Senin, 04 Februari 2008

1BEONGA-UI GIJEOK (MIRACLE ON 1ST STREET )

Senin, 04 Februari 2008

Melihat film komedi dari Korea Selatan menghadirkan sensasi yang berbeda dibandingkan melihat film komedi produk Hollywood. Kalau film komedi Hollywood, akhir – akhir ini menuju kearah pendangkalan dengan menghadirkan humor dan gambar cabul untuk memancing kelucuan, film komedi dari Korea Selatan lebih memanfaatkan situasi sebagai sumber kelucuan. Hasilnya terasa lebih segar dan lebih nyaman untuk dinikmati.
Miracle on 1st Street bercerita mengenai sebuah pemukiman dengan segala romantikanya. Cerita diawali dengan masuknya Pil-je (Chang Jung Lim ) ke pemukiman tersebut. Dia adalah seorang mafia diutus oleh seorang pengusaha real estate yang ingin mengubah kawasan tersebut menjadi kawasan yang lebih baik. Kesialan demi kesialan mengiringi kehadiran Pil Je di pemukiman tersebut. Terutama dengan minimnya fasilitas yang diberikan oleh pengusaha yang mempekerjakannya. Disini kita disuguhi adegan-adegan lucu yang mengocok perut, terutama adegan ketike Pil Je minta kepada asistennya untuk dibuatkan WC duduk. Hidup Pil Je makin rumit karena ternyata tidak mudah membujuk penduduk di kawasan itu untuk menandatangani penyerahan tanah mereka.
Film ini makin asyik dan lucu ketika Pil Je mulai bersinggungan dengan beberapa orang di pemukiman tersebut, mulai dari 3 anak kecil dengan sifat yang unik sampai pertemuannya dengan Myung-ran, seorang gadis tomboi yang bercita-cita menjadi juara tinju tingkat Asia. Sejak saat itu hidup Pil Je menjadi lebih berwarna, sekaligus makin memperumit hidupnya. Kehadiran Pil Je yang awalnya dianggap musuh ini ternyata membawa perubahan di pemukiman tersebut. Disisi lain kita di juga disuguhi kisah cinta yang menghanyutkan.
Untuk sebuah film yang menggunakan judul Miracle, film ini tidak mengumbar keajaiban demi keajaiban yang ditampilkan berlebihan dan tidak masuk akal seperti halnya film lain yang menggunakan pkata Miracle dalam judulnya. Keajaiban disini ditunjukkan dengan halus, lewat perubahan hidup maupun karakter dari para tokohnya. Keajaiban nyang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengisi hidup mereka dengan cinta dan harapan.
Film ini juga lumayan banyak menampilkan kritik sosial. Terutama dalam menggambarkan perlakuan orang yang kaya modal terhadap orang-orang miskin. Kaum miskin selalu terpinggirkan di dunia yang sangat memuja materi ini. Pada kehidupan nyata, si miskin seringkali dianggap sebagai bagian yang tidak penting, bahkan menjadi beban. Oleh karenanya mereka seringkali diperlakukan dengan tidak manusiawi.
Akhir dari film inipun tidak berpihak kepada kaum marjinal tadi. Tapi film ini mengajarkan kita bahwa ada yang lebih berharga dari harta benda, yakni cinta yang membuat harapan tetap hidup dalam diri kita, dan jangan lupa untuk tetap tersenyum. Satu hal yang mengganggu dalam film ini adalah seringnya memukul kepala, terutama pada anak – anak. Mungkin di Korea Selatan hal tersebut sebuah hal yang wajar, tapi terlihat kasar bagi yang tidak biasa melihatnya. 3,5/5


English

1BENGOA-UI GIJEOK (MIRACLE ON 1ST STREET)

Seeing South Korean comedy film is bring different sensation comparing with the Hollywood's comedy film. If Hollywood's comedy film at recent days is going to dull with its humor and show some porn to pull the fun. South Korean comedy film is taking the situation to a source of fun. And it's more comfortable and enjoyable. Miracle on 1st Street tells about a district with all of live in it. It begin when Pil-Je (Chang Jung Lim) is arriving to the district. He is a mafia that send by a real estate businessman that want to change the district better than before. Especially with the minim facilities that given by the businessman who hired him. We will see funny scenes here especially when Pil Je ask his assistant to made him a sitting closet. Pil Je's live is getting complicated because it's not easy to persuade the inhabitant to sign the deal to give their home.
The film is getting funny when Pil Je is attach with some person who lived in there, from three little children who have unique personality to his meet with Myung Ran, a manly girl that has object to be an Asian champion as a boxer. Since then Pil Je's Live become colorful and getting complicated. The present of Pil Je that considered as an enemy become agent of change at that district. On the other side we will see the wander love story.
For a film that using miracle on the tittle, the film isn't show the miracle it self cheaply. Just not like the other film that using term of miracle on its tittle. The miracle here is shown with smoothly through transformation of the character. Miracle that can only feel by the people that fill their live with love and hope.
The film is also have social critic message. Like on the describe how the rich people treat the poor. The poor that always be marginal in the material world like today. And in the real live the poor is placed in the unimportant part, and become a burden. So they always take unproper treat as human.
Ending of the film is not taking side to the marginal people. But it's teaching us that there are thing that more valuable than material, which is love and hope. And do not forget to smile, always. One thing that annoying in this film is there are much slap on the head, especially to children. Perhaps it's usual thing in South Korea, but it's look too harsh to whom that not used to see it. 3.5/5

2 komentar:

Angel Zhou mengatakan...

I don't think slapping head of the children is included in South Korean's habit.
And yes it's disturbing, but that's reality.

How come you hope a bummer will act delicately while in fact, they are facing a hard world that brings them hard life.
How come you hope a harder life has a normal way of living like normal people in Korea.
It's like hoping a beggar could eat 3 times a day in a movie.
It means that's a fake movie.

But this movie brings up social critic, and that's why they get into the reality that should be criticized : inhumane treatments towards children and marginal life.

Angel Zhou mengatakan...

"Perhaps it's usual thing in South Korea, but it's look too harsh to whom that not used to see it."

This movie want to show us how hard it is to live like that. You got slapped, punched, and so on and so forth. So then, stoke holders and capital owners should think twice about displacing an estate, or at least make sure that householders will have appropriate places to live in.

If we don't see it harsh, it won't give any critic and message towards those rich people, and they will never change.

Sorry for the long comment but this is way reasonable, and for me, this movie deserves 4 out of 5 :D

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket