Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juni 2010

TANAH AIR BETA : KONSISTENSI ALENIA

Sabtu, 19 Juni 2010 3

Karena situasi politik, Merry (Griffit Patricia) harus berpisah dengan kakaknya, Mauro (Marcel Raymond). Demi menuntaskan rindu, Merry seringkali bercakap-cakap dengan bantal yang dibalut kaos kakaknya. Sebagai seorang ibu, Tatiana (Alexandra Gottardo) sangatlah sedih melihat hal tersebut. Setelah beberapa tahun berpisah dan kondisinya lebih kondusif, Tatiana mendapatkan kabar soal anak pertamanya. Sayang, Mauro yang marah karena merasa ditinggalkan di Timor Timur enggan bertemu dengan ibunya. Mengetahui hal ini, Merry bertekad menempuh perjalanan panjang demi bertemu dengan kakaknya. Di tengah perjalanan, dia disusul oleh teman sekolah yang paling dia benci, Carlo (Yahuda Rumbindi). Siapa sangka, Carlo justru banyak membantunya di perjalanan.


Sekali lagi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen mendedikasikan hidup mereka dengan konsisten menghadirkan film keluarga setelah sebelumnya merilis Denias, Liburan Seruuu dan King. Setelah balik sejenak ke Jawa, kali ini Alenia kembali ke Timur dan mengangkat kisah persaudaraan yang terkoyak paska jajak pendapat di Timor Timur. Banyak keluarga yang terpisah setelah jajak pendapat tersebut. Mereka yang memilih sebagai WNI memutuskan untuk mengungsi ke Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara sekilas, Alenia menunjukkan betapa masih menyedihkannya kehidupan mereka dan seakan kurang mendapat perhatian yang pantas dari pemerintah. Banyak yang belum melek huruf dan fasilitas kesehatan yang minim. Sedih rasanya mendengar Carlo berkata tidak ingin menjadi dokter karena tidak ada yang bisa menyembuhkan keluarganya ketika mereka sakit dan akhirnya meninggal dunia.


Namun, jangan harap kita digempur dengan rentetan permasalahan yang terjadi dipengungsian. Penonton yang mengharapkan kisah yang berisi gugatan sosial dan kritikan tajam terhadap politik dan pemerintah, bakal kecewa. Saya sendiri sempat dibuat terganggu dengan minimnya interaksi Tatiana dengan warga lainnya. Dia seolah-olah hidup terpisah dari yang lain. Tanah Air Beta nyatanya lebih mengedepankan kisah Merry yang berusaha menemui kakaknya. Pendekatan ini tampaknya sengaja dipilih oleh Alenia karena ya itu tadi, konsistensi untuk menghasilkan tontonan keluarga. Tontonan yang bisa dikonsumsi semua umur. Karenanya, di pertengahan cerita layar lebih berfokus pada usaha Merry dan Carlo.


Sayangnya, dengan usaha Merry menemui kakak yang sangat dia sayangi sebagai motor cerita, film ini tidak ada sama sekali visualisasi memori Merry dengan kakaknya. Visualisasi ini menurut saya penting demi meyakinkan penonton akan kuatnya ikatan persaudaraan antara kakak adik tersebut. Dampaknya, secara keseluruhan Tanah Air Beta terkesan main aman dan emosi yang dihadirkan cenderung datar karena minim letupan. Endingnya yang berpotensi menghasilkan sesuatu yang dramatis dihadirkan dengan sangat biasa. Lantunan lagu Kasih Ibu kok terasa kurang pas ya mengingat sebelumnya tidak ada adegan yang menegaskan kalau lagu Kasih Ibu merupakan lagu kenangan antara Merry dan Mauro.


Cerita yang terlalu datar untungnya dibalut dengan sinematografi yang cantik olahan Ical Tanjung. Gambar-gambarnya cukup indah meski settingnya bisa dikatakan cukup kering. Dan menyaksikan Tanah Air Beta ini saya jadi merasa melihat film dengan setting Afrika. Film ini juga sangat terbantu dengan akting para pemainnya yang bagus. Di paruh pertama saya dibuat terkesan dengan penampilan Alexandra Gottardo yang benar-benar berbeda dengan penampilannya sebelumnya di sinetron. Dengan balutan make-up yang bagus, Alexandra Gottardo melengkapinya dengan logat bicara yang meyakinkan. Di paruh kedua saya dibuat kagum dengan penampilan Griffit Patricia dan Yahuda Rumbindi. Sebagai pemula, keduanya bermain bagus dan natural. Saya suka bagaimana keduanya menciptakan chemistry yang apik. Dari keduanya, kisah persaudaraan terasa lebih kuat.


Sebagai tontonan keluarga, Tanah Air Beta bolehlah dijadikan pilihan di musim liburan ini. Pesan persaudaraan yang di hembuskan oleh Alenia cukup bisa tersampaikan lewat hubungan Merry dengan Carlo. Beberapa selipan humornya mampu membuat tersenyum, terutama adegan-adegan yang menghadirkan Carlo. Sikapi film ini sebagai film keluarga (anak-anak), dan kamu akan lebih bisa menikmatinya. Indonesia Pusaka sebagai lagu penutup mampu membuat saya merinding. Kalau boleh memberi saran kepada Alenia, mungkin kedepannya bisa mengajak tim yang berbeda biar karya-karyanya tidak mudah ketebak. 3,75/5

Kamis, 17 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : PERSAUDARAAN DI NEGERI SEBERANG

Kamis, 17 Juni 2010 4

Victoria Park di setiap hari Minggu dipenuhi dengan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mencari dolar di Hongkong. Disinilah para BMI tadi bisa secara bebas mengekspresikan diri mereka. Sesuatu hal yang mungkin tidak bakal mereka lakukan ketika berada di Tanah Air. Di Victoria Park, kita akan menjumpai berbagai aktifitas, mulai dari sekedar kongkow-kongkow, memadu kasih, pengajian, dakwah agama hingga ekpresi seni. Bahkan, mereka juga pernah melakukan demonstrasi di Victoria Park, mengkritisi kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat, seperti kenaikan harga BBM. Berkumpulnya BMI di Victoria Park bagi Lola Amaria, adalah simbol rekonsiliasi bagi dua tokoh utama dalam filmnya, yakni Mayang (Lola Amaria) dan Sekar (Titi Sjuman).


Motor penggerak cerita dalam Minggu Pagi di Victoria Park dalam pandangan saya adalah sibling rivalry dari Sekar dan Mayang. Hubungan keduanya mengingatkan saya pada hubungan Cameron Diaz dan Tony Colette di In Her Shoes. Lewat usaha Mayang yang terpaksa menjadi BMI karena paksaan ayahnya demi menemukan Sekar yang senantiasa membangkitkan rasa iri dihatinya, kita diajak untuk melihat seluk beluk kehidupan BMI di Hongkong. Dengan riset yang cukup, Titien Wattimena menyuguhkan kisah cukup menarik, mulai dari hubungan antar BMI, hubungan BMI dengan majikan sampai mengulik fenomena hubungan sesama jenis antar BMI.


Gempuran penggambaran para BMI dalam Minggu Pagi di Victoria Park membuat kita paham betapa sulitnya posisi mereka, mengingat tekanan dari berbagai pihak yang membuat mereka tak ubahnya sapi perahan. Dan tidak hanya terjadi di Terminal 4 lho. Tekanan pertama sebenarnya datang dari rumah. Banyak pandangan di desa kalau bekerja sebagai MBI itu menghasilkan pemasukan yang besar. Kesuksesan seorang MBI dinilai dari perubahan fisik rumah beserta isinya. Pada akhirnya semua bermuara pada prestise orang tua, dimana anak dituntut untuk memenuhi gengsi tersebut tanpa memahami betapa tidak mudahnya mencari uang di negeri orang. Tuntutan inilah yang menyebabkan Sekar serta banyak BMI lainnya terlilit utang.


Pola pergaulan yang salah juga bisa mendatangkan kesulitan. Para BMI di Hongkong dikabarkan sering menjalin hubungan dengan pria Nepal ataupun Pakistan yang notabene malah meloroti penghasilan mereka. Bahkan sampai ada yang hamil lho yang sayangnya tidak ditampilkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Tekanan pekerjaan datang makin menggebu ketika mereka dituntut untuk bekerja dengan sigap dan cepat beradaptasi di lingkungan yang benar-benar baru. Kalau tidak kuat, hal ini bisa membuat diri terlilit keterasingan, yang fatalnya bisa mendorong mereka nekat melakukan aksi bunuh diri.


Hidup di negeri orang itu, sekali lagi tidaklah mudah, karenanya dibutuhkan solidaritas antar kaum pendatang. Dengan kebanyakan berjenis kelamin perempuan, tidak mengherankan kalau banyak BMI yang terlibat cinta sejenis hingga ada yang berani melakukan ”pernikahan”. Dari yang saya baca, hubungan sesama jenis ini ternyata banyak yang berawal saat mereka tinggal di tempat pelatihan di Indonesia lho. Kasusnya mungkin sama dengan para pekerja pabrik di dalam negeri yang juga banyak terlibat cinta sesama jenis karena tinggal dalam satu asrama. Penyebab mengapa banyak BMI yang menjalin hubungan sesama jenis, sayangnya kurang tergambarkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park.


Minggu Pagi di Victoria Park berniat menyampaikan banyak hal seputar MBI di Hongkong, jadi sulit memang untuk menghadirkan kisah yang benar-benar utuh dan mendalam. Meski demikian, film ini tetap enak dinikmati dan yang terpenting tidak melukai logika dengan fatal. Film ini makin menarik berkat topangan akting yang kuat, terutama para pemeran wanitanya. Dalam hal ini bukan hanya Titi Sjuman dan Lola Amaria saja lho, mengingat para pemeran pendukung perempuan yang lain juga tampil tak kalah meyakinkan. Saya awalnya agak terganggu dengan gaya bicara Lola Amaria yang terkesan nanggung, namun pada akhirnya paham kenapa pendekatan ini dia pilih. Mayang itu seorang gadis desa yang terpaksa ke luar negeri dan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Coba deh perhatikan gaya omong orang desa yang jarang berbahasa Indonesia dan belum lama tinggal di kota. Setelah pemahaman ini saya kagum dengan bagaimana Lola Amaria mencoba konsisten dengan gaya bicara yang ”nanggung”.


Banyak yang merasa terganggu dengan penampilan Donny Damara, namun bagi saya justru kehadiran karakter yang diperankan oleh Donny Alamsyah sangatlah kurang kuat. Saya tidak paham mengapa dia begitu tertarik terlibat dalam usaha menemukan Sekar. Hal ini menyebabkan kehadirannya hanya sebatas pemanis saja. Andai saja dia diberi karakterisasi yang lebih ”kasar” pasti kehadirannya akan lebih meyakinkan. Misalnya saja, Sekar mempunyai hutang yang cukup besar darinya, hingga Vincent (Donny Alamsyah) ikut dalam usaha pencarian dan pada akhirnya ada rasa terhadap Mayang. Kehadiran Gandhi (Donny Damara) yang merepresentasikan pemerintah (atau LSM?) terasa lebih masuk akal, hingga saya bisa agak menerima penampilannya yang cenderung formal dan dramatis.


Minggu Pagi di Victoria Park secara keseluruhan merupakan tontonan yang bagus, tapi masih bisa lebih bagus lagi. IMO MOI lho. Saya membayangkan andai saja film ini menggunakan hand held camera selama adegan-adegan di Hongkong, kecuali adegan konser diakhir, pasti akan lebih mengikat rasa layaknya 4 Months, 3 Weeks and 2 Days. Eh...ada Novia Kolopaking sebagai Produser Eksekutif lho. 3.75/5

Jumat, 28 Mei 2010

ALICE DOESN’T LIVE HERE ANYMORE : PERSEMBAHAN TERMANIS MARTIN SCORSESE

Jumat, 28 Mei 2010 12

Martin Scorsese selama ini banyak menghasilkan film seputar dunia lelaki, hingga kesan keras senantiasa hadir dalam film-filmnya. Tidak banyak yang tahu kalau diawal karirnya sebagai sutradara, Martin Scorsese pernah menghasilkan film yang sangat perempuan dan bahkan mendapatkan banyak apresiasi positif, baik dari para kritikus film maupun dari beberapa festival film, termasuk Cannes! Judul film yang dimaksud adalah Alice Doesn't Live Here Anymore yang dirilis akhir tahun 1974. Martin Scorsese rasanya pantas berterima kasih pada Francis Coppola karena gara-gara rekomendasinya, Ellen Burstyn yang diberi kuasa oleh Warner Bros untuk memilih sutradara yang tepat, menunjuk Martin Scorsese setelah menyaksikan Mean Streets.


Alice Doesn't Live Here Anymore mempunyai kisah yang sederhana. Alice Hyatt (Ellen Burstyn) terpaksa harus kembali ke kampung halaman ketika secara tiba-tiba, suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sepeninggal suaminya, Alice hanya mempunyai sedikit dana dan masih harus mengurusi anak semata wayangnya, Tommy (Alfred Lutter). Menempuh perjalanan yang panjang, Alice berhenti sejenak di beberapa kota untuk mendapatkan uang. Sejak kecil Alice bercita-cita sebagai penyanyi. Cita-cita tersebut sempat terlupakan ketika Alice menikah. Kini dia berusaha meraih cita-cita tersebut. Masalahnya, kehidupan itu kadang tidak mudah dan kenyataan tidak seindah impian. Ada saja hambatan yang menghampiri. Ditengah usahanya tersebut, Alice bertemu dengan pria-pria yang sedikit mempersulit langkah dan membebaninya dengan pilihan yang bisa menghancurkan mimpinya dan janji terhadap ana yang sangat dia cintai.


Meski terkesan sangat sederhana, Alice Doesn't Live Here Anymore cukup berhasil menghadirkan sosok perempuan di masa dimana gerakan perempuan akan persamaan hak mulai menggejala di mana-mana. Hal tersebut diwakili dengan apik dengan karakterisasi dari si Alice. Sosok Alice digambarkan sedikit teatrikal, namun bertenaga serta berani mangambil pilihan sendiri. Jiwa bebas dari Alice digambarkan lewat sikap optimis dan tidak terseret kedukaan serta kalimat-kalimat lugas yang meluncur bebas dari mulutnya. Meski demikian, sosok Alice tidak digambarkan radikal karena ada sang anak sebagai katalis aksinya. Selain itu, Alice juga digambarkan layaknya manusia kebanyakan, tanpa memandang jenis kelamin, yang membutuhkan cinta dalam hidupnya. Resikonya, ending yang dipilih terkesan kompromis dan cenderung terlalu cepat. Namun, rasanya pilihan endingnya sudah cukup bijaksana dan menggambarkan salah satu alternative pilihan ideal dan manis.


Daya tarik film ini menurut saya, selain karakter Alice yang loveable, juga berkat hubungan Alice dan Tommy, sang anak, yang begitu cair dan tanpa batas. Interaksi keduanya senantiasa menghadirkan senyum dan tawa. Lihat saja bagaimana Alice mengusili Tommy, begitupun sebaliknya. Perdebatan diantara keduanya kadang terkesan kurang ajar dan menabrak batas-batas kelaziman hubungan ibu dan anak. Sebagai seorang pemain baru, penampilan Alfred Lutter yang didapat setelah mengaudisi lebih dari 300 anak sungguh sangat mengesankan. O iya, selain itu ada Jodie Foster lho. Disini dia terlihat ganteng dan tokoh yang dia perankan, mulutnya tidak kalah lugas dengan mulut si Alice. Bahkan, dalam salah satu adegan, kata-kata yang keluar dari mulut Audrey yang diperankan oleh Jodie Foster tersebut membuat Alice terperangah.


Film tentang perempuan seringkali menempatkan sosok pria sebagai si brengsek. Tidak demikian dengan Alice Doesn't Live Here Anymore. Memang ada sosok pria yang kasar dan keras terhadap perempuan seperti Ben (Harvey Keitel) yang mengejar Alice meski sudah beristri, namun film ini juga ada David (Kris Kristofferson) yang tidak egois dengan berani minta maaf serta ada juga Mel (Vic Tayback) pria pemilik restoran yang sangat toleran, bahkan tidak berdaya menghadapi salah satu pegawainya, Flo (Diane Ladd). Sosok Flo ini mewakili citra perempuan seksi namun independen. Dengan karakter yang sama-sama bebas, Flo bisa menjadi teman terbaik bagi Alice. Perempuan memang idealnya saling dukung satu sama lain. 4/5

Minggu, 23 Mei 2010

MAO’S LAST DANCER : CITA CINTA CUNXIN

Minggu, 23 Mei 2010 0

Once upon a time…inside a deep, dark well, there live a frog
This frog could only see the opening of the well.
One day, a toad arrived at the top of the well
The toad saw the frog and said to the frog
“Come up and have a look. The world up here is huge and bright”




Li Cunxin (Chi Cao) sejak kecil tidak pernah menyadari kalau dirinya mempunyai bakat menjadi seorang penari balet. Bahkan, ketika ditanya akan menjadi apa nantinya, dengan polos dan bangganya, bocah desa ini menjawab ingin menjadi tentara bagi Cina. Namun, di luar kuasanya, pintu demi pintu yang mengarahkannya untuk menjadi salah satu penari balet terbaik di dunia terbuka bagi dirinya. Tanpa mengetahui alasan yang sebenarnya, Li Cunxin terpilih untuk melakukan seleksi di Beijing dan berhasil menyisihkan buanyak anak lain. Selanjutnya, meski bukanlah yang terbaik, Li Cunxin terpilih untuk mewakili China dalam memperdalam balet di Amerika dan tinggal menunggu waktu untuk baginya menjadi seorang bintang.


Perjalanan Li Cunxin bukannya tanpa aral. Seperti halnya film dengan tema from zero to hero lainnya, sang tokoh utama harus melewati beberapa ujian. Dalam Mao’s Last Dancer, ujian terbesar yang menghampiri Li Cunxin hadir ketika dia harus melawan negaranya gara-gara jatuh cinta dengan cewek keturunan Amerika. Kisah cinta tersebut menjadi masalah besar mengingat perbedaan pandangan politik yang sangat kontras antara Cina dengan Amerika Serikat. Pilihan yang menghampiri Li Cunxin tidaklah mudah karena ada hubungannya dengan nasib orang tuanya yang lama tidak ditemuinya.
Menyaksikan film yang diangkat dari kisah orang kondang yang sukses kadang terasa sangat inspiratif, namun kalau tidak digarap dengan apik bisa-bisa malah akan terkesan biasa-biasa saja karena polanya sudah bisa ditebak. Sutradara Bruce Beresford yang sebelumnya membuat Double Joepardy dan Driving Miss Daisy, sayangnya mengemas Mao’s Last Dancer dengan biasa saja hingga filmnya terasa datar. Kisahnya sebenarnya mengandung potensi konflik yang cukup menjanjikan, mulai dari bagaimana usaha Li Cunxin agar bisa menari balet dengan bagus hingga persoalan politis yang menghadangnya.


Konflik batin Li Cunxin kurang tereskpos secara dramatis. Atau hal ini untuk menunjukkan kalau hidup harus jalan terus? Adegan penyanderaan Li Cunxin terkesan biasa-biasa saja dan proses “perlawanan’ Li Cunxin terhadap Negara asalnya juga terkesan kurang gigih. Kegagapan Li Cunxin yang harus hidup di Negara bebas setelah sebelumnya hidup dengan doktrin-doktrin sosialisme juga tidak disajikan secara mendalam. Dampaknya, penonton (saya) susah untuk ikut bersimpati pada beban berat yang menghampiri si tokoh utama. Rasanya kok kisah Li Cunxin jadi kurang menarik untuk dijadikan sebuah film.


Selain penampilan Chi Cao dan Bruce Greenwood, barisan cast pendukung bermain jauh dari kesan istimewa. Saya terkesan dengan penampilan Bruce Greenwood yang secara mengejutkan mampu tampil gemulai. Diluar tidak istimewanya film ini, untungnya kita bisa sedikit dimanjakan dengan sajian tarian balet dengan iringan musik cantik yang meski bisa dihadirkan dengan angle-angle yang lebih variatif, divisualkan dengan cukup memikat. Itupun kalau kamu bisa menikmati balet dan tidak terganggu dengan pria bercelana ketat. Tarian di bawah gunung di akhir film justru menjadi adegan termanis bagi saya. Salah satu pelajaran penting dari film ini adalah kadang kita butuh orang lain untuk membantu kita mengenali dan mengembangkan bakat kita. Jadi, jangan sia-siakan tawaran menarik yang menghampiri kita. Siapa tahu itu menjadi gerbang kesuksesan bagi kita kedepannya. Tentu saja harus juga diimbangi semangat juang yang tinggi dari diri kita sendiri serta keterbukaan dalam menerima hal-hal baru yang positif. 3,5/5


Kamis, 20 Mei 2010

WISH : KENAKALAN ITU SEBUAH PROSES

Kamis, 20 Mei 2010 2

Menyaksikan Wish arahan Lee Seong-han sedikit mengingatkan saya pada Mean Girls-nya Lindsay Lohan. Seperti halnya karakter yang diperankan oleh Lindsay Lohan, Jjang-gu seakan memasuki sebuah dunia asing ketika memasuki SMA khusus cowok. Untung bagi Jjang-gu, ternyata ada wajah yang dia kenal hingga tidak menjadi obyek arogansi senior. Yang namanya sekolah khusus cowok, tidak seru kalau tidak ada gank yang berkuasa di sekolah. Mereka biasanya menerapkan aturan yang wajib dipatuhi oleh semua, terutama mereka para siswa baru.


Jjang-gu digambarkan tidak terlalu berminat masuk gank tersebut. Namun, secara perlahan dan seakan merupakan sebuah proses alamiah, Jjang-gu bergabung dengan gank tersebut. Dalam prosesnya, Jjang-gu terlibat dengan berbagai masalah yang membuatnya mendapat peringatan dan hukuman dari sekolah. Bahkan, Jjang-gu sempat mendekam dalam tahanan. Sebenarnya Jjang-gu bukanlah berasal dari keluarga berantakan seperti umumnya penggambaran anak nakal di film remaja bermasalah. Jjang-gu mempunyai ayah yang cenderung diam melihat berbagai aksinya serta ibu yang sangat perhatian.
Lalu kenapa Jjang-gu bisa terlibat dengan berbagai masalah? Selain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan sangatlah berpengaruh dalam membentuk pribadi anak, apalagi di usia yang masih muda dan labil. Lingkup pergaulan itu bisa sangat menyenangkan, namun bisa juga amat menekan. Masuknya Jjang-gu dalam gank bisa jadi merupakan sebuah bentuk adaptasi demi bisa bertahan dan eksis. Perilaku Jjang-gu bukan lagi merupakan perilaku individu tapi lebih pada perilaku kelompok yang mendewakan solidaritas. Masih ingat dengan film Virgin?


Masuknya Jjang-gu ke dalam gank bisa juga disebabkan minimnya sarana aktualisasi diri. Dalam Wish, tidak terlihat kegiatan Jjang-gu di luar sekolah yang bersifat positif. Bahkan, Jjang-gu dengan ekspresi datarnya terlihat tidak mempunyai minat apapun. Selain itu, meski tidak digambarkan dengan gamblang, saya merasakan kefrustasian Jjang-gu akibat tidak bisa menjadi anak yang tidak menyusahkan orang tuanya seperti kakak-kakaknya. Rasa frustasi seperti ini kadang bisa mendorong seorang remaja nekat menerjunkan diri ke dalam masalah. Sutradara Lee Seong-han tidak lantas memberi label buruk terhadap para remaja yang bergabung dalam sebuah gank. Lee Seong-han lebih melihat hal tersebut sebagai sebuah proses yang lazim dilalui oleh para remaja. Meninggalnya ayah Jjang-gu tidak membuat Jjang-gu menarik diri dari pergaulan, hanya saja dia menyikapinya dengan lebih bertanggung jawab.


Bagi banyak penonton, Wish akan terasa sangat membosankan. Proses Lee Seong-han menjadi anak gank disajikan dengan sangat halus, dan dihiasi humor yang sulit memancing senyum. Saya sendiri merasa aneh dengan hampir tidak adanya adegan kekerasan, mengingat tema gank senantiasa identik dengan bentrok fisik. Mungkin ada pesan anti kekerasan yang ingin disampaikan oleh Lee Seong-han. Entahlah. Namun, Wish ini bisa jadi sebuah tontonan yang bisa menginspirasi para remaja (cowok) agar lebih bijaksana dalam bertindak. Dan seperti kebanyakan film Korea, diselipkan adegan yang cukup mampu membangkitkan rasa haru yang untungnya tidak berlebihan. 3,5/5

Minggu, 02 Mei 2010

A SINGLE MAN

Minggu, 02 Mei 2010 12

"For the first time in my life I can't see my future. Everyday goes by in a haze, but today I have decided will be different."

Orang jatuh cinta dan orang putus cinta itu kadang bisa jadi orang paling egois sedunia. Kalau sedang jatuh cinta saja, dunia seakan milik berdua. Kemana-mana berdua dan kalau cerita, seputar dia dan pasangannya melulu. Nah, kalau putus cinta, seakan ada tuntutan tidak tertulis kalau dia paling pantas mendapatkan perhatian penuh, Merasa paling menderita sedunia. Makanya, mereka merasa ratapan mereka pantas didengar dan dimaklumi. Jatuh cinta dan putus cinta itu idealnya disikapi secara bersahaja dan tak perlu over dramatisasi yang malah menjengkelkan. Lagian, segala sesuatu yang terlalu kan memang tidak baik.


Dengan pola pikir seperti diatas, terus terang Gilasinema kurang bisa menikmati A Single Man. Kesedihan George Carlyle Falconer (Colin Firth) yang ditinggal mati kekasihnya, Jim (Matthew Goode) disajikan dengan amat mendayu-dayu dengan pergerakan kamera yang pelan dan halus serta beberapa slow motion. Kisahnya berlangsung selama satu hari. Dimulai dengan terbangunnya George dari mimpi buruk hingga fajar menjelang kembali. Berprofesi sebagai dosen, George menjalani hidupnya seperti biasa. Hari tersebut menjadi hari luar biasa bagi George karena dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah merasa berduka dan kesepian sejak kematian Jim. Di sela-sela persiapan bunuh diri tersebut, George bersinggungan dengan beberapa sosok. Mulai dari tetangganya, sahabatnya (Julianne Moore) hingga salah satu muridnya yang ternyata menyimpan rasa terhadapnya. Untuk meyakinkan penonton, kita juga disuguhi rangkaian kenangan keintiman George dengan Jim. Apakah George tetap akan melanjutkan niat mengakhiri hidupnya?


Puyeng rasanya melihat A Single Man. Oleh Tom Ford kita dibawa memasuki dunia sendu dari George dan sesekali layar terlihat lebih berwarna ketika menghadirkan momen yang membahagiakan bagi George. Ya, Tom Ford menggunakan pewarnaan yang berbeda untuk menggambarkan emosi George. Ketika George tidak berkoneksi dengan lingkungan sekitarnya, visual terlihat kelabu yang akan berubah terang dan cerah ketika Geroge merasa bahagia. Misalnya ketika George melihat anjing atau ketika bertemu dengan anak perempuan. Dan tentu saja, ketika dia sreg dengan cowok yang mendekatinya. Selain sendu, A Single Man juga terasa datar karena minimnya letupan konflik. Yang mengherankan, selain meromantisasi kesedihan, film ini diselipi lumayan banyak perbincangan berbau filosofis. Untungnya, ada adegan George mencari tempat dan posisi enak untuk bunuh diri yang terlihat lucu sekaligus menyedihkan.


A Single Man is so gay. Bukan dalam pengertian yang buruk. Maksudnya adalah kamera diposisikan seolah-olah mata dari seorang pria pecinta sesama jenis. Keindahan fisik itu penting bagi mereka, hingga kamera bekerja dengan detail dalam menangkap keindahan ragawi. Tidak hanya pria, namun juga wanita. Dan jangan mengharap mendapati adegan persenggamaan antar pria. Meski menampilkan beberapa scene pria telanjang, Tom Ford tampaknya berusaha mengeksploitasinya secara elegan dan … indah mungkin? Untuk soal keindahan ini, kinerja divisi artistic serta make-up/kostum patut diacungi jempol. Menyaksikan A Single Man kadang seperti menyaksikan sebuah fashion photo shot di majalah. Mungkin sedikit terpengaruhi dengan pengalaman kerja Tom Ford di dunia fashion.


Lewat perannya sebagai George, Colin Firth menuai banyak pujian. Dan memang, lewat A Single Man, Colin Firth berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai actor dengan keberhasilannya menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan peran sebelumnya yang sering mengharuskannya bersikap ala pria aristocrat. Sebagai sosok George yang gay, yang pertama terlihat oleh mata, Colin Firth menggunakan tata rambut yang rapi jali dan tidak ikat seperti biasanya. Goerge juga berbalut busana berkelas yang tampak licin. Dan kalau kamu perhatikan, tubuhnya terlebih liat dan mulus. Colin Firth juga piawai menghadirkan bahasa tubuh seorang pria gay yang berkelas dan intelek. Lihat saja bagaimana posisi dia berdiri atau duduk. Meski lebih sering memancarkan kesenduan, mata Colin Firth pada satu kesempatan mengerling menggoda.


Julianne Moore menjadi scene stealer lewat vitalitas peran yang dia bawakan. Setiap kehadirannya yang sayangnya tidak begitu banyak, entah mengapa suasana jadi lebih punya greget. Ah…kapan ya aktris hebat ini bisa dapat Oscar?! Performa Colin Firth dan Julianne Moore yang prima inilah yang sanggup membuat Gilasinema bertahan dengan ke-mellow-an serta dramatisasi yang bagi Gilasinema sedikit berlebihan. Kurang tahu ya mengapa Gilasinema kurang begitu suka dengan kisah jatuh cinta serta putus cinta yang terlalu didramatisasi dan diromantisir. Untuk semua jenis kelamin. Mungkin masalah peradigma saja. Sebagai sebuah debut dan minimnya pengalaman di dunia sinema, hasil yang ditunjukkan oleh Tom Ford berdasar kisah novel tulisan Christopher Isherwood ini sangatlah pantas diacungi jempol. Tidak terlihat kalau A Single Man adalah sebuah karya perdana.Tapi ... oh tapi, mengapa endingnya seperti itu! 3,5/5

Sabtu, 17 April 2010

MENEBUS IMPIAN

Sabtu, 17 April 2010 13

Impian. Orang hidup itu harus dan pasti punya impian, apapun wujud impian tersebut. Masing-masing orang tidaklah sama. Impianlah yang membuat hidup manusia terasa lebih hidup, karena impian membuat manusia merancang, membuat dan mewujudkan aksi demi mewujudkan impian tersebut. Tidak semua orang bisa mewujudkan mimpinya. Karena selain keberuntungan, dibutuhkan kerja keras serta kesabaran dalam mewujudkan impian. Ketika impian terasa mustahil untuk diwujudkan, rasa putus asa datang menghampiri. Kalau sudah begini, kehancuran bisa mengancam, kecuali kalau dia bisa bangkit dan berusaha lebih keras atau mengganti impiannya.


Bagi Nur (Acha Septriasa) kebahagiaan ibunya (Ayu Diah Pasha) adalah impian terbesarnya. Namun, hidup seakan tidak adil bagi Nur. Sejak kecil, ayahnya pergi entah kemana dan Nur harus menjadi saksi kerja keras ibunya demi memberikan kehidupan yang layak bagi Nur. Pada saat Nur dipusingkan dengan biaya kuliah yang naik, mesin cuci yang merupakan penopang keuangan mengalami kerusakan. Belum cukup, ibunya Nur didiagnosa ada ayag salah dengan otaknya dan membutuhkan biaya besar untuk operasi. Pada saat situasi makin tidak menentu dan ditambah sulitnya mencari pekerjaan, Nur dipetemukan dengan Dian (Fedi Nuril). Pemuda ini mengenalkan Nur dengan bisnis MLM.
Awalnya Nur sempat memandang remeh bisnis tersebut dan memilih bekerja sebagai pramusaji di sebuah bar. Namun berkat dorongan Dian, Nur mencoba lebih keras dalam usaha MLM tersebut dan secara perlahan, seberkas sinar mulai menerangi kehidupannya. Ketika cahaya hidup Nur mulai sedikit agak terang, datang cobaan yang membuatnya meredup kembali. Lagi-lagi Dian datang sebagai dewa penolong yang membuat Nur kembali bersinar. Kali ini dengan binar yang lebih terang, karena pada akhirnya Nur bisa mewujudkan mimpinya, membahagiakan ibunya.


Sudah tak terhitung lagi film-film yang berkisah tentang usaha meraih mimpi. Kebanyakan mempunyai pola cerita yang sama yakni bagaimana seseorang yang awalnya nobody, setelah bekerja keras, sukses menjadi somebody. From zero to hero. Menebus Impian tidak berbeda jauh dengan film soal mimpi lainnya, bahkan terkesan sangat klise. Tokoh Nur yang bak sudah jatuh tertimpa tangga misalnya, lazim ada pada film/sinetron Indonesia. Sudah miskin, sakit-sakitan lagi. Kesan klise pada Menebus Impian makin kentara dengan hadirnya kebetulan yang menghampiri hidup Nur. Kebetulan dia bertemu dengan Dian diwarung Jaja Miharja. Kebetulan Dian dekat dengan petinggi MLM yang diperankan Deddy Soetomo. Kebetulan yang menyelamatkan Nur dari sergapan lelaki hidung belang dan kebetulan Dian menemukan buku catatan Nur yang dibuang di tengah jalan sebelumnya.


Kebetulan demi kebetulan serta kisah klise tadi tak pelak sedikit mengganggu kenikmatan Gilasinema dalam menonton Menebus Impian ini. Gilasinema makin jengah ketika Gilasinema merasa ada motif propaganda bisnis MLM dalam film ini. Mungkin hanya perasaan Gilasinema saja. Tapi ketika ada adegan yang menegaskan MLM jauh lebih baik ketimbang money games menguatkan kecurigaan Gilasinema. Bisnis MLM terlalu diposisikan sebagai dewa penolong dalam film ini. Butuh dana untuk biaya pengobatan? MLM lah solusinya. Ingin keluar dari kemiskinan? MLM bisa kamu jadikan sarana mengentaskan kemiskinan. Pencapaian mobil dan rumah mewah makin menguatkan kesan propaganda ini. Ah...mungkin kesan ini muncul karena mobil dan rumah mewah bukanlah impian Gilasinema.


Tapi kalau mau berpikir positif, Menebus Impian menawarkan spirit yang bagus layaknya film tentang impian lainnya, yakni semangat untuk bekerja keras. Kalau ingin berhasil ya harus berusaha keras dan tak mudah putus asa. Menebus Impian itu ibarat visualisasi dari buku-buku motivasi yang banyak dijumpai di toko buku. Bagi mereka yang bermimpi mempunyai mobil dan rumah mewah, Menebus Impian mungkin bisa memberikan modal semangat. Menebus Impian juga memberikan gambaran yang bagus kalau manusia itu tidak bakalan bisa sukses tanpa adanya manusia lain. Dan kalau kamu dibuat jengah dengan propaganda bisnis MLM dalam film ini, ucapkan terima kasih pada Tya Satrio yang berkat olahan musiknya, untungnya mampu mengangkat mood hingga kisahnya lebih mengikat emosi selain penampilan Acha Septriasa yang cukup ok. Adegan dipinggir rel menjadi adegan favorit Gilasinema. Selain menghadirkan emosi yang cukup tinggi, adegan ini menurut Gilasinema merupakan adegan yang sulit karena berlatarkan kereta yang berseliweran. Sebagai penutup, jangan takut bermimpi. 3,25/5

Rabu, 07 April 2010

THE COVE

Rabu, 07 April 2010 12

Sapi dan lumba-lumba itu sama-sama mamalia yang bisa dikonsumsi dagingnya. Selain mempunyai sejarah sebagai bahan konsumsi yang sangat puanjang hingga menimbulkan kebiasaan dan kewajaran, sapi (dibuat) legal untuk dibantai dan dikonsumsi massal mengingat ada peternakan yang menjamin sapi tidak akan mengalami kepunahan. Bagaimana dengan lumba-lumba? Tidak semua orang bisa dan mau makan lumba-lumba. Lumba-lumba terlihat lebih lucu dan menggemaskan dibandingkan sapi. Bahkan, lumba-lumba bisa diajak bermain layaknya anjing. Ketidakbiasaan makan lumba-lumba dan tidak adanya peternakan lumba-lumba menjadi pendorong gerakan pengharaman perburuan lumba-lumba selain factor kelucuan nan menggemaskan tadi.


Karena citra lumba-lumba yang terkesan lebih “bersih” dibandingkan sapi seperti tersebut diatas, dijamin memunculkan kemarahan sekaligus kepedihan setelah menyaksikan The Cove. Duo Ric O'Barry dan Louie Psihoyos berhasil menyajikan sebuah tontonan yang amat sangat provokatif dan dituturkan dengan sangat menarik. Menyaksikan The Cove menghadirkan keasyikan tersendiri karena kita seakan menyaksikan film sejenis Ocean’s Eleven ataupun Mission : Impossible. Kisahnya sederhana. Ric O'Barry yang dulu kondang sebagai pelatih lumba-lumba di film Flipper, berniat mengabadikan aksi pembantaian lumba-lumba nan kejam di daerah Taiji, Jepang. Apa maksud dari Ric O'Barry tersebut? Selain masalah eksistensi lumba-lumba yang dikhawatirkan mengalami penyusutan jumlah, dalam kesimpulan Gilasinema, Ric O'Barry seakan berusaha menebus dosa karena dia punya andil dalam perkembangan perdagangan lumba-lumba. Ini yang Gilasinema tangkap lho. Mohon dikoreksi apabila ada kekeliruan.


Penebusan dosa ini ditunjukkan dengan berbagai aksi Ric O'Barry yang kadang membuatnya berurusan dengan pihak keamanan dan dibenci banyak pihak. Kenapa Taiji yang dipilih? Menurut data yang disampaikan Ric O'Barry, di Taiji inilah ribuan lumba-lumba dibanti setiap tahunnya. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Ric O'Barry tadi dirasa kurang ampuh untuk mencapai tujuan. Disini, Ric O'Barry tampaknya (mulai) menyadari kekuatan dari media dalam menggugah kesadaran akan kenyataan kejam yang berlangsung di Taiji. Dimulailah usahanya dalam mendapatkan gambar-gambar pembantaian yang tidak bisa dipungkiri mampu membangkitkan kemarahan dan kesedihan. Ric O'Barry menebus perasaan berdosanya dengan jari telunjuk mengarah pada Taiji.


Efektifkah usaha dari Ric O'Barry? Bagi Gilasinema, pengungkapan pembantaian lumba-lumba yang berdarah-darah tidak bisa dipungkiri sangat menghentak rasa, namun tidak cukup efektif untuk menekan perburuan dan pembantaian lumba-lumba. Bagi Gilasinema, isu kandungan merkuri yang tinggi pada lumba-lumba akan jauh lebih efektif untuk menekan perburuan dn pembantaian lumba-lumba. Mengapa? Karena, menilik sifat manusia yang cenderung egois, isu merkuri ini akan lebih menakutkan bagi mereka pengkonsumsi lumba-lumba karena berhubungan langsung dengan kesehatan raga mereka. Karena ketakutan tubuhnya tercemar merkuri, bisa jadi permintaan akan daging lumba-lumba akan menurun. By the way, Negara mana sih yang mengimpor daging lumba-lumba dalam jumlah besar? Dalam The Cove, tidak diungkapkan dengan jelas ke Negara mana saja daging lumba-lumba dijual. Keperluan local? Perlu sebanyak itukah? Kalau untuk keperluan taman hiburan, apa memang perlu memburu hingga lebih dari 20.000 ribu ekor? O iya, Soal merkuri, Pemerintah Jepang sudah mengeluarkan peringatan sejak tahun 2003 lho. Perburuan dan pembantaian lumba-lumba dalam jumlah besar tidak hnya terjadi di Taiji, karena hal yang sama juga terjadi di Pulau Faroe. Kira-kira, alasan apa ya yang mendasari Ric O'Barry tidak melakukan hal yang sama di Pulau Faroe?


Gilasinema bukannya mendukung pembantaian lumba-lumba lho, apalagi dengan cara-cara yang tidak berperikelumba-lumbaan seperti yang dipraktekkan di Taiji. Hanya saja, The Cove terlalu menyudutkan Taiji (Jepang) tanpa mempertimbangkan aspek social, ekonomi dan budaya. Langkah Ric O'Barry mungkin akan terlihat lebih elegan kalau dia mengusulkan solusi semacam peternakan lumba-lumba misalnya. (Eh…bisa gak sih?). Butuh dana yang besar memang, tapi bukan berarti tidak bisa dikembangkan kan? Toh, tanpa diimbangi dengan kampanye akan kebersihan lingkungan, suatu saat lumba-lumba dan makhluk laut lainnya serta ekologi laut bisa terancam punah dan rusak oleh limbah dan polutan. Selain perburuan dan pembantaian, pestisida, plastic, logam berat dan sejenisnya mempunyai peran yang tak kalah besar dalam rusak dan punahnya kehidupan di laut.


Lewat The Cove, Ric O'Barry seakan menegaskan untuk segera diambil langkah-langkah untuk menghentikan perburuan dan pembantaian lumba-lumba., hingga dia lupa menyisipkan sisi positif dari penangkapan lumba-lumba. Beberapa penelitian menemukan fakta menarik bahwa lumba-lumba bisa sangat berguna bagi dunia kesehatan. Saat ini sudah makin banyak dikembangkan terapi lumba-lumba. Terapi ini dikembangkan oleh seorang psikolog bernama DR.DAVE NATHANSON di Ocean World, Fort, Lavderdale, Florida tahun 1978. Terapi ini berguna untuk kasus anak-anak dengan kebutuhan khusus antara lain Autisme (ADD & ADHD), CP (Celebral Palsy), kesulitan belajar, kurang konsentrasi, gangguan bicara dan bahasa, Down Syndrome, Sensory Integrastion disorder (SID), keterampilan pertumbuhan dan gangguan tumbuh kembang. Pada kasus orang dewasa sendiri antara lain : Stroke, LBP (Low Back Pain/Sakit Pinggang Bawah), HNP, Stress/depresi. Di Indonesia, terapi lumba-lumba bisa ditemui terutama di Jakarta dan di Bali. Namun tampaknya terapi ini baru bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. 3,75/5


Kisah perburuan dan pembantaian lumba-lumba bisa juga dibaca di :
AT THE MOVIES
LABIRIN FILM

Sabtu, 27 Februari 2010

HACHIKO : A DOG’S STORY

Sabtu, 27 Februari 2010 37

20 tahun lebih Gilasinema mengkonsumsi sinema, baru Hachiko yang berhasil membuat Gilasinema menangis sesenggukan selama sekitar setengah jam. Mungkin berlebihan, namun kalau kamu pernah memelihara anjing atau tidak antipati terhadap anjing, rasanya bakal bisa tersentuh oleh film ini. Hachiko sebenarnya hanyalah berkisah tentang kesetian anjing terhadap tuannya, seperti tagline film ini “A true story of faith, devotion and undying love.’ Namun, kisah biasa ini di tangan sutradara asal Swedia, Lasse Hallström, menjadi sangat menyentuh berkat penggambaran interaksi yang intens antara Richard Gere dengan anjing pemeran Hachi. Interaksi keduanya mungkin terasa lamban dan membosankan, namun justru menjadi pengikat emosi yang kuat.


Sekali lagi, kalau kamu tidak anti anjing dan pengen tontonan yang membuat menangis, maka Hachiko sangat Gilasinema rekomendasikan. Sayangnya film ini direct to video hingga kiprahnya langsung tenggelam. Di Jepang, kisah Hachiko ini katanya sangat terkenal sampai dibuatkan patung segala. Tiap 8 Maret diadakan perayaan untuk mengenang Hachiko yang melambangkan kesetiaan tingkat tinggi. Dan lagi, film ini kan arahan Lasse Hallström yang sebelumnya menghasilkan What's Eating Gilbert Grape, The Cider House Rules, Chocolat, The Shipping News, An Unfinished Life, Casanova dan The Hoax. Tahun 2010 ini dia cukup sukses dengan Dear John dan bakal segera merilis The Danish Girl yang dibintangi Nicole Kidman dan Gwyneth Paltrow. Tontan saja deh 4/5








HACHIKO JUGA ADA DI:
TUKANG REVIEW
MOVIEGEEK NOTES
 
GILA SINEMA. Design by Pocket