Tampilkan postingan dengan label FRESHING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FRESHING. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juni 2010

KICK – ASS & DEFENDOR : 3 PERSPEKTIF

Jumat, 04 Juni 2010 7

Secara berturut – turut saya menyaksikan dua film, Kick-Ass dan Defendor, yang kalau dicermati mempunyai kemiripan garis cerita. Tokoh utama di dua film tersebut terobsesi menjadi superhero, selain karena sering menjadi korban kekerasan juga karena terinspirasi komik superhero. Keduanya tidak dibekali senjata canggih, kostum keren dan kemampuan bertarung yang bagus. Kemiripan kedua film tersebut makin kentara dengan hadirnya sosok cewek yang membuat keduanya terseret dalam lingkaran kekerasan. Ketika Dave Lizewski (Aaron Johnson) jera sebagai Kick-Ass, datang keluhan dari cewek pujaan hati, Katie (Lyndsy Fonseca). Sedangkan, Arthur Poppington (Woody Harrelson) babak belur setelah terpengaruh omongan perempuan nakal, Kat Debrofkowitz (Kat Dennings).
Menyaksikan dua film tersebut, ada beberapa hal yang menarik untuk jadi bahan pemikiran bagi saya. Beberapa diantaranya yang menurut pandangan saya cukup menonjol, akan saya ungkap di bawah ini. Sekali lagi, menurut pandangan saya. IMO. MOI.


SUPERHERO WANNABE
Dave Lizewski dan Arthur Poppington merupakan gambaran orang-orang yang merindukan kedamaian dan anti kekerasan. Sebuah dunia yang lebih baik. Kebetulan keduanya mengkonsumsi kisah superhero sejak kecil sehingga berpengaruh terhadap definisi “pahlawan” di mata mereka. Keinginan mereka menjadi superhero bisa jadi merupakan reaksi terhadap ketidakpercayaan mereka terhadap penegak hukum yang kadang malah berkoalisi dengan criminal. Lihat saja di Defendor ada oknum polisi yang bukannya melindungi masyarakat, justru melindungi kepentingan pelaku criminal. Dalam Kick-Ass, ketidakpuasan terhadap penegak hukum hadir lewat sikap Big Daddy (Nicholas Cage) yang memberantas criminal dengan caranya sendiri.


Ada satu kalimat yang cukup dalam dihadirkan dalam Kick-Ass “Come on, be honest with yourself. At some point in our lives, we all wanna be a superhero”. Yup, bener sekali. Bohong kalau kita tidak pernah membayangkan diri kita menjadi seorang pahlawan. Apapun wujudnya. Contohnya, pernah seorang teman saya yang berandai-andai bertemu dengan cewek idaman setelah melalui kejadian pencopetan atau penjambretan dimana teman tersebut menjadi sosok yang melumpuhkan si pelaku. Banyaknya orang yang terjun dunia politik bisa juga dilihat sebagai superhero wannabe. Coba tanya mereka yang secara instant terjun di kancah politik, apa motivasi mereka. Dengan idealisnya, mereka (kebanyakan) akan menjawab “Saya ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat, memaksimalkan potensi yang selama ini belum tergali”. WOW!!!


Kenyataannya, mereka tidak mempunyai bekal yang cukup dan banyak yang hanya bermodalkan popularitas dan dukungan semu. Tidak ada bedanya kan mereka itu dengan Dave Lizewski dan Arthur Poppington. Niat sih boleh baik dan mulia, tapi akan lebih ideal kalau dilandasi dengan kesadaran akan kemampuan mereka. Toh, banyak jalan menjadi superhero. Tidak perlu melakukan hal-hal yang (terlihat) besar. Hal-hal kecil, seperti buang sampah pada tempatnya, rasanya sebuah perbuatan yang tak kalah heroic. Seperti apa yang diutarakan oleh Paul Carter (Michael Kelly) dalam Defendor :

Do you remember when you saved Jack's life? I'll never forget what you did that day. You were just a regular guy doing something remarkable. You don't need a costume. Ordinary people, they do extraordinary things all the time. You're always going to be that hero, Arthur, just by being yourself.



HIT (THE) GIRL, KICK (HIS) ASS
Aksi The Hit Girl dalam Kick Ass lebih banyak disorot dibandingkan si tokoh utama. Banyak yang terhibur dengan kemampuan The Hit Girl namun tak sedikit pula yang mengecamnya. Saya pribadi pada satu sisi merasa terhibur, terutama dengan kemampuan acting pemeran The Hit Girl, Chloe Moretz, namun di sisi lain saya dibuat miris dengan berbagai macam aksi tarung yang dia peragakan dan berdoa semoga kelak kalau dikarunia anak, entah cowok atau cewek, tidak memanfaatkan kemampuan bela diri yang dimiliki layaknya The Hit Girl. Berbeda dengan Defendor yang minim akan visualisasi kekerasan dan tokoh utamanya yang anti pistol sebagai pernyataan sikap anti kekerasan, Kick-Ass menurut saya gagal dalam menyampaikan pesan ini. Dave Lizewski yang bertransformasi menjadi Kisc-Ass bagi saya merupakan wujud dari sikap anti kekerasan. Kick-Ass merupakan sajian penuh sindiran akan kekerasan. Sayangnya, dengan menampilkan adegan kekerasan yang terlihat keren dan dilakukan oleh anak kecil, pesan anti kekerasan menjadi terkaburkan. Aksi The Hit Girl dinilai sebagai aksi yang mengagumkan ketimbang melihatnya sebagai sebuah anomaly.


Sudah banyak bahasan yang mengulas pengaruh media terhadap perilaku kekerasan. Kreator Kick-Ass terlihat sadar sepenuhnya akan hal ini yang dihadirkan di menit-menit awal yakni ketika seorang anak mencoba beraksi ala tokoh komik superhero. Pada adegan-adegan selanjutnya, dihadirkan visualisasi bagaimana kekerasan menjadi konsumsi public, bukannya ditanggulangi. Kekerasan sudah menjadi semacam santapan sehari-hari, terutama di Indonesia dan menjadi sesuatu yang lumrah. Tayangan sinetron yang penuh aksi licik dan melegalkan segala cara serta reality show yang dipenuhi orang-orang saling teriak sangatlah digemari disini. Bahkan, tayangan komedi pun dipenuhi dengan kekerasan, baik verbal maupun fisik. Tayangan kekerasan itu laku dijual layaknya seks. Ketika Kick-Ass disambut dengan gempita, kiprah Defendor yang minim visual kekerasan, tidak terdengar sama sekali. Lewat ending yang ditampilkan dalam Kick-Ass dan Defendor, kekerasan terbukti tidak pernah bisa menyelesaikan masalah, justru akan melahirkan kesedihan dan kekerasan baru.


BIG (BAD) DADDY
Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, bagi saya kekerasan yang dilakukan oleh The Hit Girl itu adalah sebuah hal yang menyedihkan dibandingkan sebagai sesuatu yang keren. Bagi saya, The Hit Girl itu korban dari ambisi dendam Big Daddy. Bocah yang harusnya menikmati masa kecilnya dengan bermain, namun secara menyedihkan diprogram Big Daddy menjadi mesin pembunuh dan hidup dalam bayang-bayang amarah dan dendam. Satu kalimat The Hit Girl yang membuat saya sedih yaitu sesaat sebelum menyerang Frank D'Amico (Mark Strong), dia berucap
“I *never* "play". Kalimat ini bisa jadi merupakan pernyataan The Hit Girl akan keseriusannya menghabisi musuhnya, namun bagi saya, itu merupakan ungkapan miskinnya masa kanak-kanak dari The Hit Girl. Kata “bermain” bagi The Hit Girl mempunyai definisi yang tidak umum, seperti yang dia ungkapkan dalam salah satu adegan “So, you wanna play?”


