Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juni 2010

TANAH AIR BETA : KONSISTENSI ALENIA

Sabtu, 19 Juni 2010 3

Karena situasi politik, Merry (Griffit Patricia) harus berpisah dengan kakaknya, Mauro (Marcel Raymond). Demi menuntaskan rindu, Merry seringkali bercakap-cakap dengan bantal yang dibalut kaos kakaknya. Sebagai seorang ibu, Tatiana (Alexandra Gottardo) sangatlah sedih melihat hal tersebut. Setelah beberapa tahun berpisah dan kondisinya lebih kondusif, Tatiana mendapatkan kabar soal anak pertamanya. Sayang, Mauro yang marah karena merasa ditinggalkan di Timor Timur enggan bertemu dengan ibunya. Mengetahui hal ini, Merry bertekad menempuh perjalanan panjang demi bertemu dengan kakaknya. Di tengah perjalanan, dia disusul oleh teman sekolah yang paling dia benci, Carlo (Yahuda Rumbindi). Siapa sangka, Carlo justru banyak membantunya di perjalanan.


Sekali lagi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen mendedikasikan hidup mereka dengan konsisten menghadirkan film keluarga setelah sebelumnya merilis Denias, Liburan Seruuu dan King. Setelah balik sejenak ke Jawa, kali ini Alenia kembali ke Timur dan mengangkat kisah persaudaraan yang terkoyak paska jajak pendapat di Timor Timur. Banyak keluarga yang terpisah setelah jajak pendapat tersebut. Mereka yang memilih sebagai WNI memutuskan untuk mengungsi ke Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara sekilas, Alenia menunjukkan betapa masih menyedihkannya kehidupan mereka dan seakan kurang mendapat perhatian yang pantas dari pemerintah. Banyak yang belum melek huruf dan fasilitas kesehatan yang minim. Sedih rasanya mendengar Carlo berkata tidak ingin menjadi dokter karena tidak ada yang bisa menyembuhkan keluarganya ketika mereka sakit dan akhirnya meninggal dunia.


Namun, jangan harap kita digempur dengan rentetan permasalahan yang terjadi dipengungsian. Penonton yang mengharapkan kisah yang berisi gugatan sosial dan kritikan tajam terhadap politik dan pemerintah, bakal kecewa. Saya sendiri sempat dibuat terganggu dengan minimnya interaksi Tatiana dengan warga lainnya. Dia seolah-olah hidup terpisah dari yang lain. Tanah Air Beta nyatanya lebih mengedepankan kisah Merry yang berusaha menemui kakaknya. Pendekatan ini tampaknya sengaja dipilih oleh Alenia karena ya itu tadi, konsistensi untuk menghasilkan tontonan keluarga. Tontonan yang bisa dikonsumsi semua umur. Karenanya, di pertengahan cerita layar lebih berfokus pada usaha Merry dan Carlo.


Sayangnya, dengan usaha Merry menemui kakak yang sangat dia sayangi sebagai motor cerita, film ini tidak ada sama sekali visualisasi memori Merry dengan kakaknya. Visualisasi ini menurut saya penting demi meyakinkan penonton akan kuatnya ikatan persaudaraan antara kakak adik tersebut. Dampaknya, secara keseluruhan Tanah Air Beta terkesan main aman dan emosi yang dihadirkan cenderung datar karena minim letupan. Endingnya yang berpotensi menghasilkan sesuatu yang dramatis dihadirkan dengan sangat biasa. Lantunan lagu Kasih Ibu kok terasa kurang pas ya mengingat sebelumnya tidak ada adegan yang menegaskan kalau lagu Kasih Ibu merupakan lagu kenangan antara Merry dan Mauro.


Cerita yang terlalu datar untungnya dibalut dengan sinematografi yang cantik olahan Ical Tanjung. Gambar-gambarnya cukup indah meski settingnya bisa dikatakan cukup kering. Dan menyaksikan Tanah Air Beta ini saya jadi merasa melihat film dengan setting Afrika. Film ini juga sangat terbantu dengan akting para pemainnya yang bagus. Di paruh pertama saya dibuat terkesan dengan penampilan Alexandra Gottardo yang benar-benar berbeda dengan penampilannya sebelumnya di sinetron. Dengan balutan make-up yang bagus, Alexandra Gottardo melengkapinya dengan logat bicara yang meyakinkan. Di paruh kedua saya dibuat kagum dengan penampilan Griffit Patricia dan Yahuda Rumbindi. Sebagai pemula, keduanya bermain bagus dan natural. Saya suka bagaimana keduanya menciptakan chemistry yang apik. Dari keduanya, kisah persaudaraan terasa lebih kuat.


Sebagai tontonan keluarga, Tanah Air Beta bolehlah dijadikan pilihan di musim liburan ini. Pesan persaudaraan yang di hembuskan oleh Alenia cukup bisa tersampaikan lewat hubungan Merry dengan Carlo. Beberapa selipan humornya mampu membuat tersenyum, terutama adegan-adegan yang menghadirkan Carlo. Sikapi film ini sebagai film keluarga (anak-anak), dan kamu akan lebih bisa menikmatinya. Indonesia Pusaka sebagai lagu penutup mampu membuat saya merinding. Kalau boleh memberi saran kepada Alenia, mungkin kedepannya bisa mengajak tim yang berbeda biar karya-karyanya tidak mudah ketebak. 3,75/5

Kamis, 17 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : PERSAUDARAAN DI NEGERI SEBERANG

Kamis, 17 Juni 2010 4

Victoria Park di setiap hari Minggu dipenuhi dengan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mencari dolar di Hongkong. Disinilah para BMI tadi bisa secara bebas mengekspresikan diri mereka. Sesuatu hal yang mungkin tidak bakal mereka lakukan ketika berada di Tanah Air. Di Victoria Park, kita akan menjumpai berbagai aktifitas, mulai dari sekedar kongkow-kongkow, memadu kasih, pengajian, dakwah agama hingga ekpresi seni. Bahkan, mereka juga pernah melakukan demonstrasi di Victoria Park, mengkritisi kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat, seperti kenaikan harga BBM. Berkumpulnya BMI di Victoria Park bagi Lola Amaria, adalah simbol rekonsiliasi bagi dua tokoh utama dalam filmnya, yakni Mayang (Lola Amaria) dan Sekar (Titi Sjuman).


