Tampilkan postingan dengan label TERBAIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TERBAIK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juni 2010

SHORT REVIEW : HUMANISME DALAM 3 FILM PERANCIS

Sabtu, 19 Juni 2010 2
L’HUMANITE (1999)


Kisahnya sebenarnya sangatlah simple. Seorang polisi, Pharaon De Winter (Emmanuel Schotte), menemukan mayat seorang gadis yang diperkosa dan dengan caranya sendiri, mencoba untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan karakternya yang cenderung lurus dan tampaknya mempunyai tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata, metode yang dia gunakan terlihat mentah. Wajahnya menyiratkan kekosongan, kebingungan, kemarahan, kesedihan maupun harapan. Film ini tampaknya merupakan semacam study of character dari Pharaon. Bagaimana karakternya dihadapkan pada karakter-karakter lain yang cenderung lebih “kasar” di tengah jaman dimana humanisme makin tergerus. Melalui proses yang sangat pelan (film ini berdurasi lebih dari 140 menit), kita bisa merasakan perubahan emosi dari Pharaon paska ditemukannya mayat gadis cilik tadi.


Sutradara dan penulis cerita Bruno Dumont tidak menjejali film dengan banyak dialog, namun lebih menyajikan ide-idenya dengan bahasa gambar. Dampaknya, penonton dituntut untuk lebih berpikir lebih keras tentang maksud dari creator. Beberapa adegan bisa kita pahami sebagai wujud berubahnya perilaku manusia, misalnya mobil box merah yang sangat besar yang tiba-tiba melintas di tengah pemukiman, perilaku Domino (Severine Caneele) dan Joseph (Philippe Tullier) yang cenderung mengumbar erotisme atau bagaimana atasan Pharaon menginterogasi dua anak kecil dan masih buaaanyak lagi. Sebuah film yang sangat kontemplatif dan tidak cukup menyaksikannya hanya sekali. Yang tidak saya mengerti adalah ketika di layar tiba-tiba tersaji gambar kelamin perempuan secara frontal dalam durasi yang cukup lama. Apakah ini wujud ketidaksenonohan? Entahlah. Film yang berhasil menggondol Grand Jury Prize, Best Actor dan Best Actress pada Cannes 1999 ini, auranya mengingatkan saya pada Cache-nya Michael Haneke. 4/5


THE DREAMLIFE OF ANGELS / LA VIE REVEE DES ANGES (1998)


Dibandingkan dua film diatas, film ini lebih bisa dinikmati dengan santai. Apalagi durasinya yang Cuma 113 menit. Dua cewek pekerja Isa (Élodie Bouchez ) dan Marie (Natacha Régnier) dipertemukan secara tidak sengaja. Keduanya tinggal di sebuah apartemen dimana pemiliknya, Sandrine (Louise Motte) sedang koma di rumah sakit. Awalnya kita melihat Isa dan Marie memiliki kesamaan hingga keduanya terlihat klop. Namun seiring berjalannya waktu, kita melihat betapa keduanya sangatlah berbeda. Ira sangatlah ekspresif, optimis dan realistis terhadap hidupnya. Sedangkan Maria cenderung tertutup, sinis dan mudah meledak serta cenderung apatis terhadap hidupnya. Dalam salah satu adegan, kita diberikan sedikit informasi tentang sejarah keluarga dari Isa dan Marie yang mempengaruhi kepribadian mereka.


Perbedaan karakter tersebut lantas membuat keduanya berselisih, terutama ketika Marie bersinggungan dengan Chris (Grégoire Colin) yang cenderung membuat Marie terlena dengan cinta semu. Ketika Marie terbuai dengan mimpi-mimpi, Isa menjalani hidupnya dengan lebih bersahaja. Dia menjalani pekerjaan apapun dengan ceria dan meluangkan waktu untuk menjenguk Sandrine dan menuliskan kisah bagi Sandrine. Dari kunjungan-kunjungan inilah Isa lebih bersyukur kan hidupnya dan juga membuatnya mempunyai harapan untuk bertahan hidup. Harapan yang sayangnya harus berhadapan dengan realita yang kejam dan mengejutkan, Seperti halnya adegan menjelang akhir yang membuat Isa sedih.Namun, hidup harus terus berjalan.


Sutradara sekaligus penulis cerita Erick Zonca mengemas The Dreamlife of Angels dengan sangat sederhana namun hasilnya adalah sebuah tontonan yang kuat, terasa nyata dan inspiratif. Temanya sangat dekat dengan keseharian kita. Penampilan dua bintang utamanya sangatlah natural dan meyakinkan. Keduanya mendapat predikat Aktris terbaik pada Cannes 1998. Filmnya sendiri berjaya di Cesar Award 1999. The Dreamlife of Angels sangat sayang untuk dilewatkan, terutama buat para cewek. 4,25/5

LA GRAINE ET LE MULET / THE SECRET OF THE GRAIN (2007)


Film arahan Abdellatif Kechiche ini mengisahkan bagaimana usaha Slimane Beiji (Habib Boufares), pria paruh baya berdarah Arab, yang mencoba menegakkan wibawanya ditengah situasi yang menghimpitnya. Mulai dari persoalan pekerjaan hingga persoalan keluarga, dimana Slimane seakan terbuang dan tidak dipandang oleh anak dan mantan istrinya. Meski sudah mempunyai istri lagi yang begitu pengertian serta anak perempuan yang tak henti menyemangatinya, wajah Slimane senantiasa menyiratkan kelelahan dan kepedihan. Kesempatan memperoleh wibawanya kembali datang ketika Slimane berniat mendirikan restoran keluarga di atas kapal. Pada saat pembukaan demi meyakinkan investor, awalnya semuanya berjalan lancar dan menyiratkan optimisme, namun situasi berubah total saat salah satu anak dari Slimane melakukan kesalahan yang tidak ia sadari.


Dengan durasi sekitar 150 menit, The Secret of the Grain terasa bertele-tele di 90 menit pertama. Pada bagian ini kita disuguhi adegan yang terkesan biasa saja. Namun tenyata, rentetan adegan-adegan yang terkesan biasa tadi sangat efektif mengikat emosi saya sebagai modal menikmati 60 menit terkahir yang sangat mengesankan. Kita dibuat harap-harap cemas paska kelalaian yang dilakukan oleh salah satu anak dari Slimane. Sesak nafas saya dibuatnya. Hancur lebur hati ini melihat usaha Slimane yang berlari sekuat tenaga, begitupun saat melihat pengorbanan yang dilakukan oleh anak dari istri kedua Slimane. Buat para pecinta film drama keluarga, film ini sangat saya rekomendasikan. Terasa nyata dan amat menguras emosi. Brillian. 4,5/5

Selasa, 25 Mei 2010

THE GRUFFALO : KESETIAAN ADAPTASI

Selasa, 25 Mei 2010 3

Demi menenangkan kedua anaknya, seekor induk tupai (Helena Bonham Carter) menceritakan sebuah kisah tikus (James Corden) yang sedang berjalan-jalan di dalam hutan. Dalam rantai makanan, tikus termasuk ke dalam mata rantai terbawah hingga tidak mengherankan kalau perjalanan tersebut terasa sangat membahayakan nyawa si tikus. Benar saja, belum jauh perjalanan si tikus, dia sudah harus berhadapan dengan rubah (Tom Wilkinson). Demi bertahan hidup, tikus mengarang cerita kalau dia akan bertemu dengan sosok yang dari penggambarannya, mampu membuat si rubah segan untuk melahap si tikus. Cara serupa tikus pakai ketika bertemu dengan burung hantu (John Hurt) dan ular (Rob Brydon). Ketika merasa sudah merasa terbebas dan aman, tikus dikejutkan sosok yang wujudnya persis dengan ilustrasi kebohongan sebelumnya (disuarakan Robbie Coltrane)! Kelangsungan hidup tikus makin terancam ketika ketiga makhluk pemangsa yang dia temui sepanjang perjalanan menyadari mereka telah dikelabui. Cara apa yang akan dipakai tikus untuk bisa bertahan hidup?


Cerita The Gruffalo sangatlah pendek dan singkat mengingat materi aslinya berupa buku anak-anak yang hanya terdiri dari sekitar 700 kata kreasi Julia Donaldson dan Axel Scheffler. Ceritanya sangat sederhana dan menghadirkan pengulangan-pengulangan dialog. Maklum, buku The Gruffalo ditujukan untuk anak usia di bawah lima tahun. Dengan durasi hanya sekitar 30 menit, duo Max Lang dan Jakob Schuh berusaha untuk setia dengan materi aslinya. Pendekatan ini mungkin dimaksudkan agar The Gruffalo bisa dinikmati oleh anak-anak, terutama oleh mereka yang merupakan penggemar fanatik. Jumlahnya tidak main-main lho. Bukunya mampu menyihir lebih dari 10 juta pembaca dan juga diedarkan di lebih dari 31 negara.


Selain dibuat versi animasi, kisah The Gruffalo juga dibuatkan pertunjukkan musikal dan pernak-pernik yang menampilkan figur Gruffalo. Saat ditayangkan tepat pada perayaan Natal 2009 di BBC, The Gruffalo ditonton lebih dari 8 juta penonton/rumah/televisi. The Gruffalo juga sukses menjadi salah satu unggulan dalam BAFTA Film Award 2010 untuk kategori Best Short Animation.


Kesetiaan para kreator The Gruffalo terhadap materi aslinya patut di apresiasi positif karena kadang sebuah improvisasi bisa merusak kekuatan materi asli. Namun disatu sisi, hal tersebut bisa dilihat sebagai ketakutan melakukan langkah-langkah kreatif, yakni bagaimana menjadikan materi asli yang sudah bagus menjadi semakin berkilau. Spike Jonze saya anggap berhasil ketika menjabarkan Where the Wild Things Are menjadi kisah panjang yang menarik dengan tetap menjaga roh cerita asli didalamnya. Kisah dalam buku The Gruffalo meski singkat dan padat, membuka banyak kemungkinan menarik dalam pengembangan cerita. Perjalanan si tikus di dalam hutan belantara menjanjikan petualangan seru yang mendebarkan sekaligus kaya nilai. Setelah menyaksikan film ini, saya mengharapkan kedepannya bakal ada The Gruffalo versi panjang layaknya Where the Wild Things Are. Kayaknya khayalan ini suatu saat bisa terwujud.


Untuk sementara, nikmati saja dulu The Gruffalo versi pendek ini. Nikmati sumbangan suara aktor/aktris beken dari Inggris, terutama suara Helena Bonham Carter yang sangat menyejukkan. Kalau kamu punya kerabat bocah (anak/ponakan/cucu dll), The Gruffalo bisa dipilih sebagai tontonan buat mereka. Aman dan menghibur. Meski tidak sehalus garapan Pixar, para animator di Magic Light Pictures rasanya cukup berhasil menghadirkan tampilan visual yang memikat. Pemilihan warnanya sangat nyaman di mata. Telinga kita juga bakal dibuai oleh musik yang diaransemen oleh René Aubry. Sebagai bonus, ada behind the scenes yang sedikit mengupas proses produksi. 4/5



Catatan : sebelum menerima hujatan, perlu saya tegaskan kalau saya tidak tahu sama sekali tikus menjadi tokoh utama dalam film animasi pendek ini. Tertarik nonton karena cover terlihat memikat.

Jumat, 07 Mei 2010

A PROPHET ( UN PROPHETE )

Jumat, 07 Mei 2010 4

Belum genap berusia 2 dekade, Malik El Djebena (Tahar Rahim) dihadapkan pada kenyataan harus hidup di dalam penjara selama 6 tahun. Di dalam lingkungan yang cenderung membentuk kelompok agar bisa bertahan hidup, Malik dengan polosnya cenderung menyendiri. Kehidupannya dalam penjara mengalami perubahan saat seorang pimpinan mafia keturunan Korsika, César Luciani (Niels Arestrup) memanfaatkan dirinya yang merupakan keturunan Arab untuk melakukan sebuah misi kejam. Sebagai imbalan, Malik akan mendapatkan perlindungan selama di penjara. Rasa aman di dalam penjara merupakan sesuatu yang mahal, mengingat sipir penjara kalah berkuasa dengan para criminal besar yang memiliki banyak uang.


Meski dihinggapi rasa bersalah, Malik terpaksa melaksanakan misi tersebut yang diawali dengan pelatihan yang akan membuat mulut penonton berdesir. Eksekusi dari misi tersebut juga terlihat mengejutkan. Setelahnya, Malik menjadi semacam antek dari Luciani. Kesempatan besar datang ketika orang-orang yang berada di sekitar Luciani memperoleh kebebasan. Kesempatan demi kesempatan bagus menghampiri Malik yang untungnya bisa dia manfaatkan dengan bagus. Pada berkembangannya Malik justru mempunyai kemampuan lebih dibandingkan Luciani terutama dalam merangkul mafia dari berbagai ras.


Dalam agama, seorang nabi itu adalah seorang yang dipilih oleh Tuhan untuk menyebarkan ajaran kebaikan dan menyatukan semua umat untuk selalu dalam jalan Tuhan. Konsep penyatuan inilah yang mungkin dipakai dasar Jacques Audiard dalam pemilihan judul A Prophet. Namun, Bagi Gilasinema, Malik lebih tepat disebut sebagai seorang entrepreneur ketimbang seorang nabi. Tapi gak lucu kali ya kalau film ini dikasih judul ENTREPRENEUR atau WIRAUSAHAWAN. Kenapa Malik itu seorang wirausahawan? Karena tanpa dia sadari dia telah menerapkan prinsip-prinsip seorang wirausahawan. Beberapa Ciri-ciri seorang wirausahawan yang unggul adalah mampu memanfaatkan setiap kesempatan serta mampu berimprovisasi setiap kali ada masalah.Langkah-langkah Malik terencana dengan baik, memiliki kemampuan negosiasi yang prima, mampu membaca situasi serta selalu mau belajar demi meningkatkan kemampuan. Dan yang paling penting, karena Malik berusaha di lahan yang sangat berbahaya, dia harus berani mengambil resiko apapun. Dengan menerapkan prinsip-prinsip diatas, tidak mengherankan kalau Malik mampu menuai “kesuksesan”. Kalau diibaratkan, dia memulainya sebagai pekerja magang dan dalam perkembangannya mampu mempunyai usaha sendiri.


A Prophet sebenarnya mempunyai pola cerita layaknya kisah from zero to hero. Ada naik turunnya, sebelum akhirnya dia keluar sebagai pemenang. Kisah Malik dalam A Prophet di satu sisi, tidak jauh berbeda dengan kisah Nur (Acha Septriasa) di Menebus Impian. Namun karena Malik berkecimpung di dunia hitam, sensasi yang dihadirkan terasa lebih kasar, keras dan liar serta mengejutkan. Kisah dalam A Prophet juga membuktikan kebenaran dari petuah bijak jangan campurkan apel segar dengan apel busuk karena pencampuran tersebut akan berdampak buruk pada apel yang masih segar tadi. Lihat saja perubahan yang terjadi pada Malik gara-gara masuk penjara, meski perubahan tersebut sebenarnya merupakan bentuk proses beradaptasi demi bertahan di lingkungan baru.


Lewat proses adaptasi inilah kita disuguhi sebuah perkembangan karakter yang menarik dan dipresentasikan oleh Tahar Rahim dengan luar biasa apik, mengingat filmografinya masihlah minim. Ketika pertama kali masuk penjara, dia mampu menampilkan wajah muda naif untuk kemudian secara perlahan berubah menjadi makin keras dan cerdas. Tidak munculnya ”hantu” korban pertamanya merupakan wujud dari transformasi kekejaman dalam diri Malik. Tak ada lagi rasa bersalah ketika dia harus mencabut nyawa orang lain. Peran Niels Arestrup sebagai César Luciani juga tidak bisa dianggap remeh. Niels Arestrup mampu menampilkan sosok gembong mafia yang disegani. Meski sudah dimakan usia, masih terlihat aura penguasa, dan bahkan masih bisa menghadirkan kekejaman. Melihat aksi Niels Arestrup, Gilasinema membayangkan, apa jadinya ya kalau karakter César Luciani ini bertemu dengan karakter yang diperankan Jack Nicholson dalam The Departed.


Gambaran kondisi penjara di A Prophet ternyata tidak jauh berbeda dengan penjara di Indonesia. Seorang kriminal besar ternyata lebih berpengaruh dibandingkan dengan para pengelola penjara, bahkan mereka juga punya kuasa terhadap mereka-mereka yang mempunyai kedudukan di luar penjara. Berkat dana yang melimpah dan para pengikut yang loyal nan kejam, seorang kriminal bisa mengendalikan semuanya dari dalam penjara. Yang membedakan dengan penjara di Indonesia, kondisi penjara yang dihadirkan di A Prophet terlihat lebih bersih dan fasilitasnya terlihat lebih komplet. Lewat A Prophet, kita juga bisa meyaksikan wajah lain dari orang keturunan Arab. Rasanya baru kali ini Gilasinema menyaksikan film produksi non-negara Arab yang menampilkan orang Arab sebagai seorang mafia. Jagoan lagi. Dalam kebanyakan film (Holly), orang Arab seringkali digambarkan kalau tidak sebagai teroris ya sebagai sosok yang taat beragama serta cenderung kaku dan picik.


Jacques Audiard, lewat A Prophet berhasil menyajikan sebuah sajian yang mengasyikkan. Tidak terlalu ringan, namun juga tidaklah terlalu memberatkan pikiran. Irama cerita berjalan cukup cepat, hingga durasi 2 jam lebih tidaklah terasa melelahkan. Sangat sayang untuk dilewatkan dan jadilah saksi aksi menawan dari Tahar Rahim yang wajahnya kadang mirip Antonio Banderas, kadang mirip Reza Rahadian. A Prophet merupakan salah satu film terbaik yang menggunakan setting penjara. 4/5


SANG NABI JUGA ADA DI :
KRITIK PENONTON
YUSAHRIZAL

Senin, 26 April 2010

SYNDROMES AND A CENTURY (SANG SATTAWAT)

Senin, 26 April 2010 0

Mmmm…bagaimana ya enaknya menceritakan kembali kisah yang dihadirkan oleh Apichatpong Weerasethakul. Kita seakan menyaksikan dua kisah yang sama, dan hanya dibedakan oleh tempat dan waktu. Karena berbeda ruang dan waktu, pada akhirnya kisah tersebut memiliki jalinan kisah yang berbeda. Seperti sungai yang mempunyai satu muara, namun dalam alirannya membentuk cabang-cabang tersendiri untuk kemudian bertemu lagi pada satu muara. Begitulah Syndromes and A Century disajikan. Kedua kisah dimulai dengan adegan yang hampir serupa. Dr. Toey (Nantarat Sawaddikul) dan Dr. Nohng (Jaruchai Iamaram) yang berbeda kelamin menggiring kita pada kisah yang berbeda, yang membuat Syndromes and A Century tak ubahnya sebuah sajian komparatif. Yang satu berlatar belakang desa (tradisional), satunya lagi mengambil Kota (modern) sebagai latar belakang cerita.


Mungkin Apichatpong Weerasethakul tidak bermaksud membuat perbandingan, namun dari apa yang disajikan dilayar, kita sebagai penonton tak pelak membuat kesimpulan. Paruh pertama kita melihat sajian visual yang indah alami, hijau, meditatif dan menyejukkan. Ada keintiman antara orang-orang yang tampil di layar. Ada interaksi pria-wanita yang serba canggung namun tersirat keintiman antara keduanya. Pada bagian ini, jarang sekali kamera menyoroti dengan dekat para pemerannya. Mereka diletakkan ditengah seakan menegaskan posisi mereka terhadap alam lingkungan di mana mereka tinggal. Manusia hidup dengan udara segar. Kisah kedua ditempatkan pada tempat dimana warna putih begitu mendominasi. Selain terlihat indah, juga menghadirkan sesuatu yang dingin. Hadirnya beberapa warna terang terasa mengejutkan indera. Di tempat yang teknologinya makin canggih ini, keintiman interaksi antar manusia terasa tergerus, dan nyatanya perkembangan teknologi tidak membuat pekerjaan lebih efisien. Interaksi pria-wanita terasa lebih vulgar dibandingkan kisah yang pertama. Terasa kurang pantas, begitupun dengan aksi beberapa tokoh lainnya. Dan manusia, diselubungi racun yang mengancam kesehatan mereka.


"Making a film is like your relationship with memories, or writing a diary," begitu penjelasan dari Apichatpong Weerasethakul dalam sebuah wawancara. Yang namanya memori itu terkait erat dengan ingatan hasil sebuah pengamatan. Syndromes and A Century membuktikan kalau Apichatpong Weerasethakul adalah seorang pengamat yang sangat detail (ayah ibunya adalah seorang dokter). Hasilnya, Syndromes and A Century adalah sebuah sajian komparasi yang tajam, dan dituturkan dengan amat indah. Latar belakang pendidikan arsitektur tampaknya mempertajam kemampuan Apichatpong Weerasethakul dalam hal komposisi gambar hingga apa yang tersaji sangat enak dan nyaman di mata. Film ini juga terasa lucu, terutama ketika terjadi pertemuan pola pikir desa (tradisional) dengan kota (modern). Dengan berlatar belakang kisah di dunia medis, film ini menghadirkan ide soal karma dan reinkarnasi. Dua hal yang nyatanya masih sangat dipercayai oleh Apichatpong Weerasethakul. "I believe in karma, reincarnation. You can't prove it but something is there for you, signs that affect your mind and heart."


Seperti halnya film nyeni kebanyakan, Syndromes and A Century memunculkan banyak interpretasi yang bisa membangkitkan sebuah diskusi yang menarik. Meski cukup enak dinikmati (satu keunggulan film ini dibandingkan film nyeni lainnya), ada beberapa bagian yang masih membuat Gilasinema bertanya-tanya, seperti ibu-ibu yang menatap kamera ketika orang-orang disekitarnya saling bercakap-cakap atau ending film ini. Menariknya film seperti ini adalah kadang jawabannya akan kita temukan suatu saat nanti. Atau mungkin ada yang bisa membantu? 4,5/5

Minggu, 18 April 2010

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)

Minggu, 18 April 2010 9

”Pendidikan itu penting. Kalau ingin jadi koruptor, ya harus sekolah”

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, harusnya bisa menghasilkan sebuah sinergi besar bagi negeri Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, rakyat miskin masih saja banyak, pengangguran dimana-mana, tingkat kriminalitas meningkat, serta masih banyaknya anak-anak yang belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Yang makin menyedihkan, ketika jurang antara yang kaya dan miskin makin menganga, ketidakadilan semakin meraja lela dimana mereka dengan modal kecil yang harus selalu dikalahkan. Koruptor bisa tebar pesona menikmati hasil jarahan besar uang rakyat, di sisi lain pencopet dengan hasil jarahan yang jauh lebih kecil seringkali mendapatkan hukuman yang bisa sangat mengenaskan.


Mendapati banyaknya pencopet belia, Muluk (Reza Rahadian) dengan berbekal sarjana di bidang manajemen, berusaha mengentaskan para pencopet belia yang dikelola oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Meski sudah mempunyai gelar sarjana, Muluk ini sudah dua tahun menganggur. Sempat terpikirkan beternak cacing, namun dia mundur ketika ada pihak-pihak yang mentertawakan niat tersebut. Program yang ditawarkan oleh Muluk, terkesan sangat muluk-muluk, namun berkat bantuan dua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang juga menganggur meski berpendidikan tinggi, perlahan-lahan program Muluk mulai mendapatkan hasil. Ketiganya bahu-membahu membangun mental positif anak-anak dengan pelajaran agama, budi pekerti serta kewarganegaraan.
Sebuah program, tentu akan bisa berjalan kalau ada sokongan dana. Minta pada ayahnya (Deddy Mizwar) sangatlah tidak mungkin. Maka dilontarkanlah ide semacam management fee sebesar 10% dari hasil mencopet. Dana yang terkumpul, kedepannya akan dijadikan sebagai modal bagi anak-anak untuk beralih profesi yang lebih halal. Ketika segalanya terlihat sesuai dengan apa yang diharapkan, muncul gugatan yang dilematis yakni ketika ayah Muluk, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan ayah Pipit (Slamet Rahardjo) yang sangat relijius, murka mendapati anak-anak mereka menikmati uang haram. Apa langkah Muluk dkk selanjutnya?


Setelah digempur puluhan film horor dan drama percintaan, kehadiran Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema nasional. Seperti karya Deddy Mizwar sebelumnya, ALNI memasukkan banyak kritikan, terutama kepada kebijakan pemerintah, isu nasionalisme dan balutan dakwah agama yang cukup kental. Bagi Gilasinema, Deddy Mizwar adalah seorang pengkhotbah yang asyik, karena banyak sekali bermain diwilayah abu-abu. Deddy Mizwar tidak menghujani penonton dengan dogma-dogma. Dia hanya membeberkan suatu realita yang pada akhirnya memaksa penonton untuk melakukan semacam pengkajian dan pemahaman sendiri. Solusi diserahkan pada masing-masing individu. Dalam ALNI, kecuali pemerintah, tidak ada yang benar-benar salah atau benar.


Hasilnya? ALNI menjadi sebuah tontonan yang sangat berat karena meninggalkan semacam PR bagi penontonnya. Tidak mudah, mengingat Deddy Mizwar memberikan banyak PR yang dilematis. Apakah langkah yang ditempuh oleh Muluk dkk harus dihentikan gara-gara bertentangan dengan ajaran agama? Padahal, tujuan mereka sangatlah baik dan menunjukkan hasil, meski mungkin kalau kisah berlanjut akan mengalami gugatan baru perihal pekerja di bawah umur. Aksi mereka itu ibarat antitesis dari kondisi riil negeri ini. Banyak orang cerdas di negeri ini yang mengalami kemerosotan moral. Bandingkan dengan para anak-anak pencopet yang mengalami peningkatan moral berkat aksi Muluk dkk. Muluk memanfaatkan uang haram untuk tujuan yang baik, sedangkan para koruptor memanfaatkan hasil jarahan demi kepentingan diri sendiri. Menyedihkan, ketika ilmu dan kecerdasan hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadi (materi).


Duo Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa yang lewat Identitas menyoroti soal carut marutnya pelayanan kesehatan, dalam ALNI mencoba membeberkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu menyentuh semua kalangan dan juga belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Dengan alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, mengapa belum juga terlihat adanya peningkatan kualitas hidup. Program BOS yang harusnya mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun justru mendorong banyak SD dan SMP untuk meningkatkan standar menjadi RSBI yang bisa melegalkan berbagai pungutan. Pendidikan Dasar makin mahal dari sebelum adanya BOS dan sekolah terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Nilai berupa angka menjadi ukuran kecerdasan anak (UAN), tanpa melihat potensi anak di bidang yang lain.
Tapi bukan hanya salah pemerintah juga lho. Pentingnya pendidikan belum disadari oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tempat dimana Gilasinema tinggal. Keberhasilan seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi dari apa yang dia hasilkan dari pekerjaannya yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti kendaraan atau rumah. Dan kalau ada iuran kampung atau bantuan dari pemerintah, tujuannya untuk apa? Pembangunan jalan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk diperbaiki. Gilasinema membayangkan, ada baiknya kali ya kalau suatu kampung itu ada iuran demi pendidikan anak-anak berprestasi dan berpotensi di suatu bidang, dan sebagai balasannya, ketika si anak ini berhasil bisa membangun kampungnya.


Aduuuh...jadi ngelantur. Kesimpulannya, ALNI adalah sebuah film yang komplet dan cerdas. Lucu sekaligus pahit, terutama endingnya yang sukses membuat tangis. Dan seperti halnya Naga Bonar(Jadi) 2, ALNI juga menghadirkan gesekan antar generasi. Kehadiran beberapa produk mungkin terasa mengganggu, namun naskah olahan Musfar Yasin sangat rapat dan menghadirkan banyak quote-qoute segar, tajam dan cerdas. Gilasinema suka sekali dengan dialog pas Rina Hasyim sedang mengisi TTS :


Rina Hasyim : Yang nentuin haram atau halal siapa Beh?
Slamet Rahardjo : MUI!
Rina Hasyim : Lima kotak Beh.
Ratu Tika Bravani : Allah ... Nyak!

Gilasinema juga dibuat terhenyak dengan ”amien” setelah lagu Indonesia Raya. Iya ya, Lagu Indonesia itu kan ibarat doa, namun kita lupa untuk mengamininya. Brillian!!!


Selain kekuatan naskahnya, yang dari Gilasinema baca idenya sudah ada sejak 9 tahun yang lalu, ALNI sangat tertopang dengan penampilan para pemainnya yang padu dan prima. Untuk barisan pemain senior, sudahlah gak usah dibahas. Mereka selalu tampil jauh dari mengecewakan. Reza Rahadian kembali menunjukkan potensinya sebagai calon bintang besar. Penampilan aktor yang sudah Gilasinema sukai sejak tampil di Film Horor ini terlihat matang dan dewasa serta bisa mengimbangi para pemain senior. Ekspresinya di penghujung film benar-benar mantap. Kalau boleh berpesan, Mas Reza ini jangan nglakuin hal-hal yang macam-macam ya. Sayang sekali dengan potensi besar yang kau miliki (sok banget ya hehehe). Asrul Dahlan yang aksi bagusnya di King kurang dilirik, juga pantas diberi tepuk tangan. Sedangkan untuk Ratu Tika Bravani, dia pantas diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Para anak-anak jalanan juga tampil bagus dan natural. Tidak sia-sia mereka digodok selama dua bulan. Alangkah Lucunya (Negeri) Ini adalah sebuah film yang wajib tonton, dan setelahnya kamu bakalan dibuat yakin ALANGKAH TIDAK LUCUNYA NEGERI INI! 4/5



”Kalau ingin cepat kaya, jangan ternak cacing. Lebih baik ternak cicak, buaya atau gurita”

Sabtu, 03 April 2010

LOVE EXPOSURE ( AI NO MUKIDASHI )

Sabtu, 03 April 2010 4

"And now faith, hope, and love abide, these three; and the greatest of these is love." (I Corinthians 13 : 13 )

Seandainya aku lahir di Bali, apakah aku akan memilih Hindu sebagai agamaku? Seandainya aku terlahir sebagai orang Iran, akankah Islam menjadi agama yang aku yakini? Seandainya orang tuaku bukan penganut agama Islam, apakah suatu dosa ketika aku menganut agama lain? Kalau aku terlahir di Negara yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani dan aku dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan dan mengamalkan Budha, apakah itu suatu kesalahan dan dosa? Pemeluk agama yang fanatic senantiasa memandang para penganut agama/kepercayaan yang berbeda sebagai pendosa. Tetapi, bukankah dosa itu urusannya Tuhan? Dan katanya setiap manusia terlahir suci dan tidak bisa memilih dia lahir di mana.l
Pertanyaan yang lama terpendam ini kembali menggelitik setelah Gilasinema menyaksikan Love Exposure ini. Dalam pandangan Gilasinema, ada tiga hal besar yang menaungi kisah sepanjang hampir 4 jam garapan Sion Sono ini. 4 jam?! Ya, film ini berdurasi 237 menit. Bahkan, menurut informasi, durasi awal film ini mencapai 6 jam! Keluarga, Cinta dan Agama adalah 3 hal besar yang coba ingin disampaikan oleh sutradara penghasil Exte: Hair Extensions (sebuah film yang menjijikkan dan membuat merinding) dan Suicide Club ini. Ketiganya saling terkait dan membuat ketiga karakter utamanya menjalani hidup yang lebih rumit daripada seharusnya.


Yu Tsunoda (Takahiro Nishijima) sejak kecil dididik dengan ajaran Kristen. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ibu Yu berpengharapan semoga kedepannya Yu akan menemukan sosok Perawan Maria sebagai asosiasi sebagai cinta. Ayahnya memutuskan menjadi pendeta setelah ibu Yu meninggal dunia. Ayah Yu mengharapkan Yu melakukan pengakuan dosa setiap harinya. Sekecil apapun dosa kesalahan yang Yu perbuat. Gara-gara harapan dan permintaan kedua orangtuanya ini, Yu mulai bereksperimen dengan dosa. Puncaknya adalah ketika dia berperan sebagai 'panty shot' photographer. Di segmen ini kita bisa dibuat tertawa namun ada kemungkinan muak dengan berbagai “trik cantik” dari Yu dalam menghasilkan sebuah “karya” masterpiece.
Pencarian Yu berhenti ketika dia bertemu dengan Yoko (Hikari Mitsushima). Dalam Yoko, Yu melihat Perawan Maria. Buktinya? Dari sekian banyak panty shot, hanya Yoko yang bisa membuat Yu ereksi! Masalahnya, Yoko bertemu dengan Yu dan jatuh cinta padanya saat Yu berperan sebagai Miss Scorpion. Biar masalah makin rumit (sekaligus membuat durasinya mengalami hiper ereksi), dihadirkan Aya Koike yang sangat manipulatif sekaligus kejam. Nyatanya, Aya inilah yang membuat Yu dan Yoko bertemu tanpa disadari keduanya. Tindakan Aya ini didasari motif untuk menggaet keluarga Yu agar masuk ke dalam gereja aliran agama yang Aya anut. Dengan masuknya ayah Yu, diharapkan akan diikuti oleh para jemaah gereja yang dikelola oleh Ayah Yu.


Cinta dan agama itu mempunyai banyak kesamaan. Keduanya membutuhkan apa yang namanya KEYAKINAN yang mendasari orang dalam memilih orang yang akan dicintainya atau agama yang akan dianut. Keyakinan juga yang membuat cinta dan agama bisa tegak berdiri tidak mudah goyah ketika badai datang menghadang (dooooh…). Dalam Love Exposure, keluarga digambarkan mempunyai peran penting dalam membentuk keyakinan seseorang karena keluargalah tempat pertama seseorang belajar akan nilai yang akan membentuk karakter. Dengan meminggirkan peran ibu, Love Exposure sedikit timpang dengan penggambaran sosok ayah yang brengsek. Karakter ketiga tokoh utama dalam Love Exposure tidak bisa dilepaskan dari latar belakang mereka. Yu hidup dalam keluarga yang sangat dogmatis, kekerasan selalu menghampiri Yoko dan Aya senantiasa dibayangi pelecehan. Selain keluarga, keyakinan didapatkan lewat sebuah proses yang bisa singkat, namun bisa juga sepanjang hayat. Butuh waktu panjang bagi Yoko untuk yakin kalau Yu benar-benar mencintainya.


Dengan durasi yang panjang, sutradara Sion Sono menghadirkan banyak sekali emosi yang sukses mengaduk-aduk perasaan penonton (yang sanggup bertahan). Dalam Love Exposure ada manis, pahit, tawa, tangis, dendam, maaf, kemarahan, kesabaran. Humor-humornya terasa lucu, seru, kadang memuakkan namun berhasil menyentil sisi terdalam manusia. Belum lagi pendekatan komikal yang mengingatkan pada gaya bertutur pada anime atau manga. Masuknya hal-hal berbau seksual, bisa saja terlihat menghibur, namun tak pelak mampu membuat malu penonton. Cabul! Untuk menuju akhir kisah yang dramatis kita diajak terlebih dahulu menikmati sajian dramatis nan tragis. Belum cukup, sang sutradara menghadirkan beberapa scene sadis seperti penghancuran kelamin dan pertarungan yang berdarah-darah. Fuih…ibarat masakan, semua bumbu masuk yang kalau disantap saat kondisi tidak prima bisa menyebabkan mencret.
Kalau misalnya bingung dengan apa yang ingin disampaikan oleh film ini, adegan paling penting dalam film ini hadir ketika Yu dan Yoko berkonfrontasi di pinggir pantai. Bagi mereka penganut Kristen, bisa dengan mudah menangkap esensi cerita mengingat film ini berlandaskan pada I Corinthians 13 yang ada pada Kitab Injil, terutama pada ayat yang tertulis diatas (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan). Namun karena agama dan cinta itu sesuatu yang sangat universal, rasanya bisa dengan mudah dipahami oleh semua penganut agama, meski senantiasa menemui kesulitan dalam aplikasinya :)


Cinta dan agama idealnya membawa kedamaian bukannya kekacauan dan perpecahan. Cinta dan agama akan menjadi sesuatu yang memuakkan kalau terlalu banyak motif di dalamnya. Hadirnya Aya dengan segala motifnya membuat kacau hidup Yu dan Yoko, bahkan sampai membuat banyak korban berjatuhan. Cinta dan agama itu tidak bisa dipaksakan karena hakiki sifatnya. Cinta dan agama itu tidak memandang rupa. Namun, seringkali atas nama cinta dan agama kita melegalkan perbuatan yang seharusnya terlarang. Ketika kita menyerang orang lain atas nama agama, itu berarti kita juga menyakiti Tuhan karena mereka juga ciptaan-Nya. Akhirnya, ketika hadir pertanyaan-pertanyaan seperti di paragraf pertama tulisan ini, yang bisa dilakukan hanyalah YAKIN. Yakin kalau agama itu baik adanya. Yakin kalau agama itu membawa kedamaian, bukannya kehancuran. Yakin kalau agama itu cinta. Begitupun sebaliknya. 4,25/5


Love is long suffering, tolerant, patient. Love is kind, free of jealousy, envy and pride. Love is does not display unseemly behavior, unselfish, not touchy, fretful or resentful and takes no account of the evil done to it. Love is hates evil and associated with honesty. Love is protects, trusts, hopes and perseveres. Love is triumphs. Love is greater than either faith or hope.

Selasa, 16 Maret 2010

THE INFORMANT!

