Tampilkan postingan dengan label FOREIGN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FOREIGN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juni 2010

SHORT REVIEW : HUMANISME DALAM 3 FILM PERANCIS

Sabtu, 19 Juni 2010 2
L’HUMANITE (1999)


Kisahnya sebenarnya sangatlah simple. Seorang polisi, Pharaon De Winter (Emmanuel Schotte), menemukan mayat seorang gadis yang diperkosa dan dengan caranya sendiri, mencoba untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan karakternya yang cenderung lurus dan tampaknya mempunyai tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata, metode yang dia gunakan terlihat mentah. Wajahnya menyiratkan kekosongan, kebingungan, kemarahan, kesedihan maupun harapan. Film ini tampaknya merupakan semacam study of character dari Pharaon. Bagaimana karakternya dihadapkan pada karakter-karakter lain yang cenderung lebih “kasar” di tengah jaman dimana humanisme makin tergerus. Melalui proses yang sangat pelan (film ini berdurasi lebih dari 140 menit), kita bisa merasakan perubahan emosi dari Pharaon paska ditemukannya mayat gadis cilik tadi.


Sutradara dan penulis cerita Bruno Dumont tidak menjejali film dengan banyak dialog, namun lebih menyajikan ide-idenya dengan bahasa gambar. Dampaknya, penonton dituntut untuk lebih berpikir lebih keras tentang maksud dari creator. Beberapa adegan bisa kita pahami sebagai wujud berubahnya perilaku manusia, misalnya mobil box merah yang sangat besar yang tiba-tiba melintas di tengah pemukiman, perilaku Domino (Severine Caneele) dan Joseph (Philippe Tullier) yang cenderung mengumbar erotisme atau bagaimana atasan Pharaon menginterogasi dua anak kecil dan masih buaaanyak lagi. Sebuah film yang sangat kontemplatif dan tidak cukup menyaksikannya hanya sekali. Yang tidak saya mengerti adalah ketika di layar tiba-tiba tersaji gambar kelamin perempuan secara frontal dalam durasi yang cukup lama. Apakah ini wujud ketidaksenonohan? Entahlah. Film yang berhasil menggondol Grand Jury Prize, Best Actor dan Best Actress pada Cannes 1999 ini, auranya mengingatkan saya pada Cache-nya Michael Haneke. 4/5


THE DREAMLIFE OF ANGELS / LA VIE REVEE DES ANGES (1998)


Dibandingkan dua film diatas, film ini lebih bisa dinikmati dengan santai. Apalagi durasinya yang Cuma 113 menit. Dua cewek pekerja Isa (Élodie Bouchez ) dan Marie (Natacha Régnier) dipertemukan secara tidak sengaja. Keduanya tinggal di sebuah apartemen dimana pemiliknya, Sandrine (Louise Motte) sedang koma di rumah sakit. Awalnya kita melihat Isa dan Marie memiliki kesamaan hingga keduanya terlihat klop. Namun seiring berjalannya waktu, kita melihat betapa keduanya sangatlah berbeda. Ira sangatlah ekspresif, optimis dan realistis terhadap hidupnya. Sedangkan Maria cenderung tertutup, sinis dan mudah meledak serta cenderung apatis terhadap hidupnya. Dalam salah satu adegan, kita diberikan sedikit informasi tentang sejarah keluarga dari Isa dan Marie yang mempengaruhi kepribadian mereka.


Perbedaan karakter tersebut lantas membuat keduanya berselisih, terutama ketika Marie bersinggungan dengan Chris (Grégoire Colin) yang cenderung membuat Marie terlena dengan cinta semu. Ketika Marie terbuai dengan mimpi-mimpi, Isa menjalani hidupnya dengan lebih bersahaja. Dia menjalani pekerjaan apapun dengan ceria dan meluangkan waktu untuk menjenguk Sandrine dan menuliskan kisah bagi Sandrine. Dari kunjungan-kunjungan inilah Isa lebih bersyukur kan hidupnya dan juga membuatnya mempunyai harapan untuk bertahan hidup. Harapan yang sayangnya harus berhadapan dengan realita yang kejam dan mengejutkan, Seperti halnya adegan menjelang akhir yang membuat Isa sedih.Namun, hidup harus terus berjalan.


Sutradara sekaligus penulis cerita Erick Zonca mengemas The Dreamlife of Angels dengan sangat sederhana namun hasilnya adalah sebuah tontonan yang kuat, terasa nyata dan inspiratif. Temanya sangat dekat dengan keseharian kita. Penampilan dua bintang utamanya sangatlah natural dan meyakinkan. Keduanya mendapat predikat Aktris terbaik pada Cannes 1998. Filmnya sendiri berjaya di Cesar Award 1999. The Dreamlife of Angels sangat sayang untuk dilewatkan, terutama buat para cewek. 4,25/5

LA GRAINE ET LE MULET / THE SECRET OF THE GRAIN (2007)


Film arahan Abdellatif Kechiche ini mengisahkan bagaimana usaha Slimane Beiji (Habib Boufares), pria paruh baya berdarah Arab, yang mencoba menegakkan wibawanya ditengah situasi yang menghimpitnya. Mulai dari persoalan pekerjaan hingga persoalan keluarga, dimana Slimane seakan terbuang dan tidak dipandang oleh anak dan mantan istrinya. Meski sudah mempunyai istri lagi yang begitu pengertian serta anak perempuan yang tak henti menyemangatinya, wajah Slimane senantiasa menyiratkan kelelahan dan kepedihan. Kesempatan memperoleh wibawanya kembali datang ketika Slimane berniat mendirikan restoran keluarga di atas kapal. Pada saat pembukaan demi meyakinkan investor, awalnya semuanya berjalan lancar dan menyiratkan optimisme, namun situasi berubah total saat salah satu anak dari Slimane melakukan kesalahan yang tidak ia sadari.


Dengan durasi sekitar 150 menit, The Secret of the Grain terasa bertele-tele di 90 menit pertama. Pada bagian ini kita disuguhi adegan yang terkesan biasa saja. Namun tenyata, rentetan adegan-adegan yang terkesan biasa tadi sangat efektif mengikat emosi saya sebagai modal menikmati 60 menit terkahir yang sangat mengesankan. Kita dibuat harap-harap cemas paska kelalaian yang dilakukan oleh salah satu anak dari Slimane. Sesak nafas saya dibuatnya. Hancur lebur hati ini melihat usaha Slimane yang berlari sekuat tenaga, begitupun saat melihat pengorbanan yang dilakukan oleh anak dari istri kedua Slimane. Buat para pecinta film drama keluarga, film ini sangat saya rekomendasikan. Terasa nyata dan amat menguras emosi. Brillian. 4,5/5

Sabtu, 22 Mei 2010

MAN SOM HATAR KVINNOR ( THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO ) : KETIKA JUDUL BERKHIANAT

Sabtu, 22 Mei 2010 4

Apa yang ada di benak kamu saat membaca sebuah judul film? Pastinya langsung membayangkan apa gerangan isi dari film tersebut. Judul film itu idealnya dibuat semenarik mungkin, namun tanpa melakukan penipuan terhadap penonton. Tidak harus tepat sesuai dengan bayangan penonton, namun patut dicatat, rasanya akan terasa sebagai sebuah pengkhianatan kalau judul yang dicantumkan di poster tidak mencerminkan keseluruhan isi filmnya. Kasus termutakhir adalah Menculik Miyabi yang hanya menampilkan sekelumit Miyabi dan dari premis ceritanya, akan lebih tepat kalau di beri judul Salah Culik. Sebelumnya, Inglorious Basterds melakukan hal serupa demi hitungan bisnis. Kalau dicermati, Inglorious Basterds rasanya lebih tepat diberi judul Once Upon A Time ... In Nazi Occupied France yang malah dijadikan judul salah satu bab didalamnya. Judul adalah elemen pertama yang akan memandu penonton dalam memahami isi sebuah film. Ketidaktepatan pemilihan judul, selalu membuat saya kecewa hingga menurunkan kualitas film yang dimaksud di mata saya.


Män Som Hatar Kvinnor dirilis untuk pasar internasional dengan judul The Girl with The Dragon Tattoo. Ada alasan kenapa saya lebih suka menggunakan judul aslinya. Män Som Hatar Kvinnor mengisahkan sepak terjang Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) dan Lisbeth Salander (Noomi Rapace) dalam mengungkap misteri hilangnya salah satu anggota keluarga terpandang 40 tahun yang lalu. Keduanya sebenarnya tidaklah bekerja sama, bahkan Lisbeth awalnya diberi tugas untuk melakukan penelitian terhadap kehidupan Mikael Blomkvist, namun entah mengapa pada perkembangannya Lisbeth tertarik untuk membantu Mikael Blomkvist. Keduanya mempunyai persamaan, yakni mempunyai satu peristiwa yang menyulitkan gerak mereka. Kalau Mikail direpotkan dengan aksi membongkar penyimpangan dana, Lisbeth yang dinilai mempunyai masalah kejiwaan, harus menghadapi pengawasnya yang memanfaatkannya secara seksual.


Secara keseluruhan, Män Som Hatar Kvinnor sangatlah asyik buat dinikmati, terutama buat mereka pecinta kisah misteri. Materi cerita yang berasal dari novel karangan Stieg Larsson menghadirkan beberapa unsure yang lazim hadir dalam kisah misteri seperti pembunuhan para wanita dengan sadis serta perilaku seks menyimpang. Hmmm...terdengar seperti B Movie? Mungkin. Namun, rasanya sutradara Niels Arden Oplev cukup berhasil menjaga irama cerita hingga kisahnya lumayan asyik diikuti meski endingnya sangatlah klise. Kenikmatan saya ketika menonton film ini terganggu ketika di otak saya terpatri judul The Girl with the Dragon Tattoo. Dengan judul seperti itu, saya mengharapkan sebuah penampilan yang dominan dari si pemeran wanita, terutama dalam hal penggalian karakter. Kenyataannya, kehadiran Lisbeth tidaklah lebih banyak dari karakter Mikail, meski Lisbeth selalu datang sebagai penyelamat.


Saya heran, dengan judul The Girl with the Dragon Tattto harusnya kisahnya lebih banyak berpusat pada si Lisbeth, terutama mengenai latar belakang kehidupannya. Lisbeth dikisahkan melakukan kekerasan terhadap ayahnya, namun tidak ada visualisasi kekerasan sang ayah demi meyakinkan penonton untuk bersimpati hingga orientasi seksual dari Lisbeth terasa hambar. Selain itu, tidak ada penjelasan yang memuaskan tentang bagaimana dia bisa begitu hebat sebagai seorang hacker, kecuali interaksinya dengan hacker lain yang juga tidak jelas bagaimana keduanya bisa bekerja sama. Yang paling fatal, dengan judul The Girl with the Dragon Tattoo, tidak ada satupun adegan yang menguatkan kenapa dia mempunyai tato naga dipunggungnya dan berpenampilan ala anak punk. Tatonya sendiri juga jarang sekali disorot kamera. Jadi, dalam pandangan saya, judul The Girl with the Dragon Tatto dipakai hanya demi terlihat lebih keren dan menjual. Pemilihan judul The Girl with the Dragon Tattoo yang tidak mencerminkan isi filmnya, membuat saya tidak bisa dibuat kagum dengan aksi Naomi Rapace yang dipuji banyak orang.


Saya lebih bisa menerima film ini ketika dipakaikan judul Män Som Hatar Kvinnor yang artinya, didapat dari Mbak Wiki tentu saja, adalah Men Who Hate Women. Kasus yang coba diungkap oleh Mikail dan Lisbeth ada kaitannya dengan kekerasan pria terhadap wanita. Selain itu, hidup dari Lisbeth juga dikelilingi oleh pria-pria yang keras terhadap para wanita. Dengan judul Män Som Hatar Kvinnor/ Men Who Hate Women saya lebih bisa memahami mengapa Lisbeth menjalin hubungan dengan perempuan, mengapa Lisbeth terasa begitu emosional terhadap si pelaku pembunuhan berantai dan mengapa Lisbeth pada suatu malam mengangkangi Mikail. Selipan isu Nazi dipakai buat mengacaukan tebakan penonton, serta kasus Mikail melawan perusahaan besar, hadir masih sebatas di permukaan. Soal kasus Mikail ini, mungkin akan digali lebih dalam di film selanjutnya. Män Som Hatar Kvinnor memang merupakan bagian pertama dari Millenium Trilogy.


Bagi yang suka kisah misteri ala Agatha Christie, Män Som Hatar Kvinnor tentu sayang untuk dilewatkan. Ketika menyaksikan film ini, terus terang saya seakan menyaksikan sebuah kisah yang diadaptasi dari novel karangan penulis yang paling saya gilai tersebut. Bagaimana Mikail menganalisa kasus serta melakukan investigasi di lokasi, mengingatkan pada gaya Poirot. Suka juga dengan Crimson Rivers? Meski tidak terlalu menegangkan, Män Som Hatar Kvinnor tidak kalah asyik dengan film yang menampilkan Jean Reno tersebut. Dengan karakterisasi serta dandanan yang terlihat keren, para cewek ada kemungkinan terpikat dengan aksi Noomi Rapace. Kalau boleh menyarankan, jangan terpaku dengan judul The Girl with the Dragon Tattoo ketika menyaksikan film ini dan alangkah lebih baik kalau berpegangan pada judul aslinya. Pendekatan serupa juga disarankan ketika menikmati dua kisah Lisbeth selanjutnya. 3,75 (dengan judul The Girl with The Dragon Tattoo : 3,25/5)



Wanita bertato naga juga ada di :
LABIRIN FILM
AT THE MOVIES

Jumat, 07 Mei 2010

A PROPHET ( UN PROPHETE )

Jumat, 07 Mei 2010 4

Belum genap berusia 2 dekade, Malik El Djebena (Tahar Rahim) dihadapkan pada kenyataan harus hidup di dalam penjara selama 6 tahun. Di dalam lingkungan yang cenderung membentuk kelompok agar bisa bertahan hidup, Malik dengan polosnya cenderung menyendiri. Kehidupannya dalam penjara mengalami perubahan saat seorang pimpinan mafia keturunan Korsika, César Luciani (Niels Arestrup) memanfaatkan dirinya yang merupakan keturunan Arab untuk melakukan sebuah misi kejam. Sebagai imbalan, Malik akan mendapatkan perlindungan selama di penjara. Rasa aman di dalam penjara merupakan sesuatu yang mahal, mengingat sipir penjara kalah berkuasa dengan para criminal besar yang memiliki banyak uang.


Meski dihinggapi rasa bersalah, Malik terpaksa melaksanakan misi tersebut yang diawali dengan pelatihan yang akan membuat mulut penonton berdesir. Eksekusi dari misi tersebut juga terlihat mengejutkan. Setelahnya, Malik menjadi semacam antek dari Luciani. Kesempatan besar datang ketika orang-orang yang berada di sekitar Luciani memperoleh kebebasan. Kesempatan demi kesempatan bagus menghampiri Malik yang untungnya bisa dia manfaatkan dengan bagus. Pada berkembangannya Malik justru mempunyai kemampuan lebih dibandingkan Luciani terutama dalam merangkul mafia dari berbagai ras.


Dalam agama, seorang nabi itu adalah seorang yang dipilih oleh Tuhan untuk menyebarkan ajaran kebaikan dan menyatukan semua umat untuk selalu dalam jalan Tuhan. Konsep penyatuan inilah yang mungkin dipakai dasar Jacques Audiard dalam pemilihan judul A Prophet. Namun, Bagi Gilasinema, Malik lebih tepat disebut sebagai seorang entrepreneur ketimbang seorang nabi. Tapi gak lucu kali ya kalau film ini dikasih judul ENTREPRENEUR atau WIRAUSAHAWAN. Kenapa Malik itu seorang wirausahawan? Karena tanpa dia sadari dia telah menerapkan prinsip-prinsip seorang wirausahawan. Beberapa Ciri-ciri seorang wirausahawan yang unggul adalah mampu memanfaatkan setiap kesempatan serta mampu berimprovisasi setiap kali ada masalah.Langkah-langkah Malik terencana dengan baik, memiliki kemampuan negosiasi yang prima, mampu membaca situasi serta selalu mau belajar demi meningkatkan kemampuan. Dan yang paling penting, karena Malik berusaha di lahan yang sangat berbahaya, dia harus berani mengambil resiko apapun. Dengan menerapkan prinsip-prinsip diatas, tidak mengherankan kalau Malik mampu menuai “kesuksesan”. Kalau diibaratkan, dia memulainya sebagai pekerja magang dan dalam perkembangannya mampu mempunyai usaha sendiri.


A Prophet sebenarnya mempunyai pola cerita layaknya kisah from zero to hero. Ada naik turunnya, sebelum akhirnya dia keluar sebagai pemenang. Kisah Malik dalam A Prophet di satu sisi, tidak jauh berbeda dengan kisah Nur (Acha Septriasa) di Menebus Impian. Namun karena Malik berkecimpung di dunia hitam, sensasi yang dihadirkan terasa lebih kasar, keras dan liar serta mengejutkan. Kisah dalam A Prophet juga membuktikan kebenaran dari petuah bijak jangan campurkan apel segar dengan apel busuk karena pencampuran tersebut akan berdampak buruk pada apel yang masih segar tadi. Lihat saja perubahan yang terjadi pada Malik gara-gara masuk penjara, meski perubahan tersebut sebenarnya merupakan bentuk proses beradaptasi demi bertahan di lingkungan baru.


Lewat proses adaptasi inilah kita disuguhi sebuah perkembangan karakter yang menarik dan dipresentasikan oleh Tahar Rahim dengan luar biasa apik, mengingat filmografinya masihlah minim. Ketika pertama kali masuk penjara, dia mampu menampilkan wajah muda naif untuk kemudian secara perlahan berubah menjadi makin keras dan cerdas. Tidak munculnya ”hantu” korban pertamanya merupakan wujud dari transformasi kekejaman dalam diri Malik. Tak ada lagi rasa bersalah ketika dia harus mencabut nyawa orang lain. Peran Niels Arestrup sebagai César Luciani juga tidak bisa dianggap remeh. Niels Arestrup mampu menampilkan sosok gembong mafia yang disegani. Meski sudah dimakan usia, masih terlihat aura penguasa, dan bahkan masih bisa menghadirkan kekejaman. Melihat aksi Niels Arestrup, Gilasinema membayangkan, apa jadinya ya kalau karakter César Luciani ini bertemu dengan karakter yang diperankan Jack Nicholson dalam The Departed.


