berisi dan komplet emosinya. Gilasinema berhasil dibuat larut dan menikmati hingga film berakhir. Sutradara Ifa Isfansyah terlihat sangat terampil dan lincah mengolah gambar dan cerita olahan Salman Aristo, meski Garuda di Dadaku ini merupakan karya panjangnya yang pertama. Berbekal cerita yang sederhana dan rapat, Garuda di Dadaku sukses menjadi sebuah tontonan sekaligus tuntunan. Bahkan kalau boleh jujur, film ini setingkat lebih menghibur dan mengesankan dibandingkan Laskar Pelangi.
Sebagai sebuah tuntunan, Salman Aristo patut diberikan acungan jempol dengan keberhasilannya menyelipkan limpahan pesan yang disampaikan secara halus dan tidak menggurui. Lewat Garuda di Dadaku, penonton diajak untuk jangan berbohong, menghormati yang lebih tua, semangat fair play dan pantang menyerah, persahabatan dan masih banyak lagi. Dimasukkannya sedikit bumbu cinta monyet, makin memperkaya film ini.
Menyaksikan Garuda di Dadaku, penonton sukses diaduk-aduk emosinya. Sangat jarang film Indonesia yang berhasil menghadirkan tawa dan tangis pada saat bersamaan. Humor yang diselipkan terasa wajar dan benar-benar lucu tanpa berlebihan. Sedangkan beberapa adegan mengharukan sukses membuat beberapa penonton sesenggukan. Tak lupa Ifa dan Salman memasukkan unsure ketegangan yang membuat penonton gemas. Menyenangkan melihat reaksi penonton yang begitu ekspresif. Bahkan ada beberapa anak yang ikut bersorak-sorak ketika tokoh utama (Bayu) meraih kemenangan.
Kekuatan cerita, untungnya diimbangi dengan pemilihan cast yang sangat tepat dan padu. Chemistry para pemainnya sangat kuat dan meyakinkan. Emir Mahira dan Aldo Tansani mampu menjalankan tugasnya dengan amat sangat baik. Dua jempol deh buat divisi casting. Kedua bintang cilik tadi begitu mencuri perhatian dengan kenaturalan dan kepolosan aksi mereka. Bintang-bintang senior juga bermain bagus dan aman, terutama penampilan Ramzi yang sukses memancing tawa penonton.
Acungan jempol juga patut diberikan kepada Aksan dan Titi Syuman yang olahan musiknya mampu menggugah emosi. Yang belum melihat Garuda di Dadaku, segera ajak teman-teman beliamu. Buruuuuaaaaannn!!! 4/5