Selasa, 16 Maret 2010 7

FBI : Mark, I gotta ask you.Why are you doing this? We know you lied about the phone line, and you're afraid of that. But now you're telling us all this other stuff......out of the blue. Got to ask you why.
Mark Whitacre : Well, because things are going on I don't approve of. Now, I'm a biochemist. I'm a technical guy. And they pull me into the business side......and suddenly I find out all these things......are going on that are illegal.If I want to grow with ADM, I gotta learn the business side. And so suddenly, I'm lying. They're making me lie to people. I lie to you.


Kebohongan kadang bisa menyelamatkanmu, namun bisa juga menghancurkanmu. Bermula dari sebuah niat baik, Mark Whitacre merajut kebohongan demi kebohongan yang pada akhirnya membuat dia harus mendekam dalam penjara selama 8 tahun lebih, selain menumbuhkan kebencian dari orang-orang yang selama ini mempercayainya. Demi menyelamatkan karir dan juga bawahannya, Mark Whitacre menciptakan sebuah kenyataan palsu yang sialnya disikapi dengan serius oleh atasannya dengan mendatangkan FBI. Agar kenyataan palsu yang dia ciptakan tidak terbongkar, Mark Whitacre “menjual” kenyataan lain kepada FBI yang menyeretnya semakin jauh ke dalam jurang kebohongan karena FBI meminta bantuannya untuk menjadi semacam mata-mata untuk membongkar persoalan pengaturan harga yang dilakukan oleh perusahaanya. Kini, Mark Whitacre harus menjadi musuh perusahaan tempat dia mendapatkan segala kemakmuran.


While I was there at ADM, I lived so many lives, I didn't really know who I was.

Kebohongan ternyata bisa membuat seseorang mengalami kebingungan identitas. Itulah yang dialami oleh Mark Whitacre. Perannya sebagai sang informan membuat dirinya mempunyai dua sisi yang berlawanan. Hal ini tentu saja membutuhkan sebuah sandiwara yang meyakinkan dan konsisten. Bukan sesuatu yang mudah, mengingat Mark Whitacre harus menjalani peran ganda tersebut selama lebih dari dua tahun. Mark Whitacre ibarat seorang waria yang tersiksa karena merasa jiwa perempuannya terjebak dalam tubuh laki-laki. Tapi, tidak bisa dipungkiri terkadang Mark Whitacre terlihat menikmati perannya tersebut. ” Mark Whitacre, secret agent 0014. Because I'm twice as smart as 007.”


Kebohongan itu memuakkan, namun tidak bisa dipungkiri kadang terasa menyenangkan. Hampir semua orang suka dengan kebohongan. Tidak percaya? Coba saja pergi bioskop, disana kamu akan mendapatkan antrian panjang manusia yang bersiap menikmati rekayasa cerita selama sekitar 2 jam. Pergilah ke toko buku dan kamu akan mendapati kalau rak yang memajang karya fiksi akan lebih ramai dibandingkan rak yang memajang literature ekonomi. The Informant! bagi Gilasinema adalah sebuah kebohongan yang lucu dan cerdas. Hebatnya, film ini diangkat dari kisah nyata. Kalau boleh memberi saran, tonton film ini tanpa bermodalkan pengetahuan siapa itu Mark Whitacre. Jangan terlebih dahulu mencari kisahnya di mbak Wiki. Kalau kamu menuruti saran ini, di akhir kisah kamu akan dibuat tertawa karena ada satu kejutan yang disiapkan oleh Mark Whitacre. Sungguh sebuah ejekan yang lucu yang tercermin dengan bagus lewat posternya (poster favorit versi Gilasinema Award 2009). Tidak hanya ADM dan FBI, Mark Whitacre berhasil mengelabui penonton. Kalau kamu suka dengan Duplicity, maka The Informant! akan sangat sayang dilewatkan.


Sesuai judulnya, The Informant! banyak menyemburkan informasi yang membuat film ini dipenuhi dialog-dialog yang berpotensi membosankan bagi sebagian penonton. Apalagi Mark Whitacre (Matt Damon) rajin bermonolog dalam film ini. Sebuah monolog yang terkesan cerdas namun belum tentu kebenarannya. Untungnya, di tangan Steven Soderbergh, The Informant! menjadi sebuah tontonan yang memikat dan dihadirkan dalam irama yang dinamis. Cerita mengalir dengan lumayan lancar dan divisi artistic secara meyakinkan menghadirkan suasana awal 1990-an. Kedinamisan cerita dan gambar yang cantik makin asyik dengan dibalut musik lincah olahan Marvin Hamlish. Applaus meriah patut diberikan pada Matt Damon yang mampu bertransformasi dengan sangat meyakinkan sebagai Mark Whitacre. Ditangan Matt Damon, Mark Whitacre seakan perpaduan kebingungan identitas yang dialami dan Bourne dengan kecerdasan ala Ripley (Talented Mr. Ripley). Hanya saja kali ini disajikan dalam rasa komedik dan dibungkus dalam tubuh tambun serta dandanan norak. Dasi-dasinya itu lho.


Sekali lagi, bagi Gilasinema, The Informant! adalah sebuah film yang lucu. Gilasinema dibuat tertawa oleh adegan-adegan seperti rapat dalam ruang sempit, para petinggi FBI yang terperangah serta orang tua Mark Whitacre yang kebingungan dengan sebuah informasi. Kebohongan dalam The Informant! terasa menghibur, namun dalam kehidupan nyata, banyak korban berjatuhan akibat kebohongan yang disemburkan Mark Whitacre. Salutnya, Mark Whitacre secara jantan mengakui kesalahannya dan berani bertanggung jawab tanpa menyeret nama lain. Sebuah sikap yang pantas ditiru. 4/5


It's all 'Blame it on Whitacre.'
I just really want to apologize to a lot of people in this room......and a lot of people who aren't in this room, um......for my actions.
I realize I hurt a lot of people, and so I want to say: I'm so, so, so sorry.
I greatly apologize and accept responsibility for my actions.
That's it. Thank you.


Kamis, 11 Maret 2010

FISH TANK

Kamis, 11 Maret 2010 6

Mia (Katie Jarvis) tak ubahnya ikan yang terjebak dalam sebuah akuarium yang membatasi ruang geraknya padahal dia mempunyai daya untuk bergerak di lautan luas. Diusianya yang belia, Mia harus hidup dengan ibunya yang jauh dari kesan tanggung jawab, terjebak dalam lingkungan rumah susun padat dimana tidak ada orang yang bisa membangkitkan rasa hormatnya. Jebakan terbesar adalah dirinya sendiri dimana dia berada pada usia yang idealnya banyak mencurahkan ide dan gerak. Tak heran, tari menjadi pelampiasan Mia dari segala batas yang ada disekelilingnya. Meski dalam ruang kecil, ketika menari, Mia merasa bebas.


