Rabu, 20 Mei 2009

PAUL BLART : MALL COP

Rabu, 20 Mei 2009


Paul Blart (Kevin James) sebenarnya mempunyai tekad yang kuat untuk menjadi polisi. Pada awal film diperlihatkan usahanya menyelesaikan ujian fisik yang harus dijalani. Sayang, gara-gara hypoglycemia (gula darah dibawah normal), dia harus mengubur impiannya menjadi polisi. Namun paling tidak dia masih bisa menyalurkan keinginannya menjaga ketertiban dengan menjadi satpam sebuah mall (mall cop).
Paul Blart digambarkan sebagai sosok yang optimis, namun seringkali menerima hinaan yang dialamatkan padanya dengan sukarela. Hidup bersama ibu dan anaknya, Paul juga mengalami kesulitan menjalin dengan perempuan setelah ditinggalkan istrinya yang mengincar green card. Paul Blart digambarkan seorang pecundang, yang bahkan mengatasi orang cacat pun menemui kegagalan. Bahkan kalah telak ketika diserang oleh seorang perempuan pengunjung mall tempat dia bekerja.
Paul Blart ditugasi oleh atasannya untuk membimbing pagawai baru, Veck (Keir O’Donnel).Di tengah tugasnya tersebut, Paul Blart merasa tertarik dengan penjaga stan rambut palsu, Amy (Jayma Mays). Namun segala kecanggunggannya malah seringkali mengacaukan usaha pendekatannya. Hingga pada suatu hari, mall tersebut disabotase oleh sekelompok perampok professional yang bermodalkan kemampuan akrobatik.
Paul Blart yang berada di dalam mall karena sebuah aktivitas konyol sebenarnya mempunyai kesempatan bagus untuk lolos dari bahaya. Namun ketika menyadari Amy menjadi salah satu sandera, dia memutuskan untuk membebaskan wanita pujaannya tersebut. Apalagi kemudian anaknya juga menyusul untuk secara “sukarela” menjadi sandera. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Paul Blart untuk menunjukkan kemampuannya, meski harus berjuang dengan hypoglycemia yang bisa menghambat usahanya tersebut.
Ada beberapa alasan mengapa Gilasinema menonton film ini. Pertama, film ini menjadi film pertama yang rilis tahun 2009 yang berhasil menembus angka 100 juta dolar untuk peredaran domestiknya. Bahkan sempa bertengger di puncak box office selama dua minggu berturut-turut. Alasan kedua adalah karena Roger Ebert memberikan 3 bintang dari 4 bintang kepada film ini dengan alasan tidak adanya unsure porno layaknya komedi keluaran mutakhir. Alasan yang ketiga adalah tema yang dipilih, yakni kisah satpam mall, rasanya belum pernah diangkat (tolong ralat kalau saya keliru).
Alasan terakhir menikmati film ini adalah karena film ini merupakan film Kevin James yang menempatkan dirinya sebagai lead actor. Pertama kali melihat aksi actor tambun ini lewat film Hitch. Pada waktu itu Gilasinema bertanya-tanya “who’s that guy?”. Penampilannya yang manis lumayan mencuri perhatian, yang membuat Gilasinema berani memprediksikan dia bakal banyak muncul kedepannya. Dan ternyata benar. Aksinya bersama Adam Sandler di I Now Pronounce You Chuck and Larry disambut positif secara kuantitas. Dan kini, lewat Paul Blart : Mall Cpo, Kevin James membuktikan potensinya dalam mengeruk dolar.
Namun, berbagai alasan diatas tadi ternyata tidak mampu menyelamatkan kualitas film ini. Secara keseluruhan film ini sangat ringan dan garing, bahkan mengalahkan kegaringan Night at the Museum . Naskah tulisan Kevin James dan Nick Bakary terasa kurang lincah dan penuh lubang yang mengganggu kenikmatan penonton, terutama yang berkaitan dengan handphone (meski kritikan soal benda ini lumayan menggigit). Akibatnya sutradara Steve Carr terlihat kesulitan menghadirkan tontonan yang enak dinikmati. Terasa sekali ada yang tidak beres dengan alur cerita yang terkesan melompat-lompat dan sangat tidak meyakinkan.
Kelemahan ini mungkin disadari oleh mereka yang terlibat didalamnya dan dibiarkan saja, mengingat film ini menyasar pasar semua umur (maksudnya penonton anak-anak). Dan memang, tampaknya penonton belia akan menikmati aksi dari Paul Blart dan masa bodoh dengan segala kelemahan yang ada. Para bocah pasti terkesan dengan aksi Kevin James bergelantungan, bergulingan serta aksi lainnya yang dilakoninya tanpa menggunakan peran pengganti. Dan pastinya para bocah akan menyukai aksi Kavin James diatas Segway-nya.
Film ini makin garing dengan penampilan para cast-nya yang…ampun deh! Keir O’Donnel sebagai Veck (Fag?) terlihat seperti orang teler yang tidak meyakinkan untuk memimpin aksi perampokan. Jayma Mays terlihat seperti cewek gagu yang sibuk membuka mulut dan membelalakkan mata. Dan Kevin James sendiri tampil seakan kurang darah. Justru penampilan Bobby Cannavale mampu mencuri perhatian dengan wajah sinisnya, meski karakternya berhasil ditaklukan dengan begitu mudahnya. Dan sekali kesalahan pantas ditujukan kepada naskah yang garing, serta dangkal. Beberapa kelucuan memang sempat hadir, namun tidak mampu menutupi kedongkolan akibat lemahnya naskah tadi.
Padahal, cerita yang dihadirkan mempunyai potensi menjadi sebuah cerita yang seru, apalagi kalau Paul Blart didampingi side kick yang mampu mencairkan kegaringan yang menyelimuti sepanjang durasi. Ini yang menjadi tantangan penulis naskah demi menyelamatkan sekuelnya nanti, selain mempertahankan “prestasi” tidak menghadirkan hal-hal berbau cabul.
Selain melanjutkan aksinya menjaga keamanan dan ketertiban mall, Kevin James tampaknya akan makin disukai saat dirinya beralih menjadi penjaga hewan di The Zookeeper. Hmm… dari judulnya harusnya filmnya menjadi tontonan seru dan menegangkan. Perlu bantuan Chris Columbus barangkali?
Paul Blart : Mall Cop barangkali bisa menjadi pilihan ketika anak-anak membutuhkan tontonan yang lumayan aman. Roger Ebert boleh saja memberikan 3 bintang, namun bagi Gilasinema, Paul Blart : Mall Cop menjadi salah satu kandidat film terburuk di tahun 2009 ini. 2/5

2 komentar:

awya mengatakan...

what!!! roger ebert gave this movie 3/4????

waduh... kadang2 roger ebert emg rada aneh, tp kadang2 juga reviewnya keren abis....

17 again aja dipuji abis2an ma nih kritikus. meski blon nonton sih... jd penasaran...


hahahahaha....

hakimicture mengatakan...

Lagi musim kayaknya ya cerita polisi mall tahun ini, Jodi Hill juga bikin film bertema sama Observe & Report. Syukurnya ada aktris favorit saya Anna Faris disana.

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket