Tampilkan postingan dengan label MUSICAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSICAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2008

LES CHANSONS D’AMOUR (LOVE SONGS)

Senin, 15 Desember 2008 0


Tiga orang manusia tinggal bersama dalam sebuah apartemen. Mereka adalah Ismael (Louis Garrel), Julie (Ludivine Sagnier) dan Alice (Clotilde Hesme). Pengertian tinggal bersama disini diartikan dengan tinggal dalam satu kamar. Tiga nyawa dalam satu ranjang. Heran? Ketiganya memang terlibat dalam sebuah hubungan yang bagi kebanyakan orang dikatakan tidak biasa atau ganjil. Mereka adalah pasangan kekasih, (meski aneh menggunakan kata “pasangan” karena melibatkan tiga orang).
Tidak diperlihatkan rasa cemburu diantara mereka. Dilayar digambarkan betapa hangatnya hubungan mereka, meski kadang terkesan lucu juga ya bisa membina hubungan seperti itu. Di ranjang dengan ukuran terbatas, mereka bisa mendiskusikan banyak hal dan juga bisa melakukan aktivitas seksual secara bebas. Bisa cowok-cewek, cewek-cewek atau cewek-cowok-cewek. Dalam sebuah adegan terlihat ketika Julie dan Alice sedang bercumbu, dengan santainya Ismael membaca buku!
Meski sedikit mendapatkan tantangan dari keluarga Julie, namun Ismael bisa diterima dengan sangat baik ditengah keluarga Julie. Semuanya berubah ketika Julie secara mendadak meninggal dunia. Meski terpukul, semua yang ditinggalkan harus tetap menjalani hidup. Dari semuanya, Ismael yang terlihat paling merasa kehilangan. Disetiap tempat dan waktu bayangan Julie selalu hadir. Tidak ada yang bisa menghibur Ismael bahkan Alice sekalipun.
Hidup Ismael makin rumit ketika dia harus pindah ke tempat seorang pemuda adik dari teman Alice. Pemuda tersebut bernama Erwann (Grégoire Leprince-Ringuet), Karena ternyata Erwann ini menaruh hati dengan Ismael dan secara intens menggodanya. Dengan cerdas, Erwann sedikit memanfaatkan rapuhnya jiwa Ismael. Tentu saja Ismael yang masih dalam masa berkabung bingung ditempatkan situasi ini mengingat tidak bisa dipungkiri kehadiran Erwann mampu membawa nuansa tersendiri, belum lagi dengan keterikatannya dengan keluarga almarhum Julie.
Pernahkah mendapati sebuah kejadian dimana ketika diputar sebuah lagu, ada yang komentar “Ini kan lagu kita”. Memang tidak bisa dipungkiri hampir semua orang mempunyai semacam lagu soundtrack dalam kisah cinta mereka. Bisa merupakan lagu kenangan dengan pasangan yang saling kasmaran, ataupun lagu yang dianggap mewakili perasaan insan yang sedang patah hati, kesepian, kangen ataupun ketika sedang marah dengan pasangan. Lagu yang sebenarnya bukan ciptaan sendiri itu tiba-tiba menjadi sebuah hak milik ketika dianggap mewakili perasaan pendengarnya, meski ada juga lagu yang merupakan curahan hati pencipta lagu asli.
Love Songs hadir dengan pendekatan yang berbeda, bahkan bisa dibilang unik. Di luar garis cerita yang juga terkesan ajaib bagi penikmat film disini, film ini memilih bentuk musical dalam bertutur. Bukan jenis film musical dimana tokoh-tokohnya bernyanyi dengan tata koreografi yang matang. Disini para tokohnya bersenandung dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Baik dalam masa kasmaran, patah hati kehilangan, kangen atau bahkan untuk menggoda orang yang dicintai. Dalam sebuah kisah cinta, setiap peristiwa mempunyai sebuah lagu pengiring. Karena dibawakan dengan gaya bersenandung, agak sedikit aneh dikuping, namun terkesan lebih jujur, apa adanya dan sedikit gombal, serta terasa norak pada beberapa bagian.
Love Songs mungkin akan terasa sulit diterima oleh penonton konvensional, apalagi dengan akhir cerita yang dipilih. Namun bagi mereka yang berjiwa bebas dan easy going sebagaimana tokoh – tokoh yang terlibat dalam kisah cinta di film ini, Love Songs mampu membawa kesegaran tersendiri. Sutradara Christophe Honoré seakan ingin berpesan, apapun yang terjadi, nikmati saja dan tidak perlu banyak pertimbangan. Just let it flow. sebuah film alternative yang sayang untuk dilewatkan. 3,5/5

Senin, 05 Mei 2008

SWEENEY TODD : THE DEMON BARBER OF FLEET STREET

Senin, 05 Mei 2008 3

Tim Burton + Jhonny Depp = film yang suram, gelap, ganjil, imajinatif dan menarik. Keduanya sering sekali bekerja sama dalam berbagai jenis film, dan kini mereka hadir lagi lewat film musical yang diangkat dari drama musical yang pernah menjadi hit di Broadway karya dari Stephen Sondheim dan Hugh Wheeler. Film ini menjadi pertemuan yang keenam dari kolaborasi Tim bUrton dan Jhonny Depp setelah Edward Scissorhands (1990), Ed Wood (1994), Sleepy Hollow (1999), Charlie and the Chocolate Factory (2005), dan Corpse Bride (2005).

Bukan Tim Burton namanya kalau tidak menyuguhkan tontonan yang lain daripada yang lain. Untuk sebuah film musical, film ini memang menawarkan aksi suara dan gerak para pemerannya, namun jangan mengharapkan ekspresi ceria dan tarian penuh keceriaan laiknya film musical. Bisa dibilang film Sweeney Todd ini merupakan film musical paling kelam dan berdarah.

Kisahnya seputar usaha Benjamin Barker (Jhonny Depp) dalam membalas semua penderitaan yang dilaluinya akibat perbuatan hakim tiran, Turpin (Alan Rickman). Dibantu wanita pembuat pie, Mrs. Lovett (Helena Bonham Carter), Benjamin yang telah merubah namanya menjadi Sweeney Todd mulai menyusun rencana agar Turpin masuk ke dalam perangkapnya. Kerja sama yang mereka lakukan tersebut mungkin terlihat tidak manusiawi, namun sangat menguntungkan keduanya.

Menyaksikan Sweeney Todd : The Demon Barber of Fleet Street seperti menyaksikan sebuah mimpi buruk. Kucuran darah, leher yang tersayat, tubuh manusia yang terlempar secara asal serta pie rasa manusia disuguhkan Tim Biurton secara simultan dan vulgar. Belum lagi lokasi yang suram dan gelap dan make – up yang seperti kurang darah. Pendekatan yang pas untuk menggambarkan hidup Sweeney Todd yang awalnya hidup bahagia bersama istrinya (digambarkan dengan indah), namun menjadi sebuah mimpi buruk ketika ambisi dari Turpin merusak segalanya. Sekali lagi, ditangan Tim Burton, rangkaian mimpi buruk tersebut mampu diolah menjadi sebuah tontonan yang menarik, meski tidak semua orang mampu menerima apa yang disajikan di layar.

Seperti biasa, Jhonny Depp mampu melakukan tugasnya dengan mulus, meski tidak istimewa. Usahanya untuk dapat bernyanyi sambil berakting bolehlah menjadi poin plus, meski dalam beberapa lagu, terutama lagu yang mengekspresikan kemarahannya, vokalnya terdengar kurang bertenaga. Alan Rickman tidak diragukan lagi kapasitasnya dalam memerankan tokoh kejam yang menyebalkan. Kehadiran Jayne Wisener sebagai Johana, anak dari Sweeney Todd, mampu menjadi katalis tersendiri. Justru penampilan singkat Sacha Baron Cohen yang mampu mencuri perhatian, walau “tonjolannya” agak sedikit menganggu pandangan.

Film ini walau disajikan penuh darah (jauhkan dari jangkauan anak-anak), sebenarnya mempunyai pesan yang bagus. Betapa rasa cinta mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja. Entah benar atau salah. Apa yang dilakukan oleh karakter – karakter dalam film ini tidak bisa dikotakkan menjadi benar atau salah. Semua diserahkan kepada penonton. Namun penulis cerita mengingatkan, bahwa langkah yang diambil, baik benar maupun salah, akan selalu mendapatkan balasan setimpal. Satu hal lagi yang dapat dipetik lewat film ini adalah bahwa dendam tidak akan membawa kebahagiaan, justru sebaliknya, dendam akan membuat hidup kita makin hancur.

Sepanjang film, meski digambarkan sebagai seorang tukang cukur, Sweeney Todd lebih disibukkan menggorok leher orang daripada merapikan rambut. Setelah korban pertama jatuh, Sweeney Todd tak beda jauh dengan vampire yang makin haus darah. Aksinya makin tidak terkendali hingga tibalah balasan setimpal untuknya. He’s got nothing! 3,5/5

Senin, 14 April 2008

HARD WALK : THE DEWEY COX STORY

Senin, 14 April 2008 0

Tahun 2007 lumayan banyak dirilis film – film musical yang bagus, mulai dari perjalanan karir Edith Piaf di La Vie En Rose, kisah sederhana lewat Once, aksi segar John Travolta di Hairspray, Accros the Universe yang artistic hingga Sweeney Todd : The Demon Barber of Fleet Street yang kelam dan berdarah – darah. Dan jangan lewatkan Hard Walk : The Dewey Cox Story yang naskahnya dikerjakan Judd Apatow dan Jake Kasdan, sutradara film ini.

Berbeda dengan film musical biasa, film ini memilih untuk berada di jalur parody. Film musical berbalut parody? Ya, film yang kesannya main – main ini kalau kita cermati mencoba mengolok – olok film musical kondang dan dinilai bermutu semacam Walk the Line dan Ray yang membuat para bintangnya membawa pulang piala Oscar. Lewat film ini kita diajak untuk melihat betapa standarnya plot cerita yang ditawarkan oleh film musical yang mengangkat kisah orang kondang, terutama di bidang musik.

Para orang kondang tersebut umumnya lahir di lingkungan yang miskin, bermasalah dengan keluarga namun mempunyai bakat istimewa di bidang musik. Sebelum sukses mereka digambarkan melalui jalan yang berat. Selanjutnya setelah sukses, mereka mengalami kehancuran karena peristiwa traumatis di masa lampau serta terjerat wanita (tidur dengan 411 wanita) dan narkoba hingga membuat rumah tangga mereka berantakan. Digambarkan pula betapa kesepiannya mereka di dunia yang serba gemerlap. Dan seperti biasa akan ada sosok perempuan sebagai guardian angel yang akan mengangkat jiwa mereka dari lumpur dengan berdamai dengan dirinya sendiri dan masa lalu. Standard dan klise bukan?

Hard Walk : The Dewey Cox Story hadir untuk mentertawakan pakem tadi. Dimulai dari pemilihan judul yang memelesetkan film Walk the Line, pemilihan bintang yang jauh dari mempesona, sampai pemilihan nama : Dewey Cox ( baca: COCKS ). Jangan heran kalau sepanjang film kita diajak untuk tertawa melihat para tokoh yang ada di layar. Dan namnya juga parody, apa yang disajikan di layar terasa berlebihan. Namun membuat kita sadar betapa kadang konyolnya perilaku orang kondang itu. Dan seperti umumnya film musical tentang musisi kondang, setelah separuh perjalanan film menjadi membosankan.

Seperti umumnya film yang naskahnya dikerjakan Judd Apataw sepanjang film bertaburan dialog – dialog norak, kasar dan seksis. Gambar – gambar yang dihadirkanpun kadang terkesan vulgar, seperti dada bertebaran dimana – mana atau pemunculan alat kelamin pria sebagai background John C Reilly! Dan jangan lewatkan lagu – lagunya dengan lyric yang sangat corny, namun enak di kuping.

Dibandingkan karya Judd Apatow yang kondang semacam Knocked Up dan Superbad, film ini ini jauh lebih lucu dan menghibur. Namun yang mengherankan, sambutan terhadap film ini tidak seheboh kedua film tadi. Padahal John C. Reilly mampu berperan meyakinkan sebagai Dewey Cox. Belum lagi kehadiran beberapa cameo yang mampu menghadirkan suasana segar, seperti Jack Black yang berperan sebagai salah satu anggota The Beatles.Mungkin kalau yang bermain Will Ferrel, hasilnya akan lain.

Selain mengolok – olok film musical yang pernah dibuat, film ini juga berisi sindiran terhadap artis – artis muda sekarang yang banyak terjerat skandal semacam Britney Spears dan Lindsay Lohan (dalam film dikisahkan Dewey Cox memulai karir di usia 14 tahun dan menikah muda). Meskipun tidak semua orang bisa menerima humor yang ditampilkan, namun film Hard Walk : The Dewey Cox Story menempatkan kembali film parody pada jalur yang semestinya. Tidak seperti film yang hanya sebatas rip – off ataupun spoof film – film kondang seperti yang hadir di film Scari Movie, Date Movie dan film lain yang sejenis. 2,75/5

Senin, 11 Februari 2008

ACROSS THE UNIVERSE

Senin, 11 Februari 2008 1

Rasa – rasanya tidak pernah bosan mendengarkan lagu – lagu yang pernah dipopulerkan The Beatles. Kini hadir film yang mengahdirkan lagu – lagu band yang berasal dari Liverpool tersebut. Berbeda dengan film I Am Sam, dimana lagu – lagu The Beatles hadir untuk menguatkan cerita, dalam film Across The Universe ini lagu – lagu The Beatles merupakan nyawa dari cerita yang dihadirkan. Tidak kurang 30 lagu The Beatles hadir di film ini. Bukan itu saja, sutradara Julie Taymor juga menghadirkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan The Beatles, mulai dari setting, pemilihan nama para tokohnya sampai beberapa kejadian yang pernah ada dan terjadi pada saat The Beatles masih utuh.
Cerita mengalir berdasarkan lagu. Kalau dalam film lain lagu menyesuaikan dengan cerita yang ada, film musical ini menempatkan cerita untuk menyesuaikan diri dengan lagu – lagu yang sudah ada. Sebuah langkah inovatif, meskipun di beberapa bagian terkesan dipaksakan.

Cerita berkisar pada dua remaja Jude ( Jim Sturges ) yang berasal dari Liverpool dengan Lucy ( Rachel Evan Woods ), seorang gadis cantik dari Greenwich Village, Amerika Serikat. Kisah mereka menjadi menarik karena diletakkan pada setting tahun 1960-an, tahun dimana sedang gencar – gencarnya Perang Vietnam. Kisah cinta mereka tidak dikemas menjadi kisah cinta murahan layaknya film percintaan remaja ala Hollywood, karena mereka juga dihadapkan pencarian akan makna dan tujuan hidup mereka.
Sebenarnya film ini bukanlah film tentang percintaan remaja. Film ini lebih pengembaraan para tokoh yang ada di film ini terutama pada Jude dan Lucy. Bagaimana ide – ide mereka dihadapkan pada kondisi dunia yang dipenuhi dengan kekerasan ( baca ; perang ). Masing – masing tokoh yang ada membawa ide – ide yang berbeda. Pada awalnya mereka dapat hidup damai dan rukun, tetapi pada akhirnya mereka harus saling “bertarung” membela ide – ide mereka ketika dihadapkan pada kepentingan yang berbeda. Pergesekan ini membuat hubungan yang ada menjadi hancur dan hanya cinta yang bisa menyatukan mereka kembali. All you need is love.
Across the Universe secara visual sangat menarik. Sangat menarik sekali. Terkadang film ini terlihat seperti lukisan. Gambar – gambar yang disajikan sangat imajinatif dan tidak membosankan. Sutradara banyak menggunakan symbol – symbol untuk memaparkan ide – idenya. Menarik melihat sutradara dalam menggambarkan proses wajib militer dan juga gambaran betapa berdarah dan menyedihkannya sebuah perang.
Langkah kreatif ini berimbas pada cerita yang ada. Karena terlalu sibuk bermain – main dengan gambar, sutradara melupakan keutuhan cerita. Cerita yang ditawarkan memang masih enak untuk dinikmati, namun kesan tidak utuh masih terasa menganggu. Banyaknya tokoh dengan latar belakang ras yang berbeda memang membuat film ini makin berwarna, namun juga membuat kebingungan dalam membagi porsi cerita. Tokoh – tokoh yang ada di sekitar Jude dan Lucy yang sebenarnya mempunyai karakter yang tidak kalah menarik kurang ditampilkan utuh dan menjadikan film menjadi kurang focus.
Kelemahan film tersebut untungnya tertutupi oleh primanya penampilan para pemainnya. Jim Sturges dan Evan Rachel Wood tampil manis dan meyakinkan. Tapi penampilan Dana Fuchs dengan vokalnya yang sangat bertenaga mampu mencuri perhatian. Penampilan dari Joe Anderson, Martin Luther dan TV Carpio juga cukup mengesankan. Semua pemain disini benar – benar menyanyi dengan suara mereka sendiri. Lagu – lagu The Beatles makin enak dinikmati berkat aransemen ulang dari Elliot Goldenthal.
Film asyik ini anehnya kurang mendapatkan atensi yang bagus dari penonton di Amerika. Hal ini mungkin disebabkan film ini terlalu tanggung dalam memilih sasaran. Meskipun menghadirkan remaja sebagai tokoh utamanya, cerita yang ditawarkan sedikit tidak lazim dan agak berat. Belum lagi adanya beberapa adegan ketelanjangan. Sedangkan dari mereka yang sudah agak berumur, akan sedikit kesulitan dalam menerima gambar – gambar yang ada. Film hadir dengan potongan gambar – gambar yang mengalir cepat dan dengan warna – warna permen yang cerah ceria. Sejatinya film ini memang didedikasikan bagi penggemar The Beatles.
Tapi film ini intinya sangat sayang dilewatkan karena mampu membawa kita ke dunia yang imajinatif. Belum lagi pemilihan kostum yang bagus. Jangan lewatkan juga penampilan Bono, Eddie Izzard dan Salma Hayek yang tetap sexy. 3,25/5



Senin, 04 Februari 2008

ONCE

Senin, 04 Februari 2008 3

ONCE adalah sebuah film yang jujur, sederhana dan nyaman untuk dinikmati. Setelah banyak digempur dengan film – film dengan tampilkan efek visual yang wah dan sound yang menggelegar, melihat film ini mampu menghasilkan sebuah sensasi tersendiri. Film disajikan dengan porsi yang pas, tidak lebih dan tidak kurang.
Kisahnya sendiri sangat sederhana. Tentang seorang pengamen, Guy ( Glen Hansard ) dan hubungannya dengan perempuan imigran, Girl (Markéta Irglová ). Tidak seperti umumnya film Hollywood, hubungan kedua orang berlainan jenis tersebut digambarkan adem ayem, jauh dari letupan dan tak ada gairah yang menggebu – gebu. Intinya tidak ada penggambaran perasaan yang ekstrem. Kita diajak menyelami apa yang mereka rasakan lewat lagu – lagu yang mereka mainkan. Sebuah penggambaran yang manis.