Dari hubungan The Hit Girl dengan Big Daddy, saya jadi tertarik memahami perilaku Dave/Kick-Ass dan Chris/Red Mist (Christopher Mintz-Plasse) dilihat hubungannya dengan ayah mereka. Mengapa? Kalau kamu rajin melahap materi yang berkaitan dengan psikologi anak, banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya peran ayah bagi perkembangan jiwa si anak. Bukan bermaksud mengecilkan peran ibu lho. Hanya saja dalam konteks film Kick-Ass dan Defendor, peran ibu sangatlah kecil. Idealnya sih, peran ayah ibu sama-sama maksimal seperti yang ditunjukkan dalam salah satu adegan di Defendor yakni adegan di rumah sakit ketika seorang anak ditanya ibunya soal pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa kekerasan yang menimpa Defendor.


Bagi Defendor, sosok ibu adalah sosok yang sangat dia cintai, namun obsesinya akan Captain Industry tidak bisa dilepaskan dari dogma yang ditancapkan oleh kakeknya yang berperan sebagai ayah baginya, mengingat tidak jelas siapa ayah dia yang sebenarnya. (ada sedikit indikasi Captain Industri itu ayah Defendor. Bener gak sih?) Bagaimana dengan Kick Ass dan Red Mist? Kick Ass sejak kecil ditinggalkan ibunya dan tumbuh dengan ayah yang digambarkan sedikit acuh. Sikap ayahnya ini bisa jadi yang membuat Dave Lizewski menjadi sosok remaja tanggung dan terkesan pecundang. Kalau saja komunikasi antara Dave Lizewski dengan ayahnya terjalin dengan baik, rasanya Dave Lizewski tidak akan melakukan aksi yang aneh-aneh. Chris D'Amico di satu sisi justru sangat dekat dengan ayahnya, hanya saja ayahnya mengarahkan pada jalan yang keliru layaknya Big Daddy membentuk The Hit Girl. Frank D'Amico cenderung memanjakan Chris D'Amico dan membiarkan anaknya mengetahui aksi kriminalnya.

KICK - ASS : 3,75/5
DEFENDOR: 4/5

Sabtu, 29 Mei 2010

ST. TRINIAN’S 2 : THE LEGEND OF FRITTON’S GOLD : PETUALANGAN CEWEK – CEWEK BENGAL ALA DA VINCI CODE DAN NATIONAL TREASURE

Sabtu, 29 Mei 2010 4

Roxy: Don't you think this whole idea is a wee bit unfeasible?
Annabelle Fritton: This is St. Trinian's. We don't know the meaning of the word, unfeasible.

Tahun 2007 kemarin saya lumayan terhibur dengan St. Trinian's yang menghadirkan aksi para cewek Bengal nan kreatif dalam menyelamatkan sekolah mereka. Bagi saya, kisah cewek-cewek lincah selalu menghadirkan hiburan tersendiri, meski kualitas filmnya tidaklah istimewa. Saat gelaran Cannes 2008, diumumkan kalau St. Trinians 2 bakal dirilis 18 Desember 2009. Waah…langsung St. Trinian's 2 masuk dalam daftar film yang saya tunggu. Berbekal sub judul The Legend of Fritton's Gold, St. Trinian's 2 menjanjikan sajian yang lebih seru dan lebih gila-gilaan dibandingkan seri pertamanya. Pendekatan ini seringkali dipakai di banyak sekuel macam Transformer 2 atau Iron Man 2. Muncul kekhawatiran, akankah unsure fun-nya bakal berkurang seperti film sekuel lainnya?


Kalau di seri pertama, Annabelle Fritton (Talulah Riley) disibukkan dengan usahanya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, kali ini dia harus menyesuaikan diri dengan posisi barunya sebagai Ketua OSIS. Bukan perkara mudah mengingat karakter anak-anak St. Trinian yang cenderung tidak lazim di mata masyarakat. Belum lagi, Annabelle merasa tidak punya kemampuan sehebat pendahulunya, Kelly Jones (Gemma Arterton) yang sedang sibuk dengan tugas barunya setelah lulus dari St. Trinian. Gesekan – gesekan kecil terjadi antar kelompok murid, namun semuanya wajib bekerja sama ketika terjadi insiden penyerbuan setelah anak-anak menemukan cincin dan Annabelle enggan melepaskannya dengan harga yang ditawarkan oleh Pomfrey (David Tennant).


Film yang awalnya dibuka dengan adegan yang mengingatkan pada Pirates of The Caribbean ini selanjutnya menyajikan berbagai aksi anak-anak St. Trinian dalam mencari pasangan cincin yang mereka temukan di ruang perpustakaan. Kalau dua cincin tersebut dipersatukan, akan mengungkapkan lokasi dimana tersimpan harta karun yang bakal mengguncang dunia sastra. Kenapa dunia sastra? Tunggu saja jawabannya di akhir film yang bakal membuat dirimu terkejut sekaligus tersenyum atau bahkan tertawa, meski terkesan maksa. Proses penyatuan dua cincin tersebut tak kalah seru dengan aksi Robert Langdon (The Da Vinci Code) atau Benjamin Franklin Gates (National Treasure). Dikemas dengan balutan komedi tentu saja. Kepala sekolah, Miss Camilla Fritton (Rupert Everett) sang inisiator pencarian cincin juga tidak tinggal diam dan ikut membantu dengan mendekati mantan kekasihnya, Geoffrey Thwaites (Colin Firth). Yang terpenting, Annabelle berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin.


Timbul sedikit kekecewaan setelah menyaksikan St. Trinian's 2 : The Legend of Fritton's Gold ini. Filmnya sih masih seru, namun sensasi fun-nya mengalami pengendoran, begitupun dengan sensasi ketegangannya. Di seri pertama, kita sebagai penonton di buat tegang karena usaha para penghuni St. Trinian ditujukan demi kelangsungan hidup sekolah mereka. Lha kalau di seri kedua ini, usaha pengungkapan harta karun lebih terasa unsure main-mainnya. Bukan sebuah kesalahan, hanya saja sedikit mengurangi nilai perjuangan mereka. Di seri pertama, greget perlawanan terhadap system lebih terasa. Nah, kalau seri keduanya ini lebih pada perjuangan yang terkesan seksis.


Namun, bagi saya kelemahan seperti yang diungkap diatas tetap tidak menghalangi saya untuk menantikan seri ketiganya yang rencananya bakal dirilis tahun ini (St. Trinian's 2 dirilis resmi di Inggris pada akhir tahun 2009). Mengapa? Film-film model beginian selalu menghadirkan cewek-cewek asyik yang polah tingkahnya cukup menghibur bagi saya hehehe…. Talulah Riley yang sebelumnya juga hadir di The Boat That Rocked masih terlihat cantik. Dia ternyata juga ikut nimbrung di Inception lho. Tampaknya karir dia bisa makin bersinar kedepannya. St. Trinians 2 juga menghadirkan Sarah Harding pentolan Girls Aloud. Meski sekilas, penampilan Gemma Arterton cukup ok juga.