Motor penggerak cerita dalam Minggu Pagi di Victoria Park dalam pandangan saya adalah sibling rivalry dari Sekar dan Mayang. Hubungan keduanya mengingatkan saya pada hubungan Cameron Diaz dan Tony Colette di In Her Shoes. Lewat usaha Mayang yang terpaksa menjadi BMI karena paksaan ayahnya demi menemukan Sekar yang senantiasa membangkitkan rasa iri dihatinya, kita diajak untuk melihat seluk beluk kehidupan BMI di Hongkong. Dengan riset yang cukup, Titien Wattimena menyuguhkan kisah cukup menarik, mulai dari hubungan antar BMI, hubungan BMI dengan majikan sampai mengulik fenomena hubungan sesama jenis antar BMI.


Gempuran penggambaran para BMI dalam Minggu Pagi di Victoria Park membuat kita paham betapa sulitnya posisi mereka, mengingat tekanan dari berbagai pihak yang membuat mereka tak ubahnya sapi perahan. Dan tidak hanya terjadi di Terminal 4 lho. Tekanan pertama sebenarnya datang dari rumah. Banyak pandangan di desa kalau bekerja sebagai MBI itu menghasilkan pemasukan yang besar. Kesuksesan seorang MBI dinilai dari perubahan fisik rumah beserta isinya. Pada akhirnya semua bermuara pada prestise orang tua, dimana anak dituntut untuk memenuhi gengsi tersebut tanpa memahami betapa tidak mudahnya mencari uang di negeri orang. Tuntutan inilah yang menyebabkan Sekar serta banyak BMI lainnya terlilit utang.


Pola pergaulan yang salah juga bisa mendatangkan kesulitan. Para BMI di Hongkong dikabarkan sering menjalin hubungan dengan pria Nepal ataupun Pakistan yang notabene malah meloroti penghasilan mereka. Bahkan sampai ada yang hamil lho yang sayangnya tidak ditampilkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Tekanan pekerjaan datang makin menggebu ketika mereka dituntut untuk bekerja dengan sigap dan cepat beradaptasi di lingkungan yang benar-benar baru. Kalau tidak kuat, hal ini bisa membuat diri terlilit keterasingan, yang fatalnya bisa mendorong mereka nekat melakukan aksi bunuh diri.


Hidup di negeri orang itu, sekali lagi tidaklah mudah, karenanya dibutuhkan solidaritas antar kaum pendatang. Dengan kebanyakan berjenis kelamin perempuan, tidak mengherankan kalau banyak BMI yang terlibat cinta sejenis hingga ada yang berani melakukan ”pernikahan”. Dari yang saya baca, hubungan sesama jenis ini ternyata banyak yang berawal saat mereka tinggal di tempat pelatihan di Indonesia lho. Kasusnya mungkin sama dengan para pekerja pabrik di dalam negeri yang juga banyak terlibat cinta sesama jenis karena tinggal dalam satu asrama. Penyebab mengapa banyak BMI yang menjalin hubungan sesama jenis, sayangnya kurang tergambarkan dalam Minggu Pagi di Victoria Park.


Minggu Pagi di Victoria Park berniat menyampaikan banyak hal seputar MBI di Hongkong, jadi sulit memang untuk menghadirkan kisah yang benar-benar utuh dan mendalam. Meski demikian, film ini tetap enak dinikmati dan yang terpenting tidak melukai logika dengan fatal. Film ini makin menarik berkat topangan akting yang kuat, terutama para pemeran wanitanya. Dalam hal ini bukan hanya Titi Sjuman dan Lola Amaria saja lho, mengingat para pemeran pendukung perempuan yang lain juga tampil tak kalah meyakinkan. Saya awalnya agak terganggu dengan gaya bicara Lola Amaria yang terkesan nanggung, namun pada akhirnya paham kenapa pendekatan ini dia pilih. Mayang itu seorang gadis desa yang terpaksa ke luar negeri dan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Coba deh perhatikan gaya omong orang desa yang jarang berbahasa Indonesia dan belum lama tinggal di kota. Setelah pemahaman ini saya kagum dengan bagaimana Lola Amaria mencoba konsisten dengan gaya bicara yang ”nanggung”.


Banyak yang merasa terganggu dengan penampilan Donny Damara, namun bagi saya justru kehadiran karakter yang diperankan oleh Donny Alamsyah sangatlah kurang kuat. Saya tidak paham mengapa dia begitu tertarik terlibat dalam usaha menemukan Sekar. Hal ini menyebabkan kehadirannya hanya sebatas pemanis saja. Andai saja dia diberi karakterisasi yang lebih ”kasar” pasti kehadirannya akan lebih meyakinkan. Misalnya saja, Sekar mempunyai hutang yang cukup besar darinya, hingga Vincent (Donny Alamsyah) ikut dalam usaha pencarian dan pada akhirnya ada rasa terhadap Mayang. Kehadiran Gandhi (Donny Damara) yang merepresentasikan pemerintah (atau LSM?) terasa lebih masuk akal, hingga saya bisa agak menerima penampilannya yang cenderung formal dan dramatis.


Minggu Pagi di Victoria Park secara keseluruhan merupakan tontonan yang bagus, tapi masih bisa lebih bagus lagi. IMO MOI lho. Saya membayangkan andai saja film ini menggunakan hand held camera selama adegan-adegan di Hongkong, kecuali adegan konser diakhir, pasti akan lebih mengikat rasa layaknya 4 Months, 3 Weeks and 2 Days. Eh...ada Novia Kolopaking sebagai Produser Eksekutif lho. 3.75/5

Minggu, 18 April 2010

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)

Minggu, 18 April 2010 9

”Pendidikan itu penting. Kalau ingin jadi koruptor, ya harus sekolah”

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, harusnya bisa menghasilkan sebuah sinergi besar bagi negeri Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, rakyat miskin masih saja banyak, pengangguran dimana-mana, tingkat kriminalitas meningkat, serta masih banyaknya anak-anak yang belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Yang makin menyedihkan, ketika jurang antara yang kaya dan miskin makin menganga, ketidakadilan semakin meraja lela dimana mereka dengan modal kecil yang harus selalu dikalahkan. Koruptor bisa tebar pesona menikmati hasil jarahan besar uang rakyat, di sisi lain pencopet dengan hasil jarahan yang jauh lebih kecil seringkali mendapatkan hukuman yang bisa sangat mengenaskan.