Gambaran kondisi penjara di A Prophet ternyata tidak jauh berbeda dengan penjara di Indonesia. Seorang kriminal besar ternyata lebih berpengaruh dibandingkan dengan para pengelola penjara, bahkan mereka juga punya kuasa terhadap mereka-mereka yang mempunyai kedudukan di luar penjara. Berkat dana yang melimpah dan para pengikut yang loyal nan kejam, seorang kriminal bisa mengendalikan semuanya dari dalam penjara. Yang membedakan dengan penjara di Indonesia, kondisi penjara yang dihadirkan di A Prophet terlihat lebih bersih dan fasilitasnya terlihat lebih komplet. Lewat A Prophet, kita juga bisa meyaksikan wajah lain dari orang keturunan Arab. Rasanya baru kali ini Gilasinema menyaksikan film produksi non-negara Arab yang menampilkan orang Arab sebagai seorang mafia. Jagoan lagi. Dalam kebanyakan film (Holly), orang Arab seringkali digambarkan kalau tidak sebagai teroris ya sebagai sosok yang taat beragama serta cenderung kaku dan picik.


Jacques Audiard, lewat A Prophet berhasil menyajikan sebuah sajian yang mengasyikkan. Tidak terlalu ringan, namun juga tidaklah terlalu memberatkan pikiran. Irama cerita berjalan cukup cepat, hingga durasi 2 jam lebih tidaklah terasa melelahkan. Sangat sayang untuk dilewatkan dan jadilah saksi aksi menawan dari Tahar Rahim yang wajahnya kadang mirip Antonio Banderas, kadang mirip Reza Rahadian. A Prophet merupakan salah satu film terbaik yang menggunakan setting penjara. 4/5


SANG NABI JUGA ADA DI :
KRITIK PENONTON
YUSAHRIZAL

Selasa, 04 Mei 2010

VERTIGE

Selasa, 04 Mei 2010 4

Sekumpulan pemuda, 3 cowok dan 2 cewek, memutuskan mengisi liburan dengan melakukan pendakian di sebuah tebing di daerah Kroasia. Tanpa banyak basa-basi layaknya Opera van Java, kita diajak langsung menuju TKP dengan sedikit pengenalan karakter. Diantara lima pemuda tersebut, ada satu orang yang sebenarnya tidak mempunyai pengalaman dalam pemanjatan tebing. Keikutsertaannya lebih karena ceweknya suka dengan aktivitas tersebut dan si cewek kebetulan sedang dirundung trauma gara-gara salah satu pasiennya meninggal di depan matanya. Dan lagi, dalam pemanjatan tersebut ada mantan cowok si cewek yang tampaknya masih memendam rasa.


Meski sudah ada peringatan kalau lokasi pemanjatan sedang ditutup untuk perbaikan, mereka nekat meneruskan aksi mereka. Rintangan pertama bisa dilalui dengan cukup mulus, namun ketika sampai pada rintangan kedua, salah satu pemudi hampir celaka. Sampai disini, penonton sukses dicekam ketegangan dengan setting ketinggian yang membuat berdesir, serta tangan dan kaki menjadi basah. Masalah kemudian muncul ketika si amatir mulai mengalami kesulitan meneruskan perjalanan yang dampaknya bisa membahayakan keselamatn yang lain. Dua orang memisahkan diri untuk melakukan aksi penyelamatan. Tak disangka, hadir ancaman dalam bentuk lain yang siap merampas nyawa mereka berlima. Mampukah mereka bertahan dan selamat?


Premis kisahnya sedikit mengingatkan pada The Descent, bedanya kali ini nuansanya lebih cerah karena berada di atas tanah dan lebih banyak menyorot aksi kelima pemuda tadi di siang hari. Pendekatan ini mampu memberikan bonus tersendiri pada penonton dengan tampilan alam yang cukup indah. Bagi Gilasinema, adegan-adegan pemanjatan diawal menjanjikan sebuah tontonan yang segar dan menegangkan mengingat jarangnya film yang mengangkat soal pemanjatan tebing. Namun, ketika kelima tokoh tadi dipertemukan dengan satu makhluk gila, Vertige menjadi tontonan yang membosankan. Tiba-tiba saja film ini berbelok arah menuju kisah slasher yang klise. Ibaratnya, saat sudah siap melakukan penetrasi, ada orang yang mengetuk pintu. Gak jadi deh asyiknya.


Parahnya lagi, kesadisan yang dihadirkan sangatlah tanggung dan cenderung ”ramah”. Film ini makin membosankan ketika tak ada eksploitasi raga wanita pirang layaknya slasher kebanyakan, padahal ”potensi” yang dimiliki oleh salah satu pemainnya cukup menggoda. Statistik yang diungkap di akhir kisah juga mempunyai korelasi yang lemah dengan isi cerita. Gilasinema membayangkan, andai saja film ini lebih mengedepankan aksi pemanjatan tebing yang membahayakan, pasti film ini bakal jauh lebih menarik dan inovatif. Kehadiran makhluk gila sah-sah saja asal konsisten dalam penggambaran pemanjatan tebing. Membayangkan, kejar-kejaran sambil memanjat tebing yang tinggi saja sudah membuat hati berdesir. Sayang sekali....2/5

Senin, 26 April 2010

MY EX ( FAN KAO )

Senin, 26 April 2010 0

Ken (Chakhrit Yamnam) adalah seorang seleb yang tentu saja mempunyai pesona ragawi nan menawan. Namun, dengan anugrah keindahan fisik tersebut, tidak membuat Ken mempunyai perilaku yang indah, terutama dalam hal percintaan. Dia gampang sekali berganti-ganti cewek. Bahkan, dalam satu kesempatan dia mengencani lebih dari satu cewek. Ken tidak menyadari akibat fatal dari perilakuinya tersebut sampai terror demi terror menghampiri dirinya dan mengancam nyawanya selain orang-orang yang ada disekitarnya, termasuk cewek yang sedang menjadi gandengannya sekarang.


