Tampilkan postingan dengan label ASIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Mei 2010

WISH : KENAKALAN ITU SEBUAH PROSES

Kamis, 20 Mei 2010 2

Menyaksikan Wish arahan Lee Seong-han sedikit mengingatkan saya pada Mean Girls-nya Lindsay Lohan. Seperti halnya karakter yang diperankan oleh Lindsay Lohan, Jjang-gu seakan memasuki sebuah dunia asing ketika memasuki SMA khusus cowok. Untung bagi Jjang-gu, ternyata ada wajah yang dia kenal hingga tidak menjadi obyek arogansi senior. Yang namanya sekolah khusus cowok, tidak seru kalau tidak ada gank yang berkuasa di sekolah. Mereka biasanya menerapkan aturan yang wajib dipatuhi oleh semua, terutama mereka para siswa baru.


Jjang-gu digambarkan tidak terlalu berminat masuk gank tersebut. Namun, secara perlahan dan seakan merupakan sebuah proses alamiah, Jjang-gu bergabung dengan gank tersebut. Dalam prosesnya, Jjang-gu terlibat dengan berbagai masalah yang membuatnya mendapat peringatan dan hukuman dari sekolah. Bahkan, Jjang-gu sempat mendekam dalam tahanan. Sebenarnya Jjang-gu bukanlah berasal dari keluarga berantakan seperti umumnya penggambaran anak nakal di film remaja bermasalah. Jjang-gu mempunyai ayah yang cenderung diam melihat berbagai aksinya serta ibu yang sangat perhatian.
Lalu kenapa Jjang-gu bisa terlibat dengan berbagai masalah? Selain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan sangatlah berpengaruh dalam membentuk pribadi anak, apalagi di usia yang masih muda dan labil. Lingkup pergaulan itu bisa sangat menyenangkan, namun bisa juga amat menekan. Masuknya Jjang-gu dalam gank bisa jadi merupakan sebuah bentuk adaptasi demi bisa bertahan dan eksis. Perilaku Jjang-gu bukan lagi merupakan perilaku individu tapi lebih pada perilaku kelompok yang mendewakan solidaritas. Masih ingat dengan film Virgin?


Masuknya Jjang-gu ke dalam gank bisa juga disebabkan minimnya sarana aktualisasi diri. Dalam Wish, tidak terlihat kegiatan Jjang-gu di luar sekolah yang bersifat positif. Bahkan, Jjang-gu dengan ekspresi datarnya terlihat tidak mempunyai minat apapun. Selain itu, meski tidak digambarkan dengan gamblang, saya merasakan kefrustasian Jjang-gu akibat tidak bisa menjadi anak yang tidak menyusahkan orang tuanya seperti kakak-kakaknya. Rasa frustasi seperti ini kadang bisa mendorong seorang remaja nekat menerjunkan diri ke dalam masalah. Sutradara Lee Seong-han tidak lantas memberi label buruk terhadap para remaja yang bergabung dalam sebuah gank. Lee Seong-han lebih melihat hal tersebut sebagai sebuah proses yang lazim dilalui oleh para remaja. Meninggalnya ayah Jjang-gu tidak membuat Jjang-gu menarik diri dari pergaulan, hanya saja dia menyikapinya dengan lebih bertanggung jawab.


Bagi banyak penonton, Wish akan terasa sangat membosankan. Proses Lee Seong-han menjadi anak gank disajikan dengan sangat halus, dan dihiasi humor yang sulit memancing senyum. Saya sendiri merasa aneh dengan hampir tidak adanya adegan kekerasan, mengingat tema gank senantiasa identik dengan bentrok fisik. Mungkin ada pesan anti kekerasan yang ingin disampaikan oleh Lee Seong-han. Entahlah. Namun, Wish ini bisa jadi sebuah tontonan yang bisa menginspirasi para remaja (cowok) agar lebih bijaksana dalam bertindak. Dan seperti kebanyakan film Korea, diselipkan adegan yang cukup mampu membangkitkan rasa haru yang untungnya tidak berlebihan. 3,5/5

Senin, 26 April 2010

SYNDROMES AND A CENTURY (SANG SATTAWAT)

Senin, 26 April 2010 0

Mmmm…bagaimana ya enaknya menceritakan kembali kisah yang dihadirkan oleh Apichatpong Weerasethakul. Kita seakan menyaksikan dua kisah yang sama, dan hanya dibedakan oleh tempat dan waktu. Karena berbeda ruang dan waktu, pada akhirnya kisah tersebut memiliki jalinan kisah yang berbeda. Seperti sungai yang mempunyai satu muara, namun dalam alirannya membentuk cabang-cabang tersendiri untuk kemudian bertemu lagi pada satu muara. Begitulah Syndromes and A Century disajikan. Kedua kisah dimulai dengan adegan yang hampir serupa. Dr. Toey (Nantarat Sawaddikul) dan Dr. Nohng (Jaruchai Iamaram) yang berbeda kelamin menggiring kita pada kisah yang berbeda, yang membuat Syndromes and A Century tak ubahnya sebuah sajian komparatif. Yang satu berlatar belakang desa (tradisional), satunya lagi mengambil Kota (modern) sebagai latar belakang cerita.


Mungkin Apichatpong Weerasethakul tidak bermaksud membuat perbandingan, namun dari apa yang disajikan dilayar, kita sebagai penonton tak pelak membuat kesimpulan. Paruh pertama kita melihat sajian visual yang indah alami, hijau, meditatif dan menyejukkan. Ada keintiman antara orang-orang yang tampil di layar. Ada interaksi pria-wanita yang serba canggung namun tersirat keintiman antara keduanya. Pada bagian ini, jarang sekali kamera menyoroti dengan dekat para pemerannya. Mereka diletakkan ditengah seakan menegaskan posisi mereka terhadap alam lingkungan di mana mereka tinggal. Manusia hidup dengan udara segar. Kisah kedua ditempatkan pada tempat dimana warna putih begitu mendominasi. Selain terlihat indah, juga menghadirkan sesuatu yang dingin. Hadirnya beberapa warna terang terasa mengejutkan indera. Di tempat yang teknologinya makin canggih ini, keintiman interaksi antar manusia terasa tergerus, dan nyatanya perkembangan teknologi tidak membuat pekerjaan lebih efisien. Interaksi pria-wanita terasa lebih vulgar dibandingkan kisah yang pertama. Terasa kurang pantas, begitupun dengan aksi beberapa tokoh lainnya. Dan manusia, diselubungi racun yang mengancam kesehatan mereka.


"Making a film is like your relationship with memories, or writing a diary," begitu penjelasan dari Apichatpong Weerasethakul dalam sebuah wawancara. Yang namanya memori itu terkait erat dengan ingatan hasil sebuah pengamatan. Syndromes and A Century membuktikan kalau Apichatpong Weerasethakul adalah seorang pengamat yang sangat detail (ayah ibunya adalah seorang dokter). Hasilnya, Syndromes and A Century adalah sebuah sajian komparasi yang tajam, dan dituturkan dengan amat indah. Latar belakang pendidikan arsitektur tampaknya mempertajam kemampuan Apichatpong Weerasethakul dalam hal komposisi gambar hingga apa yang tersaji sangat enak dan nyaman di mata. Film ini juga terasa lucu, terutama ketika terjadi pertemuan pola pikir desa (tradisional) dengan kota (modern). Dengan berlatar belakang kisah di dunia medis, film ini menghadirkan ide soal karma dan reinkarnasi. Dua hal yang nyatanya masih sangat dipercayai oleh Apichatpong Weerasethakul. "I believe in karma, reincarnation. You can't prove it but something is there for you, signs that affect your mind and heart."


Seperti halnya film nyeni kebanyakan, Syndromes and A Century memunculkan banyak interpretasi yang bisa membangkitkan sebuah diskusi yang menarik. Meski cukup enak dinikmati (satu keunggulan film ini dibandingkan film nyeni lainnya), ada beberapa bagian yang masih membuat Gilasinema bertanya-tanya, seperti ibu-ibu yang menatap kamera ketika orang-orang disekitarnya saling bercakap-cakap atau ending film ini. Menariknya film seperti ini adalah kadang jawabannya akan kita temukan suatu saat nanti. Atau mungkin ada yang bisa membantu? 4,5/5

BANGKOK TRAFFIC (LOVE) STORY (ROT FAI FAA … MAHA NA TER)


Bagi sebagian penonton, Bangkok Traffic (Love) Story / BT(L)S mungkin hanya kisah cinta biasa dengan formula yang lazim digunakan dalam film – film jenis rom com. Bagaimana seorang perempuan biasa menemukan pangerannya dan bagaimana pertemuan keduanya dimulai dengan kebetulan. Dimalam setelah menghadiri pernikahan sahabatnya, Li (Sirin Horwang) yang dalam keadaan mabuk bertemu Lung (Theeradej Wongpuapan). Keduanya bagai siang dan malam. Kalau Li digambarkan mempunyai karakter yang ekspresif dan cenderung ceroboh serta bekerja di siang hari, Lung orangnya santun dan bekerja di malam hari.


Dengan latar belakang yang bertolak belakang, penulis cerita, Benjamaporn Srabua dengan cerdiknya menciptakan situasi yang menyebabkan keduanya bisa berinteraksi secara intens. Kecerobohan dan kejenakaan Li, nyatanya tidak mengganggu Lung sama sekali. Meski tidak terucap kata cinta, kesabaran Lung menghadapi Li yang menyebabkan barang-barangnya rusak sudah cukup membuktikan hal tersebut. Kisah cinta tidak akan menarik kalau tidak hadirnya gangguan, dalam hal ini kehadiran teman Li, Plern (Unsumalin Sirasakpatharamaetha) cukup membuat gemas dan sedikit membuat penonton paham mengapa di usianya yang kepala 3, Li tak kunjung mendapatkan cowok seperti teman-temannya yang lain. Ketika hubungan Li dan Lung makin dekat, datang suatu hal yang mengancam kebersamaan keduanya.


Seperti dikemukakan diatas, BT(L)S menggunakan formula yang tidak istimewa, namun entah mengapa BT(L)S sangat mengena di hati Gilasinema. Mungkin karena dimasukkannya humor-humor norak (yang mungkin berarti Gilasinema juga norak hehehehe...), terutama dengan perilaku Li. Film baru berjalan 5 menit saja, Gilasinema tidak bisa berhenti tertawa. Sayangnya, kejenakaan film ini sangat mengendur di paruh akhir dan lebih kental nuansa dramanya. Kekuatan film ini juga terletak pada eksekusi cerita yang berbeda dengan dengan rom com kebanyakan. Ada semacam edukasi disini, terutama buat kaum muda. Mau mengejar mimpi terlebih dahulu atau mempertahankan cinta. Meraih mimpi dan merengkuh cinta, seperti yang dialami banyak orang, adalah dua hal sangat tidak mudah untuk diraih.


Latar belakang sosial ekonomi para tokohnya membuat penonton terasa dekat dengan kisah yang dihadirkan, karena mereka berasal dari keluarga kelas menengah secara ekonomi. Yang juga membuat BT(L)S menarik adalah setelah menyaksikan film ini, Gilasinema baru tahu kalau pada beberapa hal, budaya yang ada di Thailand tidak jauh beda dengan budaya Indonesia. Kondisi jalan dan perilaku pengguna jalan di Bangkok katanya tidak berbeda jauh dengan Jakarta ya? Budaya menonton sinetron yang penuh amarah dan umpatan tampaknya juga melanda Thailand yang dalam BT(L)S digambarkan dengan agak berlebihan namun sangat lucu.


Tokoh Li yang sudah berkepala 3, yang senantiasa dirongrong keluarganya untuk segera menikah, bahkan sampai dicomblangin, rasanya juga banyak dialami para perempuan di negeri kita ini. Tokoh Li sendiri bisa jadi merupakan refleksi perempuan masa kini yang lebih memprioritaskan eksistensi diri ketimbang cinta (menikah). Tapi, ada juga sih tak kunjung menikah gara-gara selalu (suka) jatuh cinta pada orang yang tidak tepat dan terlalu terpenjara oleh sosok ideal dalam pikiran mereka.


Kesamaan di atas tak pelak memancing Gilasinema untuk membayangkan BT(L)S versi Jakarta. Lalu Lintasnya gak kalah “seru” kan dengan Bangkok. Bisa diberi judul Busway Traffic (Love) Story atau Jakarta Traffic (Love) Story. Banyak romantika angkutan umum yang belum disajikan mendalam di Bangkok Tokyo (Love) Story seperti pencopetan, pembiusan, pelecehan atau etika dalam memanfaatkan sarana transportasi missal. Meski tidak tinggal di ibukota, selama lebih dari 20 tahun Gilasinema memanfaatkan sarana angkutan massal dan Gilasinema melihat ada banyak hal kejadian menarik yang menghadirkan romantika tersendiri. Ada emosi lucu, marah, tegang, sensual dan emosi-emosi lainnya. Kalau ada yang tertarik mengangkat versi Jakarta, Awi yang sebelumnya sukses dengan Claudia/Jasmine bisa dipilih untuk mengarahkan filmnya atau Hanung Bramantyo yang suka menghadirkan visual hiruk pikuk ibu kota. Untuk aktris, kayaknya seru juga kalau Shanty, Ladya Cheryl, Fanny Fabriana atau Shareefa dijadikan kandidat. Kalau mau filmnya terasa lebih segar, sekalian saja pakai bintang-bintang baru. Eh…tapi kalau bener-bener dibikin, kira-kira syutingnya bakal bikin jalan makin macet gak ya :P 3,75/5



KISAH LI DAN LUNG BISA JUGA DIBACA DI :
JAGOAN MOVIES
LABIRIN FILM

MY EX ( FAN KAO )


Ken (Chakhrit Yamnam) adalah seorang seleb yang tentu saja mempunyai pesona ragawi nan menawan. Namun, dengan anugrah keindahan fisik tersebut, tidak membuat Ken mempunyai perilaku yang indah, terutama dalam hal percintaan. Dia gampang sekali berganti-ganti cewek. Bahkan, dalam satu kesempatan dia mengencani lebih dari satu cewek. Ken tidak menyadari akibat fatal dari perilakuinya tersebut sampai terror demi terror menghampiri dirinya dan mengancam nyawanya selain orang-orang yang ada disekitarnya, termasuk cewek yang sedang menjadi gandengannya sekarang.


My Ex kabarnya menjadi salah satu film yang laris di Thailand sana. Apa sih istimewanya film ini? Kalau kamu rajin mengikuti perkembangan I-Horror, My Ex sangatlah tidak istimewa. Jalinan kisahnya mirip dengan kebanyakan I-Horror. Hantu cewek yang menteror mantan cowoknya yang tidak mampu mengontrol “pergerakan” kelaminnya. Hantu cewek tersebut juga banci tampil dengan muncul disetiap tempat, di setiap waktu. Karena telalu banyak nampang, tak ada kejutan dan kengerian dalam My Ex ini. Adegan berdarah-darahnya mengingatkan pada film horror garapan Nayato. My Ex semakin tidak bisa dibedakan dengan I-Horror dengan hadirnya beberapa adegan sensual (yang sayangnya disensor). Buat penonton cewek, pesona Chakhrit Yamnam yang pernah mendampingi Nicholas Cage di Bangkok Dangerous bisa memberikan kesegaran tersendiri. Buat yang sebal dengan karakter Ken, jangan kuatir, karena dalam film ini dia dibuat mati berkali-kali. Kasihan itu cowok, namun sepadan kali ya sebagai balasannya biar jera. (jera kok nunggu mati!)


Yang membuat Gilasinema heran dan bosan dengan formula film horor adalah mengapa sih cewek yang patah hati harus mati dan menghantui. Sekali-kali cowok kek yang patah hati dan jadi setan. Makanya kalau pacaran jangan main kelamin dong. Baru pacaran gitu. Kalau gak kuat nahan nafsu, pakai pengaman atau lebih bagus kalau bertanggung jawab menerima akibatnya dan tidak meraung-raung minta pertanggungjawaban. Lha kemaren ngelakuinnya suka sama suka kan, kecuali kalau kamu diperkosa. Percaya deh, kalau cowok kamu bener-bener cinta, harusnya minta begituan kalau sudah berani bersumpah di hadapan Tuhan dengan saksi keluarga. Saling menjaga gitu.


Hmmm...akhir-akhir ini seringkali ngelantur. Kesimpulannya, tak ada yang baru yang dihadirkan dalam My Ex. Hanya I-Horror yang dikemas dengan tampilan visual yang lebih rapi. Kehadiran bunga Kamboja sedikt memberi sentuhan yang berbeda. Sedikiiiiit...Buat cowok, jaga pergerakan kelamin kalian. Cewek yang kamu khianati bisa saja membahayakan dan menghancurkan hidupmu. 1,75/5

Minggu, 11 April 2010

RANN

Minggu, 11 April 2010 5

“A filmmaker is like a journalist. The point is that a filmmaker is like a journalist in projecting reality in the true sense of the word. Only thing is he dramatically packages it to make more effect." (Ram Gopal Varma)

Dua televisi berita saling bersaing. India 24/7 yang dipimpin Vijay Malik (Amitabh Bachchan) dan H24 pimpinan Amrish Kakkar (Mohnish Behl) yang dulunya bekerja di India 24/7. Kalau Vijay Malik menjalankan televisinya dengan idealisme tinggi, Amrish Kakkar menghalalkan segala cara untuk menjadi nomor satu. Menariknya, Amrish Kakkar ditopang dana dari menantu Vijay Malik yang seorang pengusaha, Naveen Shankalya (Rajat Kapoor). Di tengah persaingan yang ketat, rating dari India 24/7 cenderung turun mengingat H24 yang lebih agresif serta mempunyai mata-mata di India 24/7 hingga senantiasa berhasil mensabotase setiap program baru yang akan diluncurkan India 24/7.


Berbeda dengan ayahnya yang terlihat lebih tenang menghadapi ancaman kehancuran India 24/7, Jai (Sudeep) cenderung menyikapinya dengan amat emosional. Berbekal ilmu yang diperoleh dari sekolah di USA, Jai menjadi pribadi yang angkuh dan mempunyai ambisi besar untuk menjadi nomer satu. Ketika berada di puncak frustasi akibat program yang dia rancang didahului TV tetangga, datang tawaran menarik dari Mohan Pandey (Paresh Rawal), seorang politikus busuk yang berusaha menggoyang Perdana Menteri yang tengah menjabat. Ternyata Mohan Pandey ini berkolusi dengan Naveen Shankalya.


Setelah bergelut dalam dilema, akhirnya Jai tunduk dalam rencana busuk dari Mohan Pandey. Disusunlah rencana yang bakal membuat Mohan Pandey menjadi Perdana Menteri, Naveen Shankalya sebagai pengusaha nomer satu, dan tentu saja India 24/7 berjaya memuncaki rating. Di tengah persaingan dua stasiun televisi tersebut, hadir Purab (Ritesh Deshmukh), jurnalis muda yang idealis dan memuja Vijay Malik. Sebagai orang baru, dia merasa ada yang tidak beres dan berusaha membongkar hal tersebut yang pada akhirnya menjatuhkan semua pihak yang terlibat, termasuk orang yang dipujanya yang terseret kebohongan anaknya.


Akhir-akhir ini dunia pertelevisian kita digemparkan dengan berita dugaan manipulasi narasumber yang dilakukan oleh salah satu TV Berita Nasional. Meski kebenarannya masih perlu pembuktian, tak pelak hal tersebut memunculkan pertanyaan seputar independensi sebuah media berita. Apalagi kalau owner-nya adalah seorang politikus yang juga pengusaha kelas wahid. Tidak bisa dipungkiri, media seringkali dijadikan sarana untuk memperkuat atau meraih kekuasaan. Orang yang berkuasa adalah orang yang bisa menguasai media karena hal tersebut berkaitan dengan kekuatan dalam mengendalikan pengetahuan dan persepsi orang banyak. Persatuan pemilik media dengan politikus dan pengusaha menghasilkan sebuah kekuatan dahsyat yang kalau berlandaskan meraih kepentingan individu atau golongan tertentu bisa sangat berbahaya. Media berita yang harusnya mengabarkan, justru membuat kabar. Kebenaran dipermainkan. Memporak-porandakan batas antara fiksi dan realita. Mengerikan!


Rann sangat pantas disaksikan karena terasa amat aktual dengan kondisi pertelevisian nasional terkini di negara kita. Karena ini produk Bolly, maka jangan heran kalau digarap dengan gaya bertutur yang mungkin terasa berlebihan, layaknya musik dalam film ini yang terdengar agak terlalu keras di kuping. Banyak narasi khotbah didalamnnya, terutama pada endingnya ketika Vijay Malik membongkar konspirasi yang melibatkan stasiun TV miliknya. Meski demikian, Rann terasa asyik dinikmati berkat kecepatan bercerita dari Ram Gopal Varma (RGV). Apalagi durasinya cuma sekitar 2 jam saja. Tanpa basa-basi, RGV langsung ke inti persoalan. Beberapa adegan mempunyai ketegangan yang cukup memikat. Rann juga ditopang desain produksi yang mantap. Warna-warna hitam, putih dan abu-abu tampil sangat dominan hingga menghasilkan konsep visual yang kuat dan nyaman dimata. Sayangnya, kecepatan bercerita ini mempengaruhi kualitas cerita yang terkesan dipaksakan. Bagaimana mungkin pemilihan Perdana Menteri bisa diselenggarakan secepat itu? Langkah Vijay Malik yang menayangkan video aspal terasa terlalu gegabah dilakukan oleh seorang yang idealis dan berpengalamam puluhan tahun di dunia pertelevisian. Selipan isu seputar agama terasa nanggung.


Sekali lagi Amitabh Bachchan menunjukkan kelasnya sebagai actor hebat yang rasanya belum bisa dikalahkan actor Bolly lainnya. Setelah ”merampas” semua gelar aktor terbaik di berbagai ajang movie award lewat PAA, Amitabh Bachchan kembali menuai pujian lewat perannya sebagai Vijay Malik yang karismatik. Rasanya tidak ada aktor lain yang bisa lebih baik memerankan tokoh tersebut. Paresh Rawal sekali lagi membuktikan keahliannya berperan antagonis yang banyak dia lakoni sejak era 1980-an. Aktor satu ini telah membintagi 200 judul lebih lho. Dia pernah tampil dalam Paa (2009), De Dana Dan (2009), Jaane Tu... Ya Jaane Na (2008), Bhool Bhulaiyaa (2007), Cheeni Kum (2007), Garam Masala (2005), Dil Ka Rishta (2003), Awara Paagal Deewana (2002), Nayak: The Real Hero (2001) yang merupakan film Bolly favorit Gilasinema, Har Dil Jo Pyar Karega (2000), Phir Bhi Dil Hai Hindustani (2000) dan masih banyak lagi. Sudeep yang filmografinya belum begitu banyak tampaknya punya potensi bagus untuk meneruskan kiprah Paresh Rawal. Ritesh Deshmukh yang banyak dipuji lewat Masti (2004) sayangnya tampil terlalu datar. Rann terkesan meminggirkan peran perempuan di dunia media hingga penampilan para aktrisnya kurang tergarap. Satu karakter perempuan mempunyai peran cukup penting, itupun dengan karakterisasi yang tidak simpatik. Meski tidak sedahsyat Wag the Dog, Rann sangat Gilasinema rekomendasikan. 3,25/5



SEDIKIT TENTANG RAM GOPAL VARMA
Selain karena temanya yang aktual, Rann sayang untuk dilewatkan karena film ini merupakan karya dari Ram Gopal Varma. Pria berusia 48 tahun pada tanggal 7 April kemarin ini termasuk sineas yang sangat disegani di Bolly sana. Sekolah di jurusan mesin, dia berhasil di bidang penyutradaraan dengan hanya belajar dari banyak film yang dia tonton di waktu mudanya. Potensinya dikenali lewat Rangeela (1995) yang dibintangi Aamir Khan, Jackie Shroff dan Urmila Matondkar sukses besar di pasaran. Kiprah RGV makin tak terbendung ketika sukses dengan trilogy Satya (1998), Company (2002) dan D (2005) yang mengangkat tema gangster. Danny Boyle mengaku terinspirasi Satya dan Company ketika menggarap Slumdog Millionaire. Sarkar (2005) dan Sarkar Raj (2008) merupakan dwilogy, dimana untuk Sarkar merupakan adaptasi dari novel The Godfather. Sukses RGV berlanjut dengan Bhoot, sebuah thriller psikologis yang sukses besar dan diakui RGV sebagai karya terbaiknya. RGV selalu menghadirkan film dengan pace cepat dan memacu adrenalin. Setelah Rann yang jeblok di pasaran, RGV sedang siap-siap merilis Phoonk 2 yang merupakan sekuel dari Phoonk (2008). Dalam Phoonk 2, RGV kembali mengajak Sudeep.

"Making love is an emotional experience which makes you feel a high about your love and yourself. Fucking is an intense experience which borders on a feeling of wanting to conquer or achieve. And having sex is a necessity like to sneeze or to cough." (Ram Gopal Varma)

Sabtu, 03 April 2010

LOVE EXPOSURE ( AI NO MUKIDASHI )

Sabtu, 03 April 2010 4

"And now faith, hope, and love abide, these three; and the greatest of these is love." (I Corinthians 13 : 13 )

Seandainya aku lahir di Bali, apakah aku akan memilih Hindu sebagai agamaku? Seandainya aku terlahir sebagai orang Iran, akankah Islam menjadi agama yang aku yakini? Seandainya orang tuaku bukan penganut agama Islam, apakah suatu dosa ketika aku menganut agama lain? Kalau aku terlahir di Negara yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani dan aku dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan dan mengamalkan Budha, apakah itu suatu kesalahan dan dosa? Pemeluk agama yang fanatic senantiasa memandang para penganut agama/kepercayaan yang berbeda sebagai pendosa. Tetapi, bukankah dosa itu urusannya Tuhan? Dan katanya setiap manusia terlahir suci dan tidak bisa memilih dia lahir di mana.l
Pertanyaan yang lama terpendam ini kembali menggelitik setelah Gilasinema menyaksikan Love Exposure ini. Dalam pandangan Gilasinema, ada tiga hal besar yang menaungi kisah sepanjang hampir 4 jam garapan Sion Sono ini. 4 jam?! Ya, film ini berdurasi 237 menit. Bahkan, menurut informasi, durasi awal film ini mencapai 6 jam! Keluarga, Cinta dan Agama adalah 3 hal besar yang coba ingin disampaikan oleh sutradara penghasil Exte: Hair Extensions (sebuah film yang menjijikkan dan membuat merinding) dan Suicide Club ini. Ketiganya saling terkait dan membuat ketiga karakter utamanya menjalani hidup yang lebih rumit daripada seharusnya.


Yu Tsunoda (Takahiro Nishijima) sejak kecil dididik dengan ajaran Kristen. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ibu Yu berpengharapan semoga kedepannya Yu akan menemukan sosok Perawan Maria sebagai asosiasi sebagai cinta. Ayahnya memutuskan menjadi pendeta setelah ibu Yu meninggal dunia. Ayah Yu mengharapkan Yu melakukan pengakuan dosa setiap harinya. Sekecil apapun dosa kesalahan yang Yu perbuat. Gara-gara harapan dan permintaan kedua orangtuanya ini, Yu mulai bereksperimen dengan dosa. Puncaknya adalah ketika dia berperan sebagai 'panty shot' photographer. Di segmen ini kita bisa dibuat tertawa namun ada kemungkinan muak dengan berbagai “trik cantik” dari Yu dalam menghasilkan sebuah “karya” masterpiece.
Pencarian Yu berhenti ketika dia bertemu dengan Yoko (Hikari Mitsushima). Dalam Yoko, Yu melihat Perawan Maria. Buktinya? Dari sekian banyak panty shot, hanya Yoko yang bisa membuat Yu ereksi! Masalahnya, Yoko bertemu dengan Yu dan jatuh cinta padanya saat Yu berperan sebagai Miss Scorpion. Biar masalah makin rumit (sekaligus membuat durasinya mengalami hiper ereksi), dihadirkan Aya Koike yang sangat manipulatif sekaligus kejam. Nyatanya, Aya inilah yang membuat Yu dan Yoko bertemu tanpa disadari keduanya. Tindakan Aya ini didasari motif untuk menggaet keluarga Yu agar masuk ke dalam gereja aliran agama yang Aya anut. Dengan masuknya ayah Yu, diharapkan akan diikuti oleh para jemaah gereja yang dikelola oleh Ayah Yu.


Cinta dan agama itu mempunyai banyak kesamaan. Keduanya membutuhkan apa yang namanya KEYAKINAN yang mendasari orang dalam memilih orang yang akan dicintainya atau agama yang akan dianut. Keyakinan juga yang membuat cinta dan agama bisa tegak berdiri tidak mudah goyah ketika badai datang menghadang (dooooh…). Dalam Love Exposure, keluarga digambarkan mempunyai peran penting dalam membentuk keyakinan seseorang karena keluargalah tempat pertama seseorang belajar akan nilai yang akan membentuk karakter. Dengan meminggirkan peran ibu, Love Exposure sedikit timpang dengan penggambaran sosok ayah yang brengsek. Karakter ketiga tokoh utama dalam Love Exposure tidak bisa dilepaskan dari latar belakang mereka. Yu hidup dalam keluarga yang sangat dogmatis, kekerasan selalu menghampiri Yoko dan Aya senantiasa dibayangi pelecehan. Selain keluarga, keyakinan didapatkan lewat sebuah proses yang bisa singkat, namun bisa juga sepanjang hayat. Butuh waktu panjang bagi Yoko untuk yakin kalau Yu benar-benar mencintainya.


Dengan durasi yang panjang, sutradara Sion Sono menghadirkan banyak sekali emosi yang sukses mengaduk-aduk perasaan penonton (yang sanggup bertahan). Dalam Love Exposure ada manis, pahit, tawa, tangis, dendam, maaf, kemarahan, kesabaran. Humor-humornya terasa lucu, seru, kadang memuakkan namun berhasil menyentil sisi terdalam manusia. Belum lagi pendekatan komikal yang mengingatkan pada gaya bertutur pada anime atau manga. Masuknya hal-hal berbau seksual, bisa saja terlihat menghibur, namun tak pelak mampu membuat malu penonton. Cabul! Untuk menuju akhir kisah yang dramatis kita diajak terlebih dahulu menikmati sajian dramatis nan tragis. Belum cukup, sang sutradara menghadirkan beberapa scene sadis seperti penghancuran kelamin dan pertarungan yang berdarah-darah. Fuih…ibarat masakan, semua bumbu masuk yang kalau disantap saat kondisi tidak prima bisa menyebabkan mencret.
Kalau misalnya bingung dengan apa yang ingin disampaikan oleh film ini, adegan paling penting dalam film ini hadir ketika Yu dan Yoko berkonfrontasi di pinggir pantai. Bagi mereka penganut Kristen, bisa dengan mudah menangkap esensi cerita mengingat film ini berlandaskan pada I Corinthians 13 yang ada pada Kitab Injil, terutama pada ayat yang tertulis diatas (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan). Namun karena agama dan cinta itu sesuatu yang sangat universal, rasanya bisa dengan mudah dipahami oleh semua penganut agama, meski senantiasa menemui kesulitan dalam aplikasinya :)


Cinta dan agama idealnya membawa kedamaian bukannya kekacauan dan perpecahan. Cinta dan agama akan menjadi sesuatu yang memuakkan kalau terlalu banyak motif di dalamnya. Hadirnya Aya dengan segala motifnya membuat kacau hidup Yu dan Yoko, bahkan sampai membuat banyak korban berjatuhan. Cinta dan agama itu tidak bisa dipaksakan karena hakiki sifatnya. Cinta dan agama itu tidak memandang rupa. Namun, seringkali atas nama cinta dan agama kita melegalkan perbuatan yang seharusnya terlarang. Ketika kita menyerang orang lain atas nama agama, itu berarti kita juga menyakiti Tuhan karena mereka juga ciptaan-Nya. Akhirnya, ketika hadir pertanyaan-pertanyaan seperti di paragraf pertama tulisan ini, yang bisa dilakukan hanyalah YAKIN. Yakin kalau agama itu baik adanya. Yakin kalau agama itu membawa kedamaian, bukannya kehancuran. Yakin kalau agama itu cinta. Begitupun sebaliknya. 4,25/5


Love is long suffering, tolerant, patient. Love is kind, free of jealousy, envy and pride. Love is does not display unseemly behavior, unselfish, not touchy, fretful or resentful and takes no account of the evil done to it. Love is hates evil and associated with honesty. Love is protects, trusts, hopes and perseveres. Love is triumphs. Love is greater than either faith or hope.

Rabu, 24 Februari 2010

PAA

Rabu, 24 Februari 2010 20

Menyaksikan film – film rilisan tahun 2009 kemarin, Gilasinema jadi kepikiran, kenapa ya film tidak dimasukkan sebagai salah satu keajaiban dunia. Dalam film segalanya bisa terjadi. Bumi diluluh lantakkan dalam 2012, keindahan Pandora dalam Avatar, seorang gadis atuh cinta dengan makhluk-makhluk aneh di New Moon, kakek tua yang berkelana dengan balon bisa dilihat dalam Up, wajah Sophie Marceu dan Monica Belucci yang diobrak-abrik dalam Don’t Look Back dan masih banyak lagi. Paa menjadi salah satu bukti kalau film itu sebuah keajaiban. Bayangkan saja, dalam film ini Abhisek Bachchan berperan sebagai anak dari Abhisek Bachchan! Semua tahu kalau didunia nyata Abhisek Bachchan merupakan anak dari Amitabh Bachchan.
Paa berkisah tentang Auro (Amitabh Bachchan) seorang bocah berusia 12 tahun yang karena kelainan genetic bernama progeria mempunyai penampakan layaknya orang berumur 60 tahun. Meski secara fisik dibilang tidak normal menurut ukuran orang banyak, Auro cukup beruntung karena dikelilingi orang-orang yang bisa menerima dirinya apa adanya. Gara-gara sebuah insiden yang cukup lucu, Auro bertemu dengan Perdana Menteri Amol Arte (Abhishek Bachchan) yang masih muda dan idealis. Cakep lagi! (bangun tidur saja tetap terlihat cakep dan tidak terlihat leleran minyak diwajahnya). Sudah bisa ditebak, Pak Perdana Menteri ini adalah ayah kandung dari Auro. Kok bisa? Dulu waktu muda, ibu Auro (Vidya Balan) dan Amol Arte (Abhishek Bachchan) terlibat percintaan nan menggebu hingga tidak sempat pakai pengaman pada saat berhubungan badan. Amol Arte enggan meneruskan hubungan karena ingin fokus mengejar cita-citanya.


Idealnya, kisah selanjutnya bakal fokus pada bagaimana Auro mendekatkan diri pada Pak Perdana Menteri setelah tahu kenyataan yang sesungguhnya. Namun oleh R. Balakrishnan, kita sejenak diajak untuk melihat kiprah Amol Arte sebagai sosok politikus muda yang idealis ditengah persaingan antar politikus yang penuh kebusukan. Amol Arte ingin menunjukkan bahwa politik itu tidak semestinya menggunakan cara – cara kotor. Belum cukup, R. Balakrishnan juga menghujat peran media dalam membentuk citra politik. Setelah dirasa cukup, R. Balakrishnan kembali mengajak kita mengikuti kisah Auro dan Amol untuk kemudian diarahkan pada akhir kisah yang dramatis layaknya film Bolly kebanyakan.
Dibandingkan dengan The Curious Case of Benjamin Button dan Orphan, Paa sebenarnya mempunyai penjelasan yang lebih masuk akal soal kelainan genetik yang menimpa tokoh utamanya. Dengan kekuatannya ini, harusnya Paa bisa menjadi sebuah tontonan yang meyakinkan. Namun, dengan tagline ”A Very rare father – son, son – father story”, film ini tidak berusaha menceritakan bagaimana seorang penderita progeria bertahan hidup dengan intens dan lebih menitikberatkan pada hubungan Auro dengan Amol Arte. Hal ini memang diakui oleh R. Balakrishnan dalam sebuah wawancara, "My main aim was not to make a film on progeria. My main motive behind making ‘Paa’ was to reverse the roles of Amitabh and Abhishek”. Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja kalau selipan kiprah politik dari Amol Arte tidaklah terlalu banyak. Sayang sekali.


Paa pada saat perilisannya disambut dengan amat sangat meriah. Tarian monyet yang ditunjukkan oleh Auro dalam film ini banyak ditiru oleh anak-anak. Diluar Bolly, Paa kalah tenar dengan 3 Idiots yang dirilis setelahnya. Di Indonesia sendiri, saat diputar disambut sepi oleh penonton. Daya tarik utama Paa tidak lain adalah performa Amitabh Bachchan yang dipuji para kritikus film Bolly sebagai penampilan Amitabh paling bagus sepanjang karirnya. Amitabh Bachchan dinilai berhasil memerankan bocah berumur 12 tahun ketika dirinya berusia 67 tahun! Lewat perannya ini, Amitabh banyak meraih penghargaan menyisihkan performa Aamir Khan (3 Idiots) dan Shahid Kapoor (Kaminey). Penampilan Vidya Balan juga patut dipuji. Sosok ibu yang sangat penyayang mampu dia perankan dengan bagus hingga tercipta chemistry yang kuat dengan Amitabh Bachchan. Aktris cantik ini sebelumnya dikenal lewat Cheeni Kum yang juga diarahkan R. Balakrishnan. Abhisek? Tidak terlalu istimewa, tapi buat para kaum hawa, penampilannya berbalut pakaian warna putih lumayanlah buat penyegar. Kehadiran Paresh Rawal benar-benar tidak penting.


Paa berhasil masuk Guinness Book Of World Records untuk film pertama yang menampilkan pertukaran peran ayah – anak, actor paling tua yang memerankan seorang bocah serta aktris berumur 31 tahun (Vidya Balan) yang melakonkan ibu dari anak yang diperankan actor berumur 67 tahun. Keajaiban pertukaran peran ayah-anak sangat terbantu dengan dukungan make-up dan efek visual yang rapi. Untuk urusan make-up, Amitabh Bachchan harus rela wajahnya “diobok-obok” minimal selama 4 jam, untuk kemudian diolah Gigital Imaging layaknya The Curious Case of Benjamin Button. Tampilan efek visual dalam Paa tidak terlepas dari pengawasan Christien Tinsley yang sebelumnya terlibat dalam pengerjaan efek visual film I Am Legend, selain terlibat dalam urusan make-up di film-film kondang seperti Nutty Professor II: The Klumps (2000), How the Grinch Stole Christmas (2000), Master and Commander: The Far Side of the World (2003), The Passion of the Christ (2004), Memoirs of a Geisha (2005), Letters from Iwo Jima (2006), No Country for Old Men (2007), The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007) dan yang akan segera rilis, Jonah Hex. Paa juga menghadirkan opening credit yang cukup unik, yakni dbacakan oleh Jaya Bachchan. Jauh sebelumnya, tepatnya di tahun 1972, Amitabh Bachchan melakukan hal yang sama di film Bawarchi yang dibintangi Jaya Bachchan! Paa rencananya akan diikuti dengan Maa. Jaya Bachchan sedang dirayu R. Balakrishnan untuk berperan didalamnya. 3,5/5

Rabu, 17 Februari 2010

TRAIL OF THE PANDA (XIONG MAO HUI JIA LU)

Rabu, 17 Februari 2010 4

Pernah menonton The Fox and The Child dan menyukainya? Maka Trail of the Panda ini sayang untuk dilewatkan. Meski jenis hewannya yang berbeda, Trail of the Panda mau tidak mau mengingatkan pada The Fox and The Child. Selain protagonisnya yang masih berumur belia, banyak scene-scene di dalam hutan serta kehadiran narrator membuat kemiripan sulit untuk dibantah. Bedanya hanya jenis kelamin saja serta bahasa dan Negara yang menjadi setting cerita.
Xiaolu (Daichi Harashima) yang sebatang kara terpaksa harus tinggal bersama Lao Chen (Zheng Qi) yang cenderung bersifat keras, meski tidak bisa dibilang kejam. Sejak ditinggal mati oleh kedua orangtuanya, Xiaolu banyak menutup mulut hingga dikira bisu oleh Lao Chen. Kehidupan Xiaolu berubah ketika Lao Chen induk panda bersama dua orang anaknya. Kemunculan panda tersebut diinformasikan kepada Feng (Feng Li), seorang ilmuwan yang tertarik untuk mempelajari panda. Kedua pria dewasa tersebut memutuskan untuk menangkap salah satu anak panda. Kesempatan itu datang ketika salah satu anak panda terpisah dari ibunya. Untung anakan panda tersebut bisa lolos meski harus terluka.


Secara tidak sengaja Xiaolu menemukan anakan panda tersebut dan berusaha menyelamatkannya. Tentu saja niat mulia tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena dua pria dewasa tadi tetap mengincar anakan panda tersebut. Situasi tampaknya (dibuat) bersahabat pada Xiaolu, ketika Lao Chen dan Feng memutuskan untuk pergi berburu ke atas (gunung) selama dua minggu. Setelah kepergian dua pria dewasa tersebut, Xiaolu bebas merawat dan bermain dengan anakan panda yang dia beri nama Pang Pang. Dan tampaknya Xiaolu bukanlah bocah gunung yang bodoh, karena dia melatih anakan panda tersebut agar lebih siap hidup bebas setelah benar-benar pulih nantinya. Agar cerita lebih menarik, kedua pria dewasa (dibuat) kembali sebelum waktunya dan mereka mendapati Pang Pang yang tidur dengan damai disisi Xiaolu. Bagaimanakah nasib Pang Pang selanjutnya?


Kalau kamu mendambakan sebuah tontonan yang memberi ketegangan yang cukup serta dramatis, maka Trail of the Panda bukanlah pilihan tepat. Dibandingkan dengan The Fox and The Child, Trail of the Panda kalah jauh dalam menghadirkan sebuah tontonan yang memikat emosi. Kisahnya dituturkan dengan bersahaja tanpa letupan berarti, dan dengan setting yang sebagian besar didalam hutan, Trail of the Panda tidaklah menghadirkan tampilan visual alam yang apik layaknya yang dihadirkan dalam film-film bertema serupa. Aksi penyelamatan Xiaolu yang seharusnya bisa sangat tegang disajikan dengan lempeng-lempeng saja. Untungnya, masih bisa dinikmati dan cukup bisa menghadirkan senyum, terutama ketika Xiaolu mencoba memberi makan atau melatih Pang Pang memanjat pohon. Interaksi dua makhluk tersebut terlihat cukup kuat. Ah….andai saja Disney banyak ikut campur dalam film ini.


Dengan beberapa ketidakpuasan tadi, Trail of the Panda tetaplah sebuah tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Film ini seperti halnya The Fox and The Child bisa dimasukkan dalam kategori tontonan sekaligus tuntunan yang sangat aman dikonsumsi anak-anak. Bagus juga untuk menumbuhkan kesadaran akan perilaku ramah lingkungan. Satu keunggulan film ini dibandingkan The Fox and The Child yakni dalam Trail of The Panda sosok binatangnya yang jauhhh lebih imut dan menggemaskan. Panda gitu loh. Jadi pengen melihara (dampak negative setelah melihat film ini?!) 3,25/5


Info : film ini sudah bisa didapatkan di movie rental dekat rumah anda.

Selasa, 16 Februari 2010

THE BEAST STALKER

Selasa, 16 Februari 2010 4

Sebagai polisi muda yang penuh dengan dediksi dan idealime, Tong (Nicholas Tse) tidak mentolerir ketidakdisiplinan. Meski misi berjalan dengan baik, jangan harap anak buahnya bisa lolos dari semprotan emosinya ketika menemui kelemahan pada suatu operasi. Sayang, situasi kadang sulit bersahabat dengan mereka yang berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Pada sebuah operasi penangkapan Cheung Yat-Tung (Philip Keung) , tanpa sengaja Tong membuat seorang gadis kecil terbunuh. Insiden ini selain membuat rekan Tong terluka dan mengalami kecacatan, juga menyebabkan rasa bersalah yang mendalam pada diri Tong.


Tiga bulan kemudian, saudara gadis kecil tersebut, Ling (Suet-yin Wong), diculik sebagai jaminan Cheung bisa terlepas dari jeratan hukum. Kebetulan ibu Ling, Ann Ko (Zhang Jingchu), adalah Jaksa yang menangani kasus Cheung. Tidak ingin kejadian yang sama terulang dan sebagai sarana penebusan rasa bersalah, Tong bekerja keras demi membebaskan Ling meski mendapatkan tantangan dari Ann yang menganggap Tong sebagai sosok pembawa sial. Maksud mulia dari Tong tidak menjadi mudah ketika dia tidak lagi mempunyai anak buah, bahkan pada satu kesempatan sempat terjadi konfrontasi dengan mantan anak buahnya.


Si penculik, Hong Jing (Nick Cheung), juga bukanlah lawan yang mudah ditaklukan meski penglihatannya tidak sempurna setelah sebuah insiden yang juga menyebabkan istri tercintanya invalid. Hong Jing bekerja berdasarkan perintah dari yang membayarnya dan tidak melibatkan nurani sedikitpun. Dia siap menghabisi Ling kapanpun perintah itu datang. Selanjutnya kita disuguhi aksi perburuan Tong terhadap Hong Jing yang memikat ditengah ramai dan padatnya kota untuk kemudian puncak ketegangan hadir disebuah tempat yang kusam dan suram. Ketegangan adegan ini sedikit mengingatkan pada ketegangan yang dihadirkan di adegan pemuncak pada Silence of the Lambs atau The Chaser.


The Beast Stalker mungkin menghadirkan banyak scene-scene klise, namun kadang sesuatu yang klise kalau disajikan dengan pendekatan yang memikat tetap mampu menghadirkan sebuah sensasi rasa yang kuat. Berkat sentuhan Dante Lam yang apik, Gilasinema dibuat terpaku sepanjang durasi. Tensi cerita terjaga dengan baik dan unsure dramanya meski kadang terkesan corny untungnya tidak sampai membuat muak. Pergerakan kameranya cukup lincah dan secara detail menangkap keruwetan serta keramaian kota yang didukung dengan editing yang rapi. Pemilihan setting efektif dalam menghadirkan ketegangan yang cukup berbeda dengan film sejenis, bukan sekedar tempelan.


Dan jangan lewatkan car crash scene yang menurut Gilasinema menjadi salah satu car crash scene yang terbaik yang pernah Gilasinema tonton. Adegan ini sebenarnya merupakan salah satu kunci yang membuat jelas mengapa tragedy menyelimuti tokoh-tokoh yang dihadirkan. Sedikit mengingatkan pada Amores Perros atau 21 Grams. Rasanya film ini pantas saja kalau diberi title CRASH. Nicholas Tse bermain cukup bagus. Siapa yng tidak tersentuh dengan lolongan kesedihannya menjelang akhir film? Namun applaus pantas diberikan pada Nick Cheung yang berhasil menampilkan sosok penjahat yang dingin, kejam, tangguh sekaligus sayang istri. Pada adegan kilas balik, tergambar jelas alasan dia begitu mencintai istrinya. Rasa cintanya terhadap istri ini mampu memperhalus sifat jahat yang dia idap. Di banyak adegan, Dante Lam memberikan gambaran betapa ponsel menjadi bagian yang mulai susah dihilangkan dalam kehidupan manusia. Ponsel dalam film ini bisa sangat fungsional, namun juga terkadang menghadirkan sebuah peristiwa tragis. Jadi, gunakan ponsel dengan bijak. 4,25/5

Sabtu, 23 Januari 2010

RUNNING TURTLE ( GEOBUGI DALLINDA )

Sabtu, 23 Januari 2010 5

Meski seorang polisi, Jo Pil-seong (Kim Yoon-seok) bukanlah sosok yang disegani. Atasannya senantiasa meremehkan potensi dan kinerjanya. Dirumah, Jo Pil-seong tidak sanggup menghadapi istrinya yang tidak menghormatinya karena merasa tidak dnafkahi dengan cukup. Ditengah lilitan persoalan ekonomi, Jo Pil-seong harus menerima kenyataan pahit mendapat skorsing karena suatu hal. Ditengah himpitan tersebut, Jo Pil-seong menguras tabungan keluarga untuk ikut taruhan adu banteng.
Jo Pil-seong patut bergembira mengingat dia berhasil memenangkan taruhan dengan nominal yang cukup besar. Namun awan gelap tampaknya masih enggan meninggalkannya. Gara-gara perilaku temannya yang brengsek, Jo Pil-seong harus berhadapan dengan buron berbahaya, Song Gi-tae (Jung Kyung-ho). Persinggungan tersebut harusnya menjadi urusan pihak berwajib, namun selanjutnya menjadi urusan pribadi antar keduanya setelah Song Gi-tae merampas hasil kemenangan Jo Pil-seong dalam adu banteng.


Situasi tampaknya juga enggan berpihak pada Jo Pil-seong hingga dengan kemampuan bela dirinya yang dibawah standar, kesialan demi kesialan justru menghampirinya, hingga beberapa jarinya harus menjadi korban. Masalah yang dihadapi Jo Pil-seong tidak menjadi ringan ketika hadir pemuda yang begitu mengidolakan Song Gi-tae dan juga kehadiran dari kepolisian pusat. Jo Pil-seong yang harusnya mendapat dukungan penuh, justru malah dianggap menjadi penghalang. Untungnya, Jo Pil-seong didukung oleh teman-temannya yang loyal. Pada akhirnya semua harus diselesaikan di arena adu benteng yang dapat dijadikan sarana oleh Jo Pil-seong untuk mengembalikan kewibawaannya. Mampukah?


Pada saat perilisannya, Running Turtle ditonton lebih dari 3 juta orang. Jumlah penonton ini menempatkan Running Turtle sebagai film Korea terlaris nomer 5, mengalahkan Mother dan Thirst. Apa sih istimewanya film ini dibandingkan dua film tersebut? Dalam pandangan Gilasinema, Running Turtle terasa jauh lebih realis. Bahkan, kisahnya bisa saja terjadi di Indonesia. Kebetulan Gilasinema sering mendengarkan curhat istri seorang polisi, yang meski nasibnya tidak sama persis dengan Jo Pil-seong, namun paling tidak memberi gambaran kehidupan seorang polisi di dunia nyata, hingga Gilasinema bisa menerima dengan baik kisah yang dihadirkan dalam Running Turtle.


Kesan realis makin kuat dengan adegan aksi yang ditata sangat bersahaja tanpa balutan koreografi tarung yang mengundang decak kagum. Tokoh protagonis yang berkemampuan biasa saja, mempunyai peran kuat dalam menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan nyata. Namun, bagi mereka yang kurang terbiasa dengan film Korea, akan menilai Running Turtle sebagai sebuah tontonan yang serba tanggung. Susah juga memasukkan film ini dalam genre film tertentu. Dikatakan drama aksi rasanya kurang tepat mengingat adegan aksinya tidaklah spektakuler. Dimasukkannya beberapa lelucon, tidak lantas menjadikan film ini sebagai sebuah film komedi. Apalagi hadirnya beberapa humor pahit seperti ketika Jo Pil-seong mendapati pakaian dalam robek-robek yang dikenakan istrinya. Namun, sekali lagi, Gilasinema justru menganggap hal-hal tanggung tadi sebagai pondasi bagi kisahnya hingga terasa realistis.


Ada satu segi dalam film ini yang bagi Gilasinema terasa aneh namun unik, yaitu segi musik latarnya. Musiknya seakan tidak menyatu dengan adegan hingga terkesan kehadirannya bukan untuk menguatkan suatu adegan. Pokoknya aneh deh. Menjelang akhir, ada satu krtikan yang tampaknya ingin disampaikan oleh sutradara Lee Yeon-woo yang sekaligus merangkap sebagai penulis cerita, yaitu kurangnya perhatian terhadap para polisi, terutama bagi mereka yang berada di level bawah. Yang ada, mereka yang mempunyai posisi penting justru saling gontok-gontokan. Hmmm....tidak asing dengan hal ini? 3,75/5

Senin, 18 Januari 2010

TAKE OFF ( GUKGA DAEPYO )

Senin, 18 Januari 2010 1

Ketika dirilis, Take Off berhasil menempatkan diri di posisi dua film terlaris Korea di tahun 2009 dibawah Haeundae dan berhasil mengalahkan pendapatan film – film heboh produk Holly semacam Transformers: Revenge of the Fallen , 2012, Terminator Salvation dan Harry Potter and the Half Blood Prince. Keberhasilan Take Off merengkuh banyak penonton tidak bisa dilepaskan dari berhasilnya sutradara Yong-hwa Kim dalam mengangkat isu nasionalisme dan patriotisme, selain menawarkan sesuatu yang tampaknya belum banyak diangkat yakni olah raga lompat ski (sky jump). Gilasinema sendiri belum pernah melihat sport movie yang mengangkat lompat ski. Hanya sempat melihatnya di acara semacam extreme sport.


Meski berembel – embel berdasarkan kisah nyata, Kisahnya sendiri sebenarnya sangatlah klise, dengan pakem cerita layaknya sport movie lainnya. Para pecundang dengan berbagai masalah dikumpulkan menjadi satu tim, kemudian muncul gesekan dan juga tantangan, namun di akhir kisah mereka digambarkan menjadi pemenang. Namun, untungnya di tangan sutradara yang pernah menghasilkan 200 Pounds Beauty, Take Off menjadi sport movie yang sedikit berbeda dengan dimasukkannya konflik dan humor khas Korea serta memberi kejutan dengan ending yang diluar dugaan.


Dengan durasi yang lebih dari 2 jam, Take Off sedikit membosankan dengan pengenalan karakter yang hampir 30 menit. Namun setelah 30 menit tersebut, kita mulai disuguhi momen-momen menarik ketika para anggota tim tersebut mulai dilatih dengan cara-cara yang terlihat aneh yang justru berhasil memancing tawa penonton. Cara-cara aneh tersebut ternyata tidak untuk sekedar memancing tawa, karena pada akhirnya penonton dibuat paham mengapa pelatihannya seperti itu. Untuk memaniskan suasana, dihadirkan sosok perempuan yang merupakan anak dari si pelatih. Si gadis ini sangatlah manipulatif hingga kita dibuat tersenyum melihat tokoh yang menjadi korbannya. Untungnya, kehadiran pemanis ini bukanlah tempelan semata karena kehadirannya menjadi penting ketika situasi genting melanda tim lompat ski.


Sutradara Yong-hwa Kim, yang sekaligus merangkap sebagai penulis naskah, patut diacungi jempol berkat keberhasilannya mempermainkan emosi penonton. Gilasinema sendiri dibuat takjub sekaligus gemas dengan kelihaiannya menyelipkan humor di tengah-tengah sebuah adegan yang serius. Jadi teringat dengan pendekatan Sam Raimi yang sukses menghadirkan senyum diantara adegan horor. Dan karena ini film Korea, tidak lengkap rasanya tanpa adegan-adegan penguras air mata yang mungkin akan terasa sangat berlebihan bagi penonton di luar Korea. Kadang, kita jadi disuguhi tontonan layaknya film produk Bolly. Dan memang, menyaksikan Take Off, Gilasinema (sekali lagi) teringat dengan film produk Bolly bejudul Chakde India!


Gilasinema seringkali menggelengkan kepala tanda takjub setiapkali selesai melihat film produk Korea Selatan, terutama sekali film-film hebohnya. Perkembangan sinema disana nyata luar biasa pesat sekali yang ditunjukkan dengan tampilan visual film-filmnya, seperti yang terlihat di Haeundae, The Host atau The Good, The Bad and The Weird. Take Off semakin menambah kekaguman betapa Korea Selatan berhasil mengadopsi Holly dengan baik sekali,dilihat dari segi penceritaan ataupun efek visual. Take Off menyajikan adegan-adegan lompat ski yang menawan, dan terlihat sekali di beberapa bagian sangat terbantu dengan efek visual yang cukup rapi. Adegan-adegan lompat ski yang dihadirkan rasanya mampu membuat beberapa penonton ingin ikutan melompat lebih tinggi.


Take Off tidaklah terlalu memfokuskan kepada kemenangan seperti kebanyakan sport movie. Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme lebih dikedepankan dengan kerja keras yang ditunjukkan olah para anggota tim. Dan rasanya tidak perlu mempertanyakan patriotisme dan nasionalisme seseorang yang telah berjuang keras demi mengangkat harkat dan martabat negaranya. Intinya, Atlet yang berprestasi adalah seorang pahlawan yang karenanya paatut mendapatkan penghargaan yang semestinya. Selain kedua isu tadi, sekali lagi Take Off membuktikan, olahraga bisa dijadikan sarana sebuah negara untuk lebih dihargai oleh negara lain. Tema seperti ini bisa didapatkan juga di film Invictus. Take Off sangat sayang sekali untuk dilewatkan dan nantikan endingnya yang cukup berbeda. 3,5/5


 
GILA SINEMA. Design by Pocket