Mendapati banyaknya pencopet belia, Muluk (Reza Rahadian) dengan berbekal sarjana di bidang manajemen, berusaha mengentaskan para pencopet belia yang dikelola oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Meski sudah mempunyai gelar sarjana, Muluk ini sudah dua tahun menganggur. Sempat terpikirkan beternak cacing, namun dia mundur ketika ada pihak-pihak yang mentertawakan niat tersebut. Program yang ditawarkan oleh Muluk, terkesan sangat muluk-muluk, namun berkat bantuan dua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang juga menganggur meski berpendidikan tinggi, perlahan-lahan program Muluk mulai mendapatkan hasil. Ketiganya bahu-membahu membangun mental positif anak-anak dengan pelajaran agama, budi pekerti serta kewarganegaraan.
Sebuah program, tentu akan bisa berjalan kalau ada sokongan dana. Minta pada ayahnya (Deddy Mizwar) sangatlah tidak mungkin. Maka dilontarkanlah ide semacam management fee sebesar 10% dari hasil mencopet. Dana yang terkumpul, kedepannya akan dijadikan sebagai modal bagi anak-anak untuk beralih profesi yang lebih halal. Ketika segalanya terlihat sesuai dengan apa yang diharapkan, muncul gugatan yang dilematis yakni ketika ayah Muluk, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan ayah Pipit (Slamet Rahardjo) yang sangat relijius, murka mendapati anak-anak mereka menikmati uang haram. Apa langkah Muluk dkk selanjutnya?


Setelah digempur puluhan film horor dan drama percintaan, kehadiran Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema nasional. Seperti karya Deddy Mizwar sebelumnya, ALNI memasukkan banyak kritikan, terutama kepada kebijakan pemerintah, isu nasionalisme dan balutan dakwah agama yang cukup kental. Bagi Gilasinema, Deddy Mizwar adalah seorang pengkhotbah yang asyik, karena banyak sekali bermain diwilayah abu-abu. Deddy Mizwar tidak menghujani penonton dengan dogma-dogma. Dia hanya membeberkan suatu realita yang pada akhirnya memaksa penonton untuk melakukan semacam pengkajian dan pemahaman sendiri. Solusi diserahkan pada masing-masing individu. Dalam ALNI, kecuali pemerintah, tidak ada yang benar-benar salah atau benar.


Hasilnya? ALNI menjadi sebuah tontonan yang sangat berat karena meninggalkan semacam PR bagi penontonnya. Tidak mudah, mengingat Deddy Mizwar memberikan banyak PR yang dilematis. Apakah langkah yang ditempuh oleh Muluk dkk harus dihentikan gara-gara bertentangan dengan ajaran agama? Padahal, tujuan mereka sangatlah baik dan menunjukkan hasil, meski mungkin kalau kisah berlanjut akan mengalami gugatan baru perihal pekerja di bawah umur. Aksi mereka itu ibarat antitesis dari kondisi riil negeri ini. Banyak orang cerdas di negeri ini yang mengalami kemerosotan moral. Bandingkan dengan para anak-anak pencopet yang mengalami peningkatan moral berkat aksi Muluk dkk. Muluk memanfaatkan uang haram untuk tujuan yang baik, sedangkan para koruptor memanfaatkan hasil jarahan demi kepentingan diri sendiri. Menyedihkan, ketika ilmu dan kecerdasan hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadi (materi).


Duo Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa yang lewat Identitas menyoroti soal carut marutnya pelayanan kesehatan, dalam ALNI mencoba membeberkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu menyentuh semua kalangan dan juga belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Dengan alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, mengapa belum juga terlihat adanya peningkatan kualitas hidup. Program BOS yang harusnya mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun justru mendorong banyak SD dan SMP untuk meningkatkan standar menjadi RSBI yang bisa melegalkan berbagai pungutan. Pendidikan Dasar makin mahal dari sebelum adanya BOS dan sekolah terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Nilai berupa angka menjadi ukuran kecerdasan anak (UAN), tanpa melihat potensi anak di bidang yang lain.
Tapi bukan hanya salah pemerintah juga lho. Pentingnya pendidikan belum disadari oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tempat dimana Gilasinema tinggal. Keberhasilan seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi dari apa yang dia hasilkan dari pekerjaannya yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti kendaraan atau rumah. Dan kalau ada iuran kampung atau bantuan dari pemerintah, tujuannya untuk apa? Pembangunan jalan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk diperbaiki. Gilasinema membayangkan, ada baiknya kali ya kalau suatu kampung itu ada iuran demi pendidikan anak-anak berprestasi dan berpotensi di suatu bidang, dan sebagai balasannya, ketika si anak ini berhasil bisa membangun kampungnya.


Aduuuh...jadi ngelantur. Kesimpulannya, ALNI adalah sebuah film yang komplet dan cerdas. Lucu sekaligus pahit, terutama endingnya yang sukses membuat tangis. Dan seperti halnya Naga Bonar(Jadi) 2, ALNI juga menghadirkan gesekan antar generasi. Kehadiran beberapa produk mungkin terasa mengganggu, namun naskah olahan Musfar Yasin sangat rapat dan menghadirkan banyak quote-qoute segar, tajam dan cerdas. Gilasinema suka sekali dengan dialog pas Rina Hasyim sedang mengisi TTS :


Rina Hasyim : Yang nentuin haram atau halal siapa Beh?
Slamet Rahardjo : MUI!
Rina Hasyim : Lima kotak Beh.
Ratu Tika Bravani : Allah ... Nyak!

Gilasinema juga dibuat terhenyak dengan ”amien” setelah lagu Indonesia Raya. Iya ya, Lagu Indonesia itu kan ibarat doa, namun kita lupa untuk mengamininya. Brillian!!!


Selain kekuatan naskahnya, yang dari Gilasinema baca idenya sudah ada sejak 9 tahun yang lalu, ALNI sangat tertopang dengan penampilan para pemainnya yang padu dan prima. Untuk barisan pemain senior, sudahlah gak usah dibahas. Mereka selalu tampil jauh dari mengecewakan. Reza Rahadian kembali menunjukkan potensinya sebagai calon bintang besar. Penampilan aktor yang sudah Gilasinema sukai sejak tampil di Film Horor ini terlihat matang dan dewasa serta bisa mengimbangi para pemain senior. Ekspresinya di penghujung film benar-benar mantap. Kalau boleh berpesan, Mas Reza ini jangan nglakuin hal-hal yang macam-macam ya. Sayang sekali dengan potensi besar yang kau miliki (sok banget ya hehehe). Asrul Dahlan yang aksi bagusnya di King kurang dilirik, juga pantas diberi tepuk tangan. Sedangkan untuk Ratu Tika Bravani, dia pantas diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Para anak-anak jalanan juga tampil bagus dan natural. Tidak sia-sia mereka digodok selama dua bulan. Alangkah Lucunya (Negeri) Ini adalah sebuah film yang wajib tonton, dan setelahnya kamu bakalan dibuat yakin ALANGKAH TIDAK LUCUNYA NEGERI INI! 4/5



”Kalau ingin cepat kaya, jangan ternak cacing. Lebih baik ternak cicak, buaya atau gurita”

Sabtu, 17 April 2010

MENEBUS IMPIAN

Sabtu, 17 April 2010 13

Impian. Orang hidup itu harus dan pasti punya impian, apapun wujud impian tersebut. Masing-masing orang tidaklah sama. Impianlah yang membuat hidup manusia terasa lebih hidup, karena impian membuat manusia merancang, membuat dan mewujudkan aksi demi mewujudkan impian tersebut. Tidak semua orang bisa mewujudkan mimpinya. Karena selain keberuntungan, dibutuhkan kerja keras serta kesabaran dalam mewujudkan impian. Ketika impian terasa mustahil untuk diwujudkan, rasa putus asa datang menghampiri. Kalau sudah begini, kehancuran bisa mengancam, kecuali kalau dia bisa bangkit dan berusaha lebih keras atau mengganti impiannya.


Bagi Nur (Acha Septriasa) kebahagiaan ibunya (Ayu Diah Pasha) adalah impian terbesarnya. Namun, hidup seakan tidak adil bagi Nur. Sejak kecil, ayahnya pergi entah kemana dan Nur harus menjadi saksi kerja keras ibunya demi memberikan kehidupan yang layak bagi Nur. Pada saat Nur dipusingkan dengan biaya kuliah yang naik, mesin cuci yang merupakan penopang keuangan mengalami kerusakan. Belum cukup, ibunya Nur didiagnosa ada ayag salah dengan otaknya dan membutuhkan biaya besar untuk operasi. Pada saat situasi makin tidak menentu dan ditambah sulitnya mencari pekerjaan, Nur dipetemukan dengan Dian (Fedi Nuril). Pemuda ini mengenalkan Nur dengan bisnis MLM.
Awalnya Nur sempat memandang remeh bisnis tersebut dan memilih bekerja sebagai pramusaji di sebuah bar. Namun berkat dorongan Dian, Nur mencoba lebih keras dalam usaha MLM tersebut dan secara perlahan, seberkas sinar mulai menerangi kehidupannya. Ketika cahaya hidup Nur mulai sedikit agak terang, datang cobaan yang membuatnya meredup kembali. Lagi-lagi Dian datang sebagai dewa penolong yang membuat Nur kembali bersinar. Kali ini dengan binar yang lebih terang, karena pada akhirnya Nur bisa mewujudkan mimpinya, membahagiakan ibunya.


Sudah tak terhitung lagi film-film yang berkisah tentang usaha meraih mimpi. Kebanyakan mempunyai pola cerita yang sama yakni bagaimana seseorang yang awalnya nobody, setelah bekerja keras, sukses menjadi somebody. From zero to hero. Menebus Impian tidak berbeda jauh dengan film soal mimpi lainnya, bahkan terkesan sangat klise. Tokoh Nur yang bak sudah jatuh tertimpa tangga misalnya, lazim ada pada film/sinetron Indonesia. Sudah miskin, sakit-sakitan lagi. Kesan klise pada Menebus Impian makin kentara dengan hadirnya kebetulan yang menghampiri hidup Nur. Kebetulan dia bertemu dengan Dian diwarung Jaja Miharja. Kebetulan Dian dekat dengan petinggi MLM yang diperankan Deddy Soetomo. Kebetulan yang menyelamatkan Nur dari sergapan lelaki hidung belang dan kebetulan Dian menemukan buku catatan Nur yang dibuang di tengah jalan sebelumnya.


Kebetulan demi kebetulan serta kisah klise tadi tak pelak sedikit mengganggu kenikmatan Gilasinema dalam menonton Menebus Impian ini. Gilasinema makin jengah ketika Gilasinema merasa ada motif propaganda bisnis MLM dalam film ini. Mungkin hanya perasaan Gilasinema saja. Tapi ketika ada adegan yang menegaskan MLM jauh lebih baik ketimbang money games menguatkan kecurigaan Gilasinema. Bisnis MLM terlalu diposisikan sebagai dewa penolong dalam film ini. Butuh dana untuk biaya pengobatan? MLM lah solusinya. Ingin keluar dari kemiskinan? MLM bisa kamu jadikan sarana mengentaskan kemiskinan. Pencapaian mobil dan rumah mewah makin menguatkan kesan propaganda ini. Ah...mungkin kesan ini muncul karena mobil dan rumah mewah bukanlah impian Gilasinema.


Tapi kalau mau berpikir positif, Menebus Impian menawarkan spirit yang bagus layaknya film tentang impian lainnya, yakni semangat untuk bekerja keras. Kalau ingin berhasil ya harus berusaha keras dan tak mudah putus asa. Menebus Impian itu ibarat visualisasi dari buku-buku motivasi yang banyak dijumpai di toko buku. Bagi mereka yang bermimpi mempunyai mobil dan rumah mewah, Menebus Impian mungkin bisa memberikan modal semangat. Menebus Impian juga memberikan gambaran yang bagus kalau manusia itu tidak bakalan bisa sukses tanpa adanya manusia lain. Dan kalau kamu dibuat jengah dengan propaganda bisnis MLM dalam film ini, ucapkan terima kasih pada Tya Satrio yang berkat olahan musiknya, untungnya mampu mengangkat mood hingga kisahnya lebih mengikat emosi selain penampilan Acha Septriasa yang cukup ok. Adegan dipinggir rel menjadi adegan favorit Gilasinema. Selain menghadirkan emosi yang cukup tinggi, adegan ini menurut Gilasinema merupakan adegan yang sulit karena berlatarkan kereta yang berseliweran. Sebagai penutup, jangan takut bermimpi. 3,25/5

Sabtu, 10 April 2010

BEBEK BELUR

Sabtu, 10 April 2010 8

Didi Petet, Slamet Rahardjo, Torro Margens, Joshua Pandelaki, Ully Artha, Rima Melati, Ida Kusumah, Jajang C. Noer, Nungki Kusumastuti, Nana S. Patah dan Sigit Hardadi adalah nama – nama yang hadir di film Bebek Belur arahan Adrianto Sinaga. Performa mereka di layar rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Barisan pemain muda seperti Bajaj Grup (Melki, Aden dan Isa), Valentino, Thessa Kaunang, Ade Firman Hakim, Mario Irwinsyah dan Rini Yulianti tidak mau kalah dengan ikutan nimbrung didalamnya. Belum cukup? Dengan suntikan dana yang tampaknya cukup besar, produser film ini menghadirkan Deddy Mizwar, Sam Bimbo, George Kamarullah, Laila Sari dan GIGI (serta GUSI)!
Belum lama ini, Hollywood merilis Valentine’s Day yang dibintangi bintang-bintang top. Namun, nyatanya Valentine’s Day menuai banyak respon negative dari para kritikus film. Bahkan, Love Actually yang juga memasang deretan aktor/aktris ternama dan banyak disukai penonton sekalipun tak luput dari kritikan. Mengapa? Dengan deretan cast yang melimpah, biasanya berakibat pada kurang fokusnya cerita yang dihadirkan karena hasrat memberi porsi yang sepadan bagi masing-masing actor/aktris. Dengan hadirnya banyak sosok beken, bagaimana hasil akhir dari Bebek Belur?


Bebek Belur berkisah tentang aksi penghuni dua desa yang berdekatan. Ada Sari (Rini Yulianti), kembang desa Cibulu yang menjalin cinta dengan Dadang (Mario Irwinsyah) yang dinilai oleh ibu Sari (Ully Artha) tidak mempunyai masa depan yang menjanjikan. Ibu Sari tidak ingin nasib anaknya seperti dirinya yang hidup pas-pasan akibat menikah berlandaskan cinta sehingga menentang hubungan keduanya. Datang kesempatan untuk merubah nasib, ketika Pak Torro/Mas Sugi (Torro Margens) dari Desa Cibebek terpikat oleh kecantikan Asri. Pak Torro/Mas Sugi ini ternyata telah mempunyai istri (Rima Melati) yang senantiasa setia menanti di rumah di Desa Cibebek.
Dadang yang kecewa lamarannya ditolak ibunya Sari, curhat di radio yang ada di Desa Cibebek. Dari curhat inilah muncul aksi solidaritas dari Valentino, Melki, Aden dan Isa yang berusaha menggagalkan usaha Pak Torro/Mas Sugi mengawini Sari. Dibantu Pak Slamet (Slamet Rahardjo), mereka menyusun strategi. Puncaknya, terjadi kekacauan di pesta pernikahan Sari namun untungnya film ditutup dengan ending yang damai tanpa ada pihak yang merasa tersakiti. Sari dan Dadang bisa bersanding di pelaminan, Pak Torro/Mas Sugi tidak terbongkar kebusukannya.


Lumayan susah merangkum kisah Bebek Belur mengingat banyaknya sub plot didalamnya. Kuantitas sub plot ini hadir untuk mengakomodasi banyaknya pemain yang berpartispasi. Dengan rakusnya, pihak sponsor tampaknya ingin semua bintang iklan yang mempromosikan produk mereka bisa tampil. Itupun masih ditambah nama-nama yang tidak hadir dalam iklan produk mereka. Akibatnya, ceritanya mengalir dengan sangat terpaksa dan tersendat-sendat serta mubazirnya beberapa nama hingga terkesan tempelan semata. Apa coba kontribusi Didi Petet, Ida Kusumah, Nungki Kusumastuti, Isa dan Aden? Karakterisasi yang kurang meyakinkan membuat Joshua Pandelaki seakan terpasung tak berdaya, George Kamarullah hanya nampang doang dan peran Deddy Mizwar yang minim bisa dimaklumi mengingat statusnya sebagai bintang tamu.


Untungnya, dengan porsi yang sedikit, aksi GIGI (dan GUSI) tidak terlihat memalukan dan kehadiran Laila Sari sukses memancing tawa. Ully Artha dan Torro Margens dengan porsi yang lebih banyak,meski klise sukses membuat penonton sebal. Pasangan Rini Yulianti dan Mario Irwinsyah bermain aman. Adegan ketika Rini menyapu, sungguh membuat hati berdebar-debar. Jajang C. Noer dan Slamet Raharjo menampilkan kualitas acting yang bagus, seperti biasa. Suka sekali melihat penampilan Slamet Rahardjo yang terlihat nyaman bermain komedi. Yang mengejutkan, Valentino dan Sigit Hardadi mampu mencuri perhatian dan mampu membangkitkan senyum lewat aksi mereka.


Skenario sekali lagi menjadi titik lemah film Indonesia. Meski digarap 4 orang sekaligus, Bebek Belur benar-benar kehilangan arah. Mungkin hal ini terpengaruh soal banyaknya pemain tadi. Diakui, tidak mudah memang membuat naskah dengan banyak pemain didalamnya. Karena harus menceritakan banyak hal dalam durasi terbatas, banyak detail yang kurang tergarap, seperti soal kepulangan anak dari Pak Torro/Mas Sugi (diperankan cukup bagus oleh Ade Firman Hakim) dari Malaysia. Kenapa dia tidak menghubungi langsung ke hp Bapaknya? Pemasangan poster konser musik juga terlalu mengada-ada. Bebek Belur juga mengalami kebingungan dalam bentuk penyajiannya. Dibilang drama kok kurang tepat dan kurang kuat. Komedi? Hmmm...tertawa sih, tapi paling cuman 30 %. Jadinya malah kayak orang anyang-nyangan gara-gara minum air dingin dan air panas. Sayang sekali film ini kehilangan arah (seperti teaser posternya yang tidak mencerminkan isi film), padahal film ini mempunyai opening title yang menjanjikan. Agak terganggu juga dengan kontinyuitas gambar yang terlihat kasar.


Ditengah gempuran film-film horor erotis, kehadiran Bebek Belur pantas diapresiasi positif. Sebagai sponsor utama, Yamaha tidak banci jualan. Sebuah trik dagang yang elegan. Secara keseluruhan, Bebek Belur sangat layak tonton untuk ukuran film Indonesia. Kehadiran Laila Sari, Valentino dan Sigit Hardadi sangat sayang untuk dilewatkan. Dan meskipun tidak penting, kehadiran Didi Petet cukup luculah. Jangan lewatkan adegan tiga sekawan (Deddy Mizwar, Didi Petet dan Slamet Rahardjo) yang matang dan kompak saat closing title bergulir. 3/5

Selasa, 30 Maret 2010

PERSEMBAHAN TERBAIK SINEAS INDONESIA

Selasa, 30 Maret 2010 12

Tidak terasa sudah 10 tahun lebih film Indonesia mengalami kebangkitan setelah sebelumnya “semaput” beberapa tahun. Secara kuantitas, film Indonesia memang mengalami pelonjakan jumlah yang mengagumkan. Kalau melihat di Wikipedia, pada tahun 1997 baru terdapat 2 judul, di tahun 2008 ada lebih dari 80 judul film produk anak negeri yang wara-wiri di bioskop tanah air. Sebuah perkembangan yang patut mendapatkan apresiasi positif, meski ditinjau secara kualitas banyak pihak yang mengecamnya.
Namun tidak bisa dipungkiri, dari tahun ke tahun jumlah film Indonesia yang layak tonton juga makin banyak jumlahnya. Tinggal penonton saja yang wajib meningkatkan apresiasi mereka. Keadaan yang ada sekarang, tidak dipisahkan dari penonton film Indonesia itu sendiri. Semoga kedepannya, penikmat film Indonesia makin cerdas dalam memilih film Indonesia. Sayang kan duitnya dipake untuk melihat film yang begitu-begitu saja.
Dalam rangka Hari Film Nasional, Gilasinema memilih 10 judul film Indonesia rilisan tahun 2000 – 2009 yang Gilasinema anggap sebagai yang terbaik. Sangat personal tentu saja. Sayang, banyak sekali film Indonesia rilisan tahun 2000 – 2009 yang belum sempat Gilasinema saksikan yang tampaknya cukup pantas masuk 10 besar seperti Cin(T)a, Under the Tree, Opera Jawa, Rindu Kami PadaMu, Eliana Eliana, May dan masih banyak lagi.



10.RADIT DAN JANI (2008)
Ketika sineas lain sibuk bermain dengan gaya dan juga cerita yang mengada-ada, hadir Upi dengan segala kejujuran dan keliarannya. Film-filmnya seakan merupakan wujud pemberontakan akan beberapa system yang membelenggu. Begitupun dengan Radit dan Jani, meski endingnya sangat kompromis, namun apa yang dihadirkan pada adegan-adegan sebelumnya mampu menghentak penonton dengan kelugasannya. Belum lagi chemistry yang kuat antara Vino dengan Fahrani.


9.3 DOA 3 CINTA (2008)
Film ini berhasil membuka mata kita, betapa setiap sudut yang ada di Indonesia mempunyai potensi cerita yang amat menarik untuk diangkat ke layar lebar. Ceritanya sangat Indonesia dan juga terasa unik bagi penonton internasional. Kalau ingin berbicara di ajang festival film internasional, sineas Indonesia harusnya rajin-rajin menghasilkan karya semacam ini. Unik dan dikemas dengan baik. Keunggulan film ini juga terletak pada dinamika cerita yang cukup lincah dengan selipan sindiran yang kadang terasa lucu namun menohok.


8.ADA APA DENGAN CINTA (2002)
Masih merupakan film remaja terbaik sejak kebangkitan film Indonesia. Ditonton beberapa kalipun rasanya tidak membosankan. Inilah keunggulan film ini dibandingkan film Indonesia kebanyakan. Ceritanya mungkin tidaklah istimewa, namun semua lini dari film ini digarap dengan apik. Film ini juga sukses mencetak bintang dengan bakat besar seperti Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Soundtracknya pasti bakal melekat di kuping sepanjang masa.


7.FIKSI. (2008)
Jarang sekali film nasional yang mengulik sisi terdalam dari jiwa manusia. Ketika sineas lain asyik dengan dunia hura hura, mereka yang terlibat di balik film ini sibuk menyelami dunia sunyi anak manusia. Hasilnya? Filmnya tampil lebih gelap dan menakutkan ketimbang film horror yang setannya begitu banci kamera.


6.BERBAGI SUAMI (2006)
Film yang mengukuhkan Nia Dinata sebagai sineas yang paling konsisten mengangkat isu seputar perempuan. Selain itu juga mempertegas kesukaan Nia untuk memproduseri sebuah kumpulan cerita menjadi sebuah tontonan yang memikat meski mengangkat isu yang sensitive dan cenderung berat. Berbagi Suami adalah sebuah film yang lucu sekaligus pahit dan didukung jajaran cast yang melimpah dan hebatnya mampu tampil bagus.


5.LASKAR PELANGI (2008)
Jujur bukan merupakan film favorit Gilasinema. Namun keseriusan mereka yang berada di balik layar patut mendapatkan apresiasi tertinggi. Film ini seakan menegaskan posisi dari Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai insan film yang mempunyai visi yang jelas. Entah apa jadinya dunia film Indonesia tanpa andil mereka berdua. Mereka selalu membuat film yang tidak hanya sebagai tontonan, namun juga tuntunan.


4.KALA (2007)
Sebuah film yang menyadarkan kita bahwa ada sebutir mutiara di tengah padang pasir (aduuuh…!) yang bakal mengkilat kalau terus diasah. Mutiara tersebut tidak lain adalah Joko Anwar. Banyak yang ingin didobrak oleh sineas satu ini yang memanfaatkan kecintaannya akan sinema sebagai kekuatan dalam berkarya. Kala seakan menjadi sebuah pengantar dari kejutan demi kejutan yang bakal dihadirkan oleh Joko Anwar yang membuat dunia perfilman Indonesia makin kaya warna.


3.NAGA BONAR (JADI) 2 (2007)
Deddy Mizwar berhasil menghasilkan sebuah tontonan yang kaya nilai (nasionalisme) namun tanpa menghilangkan unsure komersialnya. Deddy Mizwar tahu benar bagaimana meramu cerita menjadi sebuah tuntunan tanpa menggurui dan meninggalkan kesan mendalam di benak penontonnya.


2.JERMAL (2009)
Sebenarnya bukan sepenuhnya karya anak negeri, namun inilah film berbahasa Indonesia yang sangat bermuatan local, namun rasanya bakal bisa diterima penonton global kalau saja dipromosikan dengan baik berkat keunikan setting cerita. Meski terkesan sederhana, Jermal mempunyai tuturan cerita yang menarik dan kuat. Menyaksikan film ini mengingatkan pada film-film Jepang yang sunyi, minimalis namun mempunyai kedalaman cerita.