Tidak hanya para cowok, penonton cewek pun pastinya bakal suka dengan gerombolan St. Trinian yang pemberontak dengan dandanan aneh-aneh yang terlihat keren dan unik. Bisa dicontoh tuh. Harta karun yang ditemukan bisa jadi membuat sebagian penonton cewek bertepuk tangan. Seperti seri pertamanya, St. Trinian's 2 juga menghadirkan musik-musik asyik khas British. Nikmati juga dialog-dialognya yang nakal dengan dialek British yang asyik di kuping. St. Trinian's 2 ditangani oleh duo Oliver Parker dan Barnaby Thompson yang juga mengarahkan seri pertamanya. Sekedar informasi, Oliver Parker ini adalah orang yang menghasilkan Othello (1995), An Ideal Husband (1999), The Importance of Being Earnest (2002), Dorian Gray (2009) dan yang akan rilis tahun depan, Johnny English 2 (2011). 2,5/5


Zoe: There's no reason to be scared of death. 'Cause death is, you know, like life, but all of the crap gets taken out. Like poverty and fascism and Miley Cyrus.

Jumat, 28 Mei 2010

ALICE DOESN’T LIVE HERE ANYMORE : PERSEMBAHAN TERMANIS MARTIN SCORSESE

Jumat, 28 Mei 2010 12

Martin Scorsese selama ini banyak menghasilkan film seputar dunia lelaki, hingga kesan keras senantiasa hadir dalam film-filmnya. Tidak banyak yang tahu kalau diawal karirnya sebagai sutradara, Martin Scorsese pernah menghasilkan film yang sangat perempuan dan bahkan mendapatkan banyak apresiasi positif, baik dari para kritikus film maupun dari beberapa festival film, termasuk Cannes! Judul film yang dimaksud adalah Alice Doesn't Live Here Anymore yang dirilis akhir tahun 1974. Martin Scorsese rasanya pantas berterima kasih pada Francis Coppola karena gara-gara rekomendasinya, Ellen Burstyn yang diberi kuasa oleh Warner Bros untuk memilih sutradara yang tepat, menunjuk Martin Scorsese setelah menyaksikan Mean Streets.


Alice Doesn't Live Here Anymore mempunyai kisah yang sederhana. Alice Hyatt (Ellen Burstyn) terpaksa harus kembali ke kampung halaman ketika secara tiba-tiba, suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sepeninggal suaminya, Alice hanya mempunyai sedikit dana dan masih harus mengurusi anak semata wayangnya, Tommy (Alfred Lutter). Menempuh perjalanan yang panjang, Alice berhenti sejenak di beberapa kota untuk mendapatkan uang. Sejak kecil Alice bercita-cita sebagai penyanyi. Cita-cita tersebut sempat terlupakan ketika Alice menikah. Kini dia berusaha meraih cita-cita tersebut. Masalahnya, kehidupan itu kadang tidak mudah dan kenyataan tidak seindah impian. Ada saja hambatan yang menghampiri. Ditengah usahanya tersebut, Alice bertemu dengan pria-pria yang sedikit mempersulit langkah dan membebaninya dengan pilihan yang bisa menghancurkan mimpinya dan janji terhadap ana yang sangat dia cintai.


Meski terkesan sangat sederhana, Alice Doesn't Live Here Anymore cukup berhasil menghadirkan sosok perempuan di masa dimana gerakan perempuan akan persamaan hak mulai menggejala di mana-mana. Hal tersebut diwakili dengan apik dengan karakterisasi dari si Alice. Sosok Alice digambarkan sedikit teatrikal, namun bertenaga serta berani mangambil pilihan sendiri. Jiwa bebas dari Alice digambarkan lewat sikap optimis dan tidak terseret kedukaan serta kalimat-kalimat lugas yang meluncur bebas dari mulutnya. Meski demikian, sosok Alice tidak digambarkan radikal karena ada sang anak sebagai katalis aksinya. Selain itu, Alice juga digambarkan layaknya manusia kebanyakan, tanpa memandang jenis kelamin, yang membutuhkan cinta dalam hidupnya. Resikonya, ending yang dipilih terkesan kompromis dan cenderung terlalu cepat. Namun, rasanya pilihan endingnya sudah cukup bijaksana dan menggambarkan salah satu alternative pilihan ideal dan manis.


Daya tarik film ini menurut saya, selain karakter Alice yang loveable, juga berkat hubungan Alice dan Tommy, sang anak, yang begitu cair dan tanpa batas. Interaksi keduanya senantiasa menghadirkan senyum dan tawa. Lihat saja bagaimana Alice mengusili Tommy, begitupun sebaliknya. Perdebatan diantara keduanya kadang terkesan kurang ajar dan menabrak batas-batas kelaziman hubungan ibu dan anak. Sebagai seorang pemain baru, penampilan Alfred Lutter yang didapat setelah mengaudisi lebih dari 300 anak sungguh sangat mengesankan. O iya, selain itu ada Jodie Foster lho. Disini dia terlihat ganteng dan tokoh yang dia perankan, mulutnya tidak kalah lugas dengan mulut si Alice. Bahkan, dalam salah satu adegan, kata-kata yang keluar dari mulut Audrey yang diperankan oleh Jodie Foster tersebut membuat Alice terperangah.


Film tentang perempuan seringkali menempatkan sosok pria sebagai si brengsek. Tidak demikian dengan Alice Doesn't Live Here Anymore. Memang ada sosok pria yang kasar dan keras terhadap perempuan seperti Ben (Harvey Keitel) yang mengejar Alice meski sudah beristri, namun film ini juga ada David (Kris Kristofferson) yang tidak egois dengan berani minta maaf serta ada juga Mel (Vic Tayback) pria pemilik restoran yang sangat toleran, bahkan tidak berdaya menghadapi salah satu pegawainya, Flo (Diane Ladd). Sosok Flo ini mewakili citra perempuan seksi namun independen. Dengan karakter yang sama-sama bebas, Flo bisa menjadi teman terbaik bagi Alice. Perempuan memang idealnya saling dukung satu sama lain. 4/5

Selasa, 25 Mei 2010

THE GRUFFALO : KESETIAAN ADAPTASI

Selasa, 25 Mei 2010 3

Demi menenangkan kedua anaknya, seekor induk tupai (Helena Bonham Carter) menceritakan sebuah kisah tikus (James Corden) yang sedang berjalan-jalan di dalam hutan. Dalam rantai makanan, tikus termasuk ke dalam mata rantai terbawah hingga tidak mengherankan kalau perjalanan tersebut terasa sangat membahayakan nyawa si tikus. Benar saja, belum jauh perjalanan si tikus, dia sudah harus berhadapan dengan rubah (Tom Wilkinson). Demi bertahan hidup, tikus mengarang cerita kalau dia akan bertemu dengan sosok yang dari penggambarannya, mampu membuat si rubah segan untuk melahap si tikus. Cara serupa tikus pakai ketika bertemu dengan burung hantu (John Hurt) dan ular (Rob Brydon). Ketika merasa sudah merasa terbebas dan aman, tikus dikejutkan sosok yang wujudnya persis dengan ilustrasi kebohongan sebelumnya (disuarakan Robbie Coltrane)! Kelangsungan hidup tikus makin terancam ketika ketiga makhluk pemangsa yang dia temui sepanjang perjalanan menyadari mereka telah dikelabui. Cara apa yang akan dipakai tikus untuk bisa bertahan hidup?


Cerita The Gruffalo sangatlah pendek dan singkat mengingat materi aslinya berupa buku anak-anak yang hanya terdiri dari sekitar 700 kata kreasi Julia Donaldson dan Axel Scheffler. Ceritanya sangat sederhana dan menghadirkan pengulangan-pengulangan dialog. Maklum, buku The Gruffalo ditujukan untuk anak usia di bawah lima tahun. Dengan durasi hanya sekitar 30 menit, duo Max Lang dan Jakob Schuh berusaha untuk setia dengan materi aslinya. Pendekatan ini mungkin dimaksudkan agar The Gruffalo bisa dinikmati oleh anak-anak, terutama oleh mereka yang merupakan penggemar fanatik. Jumlahnya tidak main-main lho. Bukunya mampu menyihir lebih dari 10 juta pembaca dan juga diedarkan di lebih dari 31 negara.


Selain dibuat versi animasi, kisah The Gruffalo juga dibuatkan pertunjukkan musikal dan pernak-pernik yang menampilkan figur Gruffalo. Saat ditayangkan tepat pada perayaan Natal 2009 di BBC, The Gruffalo ditonton lebih dari 8 juta penonton/rumah/televisi. The Gruffalo juga sukses menjadi salah satu unggulan dalam BAFTA Film Award 2010 untuk kategori Best Short Animation.


Kesetiaan para kreator The Gruffalo terhadap materi aslinya patut di apresiasi positif karena kadang sebuah improvisasi bisa merusak kekuatan materi asli. Namun disatu sisi, hal tersebut bisa dilihat sebagai ketakutan melakukan langkah-langkah kreatif, yakni bagaimana menjadikan materi asli yang sudah bagus menjadi semakin berkilau. Spike Jonze saya anggap berhasil ketika menjabarkan Where the Wild Things Are menjadi kisah panjang yang menarik dengan tetap menjaga roh cerita asli didalamnya. Kisah dalam buku The Gruffalo meski singkat dan padat, membuka banyak kemungkinan menarik dalam pengembangan cerita. Perjalanan si tikus di dalam hutan belantara menjanjikan petualangan seru yang mendebarkan sekaligus kaya nilai. Setelah menyaksikan film ini, saya mengharapkan kedepannya bakal ada The Gruffalo versi panjang layaknya Where the Wild Things Are. Kayaknya khayalan ini suatu saat bisa terwujud.


Untuk sementara, nikmati saja dulu The Gruffalo versi pendek ini. Nikmati sumbangan suara aktor/aktris beken dari Inggris, terutama suara Helena Bonham Carter yang sangat menyejukkan. Kalau kamu punya kerabat bocah (anak/ponakan/cucu dll), The Gruffalo bisa dipilih sebagai tontonan buat mereka. Aman dan menghibur. Meski tidak sehalus garapan Pixar, para animator di Magic Light Pictures rasanya cukup berhasil menghadirkan tampilan visual yang memikat. Pemilihan warnanya sangat nyaman di mata. Telinga kita juga bakal dibuai oleh musik yang diaransemen oleh René Aubry. Sebagai bonus, ada behind the scenes yang sedikit mengupas proses produksi. 4/5



Catatan : sebelum menerima hujatan, perlu saya tegaskan kalau saya tidak tahu sama sekali tikus menjadi tokoh utama dalam film animasi pendek ini. Tertarik nonton karena cover terlihat memikat.

Sabtu, 22 Mei 2010

MAN SOM HATAR KVINNOR ( THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO ) : KETIKA JUDUL BERKHIANAT

Sabtu, 22 Mei 2010 4

Apa yang ada di benak kamu saat membaca sebuah judul film? Pastinya langsung membayangkan apa gerangan isi dari film tersebut. Judul film itu idealnya dibuat semenarik mungkin, namun tanpa melakukan penipuan terhadap penonton. Tidak harus tepat sesuai dengan bayangan penonton, namun patut dicatat, rasanya akan terasa sebagai sebuah pengkhianatan kalau judul yang dicantumkan di poster tidak mencerminkan keseluruhan isi filmnya. Kasus termutakhir adalah Menculik Miyabi yang hanya menampilkan sekelumit Miyabi dan dari premis ceritanya, akan lebih tepat kalau di beri judul Salah Culik. Sebelumnya, Inglorious Basterds melakukan hal serupa demi hitungan bisnis. Kalau dicermati, Inglorious Basterds rasanya lebih tepat diberi judul Once Upon A Time ... In Nazi Occupied France yang malah dijadikan judul salah satu bab didalamnya. Judul adalah elemen pertama yang akan memandu penonton dalam memahami isi sebuah film. Ketidaktepatan pemilihan judul, selalu membuat saya kecewa hingga menurunkan kualitas film yang dimaksud di mata saya.


Män Som Hatar Kvinnor dirilis untuk pasar internasional dengan judul The Girl with The Dragon Tattoo. Ada alasan kenapa saya lebih suka menggunakan judul aslinya. Män Som Hatar Kvinnor mengisahkan sepak terjang Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) dan Lisbeth Salander (Noomi Rapace) dalam mengungkap misteri hilangnya salah satu anggota keluarga terpandang 40 tahun yang lalu. Keduanya sebenarnya tidaklah bekerja sama, bahkan Lisbeth awalnya diberi tugas untuk melakukan penelitian terhadap kehidupan Mikael Blomkvist, namun entah mengapa pada perkembangannya Lisbeth tertarik untuk membantu Mikael Blomkvist. Keduanya mempunyai persamaan, yakni mempunyai satu peristiwa yang menyulitkan gerak mereka. Kalau Mikail direpotkan dengan aksi membongkar penyimpangan dana, Lisbeth yang dinilai mempunyai masalah kejiwaan, harus menghadapi pengawasnya yang memanfaatkannya secara seksual.


Secara keseluruhan, Män Som Hatar Kvinnor sangatlah asyik buat dinikmati, terutama buat mereka pecinta kisah misteri. Materi cerita yang berasal dari novel karangan Stieg Larsson menghadirkan beberapa unsure yang lazim hadir dalam kisah misteri seperti pembunuhan para wanita dengan sadis serta perilaku seks menyimpang. Hmmm...terdengar seperti B Movie? Mungkin. Namun, rasanya sutradara Niels Arden Oplev cukup berhasil menjaga irama cerita hingga kisahnya lumayan asyik diikuti meski endingnya sangatlah klise. Kenikmatan saya ketika menonton film ini terganggu ketika di otak saya terpatri judul The Girl with the Dragon Tattoo. Dengan judul seperti itu, saya mengharapkan sebuah penampilan yang dominan dari si pemeran wanita, terutama dalam hal penggalian karakter. Kenyataannya, kehadiran Lisbeth tidaklah lebih banyak dari karakter Mikail, meski Lisbeth selalu datang sebagai penyelamat.


Saya heran, dengan judul The Girl with the Dragon Tattto harusnya kisahnya lebih banyak berpusat pada si Lisbeth, terutama mengenai latar belakang kehidupannya. Lisbeth dikisahkan melakukan kekerasan terhadap ayahnya, namun tidak ada visualisasi kekerasan sang ayah demi meyakinkan penonton untuk bersimpati hingga orientasi seksual dari Lisbeth terasa hambar. Selain itu, tidak ada penjelasan yang memuaskan tentang bagaimana dia bisa begitu hebat sebagai seorang hacker, kecuali interaksinya dengan hacker lain yang juga tidak jelas bagaimana keduanya bisa bekerja sama. Yang paling fatal, dengan judul The Girl with the Dragon Tattoo, tidak ada satupun adegan yang menguatkan kenapa dia mempunyai tato naga dipunggungnya dan berpenampilan ala anak punk. Tatonya sendiri juga jarang sekali disorot kamera. Jadi, dalam pandangan saya, judul The Girl with the Dragon Tatto dipakai hanya demi terlihat lebih keren dan menjual. Pemilihan judul The Girl with the Dragon Tattoo yang tidak mencerminkan isi filmnya, membuat saya tidak bisa dibuat kagum dengan aksi Naomi Rapace yang dipuji banyak orang.


Saya lebih bisa menerima film ini ketika dipakaikan judul Män Som Hatar Kvinnor yang artinya, didapat dari Mbak Wiki tentu saja, adalah Men Who Hate Women. Kasus yang coba diungkap oleh Mikail dan Lisbeth ada kaitannya dengan kekerasan pria terhadap wanita. Selain itu, hidup dari Lisbeth juga dikelilingi oleh pria-pria yang keras terhadap para wanita. Dengan judul Män Som Hatar Kvinnor/ Men Who Hate Women saya lebih bisa memahami mengapa Lisbeth menjalin hubungan dengan perempuan, mengapa Lisbeth terasa begitu emosional terhadap si pelaku pembunuhan berantai dan mengapa Lisbeth pada suatu malam mengangkangi Mikail. Selipan isu Nazi dipakai buat mengacaukan tebakan penonton, serta kasus Mikail melawan perusahaan besar, hadir masih sebatas di permukaan. Soal kasus Mikail ini, mungkin akan digali lebih dalam di film selanjutnya. Män Som Hatar Kvinnor memang merupakan bagian pertama dari Millenium Trilogy.


Bagi yang suka kisah misteri ala Agatha Christie, Män Som Hatar Kvinnor tentu sayang untuk dilewatkan. Ketika menyaksikan film ini, terus terang saya seakan menyaksikan sebuah kisah yang diadaptasi dari novel karangan penulis yang paling saya gilai tersebut. Bagaimana Mikail menganalisa kasus serta melakukan investigasi di lokasi, mengingatkan pada gaya Poirot. Suka juga dengan Crimson Rivers? Meski tidak terlalu menegangkan, Män Som Hatar Kvinnor tidak kalah asyik dengan film yang menampilkan Jean Reno tersebut. Dengan karakterisasi serta dandanan yang terlihat keren, para cewek ada kemungkinan terpikat dengan aksi Noomi Rapace. Kalau boleh menyarankan, jangan terpaku dengan judul The Girl with the Dragon Tattoo ketika menyaksikan film ini dan alangkah lebih baik kalau berpegangan pada judul aslinya. Pendekatan serupa juga disarankan ketika menikmati dua kisah Lisbeth selanjutnya. 3,75 (dengan judul The Girl with The Dragon Tattoo : 3,25/5)



Wanita bertato naga juga ada di :
LABIRIN FILM
AT THE MOVIES

Selasa, 04 Mei 2010

VERTIGE

Selasa, 04 Mei 2010 4

Sekumpulan pemuda, 3 cowok dan 2 cewek, memutuskan mengisi liburan dengan melakukan pendakian di sebuah tebing di daerah Kroasia. Tanpa banyak basa-basi layaknya Opera van Java, kita diajak langsung menuju TKP dengan sedikit pengenalan karakter. Diantara lima pemuda tersebut, ada satu orang yang sebenarnya tidak mempunyai pengalaman dalam pemanjatan tebing. Keikutsertaannya lebih karena ceweknya suka dengan aktivitas tersebut dan si cewek kebetulan sedang dirundung trauma gara-gara salah satu pasiennya meninggal di depan matanya. Dan lagi, dalam pemanjatan tersebut ada mantan cowok si cewek yang tampaknya masih memendam rasa.


Meski sudah ada peringatan kalau lokasi pemanjatan sedang ditutup untuk perbaikan, mereka nekat meneruskan aksi mereka. Rintangan pertama bisa dilalui dengan cukup mulus, namun ketika sampai pada rintangan kedua, salah satu pemudi hampir celaka. Sampai disini, penonton sukses dicekam ketegangan dengan setting ketinggian yang membuat berdesir, serta tangan dan kaki menjadi basah. Masalah kemudian muncul ketika si amatir mulai mengalami kesulitan meneruskan perjalanan yang dampaknya bisa membahayakan keselamatn yang lain. Dua orang memisahkan diri untuk melakukan aksi penyelamatan. Tak disangka, hadir ancaman dalam bentuk lain yang siap merampas nyawa mereka berlima. Mampukah mereka bertahan dan selamat?


Premis kisahnya sedikit mengingatkan pada The Descent, bedanya kali ini nuansanya lebih cerah karena berada di atas tanah dan lebih banyak menyorot aksi kelima pemuda tadi di siang hari. Pendekatan ini mampu memberikan bonus tersendiri pada penonton dengan tampilan alam yang cukup indah. Bagi Gilasinema, adegan-adegan pemanjatan diawal menjanjikan sebuah tontonan yang segar dan menegangkan mengingat jarangnya film yang mengangkat soal pemanjatan tebing. Namun, ketika kelima tokoh tadi dipertemukan dengan satu makhluk gila, Vertige menjadi tontonan yang membosankan. Tiba-tiba saja film ini berbelok arah menuju kisah slasher yang klise. Ibaratnya, saat sudah siap melakukan penetrasi, ada orang yang mengetuk pintu. Gak jadi deh asyiknya.


Parahnya lagi, kesadisan yang dihadirkan sangatlah tanggung dan cenderung ”ramah”. Film ini makin membosankan ketika tak ada eksploitasi raga wanita pirang layaknya slasher kebanyakan, padahal ”potensi” yang dimiliki oleh salah satu pemainnya cukup menggoda. Statistik yang diungkap di akhir kisah juga mempunyai korelasi yang lemah dengan isi cerita. Gilasinema membayangkan, andai saja film ini lebih mengedepankan aksi pemanjatan tebing yang membahayakan, pasti film ini bakal jauh lebih menarik dan inovatif. Kehadiran makhluk gila sah-sah saja asal konsisten dalam penggambaran pemanjatan tebing. Membayangkan, kejar-kejaran sambil memanjat tebing yang tinggi saja sudah membuat hati berdesir. Sayang sekali....2/5

Senin, 26 April 2010

BANGKOK TRAFFIC (LOVE) STORY (ROT FAI FAA … MAHA NA TER)

Senin, 26 April 2010 7

Bagi sebagian penonton, Bangkok Traffic (Love) Story / BT(L)S mungkin hanya kisah cinta biasa dengan formula yang lazim digunakan dalam film – film jenis rom com. Bagaimana seorang perempuan biasa menemukan pangerannya dan bagaimana pertemuan keduanya dimulai dengan kebetulan. Dimalam setelah menghadiri pernikahan sahabatnya, Li (Sirin Horwang) yang dalam keadaan mabuk bertemu Lung (Theeradej Wongpuapan). Keduanya bagai siang dan malam. Kalau Li digambarkan mempunyai karakter yang ekspresif dan cenderung ceroboh serta bekerja di siang hari, Lung orangnya santun dan bekerja di malam hari.


Dengan latar belakang yang bertolak belakang, penulis cerita, Benjamaporn Srabua dengan cerdiknya menciptakan situasi yang menyebabkan keduanya bisa berinteraksi secara intens. Kecerobohan dan kejenakaan Li, nyatanya tidak mengganggu Lung sama sekali. Meski tidak terucap kata cinta, kesabaran Lung menghadapi Li yang menyebabkan barang-barangnya rusak sudah cukup membuktikan hal tersebut. Kisah cinta tidak akan menarik kalau tidak hadirnya gangguan, dalam hal ini kehadiran teman Li, Plern (Unsumalin Sirasakpatharamaetha) cukup membuat gemas dan sedikit membuat penonton paham mengapa di usianya yang kepala 3, Li tak kunjung mendapatkan cowok seperti teman-temannya yang lain. Ketika hubungan Li dan Lung makin dekat, datang suatu hal yang mengancam kebersamaan keduanya.


Seperti dikemukakan diatas, BT(L)S menggunakan formula yang tidak istimewa, namun entah mengapa BT(L)S sangat mengena di hati Gilasinema. Mungkin karena dimasukkannya humor-humor norak (yang mungkin berarti Gilasinema juga norak hehehehe...), terutama dengan perilaku Li. Film baru berjalan 5 menit saja, Gilasinema tidak bisa berhenti tertawa. Sayangnya, kejenakaan film ini sangat mengendur di paruh akhir dan lebih kental nuansa dramanya. Kekuatan film ini juga terletak pada eksekusi cerita yang berbeda dengan dengan rom com kebanyakan. Ada semacam edukasi disini, terutama buat kaum muda. Mau mengejar mimpi terlebih dahulu atau mempertahankan cinta. Meraih mimpi dan merengkuh cinta, seperti yang dialami banyak orang, adalah dua hal sangat tidak mudah untuk diraih.


Latar belakang sosial ekonomi para tokohnya membuat penonton terasa dekat dengan kisah yang dihadirkan, karena mereka berasal dari keluarga kelas menengah secara ekonomi. Yang juga membuat BT(L)S menarik adalah setelah menyaksikan film ini, Gilasinema baru tahu kalau pada beberapa hal, budaya yang ada di Thailand tidak jauh beda dengan budaya Indonesia. Kondisi jalan dan perilaku pengguna jalan di Bangkok katanya tidak berbeda jauh dengan Jakarta ya? Budaya menonton sinetron yang penuh amarah dan umpatan tampaknya juga melanda Thailand yang dalam BT(L)S digambarkan dengan agak berlebihan namun sangat lucu.


Tokoh Li yang sudah berkepala 3, yang senantiasa dirongrong keluarganya untuk segera menikah, bahkan sampai dicomblangin, rasanya juga banyak dialami para perempuan di negeri kita ini. Tokoh Li sendiri bisa jadi merupakan refleksi perempuan masa kini yang lebih memprioritaskan eksistensi diri ketimbang cinta (menikah). Tapi, ada juga sih tak kunjung menikah gara-gara selalu (suka) jatuh cinta pada orang yang tidak tepat dan terlalu terpenjara oleh sosok ideal dalam pikiran mereka.


Kesamaan di atas tak pelak memancing Gilasinema untuk membayangkan BT(L)S versi Jakarta. Lalu Lintasnya gak kalah “seru” kan dengan Bangkok. Bisa diberi judul Busway Traffic (Love) Story atau Jakarta Traffic (Love) Story. Banyak romantika angkutan umum yang belum disajikan mendalam di Bangkok Tokyo (Love) Story seperti pencopetan, pembiusan, pelecehan atau etika dalam memanfaatkan sarana transportasi missal. Meski tidak tinggal di ibukota, selama lebih dari 20 tahun Gilasinema memanfaatkan sarana angkutan massal dan Gilasinema melihat ada banyak hal kejadian menarik yang menghadirkan romantika tersendiri. Ada emosi lucu, marah, tegang, sensual dan emosi-emosi lainnya. Kalau ada yang tertarik mengangkat versi Jakarta, Awi yang sebelumnya sukses dengan Claudia/Jasmine bisa dipilih untuk mengarahkan filmnya atau Hanung Bramantyo yang suka menghadirkan visual hiruk pikuk ibu kota. Untuk aktris, kayaknya seru juga kalau Shanty, Ladya Cheryl, Fanny Fabriana atau Shareefa dijadikan kandidat. Kalau mau filmnya terasa lebih segar, sekalian saja pakai bintang-bintang baru. Eh…tapi kalau bener-bener dibikin, kira-kira syutingnya bakal bikin jalan makin macet gak ya :P 3,75/5



KISAH LI DAN LUNG BISA JUGA DIBACA DI :
JAGOAN MOVIES
LABIRIN FILM

Minggu, 18 April 2010

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)

Minggu, 18 April 2010 9

”Pendidikan itu penting. Kalau ingin jadi koruptor, ya harus sekolah”

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, harusnya bisa menghasilkan sebuah sinergi besar bagi negeri Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, rakyat miskin masih saja banyak, pengangguran dimana-mana, tingkat kriminalitas meningkat, serta masih banyaknya anak-anak yang belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Yang makin menyedihkan, ketika jurang antara yang kaya dan miskin makin menganga, ketidakadilan semakin meraja lela dimana mereka dengan modal kecil yang harus selalu dikalahkan. Koruptor bisa tebar pesona menikmati hasil jarahan besar uang rakyat, di sisi lain pencopet dengan hasil jarahan yang jauh lebih kecil seringkali mendapatkan hukuman yang bisa sangat mengenaskan.


Mendapati banyaknya pencopet belia, Muluk (Reza Rahadian) dengan berbekal sarjana di bidang manajemen, berusaha mengentaskan para pencopet belia yang dikelola oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Meski sudah mempunyai gelar sarjana, Muluk ini sudah dua tahun menganggur. Sempat terpikirkan beternak cacing, namun dia mundur ketika ada pihak-pihak yang mentertawakan niat tersebut. Program yang ditawarkan oleh Muluk, terkesan sangat muluk-muluk, namun berkat bantuan dua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang juga menganggur meski berpendidikan tinggi, perlahan-lahan program Muluk mulai mendapatkan hasil. Ketiganya bahu-membahu membangun mental positif anak-anak dengan pelajaran agama, budi pekerti serta kewarganegaraan.
Sebuah program, tentu akan bisa berjalan kalau ada sokongan dana. Minta pada ayahnya (Deddy Mizwar) sangatlah tidak mungkin. Maka dilontarkanlah ide semacam management fee sebesar 10% dari hasil mencopet. Dana yang terkumpul, kedepannya akan dijadikan sebagai modal bagi anak-anak untuk beralih profesi yang lebih halal. Ketika segalanya terlihat sesuai dengan apa yang diharapkan, muncul gugatan yang dilematis yakni ketika ayah Muluk, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan ayah Pipit (Slamet Rahardjo) yang sangat relijius, murka mendapati anak-anak mereka menikmati uang haram. Apa langkah Muluk dkk selanjutnya?


Setelah digempur puluhan film horor dan drama percintaan, kehadiran Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema nasional. Seperti karya Deddy Mizwar sebelumnya, ALNI memasukkan banyak kritikan, terutama kepada kebijakan pemerintah, isu nasionalisme dan balutan dakwah agama yang cukup kental. Bagi Gilasinema, Deddy Mizwar adalah seorang pengkhotbah yang asyik, karena banyak sekali bermain diwilayah abu-abu. Deddy Mizwar tidak menghujani penonton dengan dogma-dogma. Dia hanya membeberkan suatu realita yang pada akhirnya memaksa penonton untuk melakukan semacam pengkajian dan pemahaman sendiri. Solusi diserahkan pada masing-masing individu. Dalam ALNI, kecuali pemerintah, tidak ada yang benar-benar salah atau benar.


Hasilnya? ALNI menjadi sebuah tontonan yang sangat berat karena meninggalkan semacam PR bagi penontonnya. Tidak mudah, mengingat Deddy Mizwar memberikan banyak PR yang dilematis. Apakah langkah yang ditempuh oleh Muluk dkk harus dihentikan gara-gara bertentangan dengan ajaran agama? Padahal, tujuan mereka sangatlah baik dan menunjukkan hasil, meski mungkin kalau kisah berlanjut akan mengalami gugatan baru perihal pekerja di bawah umur. Aksi mereka itu ibarat antitesis dari kondisi riil negeri ini. Banyak orang cerdas di negeri ini yang mengalami kemerosotan moral. Bandingkan dengan para anak-anak pencopet yang mengalami peningkatan moral berkat aksi Muluk dkk. Muluk memanfaatkan uang haram untuk tujuan yang baik, sedangkan para koruptor memanfaatkan hasil jarahan demi kepentingan diri sendiri. Menyedihkan, ketika ilmu dan kecerdasan hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadi (materi).


Duo Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa yang lewat Identitas menyoroti soal carut marutnya pelayanan kesehatan, dalam ALNI mencoba membeberkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu menyentuh semua kalangan dan juga belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Dengan alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, mengapa belum juga terlihat adanya peningkatan kualitas hidup. Program BOS yang harusnya mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun justru mendorong banyak SD dan SMP untuk meningkatkan standar menjadi RSBI yang bisa melegalkan berbagai pungutan. Pendidikan Dasar makin mahal dari sebelum adanya BOS dan sekolah terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Nilai berupa angka menjadi ukuran kecerdasan anak (UAN), tanpa melihat potensi anak di bidang yang lain.
Tapi bukan hanya salah pemerintah juga lho. Pentingnya pendidikan belum disadari oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tempat dimana Gilasinema tinggal. Keberhasilan seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi dari apa yang dia hasilkan dari pekerjaannya yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti kendaraan atau rumah. Dan kalau ada iuran kampung atau bantuan dari pemerintah, tujuannya untuk apa? Pembangunan jalan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk diperbaiki. Gilasinema membayangkan, ada baiknya kali ya kalau suatu kampung itu ada iuran demi pendidikan anak-anak berprestasi dan berpotensi di suatu bidang, dan sebagai balasannya, ketika si anak ini berhasil bisa membangun kampungnya.


Aduuuh...jadi ngelantur. Kesimpulannya, ALNI adalah sebuah film yang komplet dan cerdas. Lucu sekaligus pahit, terutama endingnya yang sukses membuat tangis. Dan seperti halnya Naga Bonar(Jadi) 2, ALNI juga menghadirkan gesekan antar generasi. Kehadiran beberapa produk mungkin terasa mengganggu, namun naskah olahan Musfar Yasin sangat rapat dan menghadirkan banyak quote-qoute segar, tajam dan cerdas. Gilasinema suka sekali dengan dialog pas Rina Hasyim sedang mengisi TTS :


Rina Hasyim : Yang nentuin haram atau halal siapa Beh?
Slamet Rahardjo : MUI!
Rina Hasyim : Lima kotak Beh.
Ratu Tika Bravani : Allah ... Nyak!

Gilasinema juga dibuat terhenyak dengan ”amien” setelah lagu Indonesia Raya. Iya ya, Lagu Indonesia itu kan ibarat doa, namun kita lupa untuk mengamininya. Brillian!!!


Selain kekuatan naskahnya, yang dari Gilasinema baca idenya sudah ada sejak 9 tahun yang lalu, ALNI sangat tertopang dengan penampilan para pemainnya yang padu dan prima. Untuk barisan pemain senior, sudahlah gak usah dibahas. Mereka selalu tampil jauh dari mengecewakan. Reza Rahadian kembali menunjukkan potensinya sebagai calon bintang besar. Penampilan aktor yang sudah Gilasinema sukai sejak tampil di Film Horor ini terlihat matang dan dewasa serta bisa mengimbangi para pemain senior. Ekspresinya di penghujung film benar-benar mantap. Kalau boleh berpesan, Mas Reza ini jangan nglakuin hal-hal yang macam-macam ya. Sayang sekali dengan potensi besar yang kau miliki (sok banget ya hehehe). Asrul Dahlan yang aksi bagusnya di King kurang dilirik, juga pantas diberi tepuk tangan. Sedangkan untuk Ratu Tika Bravani, dia pantas diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Para anak-anak jalanan juga tampil bagus dan natural. Tidak sia-sia mereka digodok selama dua bulan. Alangkah Lucunya (Negeri) Ini adalah sebuah film yang wajib tonton, dan setelahnya kamu bakalan dibuat yakin ALANGKAH TIDAK LUCUNYA NEGERI INI! 4/5



”Kalau ingin cepat kaya, jangan ternak cacing. Lebih baik ternak cicak, buaya atau gurita”

Minggu, 11 April 2010

RANN

Minggu, 11 April 2010 5

“A filmmaker is like a journalist. The point is that a filmmaker is like a journalist in projecting reality in the true sense of the word. Only thing is he dramatically packages it to make more effect." (Ram Gopal Varma)

Dua televisi berita saling bersaing. India 24/7 yang dipimpin Vijay Malik (Amitabh Bachchan) dan H24 pimpinan Amrish Kakkar (Mohnish Behl) yang dulunya bekerja di India 24/7. Kalau Vijay Malik menjalankan televisinya dengan idealisme tinggi, Amrish Kakkar menghalalkan segala cara untuk menjadi nomor satu. Menariknya, Amrish Kakkar ditopang dana dari menantu Vijay Malik yang seorang pengusaha, Naveen Shankalya (Rajat Kapoor). Di tengah persaingan yang ketat, rating dari India 24/7 cenderung turun mengingat H24 yang lebih agresif serta mempunyai mata-mata di India 24/7 hingga senantiasa berhasil mensabotase setiap program baru yang akan diluncurkan India 24/7.


Berbeda dengan ayahnya yang terlihat lebih tenang menghadapi ancaman kehancuran India 24/7, Jai (Sudeep) cenderung menyikapinya dengan amat emosional. Berbekal ilmu yang diperoleh dari sekolah di USA, Jai menjadi pribadi yang angkuh dan mempunyai ambisi besar untuk menjadi nomer satu. Ketika berada di puncak frustasi akibat program yang dia rancang didahului TV tetangga, datang tawaran menarik dari Mohan Pandey (Paresh Rawal), seorang politikus busuk yang berusaha menggoyang Perdana Menteri yang tengah menjabat. Ternyata Mohan Pandey ini berkolusi dengan Naveen Shankalya.


Setelah bergelut dalam dilema, akhirnya Jai tunduk dalam rencana busuk dari Mohan Pandey. Disusunlah rencana yang bakal membuat Mohan Pandey menjadi Perdana Menteri, Naveen Shankalya sebagai pengusaha nomer satu, dan tentu saja India 24/7 berjaya memuncaki rating. Di tengah persaingan dua stasiun televisi tersebut, hadir Purab (Ritesh Deshmukh), jurnalis muda yang idealis dan memuja Vijay Malik. Sebagai orang baru, dia merasa ada yang tidak beres dan berusaha membongkar hal tersebut yang pada akhirnya menjatuhkan semua pihak yang terlibat, termasuk orang yang dipujanya yang terseret kebohongan anaknya.


Akhir-akhir ini dunia pertelevisian kita digemparkan dengan berita dugaan manipulasi narasumber yang dilakukan oleh salah satu TV Berita Nasional. Meski kebenarannya masih perlu pembuktian, tak pelak hal tersebut memunculkan pertanyaan seputar independensi sebuah media berita. Apalagi kalau owner-nya adalah seorang politikus yang juga pengusaha kelas wahid. Tidak bisa dipungkiri, media seringkali dijadikan sarana untuk memperkuat atau meraih kekuasaan. Orang yang berkuasa adalah orang yang bisa menguasai media karena hal tersebut berkaitan dengan kekuatan dalam mengendalikan pengetahuan dan persepsi orang banyak. Persatuan pemilik media dengan politikus dan pengusaha menghasilkan sebuah kekuatan dahsyat yang kalau berlandaskan meraih kepentingan individu atau golongan tertentu bisa sangat berbahaya. Media berita yang harusnya mengabarkan, justru membuat kabar. Kebenaran dipermainkan. Memporak-porandakan batas antara fiksi dan realita. Mengerikan!


Rann sangat pantas disaksikan karena terasa amat aktual dengan kondisi pertelevisian nasional terkini di negara kita. Karena ini produk Bolly, maka jangan heran kalau digarap dengan gaya bertutur yang mungkin terasa berlebihan, layaknya musik dalam film ini yang terdengar agak terlalu keras di kuping. Banyak narasi khotbah didalamnnya, terutama pada endingnya ketika Vijay Malik membongkar konspirasi yang melibatkan stasiun TV miliknya. Meski demikian, Rann terasa asyik dinikmati berkat kecepatan bercerita dari Ram Gopal Varma (RGV). Apalagi durasinya cuma sekitar 2 jam saja. Tanpa basa-basi, RGV langsung ke inti persoalan. Beberapa adegan mempunyai ketegangan yang cukup memikat. Rann juga ditopang desain produksi yang mantap. Warna-warna hitam, putih dan abu-abu tampil sangat dominan hingga menghasilkan konsep visual yang kuat dan nyaman dimata. Sayangnya, kecepatan bercerita ini mempengaruhi kualitas cerita yang terkesan dipaksakan. Bagaimana mungkin pemilihan Perdana Menteri bisa diselenggarakan secepat itu? Langkah Vijay Malik yang menayangkan video aspal terasa terlalu gegabah dilakukan oleh seorang yang idealis dan berpengalamam puluhan tahun di dunia pertelevisian. Selipan isu seputar agama terasa nanggung.


Sekali lagi Amitabh Bachchan menunjukkan kelasnya sebagai actor hebat yang rasanya belum bisa dikalahkan actor Bolly lainnya. Setelah ”merampas” semua gelar aktor terbaik di berbagai ajang movie award lewat PAA, Amitabh Bachchan kembali menuai pujian lewat perannya sebagai Vijay Malik yang karismatik. Rasanya tidak ada aktor lain yang bisa lebih baik memerankan tokoh tersebut. Paresh Rawal sekali lagi membuktikan keahliannya berperan antagonis yang banyak dia lakoni sejak era 1980-an. Aktor satu ini telah membintagi 200 judul lebih lho. Dia pernah tampil dalam Paa (2009), De Dana Dan (2009), Jaane Tu... Ya Jaane Na (2008), Bhool Bhulaiyaa (2007), Cheeni Kum (2007), Garam Masala (2005), Dil Ka Rishta (2003), Awara Paagal Deewana (2002), Nayak: The Real Hero (2001) yang merupakan film Bolly favorit Gilasinema, Har Dil Jo Pyar Karega (2000), Phir Bhi Dil Hai Hindustani (2000) dan masih banyak lagi. Sudeep yang filmografinya belum begitu banyak tampaknya punya potensi bagus untuk meneruskan kiprah Paresh Rawal. Ritesh Deshmukh yang banyak dipuji lewat Masti (2004) sayangnya tampil terlalu datar. Rann terkesan meminggirkan peran perempuan di dunia media hingga penampilan para aktrisnya kurang tergarap. Satu karakter perempuan mempunyai peran cukup penting, itupun dengan karakterisasi yang tidak simpatik. Meski tidak sedahsyat Wag the Dog, Rann sangat Gilasinema rekomendasikan. 3,25/5



SEDIKIT TENTANG RAM GOPAL VARMA
Selain karena temanya yang aktual, Rann sayang untuk dilewatkan karena film ini merupakan karya dari Ram Gopal Varma. Pria berusia 48 tahun pada tanggal 7 April kemarin ini termasuk sineas yang sangat disegani di Bolly sana. Sekolah di jurusan mesin, dia berhasil di bidang penyutradaraan dengan hanya belajar dari banyak film yang dia tonton di waktu mudanya. Potensinya dikenali lewat Rangeela (1995) yang dibintangi Aamir Khan, Jackie Shroff dan Urmila Matondkar sukses besar di pasaran. Kiprah RGV makin tak terbendung ketika sukses dengan trilogy Satya (1998), Company (2002) dan D (2005) yang mengangkat tema gangster. Danny Boyle mengaku terinspirasi Satya dan Company ketika menggarap Slumdog Millionaire. Sarkar (2005) dan Sarkar Raj (2008) merupakan dwilogy, dimana untuk Sarkar merupakan adaptasi dari novel The Godfather. Sukses RGV berlanjut dengan Bhoot, sebuah thriller psikologis yang sukses besar dan diakui RGV sebagai karya terbaiknya. RGV selalu menghadirkan film dengan pace cepat dan memacu adrenalin. Setelah Rann yang jeblok di pasaran, RGV sedang siap-siap merilis Phoonk 2 yang merupakan sekuel dari Phoonk (2008). Dalam Phoonk 2, RGV kembali mengajak Sudeep.

"Making love is an emotional experience which makes you feel a high about your love and yourself. Fucking is an intense experience which borders on a feeling of wanting to conquer or achieve. And having sex is a necessity like to sneeze or to cough." (Ram Gopal Varma)
 
GILA SINEMA. Design by Pocket