Film ini terkesan ingin “menyentuh” penontonnya dengan menghadirkan karakter – karakter yang bersahaja dan membumi. Kesan ini makin kuat dengan tidak disematkannya nama pada tiap tokoh – tokoh yang ada. Mereka hanya dilabeli dengan Guy, Girl, Girl’s Mother, Bassist Dude, Singer at Party dan label lainnya. Film ini makin bersahaja dengan pemilihan pemain dengan tampilan fisik yang biasa – biasa saja. Siapa sih yang kenal dengan Glen Hansard atau Markéta Irglová?
Kekuatan film yang diproduksi hanya selama 17 hari saja ini ada pada lagu – lagu yang menghiasi sepanjang film ini. Lirik lagu – lagu dalam film ini begitu apa adanya dan diaransemen dengan sederhana. Namun justru dengan kedua hal tersebut, lagu –lagu yang ada menjadi begitu kuat dan merasuk di hati penonton. Tidak mengherankan bila Academy Award dan Grammy memasukkannya dalam daftar unggulan.
Lagu – lagi dalam film ini makin enak dinikmati berkat suara Glen Hansard yang berat sedap dan suara Markéta Irglová yang empuk tapi kadang terdengar sendu. Mendengar suara mereka seperti mendengar Chris martin dan Dido berduet.
Sineas Indonesia bisa belajar dari film ini. Bagaimana menghasilkan film sederhana tapi kuat, dan yang terpenting enak dinikmati dan dengan biaya yang tidak besar. Film ini sangat tepat dinikmati ketika pikiran sedang penat, karena film ini berhasil menghadirkan atmosfer yang nyaman di hati penontonnya. 4/5

English

ONCE

Once is a honest film, simple and comfort to see. After so many film that come up with visual FX and out loud sound. Seeing this film can give its own sensation. A film that pour so fit, not less not more.
The story it self is so simple. About the singing beggar, Guy (Glen Hansard) and his relationship with an immigrant, Girl (Marketa Irglova). Not like common Hollywod's film, the relation between two person who has different gender is flowing cool and far from passion. There is no extreme expression of emotion. We are bringing to see what they feel through songs they played. A sweet description.
The film is wanting the audience touched by the present of the characters that humble and down to earth. The impression is stronger with no name on the characters. They just given name with Guy, Girl, Girl's Mother, Bassist Dude, Singer at Party and the other name. It's getting more humble with the performance of the cast that only have ordinary physical appearance. Who knows Glen Hansard or Marketta Irglova?
The strength of the film that produce for about seventeen days is on the songs that decorate along the film. The lyrics are so simple and as it is, so is the arrangements. That is making the songs so powerful and stick to the heart. No wonder that Academy Award and Grammy sign the song to the top nominee.
The song become more enjoyable because Glen Hansard's voice that nice heavy and Marketa Irglova's voice that so smooth and sound sad sometimes. Listening they sing is like listening Chris Martin and Dido on duets.
Indonesian film maker should be learning from this film. How to produce a simple strong film. And the most important is enjoyable. The budget isn't large either. Good film to see when you are having a hard day because this film is can bring the peace and comfort atmosphere to the audience's heart. 4/5

Rabu, 09 Januari 2008

LA VIE EN ROSE ( LA MOME )

Rabu, 09 Januari 2008 0


Kisah tentang perjalanan seorang yang kondang, terutama seorang penghibur sudah banyak dibuat. Dan entah mengapa, kisah mereka sangat enak dinikmati ketika diangkat ke layar lebar. Mungkin karena begitu banyaknya drama dalam perjalanan hidup mereka. Mulai dari perjuangan meraih sukses sampai dengan masa kejatuhan mereka. Dan umumnya, para pesohor yang diangkat kisahnya ke layar lebar, mengalami satu periode yang kelam dalam hidup mereka. Ambil contoh film Ray, Basquiat, We Own the Night dan banyak kisah lainnya.
La Vie en Rose tidak berbeda dengan film lain yang mengangkat kisah hidup para pesohor. Film ini mengangkat kisah perjalanan dari Edith Piaf, seorang penyanyi kondang dari Perancis. Kalau tidak kenal, tidak perlu heran. Justru kita akan lebih menikmati film ini karena tidak mengetahui hal-hal berkaitan dengan tokoh utama yang tidak diungkapkan dalam film seperti halnya yang terjadi dalam A Beautiful Mind.
Seperti halnya kisah para pesohor. Masa kecil Edith Piaf sangatlah suram. Berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Bahkan dalam kurun waktu tertentu dia tinggal di sebuah lokalisasi pelacuran. Hidupnya berubah ketika dia mulai menyanyi. Dalam film digambarkan, kemampuan menyanyinya merupakan bakat alam. Dengan suara serta kepribadian uniknya serta mimik muka yang lucu, Edith Piaf menyihir para penikmat musik. Bahkan sampai ke Amerika.
Sutradara menuturkan kisah dengan alur yang tidak linear. Ketika kita sedang disuguhi adegan masa kecil dari Edith Piaf, tiba-tiba adegan beralih ke masa jaya Edith Piaf. Lalu pada adegan berikutnya layar menghadirkan Edith Piaf dengan penyakitnya. Sebuah pendekatan yang sering dipakai di film tentang para pesohor, untuk menjaga penonton tidak bosan, sehingga lebih enak dinikmati.
Kekuatan film ini terletak pada akting dari Marion Cotillard. Kualitas akting dia mengingatkan kita pada bagusnya Roberto Benigni di Life is Beautiful. Tidak Marion Cotillard bisa berakting dengan prima, sutradara Olivier Dahan ketika menulis naskah film ini sudah membayangkan Marion Cotillard sebagai pemeran Edith Piaf. Peran make up juga besar sekali dalam menghidupkan karakter Edith Piaf tua. Marion Cotillard harus di make up selama 5 jam, selain harus merelakan alisnya dicukur.
Totalitas`acting Marion Cotillard bisa mengancam aktris Hollywood di ajang Oscar 2008 nanti. 3/5

English

LA VIE EN ROSE (LA MOME)


The biography of famous people especially the artist is made a lot. And I wonder why their story is so enjoyable when it's bring to the theater. Perhaps there are so many drama in their live. From the struggle to find the way to success till the fallen. And commonly the famous person’s story that lift up to wide screen have the dark episode of his live. Let say, Ray, Basquiat, We Own the Night and many more story.
LA Vie en Rose not different with the other film that come from the true story of the famous people. It tell the live story of Edith Piaf, a singer that well known from France. If you do not know it, do not be confuse. Thus we can enjoy the film more, because we do not know the things that hook with the main character that not reveal just like in A Beautiful Mind.
As common with the other famous people story, Edith Piaf’s live is miserable when she was still a kid. In the film describes that the sing talent is her naturally gift. With the voice and unique face expression, Edith Piaf attract the music lover. Even it went to America.
The director is telling the story not linearly. When we see the Edith Piaf when she was little, suddenly the scene is moving to the golden age of Edith Piaf. Then the next scene is moving to the scene when Edith Piaf was ill. A closure that usually used by the director when it tells the famous people live story. To keep the audience’s mood.
The strength of the film is come from on the acting of Marion Cotullard. Her acting quality remind us to Roberto Benigni in Life is Beautiful. It’ Marion Cotillard that can well perform on acting, the director; Oliver Dahan when wrote the script is already imagine Marion Cotillard as Edith Piaf. The make up is get the huge part to live old character of Edith Piaf. Marion Cotillard has to make up for 5 hours, and she had to let her eyebrow to shaver.
The totality of acting from Marion Cotillard can be a threat for Hollywood’s actress in the Oscar 2008. 3/5

Jumat, 16 November 2007

HAIRSPRAY

Jumat, 16 November 2007 1

Film musikal banyak mengangkat cerita seputar dunia hiburan, begitu juga yang ditampilkan dalam Hairspray. Masalah rasial yang diangkat dalam film ini mengingatkan kita pada film Dreamgirls ataupun Save the Last Dance. Berbeda dengan Dreamgirls yang „gelap“, film Hairspray ini terlihat lebih cerah, ringan dan menghibur. Mengikuti film ini tanpe terasa badan ikut bergoyang. Film ini seakan-akan dibuat untuk membawa suasana segar bagi yang melihatnya.
Meskipun demikian, film ini lumayan berhasil dalam menyampaikan pesan (terutama terhadap kaum muda) yakni tentang bagaimana meraih impian dan breakin’ the rule untuk menciptakan perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Coba Bukan Bintang Biasa kemaren menggunakan tema cerita seperti ini, mungkin hasilnya akan jauh dari biasa (banget)
Film ini makin segar dengan kolaborasi bintang-bintang dewasa dengan bintang muda yang dengan kesegarannya mampu mengimbangi kematangan akting para senior mereka. Di jajaran senior ada John Travolta dengan peran yang tidak lazim, Michelle Pfieffer, Chritopher Walken dan Quenn Latifah. Sedangkan para bintang muda yang tampil meliputi James Marsden, Amanda Bynes, Zac Effron, Brittany Snow, dan kalau Dreamgirls berhasil melejitkan Jennifer Hudson, disini ada Nicky Blonsky yang bertubuh tidak kalah subur. Dari barisan bermain tersebut, yang lumayan mengejutkan adalah James Marsden yang ternyata piawai menari dan suaranya juga enak di kuping.
Hairspray mengisahkan perjuangan seorang gadis dengan tubuh subur dalam mengejar impiannya untuk tampil dalam acara TV dengan rating tinngi yang disponsori oleh perusahaan Hairspray, The Corny Collins Show. Ketika pada akhirnya dia berhasil masuk pada acara tersebut, dia terlibat dalam peristiwa berbau rasial. Sebuah isu yang sensitif di Amerika pada tahun 1960-an. Selanjutnya kisah bergeser pada perjuangan gadis tersebut dengan teman-temannya untuk mendobrak pemisahan berdasarkan warna kulit.
Meski bertema rasial, sutradara Adam Shankman yang juga seorang koreografer berhasil menghadirkan tontonan yang renyah. Sebuah pilihan yang bisa berdampak negatif, karena bisa mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Meskipun bukan sebuah karya istimewa, film ini bagus buat ditonton para remaja, terutama sebagai motivasi untuk mewujudkan mimpi mereka.
Yang menarik adalah penggambaran sosok orang tua dalam film ini. Selain gambaran orang tua yang konservatif dan orang tua yang melakukan apapun demi anaknya meski dengan cara yang kotor sekalipun, film ini memberikan harapan dengan menggambarkan sosok orang tua idaman. Orang tua yang menerima anaknya apa adanya. Orang tua yang mengajarkan esensi dari apa yang dinamakan kejujuran, perbuatan baik dan buruk. Bahwa yang banyak belum tentu baik dan benar. 3/5


English


HAIRSPRAY

There are so many show bizz theme that lift on the musical film, so is Hairspray. Racial issue on this film remain us to Dreamgirls and Save the Last Dance. But Dreamgirls is darker than Hairspray that is so bright, cheerful, light, and entertain. This film is made for bring the joy to whom that saw it.
The film got to its point, specially to the teen, which is how to reach the goal and breakin' the rule to make changes for better tomorrow. If, just if, Bukan Bintang Biasa used the same theme like on this film, perhaps the result would not be so usual.
Hairspray become fresher with the mature stars and rookie stars colaboration. There're John Travolta, who play unusual role, Michelle Pfieiffer, Christoper Walken and Quenn Latifah as the mature stars. On the rookie, there're James Marsden, Amanda Bynes, Zac Effron, Brittany Snow, dan if Dreamgirls have Jennifer Hudson as the rising star, Hairspray have Nicky Blonsky who have the healthy shape either. And apparently that James Marsden had the quality to dance and to sing on this film.
Hairspray is telling us about a girl who had a healthy shape(fat) that struggle to chase her dream to appear on the TV show that sponsored by the Hairspray Company, The Corny Collins Show. In the end, when she could make it come true, she involved in a racis circumtances. A very sensitif issue on America at 1960's. The story goes to the fight of a girl with her friends to smashed the discrimination based on color. Adam Shankman, the director, is succes to represent the fresh show based on the racial theme. A choice that can be a risk, because it could be blurred the massage. Even not a masterpiece, this film is good to see for the teen as a motivation to make the dream come true.
There is the picture of parents here that interesting. The conservatif parents and the parents that will do anything to their son, even the dirties way, this film is giving a hope that picturize the ideal parents. Parents that take the son who he/she is, that teach the essence of good and bad, truth, that major is not always good. 3/5.
 
GILA SINEMA. Design by Pocket