Selasa, 12 Mei 2009

WISATA SINEMA DI IBU KOTA

Selasa, 12 Mei 2009
Meski sudah hampir 3 dekade Gilasinema menghirup udara di negeri Indonesia ini, belum sekalipun Gilasinema berkesempatan menyambangi ibu kota yang katanya kejam itu (udik ya hehehe). Pernah sih ke Bekasi, tapi kan secara administrative masih masuk Jawa Barat (bener gak sih?). Bersyukur sekali tanggal 6 – 8 Mei kemarin, Gilasinema dikirim ke Jakarta oleh kantor untuk mengikuti suatu event. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan untuk “menjelajah” setelah kegiatan tadi selesai. Sebagai penggila sinema, penjelajahan pastinya tidak terlepas dari sinema (film). Gilasinema menyebutnya “wisata sinema”. Terima kasih kepada teman-teman yang ikut menyukseskan wisata sinema ini dengan menanggung akomodasi, transportasi dan tiket hehehehe…
Sayang sekali pilihan film yang ada sangat terbatas, selain waktu yang juga terbatas, sehingga Gilasinema hanya berkesempatan menyambangi 2 bioskop. Kirain Star Trek ikut tayang serentak dengan Amerika Utara, ternyata belum toh….Berikut oleh – oleh Gilasinema :

X – MEN ORIGINS : WOLVERINE

Lokasi : Blitz Mall of Indonesia (8,5/10 layarnya gedhe, tapi sayang kursinya tidak enak)
Sebenarnya tidak bermaksud melihat film ini, karena lebih penasaran dengan sensasi 3D yang ditawarkan di My Bloody Valentine. Namun karena datang terlambat, loket sudah ditutup. Terpaksa deh melihat aksi cakar maut dari Wolverine.
Sejak awal film, entah mengapa Gilasinema merasakan sensasi geli yang tak tertahankan menyaksikan adegan demi adegan yang dialirkan. Formula yang ditawarkan begitu baku (baca: basi) yang diperparah dengan dialog yang corny banget. Tak pelak Gilasinema banyak ketawa sendiri dengan “kelucuan” tersebut. Ketika “kelucuan” makin membosankan, Gilasinema dan rekan jatuh tertidur sejenak ketika Wolverine datang ke pulau dan terbangun oleh peluru yang menembus kepala Wolverine. Adegan sebelumnya gimana sih?
Film makin parah dengan penampilan Hugh Jackman yang dimata Gilasinema sangat berlebihan. Mengingatkan pada acting Salman Khan yang jarang sekali terlihat natural dan sangat menonjolkan otot. Usaha Hugh Jackman yang berusaha terlihat sangar sangat menganggu. Efek visual yang dihadirkan jauh dari kesan menakjubkan. Gak istimewa wis (makanya suka males melihat film-film heboh). Untung cast lainnya lumayan meminimalisir “kelebihan” yang ditampilkan Hugh Jackman.
Dari barisan cast pendukung terlihat sekali, mereka yang terlibat dibelakang pembuatan Wolverine mencoba menarik banyak penonton dari mereka yang berjenis kelamin perempuan (remaja). Sebagai salah satu produser, Hugh Jackman tidak mau rugi hingga merelakan (maaf) bokongnya “diobral”. Adegan ini juga klise, karena “kelahiran” seperti ini telah dihadirkan di Matrix, Terminator dan Demolition Man.
Terus, cewek mana sih yang tidak terkesan dengan penampilan Remy LeBeau yang sedikit mengingatkan pada Keanu Reeves dulu pas berambut panjang. Belum lagi hadirnya Daniel Henney (Agent Zero), yang akan banyak menarik penonton di Asia karena dirinya mempunyai fan base yang kuat di kawasan ini. Berbicara soal pasar, Wolverine tampaknya memang sangat berharap akan mengeruk banyak dolar di luar Amerika Utara, terutama Asia. Meski hasil openingnya tidak mengecewakan, rasanya film ini bakal tertatih-tatih menyentuh angka $200 juta. Kehadiran Ryan Reynolds sebagai Wade Wilson merupakan trik jitu untuk mengetes pasar. Kalau respon terhadap karakter satu ini cukup baik, kayaknya sih bakal dibuatkan kisah tersendiri.
Kalau memang mau dibuat sekuelnya, ada baiknya David Benioff dibuang saja dari barisan penulis naskahnya. Orang yang satu ini sebelumnya bertanggung jawab, betapa murahannya film Troy yang dibintangi Brad Pitt, serta lempengnya The Kite Runner.
The X-Men Origins : Wolverine sekali lagi mengangkat kisah the special one. Yang menarik, dimasa rehatnya, Wolverine memilih profesi yang ada kaitannya dengan kayu. Hmmm…ada yang familiar dengan kisah ini? 2,5/5

CRANK : HIGH VOLTAGE

Lokasi : Studio XXI di EX (8/10, suara mantep namun ukuran layar standar)
Di awal, Film ini sudah memberi peringatan kepada penonton mengenai muatan apa yang akan ditampilkan dalam rentetan gambar selanjutnya. Peringatan tersebut terselip diantara kalimat yang diucapkan oleh pembaca berita, yakni “omong kosong” dan “tidak mungkin”. Bagi penonton yang bisa “membaca” pesan ini, harusnya sudah menyiapkan diri dengan rentetan adegan ngawur dan tidak penting yang dihadirkan secara simultan sepanjang durasi. Ide cerita sangat menggelitik, meski terkesan konyol. Jantung manusia diibaratkan sebuah alat elektrolis, yang hanya bisa bekerja maksimal kalau terpenuhi asupan listrik. Jantung tak beda jauh dengan hand phone ataupun IPod!
Crank:High Voltage sungguh sebuah kekacauan. Jalinan cerita yang tidak jelas, dialog kasar, humor rendah, aksi pemain yang cethek serta banyaknya tokoh yang berseliweran dengan karakterisasi yang tidak jelas. Dengan bahasa gambar dan penceritaan yang cepat, penonton dibombardir dengan rangkaian adegan yang tidak penting namun mengejutkan dan menghibur. Bahkan kadang terasa sangat lucu. Istilah “strawberry cake” dan “friction” begitu membekas. Sayang sekali banyak sekali adegan yang terpotong, terutama adegan yang mengeksplotasi “daging’ hehehe. Nunggu bajakan beningnya ah….
Film ini makin menarik dengan hadirnya banyak cameo. Mulai dari Geri Halliwell, Chester Linkin Park hingga Ron Jeremy! Paling terkejut dengan penampilan David Carradine yang sukar dikenali. Satu-satunya gangguan di film ini adalah penampilan si jalang Bai Ling. Untungnya sedikit termaafkan dengan diacuhkannya karakter yang diperankan oleh Bai Ling oleh Chev Chelios, padahal si sundal Bai Ling pastinya bakal ikhlas tampil telanjang.
Dibandingkan X – Men : Wolverine, Crank:High Voltage jauh lebih menghibur dan meninggalkan kesan. Tanpa bermaksud neko-neko, Crank:High Voltage justru terasa lebih orisinil, meski mengulang formula yang telah hadir di seri awal. Berbeda dengan X-Men:Wolverine yang maunya tampil berkelas dengan kemasan yang basi. Tidak heran kalau rating yang diberikan oleh beberapa kritikus terhadap film ini jauh lebih baik dibandingkan yang diperoleh X_Men:Wolverine. Masalahnya, tidak semua penonton bisa menerima Crank:High Voltage sebagai sebuah hiburan mengingat banyaknya kegilaan yang dihadirkan didalamnya.
Kalau dicermati, duo Neveldine/Taylor seakan mengolok-olok keseriusan penonton dalam menikmati sebuah film. Olokan paling frontal dan brutal tentu saja ditunjukkan dengan aksi jari tengah Chev di akhir film. Brillian! Duo ini secara jeli mengobrak-abrik aturan baku yang ada. Aturan estetis tidak diindahkan sama sekali hingga bagi penoton yang tidak kuat terasa memuakkan dan mengecamnya. Humor-humor yang dihadirkan juga lucu dan segar, meski ujung-ujungnya membuat penonton mengelus dada. Makin mengelus dada ketika ada seorang ibu mengajak dua anaknya yang masih belia melihat film ini. PARAH!!!
Banyak penonton yang beranjak dari kursi begitu end title bergulir. Padahal, disela-sela end credit tersebut masih terdapat adegan yang menggambarkan nasib Chev. Dari sini terlihat ada peluang kisah pemilik jantung terkuat di dunia masih akan berlanjut. Gilasinema berimajinasi (meski dengan berat hati), duo Neveldine/Taylor ada kemungkinan akan menghadirkan actor yang berbeda untuk memerankan Chev. 3/5


OLEH – OLEH LAINNYA


Selain menyambangi dua bioskop tadi, Gilasinema juga mampir di La Piazza 21. Namun kali ini untuk sekedar bergaya, hehehehe…..


Sebenernya Gilasinema mendapatkan undangan dari salah satu temen yang kebetulan menjadi wartawan film di sebuah tabloid hiburan untuk menghadiri gala premiere Benci Disko di Senayan City XXI, namun jadwal yang tidak memungkinkan, membuat Gilasinema tidak bisa memenuhi undangan tersebut. Padahal kalau bisa hadir, sudah pasti bisa mejeng di tabloid tersebut bersama salah satu artis pendukungnya. Untungnya sedikit terbayar dengan souvenir (kaos) film yang bersangkutan.


Tidak lengkap rasanya menyambangi sebuah kota tanpa berburu DVD bajakan, apalagi di kota sebesar Jakarta. Atas rekomendasi teman, Gilasinema memilih Ambassador/ITC Kuningan (?) sebagai tempat berburu. Disini, Gilasinema benar-benar kalap, hingga memborong lebih dari 35 judul! Padahal sudah secara serius memilih yang benar – benar layak beli. Kebanyakan sih film lama yang sulit didapatkan di kios bajakan deket rumah. Baru berhenti ketika sadar dana menipis. Terpaksa cari suntikan dana dari temen hehehe….(Gilasinema tidak ada ATM karena pasti bakal lebih boros tidak kuat menghadapi godaan).


Akhirnya, terima kasih sekali lagi buat temen-temen yang telah meluangkan waktu untuk menyukseskan wisata sinema Gilasinema hehehe…

16 komentar:

Bang Mupi mengatakan...

wah keren...sampe ada bajunya ck..ck..hebat

gilasinema mengatakan...

hehehe...mereka harus dipaksa supaya mau pake kaos itu

timothy mengatakan...

wahahaha pilihan tepat untuk wisata sinema di Jakarta...tapi sayangnya gilasinema melewatkan Blitz Grand Indonesia...tapi gapapa sih, ga beda jauh sama Blitz MOI...layarnya sama2 besar dan bangkunya sama2 bikin sakit punggung ahahahaha...
studio XXI EX memang luar biasa, apalagi di sound systemnya yang udah pake THX...dulu pas nonton Sunshine, kursi2 sampe bergetar ahahaha...

salam sinema!

gilasinema mengatakan...

Pengennya bisa nonton kemana-mana. Cuman kan filmnya itu-itu doang. Banyakan Indonesianya. Sayang kan duitnya :)
Penasaran pengen ke Gajah Mada yang katanya lumayan juga

ieraiera mengatakan...

hahahahahahaha
cieeeee...chow yun fat...hahahaha
gw mau teeshirtnya dong om...:D

gilasinema mengatakan...

Mirip gak sih hahahaha...
Syarat dapat kaos : GAK BOLEH DILEPAS :)

ieraiera mengatakan...

iya mirip...mana kaosnya..ga akan dilepas...mana??TIKI please.....

Gabby Hakim mengatakan...

koq ga mampir ke rumahku bang? hahaha..
asik nih yang abis jalan2 di Jakarta.. :p

gilasinema mengatakan...

Maaf gak mampir, takut nantinya gak mau pulang :D

Yusahrizal mengatakan...

wahhh.. sampai ada klub penggemar gilasinema
wahhh.. gilasinema mirip sama wolverine (sayang kurang sangar tanpa kuku adamantium)
wahh.. gilasinema nonton duduk dilantai bioskop (kursinya kalo nggak enak bawa aja dari rumah, oom)

peace selalu buat kejamnya jakarta yang katanya lebih kejam dari ibu tiri dalam sinema :P

ojo dumeh mengatakan...

ternyata cute.. makin suka aja baca blog ini.. ke depannya tiap posting pake pic mas gilasinema aku gak keberatan.. ;)

gilasinema mengatakan...

@yusahrizal: Cakarnya lagi di meni pedi bang jadinya dieman-eman dulu :)

@ojodumeh: hmmm....

plainami mengatakan...

"Sejak awal film, entah mengapa Gilasinema merasakan sensasi geli yang tak tertahankan menyaksikan adegan demi adegan yang dialirkan. Formula yang ditawarkan begitu baku (baca: basi) yang diperparah dengan dialog yang corny banget."

ahauahahahaaa.. setuju! berasa nonton Renegade. ato Satria Baja Hitam.

dokterbioskop mengatakan...

salam kenal bro...]


dari jogja...


dokter bioskop

Anonim mengatakan...

kemayu...hehehe

1209 Hd mengatakan...

Gila Sinema memang Blitz Yang Enak Mungkin Di Blitz PP (Pacific Place) Kalau XXI Mungkin Gandaria City / Ex Plaza Indonesia lah

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket