Senin, 07 September 2009

GOODBYE SOLO

Senin, 07 September 2009

Ramin Bahrani disebut-sebut Roger Ebert sebagai “new great American director." Selain itu, Screen Internasional juga mentasbihkan pria berusia 34 tahun ini sebagai salah satu "US Stars of Tomorrow". Filmography-nya mungkin memang belum banyak, namun semua karyanya dipuji sebagai karya berkualitas. Namun, nama yang satu ini mungkin masih terdengar asing, bahkan oleh para penggila sekalipun. Karya-karyanya memang jauh dari kesan komersil, salah satunya adalah Goodbye Solo ini.


Tidak seperti Collateral-nya Jamie Fox dan Tom Cruise, Tanpa basa-basi, kita langsung diperkenalkan seorang sopir taksi, Solo (Souleymane Sy Savane) dan penumpangnya, William (Red West). Penumpang paruh baya menawarkan sebuah kerja sama kepada Solo dengan bayaran yang sangat menggiurkan, yakni Solo harus menjemput dan mengantarnya pada tanggal yang telah ditetapkan, dan Solo tidak harus menjemput setelahnya.
Dari adegan awal ini, terdapat satu adegan yang sangat kuat dan menohok. Ketika Solo terus berbicara yang membuat William sebal dengan keberisikan tersebut, William menawarkan sejumlah uang yang langsung membuat Solo terdiam. Adegan ini seakan menggambarkan, materi (uang) bisa membeli apapun, termasuk kediaman. Untungnya adegan selanjutnya mementahkan penilaian ini.


Dari sini kita sudah diajak untuk melihat semacam kontra karakter dari keduanya. Solo yang berasal dari Senegal mempunyai karakter yang jauh lebih ramah dan hangat dibandingkan dengan William yang terkesan angkuh dan dingin serta membenci basa-basi. Solo yang mempunyai banyak relasi dengan manusia yang lain dihadapkan dengan William yang cenderung menarik diri dari kehidupan social.
Tawaran dari William tadi, meski bayarannya sangat menggiurkan, membangkitkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran pada diri Solo. Jangan-jangan orang tua ini berniat untuk mengakhiri hidupnya. Menuruti perasaannya, Solo berusaha “menyelamatkan” William dengan mendekatkan diri dengan William dan membawa masuk William ke dalam hidupnya. Anak tirinya yang cerdas, Alex (Diana Franco Galindo) juga dia libatkan dalam misinya tersebut.


Dan ketika istrinya Quiera (Carmen Leyva) yang sedang hamil tua mengusirnya gara-gara aksinya tersebut serta ketidaksukaan akan obsesi Solo menjadi pramugara, Solo memaksa untuk tinggal di motel tempat William menginap. William yang anti social awalnya menolak hal tersebut namun karena Solo yang sangat persuasive (baca:banyak omong), William terpaksa menerimanya.


Jangan harapkan hubungan keduanya menjadi membaik layaknya Jack Nicholson dan Morgan Freeman di The Bucket List. Memang William sempat bisa menerima kehadiran Solo, namun gara-gara tidak bisa mentolerir sikap Solo yang dia anggap sudah melewati batas, William mengusir Solo dan membatalkan kerja sama yang dia tawarkan di awal pertemuan.
Solo yang masih merasa bertanggung jawab “menyelamatkan” William, ngotot ingin mengantar ke tempat yang ingin William tuju. Tempat yang dikenal dengan nama “Blowing Rocks”, dimana benda yang kita lemparkan akan dipantulkan oleh angin ke atas. Ketika hari yang ditentukan telah tiba, dengan mengajak Alex, Solo mengantarkan William ke tempat tersebut, dan Solo akhirnya bisa merelakan pilihan hidup William setelah membaca coretan dari William. Apakah benar William akan mengakhiri hidupnya?


Goodbye Solo merupakan salah satu film yang tidak menawarkan solusi. Penonton dipaksa untuk menyimpulkan sendiri inti cerita ditulis oleh Ramin Bahrani dan Bahareh Azimi ini. Bahkan penonton dibiarkan untuk menyimpulkan sendiri apa yang berkecamuk dalam diri Solo lewat ekspresi wajahnya di penghujung cerita dan apa sebenarnya yang dilakukan oleh William.
Goodbye Solo dengan kesederhanaan cerita dan visual menyimpan banyak sekali tafsiran. Salah satunya adalah dengan dihadirkannya tiga karakter beda usia / generasi. Alex yang paling muda seakan dimaksudkan untuk menggambarkan generasi yang menyimpan banyak potensi yang seringkali tidak disadari oleh para orang tua. Solo berada di usia dimana dia harus menghadapi kenyataan mimpi-mimpinya harus rontok mengahadapi kenyataan. Sedangkan William merupakan generasi yang merasakan banyak pengalaman hidup, terutama penolakan dan kegagalan yang mengguratkan kelelahan dalam wajahnya.


Lewat film ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa perbuatan baik itu belum tentu benar. Seperti yang dialami oleh Solo yang terlihat terlalu keras menawarkan kebaikan terhadap William. Bagi sebagian penonton, Solo ini mungkin dilihat sebagai sosok yang ramah, hangat, sekaligus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap manusia lainya. Namun, bagi sebagian penonton, Solo bisa jadi merupakan sosok yang cerewet, suka ikut campur urusan orang dan menyebalkan. Pada akhirnya, Solo harus menerima bahwa segala sesuatunya punya jalannya sendiri-sendiri.


Setelah melihat filmnya, apakah Ramin Bahrani memang pantas ditasbihkan sebagai “new great American director."? Sah-sah saja rasanya, meski Glasinema lebih memilih Jason Reitman. Namun akan ada baiknya bagi sutradara yang gemar menampilkan banyak etnis difilmnya ini untuk menggarap film yang lebih nge-pop, mengajak bintang yang punya nama dan menggandeng studio yang lumayan lebih kondang. Buat yang menyukai tontonan semacam The Visitor, Goodbye Solo yang diberi rating 4/4 oleh Ebert ini bisa dijadikan tambahan referensi. (3/75/5)

6 komentar:

semuareview mengatakan...

walah, kupikir ini postingan pribadi, kalau mau ninggalin kota SOLO, hahaha... ternyata judul film.
sory kurang gaul, lama gak menyambangi lapak bajakan

gilasinema mengatakan...

Hahahaha...belum akan meninggalkan Solo dalam waktu lama :D

swindleroz mengatakan...

kayak before sunset endingnya tidak pasti :)
anyway yeah, belum pernah dengar film ini. cuma rilis di US kah?

gilasinema mengatakan...

Filmnya memang gak kondang blas. Tapi rajin mampir di beberapa festival, seperti Venice Film Festival, Toronto Film Festival, London Film Festival dan lain-lain. Dirilis juga di beberapa negara kok, kecuali Indonesia :D

semuareview mengatakan...

apalagi setelah UU perfilman yang baru disahkan. bioskop wajib tayang minimal 50% film indonesia! tambah seret pasokan film bagus...
sedih..., seni dikalahkan sama politik

Anonim mengatakan...

hahahaha.....g da politik sama ja kaya g da negara...nikmati ja pa yg ada....

Posting Komentar

 
GILA SINEMA. Design by Pocket