Karena hidup dalam ruang lingkup yang sempit, Mia (dan banyak remaja lainnya) menjadi sosok yang impulsive sekaligus naïf. Dimata Mia, semua terlihat tidak ada yang benar. Semangat kebebasannya ditunjukkan dengan usahanya membebaskan kuda tanpa peralatan yang cukup. Tindakan ini juga mencerminkan kepolosannya dalam menghadapi dunia luar yang kejam. Begitupun ketika dia secara perlahan tertarik dengan Connor (Michael Fassbender) untuk kemudian dibuat babak belur oleh kenyataan. Mia seakan mewakili banyak remaja didunia (entah cowok atau cewek) yang dengan keangkuhannya merasa sanggup menjalani hidup dengan caranya sendiri. Padahal, dalam prosesnya dia harus berhadapan dengan kemunafikan, kekejaman dan kelicikan. Realitas yang tidak bersahabat. Buat yang tidak kuat, bisa tergoda mengambil jalan pintas, namun bagi mereka yang berkepribadian istimewa, semua hal tadi bisa menjadi bekal dalam mengarungi hidup selanjutnya.


Banyak yang menyamakan Fish Tank ini dengan Precious ataupun An Aeducation. Ada benarnya juga sih, beberapa bagian dalam Fish Tank mengingatkan pada Precious seperti kondisi ekonomi, kurangnya peran ayah dan kondisi social tempat tinggal si pemeran utama. Kemiripan dengan An Education terletak pada letupan hormone usia muda dan bagaimana kehadiran pria matang memberikan sensasi menghanyutkan dan pengalaman yang menyakitkan. Secara keseluruhan, Fish Tank lebih tepat diperbandingkan dengan An Education. Hanya saja, Fish Tank terkesan lebih apa adanya hingga (mungkin) terasa lebih nyata.


Namun, meski temanya hampir mirip, keduanya mempunyai materi-materi yang kontradiktif. Kalau An Education memasukkan unsure komedik, Fish Tank terasa dramatis, bahkan menyesakkan. Tokoh yang diperankan Carey Mulligan berasal dari keluarga mampu, sedangkan Mia berasal dari keluarga yang tidak bisa dibilang mapan. Faktor ini juga menguatkan kesan dramatis tadi, selain juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan pemerannya. Katie Jarvis terlihat lebih tua dibandingkan Carey Mulligan, padahal kenyataannya, Katie Jarvis jauh lebih muda dibandingkan Carey Mulligan. Saat syuting, Katie Jarvis berusia 17 tahun. Bandingkan dengan Carey Mulligan yang berusia 24 tahun. Yang pasti, penampilan keduanya yang bagus menegaskan Inggris Raya sebagai penghasil actor/aktris berkulitas. Salut buat Katie Jarvis yang didebutnya ini mampu tampil total dan rela dibuat babak belur. Sekedar informasi, Katie Jarvis ini sekarang sudah mempunyai anak lho.


Menyaksikan Fish Tank seakan mengalami de javu buat mereka yang pernah menyaksikan karya Andrea Arnold sebelumnya, Red Road. Meski Fish Tank tidak menghadirkan penampakan selangkangan pria layaknya Red Road, keduanya menghadirkan setting tempat yang mirip dan gaya pengambilan gambar yang serupa. Fish Tank terlihat lebih cerah karena banyak menghadirkan suasana siang, sedangkan Red Road banyak bermain di area-area gelap. Namun, Fish Tank terlihat cantik dengan sudut pengambilan gambar yang memungkinkan cahaya berperan indah didalamnya. Soal setting, tampaknya Andrea Arnold terpikat dengan kompleksitas kawasan rumah susun. Lihat saja bagaimana Andrea Arnold dalam Fish Tank memberi gambaran rumah susun yang seperti penjara selain pagar-pagar atau pembatas yang senantiasa hadir dibanyak adegan. Sebuah film yang memikat dan lebih bagus ketimbang Precious. 4,25/5



FISH TANK JUGA ADA DI :
AT THE MOVIES
LABIRIN FILM

Sabtu, 27 Februari 2010

HACHIKO : A DOG’S STORY

Sabtu, 27 Februari 2010 37

20 tahun lebih Gilasinema mengkonsumsi sinema, baru Hachiko yang berhasil membuat Gilasinema menangis sesenggukan selama sekitar setengah jam. Mungkin berlebihan, namun kalau kamu pernah memelihara anjing atau tidak antipati terhadap anjing, rasanya bakal bisa tersentuh oleh film ini. Hachiko sebenarnya hanyalah berkisah tentang kesetian anjing terhadap tuannya, seperti tagline film ini “A true story of faith, devotion and undying love.’ Namun, kisah biasa ini di tangan sutradara asal Swedia, Lasse Hallström, menjadi sangat menyentuh berkat penggambaran interaksi yang intens antara Richard Gere dengan anjing pemeran Hachi. Interaksi keduanya mungkin terasa lamban dan membosankan, namun justru menjadi pengikat emosi yang kuat.


Sekali lagi, kalau kamu tidak anti anjing dan pengen tontonan yang membuat menangis, maka Hachiko sangat Gilasinema rekomendasikan. Sayangnya film ini direct to video hingga kiprahnya langsung tenggelam. Di Jepang, kisah Hachiko ini katanya sangat terkenal sampai dibuatkan patung segala. Tiap 8 Maret diadakan perayaan untuk mengenang Hachiko yang melambangkan kesetiaan tingkat tinggi. Dan lagi, film ini kan arahan Lasse Hallström yang sebelumnya menghasilkan What's Eating Gilbert Grape, The Cider House Rules, Chocolat, The Shipping News, An Unfinished Life, Casanova dan The Hoax. Tahun 2010 ini dia cukup sukses dengan Dear John dan bakal segera merilis The Danish Girl yang dibintangi Nicole Kidman dan Gwyneth Paltrow. Tontan saja deh 4/5








HACHIKO JUGA ADA DI:
TUKANG REVIEW
MOVIEGEEK NOTES
 
GILA SINEMA. Design by Pocket