My Ex kabarnya menjadi salah satu film yang laris di Thailand sana. Apa sih istimewanya film ini? Kalau kamu rajin mengikuti perkembangan I-Horror, My Ex sangatlah tidak istimewa. Jalinan kisahnya mirip dengan kebanyakan I-Horror. Hantu cewek yang menteror mantan cowoknya yang tidak mampu mengontrol “pergerakan” kelaminnya. Hantu cewek tersebut juga banci tampil dengan muncul disetiap tempat, di setiap waktu. Karena telalu banyak nampang, tak ada kejutan dan kengerian dalam My Ex ini. Adegan berdarah-darahnya mengingatkan pada film horror garapan Nayato. My Ex semakin tidak bisa dibedakan dengan I-Horror dengan hadirnya beberapa adegan sensual (yang sayangnya disensor). Buat penonton cewek, pesona Chakhrit Yamnam yang pernah mendampingi Nicholas Cage di Bangkok Dangerous bisa memberikan kesegaran tersendiri. Buat yang sebal dengan karakter Ken, jangan kuatir, karena dalam film ini dia dibuat mati berkali-kali. Kasihan itu cowok, namun sepadan kali ya sebagai balasannya biar jera. (jera kok nunggu mati!)


Yang membuat Gilasinema heran dan bosan dengan formula film horor adalah mengapa sih cewek yang patah hati harus mati dan menghantui. Sekali-kali cowok kek yang patah hati dan jadi setan. Makanya kalau pacaran jangan main kelamin dong. Baru pacaran gitu. Kalau gak kuat nahan nafsu, pakai pengaman atau lebih bagus kalau bertanggung jawab menerima akibatnya dan tidak meraung-raung minta pertanggungjawaban. Lha kemaren ngelakuinnya suka sama suka kan, kecuali kalau kamu diperkosa. Percaya deh, kalau cowok kamu bener-bener cinta, harusnya minta begituan kalau sudah berani bersumpah di hadapan Tuhan dengan saksi keluarga. Saling menjaga gitu.


Hmmm...akhir-akhir ini seringkali ngelantur. Kesimpulannya, tak ada yang baru yang dihadirkan dalam My Ex. Hanya I-Horror yang dikemas dengan tampilan visual yang lebih rapi. Kehadiran bunga Kamboja sedikt memberi sentuhan yang berbeda. Sedikiiiiit...Buat cowok, jaga pergerakan kelamin kalian. Cewek yang kamu khianati bisa saja membahayakan dan menghancurkan hidupmu. 1,75/5

Minggu, 11 April 2010

RANN

Minggu, 11 April 2010 5

“A filmmaker is like a journalist. The point is that a filmmaker is like a journalist in projecting reality in the true sense of the word. Only thing is he dramatically packages it to make more effect." (Ram Gopal Varma)

Dua televisi berita saling bersaing. India 24/7 yang dipimpin Vijay Malik (Amitabh Bachchan) dan H24 pimpinan Amrish Kakkar (Mohnish Behl) yang dulunya bekerja di India 24/7. Kalau Vijay Malik menjalankan televisinya dengan idealisme tinggi, Amrish Kakkar menghalalkan segala cara untuk menjadi nomor satu. Menariknya, Amrish Kakkar ditopang dana dari menantu Vijay Malik yang seorang pengusaha, Naveen Shankalya (Rajat Kapoor). Di tengah persaingan yang ketat, rating dari India 24/7 cenderung turun mengingat H24 yang lebih agresif serta mempunyai mata-mata di India 24/7 hingga senantiasa berhasil mensabotase setiap program baru yang akan diluncurkan India 24/7.


Berbeda dengan ayahnya yang terlihat lebih tenang menghadapi ancaman kehancuran India 24/7, Jai (Sudeep) cenderung menyikapinya dengan amat emosional. Berbekal ilmu yang diperoleh dari sekolah di USA, Jai menjadi pribadi yang angkuh dan mempunyai ambisi besar untuk menjadi nomer satu. Ketika berada di puncak frustasi akibat program yang dia rancang didahului TV tetangga, datang tawaran menarik dari Mohan Pandey (Paresh Rawal), seorang politikus busuk yang berusaha menggoyang Perdana Menteri yang tengah menjabat. Ternyata Mohan Pandey ini berkolusi dengan Naveen Shankalya.


Setelah bergelut dalam dilema, akhirnya Jai tunduk dalam rencana busuk dari Mohan Pandey. Disusunlah rencana yang bakal membuat Mohan Pandey menjadi Perdana Menteri, Naveen Shankalya sebagai pengusaha nomer satu, dan tentu saja India 24/7 berjaya memuncaki rating. Di tengah persaingan dua stasiun televisi tersebut, hadir Purab (Ritesh Deshmukh), jurnalis muda yang idealis dan memuja Vijay Malik. Sebagai orang baru, dia merasa ada yang tidak beres dan berusaha membongkar hal tersebut yang pada akhirnya menjatuhkan semua pihak yang terlibat, termasuk orang yang dipujanya yang terseret kebohongan anaknya.


Akhir-akhir ini dunia pertelevisian kita digemparkan dengan berita dugaan manipulasi narasumber yang dilakukan oleh salah satu TV Berita Nasional. Meski kebenarannya masih perlu pembuktian, tak pelak hal tersebut memunculkan pertanyaan seputar independensi sebuah media berita. Apalagi kalau owner-nya adalah seorang politikus yang juga pengusaha kelas wahid. Tidak bisa dipungkiri, media seringkali dijadikan sarana untuk memperkuat atau meraih kekuasaan. Orang yang berkuasa adalah orang yang bisa menguasai media karena hal tersebut berkaitan dengan kekuatan dalam mengendalikan pengetahuan dan persepsi orang banyak. Persatuan pemilik media dengan politikus dan pengusaha menghasilkan sebuah kekuatan dahsyat yang kalau berlandaskan meraih kepentingan individu atau golongan tertentu bisa sangat berbahaya. Media berita yang harusnya mengabarkan, justru membuat kabar. Kebenaran dipermainkan. Memporak-porandakan batas antara fiksi dan realita. Mengerikan!


Rann sangat pantas disaksikan karena terasa amat aktual dengan kondisi pertelevisian nasional terkini di negara kita. Karena ini produk Bolly, maka jangan heran kalau digarap dengan gaya bertutur yang mungkin terasa berlebihan, layaknya musik dalam film ini yang terdengar agak terlalu keras di kuping. Banyak narasi khotbah didalamnnya, terutama pada endingnya ketika Vijay Malik membongkar konspirasi yang melibatkan stasiun TV miliknya. Meski demikian, Rann terasa asyik dinikmati berkat kecepatan bercerita dari Ram Gopal Varma (RGV). Apalagi durasinya cuma sekitar 2 jam saja. Tanpa basa-basi, RGV langsung ke inti persoalan. Beberapa adegan mempunyai ketegangan yang cukup memikat. Rann juga ditopang desain produksi yang mantap. Warna-warna hitam, putih dan abu-abu tampil sangat dominan hingga menghasilkan konsep visual yang kuat dan nyaman dimata. Sayangnya, kecepatan bercerita ini mempengaruhi kualitas cerita yang terkesan dipaksakan. Bagaimana mungkin pemilihan Perdana Menteri bisa diselenggarakan secepat itu? Langkah Vijay Malik yang menayangkan video aspal terasa terlalu gegabah dilakukan oleh seorang yang idealis dan berpengalamam puluhan tahun di dunia pertelevisian. Selipan isu seputar agama terasa nanggung.


Sekali lagi Amitabh Bachchan menunjukkan kelasnya sebagai actor hebat yang rasanya belum bisa dikalahkan actor Bolly lainnya. Setelah ”merampas” semua gelar aktor terbaik di berbagai ajang movie award lewat PAA, Amitabh Bachchan kembali menuai pujian lewat perannya sebagai Vijay Malik yang karismatik. Rasanya tidak ada aktor lain yang bisa lebih baik memerankan tokoh tersebut. Paresh Rawal sekali lagi membuktikan keahliannya berperan antagonis yang banyak dia lakoni sejak era 1980-an. Aktor satu ini telah membintagi 200 judul lebih lho. Dia pernah tampil dalam Paa (2009), De Dana Dan (2009), Jaane Tu... Ya Jaane Na (2008), Bhool Bhulaiyaa (2007), Cheeni Kum (2007), Garam Masala (2005), Dil Ka Rishta (2003), Awara Paagal Deewana (2002), Nayak: The Real Hero (2001) yang merupakan film Bolly favorit Gilasinema, Har Dil Jo Pyar Karega (2000), Phir Bhi Dil Hai Hindustani (2000) dan masih banyak lagi. Sudeep yang filmografinya belum begitu banyak tampaknya punya potensi bagus untuk meneruskan kiprah Paresh Rawal. Ritesh Deshmukh yang banyak dipuji lewat Masti (2004) sayangnya tampil terlalu datar. Rann terkesan meminggirkan peran perempuan di dunia media hingga penampilan para aktrisnya kurang tergarap. Satu karakter perempuan mempunyai peran cukup penting, itupun dengan karakterisasi yang tidak simpatik. Meski tidak sedahsyat Wag the Dog, Rann sangat Gilasinema rekomendasikan. 3,25/5



SEDIKIT TENTANG RAM GOPAL VARMA
Selain karena temanya yang aktual, Rann sayang untuk dilewatkan karena film ini merupakan karya dari Ram Gopal Varma. Pria berusia 48 tahun pada tanggal 7 April kemarin ini termasuk sineas yang sangat disegani di Bolly sana. Sekolah di jurusan mesin, dia berhasil di bidang penyutradaraan dengan hanya belajar dari banyak film yang dia tonton di waktu mudanya. Potensinya dikenali lewat Rangeela (1995) yang dibintangi Aamir Khan, Jackie Shroff dan Urmila Matondkar sukses besar di pasaran. Kiprah RGV makin tak terbendung ketika sukses dengan trilogy Satya (1998), Company (2002) dan D (2005) yang mengangkat tema gangster. Danny Boyle mengaku terinspirasi Satya dan Company ketika menggarap Slumdog Millionaire. Sarkar (2005) dan Sarkar Raj (2008) merupakan dwilogy, dimana untuk Sarkar merupakan adaptasi dari novel The Godfather. Sukses RGV berlanjut dengan Bhoot, sebuah thriller psikologis yang sukses besar dan diakui RGV sebagai karya terbaiknya. RGV selalu menghadirkan film dengan pace cepat dan memacu adrenalin. Setelah Rann yang jeblok di pasaran, RGV sedang siap-siap merilis Phoonk 2 yang merupakan sekuel dari Phoonk (2008). Dalam Phoonk 2, RGV kembali mengajak Sudeep.

"Making love is an emotional experience which makes you feel a high about your love and yourself. Fucking is an intense experience which borders on a feeling of wanting to conquer or achieve. And having sex is a necessity like to sneeze or to cough." (Ram Gopal Varma)

Kamis, 11 Maret 2010

FISH TANK

Kamis, 11 Maret 2010 6

Mia (Katie Jarvis) tak ubahnya ikan yang terjebak dalam sebuah akuarium yang membatasi ruang geraknya padahal dia mempunyai daya untuk bergerak di lautan luas. Diusianya yang belia, Mia harus hidup dengan ibunya yang jauh dari kesan tanggung jawab, terjebak dalam lingkungan rumah susun padat dimana tidak ada orang yang bisa membangkitkan rasa hormatnya. Jebakan terbesar adalah dirinya sendiri dimana dia berada pada usia yang idealnya banyak mencurahkan ide dan gerak. Tak heran, tari menjadi pelampiasan Mia dari segala batas yang ada disekelilingnya. Meski dalam ruang kecil, ketika menari, Mia merasa bebas.


Karena hidup dalam ruang lingkup yang sempit, Mia (dan banyak remaja lainnya) menjadi sosok yang impulsive sekaligus naïf. Dimata Mia, semua terlihat tidak ada yang benar. Semangat kebebasannya ditunjukkan dengan usahanya membebaskan kuda tanpa peralatan yang cukup. Tindakan ini juga mencerminkan kepolosannya dalam menghadapi dunia luar yang kejam. Begitupun ketika dia secara perlahan tertarik dengan Connor (Michael Fassbender) untuk kemudian dibuat babak belur oleh kenyataan. Mia seakan mewakili banyak remaja didunia (entah cowok atau cewek) yang dengan keangkuhannya merasa sanggup menjalani hidup dengan caranya sendiri. Padahal, dalam prosesnya dia harus berhadapan dengan kemunafikan, kekejaman dan kelicikan. Realitas yang tidak bersahabat. Buat yang tidak kuat, bisa tergoda mengambil jalan pintas, namun bagi mereka yang berkepribadian istimewa, semua hal tadi bisa menjadi bekal dalam mengarungi hidup selanjutnya.


Banyak yang menyamakan Fish Tank ini dengan Precious ataupun An Aeducation. Ada benarnya juga sih, beberapa bagian dalam Fish Tank mengingatkan pada Precious seperti kondisi ekonomi, kurangnya peran ayah dan kondisi social tempat tinggal si pemeran utama. Kemiripan dengan An Education terletak pada letupan hormone usia muda dan bagaimana kehadiran pria matang memberikan sensasi menghanyutkan dan pengalaman yang menyakitkan. Secara keseluruhan, Fish Tank lebih tepat diperbandingkan dengan An Education. Hanya saja, Fish Tank terkesan lebih apa adanya hingga (mungkin) terasa lebih nyata.


Namun, meski temanya hampir mirip, keduanya mempunyai materi-materi yang kontradiktif. Kalau An Education memasukkan unsure komedik, Fish Tank terasa dramatis, bahkan menyesakkan. Tokoh yang diperankan Carey Mulligan berasal dari keluarga mampu, sedangkan Mia berasal dari keluarga yang tidak bisa dibilang mapan. Faktor ini juga menguatkan kesan dramatis tadi, selain juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan pemerannya. Katie Jarvis terlihat lebih tua dibandingkan Carey Mulligan, padahal kenyataannya, Katie Jarvis jauh lebih muda dibandingkan Carey Mulligan. Saat syuting, Katie Jarvis berusia 17 tahun. Bandingkan dengan Carey Mulligan yang berusia 24 tahun. Yang pasti, penampilan keduanya yang bagus menegaskan Inggris Raya sebagai penghasil actor/aktris berkulitas. Salut buat Katie Jarvis yang didebutnya ini mampu tampil total dan rela dibuat babak belur. Sekedar informasi, Katie Jarvis ini sekarang sudah mempunyai anak lho.


Menyaksikan Fish Tank seakan mengalami de javu buat mereka yang pernah menyaksikan karya Andrea Arnold sebelumnya, Red Road. Meski Fish Tank tidak menghadirkan penampakan selangkangan pria layaknya Red Road, keduanya menghadirkan setting tempat yang mirip dan gaya pengambilan gambar yang serupa. Fish Tank terlihat lebih cerah karena banyak menghadirkan suasana siang, sedangkan Red Road banyak bermain di area-area gelap. Namun, Fish Tank terlihat cantik dengan sudut pengambilan gambar yang memungkinkan cahaya berperan indah didalamnya. Soal setting, tampaknya Andrea Arnold terpikat dengan kompleksitas kawasan rumah susun. Lihat saja bagaimana Andrea Arnold dalam Fish Tank memberi gambaran rumah susun yang seperti penjara selain pagar-pagar atau pembatas yang senantiasa hadir dibanyak adegan. Sebuah film yang memikat dan lebih bagus ketimbang Precious. 4,25/5



FISH TANK JUGA ADA DI :
AT THE MOVIES
LABIRIN FILM

Kamis, 26 November 2009

LOOKING FOR ERIC

Kamis, 26 November 2009 1

Eric Bishop (Steve Evets) usianya tidak muda lagi. Di usia yang idealnya diisi dengan ketenangan justru menjadi masa terberat dalam hidup Eric. Gara-gara diminta bantuan oleh anak perempuannya, dia harus berhadapan dengan istri yang telah lama dia tinggalkan, Lily (Stephanie Bishop). Di tengah kegalauan ini dia juga harus menghadapi dua anak angkatnya yang beranjak remaja dan tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun.


Kondisi ini membuat Eric menjadi sosok yang keras, pemurung dan cenderung banyak mengumpat. Teman-teman bekerjanya di kantor pos selalu siap membantunya, namun usaha mereka menemui kegagalan, bahkan hanya untuk sekedar membuat Eric tersenyum. Hanya kepada Eric Cantona sajalah Eric bisa mengeluarkan segala unek-uneknya.
Tentu saja dalam hal ini bukanlah Eric Cantona yang sebenarnya. Karena saking mengidolakan Sang Raja, Eric menghadirkan sosok Eric Cantona di dunia nyata, layaknya John Nash dengan sosok imajinernya di A Beautiful Mind. Berbeda dengan sosok imajiner John Nash yang destruktif, Eric Cantona justru membantu Eric dalam membuka selubung demi selubung yang menjerat hidupnya, terutama dalam usahanya menata ulang kehidupan cintanya dengan Lily.


Ketika hubungan Eric dan Lily menuju kearah yang indah, Eric dihadapkan pada masalah yang menimpa salah satu anak angkatnya. Masalahnya tidak main-main karena berkaitan dengan anggota gank tertentu. Eric yang juga ingin membuktikan pada dua anak angkatnya bahwa dia berhak untuk dihormati, berusaha membantu dengan menemui langsung gank tersebut. Bukannya dibuat takut, para gank tadi justru membuat Eric makin tampak memalukan. Disinilah Eric Cantona kembali berperan sebagai malaikat penyelamat.
Looking for Eric hadir sebagai bukti makin kuatnya hubungan Ken Loach dan Paul Laverty. Yang satu sebagai sutradara, sedangkan satunya lagi sebagai penulis naskah. Keduanya sudah lebih dari 5 kali bekerja sama, dan rencananya masih akan ada beberapa karya lagi yang bakal mereka hadirkan. Sinergi keduanya menghasilkan beberapa karya yang diakui festival film bergengsi, terutama Cannes. Puncaknya ketika The Wind That Shakes the Barley sukses menggondol Palme d'Or di tahun 2006.


Looking for Eric juga sempat bertarung di Cannes 2009, dan banyak yang menjagokan Steve Evets dalam perebutan Aktor Terbaik, meski tentu saja harus kalah dari Hans Landa yang brillian. Looking for Eric, menurut Gilasinema mengangkat inti cerita bagaimana kita memandang diri sendiri dan bagaimana memandang orang lain. Kita selalu memandang kehidupan orang lain jauh lebih baik dibandingkan kehidupan kita. Akibatnya kita cenderung bersikap kejam terhadap diri kita sendiri.
Padahal, belum tentu kehidupan orang lain itu lebih baik dibandingkan apa yang kita jalanai. Wang sinawang orang Jawa bilang. Yang namanya manusia selalu dihadapkan dengan masalah, Kalau merasa tidak punya masalah, pasti ujung-ujungnya mencari-cari masalah hehehe…Looking for Eric juga mengangkat persoalan pemujaan terhadap sosok yang kita anggap hebat. Sosok yang sebenarnya manusia biasa. Kenapa mereka menjadi terlihat hebat, sebenarnya juga tidak bisa dilepaskan usaha keras yang mereka tempuh. Pemujaan/pengidolaan sah-sah saja, dan akan lebih baik kalo kita bisa belajar dari tokoh tersebut dan diterapkan dalam menjalani hidup kita. Kalau tidak cocok? Berarti saatnya berganti haluan.


Kesalahan dan kegagalan yang dialami oleh Eric membuat dirinya menjadi pribadi yang enggan berbagi masalah dengan orang lain. Kesalahan memang lazim terbuat, namun selalu ada jalan untuk memperbaikinya. Kegagalan bukanlah akhir segalanya. Dan kalau semua yang terjadi terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri, tak ada salahnya minta bantuan orang-orang terdekat demi sebuah hasil akhir yang manis. Solidaritas ini yang juga dikemukakan dalam Looking for Eric yang meski secara visual tidaklah istimewa namun bagus buat bahan renungan. Penampilan Eric Cantona juga saying untuk dilewatkan lho. 4/5

Senin, 23 November 2009

SHORT MOVIE REVIEW : VINCERE, 12 & CHERI

Senin, 23 November 2009 1
VINCERE


Berkisah tentang perjuangan Ida Dalser (Giovanna Mezzogiorno) dalam pengakuan sebagai istri pertama dari Benito Mussolini (Filippo Timi). Bukannya pengakuan yang didapat, justru penderitaan demi penderitaan yang Ida dapatkan, padahal dia telah mengorbankan semua yang dia punya demi modal di awal perjuangan Benito Mussolini.
Penampilan Giovanna Mezzogiorno sebagai Ida Dalser sungguh sangat bagus. Salah satu penampilan terbaik yang Gilasinema lihat sepanjang tahun 2009 selain Jessica Lange di Grey Gardens. Penampilannya yang cantik dan berkarakter kuat berhasil membuat penonton terpikat. Tidak heran kalau Benito Mussolini sempat jatuh hati padanya. Pesona Filippo Timi juga membuat kita maklum kenapa Ida Dalser begitu tergila-gilanya dengan Benito Mussolini.


Gilasinema terkesan dengan bagaimana sutradara Marco Bellocchio menggambarkan hubungan keduanya lewat serangkaian pertemuan dalam kegelapan dan percintaan penuh gairah. Paling terkesan dengan ekspresi yang ditampilkan Giovanna Mezzogiorno menjelang film berakhir. Berbagai campuran ekspresi muncul dari wajahnya. Mulai dari rasa kemenangan, kemarahan sekaligus kepedihan berhasil ditampilkan dengan amat meyakinkan.
Lewat Vincere, Marco Bellocchio juga seakan menampilkan kekuatan dari sinema. Mulai dari sarana propaganda yang ampuh, untuk sekedar hiburan dan bisa sebagai sarana terapi yang menggugah. Sayangnya, Vincere bukanlah film yang bisa dinimati semua umat. 3,75/5

12


Film ini terinspirasi film klasik yang dianggap sebagai salah satu film pengadilan terbaik yang pernah dibuat, Twelve Angry Men. Kalau versi aslinya hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk akhirnya memberikan keputusan kepada terdakwa, 12 oleh sutradara Nikita Mikhalkov membutuhkan lebih dari 2,5 jam untuk membebaskan sang terdakwa dari tuduhan pembunuhan.
Dengan durasi yang panjang, kita disuguhi oleh aneka macam khotbah dari 12 pria matang dengan berbagai latar belakang. Menyaksikan 12 seakan melihat Rusia kecil dengan segala macam problematikanya. Hal ini berpotensi menjadikan 12 sebagai tontonan yang dengan segera ditinggalkan oleh penontonnya.


Untungnya, Nikita Mikhalkov menyelipkan beberapa adegan aksi yang lumayan mengobati kejenuhan. Bagaimana mereka merekonstruksi kejadian juga disajikan menarik. Ketegangan Gilasinema rasakan ketika mereka membahas pisau yang digunakan sebagai alat dalam pembunuhan. Pada akhirnya, keadilan memang berhasil ditegakkan. Namun, sudah selesaikah tugas mereka? Film ini memilih akhir cerita yang bijaksana. Lewat 12, sekali lagi kita diingatkan, yang banyak itu belum tentu benar. 3,75/5


CHERI


Ada beberapa film yang menurut Gilasinema tidak patut untuk dibuat, dan menurut Gilasinema, Cheri patut dimasukkan dalam kategori tersebut. Bukan karena filmnya tidak bagus, tapi karena naskahnya yang menurut Gilasinema kurang diolah dengan sedemikian rupa. Film berjalan dengan datar tanpa letupan konflik yang berarti. Kisah cinta beda usia antara Michelle Pfeiffer dan Rupert Friend yang menjadi fokus utama justru kalah menarik dibandingkan perseteruan Michelle Pfeiffer dan Kathy Bates.


Ending cerita yang dipilih membuat Gilasinema mengernyit. Sudah?!Begitu saja?! Ibarat sebuah makanan, Cheri sebenarnya mempunyai bahan-bahan yang berkualitas. Selain dua bintang perempuan yang tidak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya, ada Alexandre Desplat yang mengolah musiknya. Sutradaranya juga tidak main-main, Stephen Frears yang pernah hasilkan High Fidelity. Bahan-bahan berkualitas tadi sayangnya tidak diberi bumbu yang cukup oleh Christopher Hampton yang bertugas mengadaptasi novel karya Colette. 2,75/5
 
GILA SINEMA. Design by Pocket