KING

Susah untuk tidak membandingkan King dengan Garuda di Dadaku, mengingat begitu banyak persamaan antara keduanya. Sama-sama berkisah tentang usaha seorang bocah menggapai impian, meski mendapat tentangan dari sosok pria matang, meski dalam King, sosok tersebut berstatus ayah, sedang dalam Garuda di Dadaku, pria itu merupakan kakek si bocah. Dalam King, Guntur (Rangga Raditya) ditinggalkan oleh ibunya, Bayu di Garuda di Dadaku telah ditinggalkan oleh ayahnya. Dan masih banyak persamaan lainnya (dimasukkannya produk tertentu dalam sebuah adegan). Satu hal mencolok yang membedakan keduanya adalah pemilihan setting tempat. Garuda di Dadaku bermain di area perkotaan, kisah King ditempatkan pada sebuah desa yang dikelilingi kehijauan alam.
Sayangnya, King tidak dibekali naskah yang mantap dan lincah layaknya Garuda di Dadaku. Pesan yang ingin disampaikan kadang terasa menggurui dan humor-humor yang diselipkan terasa kurang menggelitik. Akibatnya, King menjadi tontonan yang lebih mellow dibandingkan Garuda di Dadaku. Ari Sihasale sebagai sutradara juga kurang terampil mengolah adegan, seperti tidak dimasukkannya adegan perpisahan antara Rangga dengan bapaknya (Mamiek Prakoso) ketika dia akan mengikuti seleksi. Padahal, kalau adegan ini dihadirkan, akan bisa mengikat emosi penonton karena menunjukkan hubungan bapak anak yang saling mengasihi. Selain itu, adegan seleksi akhir kok terasa kurang gerget (ketegangannya).
Selain itu dialog-dialog yang dihadirkan terasa tersendat-sendat. Bahkan ada bagian yang menurut Gilasinema tidak nyambung dialognya, seperti ketika Guntur berandai-andai dirinya tidak lolos seleksi, ayahnya berkata “Kamu tetap anakku”, namun ditanggapi oleh Guntur dengan “Tapi Guntur akan tetap mengenang ibu”. Karena dialog-dialog yang terasa kurang mengalir inilah emosi penonton kurang terbawa.
Akibat lainnya, acting para pemainnya terasa kurang maksimal. Rangga Raditya sebagai pendatang baru memang bermain bagus, dan namun sayangnya pemain lain seakan kurang darah gara-gara naskahnya tadi. Penampilan si Bujang (lupa namanya) untungnya lumayan mampu mencairkan suasana. Dan menurut Gilasinema, kayaknya karakter yang muncul terlalu banyak deh. Coba lebih dimampatkan, pasti lebih terasa padu dan padat.
Kelebihan film ini mungkin ada pada sinematografinya. Mengambil setting tempat yang indah serta berbekal crane, film ini banyak menghadirkan gambar-gambar yang menyegarkan mata serta dinamis untuk beberapa adegan. Ari Sihasale juga banyak bereksperimen dalam pengambilan gambar hingga menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Dan meski sama-sama ditangani oleh Aksan dan Titi Syuman, musik yang dihadirkan terasa kurang greget, meski lantunan Indonesia Raya di akhir cerita lumayan membuat merinding.
Meskipun demikian, sebagai film bulutangkis pertasma di dunia, King merupakan tontonan wajib yang sangat tidak pantas untuk dilewatkan. Kalau boleh kasih saran, jangan tonton film ini setelah Garuda di Dadaku kalau emosinya tidak mau kebanting. Ini masukan juga untuk para produser, mbok kalau mau rilis film dengan tema yang hampir mirip, dikomunikasikan dulu antar produser dan pengelola bioskop. Jadi kan bisa membuang kesan “banting” tadi, dan antar sineas Indonesia kan harusnya bisa saling dukung. Viva film Indonesia. 3,25/5

TRANSFORMER : REVENGE OF THE FALLEN

Menyaksikan film Michael Bay harus siap-siap dengan gempuran gambar-gambar penuh ledakan nan gempita dan kerusakan, diiringi musik-musik asyik, efek visual yang memukau, gambar matahari dan jalinan cerita yang ringan renyah layaknya rempeyek. Transformer jilid awal, meninggalkan kesan karena penggambaran perubahan benda-benda menjadi robot.
Bagaimana dengan Transformer : Revenge of the Fallen? Meski kali ini lebih banyak robot yang dihadirkan, sensasi tadi nyatanya tidak bisa hadir lagi. Padahal, inilah kekuatan utama dari Transformer, mengingat jalinan ceritanya yang seringan debu. Baru 15 menit film berjalan, Gilasinema sudah merasakan kegaringan dan kebosanan. Michael Bay layaknya seorang anak kecil yang sibuk “merusak” mainan yang diberikan kepadanya.
Mungkin karena terbiasa menikmati film serius dengan naskah yang berisi, menyaksikan Transformer : Revenge of the Fallen bak mendapatkan siksaan. Bukannya terhibur malah “terkubur” dalam kebosanan. Padahal sejak awal otak sudah di set. INI SUMMER MOVIE YANG MENITIKBERATKAN PADA HIBURAN. Tapi kok ya tetep gagal menyikapi film ini sebagai hiburan. Dongkol! Jadinya sepanjang durasi, malah sibuk menggerutu. Bosan menggerutu teman yang duduk disamping dan didepan, menjadi sasaran keusilan demi membunuh kebosanan tadi. Belum cukup, ditengah-tengah film ditinggal fesbuk-an dan sukses jatuh terlelap. (kalau yang ini mungkin karena factor kecapekan hehehe…)
Paling sebel ketika ada adegan cewek seksi yang ternyata robot juga. Lha kalo bisa menyamar jadi manusia, kenapa juga harus menyamar jadi benda-benda! Hasilnya tidak beda jauh dengan cyborg yang muncul di Terminator. Sebuah kesensualan yang dipaksakan dan tolol karena merusak konsep transformasi. Dan bagi yang suka menghujat film India, harusnya malu dong setelah melihat Transformer : Revenge of the Fallen. Plot cerita yang dihadirkan setali tiga kutang dengan plot yang sering hadir di film action produk Bolly. Tokoh utama (Optimus Prime) yang sekarat, entah dapat energi dari mana, tiba-tiba membabi buta membabat musuh dengan mudahnya. HUH!!!
Humor-humor yang dihadirkan juga banyak garingnya. Memang sih masih ada sekitar 25% humor yang lumayan bisa memancing senyum. Secara keseluruhan, filmnya akan sangat menghibur bagi anak-anak. Jadi mungkin karena factor umur, Gilasinema tidak bisa menikmati film ini. Yang pasti sih, FILM INI BUKAN UNTUKKU. 2/5