1.PASIR BERBISIK (2001)
Film yang sangat berkesan bagi Gilasinema berkat visualisasinya yang sarat makna. Gambar-gambar yang dihadirkan sangat kuat dan “berbicara”. Film ini sangat menarik dibahas dari berbagai segi, mulai dari teknis, cerita hingga isu yang dihadirkan. Filmnya sendiri sangat indah dan artistic meski menghadirkan sebuah tragedy didalamnya. Adegan paling nempel dan paling menyedihkan adalah ketika Dian Sastro mendapatkan pelecehan dari Didi Petet.

Dari daftar diatas bisa dilihat bahwa tahun 2008 menjadi tahun terbaik dengan dirilisnya beberapa judul yang unggul secara kualitas. Tahun 2008 juga berkilau secara kuantitas, mengingat di tahun ini ada lebih dari 80 film Indonesia yang dirilis. Dian Sastrowardoyo bisa dibilang sebagai Aktris Terbaik sepanjang 10 tahun terakhir dengan menempatkan 3 film sekaligus (Pasir Berbisik, Ada Apa Dengan Cinta?, 3 Doa 3 Cinta). Aktris ini tidak hanya cantik namun juga cerdas memilih film. Aktor? Performa Didi Petet, Deddy Mizwar dan Tio Pakusadewo rasanya belum bisa ditandingi. Mungkin Lukman Sardi yang akan menggantikan dominasi mereka.
Selain 10 film diatas, Gilasinema juga memilih 3 film yang Gilasinema anggap memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema Indonesia. Semacam Honorable Mention gitu.



CLAUDIA/JASMINE (2008)
Menyaksikan film ini terasa seperti menikmati sebuah film komedi romantis produk Holly. Emosi penonton berhasil dibuat naik turun berkat jalinan cerita yang lincah dan tidak menyakiti akal pikiran, serta dibalut alunan musik yang asyik dan pas. Kekuatan film ini tidak bisa dipungkiri ada pada ketrampilan penulis skenarionya. Sesuatu yang menjadi kelemahan di banyak film nasional.


MEREKA BILANG, SAYA MONYET! (2007)
Menghadirkan twist ending yang memikat. Bolehlah disebut sebagai salah satu ending terbaik sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Sebuah film yang penuh dengan olok-olok dan kemarahan, dan menjanjikan karya selanjutnya yang bakal lebih berkualitas. Berandai-andai, hasil akhir dari film ini kalau saja didukung dana yang cukup.


PEREMPUAN PUNYA CERITA (2008)
Nia Dinata makin sibuk membuat (memproduseri) film yang berisi kumpulan cerita. Kadang terkesan curang, namun dimaafkan karena hasil akhirnya yang sangat layak tonton. Cerita Jogja meninggalkan kesan dengan cara bertutur yang lugas apa adanya khas Upi. Rachel Maryam mencuri perhatian dengan olah aktingnya sebagai sosok berkebutuhan khusus.

Minggu, 28 Maret 2010

I–HORROR PILIHAN GILASINEMA

Minggu, 28 Maret 2010 11

Film horor rasanya menjadi bagian yang tak terpisahkan pada dunia sinema Indonesia. Sudah tak terhitung banyaknya film horor yang telah diproduksi. Herannya, meski formulanya senantiasa seragam, film horor seringnya (masih) bisa membuat para produser tersenyum berkat raihan penonton yang tidak terlalu mengecewakan. Pocong dan Kuntilanak menjadi bintang utama dalam dunia film horor Indonesia. Entah sudah berapa kali dua hantu berwajah jelek tersebut menghiasi layar. Dua hantu ini sungguh banci kamera. Dibandingkan kuntilanak, pocong rasanya lebih banyak ditakuti. Teman Gilasinema, hanya mendengar namanya saja sudah bergidik ngeri dan langsung ngamuk kalau ada yang mengucapkan ”pocong”.


Kalau dirunut sejak tahun 2000, film horor Indonesia mengalami pergeseran dalam ceritanya. Awalnya, film horor banyak menggambarkan para anak muda yang memasuki wilayah keramat, selanjutnya ketika penonton sudah mulai jenuh, film horor Indonesia beralih menjadi kisah cinta segitiga dan berlanjut dengan pameran dada dan paha ketika setan makin tidak terlihat mengerikan. Film horor Indonesia terkini, selain menonjolkan sensualitas yang terlihat murahan juga ditandai dengan masuknya unsur komedi yang sayangnya sangat tidak lucu. Pergeseran cerita tadi ternyata berpengaruh pada kualitas cerita. Hal ini membuat film horor sebelum Tali Pocong Perawan jadi terlihat berkualitas dibandingkan film horor terkini. Padahal, pada saat perilisannya, film-film horor sebelum Tali Pocong Perawan banyak dikritik tidak memiliki cerita yang meyakinkan. Akhir-akhir ini film horor Indonesia tampaknya sedang bergerak kearah slasher.
Gilasinema sendiri memilih 10 judul di bawah ini yang rilis 2000 – 2009 sebagai film horor Indonesia yang cukup menghadirkan keseraman dan ketakutan serta jalinan cerita yang tidak malu-maluin serta menghadirkan beberapa adegan yang cukup pantas dikenang. Sayang sekali Gilasinema belum menyaksikan Karma dan Takut. Rumah Dara tidak dimasukkan karena dirilis resmi tahun 2010. Dan kalaupun rilis sebelum tahun 2010, Gilasinema tidak akan memasukkan Rumah Dara karena bagi Gilasinema film ini tidak menakutkan dan banyak ganjalan disana-sini yang cukup mengganggu kenikmatan. Mungkin karena ekspektasi yang berlebihan kali ya hingga kecewa melihat hasil akhirnya?
Inilah 10 I Horror Pilihan Gilasinema.



10.LEWAT TENGAH MALAM
Inilah film horor terbaik dari Nayato kalau memang benar Koya Pagayo itu adalah nama aliasnya. Ceritanya cukup enak dinikmati dan penampakan hantunya cukup mengejutkan. Lewat Tengah Malam layak dilirik berkat endingnya yang meski tidak mengejutkan, bolehlah.


9.HANTU
Hantu mungkin tidaklah terlalu istimewa namun dengan setting hutan nan hijau, film ini menawarkan warna lain dibandingkan film horor Indonesia lainnya. Meski sempat kedodoran setelah memasuki pertengahan, film ini dibuka dengan cukup enak. Apalagi dengan iringan Kucing Garong versi tarling. O iya, adegan Dhea Ananda yang kesurupan cukyp meyakinkan lho.


8.LANTAI 13
Film ini sangat tertolong dengan penampilan Widi Mulia yang bagus. Berbeda dengan banyak aktris lain yang sejak awal sudah menampilkan wajah tegang ketika bermain di film horor, Widi menampilkan ekspresi dan bahasa tubuh yang cukup santai. Lantai 13 dipilih karena menghadirkan momen-momen yang pantas dikenang, diantaranya adalah ghost story di dalam lift yang membuat ngakak atau kisah Dhawiya yang mampu mencairkan suasana. Sayang, film yang berpotensi menjadi bagus untuk ukuran film horor Indonesia ini dirusak oleh paruh akhir yang berantakan. Aktor sekaliber Tio Pakusadewo pun dibuat kebingungan.


7.40 HARI BANGKITNYA POCONG
Meski tidak semenyeramkan Pocong 2, 40 Hari Bangkitnya Pocong tetaplah sebuah film yang menakutkan. Lihat saja adegan yang melibatkan guci. Dan lagi, film ini menampilkan sebuah kejutan menarik di penghujung kisah.


6.TALI POCONG PERAWAN
Inilah pelopor film horor erotis yang sekaligus melejitkan Dewi Perssik sebagai pemikat banyak penonton. Meski belum menyaingi karisma Suzanna, dialah Ratu Horor dunia film nasional terkini. Adegan Dewi Perssik membeli minuman dengan dialog ”Baaang...minumnya dua” sambil sedikit menggoyang, maaf, dadanya mengingatkan pada dialog ikonik Suzanna, ”Minta satenya bang”. Diluar segala sensasi yang menyelimuti perilisan filmnya, Tali Pocong Perawan menawarkan garis cerita yang masih bisa dinikmati dan belum banyak memasukkan humor-humor tidak lucu. Penampakan pocong dalam film ini yang cukup menggedor jantung hadir ketika adegan Ibnu Jamil di dalam toilet. Dan jangan lupakan, adegan pocong jatuh di penghujung film yang sangat mengagetkan.


5.JELANGKUNG
Banyak yang menyebut Jelangkung sebagai mbahnya film horor di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Tidak bisa dibantah, mengingat setelah dirilisnya Jelangkung, lebih dari seratus film horor diproduksi. Namun, bukan karena sebagai pionir Jelangkung masuk ke dalam daftar ini. Jelangkung berhasil menebarkan kengerian selain ”sosok” Jelangkung itu sendiri, juga dengan menghadirkan hantu-hantu ”kondang” seperti Suster Ngesot yang kemudian banyak nampang di judul lain.


4.KERAMAT
Dengan pendekatan yang mengharuskan banyak improvisasi di lapangan, Keramat justru menjadi karya paling rapi dari seorang Monty Tiwa. Bandingkan dengan Maaf, Saya Menghamili Istri Anda dan XL yang secara teknis banyak kelemahan disana-sini, Keramat justru mengalir mulus. Pemilihan Yogyakarta merupakan sebuah pilihan tepat mengingat kesan magisnya terasa kuat. Dan film model POV begini memang paling pas memasang bintang-bintang baru. Paling suka dengan adegan ketika di dalam mobil. Bukan pendekatan yang orisinil, namun bagi perkembangan film horor nasional, Keramat adalah sebuah inovasi.


3.MIRROR
Keunggulan Mirror dibandingkan film horor Indonesia kebanyakan adalah keberanian film ini dalam menghadirkan gambar-gambar bernuansa putih. Rasanya, Mirror merupakan film horor Indonesia yang paling cerah. Meski banyak yang menuding ceritanya mirip The Sixth Sense, Mirror berhasil menjadi sebuah tontonan yang memikat berkat runtutan cerita yang cukup rapat dan rapi. Para setannya tidak banci tampil dan penampilan Nirina Zubir cukup bagus.


2.KUNTILANAK
Rizal Mantovani membuat Mbak Kunti tidak kalah bersaing dengan Pocong untuk urusan tampil dalam dunia sinema horor Indonesia karena sukses hingga mencapai tiga seri. Kuntilanak versi asli ini digarap dengan tampilan visual khas Rizal serta memasukkan unsur budaya yang cukup kuat sehingga terkesan jauh lebih artistik dibandingkan film horor Indonesia lainnya. Lupakan soal tempat kost yang jauh dari kesan nyaman, Kuntilanak berhasil menghadirkan kengerian berkat interpretasi Rizal akan wujud Mbak Kunti yang agak berbeda dengan gambaran Mbak Kunti di film horor Indonesia kebanyakan. Belum lagu lantunan tembang durmo yang terdengar sangat mistis hingga berhasil membangkitkan bulu roma. Kuntilanak 2 gagal menghadirkan hal yang sama namun berhasil membuat ngeri dengan adegan-adegan gore-nya. Kuntilanak 3? Tersesat di hutan rimba!


1.POCONG 2
Gilasinema tidaklah mudah ditakuti dengan cerita hantu. Bahkan, waktu kuliah dulu pernah tidur sendirian di kampus yang katanya banyak hantu berseliweran supaya mendapatkan ”penampakan”. Pocong 2 menjadi film horor Indonesia paling menakutkan bagi Gilasinema karena setelah menyaksikan film ini Gilasinema takut untuk bergerak. Untuk ke kamar mandi saja Gilasinema sampai meminta bantuan untuk ditemani. Rudi Soedjarwo dan Monty Tiwa berhasil menghadirkan kisah hantu Indonesia dengan amat meyakinkan tanpa perlu mengumbar penampakan hantu itu sendiri. Hand held cam yang menjadi ciri khas Rudi terbukti efektif membuat penonton ikut masuk ke dalam suasana horor yang dialami Revalina dan Risty Tagor. Penampakan pocong di tangga sukses membuat Gilasinema terkaget-kaget. Guling yang menjadi pocong menjadi adegan paling memorable karena sangat mengagetkan.


Pilihan Gilasinema diatas ternyata tidak beda jauh dengan hasil polling yang pernah Gilasinema selenggarakan. Untuk polling, Rumah Dara sengaja dimasukkan karena saat polling digelar, film ini sedang menjadi pembicaraan hangat. Berikut hasil polling I-Horror :
1.JELANGKUNG
2.RUMAH DARA
3.POCONG 2
4.KUNTILANAK
5.HANTU
6.KERAMAT
7.LANTAI 13
8.TALI POCONG PERAWAN
9.TUSUK JELANGKUNG
10.MIRROR
 
GILA SINEMA. Design by Pocket