“Hahahaha…..sekarang saya dibungkan hanya karena berbeda?”
Entah kutukan apa yang menyelimuti hidup Jamila (Atiqah Hasiholan). Waktu kecil dirinya dijual oleh ayah kandungnya, sebelum akhirnya diselamatkan oleh ibunya. Jamila kemudian ditipkan ibunya kepada kerabatnya. Bukannya mendapatkan afeksi, edukasi dan proteksi, di situ Jamila malah mendapatkan pelecehan seksual yang mendorongnya untuk kabur ditengah kondisi hamil, hingga dia mengalami keguguran.
Belum cukup sampai disitu penderitaan Jamila. Dia juga nyaris diperkosa oleh orang yang menampungnya, hingga akhirnya jalan hidupnya mempertemukan dirinya dengan Susi (Ria Irawan yang seperti biasa fasih bergenit ria dan misuh-misuh) seorang pelacur. Selanjutnya, Jamila mulai berkubang di dunia “hitam” tersebut. Dan karena kecantikan serta kepintarannya, Jamila digambarkan termasuk pelacur yang punya kelas hingga mempertemukannya dengan menteri muda Nurdin (Adjie Pangestu, kenapa sih harus dia?). Hubungannya dengan Nurdin yang berpengaruh, ternyata malah mengarahkan Jamila ke arah kematian. Jamila divonis mati oleh pengadilan karena terbukti membunuh Nurdin, yang nota bene seorang pejabat Negara.
Tentu saja kisah yang dihadirkan dalam Jamila dan Sang Presiden dituturkan secara linear seperti gambaran diatas. Dengan gaya bertutur maju mundur, Ratna Sarumpaet selaku sutradara, produser sekaligus penulis cerita mengurai secara perlahan-lahan perjalanan hidup seorang perempuan bernama Jamila. Dalam kisah tadi, diselipkan banyak gugatan mengenai nasib para mereka yang termarjinalkan (perempuan).
Gugatan paling keras memang ditujukan kepada system yang membuat perempuan diposisikan sebagai komoditas belaka. Perjualan anak dan perempuan (human trafficking) makin marak, padahal aturan yang berkaitan dengan hal tersebut sudah ada. Kenapa gagal membendung kejahatan tersebut? Karena tidak ada ketegasan dari para aparatnya, yang membuat hukum kehilangan taringnya. Belum lagi indikasi keterlibatan oknum-oknum berpengaruh yang serakah.
Jamila bisa dibilang merupakan korban dari system yang ada. Apa yang dialami oleh Jamila dan perempuan-perempuan kurang beruntung lainnya merupakan akibat dari gagalnya pemerintah mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan selalu memunculkan kriminalitas. Kemiskinan seringkali tidak bisa diminimalisir karena kebodohan yang menjangkiti masyarakat. Kebodohan timbul karena system pendidikan yang diterapkan seringkali tidak tepat dan makin mahal. Jaman makin maju, namun pendidikan bukannya makin murah, justru makin tidak ramah, terutama untuk murid yang dianggap kurang mampu (secara financial dan otak).
Jamila juga merupakan korban dari system, dimana para lelaki masih sangat dominant, baik dari segi jumlah (pelaku) maupun dari segi peran. Perempuan belum dipandang sebagai mitra setaraf, hingga kadang mereka tidak dimanusiakan. Namun tidak bisa semuanya disalahkan kepada para lelaki, karena pada kenyataannya banyak perempuan yang juga berperan dalam “penjerumusan” kaum mereka sendiri. Agama yang sebenarnya menganjurkan menghargai perempuan di tempat terbaik, justru banyak disalah tafsirkan. Agama bukannya membebaskan justru digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyudutkan perempuan.
Sungguh banyak sekali gugatan yang ingin disampaikan oleh Ratna Sarumpaet dalam Jamila dan Sang Presiden ini. Dampaknya, film ini menjadi sebuah tontonan yang tajam dan kritis. Sisi negatifnya, karena terlalu banyaknya “teriakan” yang ingin disampaikan, membuat Jamila dan Sang Presiden terkesan cerewet dan menggurui. Kesan ini makin menguat karena Ratna Sarumpaet terlalu “rajin” menggunakan bahasa verbal dalam menyuarakan protesnya. Simak saja dialog Jamila dan Pak Kyai (Nizar Zulmi). Protes pada akhirnya menjadi khotbah menjemukan.
Hal ini bisa dimaklumi, karena naskah asli film ini yang berupa naskah panggung. Namun dengan media yang berbeda, harusnya Ratna menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Aksen teatrikal masih sangat kuat dalam film ini, terutama dalam hal naskah dan acting para pemainnya (dua hal ini memang saling terkait). Dan tampaknya Ratna terlalu setia dengan materi aslinya. Akibatnya konflik yang dihadirkan cenderung datar dan membosankan. Dari 5 orang yang menonton film ini, 2 orang sudah keluar sebelum film berjalan separuh! Sayang sekali, padahal Ratna mempunyai modal cerita yang amat kaya dan mempunyai potensi menjadi tontonan yang “menggedor” (nurani dan rasa).
Kesalahan terbesar dari cerita Jamila dan Sang Presiden menurut Gilasinema adalah lemahnya motif yang mendasari Jamila menghabisi nyawa Nurdin. Ketika sepanjang durasi kita disuguhi protes-protes akan bobroknya system yang ada dan nasib perempuan yang memprihatinkan, tiba-tiba semua dimentahkan oleh alasan sakit hati karena dikhianati kekasih tercinta! Rasanya seperti, berjalan diatas jembatan yang sedang dibangun, tiba-tiba jembatan runtuh karena ada kesalahan pada salah satu tiang penyangganya. BRUK!!!
Gilasinema membayangkan, kalau saja si Nurdin ini merupakan bagian dari pelaku human trafficking dan ada kaitannya dengan hilangnya Halimah (adik Jamila), tentu kisah yang dihadirkan akan lebih tajam konfliknya (ini sekedar imajinasi lho).
Dari segi pemain, Atiqah mampu memberikan penampilan terbaiknya. Dia mampu mengimbangi acting dari Christine Hakim. Adegan dua aktris beda usia tersebut di dapur sangat memikat. Atiqah pada beberapa scene juga cuaaantiiik sekali. Yang sedikit mengherankan, kenapa harus dibutuhkan 2 aktris dalam memerankan Jamila di usia tanggung (remaja). Christine Hakim dengan porsi yang terbatas, terlihat berusaha tampil maksimal. Sayang sekali hubungan antara Jamila dan Surya (Surya Saputra) serta Ibrahim (Dwi Sasono) kurang digarap lebih dalam, hingga penampilan dua actor muda tadi kurang tergali.
Perasaan cinta Ibrahim kepada Jamila porsinya terlalu sedikit hingga kurang meyakinkan. Untungnya Dwi Sasono dan Atiqah menampilkan ekspresi meyakinkan pada adegan perpisahan hingga terasa menyentuh. Poin plus patut diberikan kepada Ria Irawan yang membuat film menjadi lebih cair. Ajie Pangestu? Bisa diganti sih, namun kayaknya ini wujud kompromi Ratna dengan Pak Raam deh.
Satu hal yang menarik dari rilisnya Jamila dan Sang Presiden ini, yakni membuktikan bahwa seni merupakan salah satu media yang ampuh dan efektif dalam menyampaikan gugatan (protes). Hanya saja mungkin harus lebih dipikirkan dalam hal pengolahannya, agar mampu menyajikan sebuah tontonan yang memikat. Kalau audiens sudah terpikat, insya allah pesan yang ingin disampaikan bisa sampai ke sasaran. Kedepan, film semacam ini diharapkan akan selalu diproduksi. 3,25/5
NB: sempat ketar-ketir film ini tidak diputar, karena sampai jam tayang kuota minimal penonton belum terpenuhi (2 orang). Untung akhirnya terkumpul 5 penonton, meski kemudian yang 2 orang keluar ketika film belum genap 1 jam. Penonton Indonesia parah tenan!