NB : terima kasih yang SEBESAR-BESARNYA untuk NICKY OLIVIA yang bersedia antri tiket demi menyukseskan 3 DEKADE, 3 FILM

14 komentar:

Fariz Razi mengatakan...

wah, selamat ulang taun ya mas!

Anonim mengatakan...

Transformer....
well, I simply agree

hakimicture mengatakan...

Dari trailer aja sudah terasa film Garuda di Dadaku bakalan awesome. Film ini bakalan berhasil menjadi film yang masuk dalam jajaran nyaman ditonton. Coba denger dialognya yang jauh dari kesan kaku seperti kebanyakan film Indonesia yang lain. Gambarnya juga, ingat adegan keren ketika Bayu menendang bola tepat masuk melewati jendela bus. Pas banget ngeditnya ....

ajirenji mengatakan...

Jadi penasaran sama Transformers, kritikus luar juga kayaknya 90% bilang ini film nggak bagus...

btw. slamat ulang taun mas

Gabby Hakim mengatakan...

wahh umur 30 tapi kelihatan seperti baru 20an bang! hehehe..
jadi malu saya baru 21.. :p

pepito mengatakan...

happy birthday ya :)
king (5/10) : banyak 'bolong'nya ya ini film .
gdd (8/10) : i love it, padahal tadinya minat mau nonton juga enggak hehe
trans-2 (7/10) : mungkin lebih memuji efeknya aja hehe

yusahrizal mengatakan...

met ultah untukmu dan untukku :P

*berburu bajakan film king dan gdd (sesuai rujukan urutan situ)*

GILASINEMA mengatakan...

Buat semua : MAKASIH YAA....

@HAKIMICTURE : itu kalo gak salah, dari yang aku baca, sampe 5 kali take. Dan yang sukses malah nendangnya pas gak disengaja. Untngnya si kameramen siaga terus. Dialognya memang mengalir mulus. Akses baku palin dari mulut kakek demi mempertegas karakternya.

@AJIRENJI : film kalo banyak dihujat malah bikin penasaran ;)

@GABBY : muji pa nyindir, Soalnya tiap jalan-jalan ke mall, mbak-mbak SPG selalu bilang, "mari, mampir PAK" hehehe...

@PEPITO : efeknya memang keren dan kayaknya bakal pulang bawa Oscar. Tapi bukannya di jilid pertama efek yang sama dah muncul?

@YUSAHRIZAL : masih merasaajaib, dapet kenalan dengan tanggal ulang tahu yang sama :)
Kayaknya bajakannnya gak ada deh Bang hehehe...

GILASINEMA mengatakan...

Ini aku kok nulisnya banyak yang salah kayak disleksia sih :P

semuareview mengatakan...

met ultah (telat, abis liburan di jogja, gak online sama sekali).
ayo, kita cela transformers abis2an. udah liat reviewnya roger ebert, wah dibantai habis transformers!
gw sependapat kalau garuda di dadaku bagus, lebih bagus dari laskar pelangi yang menurutku rada lebay...
sekali lagi selamat ulang tahun, dan terus menonton! (kalau empat dekade empat film ya... :))

gilasinema mengatakan...

Makasih...makasih...
Wah Ke Jogya ya? mampir nyari bajakan di Jl. Mataram gak?

Gak terbayang apakah 10 tahun kedepan masih menggila gak :)

awya mengatakan...

wah, ulang tahun yg ke 30 yah mas...

gak nyangka kirain baru 25-tahunan lho dari wajahnya (suer gak bohong nih)

wah... katanya udah ada calon siap2 nih undangannya... hehehehe

ieraiera mengatakan...

saya berantem sama partner nonton karena saya ketiduran pas nonton Transformer....so boring...

gilasinema mengatakan...

@awya : makasih sekali. Semoga amal perbuatan mendapat balasan setimpal dari Tuhan hehehe...

@iera: orang tidur kok bisa berantem?

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket